My Flesh and My Bones

Third Sunday of Easter [April 15, 2018] Luke 24:35-48

Look at my hands and my feet, that it is I myself. Touch me and see, because a ghost does not have flesh and bones as you can see I have.” (Luke 24:39)

adoration
photo by Harry Setianto, SJ

We listen to the last story of risen Christ’s appearance to the disciples in the Gospel of Luke. His presences point to the fact that Jesus still has several missions to accomplish on earth before He ascends into heaven. Particularly in this episode, Jesus is out to dispel the disciples’ doubt on His bodily resurrection. Some disciples may have an idea that Jesus’ appearances are mere illusions as the disciples are coping with a terrible pain of losing and failure. Some others may think that it was just a disembodied spirit or a ghost that appeared like Jesus.

 

Jesus comes to them and proves that He is neither an illusion coming from their disciples’ mind nor a mere story concocted to give false hope. He shows them his hands and feet and eats a baked fish just like an ordinary and living man does. Even Jesus says that he possesses “flesh and bones.” The disciples who see and touch Jesus’ body would acclaim in their hearts, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” From this point, we begin to recognize that Jesus’ bodily resurrection is closely linked to the story of creation in the Book of Genesis.

If we go back to the story of human creation in Genesis 2, we read a beautiful image of God as a potter artist who fashioned humanity from clay with various details of perfection. God also gave the human life as He breathed His life-giving spirit. However, soon after creation, God said that it was not good for the human to be alone. He then made other animals, but no one was proven suitable companion for that human. Thus, God, acting like a surgeon, made the first human sleep, took the rib, and fashioned another human being. When Adam woke up and saw for the first time another being in his likeness, he shouted in joy, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” The story of human creation which is highly symbolic reaches its perfection in the creation of man and woman, and how they are going to be suitable and loving partners for each other.

Going back to Gospel of Luke, the story of the appearance of the risen Lord to the disciples turns to be a story of re-creation. After the disciples are disbanded, scattered and cowardly ran away, they are as weak as soil. Jesus gathers them together and fashions them once again as a community. After the disciples are hurt deeply and defeated, they are like a clay pot shattered into pieces. Jesus comes to breathe His Spirit and to bring healing and true peace. After the disciples are disoriented and lost meaning, they are like the lonely and incomplete first Adam. Jesus, the second Adam, continues to love them, and thus, restores their purpose, and fills what is fundamentally lacking in them. Being re-created, the disciples now are suitable partners of Jesus in bringing the message of resurrection and the gospel of love to wounded humanity.

Each one of us is wounded and struggles with many issues. Despite our good effort to become a good Christian, we acknowledge we are as weak as clay. We have been unfaithful to the Lord and each other. The risen Christ does not lose hope in us. He gathers us once again as His people, and in the Eucharist, He shows us His true “flesh and blood.” Partaking in Jesus’ resurrected body means that despite our fragile nature and weaknesses, we have been re-created as His suitable partners to bring the message of hope and fulfill the mission of love. Only in risen Christ, we find our true fulfillment, yet in being one in Jesus means we also continue loving as He loves us to the end.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Dagingku dan Tulangku

Minggu Paskah Ketiga [15 April 2018] Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

risen lord
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.

 

Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun, Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP