Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu. Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wounds of Christ

Second Sunday of Easter – Divine Mercy Sunday. April 3, 2016 [John 20:19-31]

 “Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

jesus n thomas The request of Thomas was a bit strange. To recognize the risen Lord, Thomas demanded that he would be able to touch the wounds of Christ. But, why did Thomas look for the wounds of Jesus? He could have asked to see Jesus’ face, or to touch Jesus’ nose. He had been Jesus’ disciple for some years, and surely, Thomas would not have any difficulty to recognize Jesus. Why wounds?

I guess one of the reason is that Thomas looked for the wounds because he could identify himself with that very wounds that Jesus bore.  Thomas was searching for himself as much as for Jesus. Deep inside his being, Thomas admitted that he is the wounds of Christ, indeed all of the disciples. Thomas who once said, “Let us go to die with Him (John 11:16)!” ran away when Jesus was arrested. Peter, the leader, denied Jesus three times. Judas sold Him for a price of slave. The rest were leaving Him alone to the hand of His murderers. The stories of disciples are the stories of failure, cowardice and betrayal. They have crucified Jesus. They were the wounds of Christ.

We are also the wounds of Christ. Ours are the stories of failure, selfish ambition and unfaithfulness. Some of us might have betrayed our friends just to gain certain personal benefits. Some of us might have do violence even to our beloved ones. Some of us might have told lies to protect our good reputation and cover up our mistakes. In his book, Blood and Earth, Kevin Bales wrote on how our desire for cheaper goods encourages the modern day of human slavery in the third world countries. Who knows that our cellular phone we use to read this reflection are, to certain extent, the products of people working in subhuman conditions in Africa and Asia. And who knows our choice of food has damaged the million acres of soil and hurt the mother earth.

Just like the disciples, we are weak, broken and wounded. We have crucified Jesus and we recognize the wounds of Jesus as ourselves. Yet, we must not miss the point of Easter. Yes, we are the wounds, but we are the wounds of the Risen Christ. Yes, we are weak, frail and sinful, but we do not lose hope because we do not carry our broken selves alone. Jesus is carrying us, and all our imperfection, and transforms them in His resurrection. When in January 2015, Pope Francis visited Tacloban city, Philippines that was devastated by the typhoon Yolanda, he was deeply saddened by the destruction that it brought and thousand lives that it had destroyed. In this face of utter destruction, Pope Francis pointed his hands to the crucified Lord, and said to survivors,

 “So many of you have lost everything. I don’t know what to say to you. But the Lord does know what to say to you. Some of you have lost part of your families. All I can do is keep silence and walk with you all with my silent heart. Many of you have asked the Lord – why lord? And to each of you, to your heart, Christ responds with his heart from the cross. I have no more words for you. Let us look to Christ. He is the Lord. He understands us because he underwent all the trials that we, that you, have experienced.”

Thomas focused only on the wounds, but when he began to touch Jesus and saw the Risen Lord, he exclaimed, “My Lord and My God.” Christian are not to escape from the sufferings of this world nor to be in despair, but we are to face the trials of life and hopeful even if we are weak, because Jesus who has embraced the worst of this world, finally rose and brought us together in his body.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno

Luka-Luka Yesus

Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]

 “Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”

wounds of jesusDi dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.

Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.

Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,

 “Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.

Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mercy of the Father

Fourth Sunday of Lent. March 6, 2016 [Luke 15:1-3, 11-32]

“His father caught sight of him, and was filled with compassion (Luk 15:20).”

 

prodigal son 2The Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. The parable is so beautiful that it moved one of the earliest heretics, Marcion of Sinope, to single out the Gospel of Luke as the only valid Gospel. Why does the parable gain such honor among Jesus’ parables? I guess one of the reasons is the unexpected twist of event appears in the parable. Like when we watch movies in the cinema, flat and predicted plot of movies will cause boredom, but movies with sudden and unforeseen twists often create breath-taking excitement. The twist of the parable is that the Mercy of God that goes beyond any human expectation and limitations.

The lost son would simply expect that he would be treated as one of his father’s servants after sinning so greatly. The elder son, meanwhile, expected the same thing would happen to the bad boy. But, the father did not subscribe to their human expectation. He did sudden yet amazing turn: he accepted both as who they really are, his sons. God’s mercy surpasses all our human limitations and logic, because we are all his children.

The story of Rudolf Höss may illustrate how unimaginable God’s Mercy is. Rudolf Höss was a commandant of the Auschwitz concentration camp and he was practically responsible for the extermination of 2.5 million prisoners, mostly Jews, but also Christians like St. Maximillian Kolbe, and Edith Stain. At the end of the war, he was arrested, tried and received capital punishment for his crime against humanity. He was then imprisoned in Wadowice (the birthplace of St. John Paul II) and he would be executed at the very place he used to rule, Auschwitz. Höss was in great fear not only because of his imminent death penalty but also of cruel torture from prison guards. To his surprise, he was treated mercifully by the guards, notwithstanding the fact that their wives and children were also victims of Nazi’s cruelty. Their mercy moved him to tears and conversion. Höss was a baptized Catholic, but left his faith in his adulthood. He eventually asked for a priest for confession. It was truly difficult to find one, until they discovered Fr. Wladyslaw Lohn, a Jesuit who was the chaplain of the sisters of Our Lady of Mercy at the Shrine of Divine Mercy, Krakaw. Höss made his confession and received the underserved forgiveness. A day before he died, he was able to receive the Holy Communion, kneeling and in tears.

Sometimes, we are like the lost son that we have turned away from God and our lives have been so messed up, that we are losing hope of God’s mercy. Sometimes, we become the elder son who has lived a righteous and good life, but we forget how it is to be merciful to others. Thus, this is not coincidence that Pope Francis chose Luke 6:36 as the motto of the Jubilee of Mercy: ‘Merciful like the Father’. The jubilee of Mercy is both time for us to ask mercy as well as to give mercy. The lost son is in need of mercy and the elder son needs to be merciful. Are we humble enough to ask mercy and forgiveness from God and others? Are we ready to be merciful like the Father?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mercy: Our Second Chance

Third Sunday of Lent. Luke 13:1-9 [February 28, 2016]

“It may bear fruit in the future (Luk 13:9)”

jesus n fig treeThe heart of the parable of the Good Gardener is God’s Mercy. Not only He is merciful, but He is the Mercy itself. Pope Francis fittingly wrote that the name of God is Mercy. God cannot but be merciful. We are like the tree that was fruitless and useless, but God gave us a second chance. Jesus, our Holy Gardener, even exerts His utmost effort to take care of us, making sure that grace of God in constantly pour upon us.

In my readings on Mercy, I stumbled upon this little story of a young French soldier who deserted the armies of Napoleon but was soon caught. He was court-martialed and condemned to death. His mother pleaded with Napoleon to spare her son’s life. Napoleon said that the crime was dreadful; justice demanded his life. The mother sobbed and begged for mercy. Napoleon replied that the young man did not deserve mercy. And the mother said, “I know that he does not deserve mercy. It would not be mercy if he deserved it.”

God’s mercy flows from His overflowing love. However, because God so loves us, He also allows us grow in freedom. God gave us a second chance, but it is up us to grab it or blow it up. Just like St. Augustine once said, “God created us without us, but He did not save us without us.” Thus, the greatest enemy of mercy is hopelessness. We assume that we no longer are no longer able to change. We refuse God’s second change because we see it as completely useless. Indeed, to cash despair is the chief work of the devil. Author, lawyer, economist, and actor Ben Stein says, “The human spirit is never finished when it is defeated. It is finished when it surrenders.” Our failures, weaknesses condition us to believe that we are worthless, and the moment we doubt the mercy of God, the devil is victorious.

England could have been lost to Germany in World War II, had not been for Winston Churchill. He was the prime minister of England during some of the darkest hours of World War II. He was once asked by a reporter what his country’s greatest weapon had been against Hitler’s Nazi regime that bombarded England day and night. Without pausing for a moment he said, “It was what England’s greatest weapon has always been hope.”

Pope Francis, through his own initiative declared this year as the Jubilee Year of Mercy, and He opens up the gates of mercy all over the world so that everyone may feel God’s love and compassion. Yet again, we never receive that grace, unless we pass through the threshold of that gates. We need to believe that His Mercy conquers all our limitations, and His Love covers multitude of sins. When Pope Francis visited the US in September 2015, he made a point to meet the prisoners and he said to them, “Let us look to Jesus, who washes our feet. He is ‘the way, and the truth, and the life’. He comes to save us from the lie that says no one can change. He helps us to journey along the paths of life and fulfillment. May the power of his love and his resurrection always be a path leading you to new life.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Belas Kasih: Sebuah Kesempatan Kedua

Minggu Pra-Paskah ketiga. Lukas 13:1-9 [28 Februari 2016]

“Mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:9)”

jesus n fig tree 2Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.

Dalam pembelajaran saya tentang belas kasih, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang prajurit Perancis muda yang melarikan diri dari tugasnya sebagai pasukan Napoleon, tapi ia segera tertangkap. Dia diadili di mahkamah militer, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Mendengar hal ini, sang ibu memohon Napoleon untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Napoleon mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan sang anak sungguh melampaui batas; keadilan menuntut hidupnya. Sang ibu menangis dan memohon belas kasihan. Napoleon menjawab bahwa anaknya tidak pantas mendapat belas kasihan. Dan sang ibu pun berkata, “Aku tahu bahwa ia tidak layak mendapat belas kasihan, tetapi jika ia layak mendapatkannya, ini bukanlah belas kasihan.”

Kerahiman Allah mengalir dari kasih-Nya. Namun, karena Allah begitu mengasihi kita, Dia juga memungkinkan kita tumbuh dalam kebebasan. Tuhan memberi kita kesempatan kedua, tapi terserah kita untuk meraih kesempatan ini atau menyia-nyiakannya. St. Agustinus pun pernah berkata, “Allah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Dia tidak menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan demikian, musuh terbesar dari belas kasihan adalah hilangnya harapan akan belas kasih Allah. Kita berasumsi bahwa kita tidak lagi tidak lagi mampu berubah. Kita menolak kesempatan kedua dari Allah karena kita melihatnya sebagai sama sekali tidak berguna. Sungguh, untuk menabur benih keputusasaan adalah pekerjaan sang Jahat. Penulis, pengacara, ekonom, dan aktor Ben Stein mengatakan, Jiwa manusia tidak pernah selesai ketika dikalahkan. Ia selesai ketika menyerah. Kegagalan dan kelemahan kita mengkondisikan kita untuk percaya bahwa kita tidak berharga, dan saat kita meragukan belas kasihan Allah, sang jahat telah menang atas kita.

Inggris bisa saja kalah dari Jerman dalam Perang Dunia II, jika bukan karena Winston Churchill. Dia adalah perdana menteri Inggris selama masa tergelap Perang Dunia II. Dia pernah ditanya oleh seorang wartawan tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler yang membombardir Inggris siang dan malam. Dengan lugas, ia berkata, Senjata terbesar Inggris adalah selalu harapan.” Sungguh harapan adalah senjata terbesar kita melawan sang jahat.

Paus Fransiskus, melalui inisiatifnya menyatakan tahun ini sebagai Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, dan beliau membuka pintu-pintu kerahiman di berbagai penjuru dunia sehingga setiap orang dapat merasakan kasih dan kemurahan hati Allah. Namun, kita tidak akan pernah menerima anugerah ini, kecuali kita memutuskan melewati ambang pintu ini. Kita perlu percaya bahwa rahmat-Nya mengalahkan segalanya keterbatasan kita, dan Kasih-Nya menghapus banyak dosa. Ketika Paus Fransiskus mengunjungi AS pada bulan September 2015, ia bertemu dengan para tahanan di sana dan ia mengingatkan mereka untuk tidak kehilangan harapan akan belas kasih Allah, “Marilah kita melihat ke Yesus, yang mencuci kaki kita. Dia adalah ‘jalan, dan kebenaran, dan hidup. Dia datang untuk menyelamatkan kita dari kebohongan yang mengatakan bahwa kita tidak bisa beruhah. Dia membantu kita di dalam perjalanan sepanjang jalan kehidupan dan kepenuhan. Semoga kekuatan kasih dan kebangkitan-Nya selalu menjadi jalan yang kamu mencapai kehidupan baru.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP