The Fullness of Love

The Solemnity of the Body dan Blood of Christ [Corpus Christi] – B

June 6, 2021

Mark 14:12-16;22-26

The Solemnity of the Body and Blood of Christ or Corpus Christi is the estuary of all the great feasts we have celebrated. We started from the great Holy Week and culminated in the Easter Triduum. Forty days after Easter Sunday, we worship Christ, who ascended into Heaven, and then He sent the Holy Spirit among the disciples on the day of Pentecost. And, just last Sunday, we gave our most excellent adoration to the Holy Trinity. Now, we have Corpus Christi. But, why this feast?

photocredit: annie Theby

Guided by the Holy Spirit, the Church has recognized the importance of the solemnity of Corpus Christi. The entire economy of creation and salvation streams down to this mystery. God created the world so that the world may share in His love. However, men and women fell into sin and departed from God’s love. Yet, His love and mercy are infinitely bigger than our wickedness, and He commissioned His Son to take up human nature and live among us. Not only to become a human, but Jesus also offered Himself on the cross for our salvation. St. John perfectly summed up, “For God so loved the world, He sent His only begotten Son, so that everyone who believes in may not perish but may have eternal life [John 3:16].” However, it is not the end of God’s amazing love story! The risen Christ miraculously transformed into the Eucharist to become our daily bread. In the most blessed sacrament of the Eucharist, “the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ and, therefore, the whole Christ is truly, really, and substantially contained [CCC 1374].”

For those without faith, this bread is just a white tasteless wafer, but for us, who are called to eternal life, the bread is no longer bread but the fullness of Christ. When Jesus is there, the Holy Trinity is there as well. When the Trinity is there, the entire angelic hosts and choirs of saints are there as well. Receiving the Eucharist is receiving the whole Heaven, the eternal life. This is the will of Christ Himself, “Amen, amen, I say to you, unless you eat the flesh of the Son of Man and drink his blood, you do not have life within you. Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, [Jn 6:53-54].”

The Eucharist is the proof of God’s love. It is not enough for God to become human, not enough for Him to die and rise for us, not enough for Him to open the gates of Heaven. He wants us to share His divine life and love now and here.

Yet, Heaven is meant to be shared. As Jesus shares His life and love in the Eucharist, we are invited to become little Eucharists in our daily lives. As Jesus nourishes us with His Body and Blood, do we nourish people with our body and blood? As parents, do we offer our bodies and blood to our children so that they may experience true heavens? Do we bring Heaven to our family and communities? Do we become the agent of love to our societies?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kepenuhan Kasih

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – B

6 Juni 2021

Markus 14:12-16; 22-26

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau dikenal dalam Bahasa Latin, ‘Corpus Christi’ adalah muara dari semua hari raya yang telah kita rayakan selama ini. Kita mulai beberapa bulan yang lalu, dari Pekan Suci dan mencapai puncaknya dalam Trihari Suci. Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, kita memuliakan Kristus yang naik ke Surga, dan kemudian Dia mengutus Roh Kudus di antara para murid pada hari Pantekosta. Dan, Minggu lalu, kita memberikan pujian terbesar kita kepada Tritunggal Mahakudus. Sekarang, kita memiliki Corpus Christi. Tapi, mengapa hari raya dirayakan sekarang?

photocredit: Eric Mok

Dengan bimbingan Roh Kudus, Gereja telah mengakui betapa pentingnya kehadiran Yesus yang real di Ekaristi. Seluruh sejarah penciptaan dan keselamatan mengalir ke misteri ini. Tuhan menciptakan dunia agar dunia dapat berbagi dalam kasih-Nya. Sayangnya, pria dan wanita jatuh ke dalam dosa, dan menjauh dari kasih Tuhan. Namun, kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada kejahatan dan kelemahan kita, dan Dia mengutus Putra-Nya untuk mengambil kodrat manusia dan hidup di antara kita. Tidak hanya menjadi manusia, Yesus juga mempersembahkan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan kita. St. Yohanes dengan tepat menyimpulkan, “Karena begitu besar kasihAllah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakanAnak-Nyayang tunggal, supaya setiap orang yang percayakepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16].” Namun, ini bukan akhir dari kisah kasih Allah yang luar biasa! Kristus yang bangkit secara mujizat berubah menjadi Ekaristi, menjadi makanan kita. Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus.” – [KGK 1374]

Bagi mereka yang tidak beriman, roti ini hanyalah kerupuk putih yang hambar, tetapi bagi kita yang dipanggil untuk hidup yang kekal, roti itu bukan lagi roti, tetapi kepenuhan Kristus sendiri. Ketika Yesus ada di sana, Tritunggal Mahakudus juga ada di sana. Ketika Trinitas ada di sana, seluruh malaikat dan orang-orang kudus juga ada di sana. Menerima Ekaristi adalah menerima seluruh surga, hidup yang kekal. Inilah kehendak Kristus sendiri, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan dagingAnak Manusiadan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.[Yoh 6:53-54].”

Ekaristi adalah bukti kasih Allah. Tidaklah cukup bagi Tuhan untuk menjadi manusia, tidak cukup bagi Dia untuk mati dan bangkit bagi kita, tidak cukup bagi Dia untuk membuka gerbang surga. Dia ingin kita berbagi kehidupan dan kasih ilahi-Nya sekarang dan di sini.

Namun, kita perlu ingat bahwa surga bukan hanya untuk kita sendiri. Saat Yesus membagikan hidup dan kasih-Nya dalam Ekaristi, kita diundang untuk menjadi Ekaristi kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana Yesus memelihara kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, apakah kita memelihara orang-orang dengan tubuh dan darah kita? Sebagai orang tua, apakah kita mempersembahkan tubuh dan darah kita kepada anak-anak kita agar mereka dapat mengalami kepenuhan hidup yang sesungguhnya? Apakah kita membawa surga bagi keluarga dan komunitas kita? Apakah kita menjadi agen kasih bagi masyarakat kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery

Trinity Sunday [B]
May 30, 2021
Matthew 28:16-20

The mystery of the Holy Trinity is at the heart of our Christian faith. The Church duly recognizes that this is the mystery of all mysteries and the mystery of God in Himself: One God in three divine persons. While acknowledging that it is fundamentally impossible to explain the Trinity in this short writing, this simple reflection may help us appreciate the beauty of this sacred mystery.


Firstly, we need to recognize that this is the mystery. The Trinitarian mystery is not like mystery movies where the audience is kept in suspense and guessing until the film’s end. The Trinitarian mystery is not mysterious, as if there are many secrets and an atmosphere of strangeness. Far from being mysterious, the Trinity has been preached and proclaimed publicly since the birth of the Church. The mystery of the Trinity is like the mystery of love. The mystery is very real, and yet we do not have the intellectual capacity to grasp it fully. Often, we do not understand why this pretty woman falls in love with this not so handsome guy, yet the love between the two is undeniable. The same with the mystery of the Trinity, we do not fully comprehend it, but it is fundamental in our faith and life.


Secondly, we need to see that we are invited to be part of that mystery of Trinity. This is what amazing about the true mystery. We may not fully understand it, but we are drawn to the mystery, and if we open our hearts, we will share in that mystery. Again, like the mystery of love, we often will not reach a solid logical analysis of the reasons behind a sacrificial mother’s love for her children. Still, we know that is true, and we are called to participate in that kind of radical love. It is the same as the mystery of the Trinity. St. Peter, our first pope, has declared that by the help of grace, we are to share God’s divine nature, the life of the Trinity [2 Pet 1:4]. St. Peter knew well the meaning of this mystery. Heaven is becoming part of this love that unites the Father, the Son, and the Holy Spirit.


Thirdly, we need to do our parts to enter that mystery. Being part of the mystery is exceptionally precious because we cannot earn it no matter what we do. It is freely given. Like love, it is entirely free but never cheap. We cannot force someone in return, yet when we receive the love, we need to do our part to grow into that love. Love is an utter gift to the other. It is the same with the mystery of the Trinity. God freely offers His friendship, but we need to do our parts to live and grow in this mystery.


We begin our lives in the Trinity when we were baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, but do we live and grow in this mystery? When we make the sign of the cross, do we mean to become the sign of the Holy Trinity in our lives? We are blessed in the name of the Father, and Son, and the Holy Spirit, but do we genuinely turn to be a Trinitarian blessing for others?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Misteri

Trinity Sunday [B]
30 Mei 2021
Matius 28: 16-20

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah inti dari iman Kristiani kita. Gereja sendiri mengakui bahwa inilah dasar dari semua misteri iman, sebuah misteri Tuhan di dalam diri-Nya sendiri, yakni: Satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Meskipun menyadari bahwa pada dasarnya saya tidak mungkin untuk menjelaskan Tritunggal dalam tulisan pendek ini, dengan refleksi sederhana ini, saya berharap dapat membantu kita semua menghargai keindahan misteri paling sakral ini.


Pertama, kita perlu menyadari bahwa arti dari kata misteri. Misteri Tritunggal tidak seperti film misteri yang penontonnya dibuat penasaran dan menebak-nebak hingga akhir film. Misteri Tritunggal tidaklah misterius seolah-olah terdapat banyak rahasia dan keanehan. Jauh dari kata misterius, Tritunggal telah diwartakan dan dijelaskan secara terbuka sejak lahirnya Gereja. Misteri Tritunggal seperti misteri kasih. Misteri kasih itu sangat nyata, namun kita tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mengerti secara sepenuh. Seringkali, kita tidak mengerti mengapa seorang wanita cantik ini jatuh cinta pada pria yang tidak begitu tampan, namun cinta di antara keduanya tidak dapat disangkal. Sama halnya dengan misteri Tritunggal, kita tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi itu nyata dalam iman dan hidup kita.


Kedua, kita perlu melihat bahwa kita diundang untuk menjadi bagian dari misteri Trinitas ini. Inilah yang menakjubkan tentang arti misteri yang sebenarnya. Kita mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi kita diundang menjadi bagian dari misteri itu. Jika kita membuka hati kita, kita akan sungguh berbagi dalam misteri itu. Sekali lagi, seperti misteri kasih, seringkali, kita tidak akan mencapai analisis logis yang memuaskan tentang alasan di balik kasih seorang ibu yang berkorban untuk anak-anaknya, tetapi kita tahu itu benar dan kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih radikal semacam itu. Santo Petrus, paus pertama kita, telah menyatakan bahwa dengan bantuan rahmat-Nya, kita harus berbagi kodrat ilahi, kehidupan Tritunggal Mahakudus [lih. 2 Pet 1:4]. Inilah artian surga yang sesungguhnya, yakni menjadi bagian dari kasih yang mempersatukan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.


Ketiga, kita perlu melakukan usaha kita untuk tumbuh di dalam misteri itu. Menjadi bagian dari misteri adalah rahmat karena apa pun yang kita lakukan, kita tidak bisa mendapatkannya. Itu diberikan secara cuma-cuma. Sama seperti kasih, mengasihi dan dikasihi sepenuhnya cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, namun ketika kita menerima kasih, kita perlu melakukan bagian kita untuk tumbuh di dalam kasih itu. Jika tidak, kasih itu akan diambil dari kita, dan mungkin tidak pernah akan kembali. Sama halnya dengan misteri Tritunggal. Tuhan dengan bebas menawarkan persahabatan-Nya, tetapi kita perlu melakukan bagian kita untuk hidup dan bertumbuh dalam misteri ini.


Kita memulai hidup kita dalam Tritunggal ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tetapi apakah kita hidup dan bertumbuh juga dalam misteri ini? Ketika kita membuat tanda salib, apakah kita sungguh ingin menjadi tanda Tritunggal Mahakudus dalam dunia? Setiap kali kita diberkati oleh imam, Kita diberkati dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, tetapi apakah kita benar-benar berubah menjadi berkat Tritunggal bagi orang lain?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leprosy

Sixth Sunday in Ordinary Time [B]

February 14, 2021

Mark 1:40-45

Leprosy in the time of Jesus is not only physically and mentally deadly, but also spiritually incapacitating. Leprosy or currently known as the Hansen’s disease is horrifying sickness because it does not kill the person slowly, but it gradually deforms and incapacitates the person. The bacteria cause terrible damage in peripheral nervous to the point that the person is no longer feeling the sensation, especially pain. Without this sensation, the person fails to recognize and avoid bodily injuries. Losing limbs is shared among the victims with advanced stages of leprosy.

Since the sickness was incurable and highly contagious in ancient time, it was a natural reaction for the people to exclude the infected persons from the community. We can imagine the effects of exclusion suffered by the victims. They were cut from the bare necessities, separated from their family and friends, and aware that they will die a horrible death. People could quickly become insane. This awareness that they would not survive outside society pushes the people with leprosy to gather and form their community. Thus, lepers’ colonies were deemed a practical solution to support one another in the face of the bleak reality of life.

In the Jewish context, skin diseases, especially leprosy, are about biological and mental problems, but it is a religious issue. The Book of Leviticus states that people with certain skin diseases, including leprosy, have to present themselves to the priest and have their bodies examined. The priest may declare that persons as unclean. After the verdict, the persons have to go out from the community, wear rent cloth, and let their hair dishevel. These become visible signs that they are with contagious diseases and unclean. Yet, if a person remains going closer to them, they shall shout, “Unclean! Unclean!” This is to make sure healthy and clean persons will not come nearer. Being declared unclean means the person is not fit for the religious service and cannot enter the holy ground like the temple. Thus, for a Jew who contracted leprosy, he was excluded physically and mentally and religiously. The sickness also cut them from God they serve and worship.

In the Gospel, we see the leper who took the initiative to approach Jesus, thus breaking the most fundamental prohibition to stay away from people and God. The leper’s request was not to be healed, but rather to be ‘clean.’ The deepest desire of this leper is not physical healing, but to worship his God. The real healing comes only when we can approach and worship the true God. Looking at his courage and deepest longing, Jesus was moved by pity and made him clean.

The leper in the Gospel teaches us a lot about the genuine desire for healing. Perhaps, many of us look for God because we wish to be cured of diseases, seek financial success, or free from other problems. Yet, we seldom desire to see God because we want to be healed spiritually, liberated from sins, and be one with Him. The Gospel teaches us that true healing is more than physical health and economic stability, but the union with God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photocredit: Claudio Schwartz

Kusta

Minggu Keenam dalam Masa Biasa [B]

14 Februari 2021

Markus 1: 40-45

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.

Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sangat menular pada zaman dahulu, reaksi alami bagi para penduduk adalah untuk mengeluarkan orang yang terinfeksi dari komunitas. Bisa dibayangkan dampak pengusiran yang diderita para korban. Mereka terputus dari sumber kebutuhan dasar, dipisahkan dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka sadar bahwa mereka akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Penderita kusta bisa dengan mudah menjadi gila. Kesadaran bahwa mereka tidak akan bertahan hidup sendiri di luar masyarakat mendorong para penderita kusta untuk berkumpul dan membentuk komunitasnya. Oleh karena itu, koloni penderita kusta dianggap sebagai solusi praktis untuk saling mendukung dalam menghadapi kenyataan hidup yang suram.

Dalam konteks Yahudi kuno, penyakit kulit khususnya kusta tidak hanya merupakan masalah biologis, mental dan sosial, tetapi merupakan masalah agama. Kitab Imamat menyatakan bahwa orang dengan penyakit kulit tertentu termasuk kusta harus menghadap imam dan diperiksa tubuhnya. Kemudian, sang imam dapat menyatakan orang itu najis. Setelah putusan ini, orang tersebut harus keluar dari komunitas, memakai kain lusuh, dan membiarkan rambutnya acak-acakan. Ini menjadi tanda-tanda bahwa mereka mengidap penyakit menular dan najis. Namun, jika seseorang tetap mendekati mereka, mereka akan berteriak, “Najis! Najis!” Ini untuk memastikan orang yang sehat dan tahir tidak akan mendekat. [Im 13] Jika seseorang dinyatakan sebagai najis, ini berarti orang tersebut tidak layak untuk beribadah dan tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci seperti Bait Allah. Jadi, bagi seorang Yahudi yang mengidap penyakit kusta, ia tidak hanya dikucilkan secara fisik dan mental, tetapi juga secara agama. Penyakit itu juga memisahkan mereka dari Tuhan yang mereka layani dan sembah.

Dalam Injil, kita belajar banyak dari sang penderita kusta. Kita melihat sang penderita kusta adalah orang yang berinisiatif untuk mendekati Yesus, dan dengan demikian, melanggar larangan paling mendasar untuk menjauh dari manusia lain dan Tuhan. Permintaan penderita kusta bukanlah untuk disembuhkan, melainkan untuk ‘menjadi tahir’. Keinginan terdalam dari penderita kusta ini bukanlah pertama-tama penyembuhan fisik, tetapi menjadi tahir agar bisa menyembah Tuhannya. Kesembuhan yang sejati datang hanya jika kita bisa mendekati dan menyembah Tuhan yang benar. Melihat keberanian dan kerinduannya yang terdalam, Yesus tergerak oleh belas kasihan dan membuatnya tahir.

Penderita kusta dalam Injil mengajar kita banyak hal tentang keinginan sejati untuk kesembuhan. Mungkin, banyak dari kita mencari Tuhan karena ingin sembuh dari penyakit, mencari kesuksesan finansial atau terbebas dari masalah lain. Namun, kita jarang ingin melihat Tuhan karena kita ingin disembuhkan secara rohani, dibebaskan dari dosa, dan menjadi satu dengan Dia. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penyembuhan sejati lebih dari sekedar kesehatan fisik dan stabilitas ekonomi, tetapi persatuan dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Healer of Our Souls

Fifth Sunday in Ordinary Time [B]

February 7, 2021

Mark 1:29-39

Jesus cannot be separated from His healing ministries. Some of the healings are remarkable, like the healing of a woman with the hemorrhage and Jarius’ daughter [Mark 5:321-43]. They are astonishing because these are practically impossible cases. The woman has suffered for twelve years without sign of hope, and Jarius’ daughter is as good as dead. Yet, Jesus does heal not only those with grave illness but also those with curable sickness.

Jesus is at the house of Simon, and He discovers that Simon’s mother-in-law has a fever. Fever is a symptom that points to an infection, from ordinary flu to covid-19. In the case of Simon’s mother-in-law, we can safely assume that she has a curable sickness. Without proper rest and treatment, she will get back to her usual activities. Yet, despite this fact, and even without a particular request from the person, Jesus decides to heal her anyway. Jesus understands that sickness, no matter insignificant it is, remains improper in our lives. To be a healthy person is God’s plan for us.

If we see our lives, we quickly recognize that getting sick is part of our life. Sickness becomes a constant reminder that our bodies are limited and fragile. Indeed, we have an immune system, but often this potent protection is not enough. With the pandemic caused by covid-19, we realize that human beings are not powerful as we think. As we struggle to find the cures, the virus, bacteria, and other sickness causes are also evolving and getting deadlier. The illness causes pain and suffering, and these weaknesses remind us of our death. Yet, despite this realization, deep down, we know that sickness is not the real deal, and it is a privation rather than perfection. We desire to be healthy. We fight to be healthy, and only by being healthy, we may achieve our potentials.

This is why we go to the doctors if we are sick, hit the gym, do other exercises, and live a healthy lifestyle. It is the same reason that the persons with the gift of healing are sought for. It is the same reason that many people want to see Jesus. 

We may ask, why does not Jesus heal all of us? The answer might not be that simple, but we can say that Jesus first comes to heal our broken relationship with God. He saves us from our sins. His miraculous healings are signs of this redemption. Even in His providential way, God can use our illness and suffering to make us even spiritually closer to Him. St. Dominic de Guzman is known to have very rigid mortification practices, and a witness said that a cord of chains was tied in his tight and just removed when he died. Mortification is one of the favorites ways of the saints to seek God. They do not want that their healthy bodies become a hindrance to seek God. Meanwhile, Beato Carlo Acutis, who got sick of leukemia, a severe illness that eventually took his life, offered his suffering to the Lord. He said, “I offer all the suffering I will have to suffer for the Lord, for the Pope, and the Church.”

Jesus brings us healing to our souls and bodies. Yet, in His providential care, our bodily weakness can lead us even closer to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: jonathan-borba

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]

7 Februari 2021

Markus 1: 29-39

Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.

Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.

Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.

Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.

Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.

St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”

Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Jonathan-borba

Jesus and Exorcism

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

January 31, 2021

Mark 1:21-28

Jesus performed His first exorcism in the Gospel of Mark. Reading the context, we discover that Jesus was teaching in the synagogue, and the people recognized Him teaching with authority. When Jesus taught with authority, it does not merely mean He preached with eloquence and chrism, but His teachings manifested in powerful signs, like healings and exorcism.

The word exorcism is usually understood as expelling the evil spirits or demons from a person possessed or a place infected. Unfortunately, because of Hollywood movies’ influence, the understanding of exorcism has been corrupted, deformed, and even ridiculed. Yet, the Catholic Church, exorcism is rooted in Jesus Christ Himself.

The literal meaning of ‘exorcism’ is to ‘bind with an oath.’ Then, how did this word become related to evil spirits? When we swear an oath, we need to invoke a higher being as the guarantor of our promise. Naturally, an oath is to say a pledge by invoking the Lord Himself as a witness. In the context of exorcism, the priest-exorcist will invoke the name of God to bind the demons and send them ‘at the feet of the cross of Jesus’ for the judgment. There is no genuine and effective exorcism without invoking the name and power of the true God.

What is interesting is that Jesus drove out demons without invoking the name of God. He said, “Quiet, come out of him!” Jesus was exorcising with His authority, and the demons obeyed Him because they recognized His divine power. The demons also acknowledge Jesus not as Messiah or the king of the Jews, but as ‘the Holy One of God.’ If we go back to the Old Testament, this particular title refers to Israel’s high priest. “… Aaron, the holy one of the Lord… [Psa 106:16].” The demons revealed another dimension of Jesus’ identity: He is the high priest. From this truth, we may conclude that exorcism is a priestly duty.

Participating in the high priestly office of Jesus, the bishops are the chief exorcists in their dioceses. We remember that bishops are high priests in their respective dioceses. Each bishop then may appoint and delegate some well-trained priests to become exorcists. I was fortunate to meet and discuss many things with Fr. Jose Syquia, an exorcist of the Archdiocese of Manila.

However, we must not forget that we also share in the priesthood of Jesus Christ because of our baptism. So, we also have authority over the evil spirits. As laity, we are allowed to say specific prayers of deliverance when we feel extraordinary presence and activities of the evil spirits. The prayer to St. Michael, the archangel, is most recommended for the laity. Yet, we must not forget that the evil spirits work in very subtle ways, primarily through temptations to sin. Often, without realizing it, we are already under the control of the devil as we live a life full of vices. This is our daily war against the kingdom of Satan, and we cannot win without invoking the name of Jesus, constant prayers, the sacraments, and the help of the Church.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Eksorsisme

Minggu Keempat di Masa Biasa [B]

31 Januari 2021

Markus 1: 21-28

Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.

Kata eksorsisme biasanya diartikan sebagai mengusir roh-roh jahat dari seseorang yang kerasukan atau tempat yang terjangkiti. Sayangnya, karena pengaruh yang datang dari film-film Hollywood, pemahaman tentang eksorsisme telah terdistorsi, dan bahkan menjadi bahan lelucon. Namun, bagi Gereja Katolik, eksorsisme berakar di dalam pribadi Yesus Kristus sendiri, dan sebuah misi yang mulia.

Arti harafiah dari ‘eksorsisme’ adalah ‘mengikat dengan sumpah.’ Lalu, bagaimana kata ini bisa akhirnya berhubungan dengan roh jahat? Ketika kita bersumpah, kita perlu memanggil seseorang yang lebih tinggi dari diri kita sebagai penjamin janji kita. Secara sederhana, sumpah adalah mengucapkan janji dengan memanggil Tuhan sendiri sebagai saksi kita. Dalam konteks eksorsisme, imam yang bertugas sebagai eksorsis akan memanggil nama Tuhan untuk mengikat setan, dan mengirim mereka ‘ke kaki salib Yesus’ untuk menerima penghakiman. Kita tidak bisa mengusir setan dengan menggunakan otoritas kita sendiri karena setan adalah makhluk yang juah lebih kuat dari kita. Hanya dalam nama Tuhan yang benar, eksorsisme yang sejati dan efektif dapat terjadi.

Satu hal yang menarik dari Injil adalah Yesus mengusir setan tanpa menyebut nama Tuhan. Dia hanya berkata, “Diam, keluarlah dari dia!” Yesus mengusir dengan otoritas-Nya sendiri dan setan-setan mematuhi-Nya karena mereka mengenali kuasa ilahi-Nya. Setan juga mengenali Yesus bukan hanya sebagai Mesias atau sebagai raja orang Yahudi, tetapi sebagai ‘Yang Kudus dari Tuhan.’ Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, gelar khusus ini mengacu pada imam agung Israel, secara khusus Harun. “… Harun, Yang Kudus dari Tuhan… [Mzm 106: 16].” Melalui mulut setan, Injil mengungkapkan dimensi lain dari identitas Yesus: Dia adalah sang Imam Agung. Dari kebenaran ini, kita dapat menyimpulkan bahwa eksorsisme adalah bagian dari tugas imamat.

Berpartisipasi dalam identitas Yesus sebagai imam agung, para uskup adalah eksorsis utama di keuskupan mereka. Kita ingat bahwa uskup adalah imam agung di keuskupan masing-masing. Setiap uskup kemudian dapat menunjuk dan mendelegasikan beberapa imam yang terlatih untuk menjadi eksorsis di keuskupan mereka. Waktu saya di Manila, saya beruntung bisa bertemu dan berdiskusi banyak hal, dengan Romo Jose Syquia, seorang eksorsis dari Keuskupan Agung Manila.

Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa karena pembaptisan kita, kita juga mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus. Jadi, kita juga memiliki otoritas atas roh-roh jahat. Sebagai orang awam, kita diizinkan untuk mengucapkan doa-doa pembebasan tertentu ketika kita merasakan kehadiran dan aktivitas roh-roh jahat yang luar biasa. Doa kepada St. Michael, sang malaikat agung, adalah salah satu contoh doa pembebasan yang bisa digunakan kaum awam. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa sebenarnya roh-roh jahat bekerja dengan cara yang sangat halus, terutama melalui godaan untuk berbuat dosa. Seringkali, tanpa disadari, kita sudah di bawah kendali iblis saat kita menjalani hidup yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menghadapi perang kita sehari-hari melawan kerajaan Setan, dan kita tidak bisa menang tanpa menyebut nama Yesus, tanpa doa yang konstan, tanpa sakramen, dan tanpa bantuan Gereja.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP