Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?

Istri, Suami dan Keluarga dalam Rencana Ilahi

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf
31 Desember 2023
Lukas 2:22-40

“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” [Kol 1:18-19].” Bagi kita, para pembaca modern, kata-kata Santo Paulus ini membuat kita terheran-heran. Paulus memerintahkan wanita untuk tunduk dan menjadi bawahan dari suami? Bukankah pria dan wanita diciptakan sederajat? Apakah Santo Paulus anti perempuan?

Untuk menjawab keberatan-keberatan ini, kita harus memahami konteks historis Santo Paulus dan Gereja di Kolose. Dalam masyarakat Yunani-Romawi pada abad pertama Masehi, perempuan pada dasarnya adalah properti rumah tangga laki-laki. Mereka terutama bertanggung jawab untuk menghasilkan keturunan yang sah bagi suami dan diharapkan untuk merawat rumah tangga. Mereka harus mematuhi suami mereka dalam segala hal. Memang, ada wanita-wanita yang kuat dan dominan, tetapi ini adalah pengecualian. Bahkan bagi para wanita bangsawan, meskipun mereka menikmati kehidupan mewah yang langka, mereka juga menjadi alat politik. Mereka ditawarkan sebagai pengantin untuk mengamankan aliansi politik dan keamanan ekonomi keluarga.

Dalam konteks ini, surat Paulus sebenarnya sesuatu yang revolusioner. Pada bagian instruksi untuk keluarga Kristiani (lihat Kol 3:18-21), Santo Paulus tidak menulis, “Hai suami, beritahukanlah kepada istrimu, bahwa mereka harus tunduk kepadamu!” Sebaliknya, ia menyapa para pembaca wanitanya secara langsung (tidak melalui suami mereka). Gaya penulisan ini menunjukkan pemahaman Paulus yang mendasar tentang hubungan antara pria dan wanita: istri berdiri sejajar dengan suami mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah Paulus menyebutkan perempuan terlebih dahulu dan laki-laki di urutan kedua. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya! Paulus melanggar batasan budaya pada zamannya untuk mewartakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus [Gal. 3:27-28].”

Sekarang, bagaimana kita memahami kata Paulus, ‘tunduklah’? Paulus menggunakan kata Yunani ‘ὑποτάσσω’ (baca: hupotasso). Secara harfiah kata ini berarti ‘ditugaskan di bawah’. Jadi, para istri ditugaskan di bawah para suami. Namun, ini tidak berarti bahwa perempuan lebih rendah martabatnya dan statusnya dalam keluarga. Paulus memahami bahwa keluarga juga merupakan suatu bentuk komunitas manusia, dan setiap komunitas manusia membutuhkan sebuah ‘tatanan’ (organisasi) untuk berkembang. Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ‘tatanan’ berjalan dengan baik dan, dengan demikian, menghasilkan kebaikan terbesar bagi semua orang dalam komunitas. Santo Paulus menyatakan bahwa suami adalah pemimpin dari tatanan keluarga.

Paulus memperjelas ‘ὑποτάσσω’ ini dengan instruksinya kepada para suami, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Bagi Paulus, keluarga adalah sebuah tatanan kasih. Ya, para pria adalah kepala keluarga, tetapi mereka bukanlah diktator, melainkan pemimpin kasih. Laki-laki yang secara alamiah lebih kuat secara fisik diharapkan untuk melindungi dan menafkahi keluarga. Paulus mengharapkan para suami untuk menyerahkan hidup mereka bagi keluarga mereka, sebagaimana Kristus telah menyerahkan hidup-Nya bagi Gereja (lihat Efesus 5:25). Dengan demikian, ‘ὑποτάσσω’ berarti istri berada di bawah perlindungan dan kasih dari para suami.

Kita menyadari bahwa cita-cita Paulus tidak selalu terjadi. Karena kelemahan kita dan serangan iblis, kita jatuh ke dalam dosa, dan kita gagal menjadi suami atau istri yang baik. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan karena ini adalah rencana Allah bagi kita, dan kita terus berjuang dalam kekudusan melalui kasih karunia Allah.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wheat among the Weeds

16th Sunday in Ordinary Time [A]

July 19, 2020

Matthew 13:24-43

wheat n weed 1The parable of the wheat and weed is one of a kind. If we survey the details, we are supposed to raise our eyebrows. Firstly, if you become a person who will destroy your opponent’s field of wheat, you know that there are several other effective ways to accomplish that. We can simply set a small fire on the wheat, and the entire field will eventually turn to be an inferno. But, the enemy chose unorthodox tactic: to sow seeds of weed during the planting period. While the weed may disturb the growth of the wheat, they will not sufficiently damage and stop the harvest.  So, what is the purpose? What is surprising is that the decision of the field’s owner. When he was notified about the presence of the weed, he immediately knew the culprit, and instead to act promptly and protect their wheat, he decided to allow the weeds to thrive among his wheat.

As expected, the disciples were puzzled by the parable, and when the disciples asked the meaning of this parable, they found another mind-blogging answer. The owner of the field is God Himself and He allowed the children of the evil one to grow among the children of God both in the world and in the Church. Yes, God allows that! He allows His children will not have a smooth journey and growth in the world. God allows His children to be harassed, bullied, and even persecuted by the evil one. God allows His children to experience trials and difficult moments. The question is why?

We may take the cue from St. Paul. He once magnificently wrote, “We know that all things work together for good for those who love God, who are called according to his purpose [Rom 8:28].” God allows bad things to happen because these are for our good! What kind of goodness why we may ask? From our human perspective, perhaps it is nothing but absurd, but from His vantage point, things fall into its proper places.

Jesus invites us to call God as Father, and letter to the Hebrews reminds us, “for the Lord disciplines those whom he loves, and chastises every child whom he accepts [Heb 12:6].” Trials and difficulties are God’s pedagogy toward whom He loves. As parents, we know care and discipline have to work hand in hand. We are well aware that true discipline is also a way of loving. If we want our children to succeed in their lives, we need to teach them to delay their gratification. We allow them to experience pain and difficulty first before we give them a reward. My parents used to ask me to study and finish their homework first before I could enjoy watching television. It resulted not only in good grades, but also my acquired habit not to run from problems, but to endure it.

I do believe that it is also the same as our Father in heaven. He loves us by allowing us to endure the pain in this world so that we may truly appreciate the spiritual gifts. Allow me to end this reflection, by quoting St. Paul, “We also boast in our sufferings, knowing that suffering produces endurance, and endurance produces character [as children of God], and character produces hope, and hope does not disappoint us..” [Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gandum di antara Ilalang

Minggu ke-16 di Masa Biasa [A]

19 Juli 2020

Matius 13: 24-43

wheat 1Perumpamaan tentang gandum dan ilalang adalah sangat unik. Jika kita meneliti detailnya, kita seharusnya terkejut. Pertama, jika kita menjadi orang yang akan menghancurkan ladang gandum lawan kita, kita tahu bahwa ada beberapa cara lain yang lebih efektif untuk mencapainya. Kita cukup membakar beberapa gandum, dan seluruh ladang pada akhirnya akan berubah menjadi api raksasa. Tetapi, musuh ini memilih taktik yang tidak lazim: menabur benih ilalang selama masa tanam. Sementara ilalang dapat mengganggu pertumbuhan gandum, mereka tidak akan cukup merusak dan menggagalkan panen. Jadi, apa tujuannya? Yang mengejutkan adalah keputusan pemilik ladang. Ketika dia diberitahu tentang keberadaan ilalang, dia segera tahu pelakunya, dan bukannya bertindak cepat untuk melindungi gandumnya, dia memutuskan untuk membiarkan ilalang tumbuh subur di antara gandumnya.

Seperti minggu lalu, para murid bingung dengan perumpamaan itu, dan ketika para murid menanyakan arti dari perumpamaan ini, mereka menemukan jawaban yang sekali lagi mencengangkan. Pemilik ladang adalah Allah Sendiri dan Dia mengizinkan anak-anak si jahat tumbuh di antara anak-anak Allah, baik di dunia maupun di Gereja. Tuhan sungguh mengizinkan hal itu! Dia mengizinkan anak-anak-Nya tidak akan memiliki perjalanan dan pertumbuhan yang mulus di dunia. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya diganggu dan bahkan dianiaya oleh si jahat. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami cobaan dan saat-saat sulit. Pertanyaannya adalah mengapa?

Kita dapat mengambil petunjuk dari St Paul. Dia pernah menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. [Rom 8:28].” Tuhan mengizinkan hal-hal buruk terjadi karena ini untuk kebaikan kita! Kebaikan macam apa ini? Dari sudut pandang manusiawi kita, mungkin ini tidak masuk akal, tetapi dari sudut pandang-Nya, segala sesuatunya terjadi dengan sangat indah bagaikan sebuah simfoni.

Yesus mengundang kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, dan surat kepada orang-orang Ibrani mengingatkan kita, “karena Tuhan mendisiplinkan orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Pencobaan dan kesulitan adalah pedagogi Tuhan terhadap siapa yang Dia kasihi. Sebagai orang tua, kita tahu bahwa kepedulian dan disiplin harus berjalan bersamaan. Kita sangat menyadari bahwa disiplin sejati juga adalah cara mencintai. Jika kita ingin anak-anak kita berhasil dalam kehidupan mereka, kita perlu mengajar mereka untuk menunda kepuasan mereka. Kita membiarkan mereka mengalami rasa sakit dan kesulitan terlebih dahulu sebelum kita memberi mereka hadiah. Orang tua saya biasanya meminta saya untuk belajar dan menyelesaikan PR terlebih dahulu, sebelum saya dapat menikmati televisi. Ini menghasilkan tidak hanya nilai baik di sekolah, tetapi juga kebiasaan saya untuk tidak lari dari masalah, tetapi untuk bersabar menghadapinya.

Saya percaya bahwa hal ini juga sama dengan Bapa kita di surga. Dia mengasihi kita dengan mengizinkan kita menanggung rasa sakit di dunia ini sehingga kita dapat benar-benar menghargai karunia rohani. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini, dengan mengutip St. Paulus, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  dan ketekunan menimbulkan tahan uji [karakter sebagai anak-anak Allah-ed] dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan  tidak mengecewakan…”[Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Ideal Parents

The feast of Presentation

February 2, 2020

Luke 2:22-40

presentation 2If we are given a chance to choose our parents, what kind of parents will be our choice? Perhaps, some will prefer billionaire parents so that we can sing like Bruno Mars, “I wanna be a billionaire… Buy all of the things I never had… I wanna be on the cover of Forbes magazine, and Smiling next to Oprah and the Queen.” Perhaps some of us want to become the children of a king. So, royal blood is flowing through our vein, and people call us as a prince, princess, or royal highness. Perhaps, we want to be born from Korean megastars, because we want to become the prettiest or the most handsome.

Yet, if we ask the same question to the Lord, what would be His choice? The choice is obvious, Joseph and Mary. But, why?  Joseph and Mary are not wealthy, and even poor. They can only afford turtle dove, the offering of the poor. Indeed, Joseph is the descendant of King David, but in reality, he is a humble carpenter from the unknown village, Nazareth. I do believe that Joseph is handsome and Mary is beautiful! From here, we can deduce that richness, fame, and physical beauty as God’s criteria for His parents. So, what is it?

If we look closer into today’s Gospel and some other verses, we may discover the best character of Joseph and Mary as a couple and parents are their love and fidelity to God. Mary and Joseph know well the Law of God, and they are faithfully observing His Law.

Today’s feast is traditionally called the Presentation. Jesus is presented and consecrated to God in the Temple. Why do Joseph and Mary offer Jesus in the Temple? Because they are aware of the Jewish Law that any firstborn shall be consecrated to the Lord because they belong to the Lord [see Exo 13:2]. The feast of Presentation is also called the feast of the Purification of Mary. She is purified not because she is sinful, but because, according to the Mosaic Law, any woman who gives birth will be ritually unclean or unfit for the worship. She has to undergo 40 days of purification period, and at the end of the period, she offers a sacrifice to the priest [Lev 12:1-8]. From the Gospel of Matthew, Joseph is described as “the righteous man.” This means that Joseph is not only well-versed in Mosaic Law, but he is faithfully observing them.

Jesus does not concern Himself with His parents’ economic condition, social status, or physical appearance. Jesus is looking for whether His parents love God, whether His parents know and observe God’s law, and whether His parents have faith in God. Why are these characteristics crucial for Jesus’ parents? Because Jesus understands the best inheritance parents can give to their children is faith, because money can only provide you with security in this life, but faith will bring us to heaven.

The primary duty of parents is not merely to provide food, shelter, and clothing, not only send their children to schools and not only bring them to the doctors when they are sick but primarily to walk with them to heaven. Like Mary and Joseph present Jesus to God, we are also offering our children to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Tua Ideal Yesus 

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

2 Februari 2020

Lukas 2: 22-40

presentation 1Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.

Namun, jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada Tuhan, apa yang akan menjadi pilihan-Nya? Pilihannya jelas, Yusuf dan Maria. Tapi kenapa? Yusuf dan Maria tidak kaya, dan bahkan miskin. Mereka hanya mampu membeli burung merpati, persembahan orang miskin. Memang, Yusuf adalah keturunan raja Daud, tetapi dalam kenyataannya, ia adalah seorang tukang kayu sederhana dari desa yang tidak dikenal, Nazareth. Saya tetap percaya bahwa Yusuf itu tampan dan Maria cantik! Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan, ketenaran, dan kecantikan fisik sebagai kriteria Allah bagi orang tua-Nya. Jadi, apa?

Jika kita melihat lebih dekat Injil hari ini dan beberapa ayat lainnya, kita dapat menemukan karakter terbaik dari Yusuf dan Maria sebagai pasangan dan orang tua adalah cinta dan iman mereka kepada Tuhan. Maria dan Yusuf mengetahui dengan baik Hukum Allah dan mereka dengan setia mematuhi Hukum-Nya.

Pesta hari ini secara tradisional disebut sebagai Yesus dipersembahkan di Bait Allah [Presentation]. Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Suci. Mengapa Yusuf dan Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci? Karena mereka sadar akan Hukum Taurat bahwa setiap anak sulung akan dikuduskan bagi Tuhan karena mereka adalah milik Tuhan [lihat Kel 13: 2]. Hari ini juga disebut pesta Pemurnian Maria [Purification of Mary]. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut Hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani 40 hari periode pemurnian, dan pada hari ke-40, dia mempersembahkan korban kepada imam [Im 12: 1-8].

Yesus tidak peduli dengan kondisi ekonomi, status sosial, atau penampilan fisik orang tua-Nya. Yesus mencari apakah orang tua-Nya benar-benar mencintai Allah, apakah orang tua-Nya tahu dan mematuhi hukum Allah, dan apakah orang tua-Nya memiliki iman kepada Allah. Mengapa karakteristik ini penting bagi orang tua Yesus? Karena Yesus memahami warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah iman, karena uang hanya dapat memberi Anda keamanan dalam kehidupan ini, tetapi iman akan membawa kita ke surga.

Tugas utama orang tua bukan hanya menyediakan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tidak hanya mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan tidak hanya membawa mereka ke dokter ketika mereka sakit, tetapi terutama berjalan bersama mereka ke surga. Seperti Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Allah, maka kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fatherhood

The Baptism of the Lord [January 13, 2019] Luke 3:15-16, 21-22

“You are my beloved Son; with you I am well pleased.” (Lk. 3:22)

baptism2One of the greatest joys of being a deacon is to baptize babies and little children. The joy is not simply springing from touching the cheeks of a cute little baby or be part of festive parents, but it is something deeper. In fact, my experiences with baptism are not always pleasant. I remember at my first baptism in Sto. Domingo Parish, Metro Manila, when I began pouring water upon the baby’s forehead, the little girl suddenly burst in tears and cried aloud. I realized the water has touched the baby girl’s eyes. I was shocked and almost paralyzed not knowing what to do next. The good thing is the parents were able to handle the situation well. As the little baby calmed down, I apologized and continued the rite. Traumatizing!

After that experience, the baptisms I minister do not seem to be any better. In Manaoag, Pangasinan, I could baptize 15 or more babies in each baptism. Often, with so many people jampacked in a small room, and with many babies crying, the experience, far from happy, could be stressful and forgettable for everyone including myself. So, where do I get the joy of baptizing babies?

It is springing from the Church’s understanding of baptism itself. Baptism as the sacrament instituted by Christ Himself as a means for us to receive the grace of salvation is not only Biblical and upheld by earliest Christian testimonies, but it is spiritually liberating and joy-engendering. Surely, we need one semester or more to discuss the biblical foundation and theology of baptism, and this is not the place for such discussion. Thus, allow me to share one of the reasons why baptizing is one of my most joyous moments as a deacon, and it is not far from our Gospel today.

Today we are celebrating the Baptism of the Lord, and our Gospel ends with an extremely rare revelation of God the Father in Jesus’ life. This reveals two things: First, Jesus is the Son of the Father; second, He is not only any son, but Jesus is also the joy of the Father. It is not just any rare revelation, but it is a revelation of joy. Yet, this joy is not surprising for it is natural for a father to be delighted in his newly born baby because he sees the best of himself in the baby. It is a joy of fatherhood.

One of the greatest gifts of baptism is our spiritual generation. It is true that in baptism, nothing much changes in our physical aspects, except our heads are getting wet. But, when the water of baptism touches our foreheads and the Trinitarian formula is pronounced, our souls are changed for eternity. We are not just the children of humanity, but wonderfully the children of God. And as we emerge from the baptism, our Father in heaven sees us, recognizes us as His own and says, “You are my beloved children, with you I am well pleased.”

It is my greatest privilege to share this spiritual fatherhood. As I minister baptism, I spiritually beget these little babies as my children, the children of God. As a young father rejoices in his baby, so I take delight in every newly spiritually born baby. I do not have my own children, and yet I am blessed to become a father. As looking forward to priestly understand, we understand why we call a priest “father” because he is indeed a father to his spiritual children. He begets his children in Baptism, he nourishes them in Eucharist, he leads the youth into maturity in Confirmation, he unites the love among them in Marriage, he brings back the stray in Penance, and he heals the sick in the Anointing. It is the joy of fatherhood.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Seorang Bapa

Pesta Pembaptisan Tuhan [13 Januari 2019] Lukas 3: 15-16, 21-22

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk. 3:22)

baptism1Salah satu sukacita terbesar menjadi seorang diakon adalah saat membaptis bayi dan anak. Kegembiraan tidak hanya hadir dari menyentuh pipi dari bayi kecil yang imut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam. Sebenarnya, pengalaman saya dengan pembaptisan tidak selalu menyenangkan. Saya ingat saat baptisan pertama saya di Paroki Sto. Domingo, Metro Manila, ketika saya mulai menuangkan air ke dahi sang bayi, sang gadis kecil itu tiba-tiba menangis dengan keras. Saya menyadari air telah menyentuh mata bayi perempuan itu. Saya terkejut dan tak bergerak karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Untungnya, sang orang tua mampu menangani situasi dengan baik. Ketika bayi kecil itu tenang kembali, saya meminta maaf dan melanjutkan perayaannya. Sungguh membuat trauma!

Setelah pengalaman itu, baptisan yang saya layani tampaknya tidak lebih baik. Di Manaoag, Pangasinan, saya bisa membaptis 15 bayi atau lebih dalam setiap baptisan. Seringkali, dengan begitu banyak orang yang memadati di sebuah ruangan kecil, dan dengan banyak bayi menangis, pengalaman ini bisa menjadi sebuah stres bagi semua orang yang hadir termasuk saya. Jadi, dari mana saya mendapatkan sukacita membaptis bayi?

Ini datang dari pemahaman Gereja tentang pembaptisan itu sendiri. Pembaptisan sebagai sebuah sakramen yang didirikan oleh Kristus sendiri sebagai sarana bagi kita untuk menerima rahmat keselamatan bukan saja Alkitabiah dan ditegakkan oleh kesaksian jemaat Kristiani yang paling awal, tetapi juga melahirkan sukacita yang mendalam. Tentunya, saya tidak bisa membahas semua hal di sini karena kita perlu satu semester atau lebih untuk membahas dasar alkitabiah dan teologi! Karena itu, izinkan saya untuk membagikan salah satu alasan mengapa membaptis adalah salah satu momen yang paling membahagiakan sebagai diakon, dan ini tidak jauh dari Injil kita hari ini.

Hari ini kita merayakan Pembaptisan Tuhan, dan Injil kita hari ini berakhir dengan pewahyuan Allah Bapa yang sangat jarang terjadi dalam kehidupan Yesus. Ini mengungkapkan dua hal: Pertama, Yesus adalah Putra Bapa; kedua, Dia bukan hanya seorang Anak, tetapi Yesus juga adalah sukacita Bapa. Ini bukan sekedar wahyu yang langka, tetapi itu adalah wahyu sukacita. Namun, kegembiraan ini bukanlah hal yang aneh karena wajar bagi seorang ayah untuk bahagia dengan bayinya yang baru lahir karena ia melihat yang terbaik dari dirinya di dalam bayinya. Ini adalah sukacita seorang ayah.

Salah satu karunia pembaptisan terbesar adalah kelahiran spiritual kita. Memang benar bahwa dalam pembaptisan, tidak ada banyak perubahan dalam aspek fisik kita, kecuali kepala kita menjadi basah. Tetapi, ketika air baptisan menyentuh dahi kita dan formula Tritunggal diucapkan, jiwa kita diubah untuk selamanya. Kita bukan hanya anak-anak manusia, tetapi juga anak-anak Allah! Dan ketika kita dibaptis, Bapa kita di surga melihat kita, mengakui kita sebagai milik-Nya dan berkata, “Kamu adalah anak-anakku yang terkasih, denganmu aku senang.”

Adalah hak istimewa terbesar saya untuk berbagi kebapakan spritual ini. Sewaktu saya membaptis, saya secara spiritual melahirkan bayi-bayi kecil ini sebagai anak-anak saya, yakni anak-anak Allah. Seperti seorang ayah muda bersukacita pada bayinya, sayapun bergembira dengan setiap bayi yang baru lahir secara rohani. Saya tidak memiliki anak sendiri, namun saya diberkati untuk menjadi seorang ayah dengan banyak anak! Menatap imamat, saya memahami mengapa kita menyebut seorang imam sebagai “romo” karena dia memang seorang ayah bagi anak-anak rohaninya. Dia melahirkan anak-anak dalam Pembaptisan, dia merawat mereka dalam Ekaristi, dia memimpin anaknya yang muda menuju kedewasaan dalam Penguatan, dia menyatukan cinta dalam Pernikahan, dia membawa kembali yang hilang dalam Penitensi, dan dia menyembuhkan yang sakit di Pengurapan. Itu adalah sukacita seorang bapa.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and Joseph

The Feast of the Holy Family [December 30, 2018] Luke 2:41-52

holy familyWe are celebrating the feast of the Holy Family of Nazareth, the feast day of Jesus, Mary, and Joseph. The last event in the Bible that presents the Homily Family together is the Finding of the Child Jesus in the Temple. After this event, Joseph no longer appeared in the Bible, and according to the tradition, he passed away even before he was able to see Jesus in His public ministry. Since this is the last episode where Joseph gets involved in the narrative, we shall reflect more about him.

In today’s Gospel, we discover a seemingly a fatal mistake of Joseph and Mary. They allow the child Jesus to be lost! That was careless! Yet, are Joseph and Mary really careless? Looking deeper into their context, it is not really the case. When Joseph and Mary go to Jerusalem for the festival of Passover, they do not go by themselves, but with other relatives and neighbors from Nazareth. Traveling together may slow them down, but it gives protection from robbers and avoids the food shortage. The responsibility of taking care of the children are also shared among the adults. After all, Jesus is twelve years old and big enough to take care of younger members of the group. Surely, it is not carelessness, but the trust is given to Jesus that allows Jesus to stay behind in Jerusalem. As dedicated parents, Joseph and Mary are looking for Jesus anxiously. To look for a boy in the capital city Jerusalem is just like finding a needle in the mount of straw, but, miraculously, they are able to find Him: Jesus is in the midst of teachers of the Jewish Laws, discussing and answering them with eloquence.

When Mary asks Jesus why he is missing, Jesus’ answer is mind-boggling, “Did you not know that I must be in my Father’s house?” (Lk. 2:41) Mary does not understand with the answer, and she is pondering all these things in her heart. But, how about Joseph, the foster father of Jesus? What will be his reaction and feeling when he hears, “… I must be in my Father’s house?” Will Joseph punish Jesus for disrespect to him and Mary? Will he get furious after Jesus goes away without permission? Will Joseph disown Jesus after Jesus seemingly refuse to call him as a father?

Though it is hard to determine because Joseph is a silent man, I do believe Joseph will not do these violent things because he is a peaceful person. When Joseph knew Mary was pregnant out of wedlock, he could have thrown the first stone. Yet, he chose mercy and spared Mary from vengeance. As he was merciful to Mary, so he will be merciful to Jesus. Yet, there is something more. Beyond these initial reactions, I believe that Joseph is grateful and proud of Jesus. And why should he be thankful and proud? We recall that Joseph is described as the righteous man or in original Greek, “diatheke”. He is righteous not only because he knows well the Law of God, and abide by it, but because he loves the Law dearly. One of the basic duties of a Jewish father is to teach his children to learn and to love the Law. Thus, If Jesus is able to answers the teachers, to a certain extent, it is because Joseph has taught Him well. Moreover, Jesus prefers to engage with His Father’s affairs. This means Joseph does not only teach Jesus the technicalities of the Law but fundamentally, to love God above all.

St. Joseph becomes an example of every man, especially how to raise children. The first and foremost duty of every father is to lead their children to the Lord and to teach them to love God, and to love others for the sake of God. And how to do that? Like St. Joseph, we need to teach our children by example.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Yusuf

Pesta Keluarga Kudus [30 Desember 2018] Lukas 2: 41-52

St.-JosephMinggu ini, kita merayakan pesta Keluarga Kudus Nazareth. Peristiwa terakhir dalam Alkitab yang menghadirkan Keluarga Kudus adalah ketika Yesus ditemukan di Bait Allah. Setelah peristiwa ini, Yusuf tidak lagi muncul dalam Alkitab, dan menurut tradisi, ia meninggal bahkan sebelum ia dapat melihat Yesus mewartakan Injil. Karena ini adalah episode terakhir di mana Yusuf terlibat dalam narasi, kita akan merenungkan Injil hari ini dan belajar dari St. Yusuf.

Dalam Injil hari ini, kita menemukan kesalahan fatal dari Yusuf dan Maria. Mereka membiarkan Yesus hilang! Sebuah kecerobohan! Namun, apakah Yusuf dan Maria benar-benar ceroboh? Melihat lebih dalam konteks mereka, kecerobohan bukanlah jawabannya. Ketika Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, mereka tidak pergi sendiri, tetapi bersama sanak saudara dari Nazareth. Bepergian bersama mungkin memperlambat mereka, tetapi memberi perlindungan dari perampok dan menjaga ketersediaan makanan. Tanggung jawab merawat anak-anak juga dibagi di antara orang-orang dewasa. Lagi pula, Yesus berusia dua belas tahun dan cukup besar untuk merawat anggota kelompok yang lebih muda. Tentunya, ini bukan kecerobohan, tetapi kepercayaan yang diberikan kepada Yesus yang memungkinkan Yesus untuk tetap tinggal di Yerusalem. Sebagai orang tua yang berdedikasi, Yusuf dan Maria kembali ke Yerusalem dan mencari Yesus dengan cemas. Mencari seorang anak laki-laki di ibu kota Yerusalem yang besar sama halnya seperti menemukan jarum di gunung jerami, tetapi, akhirnya, mereka berhasil menemukan-Nya: Yesus ada di tengah-tengah para guru Hukum Taurat di Bait Allah, berdiskusi dan memberi jawaban yang sangat cerdas.

Ketika Maria bertanya kepada Yesus mengapa Dia tidak pulang bersama mereka, jawaban Yesus sangat membingungkan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lk. 2:49) Maria tidak mengerti dengan jawaban-Nya, dan sang Bunda merenungkan semua hal ini di dalam hatinya. Tetapi, bagaimana dengan Yusuf, ayah angkat Yesus? Apa yang akan menjadi reaksi dan perasaannya ketika dia mendengar, “… Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Apakah Yusuf akan menghukum Yesus karena Dia tidak menghormati orang tua-Nya? Apakah dia akan marah setelah Yesus pergi tanpa izin? Akankah Yusuf memungkiri Yesus setelah Yesus tampaknya menolak memanggilnya sebagai seorang ayah?

Meskipun, sulit untuk menentukan karena Yusuf adalah pria yang pendiam, saya yakin Yusuf tidak akan melakukan hal-hal yang kejam ini karena dia adalah orang yang cinta damai. Ketika Yusuf tahu Maria hamil di luar nikah, ia bisa saja melempar batu pertama. Namun, ia memilih belas kasihan dan menyelamatkan Maria dari dendam pembalasan. Karena dia berbelas kasih kepada Maria, maka dia akan berbelas kasih kepada Yesus. Namun, beranjak dari reaksi awal ini, saya percaya bahwa Yusuf bersyukur dan bangga dengan Yesus. Namun, mengapa dia harus bersyukur dan bangga? Kita ingat bahwa Yusuf digambarkan sebagai orang “tulus hati” atau dalam bahasa Yunani, “diatheke”. Dia adalah orang benar bukan hanya karena dia tahu dengan baik Hukum Allah, dan menaatinya, tetapi karena dia sangat mencintai Allah. Salah satu tugas dasar seorang ayah Yahudi adalah mengajar anak-anaknya untuk belajar dan mencintai Hukum Allah. Jadi, Jika Yesus mampu menjawab para guru, salah satu alasan mendasar adalah karena Yusuf telah mengajar-Nya dengan baik. Selain itu, Yesus lebih memilih untuk terlibat dengan urusan Bapa-Nya. Ini berarti Yusuf tidak hanya mengajarkan kepada Yesus teknis dari Hukum Taurat, tetapi pada dasarnya, untuk mengasihi Allah di atas segalanya.

St. Yusuf menjadi contoh bagi setiap pria, terutama bagaimana membesarkan anak-anak. Tugas pertama dan terpenting dari setiap ayah adalah membawa anak-anak mereka kepada Tuhan dan mengajar mereka untuk mencintai Tuhan, dan untuk mengasihi sesama demi Tuhan. Dan bagaimana cara melakukannya? Seperti St. Yusuf, kita perlu mengajar anak-anak kita dengan memberi contoh dan kesaksian hidup.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP