Rosary and Family

Reflection on the 27th Sunday in Ordinary Time – Feast of the Holy Rosary [October 7, 2018] Mark 10:2-16

rosaryIf there is one prayer that can change the course of world history, it is the earnest recitation of the holy rosary.  In 1571, through the unceasing prayer of the rosary, a league of Christian nations called by Pope Pius V was able to stop the military advancement of the mighty Ottoman empire to western Europe in the Gulf of Patras, near Lepanto, Greece. In 1917, Our Lady appeared to three little children in Fatima, and one of her messages was to pray the rosary for the peace of the world. Through nation-wide recitation of the rosary, Austria was freed from the communist regime in 1955. In 1960, led by Catholic women marching the streets while praying the rosary, Brazil was also spared from communism.

For the Catholics in the Philippines, the recitation of the rosary has conquered the impossible. In 1646, the Dutch armada attempted to take over the Philippines from the weakened Spanish authority. With only three modified galleons, the combined Spanish and Filipino forces defended the country from Dutch warships in a series of sea battles. The eyewitness narrated how the soldiers prayed the rosary while the battle was being waged. The miracle took place. The three galleons were practically unharmed, while the enemy’s ships either were sunk or sustained heavy damages. The miracle was attributed to the intercession of Our Lady of the Rosary, La Naval de Manila. The rosary is believed to have made the People Power revolution in 1986 a peaceful event.

These are several among many historical events in which the recitation of the rosary has played a significant role in the lives of nations. However, the praying of the rosary does not only affect the nations but more meaningfully the lives of ordinary people and families.

Today’s Gospel speaks about the sanctity of marriage and family. In marriage, husband and wife promise each other something that they cannot fulfill, namely perfect happiness. We are imperfect creatures and wounded by sin, and it is just beyond our natural ability to achieve our genuine happiness. Left to our own strength, we are bound to fail or face meaninglessness. We are emotionally unstable, we want things for ourselves, and we just hurting each other. No wonder Bishop Fulton Sheen once said, “Marriage is not difficult. It is just humanly impossible.”

Jesus reminds us that man and woman are created for each other to be “one flesh,” and immediately Jesus teaches, “what God has joined together, no human being must separate.”  We often forget that the one who unites man and woman is God Himself. Marriage and family are primarily the work of God, not just human beings. God wants a true joy for us, and this can be achieved by the paradox of love. It is not by accumulating things for ourselves but giving up ourselves totally to others. Marriage becomes one way that God designs to achieve this self-giving. Husband gives himself totally to his wife, and the wife gives herself wholly to her husband. As they are losing themselves, they gain everything they cannot humanly gain, namely genuine self-growth, meaningful life, and true happiness. Thus, prayer together turns out to be an unassuming yet powerful way to remind the couples of this God’s work in their midst.

Fr. Patrick Payton once said, “A family that prays together stays together.” As the founder of Family Rosary Crusade, the prayer he means in this classic line is no other than the recitation of the rosary. At first, it sounds cliché, but on a personal note, I can say it is indeed a powerful prayer for the family. I still could remember how my parents taught me the rosary, and it was within the context of family and community prayer. I do believe that my family has survived a lot of storms because we do not forget to pray together. I also believe countless families, and communities have conquered the difficulties and challenges because they have prayed the rosary faithfully.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Keluarga

Renungan untuk Minggu ke-27 dalam Masa Biasa – Pesta Bunda Rosario [7 Oktober 2018] Markus 10: 2-16

teaching rosaryJika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasaan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rezim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.

Bagi umat Katolik di Filipina, pendarasan rosario telah menaklukkan hal-hal yang mustahil. Pada 1646, pasukan Belanda yang datang dari Hindi Belanda berusaha mengambil alih Filipina dari otoritas Spanyol yang lemah. Dengan hanya galleon [kapal dagang], pasukan gabungan Spanyol dan Filipina menghadapi  kapal-kapal perang Belanda dalam serangkaian pertempuran laut. Saksi mata menceritakan bagaimana para prajurit berdoa rosario saat pertempuran berlangsung. Mujizat pun terjadi. Ketiga galleon praktis tidak mengalami kerusakan berarti, sementara kapal-kapal musuh tenggelam atau rusak berat. Mujizat ini terjadi karena perantaraan Bunda Maria Rosario, La Naval de Manila. Rosario diyakini juga menjadikan revolusi “People Power” pada tahun 1986 sebagai peristiwa yang berhasil dan damai.

Ini adalah beberapa dari banyak peristiwa sejarah di mana pendarasan rosario telah memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa-bangsa. Namun, berdoa rosario tidak hanya mempengaruhi bangsa tetapi lebih berarti kehidupan orang biasa dan keluarga.

Injil hari ini berbicara tentang kekudusan pernikahan dan keluarga. Dalam pernikahan, suami dan istri saling berjanji memberi sesuatu yang tidak dapat mereka penuhi, yaitu kebahagiaan sempurna. Kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan terluka oleh dosa, dan di luar kemampuan alami kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Berpegang pada kekuatan kita sendiri, kita pasti gagal atau kehilangan makna. Secara emosional kita tidak stabil, kita menginginkan hal-hal untuk diri kita sendiri, dan kita saling menyakiti. Tidak heran, Uskup Fulton Sheen pernah berkata, “Pernikahan tidaklah sulit, hanya saja mustahil secara manusiawi. ”

Yesus mengingatkan kita bahwa pria dan wanita diciptakan untuk satu sama lain untuk menjadi “satu daging,” dan segera Yesus mengajarkan, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kita sering lupa bahwa yang menyatukan pria dan wanita adalah Allah Sendiri. Pernikahan dan keluarga adalah karya Allah, bukan hanya manusia. Tuhan menginginkan sukacita sejati bagi kita, dan ini dapat dicapai dengan paradoks kasih. Bukan dengan mengumpulkan hal-hal untuk diri sendiri tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesama. Pernikahan menjadi salah satu cara yang Tuhan rancang untuk mencapai pemberian diri ini. Suami memberikan dirinya sepenuhnya kepada istrinya, dan sang istri menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. Ketika mereka kehilangan diri, mereka mendapatkan segala yang tidak bisa mereka dapatkan secara manusiawi, yakni pertumbuhan yang otentik, kehidupan yang bermakna, dan kebahagiaan sejati. Dengan demikian, doa bersama menjadi cara yang sederhana namun berdaya untuk mengingatkan para suami-istri akan karya Allah ini di tengah-tengah mereka.

Romo Patrick Payton pernah berkata, “Keluarga yang berdoa bersama tetap bersama.” Doa yang dia maksudkan tidak lain adalah pendarasan rosario. Pada awalnya, kedengarannya hal ini biasa-biasa saja, tetapi saya dapat mengatakan ini memang doa yang kuat bagi keluarga. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya mengajari saya rosario, dan itu dalam konteks doa keluarga dan komunitas lingkungan. Saya percaya bahwa keluarga saya selamat dari banyak badai karena kami tidak lupa untuk berdoa bersama. Saya juga percaya banyak keluarga-keluarga, dan komunitas telah menaklukkan kesulitan dan tantangan karena mereka telah berdoa rosario dengan setia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Rosary and Us

October 7, 2016 – Mary, Queen of the Holy Rosary

rosary-1October is the month of the rosary. Allow me to reflect on this ancient yet ever new form of prayer. Why October? It all started when Pope Pius V, a Dominican, dedicated October 7 as the feast of Mary Our Lady of the Rosary after the battle of Lepanto. In this naval battle of October 7, 1571, the smaller Christian army fought the much larger and powerful Ottoman Turks’ forces that planned to invade Europe at the Gulf of Lepanto in Greece. While the battle was being waged, the Holy Pontiff and all Christians prayed the rosary asking the intercession of Our Lady. After hours of confrontation, the enemy’s fleet was roundly defeated.

However, the devotion to the rosary itself began even much earlier. In fact, the prayer was a product of a long evolution. The devotion actually began as a lay spiritual movement. In the early middle ages, the monks and nuns in the monasteries recited 150 Psalms of the Old Testament as part of their daily prayer. The practice was ideal to sanctify the entire day as the recitation of the Psalms was distributed during the important hours of the day (thus, Liturgy of the Hours). Yet, this was not for the lay people. They had no copy of the Bible, least the ability to read it. Thus, the lay people who desired to make their day holy, started to recite 150 ‘Our Father’. To keep track of the prayer, they also made use of a long cord with knots on it. After some time, they prayed 50 Our Father at three different times of the day.

In the 12th century, the Angelic salutation formula “Hail Mary, full of grace, the Lord is with you. Blessed you among women and blessed is the fruit of your womb” became part of this 150 ‘Our Father’ prayer. Shortly after this, the meditation on mysteries of the life of Jesus and Mary began to be incorporated into this devotion. Gradually, it evolved into 150 ‘Hail Mary’. St. Dominic de Guzman and his Order of Preachers received special mandate from the Virgin herself to promote this ‘Psalter of Mary’. In the 15th century, that devotion acquired the name Rosarium (rose garden). In 1569, the same Pope Pius V issued the papal decree ‘Consueverunt Romani Pontifices’ that regulated and standardized the praying of the Rosary, taking into account its long history and its Dominican tradition. He also affirmed the efficaciousness of the rosary as one of the many means to obtain graces and indulgence. The praying of the rosary continues to evolve even to this day. The latest major innovation was from Saint John Paul II who added five mysteries of Light.

October then turns to be a fitting time to intensify our praying of the rosary and to remember the role of Mary and her rosary in the life of the Church and our lives. I guess more importantly we remember that rosary was born from the desire of lay people to be holy. The rosary came from the simple hands of ordinary people who recited the Our Father and Hail Mary and meditated on the mysteries of salvation. We pray the rosary because it is a devotion that comes from the hearts of the laity. When we pray the rosary, we pray together with Mary who is a lay woman. When we pray the rosary, because we, just like countless people, desire to be closer to God in a simplest and humblest way.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Kita

7 Oktober 2016, Maria Ratu Rosari

rosary-2Oktober adalah bulan rosario. Izinkan saya untuk menulis tentang  doa yang sebenarnya kuno tetapi selalu baru. Mengapa Oktober adalah bulan rosario? Semuanya berawal ketika Paus Pius V, seorang Dominikan, mendedikasikan 7 Oktober sebagai pesta Maria Ratu Rosario setelah pertempuran Lepanto. Pada 7 Oktober, 1571, di Teluk Lepanto di Yunani, tentara Eropa berjuang melawan armada laut Ottoman Turki yang jauh lebih besar dan kuat, yang merencanakan untuk menyerang Eropa. Sementara pertempuran sedang berlangsung, sang Paus dan semua umat berdoa rosario meminta perantaraan Bunda Maria. Setelah berjam-jam konfrontasi, armada musuh pun dikalahkan.

Namun, devosi kepada Rosario sendiri bermula jauh lebih awal dari Paus Pius V. Doa ini adalah produk dari evolusi yang panjang. Devosi ini sebenarnya dimulai sebagai sebuah gerakan spiritual awam. Pada abad pertengahan awal, para rahib di pertapaan mendaraskan 150 Mazmur sebagai bagian dari doa harian mereka. Praktek ini sangat ideal untuk menguduskan seluruh hari mereka sebagai pembacaan Mazmur didistribusikan pada jam-jam penting pada hari itu. Namun, ini tidak berlaku bagi orang awam. Mereka tidak memiliki salinan Alkitab, apalagi kemampuan untuk membacanya. Dengan demikian, orang-orang awam yang mendambakan untuk menguduskan hidup harian mereka, mulai mendaraskan 150 ‘Bapa Kami’. Agar tidak hilang dalam meditasi, mereka juga menggunakan tali panjang dengan simpul sebanyak jumlah doa ‘Bapa Kami’. Setelah beberapa waktu, mereka berdoa 50 Bapa Kami tiga kali sehari.

Pada abad ke-12, Formula Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu” menjadi bagian dari doa 150 ‘Bapa Kami’ ini. Tak lama setelah ini, meditasi pada ‘misteri’ kehidupan Yesus dan Maria mulai menjadi bagian dari devosi ini. Secara bertahap, doa ini berkembang menjadi 150 ‘Salam Maria.’ St. Dominikus de Guzman dan Ordo Pengkhotbahnya menerima mandat khusus dari Bunda Maria untuk mempromosikan  ‘Mazmur Maria’ ini. Pada abad ke-15, devosi kepada Yesus dan Maria ini memperoleh nama Rosarium (taman mawar). Pada tahun 1569, Paus Pius V mengeluarkan dekrit Consueverunt Romani Pontifices’ yang mengatur bagaimana berdoa Rosario, dengan mempertimbangkan sejarahnya panjang dan tradisi Dominikan yang ia miliki. Dia juga menegaskan bahwa rosario sebagai salah satu dari banyak cara untuk mendapatkan rahmat dan indulgensia. Doa rosario terus berkembang bahkan sampai hari ini. Inovasi terbaru adalah dari Santo Yohanes Paulus II yang menambahkan lima Misteri of Cahaya.

Bulan Oktober menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengintensifkan devosi rosario dan merenungkan peran Maria dan rosarionya dalam kehidupan Gereja dan kehidupan kita. Saya kira yang lebih penting adalah kita diingatkan bahwa rosario sebenarnya lahir dari hasrat para awam untuk menjadi kudus. Rosario berasal dari tangan-tangan sederhana para awam yang mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria, dan juga merenungkan misteri keselamatan di dalamnya. Kita berdoa rosario karena kita ingin untuk lebih dekat dengan Allah dengan cara yang paling sederhana. Kita berdoa rosario karena doa ini merupakan devosi yang berasal dari hati kaum awam. Ketika kita berdoa rosario, kita berdoa bersama-sama dengan Maria yang adalah seorang wanita awam. Rosario adalah hidup kaum awam, dan hati kaum awam adalah Rosario.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Word of God in the Desert

First Sunday of Lent. February 14, 2016 [Luke 4:1-13]

“Filled with the Holy Spirit, Jesus returned from the Jordan and was led by the Spirit into the desert (Luk 4:1).”

jesus temptationToday’s Gospel shows us that the Holy Spirit led Jesus to the desert. Yes, the Holy Spirit will not spare us from the desert! The desert experience can be anything that spells dryness and emptiness in our lives and souls. Out of nowhere, a seminarian enters into a desert as he is feeling unexplainable meaninglessness in his chosen vocation. A mother begins to experience exhaustion in fulfilling her difficult mission to rear her children. Through her journals, it was revealed that even holy person like Mother Teresa of Calcutta went through ’the eclipse of God’ when she did not sense the presence of God for almost 10 years in her life.

The Gospel reminds us as well that in the desert, Jesus was tempted by the devil. Walking through the desert experiences, the devil knows well that our defense is at its lowest and surely he will take his change to make us fall from our commitment. The seminarian starts seeing another way of life as more attractive and a solution to his emptiness. Now, not only dryness, he is also facing a crisis. Tired of spending time with her children, the mother starts thinking to shift her focus on something else like her career, hobbies, or friends. The devil is an extremely smart creature. He will manipulate our basic desires and longings. He offers us little compromises that eventually destroy all together our commitment. The seminarian begins not attending prayers, a student is becoming lazy in study and a husband starts spending more time outside his own house and family.

How then do we counter this situation? Jesus gave the answer: the Word of God. In the desert, Jesus was firmly rooted in the Word of His Father, and resisted the temptations. In the midst of life’s dryness and challenges, we shall turn ourselves into the Word of God. Doubtless, we can do our own bible reading and study. This very reflection and other reflections are an invitation to go deeper into the Word of God. Or, praying the rosary is one effective way to meditate the life of Jesus and to refuse temptation. But, the only place that the Word of God is in the most powerful and unique form is at the Eucharist. In the Eucharist, the Word of God is lavishly shared to us through the biblical readings and expanded through the homily. Most importantly, the Word of God finally is made flesh and we partake of it at the Holy Communion.

When the devil tempted hungry Jesus to change the stone into bread, Jesus resisted by pointing that we truly live because of the real Bread, the Word made flesh, the Eucharist. When the evil one attempted to allure the Son of God to exhibit His power at the temple of Jerusalem, Jesus outsmarted him by showing him that the Temple is the home of the Word, and not place of showoff. When the prince of darkness asked Jesus to worship him in exchange for the world’s glory and richness, Jesus confronted him with the truth that only God and His Word in the Eucharist worthy of all worship.

The Holy Spirit will indeed lead us into the desert, but it is not to destroy us, but to allow us to find how we truly are, persons rooted in the Word of God, in the Eucharist.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP