John and Our Longing for Truth

 Second Sunday of Advent. December 4, 2016. Matthew 3:1-12

In those days John the Baptist appeared, preaching in the desert of Judea and saying, ‘Repent, for the kingdom of heaven is at hand!”

john-the-baptist-2Why did many people come to John the Baptist and listen to him? I believe that the Jewish people hungered for the truth. It might be an inconvenient and hurtful truth, but they longed to hear it.   They were tired of listening to their leaders, like the Pharisees and the Sadducees, who were not honest but were living in hypocrisy. They were exhausted by numerous religious obligations but did not find any inspiration and a good example from their leaders. John came and preached to them the truth with simplicity and integrity, and the Israelites knew that they had to hear him.

Despite the various advancements in our lives, our society is experiencing also the same hunger for truth. We spend years in schools and we learn a different kind of knowledge and various skills needed to survive the demands of our society, but we fail to discover the truth in our midst. After the presidential election in the US, many experts lamented how social media, especially the internet, has opened the floodgate of lies, hoaxes, and fake, perverted news. In Indonesia, especially Jakarta, the situation is not much different. The election of Jakarta’s governor as well as the case of a Basuki Tjahaja Purnama, an out-going governor involved in blasphemy row, have thrown the nation into deeper fragmentations. In the Philippines, various issues from the war on drug that kills thousands, to former president Ferdinand Marcos’ burial, have divided the nation. Various groups have disseminated myriads of news and reports to support their cause and destroy other opposing groups. People have become more and more confused and distracted, not knowing what the truth is.

In this chaos of overloaded information, Hossein Derakhshan, a researcher from MIT, has predicted that our society will become deeply fragmented, driven by emotions, and radicalized by a lack of contact and challenge from the outside. In short, we will make our decisions based on feelings instead of truth. This will create even more confusion despite instant pleasures here and there. All these will lead eventually to despair and profound unhappiness. Yet, deep inside we long for the truth because we are created for truth and have an innate capacity to seek for the truth.

In the midst of this deluge of information, we are called to be John the Baptist, the preacher of truth. Yet, before we proclaim the truth and go against the tide of news, we have to be rooted in prayer and study. John was spending his time in the desert, and in this deserted place, he could train his mind and heart to discern the truth. Some days ago, I delivered a talk on the death penalty in the Bible. Some fundamentalist Bible interpreters can easily lift some verses and justify the capital punishment. This is an easy and instant answer, but it is simplistic. I need to spend hours in research and study just to understand the truth that in the Scriptures, God does not wish the death of sinners in the first place.

Advent becomes a proper time for us to follow the footsteps of St. John the Baptist. We are called to train ourselves to listen to the truth, and preach it with confidence.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yohanes dan Kerinduan Kita akan Kebenaran

Minggu kedua Adven. 4 Desember 2016. Matius 3: 1-12

 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

john-the-baptistMengapa banyak orang datang menemui Yohanes Pembaptis dan mendengarkan dia? Saya percaya bahwa orang-orang Yahudi ini lapar akan kebenaran. Mungkin kebenaran ini tidak nyaman dan menyakitkan untuk didengar, tetapi mereka ingin dan perlu mendengarkannya. Mereka bosan mendengarkan pemimpin mereka, seperti orang-orang Farisi dan Saduki, yang tidak jujur dan hidup dalam kemunafikan. Mereka kelelahan oleh banyak kewajiban agama, namun tidak menemukan inspirasi dan contoh yang baik dari pemimpin mereka. Yohanes datang dan mewartakan kebenaran dengan kesederhanaan dan integritas, dan orang Israel tahu bahwa mereka harus mendengarnya.

Dengan segala kemajuan dalam hidup kita, masyarakat kita hampir sama dengan Israel di jaman Yohanes. Kita sedang mengalami rasa lapar untuk kebenaran. Kita menghabiskan bertahun-tahun di sekolah dan kita belajar berbagai jenis pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup dan memenuhi tuntutan masyarakat, tetapi kita gagal untuk menemukan kebenaran yang sejati. Setelah pemilihan presiden di AS, banyak ahli menyesalkan bagaimana media sosial, khususnya internet, telah membuka gerbang besar kebohongan, hoax, dan berita palsu menyesatkan. Di Indonesia, terutama Jakarta, situasinya tidak jauh berbeda. Pemilihan Gubernur Jakarta serta kasus Basuki Tjahaja Purnama, gubernur pentahana yang terlibat dalam penistaan agama, telah melemparkan bangsa ini ke dalam fragmentasi lebih mendalam. Di Filipina, berbagai isu dari perang terhadap narkoba yang telah merenggut ribuan jiwa, sampai isu pemakaman mantan presiden Ferdinand Marcos di taman makam pahlawan, telah membelah bangsa Filipina. Berbagai kelompok telah menyebarluaskan segudang berita dan laporan, dan entah berita itu benar atau tidak, mereka tidak peduli asalkan agenda mereka tercapai. Kita menjadi lebih bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya.

Dalam kekacauan informasi ini, Hossein Derakhshan, seorang peneliti dari MIT, telah meramalkan bahwa masyarakat kita akan menjadi sangat terfragmentasi, didorong oleh emosi, dan terkurung dalam dunia kita yang sempit. Singkatnya, karena kita tidak tahu kebenaran, kita membuat keputusan besar dengan menggunakan perasaan bukan lagi kebenaran. Hal ini mudah dilakukan namun sejatinya menciptakan lebih banyak kebingungan. Namun, jauh di dalam diri kita, kita merindukan kebenaran karena kita diciptakan untuk kebenaran dan memiliki kapasitas untuk mencari kebenaran. Akhirnya, semua ini akan menyebabkan frustasi dan ketidakbahagiaan yang mendalam.

Di tengah ini banjir informasi ini, kita dipanggil untuk menjadi Yohanes Pembaptis, pewarta kebenaran. Namun, sebelum kita memberitakan kebenaran dan melawan gelombang kebohongan, kita harus berakar dalam doa dan pembelajaran. Yohanes menghabiskan waktunya di padang gurun, dan di tempat yang sunyi ini, ia bisa melatih pikiran dan hatinya untuk menemukan kebenaran. Beberapa hari yang lalu, saya menyampaikan ceramah tentang hukuman mati di dalam Alkitab. Beberapa penafsir Alkitab fundamentalis dapat dengan mudah mengangkat beberapa ayat dan membenarkan hukuman mati. Ini adalah jawaban instan, tetapi bukanlah kebenaran. Saya sendiri perlu menghabiskan berjam-jam dalam penelitian dan studi hanya untuk memahami kebenaran bahwa di dalam Kitab Suci, Allah tidak ingin kematian orang-orang berdosa, namun pertobatan mereka.

Adven menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengikuti jejak St. Yohanes Pembaptis. Kita dipanggil untuk melatih diri kita untuk mendengarkan kebenaran, dan memberitakan hal itu dengan keyakinan karena kita berakar pada doa dan pembelajaran.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preaching Peace

14th Sunday in Ordinary Time. July 3, 2016 [Luke 10:1-12, 17-20]

 “Into whatever house you enter, first say, ‘Peace to this household (Luk 10:5).”

sending 72 The life of Jesus’ disciples is difficult. It is all the more difficult because we are sent to preach peace. Nothing is harder to sell than peace. In the world intoxicated with fundamental ideologies and narrow-mindedness, violence has become daily food. In Syria and Iraq, the war seems far from an end, and every day, it claims countless of innocent lives. Suicide bombings and shooting rampage insanely become common occurrences. Just recently, some unidentified individuals detonated themselves inside a busy airport in Istanbul, Turkey, killing more than 40 people and injuring countless others. Few weeks back, a heavily armed guy opened fire inside a gay bar in Orlando, US, and murdered more 50 persons. It was the worst case in the US history.

Violence breeds violence. Fear of violence even fuels more violence. A couple days ago, I was able to have conversation with Prof. Steven Friesen from the University of Texas. We discussed a lot of things, but one thing that caught my attention was how fear has influenced many Americans. The law has been passed that now a student may carry a gun inside the campus and the classroom. Prof. Friesen could not find the logic in it. The students are not allowed to smoke inside the school, but they are permitted to bring a fire arm!

Sadly, the culture of violence is not far from us. It is in our daily midst. Physical violence is the most obvious one, but not the only one. Violence can take forms of bullying, verbal abuses, sexual harassment, discrimination and even indifference. Violence may happen in our workplace and our own house. We may do violence to our friends, family members and even our environment. The grimmer part is that often, we are not aware of doing this. Giving recollections and retreats to the youth, I am privileged to listen to their personal stories. It is saddening that some of these kids turn to be victims of domestic violence. Their intellectual and emotional growth was hampered, and they bear the traumatic experience for the entire of their lives. My fear is that they will embody their suppressed anger and hatred inside and turn to be the perpetrators of violence themselves.

We are the Disciples of Christ. This means we are sent to preach peace. We may join the anti-violence movement in our society. I myself supporting our bishops’ call to end vigilantism and uphold rule of law in the Philippine nation that has increasingly turned bloody in his fight against illegal drugs and crime. Yet, the best place to preach peace is within ourselves. We examine our own lives and we may be surprised with little violence we do every day. To preach peace means to stop doing subtle violence, to ask forgiveness, and to repair the damages. I have to admit that sometimes, I committed violence myself. Involved in the teaching and formation ministry, at times, I need to push people to their limit. Yet, instead helping them, I hurt them.

It is true preaching peace is difficult. At times, in promoting peace, we receive violence. At times, we are discouraged by the result. At times, despite our good effort, we do violence even to our beloved ones. Yet, we must not back down. Without preaching peace, we shall always be part of violence. Without preaching peace, we shall never attain peace in ourselves. Without preaching peace, we stop following Christ and his way of the cross.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno,m OP

Mewartakan Kedamaian

Minggu Biasa ke-14/ 3 Juli 2016/ Lukas 10: 1-12, 17-20

 “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. (Luk 10: 5).”

sending 72 - 2Menjadi murid Yesus adalah sulit. Dan hal ini semakin sulit karena kita diutus untuk mewartakan kedamaian. Sekarang ini, kedamaian adalah hal yang paling sulit dipromosikan. Dalam dunia yang mabuk dengan ideologi fundamentalis dan kepimikiran sempit, kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari. Di Suriah dan Irak, perang tampaknya tak akan berakhir, dan setiap harinya, mengklaim nyawa orang-orang tak berdosa. Bom bunuh diri dan penembakan gila-gilaan menjadi kejadian umum. Baru-baru ini, beberapa orang yang tidak dikenal meledakkan diri di dalam bandara sibuk di Istanbul, Turki, menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai banyak lainnya. Beberapa minggu yang lalu, seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam sebuah bar di Orlando, AS, dan membunuh lebih 50 orang. Ini adalah kasus terburuk dalam sejarah AS.

Kekerasan menelurkan kekerasan. Ketakutan akan kekerasan bahkan melahirkan lebih banyak kekerasan. Beberapa hari yang lalu, saya bercakap-cakap dengan Prof. Steven Friesen dari University of Texas. Kami membahas banyak hal, tapi satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rasa takut telah mempengaruhi banyak orang Amerika. Sebuah undang-undang telah disahkan bahwa sekarang mahasiswa dapat membawa senjata di dalam kampus dan ruang kelas. Prof. Friesen tidak bisa menemukan logika di dalamnya. Para siswa tidak diperbolehkan untuk merokok di dalam kampus, tapi mereka diizinkan untuk membawa senjata api!

Yang memprihatinkan adalah budaya kekerasan tidak jauh dari hidup kita sehari-hari. Kekerasan fisik adalah salah satu yang paling jelas, tetapi bukan satu-satunya. Kekerasan dapat mengambil bentuk intimidasi, pelecehan baik seksual dan perkataan, diskriminasi dan bahkan ketidakpedulian. Kekerasan bisa terjadi di tempat kerja kita dan rumah kita sendiri. Kita mungkin melakukan kekerasan terhadap teman-teman, anggota keluarga kita dan bahkan lingkungan kita. Bagian suramnya adalah bahwa sering, kita tidak sadar melakukan hal ini. Saat memberikan rekoleksi dan retret bagi kaum muda, saya bersyukur bisauk mendengarkan kisah-kisah pribadi mereka. Hal ini memprihatinkan bahwa beberapa dari mereka ini adalah  korban kekerasan dalam rumah tangga. Pertumbuhan intelektual dan emosional mereka terhambat, dan mereka menanggung pengalaman traumatis di sepanjang hidup mereka. Ketakutan saya adalah bahwa mereka akan mewujudkan kemarahan dan kebencian yang tersembunyi dan berubah menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Kita adalah murid-murid Kristus. Ini berarti kita diutus untuk mengajarkan kedamaian. Kita mungkin bergabung dengan gerakan anti-kekerasan dalam masyarakat kita. Namun, tempat terbaik untuk mewartakan kedamaian dalam diri kita sendiri. Kita memeriksa hidup kita sendiri dan kita mungkin akan terkejut dengan tidak kekerasan yang kita lakukan setiap hari. Memberitakan perdamaian berarti kita berhenti melakukan kekerasan yang terkadang sangat halus, untuk meminta maaf, dan untuk memperbaiki keadaan. Saya harus mengakui bahwa kadang-kadang, saya melakukan kekerasan. Terlibat dalam pelayanan dan formasi kaum awam, terkadang, saya harus mendorong orang untuk melakukan yang terbaik. Namun, alih-alih membantu mereka, aku menyakiti mereka.

Memang benar memberitakan kedamaian adalah sulit. Kadang-kadang, dalam mewartakan kedamaian, kita menerima kekerasan. Kadang-kadang, kita tidak kecewa oleh hasilnya. Kadang, meskipun upaya yang terbaik, kita tetap melakukan kekerasan bahkan untuk orang-orang yang kita cintai. Namun, kita boleh menyerah. Tanpa mewartakan damai, kita akan selalu menjadi bagian dari kekerasan. Tanpa mewartakan damai, kita tidak akan pernah mencapai kedamaian dalam diri kita sendiri. Tanpa mewartakan damai, kita berhenti mengikuti Kristus di jalan salib.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,  OP

Vocation and Preaching

5th Sunday in Ordinary Time. February 7, 2016 [Luke 5:1-11]

“Then he sat down acalling the disciplesnd taught the crowds from the boat of Simon (Luk 5:3).”

Everyone has its own vocation story. Whether priests, religious or lay persons, we have those moments that open our eyes to where God calls us. One Filipino Dominican priest recalled that his vocation to the Order of Preachers started because of his former girlfriend. One day, his girlfriend brought him to Santo Domingo Church to pray before our Lady of La Naval, and when they were there, he saw a band of Dominican brothers entered the Church for the prayer. He was mystified with their appearance and he began to fall in love with the Dominican habit. The rest is history. For lay persons, the vocation stories might not be obvious, but there are those tipping points that brought them to serve the Lord passionately in the family, workplace or the Church.

Today’s Gospel introduces to us the vocation story of Simon Peter. The story appeared in all four Gospels and this points to the truth on how important Simon Peter is in the college of Apostles. Luke gave us a slightly different background from other Evangelists. He did not begin the story with Peter working as fisherman, but with Jesus preaching and teaching. Simon must be inspired by Jesus’ preaching, and this explained why Simon was so docile when Jesus asked him to go into the deep, despite the fact that Peter was a seasoned fisherman and Jesus was a carpenter’s son. Like the story of Peter, all sincere vocation stories takes its origin in the preaching of the Word of God.

Every time I have the opportunity to speak before the Dominican laity, I always make a point to explain that their first preaching has to be in the family. Before we have outreach programs for the poor or the imprisoned, family has to be our mission. To teach and raise their children into good Christians are never easy, but if the parents refuse to do that, who else will do? In fact, the vocations to the priesthood and religious lives may greatly diminish had the evangelization in the family failed. I owe my vocation and faith to my parents. They never ceased preaching both in words and in deeds to us. I always recalled how my mother taught me praying the rosary, and my father brought us to the Church every Sunday as family. They taught me also by example as they showed me the virtues of fidelity, sacrifice and love. I love God and the Church, because I saw how my parents also love God and the Church.

When St. Dominic established the Order of Preachers, the first religious congregation in the Catholic Church, that has active orientation toward evangelization, he did not abolish the community life. In fact, he included it as an essential element of Dominican life because before we go out, our community is the first preaching mission. A good preaching in the community surely safeguards and nurtures vocations of the preachers. Thus, I am deeply saddened when I heard that a brother or sister left the convent because they no longer felt happiness within the community. Or, children have problematic behaviors because their parents did not become a good example for them. This is the sign of our failure as preachers for one another.

Jesus reminded that our vocation is rooted, nurtured and flourishing because of preaching of the Gospel. We have different callings with their unique stories, but as Fr. Timothy Radcliffe, OP once said, we may enter the Order (or any state of life) for the wrong reasons, but we must stay for the right reason. We believe that one of that the right reasons is a good preaching among us.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan dan Pewartaan

 

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa. 7 Februari 2016 [Lukas 5:1-11]

 

calling of peter“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesaui kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Simon Petrus. Kisah ini muncul di keempat Injil dan hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya Simon Petrus di antara para rasul. Lukas memberi kita latar belakang yang sedikit berbeda dari penginjil lainnya. Dia tidak memulai kisahnya dengan Petrus yang sibuk bekerja sebagai nelayan, tetapi dengan Yesus yang berkhotbah dan mengajar. Simon tentunya terinspirasi oleh khotbah Yesus, dan hal ini menjelaskan mengapa Simon siap sedia ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tempat yang dalam, meskipun faktanya bahwa Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Seperti kisah Petrus, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Pengkhotbah, kongregasi pertama dalam Gereja Katolik, yang memiliki orientasi aktif dalam evangelisasi, dia tidak menghapuskan kehidupan berkomunitas. Sebaliknya, ia menjadikan hal ini sebagai unsur penting dari kehidupan Dominikan karena sebelum kita pergi keluar, komunitas kita adalah misi pewartaan pertama kita. Sebuah pewartaan yang baik di komunitas pasti menjaga dan memelihara panggilan para anggotanya. Jujur, saya sangat sedih ketika saya mendengar bahwa frater atau suster meninggalkan biara karena mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam komunitas mereka. Atau, anak-anak memiliki prilaku bermasalah karena orang tua mereka tidak memberi teladan yang baik. Ini adalah tanda kegagalan kita sebagai pewarta.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elizabeth: the Spotter of the Good News

Fourth Sunday of Advent. December 20, 2015 [Luke 1:39-45]

“…for at the moment the sound of your greeting reached my ears, the infant in my womb leaped for joy (Luk 1:44).”

St. Elizabeth seemed to have this special skill that often escaped our eyes. She had this ability to spot that Mary, her relative, was with a child. That was their first encounter after years. Nobody told Elizabeth that Mary was pregnant, and surely, no cellphone and Facebook were yet available during that time for speedy communication. Mary’s pregnancy was not yet physically obvious since it was barely a month since the Annunciation. Yet, she did it. We remember that the primary intention of Mary’s visit was to prove Gabriel’s message that Elizabeth was pregnant, but it turned out that Elizabeth was the first one who recognized the Mary’s pregnancy.

Before the presence of Mary and the baby, Elizabeth’s reaction was astonishing. She did not grill Mary with investigative questions like ‘who is the father?’ or ‘why did you break the Law?’ Neither did she harbor any hatred to Mary for breaking the Jewish sacred Law, nor reporting her to authority. She chose rather to embrace Mary and to rejoice with her in the Lord. Elizabeth did not only have the ability to spot the pregnancy, but more importantly, the ability to discover the Good News.

Our world is loaded with bad news. Wars and bloody violence are raging from Sahara desert to tropical jungles in South East Asia, from North America to Syria. Our news outlets are full of this terrible information: killing within the family, abuses against women and children, and natural and man-made disasters. What is horrified is that we buy these kind of news and serve them as our breakfast. We can easily spot the problems and issues in our lives. Financial difficulties, health issues, broken relationships, name it and you have it. We are trained to see the bad news and linger in them. We, thus, become announcers of the bad news or simply the complainers or gossipers.

However, echoing the words of Antonio Cardinal Tagle, the Archbishop of Manila, in the opening of Dominican Jubilee Door in Santo Domingo Church, Metro Manila few weeks ago, “We do not need another proclaimer of the bad news. Our world has already a lot of bad news. We desperately need the preachers of good news.” No wonder if St. Dominic de Guzman is called the preacher of grace, because it is the main mission of every preacher to discover the working of God in our midst. As Sr. Mary Catherine Hilkert OP once said ‘preaching is to articulate grace’.

The Advent season gives us Elizabeth. Her ability to spot the grace among ordinary events and even among unlikely circumstances makes her a humble yet true model of preacher of the Good News. Yet, we must not forget that Elizabeth’s skill is not merely human effort, but in itself a grace of God. She was under the influenced of the Holy Spirit, when she was able to discover Jesus. Eventually, it is the grace of God within us that enables us to unearth the grace around us. In turn, the grace around us brings joy and meaning in our lives as well as strengthens the grace within us. It is all about grace.

To spot grace and to become happy is not simply a matter of choice, but it is primarily the fruits and gift of Holy Spirit. We constantly pray to God to shower us with His grace and blessings so that in the midst of various earthly concerns and problems, we may not miss Jesus this Christmas.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elisabet: Menjadi Penemu Kabar Baik

 

 

Keempat Minggu Adven. 20 Desember 2015 [Lukas 1: 39-45]

“… ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. (Luk 1:44).”

Santa Elisabet tampaknya memiliki keahlian khusus yang sering luput dari mata kita. Dia memiliki kemampuan untuk melihat bahwa Maria, saudaranya, sedang mengandung. Kunjungan Maria adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Tidak ada yang memberi tahu Elisabet tentang kehamilan Maria, dan pasti, ponsel dan Facebook yang belum tersedia pada zaman ini untuk berkomunikasi dengan cepat. Kehamilan Maria belum secara fisik tampak jelas karena itu baru saja beberapa minggu sesuah Maria menerima Kabar Baik dari Malaikat Gabriel. Namun, Elisabet bisa mengetahuinya. Kita ingat bahwa tujuan utama dari kunjungan Maria adalah untuk membuktikan pesan Gabriel bahwa Elisabet sedang mengandung, tapi ternyata Elisabet menjadi orang pertama yang memahami kehamilan Maria.

Dihadapan Maria dan sang Bayi di dalam rahimnya, reaksi Elisabet sungguh menakjubkan. Dia tidak menginvestigasi Maria dengan pertanyaan seperti ‘Siapa ayah sang bayi?’ atau ‘Mengapa kamu melanggar Hukum Taurat?’ Begitu pula dia tidak memendam kebencian kepada Maria karena dia melanggar hukum suci Yahudi, atau melaporkan Maria ke otoritas untuk diadili. Dia memilih untuk merangkul Maria dan bersukacita dengan dia di dalam Tuhan. Elisabet tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat kehamilan Maria, tetapi yang jauh lebih penting, kemampuannya untuk menemukan Kabar Baik.

Dunia kita penuh dengan berita buruk. Perang dan kekerasan berdarah yang mengamuk dari gurun Sahara ke hutan tropis di Asia Tenggara, dari Amerika Utara ke Suriah. Berbagai sumber berita kita penuh dengan informasi yang mengerikan: pembunuhan di dalam keluarga, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak, dan bencana alam maupun buatan manusia. Apa yang mengerikan adalah bahwa kita justru membayar untuk berita semacam ini dan menyuguhkan sebagai sarapan pagi kita. Kitapun bisa dengan mudah melihat masalah dan isu-isu dalam kehidupan kita. Kesulitan keuangan, masalah kesehatan, hubungan yang rusak, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar kitapun dilatih untuk melihat berita buruk dan tinggal di dalamnya. Dengan demikian, kita berubah menjadi penyiar kabar buruk atau pengeluh atau tukang gosip.

Namun, menggemakan kata-kata dari Kardinal Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, dalam pembukaan Pintu Jubilee Dominikan di Gereja Santo Domingo, Metro Manila, Kita tidak perlu tambahan penyebar kabar buruk. Dunia kita memiliki sudah banyak berita buruk. Yang kita sangat butuhkan adalah pengkhotbah kabar baik.Tak heran jika St. Dominikus de Guzman disebut sebagai pewarta rahmat, karena adalah misi utama setiap pengkhotbah untuk menemukan karya Allah di tengah-tengah kita. Sebagaimana Maria Catherine Hilkert OP pernah berkata ‘berkhotbah adalah mengartikulasikan rahmat.’

Mas Adven memberi kita santa Elisabet. Kemampuannya untuk melihat rahmat di antara peristiwa-peristiwa yang biasa dan bahkan di antara keadaan yang tidak terduga menjadikan dia seorang model dari pengkhotbah dari Kabar Baik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan Elisabet ini bukan sekedar usaha manusia biasa, tetapi sebuah rahmat Allah. Dia berada di bawah pengaruh Roh Kudus, ketika ia mampu menemukan Yesus. Sungguhnya, ini adalah rahmat Allah dalam diri kita yang memungkinkan kita untuk mengenali rahmat di sekitar kita. Dan pada gilirannya, rahmat di sekitar kita membawa sukacita dan makna dalam kehidupan kita serta memperkuat rahmat dalam diri kita. Ini adalah semua tentang rahmat Allah.

Untuk melihat rahmat dan menjadi bahagia bukan hanya soal pilihan pribadi kita, tetapi pada dasarnya buah dan karunia Roh Kudus. Kita terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga di tengah-tengah berbagai permasalahan dan kepentingan duniawi, kita tidak kehilangan Yesus di Natal ini.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP