Yesus, Raja Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

24 November 2024

Yohanes 18:33b-37

Di zaman sekarang, konsep raja mungkin terasa aneh dan bahkan ketinggalan zaman. Banyak dari kita hidup dalam masyarakat yang demokratis, di mana kita memilih orang-orang yang kita sukai untuk menjadi pemimpin kita, dan memilih yang lain ketika kita merasa bahwa mereka tidak lagi cocok untuk memimpin. Kemegahan dan keagungan kerajaan-istana, benteng, jubah, dan upacara-upacara kebangsawanan-sering kali dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Namun, Gereja memanggil kita untuk merenungkan dan menerima Yesus sebagai Raja. Bagaimana kita dapat benar-benar menghargai identitas Yesus sebagai Raja kita?

Pertama, Yesus adalah raja yang melayani. Ya, Yesus adalah raja, tetapi tidak seperti raja-raja lainnya. Gabriel, sang malaikat agung, mengumumkan kelahiran-Nya sebagai raja, “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33).” Namun, Yesus menyatakan bagaimana Dia akan menjadi raja, “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mar 10:45).” Alih-alih menuntut pelayanan dari umat-Nya, Yesus melayani umat-Nya dengan kerendahan hati yang luar biasa. Tindakan pelayanan-Nya yang paling utama adalah mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. Bahkan sekarang, sebagai Raja yang telah bangkit di surga, Yesus terus melayani dengan menjadi pengantara kita di hadapan Bapa (Ibr. 7:25).

Kedua, Yesus, raja semesta. Meskipun Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi dan dinubuatkan sebagai Mesias Israel, kekuasaan-Nya bersifat universal. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)” Yesus bukan hanya raja atas semua manusia, tetapi juga atas segala sesuatu. Dari bintang terbesar hingga partikel sub-atom terkecil, dan bahkan realitas yang belum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, semuanya berada dalam pemerintahan dan penyelenggaraan-Nya. Tidak hanya realitas yang terlihat, tetapi juga makhluk-makhluk yang tidak terlihat juga berada di bawah kekuasaan Yesus. Kemudian, karena kerajaan Yesus adalah tentang pelayanan, maka Yesus juga melayani segala sesuatu dengan melestarikan keberadaan mereka, jika tidak, segala sesuatu akan runtuh menuju ketiadaan.

Ketiga, Yesus adalah Raja kita. Kerajaan Yesus tidaklah jauh atau abstrak, tetapi sangat personal. Sebagai Raja atas segala ciptaan, Dia mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita karena Dia mengenal dan mengasihi kita masing-masing. Desain alam semesta yang rumit, dari hukum fisika hingga kondisi yang disesuaikan dengan baik yang memungkinkan kehidupan di Bumi, mencerminkan perhatian-Nya yang penuh kasih. Bahkan tubuh kita sendiri, yang terdiri dari atom dan sel yang tak terhitung jumlahnya, disatukan di bawah perintah-Nya. Tidak hanya alam semesta yang terlihat, bahkan makhluk-makhluk spiritual pun berada di bawah perintah-Nya untuk melindungi dan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Sementara kita sering kali sibuk dengan urusan sehari-hari, sang Raja memelihara kita melalui pemerintahan-Nya atas seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Pemerintahan-Nya sebagai raja tidak lain adalah kasih, pelayanan dan perhatian.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apa konsepmu tentang seorang raja? Apakah kamu melihat Yesus sebagai seorang raja? Raja yang seperti apa Dia itu? Atau, apakah kamu lebih nyaman dengan sebutan lain Yesus seperti gembala yang baik? Apakah kita mengikuti Yesus sebagai Raja kita? Bagaimana kita melayani Raja kita? Apakah kita menaati-Nya, atau kita memberontak terhadap-Nya? Apakah kita juga menjaga ciptaan lain karena mereka melayani Raja yang sama seperti kita? Apakah kita berterima kasih kepada para malaikat yang telah menjaga kita?

We and the Saints

33rd Sunday in Ordinary Time [B]
November 17, 2024
Mark 13:24-32

When someone asks if we want to go to heaven, we quickly say, “Yes!” But if asked if we want to become saints, our enthusiasm often fades. This is surprising because everyone in heaven is a saint. To be a saint means to be in heaven. So why do we separate the idea of heaven from being a saint?

At least, there are three reasons:

  1. Misunderstanding the Catholic Faith: Some of us may not fully understand our faith. We might think there are two groups in heaven: well-known saints like the Blessed Mother, St. Joseph, St. Dominic, and St. Francis, and a second group of non-saints. We assume saints are only those who have been officially recognized and celebrated with feast days. But this is not true. All people in heaven are saints, even if we don’t know their names. That’s why we celebrate All Saints’ Day, honoring every person who by God’s grace has reached heaven. One of those saints could be a relative or ancestor!
  2. Thinking It’s Too Hard to Be a Saint: We read stories about saints and feel like we could never be as good as them. Saints seem perfect—extremely lovely, always praying, and some even performed miracles. And martyrs faced painful deaths for their faith. This level of holiness feels impossible for us because we are aware of our weaknesses and sins. But here’s the truth: saints didn’t become holy by their efforts alone; they depended on God’s grace. They were imperfect humans, like all of us, who allowed God’s love to transform them.
  3. Fear of Death: We might think that becoming a saint means we must die first, and we do not want to die! However, not all death is physical and biological. We need to die also to ourselves. This means letting go of worldly attachments and sinful desires.

In today’s Gospel, Jesus speaks about His return in glory and the signs that will come before it—darkened skies, a dim moon, and falling stars. This can mean the end of an era or even the end of the world. Yet, this can also tell us a deeper lesson: the world we know is temporary, destructible, and if we cling too tightly to it, we will lose everything. We need to choose: will we die to this world and live for God, or die with this world, and losing God.

We ask God to help us dying to ourselves, letting go of the world, and live more for Christ. Then, whenever Jesus comes, we will be ready to stand before Him, truly alive, just like the saints in heaven.

Rome

Valentinus B. Ruseno, OP

Questions for Reflection:

What do we think heaven is like? How do we view the saints and their roles in our lives? Do we want to become saints, or are we too attached to the world? What are the things we cling to in this life? How are we preparing for Jesus’ coming?

Kita dan Para Kudus

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [B]

17 November 2024

Markus 13:24-32

Ketika seseorang bertanya apakah kita ingin masuk surga, kita dengan cepat menjawab, “Ya!” Namun, jika ditanya apakah kita ingin menjadi santo atau santa, antusiasme kita sering kali memudar. Hal ini mengejutkan karena semua orang di surga adalah orang kudus. Menjadi santo-santa berarti berada di surga! Jadi mengapa kita memisahkan gagasan tentang surga dengan menjadi orang kudus?

Setidaknya, ada tiga alasan:

  1. Kesalahpahaman akan Iman Katolik: Beberapa dari kita mungkin tidak sepenuhnya memahami iman kita. Kita mungkin berpikir bahwa ada dua kelompok di surga: orang-orang kudus yang terkenal seperti Bunda Maria, Santo Yosef, Santo Dominikus, dan Santo Fransiskus, dan kelompok kedua adalah mereka yang bukan orang kudus. Kita menganggap orang-orang kudus hanyalah mereka yang telah dikanonisasi (diakui secara resmi) dan memiliki hari-hari peringatan pada kalender liturgi Gereja. Namun, hal ini tidaklah benar. Semua orang di surga adalah orang-orang kudus, bahkan jika kita tidak mengetahui nama-nama mereka. Itulah mengapa kita merayakan Hari Semua Orang Kudus, untuk menghormati setiap orang yang karena rahmat Allah telah mencapai surga. Salah satu orang kudus itu bisa jadi adalah kerabat atau leluhur kita!
  2. Ide bahwa Terlalu Sulit untuk Menjadi Orang Kudus: Kita membaca kisah-kisah tentang orang-orang kudus dan merasa bahwa kita tidak akan pernah bisa sebaik mereka. Orang-orang kudus tampak sempurna, sangat baik, selalu berdoa, dan beberapa bahkan melakukan mukjizat. Dan bahkan para martir menghadapi kematian yang sangat kejam karena iman mereka. Tingkat kekudusan ini terasa mustahil bagi kita karena kita sadar akan kelemahan dan dosa-dosa kita. Tetapi sejatinya, orang-orang kudus tidak menjadi kudus karena usaha mereka sendiri; mereka bergantung pada rahmat Allah. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna, sama seperti kita semua, namun mengizinkan kasih Allah untuk mengubah mereka.
  3. Takut akan Kematian: Kita mungkin berpikir bahwa menjadi orang kudus berarti kita harus mati terlebih dahulu, dan kita tidak ingin mati! Namun, tidak semua kematian itu terjadi secara biologis. Kita juga harus mati atas diri kita sendiri. Ini berarti melepaskan keterikatan duniawi dan hasrat-hasrat dosa kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya, langit menjadi gelap, bulan dan matahari yang redup, dan bintang-bintang yang berjatuhan. Hal ini dapat berarti akhir dari sebuah era atau bahkan akhir dari dunia. Namun, hal ini juga dapat memberikan pelajaran yang berharga: dunia yang kita kenal ini bersifat sementara, akan hancur, dan jika kita berpegang teguh padanya, kita juga akan hancur dan kehilangan segalanya. Kita harus memilih: apakah kita akan mati bagi dunia ini dan hidup untuk Tuhan, atau mati bersama dunia ini dan kehilangan Tuhan.

Kita memohon kepada Tuhan untuk menolong kita mati bagi diri kita sendiri, melepaskan dunia, dan hidup lebih bagi Kristus. Sehingga, kapan pun Yesus datang, kita akan siap untuk berdiri di hadapan-Nya, benar-benar hidup, seperti orang-orang kudus di surga.

Roma

Valentinus B. Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

Seperti apakah surga itu? Bagaimana kita memandang orang-orang kudus dan peran mereka dalam hidup kita? Apakah kita ingin menjadi orang kudus, atau kita terlalu melekat pada dunia? Hal-hal apakah yang kita lekatkan dalam hidup ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus?

The Faith of the Poor Widow

32nd Sunday in Ordinary Time [B]

November 10, 2024

Gospel: Mark 12:38-44

In the Gospel of Mark, Jesus commends a poor widow who gives her last two small coins to the Temple. He points out why her act is so remarkable: “Out of her poverty, she gave everything she had, all she had to live on” (Mark 12:44). Jesus admires her because, despite her extreme poverty, she displays extraordinary generosity. But there’s a deeper message here. What is it?

We need to ask, “Why is this widow poor?” In Jesus’ time, widows were among the most vulnerable, especially if they had no family to support and protect them. Because of this, God instructed the Israelites to care for widows (see Deu 14:29 and Isa 1:17). Yet, in this Gospel passage, there is a clue to why this widow has been pushed into poverty. Before praising the widow, Jesus condemns the scribes not just for seeking popularity, but for a more sinister reason, “They devour widows’ houses” (Mark 12:40).

How did the scribes take advantage of widows? There are a few possibilities:

Firstly, Abuse of Legal Authority. The scribes, experts in Jewish law, were trusted as legal advisors or trustees, especially for widows who needed help managing their affairs after their husbands’ death. Afterall, these scribes were men of God! Sadly, some of them abused this trust, using their legal knowledge to manipulate proceedings for personal gain, sometimes even committing fraud.

Secondly, Predatory Lending. Some scribes engaged in predatory lending practices. Under the guise of providing financial help, they would lend money to widows and gradually entrap them in severe debt. When the widows couldn’t repay these debts, they were forced to give up their homes and possessions, ultimately becoming destitute.

While we don’t know the exact way the widow in this story was exploited, we do know she suffered injustice. Despite this, her response is remarkable. Instead of feeling embittered or blaming God, she remains generous and devoted. Even in her suffering, she loves God with all her heart, strength, and life. Why? Because her faith rests in God Himself, not in flawed human representatives like the scribes. While people can fail or act unjustly, God does not. She believes God is watching her, and indeed, Jesus is watching her actions and recognizing her faith and sacrifice.

This story opens our eyes to harsh realities that can exist even within religious institutions. Yet, the widow’s example also teaches us how to respond to these challenges without losing our faith.

Reflection Questions:

Do we help bring people closer to God, or do we push them away? Do we use our position and knowledge to assist others or to take advantage of them? When bad things happen, do we blame God or maintain our trust in Him? Do we stand against injustice and wrongdoing within our communities and Church, or do we remain silent?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Janda yang Miskin

Hari Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [B]

10 November 2024

Markus 12:38-44

Dalam Injil Markus, Yesus memuji seorang janda miskin yang memberikan dua peser uang terakhirnya ke Bait Allah. Dia menunjukkan mengapa tindakan janda itu begitu luar biasa: “Janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh hidupnya.” (Markus 12:44). Yesus mengaguminya karena, meskipun sangat miskin, dia menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Tetapi ada pesan yang lebih dalam di sini. Apakah itu?

Kita perlu bertanya, “Mengapa janda ini miskin?” Pada zaman Yesus, para janda termasuk golongan yang paling rentan, terutama jika mereka tidak memiliki keluarga yang mendukung dan melindungi mereka. Karena itu, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memperhatikan para janda (lihat Ul. 14:29 dan Yes. 1:17). Namun, dalam perikop Injil ini, ada petunjuk mengapa janda ini jatuh miskin. Sebelum memuji janda tersebut, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bukan hanya karena mereka mencari popularitas, tetapi karena sesuatu yang lebih jahat, “Mereka menelan rumah-rumah janda” (Mrk. 12:40).

Bagaimana para ahli Taurat mengeksploitasi para janda? Ada beberapa kemungkinan:

Pertama, Penyalahgunaan Otoritas Hukum. Para ahli Taurat, sesuai gelarnya adalah ahli dalam hukum dan implementasi hukum Musa atau Taurat. Oleh karena itu, mereka dipercaya sebagai penasihat hukum atau bahkan wali, terutama bagi para janda yang membutuhkan bantuan untuk mengatur urusan mereka setelah kematian suami mereka. Bagaimanapun juga, para ahli Taurat ini adalah hamba-hamba Allah! Sayangnya, beberapa dari mereka menyalahgunakan kepercayaan ini, menggunakan pengetahuan hukum mereka untuk memanipulasi proses hukum demi keuntungan pribadi, bahkan melakukan penipuan.

Kedua, Pinjaman berbunga tinggi. Beberapa ahli Taurat terlibat dalam praktik pinjaman dengan bunga tinggi. Dengan kedok memberikan bantuan keuangan, mereka meminjamkan uang kepada para janda dan secara bertahap menjebak mereka dalam utang yang sangat besar. Ketika para janda tidak dapat melunasi utang-utang tersebut, mereka terpaksa menyerahkan rumah dan harta benda mereka, yang pada akhirnya menjadi miskin.

Meskipun kita tidak tahu persis bagaimana janda dalam cerita ini dieksploitasi, kita tahu bahwa dia menderita ketidakadilan. Meskipun demikian, responsnya sangat luar biasa. Alih-alih merasa sakit hati atau menyalahkan Tuhan, ia tetap bermurah hati. Bahkan dalam penderitaannya, ia tetap mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan hidupnya. Mengapa? Karena imannya bertumpu pada Tuhan itu sendiri, bukan pada perwakilan manusia yang memiliki kekurangan seperti para ahli Taurat. Sementara manusia dapat gagal atau bertindak tidak adil, Allah tidak. Ia percaya bahwa Allah menjaganya, dan memang, Yesus melihat tindakannya dan mengakui iman dan pengorbanannya.

Kisah ini membuka mata kita akan kenyataan pahit yang dapat terjadi bahkan di dalam Gereja kita. Namun, teladan sang janda juga mengajarkan kita bagaimana merespons tantangan-tantangan ini tanpa kehilangan iman.

Pertanyaan Refleksi:

Apakah kita membantu membawa orang lain lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan mereka dari Tuhan? Apakah kita menggunakan posisi dan pengetahuan kita untuk menolong orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka? Ketika hal-hal buruk terjadi, apakah kita menyalahkan Allah atau tetap percaya kepada-Nya? Apakah kita berusaha melawan ketidakadilan di dalam komunitas dan Gereja kita, atau apakah kita diam saja?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eucharist and Sacrifice of the Cross

31st Sunday in Ordinary Time

November 3, 2024

Hebrews 7:23-28

Every time we celebrate the Eucharist, we worship God by offering Him the perfect sacrifice. This sacrifice is Jesus Christ, who is truly present in the Eucharist. However, when we read the Letter to the Hebrews, its author writes that Jesus offered Himself on the cross “once and for all” (see Heb 7:27). So, why do we “sacrifice” or even “crucify” Jesus again in the Eucharist? Does this mean we misunderstand our worship?

Firstly, we need to understand the context of the Letter to the Hebrews. The author recognized that in order to worship God, a high priest must offer a sacrifice. Then, the author compares the Israelite high priest from the tribe of Levi with Jesus as the high priest. The Levitical high priest was an ordinary human and, therefore, a sinner. As such, he had to offer sacrifices repeatedly because he continued to fall into sin. Meanwhile, Jesus is truly divine and truly human, without any sin, yet sharing in our human struggles. While the Levitical high priest offered imperfect sacrifices of animals, Jesus gave Himself on the cross as the perfect and most acceptable sacrifice of love. Since the value of His sacrifice on the cross infinitely surpasses the Levitical or any human sacrifice, earthly sacrifices are no longer needed.

However, though Jesus has offered Himself once for all on earth, this does not mean He is inactive in heaven. The same letter to the Hebrews states, “…the heavenly things themselves (the heavenly sanctuary) need better sacrifices than these (earthly sacrifices)” (Heb 9:23). Entering heaven, Jesus does not cease His priestly ministry; rather, He perfects His identity by presenting an endless sacrifice. But how does He offer sacrifice without dying again on the cross? The answer is through a living sacrifice (see Rom 12:1). Jesus presents His own self—His glorious body still bearing the wounds of the cross—as a perfect gift to the Father, but this time, without further death. Since Jesus in heaven and Jesus on the cross are essentially the same, the living sacrifice He offers in heaven has the same infinite value as that on the cross.

Now, let us see what the Catholic Church teaches about the Eucharist as a sacrifice. The Catechism of the Catholic Church says, “When the Church celebrates the Eucharist, she commemorates Christ’s Passover, and it is made present: the sacrifice Christ offered once for all on the cross remains ever present” (CCC 1364). It further states, “The Eucharist is thus a sacrifice because it re-presents (makes present) the sacrifice of the cross, because it is its memorial, and because it applies its fruit” (CCC 1366). But what do these teachings mean?

This means that the Catholic Church understands the Eucharist as our participation in the heavenly liturgy. In the Eucharist, we make present the sacrifice of the cross—not by crucifying Jesus again, but by participating in Jesus’ self-offering in heaven, which holds the same infinite value as His sacrifice on the cross. Only in the Eucharist do we truly worship God and receive the fruits of the cross.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

How do we understand the Eucharist? Do we feel the need to participate in the Eucharist? Do we realize that, through the Eucharist, we are participating in heavenly worship? How can we deepen our participation in the Eucharist? What fruits do you receive from the Eucharist? Do you encourage your family and friends to participate in the Eucharist?

Ekaristi dan Kurban Salib

Minggu ke-31 dalam Masa Biasa
3 November 2024
Ibrani 7:23-28

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menyembah Allah dengan mempersembahkan kurban yang sempurna kepada-Nya. Kurban ini adalah Yesus Kristus, yang benar-benar hadir dalam Ekaristi. Namun, ketika kita membaca Surat Ibrani, tertulis bahwa Yesus telah mempersembahkan diri-Nya di kayu salib “sekali untuk selama-lamanya” (lihat Ibr. 7:27). Jadi, mengapa kita “mengorbankan” atau bahkan “menyalibkan” Yesus lagi dalam Ekaristi? Apakah ini berarti kita salah memahami penyembahan kita?

Pertama, kita perlu memahami konteks Surat Ibrani. Sang Penulis menyadari bahwa untuk menyembah Allah, seorang imam agung harus mempersembahkan kurban. Kemudian, sang penulis membandingkan imam agung Israel dari suku Lewi dengan Yesus sebagai imam agung sejati. Imam besar Lewi adalah manusia biasa dan tentunya, orang berdosa. Oleh karena itu, dia harus mempersembahkan korban berulang kali karena dia terus jatuh ke dalam dosa. Sementara itu, Yesus sungguh ilahi dan sungguh manusia, tanpa dosa, namun berbagi dalam pergumulan manusiawi kita. Sementara imam besar Lewi mempersembahkan kurban binatang yang tidak sempurna berkali-kali, Yesus memberikan diri-Nya di kayu salib sebagai kurban kasih yang sempurna dan paling layak. Karena nilai pengorbanan-Nya di salib jauh melampaui pengorbanan imam Lewi atau korban-korban manusiawi lainnya, maka pengorbanan duniawi tidak lagi diperlukan.

Namun, meskipun Yesus telah mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya di bumi, bukan berarti Dia bersantai-santai di surga. Surat Ibrani yang sama menyatakan adanya “κρείττοσιν θυσίαις (kreittosin tusiais)” – korban-korban yang lebih baik di surga (Ibr. 9:23). Ini mengindikasikan bahwa ada persembahan kurban di surga. Jadi, saat memasuki surga, Yesus tidak menghentikan pelayanan-Nya; sebaliknya, Dia menyempurnakan identitas-Nya sebagai imam agung dengan mempersembahkan pengorbanan yang tak berkesudahan. Tetapi bagaimana Dia mempersembahkan korban tanpa harus mati lagi di kayu salib? Jawabannya adalah melalui korban yang hidup (lihat Rm. 12:1). Yesus mempersembahkan diri-Nya, tubuh-Nya yang mulia namun juga masih menanggung luka-luka di salib, sebagai persembahan yang sempurna kepada Bapa. Namun, kali ini, tanpa kematian. Karena Yesus di surga dan Yesus di kayu salib pada dasarnya adalah sama, maka korban hidup yang Dia persembahkan di surga memiliki nilai yang sama dengan korban di kayu salib.

Sekarang, mari kita lihat apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Ekaristi sebagai korban. Katekismus Gereja Katolik mengatakan, “Apabila Gereja merayakan Ekaristi, ia mengenangkan Paska Kristus; Paska ini dihadirkan. Kurban yang dibawakan Kristus di salib satu kali untuk selama-lamanya selalu tinggal berhasil guna” (KGK 1364). Namun, apakah makna dari ajaran-ajaran ini?

Ini berarti bahwa Gereja Katolik memahami Ekaristi sebagai partisipasi kita dalam liturgi surgawi. Dalam Ekaristi, kita mempersembahkan kurban salib, bukan dengan menyalibkan Yesus lagi, tetapi dengan berpartisipasi dalam persembahan diri Yesus di surga, yang memiliki nilai tak terbatas yang sama dengan kurban-Nya di kayu salib. Hanya di dalam Ekaristi kita sungguh-sungguh menyembah Allah dan menerima buah-buah salib.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:
Bagaimana kita memahami Ekaristi? Apakah kita merasa perlu untuk berpartisipasi dalam Ekaristi? Apakah kita menyadari bahwa melalui Ekaristi, kita mengambil bagian dalam penyembahan surgawi? Bagaimanakah kita dapat memperdalam partisipasi kita di dalam Ekaristi? Buah-buah apakah yang Anda terima dari Ekaristi? Apakah Anda mendorong keluarga dan teman-teman Anda untuk berpartisipasi dalam Ekaristi?

The Confession of Bartimaeus

30th Sunday in Ordinary Time [B]

October 27, 2024

Mark 10:46-52

Bartimaeus is a blind man, and his life is full of suffering. The ancient world was a cruel place to live and even merciless for people with disabilities. In some ancient cultures, babies born with physical imperfections were abandoned in the forest or thrown into the ravine. They were cursed and would bring a curse to people around them. If people with disabilities survived childhood, they grew marginalized, bullied and mocked. Bartimaeus was begging, and it was the only option left to survive. The city gates of Jericho were the ideal places because many people would traverse these passages.

However, despite being blind and poor, Bartimaeus was the first to call Jesus the son of David. The title “Son of David” is unique because several important prophecies in the Old Testament point to the Son of David. The famous one is from 2 Samuel 7, which says that God will establish the kingdom of the Son of David forever (v.13). Similar prophecies can also be found in Isaiah 9:6-7 and Jeremiah 23:5-6.

Deep in his heart, Bartimaeus knew that Jesus fulfilled the prophecies that would be the King of Israel forever. Ironically, no other disciples called Jesus with this important title. It takes a blind man to see the truth. Then, Jesus affirmed Bartimaeus’ confession and granted him the miracle of sight. The story ends with Bartimaeus following Jesus. Perhaps this is why Mark was able to write the story of Bartimaeus. He remained a follower of Jesus even after Jesus’ death and resurrection, and his name was known to the early Church.

Bartimaeus is one of the few characters who recognized Jesus’ true identity in the Gospel of Mark. The irony is that these characters are not followers of Jesus. Unclean spirits called Jesus ‘the holy one of God’ (Mr 1:24). The Roman centurion, an enemy of the Jews, acknowledged Jesus as the son of God (15:39). The Syrophoenician woman, a gentile, addressed Jesus as Lord (7:28). The only disciple who recognized Jesus’ true identity was Simon Peter when he confessed Jesus is the Christ or Messiah (8:29). Yet, Peter also failed to understand what he was confessing as Jesus rebuked him for having wrong idea of Jesus’ Messianic identity.

Through Bartimaeus and other characters, Mark gives us an important lesson. Yes, we are followers of Christ. Yes, we are baptized. Yes, we go to the Church every Sunday. Yet, it does not mean we see who Jesus is. We may confess Jesus is God, but do we love Him with all our heart, soul, and strength, or do we worship other gods like money, pleasure, and fame?  We may say that Jesus is Lord and King, but do we live according to the words and commands of our King, or do we just do whatever we want to do? We acclaim Jesus as our Savior, but do we live as someone who is saved and redeemed, or do we remain enslaved by sins?

Though Bartimaeus is physically blind, he has faith that enables him to see who Jesus truly is, and this saves him. We may have healthy physical eyes, but do we have true faith to see Jesus and follow Him?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pengakuan Bartimeus

Hari Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [B]
27 Oktober 2024
Markus 10:46-52

Bartimeus adalah seorang yang buta, dan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dunia kuno adalah tempat yang kejam dan bahkan tanpa belas kasihan bagi para penyandang disabilitas. Dalam beberapa budaya kuno, bayi yang lahir dengan ketidaksempurnaan fisik akan ditinggalkan di hutan atau dibuang ke jurang. Mereka dikutuk dan akan membawa kutukan bagi orang-orang di sekitarnya. Jika penyandang disabilitas selamat dari masa kanak-kanak, mereka akan terus terpinggirkan, dirundung dan diejek. Bartimeus mengemis, dan itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk bertahan hidup. Gerbang kota Yerikho adalah tempat yang ideal karena banyak orang yang akan melintasi jalan ini.

Namun, meskipun buta dan miskin, Bartimeus adalah orang pertama yang menyebut Yesus sebagai Putra Daud. Gelar “Putra Daud” adalah unik karena beberapa nubuat penting dalam Perjanjian Lama berbicara tentang putra Daud. Salah satu yang terkenal adalah dari 2 Samuel 7, yang mengatakan bahwa Allah akan menegakkan kerajaan putra Daud untuk selama-lamanya (ay.13). Nubuat serupa juga dapat ditemukan dalam Yesaya 9:6-7 dan Yeremia 23:5-6.

Jauh di dalam hatinya, Bartimeus tahu bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat ini. Bartimeus tahu Dia adalah Raja Israel untuk selama-lamanya. Ironisnya, tidak ada murid lain yang memanggil Yesus dengan gelar penting ini. Dibutuhkan seorang yang buta untuk melihat kebenaran. Kemudian, Yesus membenarkan pengakuan Bartimeus dan memberinya mukjizat penglihatan. Kisah ini diakhiri dengan Bartimeus yang mengikuti Yesus. Mungkin inilah alasan mengapa Markus dapat menulis kisah Bartimeus. Ia tetap menjadi pengikut Yesus bahkan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan namanya dikenal oleh Gereja awal.

Bartimeus adalah salah satu dari sedikit tokoh yang mengakui identitas Yesus yang sebenarnya dalam Injil Markus. Ironisnya, tokoh-tokoh ini bukanlah pengikut Yesus. Roh-roh jahat menyebut Yesus sebagai ‘yang kudus dari Allah’ (Mrk. 1:24). Perwira Romawi, musuh orang Yahudi, mengakui Yesus sebagai Anak Allah (15:39). Perempuan dari Siria, tentunya bukan putri Israel, memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan (7:28). Satu-satunya murid yang mengakui identitas Yesus adalah Simon Petrus ketika ia mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (8:29). Namun, Petrus juga gagal memahami apa yang ia akui ketika Yesus menegurnya karena ia memiliki pemahaman yang salah tentang identitas sebagai Mesias.

Melalui Bartimeus dan tokoh-tokoh lainnya, Markus memberi kita sebuah pelajaran penting. Ya, kita adalah pengikut Kristus. Ya, kita dibaptis. Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, itu tidak berarti kita melihat siapa Yesus. Meskipun Bartimeus buta secara fisik, ia memiliki iman yang memampukannya untuk melihat siapa Yesus sebenarnya, dan hal ini menyelamatkannya. Kita mungkin memiliki mata fisik yang sehat, tetapi apakah kita memiliki iman yang benar untuk melihat Yesus dan mengikuti-Nya?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:
Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Allah, tetapi apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau malah kita menyembah ilah-ilah lain seperti uang, kesenangan, dan ketenaran? Kita mungkin mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja, tetapi apakah kita hidup sesuai dengan perkataan dan perintah Raja kita, atau malah apakah kita hanya melakukan apa pun yang ingin kita lakukan? Kita mengakui Yesus sebagai Juruselamat kita, tetapi apakah kita hidup sebagai orang yang telah diselamatkan dan ditebus, atau malah apakah kita masih diperbudak oleh dosa-dosa?

Jesus our High Priest

29th Sunday in Ordinary Time [B]

October 20, 2024

Heb 4:14-16

The letter to the Hebrews calls Jesus our high priest. As Catholics, we are not foreign to the word ‘priest’ since they are our liturgy or worship leaders. Yet, the author of the letter to the Hebrews does not call Jesus just as another priest but as the high priest. Why does the author of this letter address Jesus as this title? What makes a high priest different from other priests? What is it for us?

Firstly, we need to clarify the word’ priest.’ While it is true that a priest is appointed to oversee worship, he has one specific responsibility that only he can execute. In the Bible and many ancient civilizations, the most essential part of ritual worship is the sacrifice. Commonly, the sacrifice consists of offering something precious to God. In ancient agrarian societies, animals like lambs and crop yields like wheat grains may serve as sacrificial offerings. In the case of animal sacrifice, the ritual begins with the people handing the animal to the priest, and then the priest will slaughter the animal by separating the blood and the body. After this, the priest brings the animal to the altar to be burned as a symbol that God has accepted the sacrifice. In this sense, a priest serves as a mediator between God and the people.

The leader among the priests is called ‘high priest.’ The Hebrew word for high priest is כֹּהֵן גָּדוֹלkohen gadol, literally means “great priest.” In Greek, the high priest is ἀρχιερεύς, archiereus, and it can be translated as “the first priest.” Obviously, the high priest has to lead the other priests and manage the entire worship system. Yet, his fundamental function is to be the primary mediator between God and the people. Thus, only he can officiate the most solemn worship. In the Bible, only the high priest can offer the holy sacrifice on the day of atonement (Yom Kippur) and enter the holy of holies to atone for the nation’s sins (see Lev 16).

With this biblical background, we can better understand why the author of the letter to the Hebrews calls Jesus our high priest. Jesus is the supreme mediator between God the Father and us. Moreover, Jesus is far more perfect than other high priests because He is divine. Yet, Jesus is also fully human, experiencing all sufferings and various human problems and weaknesses. Because of this, He knows precisely our struggles and failures. But, most of all, our high priest also becomes the perfect sacrifice to Father as He offers Himself on the cross. Then, when we approach Jesus in humility, we can be hopeful that Jesus will accept us because He knows us, and finally, He will bring us to the Father and may receive mercy.

Questions for reflection:

How do we look at our priests in our parish/church? Do we recognize them as people who bring us closer to God? Do we know that the Eucharist is a sacrifice of Jesus Christ and, thus, our true worship of God? What sacrifice do we bring to the Eucharist? What makes us unable to approach Jesus? Shame, fear, anger, disappointment, resentment, inadequacy?