Hidup Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-12. 25 Juni 2017 [Matius 10: 26-33]

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang (Mat 10:27).”

soldier pray rosarySanto Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata. Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun, untuk mewartakan Yesus Kristus tidak selalu mudah. Saya sendiri telah terlibat dalam kerasulan Sabda selama beberapa tahun, dan terkadang, saya harus menghadapi saat-saat sulit. Ada yang mengatakan pewartaan saya membosankan, dan juga ada yang bilang terlalu bertele-tele atau susah dimengerti. Ada kalanya orang tidak mendengarkan atau membaca renungan saya. Terkadang, saya merasa lelah, frustrasi dan bosan. Perasaan yang sama juga bisa menimpa kita yang mengalami masalah dalam keluarga, tempat kerja, paroki, atau masyarakat. Sebuah frustrasi saat kita berusaha jujur, tapi yang lain tidak. Sangat melelahkan saat kita tahu bahwa kita satu-satunya yang bekerja keras. Sangat menyakitkan saat kita diserang dari belakang setelah semua pelayanan kita kepada sesama.

Namun, hidup kita sebagai pewarta sebenarnya jauh lebih baik dan lebih aman daripada saudara-saudari kita di tempat lain. Suster-suster St. Catharine of Siena di Irak memilih untuk tinggal meskipun perang dan kekacauan yang terus bekecamuk di negeri itu, dan melayani para pengungsi tanpa diskriminasi. Pada tahun 2003, ketika koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, para suster terus membuka rumah sakit di tengah pertempuran sengit dan penjarahan di Baghdad. Pada tahun 2014, ketika IS menguasai kota Mosul, para suster tersebut berjalan bersama dengan para pengungsi, dan terdepan dalam membantu dan mengelola beberapa pusat pengungsian. Bagi beberapa pewarta lain, untuk memberitakan Kristus berarti kekerasan dan kematian. Bulan Mei lalu, Pastor Miguel Angel Machorro berada dalam kondisi kritis setelah ditikam di leher beberapa saat setelah misa di Katedral Kota Meksiko. Pastor Teresito Suganob dan beberapa umatnya yang bekerja di antara umat Islam di Kota Marawi, Filipina, diculik ketika kelompok ekstrimis menduduki kota tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sampai saat ini.

Apa yang membuat mereka berani memberitakan Injil meski terus-menerus menghadapi bahaya dalam hidup mereka? Alasannya cukup sederhana. Ini karena mereka sangat mengasihi Tuhan. Seperti yang ditulis oleh penyair Romawi Virgil, kasih ini menaklukkan semua. Kasih mereka melenyapkan rasa takut akan kematian, memberdayakan mereka dalam cobaan, dan mendorong mereka menghadapi frustrasi dan kegagalan. St. Paulus pun berkata, Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang… Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:35-37).” Pewartaan yang benar adalah yang didorong oleh cinta kasih sejati bagi Tuhan dan bukan sekedar mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri. Tanpa kasih ini, kita akan mundur saat pewartaan kita nampaknya gagal, atau kita akan menjadi sombong saat pelayanan sukses. Apakah kita memiliki kasih sejati ini bagi Yesus? Apakah pewartaan kita dimotivasi oleh kasih yang sejati? Apakah kita membiarkan kasih Tuhan memenuhi pelayanan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leaving Jesus

Ascension Sunday. May 28, 2017 [Matthew 28:16-20]

“Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit (Mat 28:18)”

ascension 2

However, in the Gospel of Matthew, we have a fundamentally different story of Ascension. In fact, Matthew has technically no story of Ascension. In the last part of Matthew’a Gospel, neither Jesus was taken into heaven nor did He leave. What Jesus did was to send the disciples to make disciples of all nations, to baptize them and to teach them. It is actually the disciples who are moving away from Jesus. The Gospel of Matthew ends with Jesus’ promise that He will be with His disciples until the end of time. It is clear that in Matthew, Jesus never left His disciples. As the disciples were moving on with their new lives as apostles, Jesus remained and journey together with them.

I entered the minor seminary as early as 14. As I was leaving my home, it was not easy both for me and my parents. There were psychological anxieties and emotional longings to go home. But, the feelings subsided after some time, and a big factor was that my parents allowed and supported my decision to be away from them. They set me free and allowed me to go as a mature man creating his own destiny. Yet, I also realize that they actually never leave me. Biologically speaking, I have in my body the genes of my parents. Not only that, my actions reflect the upbringing that they provided me. From them, I learn the love for God and the Church, discipline and hard work, and basic leadership skills. What people see is me, but what I give them are coming from my parents.

In Ascension, Jesus does not keep us under His arms, He does not suppress our growth, and He does not want that we remain childish permanently. Jesus sets us, His disciples, free and empowers us to become men and women who forge our own paths. We need to leave Jesus so we may become His mature and free apostles. Yet, He never leaves us. We bring Jesus with us because Jesus has formed us in His image. As we receive Jesus from our parents, teachers, catechists, and priests, and after living with Jesus as His disciples, now it is our turn to preach and share Jesus to others, as we make all nations His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Meninggalkan Yesus

(Edisi Khusus Kenaikan Yesus Kristus)

28 Mei 2017 [Matius 28: 16-20]

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…(Mat 28:19)”

ascension koreanGambaran tentang Kenaikan Yesus yang ada dalam benak kita adalah Yesus yang diangkat ke langit, sementara para murid dengan penuh doa memperhatikan-Nya menghilang secara perlahan-lahan. Tidak salah jika disebut ‘Kenaikan’ Yesus karena Kristus yang telah bangkit akhirnya naik ke surga, kembali kepada Bapa-Nya. Di dalam film Risen, Kenaikan Yesus digambarkan sedikit berbeda. Yesus tidak diangkat ke surga, tapi Dia hanya berdiri di hadapan para murid-Nya, dan tiba-tiba cahaya yang menyilaukan datang dan menelan Yesus, dan Diapun menghilang dari pandangan mereka. Meskipun memiliki rincian yang berbeda, Kenaikan Yesus berbicara kepada kita tentang Yesus yang memisahkan diri dari murid-murid-Nya, dan meninggalkan mereka karena Ia harus kembali kepada Bapa-Nya.

Namun, dalam Injil Matius, kita memiliki kisah Kenaikan yang berbeda. Sebenarnya, secara teknis, Matius tidak memiliki kisah Kenaikan. Di bagian terakhir Injil Matius, Yesus tidak naik ke surga atau Ia pergi meninggalkan para murid-Nya. Apa yang Yesus lakukan adalah mengutus murid-murid untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dan mengajar mereka. Yang terjadi sebenarnya adalah murid-murid yang meninggalkan Yesus. Injil Matius berakhir dengan janji Yesus bahwa Ia akan menyertai murid-murid-Nya sampai akhir zaman. Jelas bahwa di dalam Injil Matius, Yesus tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya, tetapi para murid lah yang meninggalkan Yesus untuk mewartakan Injil. Saat para murid melanjutkan hidup baru mereka sebagai rasul, Yesus terus berjalan bersama mereka.

Saya memasuki seminari menengah Mertoyudan sejak usia 14 tahun. Permisahan tidaklah mudah bagi saya dan orang tua saya. Ada kecemasan psikologis dan kerinduan emosional untuk pulang ke rumah. Tapi, syukurlah perasaan itu mereda, dan faktor besar yang membuat saya bertahan adalah orang tua saya mengizinkan dan mendukung keputusan saya untuk meninggalkan mereka. Mereka membebaskan saya pergi agar saya bisa menjadi pria dewasa yang akan membentuk hidup dan masa depannya sendiri. Namun, saya juga menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Secara biologis, saya memiliki gen dari orang tua saya. Secara rohani, saya selalu ada dalam doa mereka. Tidak hanya itu, berbagai tindakan saya mencerminkan didikan yang mereka berikan. Dari mereka, saya belajar untuk mencintai Tuhan dan Gereja, disiplin dan kerja keras. Apa yang orang lihat adalah saya, tapi apa yang saya berikan berasal dari orang tua saya. Mereka tidak pernah meninggalkan saya walaupun saya meninggalkan mereka.

Dalam Kenaikan, Yesus tidak mengekang kita, Dia tidak menekan pertumbuhan kita, dan Dia tidak ingin kita menjadi kanak-kanak selamanya. Yesus membebaskan kita, murid-murid-Nya, dan memberdayakan kita untuk menjadi pria dan wanita yang mampu menempa jalan kita sendiri di dunia. Kita harus meninggalkan Yesus supaya kita bisa menjadi rasul-Nya yang dewasa, bebas dan inovatif. Namun, sejatinya Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kita membawa Yesus bersama kita karena Yesus telah membentuk kita menurut gambar-Nya. Sewaktu kita menerima Yesus dari orang tua, guru, katekis, dan imam, dan setelah hidup bersama Yesus sebagai murid-murid-Nya, sekarang giliran kita untuk mewartakan dan membagikan Yesus kepada orang lain. Ini adalah saatnya bagi kita untuk menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Resurrection and the Dominican Spirituality

(Easter special)

 Easter Sunday. April 16, 2017 [John 20:1-10]

“On the first day of the week, Mary of Magdala came to the tomb early in the morning, while it was still dark, and saw the stone removed from the tomb (Joh 20:1).”

 

women at the tombIf we read the Resurrection narrative in the four Gospels, we will discover that each Evangelist has his own distinct story. Yet, there are some common features in the Resurrection episode: the empty tomb, the presence of women, the appearance of angel followed by the risen Christ, and the women announcing the Good News to the other disciples. Let us focus on one particular feature that we usually miss. The first witnesses of the resurrection were not men, but women. Where were the male disciples? Where were those men who promised to sacrifice their lives for Jesus? They were in hiding. They were afraid. They were scattered.

When Jesus was betrayed and arrested, the male disciples ran for their lives, but the women faithfully followed Jesus. They were there at the foot of the cross. They witnessed Jesus’ death. They brought Him to the tomb. They returned to the tomb to give him proper burial rites at the first day of the week. Because of their fidelity, they were honored to be the first witnesses of the Resurrection. Not only witnesses, they were the first preachers of Resurrection.

This particular feature is an essential part of the Dominican spirituality. One of the patrons of the Order of Preachers is St. Mary Magdalene, and she was chosen because we honor her as the apostle to the apostles, the preacher to the preachers. By making her our patroness, we acknowledge that the task of preaching is not exclusively limited to the members of the clergy, but to lay men and women as well. The first convent St. Dominic established was in Prouille, France, and this was a convent for religious women. For us, Preaching is a family effort, all brothers and sisters take part and contribute in the mission of naming grace.

While it remains true that only the Dominican priests can give the homily in the Mass, it does not mean that non-clerical brothers and sister can not preach. We, the brothers in formation in Manila, are involved in facilitating retreats and recollections, producing video catechesis in the social media, and are coming up with the “Joyful Friars”, a preaching band group. Our sisters are involved in the teaching ministry. Some of them, like Mary Catherine Hilkert and Helen Alford are in fact professors in great universities in the US and Europe. Our lay Dominicans serve as lay preachers or campus ministers. Yet most importantly, they preach to their children and educate them to be mature and committed Christians.

Further more, for the Dominicans, preaching is not limited to verbal communication, but also takes flesh in various forms, depending on the needs of the people. Fr. Mike Deeb, OP is currently a permanent delegate of the Order to the United States in Geneva. He challenges countries that neglect various issues of injustice like human trafficking, violence, human rights abuses, and many more. James MacMillan is a lay Dominican and a renowned composer from Scotland. He composed mass songs when Benedict XVI visited the UK in 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP is both a religious sister and a physicist. She is involved in ATLAS project, a particle physics experiment at the Large Hadron Collider. These names are just few of many Dominicans who preach in their own right.

At the core of Dominican spirituality is the belief that each of us is called to witness to His Resurrection and to bring this Good News. Even better the news is that this spirituality is not only for the Dominicans. Every man and woman, clergy or lay, a Dominican or not, are called to this mission. We are to preach the Resurrection in our unique way. We are called to preach as a redeemed people, a family of God.

Blessed Easter!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebangkitan dan Spiritualitas Dominikan

(Edisi Khusus Paskah)

Minggu Paskah. 16 April 2017 [Yohanes 20:1-10}

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur (Joh 20:1).”

women at the tomb 2Jika kita membaca narasi Kebangkitan di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa setiap Penginjil memiliki cerita unik tersendiri. Namun, walaupun berbeda, ada beberapa hal-hal serupa di dalam narasi Kebangkitan, seperti kubur yang kosong, kehadiran para wanita, hadirnya malaikat diikuti oleh Yesus yang bangkit, dan para wanita mewartakan Kabar Baik bagi murid-murid lainnya. Mari kita fokus pada satu fitur yang biasanya luput dari perhatian kita. Saksi pertama dari kebangkitan bukanlah seorang laki-laki, tapi para perempuan. Pertanyaanya sekarang: Di mana para murid laki-laki? Di mana para pria yang berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka demi Yesus? Jawabannya: Mereka bersembunyi, lari dan ketakutan.

Saat Yesus dikhianati dan ditangkap, para murid laki-laki menyelamatkan diri, tetapi para murid perempuan setia mengikuti jalan salib Yesus. Mereka berada di sekitar Yesus yang tersalib. Mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka membawa-Nya ke kubur. Mereka kembali ke kubur untuk memberi-Nya ritus penguburan yang layak. Karena kesetiaan mereka, mereka menerima kehormatan menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan-Nya. Tidak hanya saksi, mereka adalah para pewarta pertama kebangkitan-Nya.

Fitur ini menjadi bagian penting dari spiritualitas Dominikan. Salah satu orang kudus pelindung dari Ordo Pengkhotbah adalah St. Maria Magdalena, dan dia dipilih karena kita menghormatinya sebagai pewarta pertama kebangkitan Yesus, seorang rasul kepada para rasul, seorang pewarta kepada para pewarta. Dengan menjadikannya sebagai santa pelindung Ordo, kita mengakui bahwa tugas pewartaan tidak hanya terbatas pada kaum tertahbis, tapi ini adalah misi milik semua, baik pria maupun wanita, baik kaum tertahbis maupun orang awam. Biara pertama yang St. Dominikus didirikan berada di Prouille, Perancis, dan ini adalah sebuah biara bagi wanita. Bagi kita, pewartaan merupakan usaha keluarga. Semua saudara-saudari mengambil bagian dan berkontribusi dalam misi pewartaan yang adalah mengartikulasikan rahmat di antara kita.

Sementara hanya para imam Dominikan yang dapat memberikan homili dalam Misa, ini tidak berarti bahwa para bruder, suster, frater maupun awam tidak bisa mewartakan. Kami, para frater di formasi di Manila, aktif terlibat dalam memberi retret dan rekoleksi, memproduksi video katekese di media sosial, dan memiliki kelompok band untuk lagu-lagu rohani. Para susters kami adalah pengajar-pengajar unggul. Beberapa dari mereka Sr. Mary Catherine Hilkert, OP dan Sr. Helen Alford, OP adalah profesor di universitas-universitas besar di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak juga Dominikan awam yang menjadi pewarta awam, aktif di pelayanan katekesis Gereja dan kampus ministri. Namun yang paling penting, mereka menjadi pewarta kepada anak-anak mereka dan mendidik mereka untuk menjadi seorang Katolik yang dewasa dan berkomitmen.

Namun, bagi Dominikan, pewartaan tidak terbatas dalam pelayanan Firman, tetapi juga mengambil berbagai bentuk, tergantung pada kebutuhan umat Allah. Rm. Mike Deeb, OP adalah delegasi permanen Ordo bagi PBB di Genewa. Dengan posisinya, dia mengingatkan perwakilan negara-negara yang teruskan mengabaikan berbagai isu keadilan seperti perdagangan manusia, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan banyak lagi. James MacMillan adalah seorang Dominikan awam dan komposer terkenal dari Skotlandia. Dia mengarang lagu-lagu misa ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Inggris pada tahun 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP adalah seorang suster dan juga fisikawan. Dia terlibat dalam projek ATLAS, percobaan fisika partikel di Large Hadron Collider. Ini hanya beberapa nama Dominikan yang menjadi pewarta dengan cara unik mereka sendiri, tentunya masih banyak lagi.

Inti dari spiritualitas Dominikan adalah keyakinan bahwa kita masing-masing dipanggil untuk menyaksikan Kebangkitan-Nya dan untuk membawa Kabar Baik ini ke semua orang. Kabar yang lebih baiknya adalah anda tidak perlu menjadi anggota keluarga Dominikan untuk menjadi pewarta kebangkitan. Kita semua, baik kaum tertahbis maupun awam, baik lelaki maupun perempuan, Dominikan ataupun bukan memiliki misi yang sama, dan bersama-sama kita mewujudkan misi ini sebagai satu keluarga Allah.

Selamat Paskah!

 

Frater Valetinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Capernaum

Third Sunday in Ordinary Time. January 22, 2017 [Matthew 4:12-23]

“He left Nazareth and went to live in Capernaum by the sea, in the region of Zebulun and Naphtali (Mat 4:13)”

journeyJesus began His public ministry by moving to another town in Galilee. From his hometown Nazareth to a bigger and more dense Capernaum. It was an ancient urbanization! Nazareth was small and scarcely populated, while Capernaum was one of the fishing centers in the Sea of Galilee. It was where people came, gathered, and interacted with each other. Had Jesus commenced His mission in Nazareth, probably, it would have taken more time to grow. Capernaum gave critical advantages for Jesus. It was easier to gather people, preach and attract followers. As a port city, it eased up Jesus mobility to other places in Galilee. And, Capernaum provided Jesus with shelter and other resources for His preaching. The reason for migrating was practical and yet decisive.

When St. Dominic started his Order, one of the first things he did was to send his small and fragile group of friars to big university cities like Paris and Bologna. His move was criticized as careless and dangerous. It could have swept away the infant community of Dominic. But, He insisted. “Stored seeds rot!” Dominic was actually able to think like Jesus. In bigger cities, it was much manageable not only to study, but also to preach and invite generous souls to be part of the community. Thus, Dominic made a clear instruction as he sent his brothers: “to study, preach and build community.

Our time is characterized with mega migration. Countless people move from town to another, from one country to another, and from one continent to another with ease and speed. And like Jesus, we migrate for practical cause as well as survival. We go places because of our works, our family, or our dreams. My life as a seminarian and a Dominican is also marked with constant movement. As early as fourteen years old, I left my hometown Bandung to enter the seminary in Magelang. Then, from Indonesia to Manila in the Philippines.

Going back to today’s Gospel, St. Matthew does not only see Jesus’ migration as practical solutions to His ministry, but as fulfillment of God’s promise: “the people who sits in darkness have seen a great light.” As Jesus travelled from one place to another, He brought light to others that they may see God whose Kingdom has come. Jesus immediately preached the Good News and called Andrew, Peter, James and John to His disciples. Jesus accommodated the practical and temporal things in His disposal for His mission. And He was faithful to this to the end. He used the cross, the practical means of torture and humiliation as means of presenting God’s love and salvation.

The same mission is given to us. As we move from one place to another, we bring also the light of Christ with us. Like newly-wed persons, we are called to enlighten our new families. As workers, we are to denounce what is evil in our new workplaces. As people who live on this earth, we shall take care of the creations in every land we step.   

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kapernaum

Minggu ketiga di Masa Biasa. 22 Januari 2017 [Matius 4: 12-23]

“Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13).

capernaum

Yesus memulai karya-Nya saat Ia pindah ke kota lain di Galilea. Dari kampung halamannya Nazareth ke Kapernaum yang lebih besar dan lebih padat penduduk. Yesus pun melakukan urbanizasi! Nazaret adalah kecil dan sedikit penghuni, sementara Kapernaum adalah salah satu pusat industri perikanan di Danau Galilea. Di kota ini, orang-orang datang, berkumpul, dan berinteraksi satu sama lain. Jika Yesus memulai misi-Nya di Nazaret, mungkin, Ia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan misi-Nya. Kapernaum memberi keuntungan penting bagi Yesus. Di kota ini, Yesus lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang, berkhotbah dan menarik pengikut. Sebagai kota pelabuhan, Kapernaum memberikan mobilitas kepada Yesus untuk pergi ke tempat-tempat lain di sekitar Galilea. Dan, Kapernaum juga menyediakan Yesus tempat tinggal dan sumber daya lain untuk karya-Nya. Alasan Yesus untuk bermigrasi adalah hal praktis namun sangat menentukan.

Ketika St. Dominikus memulai ordonya, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim kelompok saudara-saudaranya yang kecil dan rapuh ke kota-kota universitas besar seperti Paris dan Bologna. Keputusannya dikritik sebagai tindakan yang ceroboh dan berbahaya. Tapi, dia berteguh karena ia percaya,  “Biji yang tersimpan akan membusuk!” Dominikus benar-benar mampu berpikir seperti Yesus. Di kota-kota besar inilah, para saudara tidak hanya mampu untuk belajar, tetapi juga untuk berkhotbah dan mengundang orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Dominikus pun memberi instruksi yang sangat jelas sebelum ia mengirim saudara-saudaranya: “untuk belajar, berkhotbah dan membangun komunitas.”

Masa kita ditandai dengan mega migrasi. Banyak orang pindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dan dari satu benua ke benua lain dengan kemudahan dan kecepatan. Dan seperti Yesus, kita bermigrasi untuk tujuan praktis dan manusiawi. Kita pergi ke berbagai tempat karena pekerjaan kita, keluarga kita, belajar atau untuk mencapai impian kita. hidup saya sebagai seorang seminaris dan Dominikan juga ditandai dengan gerakan yang konstan. Sejak usia empat belas tahun, saya meninggalkan kota saya Bandung untuk masuk seminari menengah di Magelang. Kemudian, dari Indonesia ke Manila di Filipina. Saat saya adik saya menikah beberapa pekan lalu, saya menyaksikan bahwa dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pindah bersama istrinya.

Kembali ke Injil hari ini, Matius tidak hanya melihat migrasi Yesus sebagai solusi praktis untuk pelayanan-Nya, tetapi sebagai pemenuhan janji Allah: “orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ketika Yesus melakukan perjalanan dari satu tempat ke yang lain, Ia membawa cahaya dan mereka dapat melihat Allah yang telah datang. Setelah pindah, Yesus segera memberitakan Kabar Baik dan memanggil Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai murid-murid-Nya. Yesus menggunakan hal-hal praktis dan temporal bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk misi. Dan Dia setia pada hal ini sampai akhir. Diapun akhirnya menggunakan salib, sebuah sarana praktis penyiksaan dan penghinaan, sebagai sarana untuk  menunjukan kasih dan keselamatan Allah.

Misi yang sama telah diberikan kepada kita. Ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita membawa juga terang Kristus. Sebagai pasangan yang baru menikah, kita dipanggil untuk mencerahkan keluarga baru kita. Sebagai pekerja, kita bertugas untuk menolak apa yang jahat di tempat kerja. Sebagai orang yang hidup di bumi ini, kita akan bertanggung jawab terhadap ciptaan di tanah kita berdiri. Kita dipanggil untuk mengunakan sarana yang temporal untuk Tuhan bukan sekedar memuaskan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bintang

Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”

graphics-epiphanyHari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.

Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.

Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP