Sola Fide dan Surat Yakobus

Hari Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [B]

15 September 2024

Yakobus 2:14-18

Ketika Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, ia mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa asli Jerman. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan tetapi juga memilah-milah kitab-kitab dalam Alkitab. Dia menempatkan beberapa kitab di bagian lampiran, bukan di tempat biasanya, dan salah satunya adalah Surat Yakobus. Ia menjuluki surat tersebut sebagai ‘surat jerami’.  Untungnya, orang-orang Kristen pada umumnya tidak mengikuti rekomendasi Luther ini, dan tetap melihat surat itu sebagai kanonik atau bagian dari Kitab Suci. Pertanyaannya: mengapa Luther ingin menghapus surat ini dari Alkitab?

Alasan Luther melihat surat St. Yakobus sebagai ‘jerami’ atau tidak berguna adalah karena surat tersebut tidak sesuai dengan teologinya atau pemikirannya. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Perjanjian Baru yang dibuatnya pada tahun 1522, ia berkomentar bahwa surat tersebut ‘tidak memiliki sifat Injili sama sekali’. Ia menilai bahwa surat tersebut bertentangan dengan keyakinannya akan keselamatan hanya melalui iman (dalam bahasa Latin, sola fide). Salah satu ayat yang menentang ide sola fide adalah Yakobus 2:24. “Kamu tahu, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”

Untuk memahami lebih jauh apa yang dimaksud oleh ayat ini, pertama-tama kita harus memahami ‘sola fide’. Martin Luther percaya bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Ketika kita berdosa, bagi Luther, kodrat kita benar-benar hancur, dan kita ditakdirkan untuk masuk neraka. Namun, pengorbanan Yesus di salib menyembunyikan kodrat kita yang rusak ini, dan kita dibenarkan karena Allah tidak melihat kita, tetapi Yesus di salib yang menutupi kebobrokan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki iman atau percaya kepada janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Luther menyangkal bahwa perbuatan yang kita lakukan, tidak peduli seberapa baik perbuatan itu, akan bermanfaat bagi pembenaran kita.

Sementara itu, Yakobus, saudara Tuhan kita dan juga uskup Yerusalem, menulis suratnya sekitar 1500 tahun sebelum Luther. Memang, ia tidak secara khusus menulis untuk menentang Luther, tetapi secara kebetulan, ia menulis untuk menentang mereka yang memiliki mentalitas seperti Luther. Selain membahas beberapa masalah dalam komunitasnya, seperti diskriminasi terhadap orang miskin, terutama dalam perayaan Ekaristi (2:1-6) dan pelanggaran Sepuluh Perintah Allah (2:6-13), Yakobus juga mengkritik beberapa orang yang mengklaim beriman kepada Yesus Kristus tetapi mengabaikan perbuatan cinta kasih. Iman yang didasarkan pada akal budi dan keyakinan tidaklah cukup untuk keselamatan. Yakobus mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan akan terwujud dalam kasih. Di sini, Yakobus sependapat dengan Santo Paulus yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi melalui “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6).

Akhirnya, Yakobus juga mengajarkan apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Siapakah Aku?” Simon Petrus dengan tepat menjawab, “Engkau adalah Kristus.” Namun, pengakuan iman Petrus mengandung kebenaran yang lebih mendasar. Yesus mengajarkan bahwa mereka harus memikul salib mereka untuk mengikuti Kristus. Iman kepada Yesus mensyaratkan salib kita, yaitu pengorbanan kasih. Tidaklah cukup membiarkan Yesus memikul salib-Nya sementara kita duduk manis dan menyaksikan pengorbanan-Nya. Kita juga perlu mengambil bagian dalam salib-Nya.

Surat Yakobus adalah pengingat untuk tidak memilih ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan teologi kita, melainkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, yang diturunkan kepada para rasul.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita beriman kepada Allah? Bagaimana kita memahami iman kita? Apakah kita menghidupi iman kita dalam karya kasih? Apa saja perbuatan kasih yang kita lakukan untuk mengekspresikan iman kita? Apakah kita mampu menjelaskan iman kita kepada orang-orang yang bertanya? Apakah kita membagikan iman kita? Bagaimanakah kita membagikan iman kita? Apakah orang-orang menjadi lebih dekat dengan Allah karena iman kita? Atau Apakah orang-orang menjauh dari Allah karena kita?

The Saving Word

23rd Sunday in Ordinary Time [B]

September 8, 2024

Mark 7:31-37

Jesus performed a lot of miracles, and He did that in various ways. At times, He used physical contact to bring about miracles. Yet, the most common way is by saying the words. Jesus rebuked and expelled the demons by His words (Mar 1:25). Jesus healed and forgave the sins of the paralytic by His words (Mar 2:5). In today’s Gospel, Jesus cured the deaf man by declaring ‘Ephphatha’ (Mar 7:34), and many other miracles. The question is, why did Jesus choose His words to perform His miracles? Is it simply to state the facts, or is there something more?

By performing miracles through His words, Jesus reveals that His words are as authoritative as God’s. Initially, God created the world through His mighty words, even to make something out of nothing. ‘Let be there light,’ and there was light. When Jesus said, ‘Be gone!’ the powerful entity like demons obeyed His words. When Jesus said, “Talitaku cumi,” the young girl was raised from the dead. When Jesus said, ‘Ephphatha!’ the deaf and mute can hear and speak. Jesus’ words reveal His divine identity and authority.

Just like God shared His words with Adam, Adam could name the other creatures and have authority over them, so Jesus also shared His powerful words with His Church. Jesus told Peter, “I will give you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you bind on earth will be bound in heaven, and whatever you loose on earth will be loosed in heaven (Mt 16:19).”  Binding and loosing are rabbinic term for authority to teach, to use words that binds us even in heavens. Jesus also told His disciples, “Receive the Holy Spirit.  If you forgive the sins of any, they are forgiven them; if you retain the sins of any, they are retained (Jn 20:22–23).” Through participating in Jesus’ divine words, the apostles share the mission of healing and sanctifying.

As Jesus handed down His divine words to His apostles, the apostles handed the exact words to their successors throughout the generations. We, the Catholic Church, possess these divine words. Every time a priest repeated the words of consecration, “This is My Body” and “This is My Blood,” we have the real presence in the Eucharist. Every time, in a confession, a priest pronounces, “I absolve your sins,” our sins are forgiven.  Every time, a priest (or even a lay) pours water on our foreheads and says, “John, I baptize you in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Amin,” a new creature was born.   

Yet, these divine words do not only belong to the priests. These belong to every Christian. When a man and a woman pronounce their marital consent and promise, the invisible yet indissoluble union is created. When parents bless their children with a sign of the cross on the foreheads, God’s blessing is upon these children. Our mission is to sanctify the world, and we are equipped to fulfill it because Jesus has entrusted His divine words to us.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflections:

How do we use our words? Do we build and bless people with our words? Do we hurt and destroy other people with our words? How do we bring people closer to God through our words? What are our favorite words? Are they good and edifying words? Do the words of God transform us? Do we hear and read the word of God often in the Bible?

Firman yang Menyelamatkan

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [B]

8 September 2024

Markus 7:31-37

Yesus melakukan banyak mukjizat, dan Ia melakukannya dengan berbagai cara. Kadang-kadang, Ia menggunakan kontak fisik untuk melakukan mukjizat. Namun, cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan kata-kata. Yesus menghardik dan mengusir setan dengan perkataan-Nya (Mar. 1:25). Yesus menyembuhkan dan mengampuni dosa orang lumpuh dengan perkataan-Nya (Mar 2:5). Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang tuli dengan mengatakan ‘Efata’ (Mar 7:34), dan masih banyak lagi mukjizat-mukjizat lainnya. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus memilih menggunakan sabda-Nya untuk melakukan mukjizat-Nya? Apakah hanya sekedar untuk menyatakan fakta, atau ada sesuatu yang lebih dari itu?

Dengan melakukan mukjizat melalui sabda-Nya, Yesus menyatakan bahwa sabda-Nya memiliki otoritas yang sama dengan sabda Allah. Pada mulanya, Tuhan menciptakan dunia melalui firman-Nya yang penuh kuasa, bahkan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan. “Jadilah terang,” dan terang itu pun jadi. Ketika Yesus berkata, “Enyahlah!”, setan-setan itu terikat dan taat pada perkataan-Nya. Ketika Yesus berkata, “Talitakum,” seorang gadis muda dibangkitkan dari kematian. Ketika Yesus berkata, “Efata!” seorang yang tuli dan bisu dapat mendengar dan berbicara. Sabda Yesus mengungkapkan identitas dan otoritas ilahi-Nya.

Sama seperti Allah membagikan kuasa firman-Nya kepada Adam, sehingga Adam dapat menamai makhluk-makhluk lain dan memiliki otoritas atas mereka, demikian pula Yesus membagikan firman-Nya yang penuh kuasa kepada Gereja-Nya. Yesus berkata kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga dan apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:19).”  Mengikat dan melepaskan adalah istilah para rabi untuk otoritas mengajar, dan Petrus, sang Paus pertama, mengajar dengan menggunakan kata-kata yang mengikat kita bahkan sampai di surga. Yesus juga berkata kepada murid-murid-Nya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menahan dosa orang, dosanya tetap ada (Yoh. 20:22-23).” Dengan mengambil bagian dalam sabda ilahi Yesus, para rasul berbagi misi untuk menyembuhkan dan menguduskan.

Sebagaimana Yesus mewariskan firman ilahi-Nya kepada para rasul-Nya, para rasul juga mewariskan firman yang sama kepada para penerus mereka dari generasi ke generasi. Kita, Gereja Katolik, memiliki kata-kata ilahi ini. Setiap kali seorang imam mengulangi kata-kata konsekrasi, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, Yesus hadir secara nyata dalam Ekaristi. Setiap kali, dalam pengakuan dosa, seorang imam mengucapkan, “Aku melepaskan engkau dari dosa-dosamu,” dosa-dosa kita sungguh diampuni.  Setiap kali, seorang imam (atau bahkan seorang awam) menuangkan air ke dahi kita dan berkata, “Yohanes, aku membaptismu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin,” kita terlahir sebagai ciptaan baru.  

Namun, firman ilahi ini bukan hanya milik para imam. Kata-kata ini adalah milik setiap anggota Gereja-Nya. Ketika seorang pria dan seorang wanita mengucapkan persetujuan dan janji pernikahan mereka, maka terciptalah kesatuan pernikahan yang tak terlihat namun tak terpisahkan. Ketika orang tua memberkati anak-anak mereka dengan tanda salib di dahi mereka, berkat Tuhan sungguh ada pada anak-anak ini. Misi kita adalah untuk menguduskan dunia, dan kita diperlengkapi untuk memenuhi tugas ini karena Yesus telah mempercayakan firman ilahi-Nya kepada kita.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita menggunakan kata-kata kita? Apakah kita membangun dan memberkati orang lain dengan kata-kata kita? Apakah kita menyakiti dan menghancurkan orang lain dengan kata-kata kita? Bagaimana kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan melalui kata-kata kita? Apakah kata-kata favorit kita? Apakah itu kata-kata yang baik dan membangun? Apakah firman Allah mengubah kita? Apakah kita sering mendengar dan membaca firman Allah dalam Alkitab?

Understanding the Purity Law

22nd Sunday in Ordinary Time [B]

September 1, 2024

Mark 7:1-8, 14-15, 21-23

The Pharisees criticized Jesus and His disciples for not washing their hands before meals. This criticism was not from genuine concern for their hygiene but rather to judge Jesus’s observance of the purity law, primarily based on the elders’ interpretations. Yet, what is the purity law? Why is it so important for the Pharisees? Then, why did Jesus choose not to observe it?

Though not strictly about morality, the purity law is integral to the Torah. The purity laws determine whether a Jew is ritually clean or unclean. When Jews are ‘pure,’ they would be allowed to enter the Temple premises in Jerusalem and then to offer sacrifice. When they can offer sacrifice, they worship the Lord God and receive blessings like the forgiveness of sins and communion with God and fellow Jews. A Jew can become impure through physical contact with various things like dead bodies, bodily discharges (menstrual blood, male semen), certain animals (pigs, camels, certain insects, etc) and skin illness (leprosy). If they are impure, they need to perform ritual cleansing, typically by washing themselves with water. Thus, the purity law intends to ensure that they enter the holy place worthily.

However, in the time of Jesus, the purity laws extended beyond the Temple and even governed their daily lives. Purity laws became their identity marker, which made them different from other nations. Thus, the Jews needed to be clean most of the time, even if they were far from the Temple, and the one group that promoted this rigorously was the Pharisees. The purity laws also expanded beyond the Torah as the respected teachers and the rabies added their interpretations. The purity law became a complex and tedious system that strangled simple people rather than help them be worthy of the Temple, the dwelling place of the Lord.

Jesus recognized the true intention of the purity law, and thus, Jesus did not follow the excesses imposed by the Pharisees. However, Jesus did not only challenge the excessive teachings of the Pharisees, He also declared that the purity law has served its purpose. If the purpose of the purity laws is to guard unworthy people entering the Temple because it is the Lord’s holy place, but now Jesus, the Lord made flesh, is walking around. He touched the lepers and made it cleaned. He was touched by the woman with the flow of blood, which made her pure. Finally, Jesus would die on the cross, and His body would be the source of impurity, and yet, He resurrected, and His body became the source of holiness.

Jesus is the Emmanuel, the Lord with us. There is no need for the purity law. Yet, Jesus also teaches us firmly that though we no longer are bound by the purity law, to sin or to be separated from God remains our choice to make. Now, every second of our lives, every place we go, and everything we do is either the opportunity to be with Jesus or to be far from Him.

Surabaya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

Do we recognize God’s presence in our lives? Where and when do we realize God’s presence in our lives? Are we aware that God is with us? Are we aware that every choice is an opportunity to glorify Him? Do we box God only in the Church or in prayer times? Are we aware that sins make us defile and far from God? Do we know that we cannot receive the holy communion when we persist in our grave sins? Do I go to confession regularly?

Memahami Hukum Tahir-Najis

Hari Minggu ke-22 dalam Masa Biasa [B]

1 September 2024

Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Orang-orang Farisi mengkritik Yesus dan murid-murid-Nya karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Kritik ini bukan berasal dari kepedulian mereka terhadap higenitas, melainkan untuk menghakimi ketaatan Yesus pada hukum tahir-najis, terutama berdasarkan tradisi para tua-tua. Namun, apakah hukum tahir-najis itu? Mengapa hal itu begitu penting bagi orang Farisi? Lalu, mengapa Yesus memilih untuk tidak mematuhinya?

Meskipun tidak sepenuhnya tentang moralitas (tentang tindakan yang baik atau salah), hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum tahir-najis menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual bersih (tahir) atau kotor (najis). Artinya, ketika orang Yahudi tahir, mereka akan diizinkan untuk memasuki area Bait Allah di Yerusalem dan kemudian mempersembahkan kurban. Ketika mereka dapat mempersembahkan kurban, mereka menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang Yahudi. Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal seperti mayat, cairan tubuh (darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (babi, unta, serangga tertentu, dll) dan penyakit kulit (kusta). Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pemurnian, biasanya dengan membasuh diri dengan air. Dengan demikian, hukum tahir-najis bermaksud untuk memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Namun, pada zaman Yesus, hukum tahir-najis meluas hingga ke luar Bait Allah dan bahkan mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Hukum tahir-najis menjadi penanda identitas bangsa Yahudi, yang membuat mereka berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, orang Yahudi harus selalu tahir, bahkan ketika mereka berada jauh dari Bait Allah, dan satu kelompok yang paling ketat menerapkannya adalah orang Farisi. Hukum tahir-najis juga berkembang dan menjadi kompleks karena para guru atau para rabbi menambahkan interpretasi mereka. Hukum tahir-najis menjadi sebuah sistem yang rumit yang mencekik orang-orang sederhana dan bukannya membantu mereka untuk menjadi layak bagi Bait Allah, tempat kediaman Tuhan.

Yesus menyadari tujuan sebenarnya dari hukum tahir-najis, dan dengan demikian, Yesus tidak mengikuti ekses yang dipaksakan oleh orang-orang Farisi. Namun, Yesus tidak hanya menentang ajaran orang Farisi yang berlebihan, Dia juga menyatakan bahwa hukum tahir-najis telah mencapai tujuannya. Jika tujuan dari hukum tahir-najis adalah untuk menjaga orang-orang yang tidak layak memasuki Bait Allah karena Bait Allah adalah tempat kudus Tuhan, tetapi sekarang, Yesus, Tuhan yang telah menjadi manusia, tidak lagi berada di Bait Allah, tetapi di tengah-tengah umat-Nya. Dia menyentuh orang kusta dan membuatnya menjadi tahir. Dia menjamah perempuan dengan pendarahan dan membuatnya menjadi tahir. Akhirnya, Yesus akan mati di kayu salib, dan tubuh-Nya akan menjadi sumber kenajisan, namun Dia bangkit, dan tubuh-Nya menjadi sumber kekudusan.

Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita. Tidak ada lagi hukum tahir-najis. Namun, Yesus juga mengajarkan dengan tegas bahwa meskipun kita tidak lagi terikat oleh hukum tahir-najis, berbuat dosa atau terpisah dari Allah tetap menjadi pilihan kita. Sekarang, setiap detik dalam hidup kita, setiap tempat yang kita datangi, dan semua yang kita lakukan adalah kesempatan untuk bersama dengan Yesus atau jauh dari-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Di mana dan kapan kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita sadar bahwa Tuhan menyertai kita? Apakah kita sadar bahwa setiap pilihan adalah kesempatan untuk memuliakan Dia? Apakah kita mengotak-kotakkan Tuhan hanya di Gereja atau di waktu-waktu doa? Apakah kita sadar bahwa dosa-dosa membuat kita najis dan jauh dari Allah? Apakah kita tahu bahwa kita tidak dapat menerima perjamuan kudus ketika kita bertahan dalam dosa-dosa berat kita? Apakah saya pergi ke pengakuan dosa secara teratur?

Be Subordinate to Your Husband(?)

21st Sunday in Ordinary Time [B]

August 25, 2024

Ephesus 5:21-32

In his letter to the Ephesians, St. Paul instructed wives to be subordinate to their husbands, not only in matters of economics or raising children but in everything. St. Paul’s teaching seems wrong and even sexist to modern readers. Are not women and men equal? Why did wives have to obey men in everything? Are the women mere slaves of their husbands?

Firstly, we need to know Paul’s historical context. At this time, women were indeed considered not equal to men. Save for some exceptional females, women were treated as the property of men. While men were working outside, women stayed at home. Wives were to take care of the house, give birth to the children, and raise them. Generally, women had no right to inheritance and no political rights. It was just a bad time for women to live.

Paul recognized this situation and challenged it. How? He wrote the letter addressed to wives! Women did not receive letters, and if they did, the letter must be addressed to their husbands. By this simple act alone, Paul not only challenged the cultural mentality of his time but also affirmed God’s original purpose. “So God created man in his own image, in the image of God he created him; male and female he created them (Gen 1:27).” Both men and women were created in God’s image and, thus, share the same dignity as God’s children.

Yet, Paul also acknowledged that though men and women are equal in dignity, they have different roles and functions. Biologically, men are physically stronger and, thus, are responsible for protecting and providing. In comparison, women possess the character to give and nurture life. Both men and women are complementary to each other. At the same time, this mutual relationship creates a community, marriage and family. Like other groups or communities, marriage presupposes order and hierarchy to function properly. St. Paul’s word ‘subordinating’ finds its true meaning in this understanding. To be subordinated means to be under the proper order. Thus, St. Paul began with a statement to both husband and wife, “Be subordinate to one another out of reverence for Christ!” because both must be under proper order.

Here comes Paul’s unique contribution. Husband and wife are like a relationship between Jesus and the Church, His bride. Like Jesus, husbands are the heads and figures of authority. Yet, Paul also reminded us that the order that governs Jesus and His Church is love. So also, the authority given to men is to love their women. Men love their wives to the point of dying, and only with dying can they lead their wives in holiness. Without dying, men’s authority turns to a reign of terror, and women are rebelling. Marriage becomes unhappy and even collapses. Only when men and women are subjecting themselves to the order of love will they reach the purpose of marriage, which is a way of holiness.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

For husbands: how do you love your wife? Will you die for your wife? To what do you die? Pride, anger, selfishness? Do you hurt your wife? Do you apologize to your wife when you do something wrong? Do you lead your wife to holiness? How do you lead your wife into holiness? Are you a good head/leader of the family?

For wives: how do you love your husbands? Do you obey your husband? Do you help him to be a good husband and father? How do you help your husband in living in holiness? Do you hurt your husband (and how)?

Tunduklah pada Suamimu (?)

Hari Minggu ke-21 dalam Waktu Biasa [B]
25 Agustus 2024
Efesus 5:21-32

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus memerintahkan para istri untuk tunduk pada suami mereka, tidak hanya dalam hal ekonomi atau membesarkan anak tetapi dalam segala hal. Ajaran Santo Paulus ini tampak ketinggalan zaman, tidak relevan lagi dan bahkan salah. Bukankah perempuan dan laki-laki itu setara? Mengapa para istri harus taat kepada suami dalam segala hal? Apakah para wanita hanyalah budak dari suami mereka?

Pertama, kita perlu mengetahui konteks historis dari Paulus. Pada masa itu, wanita memang dianggap tidak setara dengan pria. Kecuali beberapa perempuan yang luar biasa, perempuan diperlakukan sebagai milik laki-laki. Sementara pria bekerja di luar, wanita tinggal di rumah. Para istri harus mengurus rumah, melahirkan anak, dan membesarkan mereka. Umumnya, perempuan tidak memiliki hak atas warisan, apalagi memiliki hak politik. Itu adalah waktu yang buruk bagi perempuan untuk hidup.

Paulus menyadari situasi ini dan menantangnya. Bagaimana? Dia menulis surat yang tidak hanya ditujukan kepada suami, tetapi juga ditujukan kepada para istri! Pada waktu itu, wanita tidak menerima surat, dan jika mereka menerima surat, surat itu harus melalui suami mereka. Dengan tindakan sederhana ini, Paulus tidak hanya menantang mentalitas budaya pada masa itu`, tetapi juga menegaskan tujuan awal Allah. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej. 1:27).” Baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.

Namun, Paulus juga mengakui bahwa meskipun pria dan wanita memiliki martabat yang sama, mereka memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Secara biologis, pria secara fisik lebih kuat dan, dengan demikian, bertanggung jawab untuk melindungi dan menafkahi. Sebagai perbandingan, perempuan memiliki karakter untuk memberi dan memelihara kehidupan. Baik pria maupun wanita saling melengkapi satu sama lain. Pada saat yang sama, hubungan timbal balik ini menciptakan sebuah komunitas kecil bernama pernikahan, dan keluarga. Dan, seperti kelompok atau komunitas lainnya, pernikahan mengandaikan adanya tatanan dan hirarki agar dapat berfungsi dengan baik. Kata ‘tunduk’ yang digunakan oleh Santo Paulus dalam bahasa Yunani adalah ‘ὑποτάσσω (hupotasso)’ yang secara harafiah berarti ‘di bawah pada sebuah tatanan’. Oleh karena itu, ‘tunduk’ berarti berada di bawah tatanan yang tepat. Tidak heran jika Santo Paulus memulai dengan sebuah perintah kepada suami dan istri, “Hendaklah kamu tunduk yang satu kepada yang lain sebagai tanda hormatmu kepada Kristus!” karena keduanya, suami dan istri, harus berada di bawah tatanan yang benar. Namun, tatanan macam apa?

Di sinilah kontribusi unik Paulus. Suami dan istri adalah seperti hubungan antara Yesus dan Gereja, mempelai-Nya. Seperti Yesus, suami adalah kepala dan figur otoritas. Namun, Paulus juga mengingatkan kita bahwa tatanan yang mengatur Yesus dan Gereja-Nya adalah kasih. Demikian juga, otoritas yang diberikan kepada para pria adalah untuk mengasihi istri mereka. Pria mengasihi istri mereka sampai mati, dan hanya dengan kematian mereka dapat memimpin istri mereka dalam kekudusan. Tanpa mati terhadap diri mereka sendiri, otoritas pria berubah menjadi tatanan yang penuh teror, dan wanita akan memberontak. Pernikahan menjadi tidak bahagia dan bahkan runtuh. Hanya ketika pria dan wanita menundukkan diri mereka pada tatanan kasih, mereka akan mencapai tujuan pernikahan, yaitu kekudusan.

Surabaya
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:
Untuk para suami: bagaimana Engkau mengasihi istrimu? Apakah Engkau rela mati untuk istrimu? Siap mati untuk Kesombongan, kemarahan, keegoisan? Apakah pernah Engkau menyakiti istrimu? Apakah Engkau meminta maaf kepada istrimu ketika Engkau melakukan kesalahan? Apakah Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Bagaimana Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Apakah Engkau seorang kepala/pemimpin keluarga yang baik?

Untuk para istri: bagaimana Engkau mengasihi suamimu? Apakah Engkau menaati suamimu? Apakah Engkau menolong suamimu untuk menjadi suami dan ayah yang baik? Bagaimana Engkau menolong suamimu untuk hidup dalam kekudusan? Apakah Engkau pernah menyakiti hati suamimu?

Why Mary was Assumed into Heaven?

The Assumption of the Blessed Virgin Mary

August 15, 2024 [B]

Luke 1:39-56

Today, the Church is celebrating the great feast of the Assumption of our Blessed Virgin Mary. Through this celebration, the Church reminds us that Mary, the mother of our Lord, when the course of her life ended, was assumed both her soul and body into the heavenly glory. Yet, a question may arise: why did Mary have to go up into heaven with her soul and body immediately after her death, while the rest of us must wait until the final judgment? Is it unfair?

The reason is love. St. Thomas Aquinas teaches that love seeks the union with the beloved (see ST. I.II. q.28 a.1). In a simple way, when we love someone, we wish that we are always close to that person, and we are closer, we can have more opportunity to love. The more we love the more we are united, the more we are united, the more we love. A good example would be loving parents. They always desire to be close to their children because they can love them even more by protecting, providing, and educating them.

So also, those who love God seek to be with and please God. When we initially love God, we begin spending time in prayer and attending the Eucharist every Sunday. We start reading the Bible and learning about our faith. Yet, as we grow in love, we spend more time with the Lord, in prayers, hear the Mass more often, and are involved in ministries and community. However, we realize also that our unity with God is not perfect in this world. We need to work or go to school. We need to take care of our family. We need to attend to endless worldly affairs. Our hearts and love are divided.

However, one person loves God totally and undividedly, even in this world. She is Mary. Her life is wholly dedicated to loving Jesus, even from before His birth to the very end, the cross. She is never separated from Jesus in her life on earth. And thus, when she passed from this earth, her immense love, perfected by God’s grace, drew not only her soul but also her body into that union with God.

Mary’s assumption teaches us that union with God in heaven begins with our love here on earth. The more we love God here on earth, the easier we are drawn to heaven. Yet, how do we love God more if we also must take care of earthly matters? Indeed, we cannot pray all the time, but we can always please God by doing good and avoiding sins in everything we do. Through good moral life, we are united with God even daily. Though we are not always aware of God every second, we know that our lives and actions are oriented to God.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

What do you have in mind when you hear the Assumption of Mary? What do you understand about this Marian dogma? What are the other three Marian dogmas? Do you have any special relationship with Mary? How do you see her?

How do you love God? How intense is your love for God? How do you improve your love for God? Do you pray often? How do you pray? Do you live a good moral life? Do you please God in your daily actions? Are you aware of God’s laws? Is there any sin that you are struggling with now?

Kenapa Maria Diangkat ke Surga?

Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

15 Agustus 2024 [B]

Lukas 1:39-56

Hari ini Gereja merayakan hari raya Maria Diangkat ke Surga. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Maria, bunda Tuhan kita, ketika perjalanan hidupnya berakhir di bumi, jiwa dan raganya diangkat ke dalam kemuliaan surgawi. Namun, sebuah pertanyaan mungkin muncul: mengapa Maria harus naik ke surga dengan jiwa dan raganya segera setelah kematiannya, sementara kita semua, harus menunggu sampai penghakiman terakhir? Bukankah ini sedikit tidak adil?

Alasannya adalah kasih. Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa kasih mencari persatuan dengan yang dikasihi (lihat ST. I.II. q.28 a.1). Secara sederhana, ketika kita mengasihi seseorang, kita berharap agar kita selalu dekat dengan orang tersebut, dan dengan menjadi dekat, kita dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengasihi. Semakin kita mengasihi, semakin kita dipersatukan, dan semakin kita dipersatukan, semakin kita mengasihi. Contoh yang baik adalah orang tua yang baik. Mereka selalu ingin dekat dengan anak-anak mereka karena dengan dekat, mereka dapat lebih mengasihi anak-anak mereka dengan cara melindungi, menyediakan, dan mendidik anak-anak mereka.

Demikian juga, mereka yang mengasihi Allah berusaha untuk bersama dengan Allah. Ketika kita mulai mengasihi Allah, kita mulai meluangkan waktu untuk berdoa dan menghadiri Ekaristi setiap hari Minggu. Kita mulai membaca Alkitab dan belajar tentang iman kita. Ketika kita bertumbuh dalam kasih, kita menghabiskan lebih banyak waktu dengan Tuhan, lebih banyak waktu dalam doa, lebih sering mendengarkan Misa, terlibat dalam pelayanan dan dalam komunitas. Namun, kita juga menyadari bahwa kesatuan kita dengan Tuhan tidaklah sempurna di dunia ini. Kita perlu bekerja atau bersekolah. Kita perlu mengurus keluarga kita. Kita perlu mengurus urusan duniawi yang tak ada habisnya. Hati dan kasih kita pun terbagi.

Namun, ada satu orang yang mengasihi Allah secara total dan tidak terbagi bahkan di dunia ini. Dia adalah Maria. Hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk mengasihi Yesus, bahkan sejak sebelum kelahiran-Nya hingga akhir hayat-Nya di kayu salib. Dia tidak pernah terpisah dari Yesus dalam kehidupannya di dunia. Dan dengan demikian, ketika ia meninggal dunia, kasihnya yang luar biasa, yang disempurnakan oleh rahmat Allah, tidak hanya menarik jiwanya tetapi juga tubuhnya ke dalam persatuan dengan Allah.

Diangkatnya Maria ke surga mengajarkan kepada kita bahwa persatuan dengan Allah di surga dimulai dengan kasih kita di bumi. Semakin kita mengasihi Allah di bumi ini, semakin mudah kita ditarik ke surga. Namun, bagaimana kita dapat mengasihi Allah lebih dalam jika kita juga harus mengurus hal-hal duniawi? Memang, kita tidak dapat berdoa setiap saat, tetapi kita dapat selalu menyenangkan hati Allah dengan berbuat baik dan menghindari dosa dalam segala hal yang kita lakukan. Kita juga dapat mengasihi Allah melalui kasih terhadap sesama. Melalui kehidupan moral yang baik, kita dipersatukan dengan Tuhan bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kita tidak selalu sadar akan Tuhan setiap saat, kita tahu bahwa hidup dan tindakan kita berorientasi pada Tuhan.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apa yang ada di benak Saya ketika Saya mendengar Maria Diangkat ke Surga? Apa yang Saya pahami tentang dogma Maria ini? Apakah tiga dogma Maria yang lain? Apakah Saya memiliki hubungan khusus dengan Maria?

Bagaimanakah Saya mengasihi Allah? Seberapa kuatkah kasih Saya kepada Allah? Bagaimana Saya meningkatkan kasih Saya kepada Allah? Apakah Saya sering berdoa? Bagaimana cara Saya berdoa? Apakah Saya menjalani kehidupan moral yang baik? Apakah Saya menyenangkan hati Allah dalam tindakan Saya sehari-hari? Apakah Saya mengetahui hukum-hukum Allah? Apakah ada dosa yang sedang Saya hadapi sekarang?

Beyond Track Records

19th Sunday in Ordinary Time [B]

August 11, 2024

John 6:41-51

One of the ways to evaluate somebody is by looking at their track records. These records can be positive like their academic achievements, acquired skills, or excellent work experiences, but it can be also negative likes poor performances or engaged in unethical behaviour. Judging someone by their track records are natural and legitimate, but when we treat these tract records as the absolute measure, we may destroy somebody else’s life and future. This what

The reason why many Jews rejected Jesus was not only because His claim that He was the bread of life was outrageous, but also because He was a son of poor carpenter. Certainly, many were struggling with the truth of consuming Jesus’ flesh, some Jews recognized Jesus’ family background and came to believe that it was impossible for a poor carpenter from insignificant village Nazareth to tell the truth.  

However, it is only half of the story. Before Jesus made any stunning claim, Jesus proved Himself to be credible as He performed an extraordinary miracle, feeding more than five thousand people. Yet, some people readily forget that sign because they were not able to abandon their prejudices and surpass their religious preconceptions. Thus, they judged Jesus as either liar or lunatic.

While it is true that track records can speak volumes, it does not mean that a person cannot change. If someone is poor economically, does not mean that he will stay poor forever. We have a lot of stories of billionaires who started from zero, even below zero. J.K. Rowling, Jan Koum, and Steve Jobs to mention few. This truth is even more evident in the life of faith. Sinners and even Christ’s enemies that were touched by the grace and love of God transformed into saints. We have St. Paul who used to persecute early Christians, St. Augustine who used to live sins, and Bl. Bartolo Longo who used to be a satanic priest.

This gives us an important lesson that there is nothing impossible for God, and for those who are open to the grace and love of God. When we deal with difficult persons in our families or communities, do we immediately judge them to be hopeless case, or do we exert more effort to help, listen or at least to pray for them? When we see someone fall into sins, do we condemn them or do we spend more time to correct them, or at least pray for their conversion? When we see ourselves as unworthy of God, do we succumb into despair, or do we pray harder and beg for God’s mercy?

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP