Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kingdom of God

Third Sunday of Ordinary Time [A]

January 26, 2020

Matthew 4:12-17

giving lettersAfter the arrest of John the Baptist, Jesus begins His public ministry. Jesus left Nazareth, His hometown, and moved to a more crowded and bigger town, Capernaum. Crudely speaking, Jesus did urbanization. This strategic move of Jesus was to support His mission. With a dense population and with better access to neighboring towns, Jesus could minister to more people in a more efficient way.

However, Jesus’ movement from Nazareth to Capernaum is not just about practicality and preaching strategy. Jesus was fulfilling the prophecy of Isaiah. “Land of Zebulun and land of Naphtali…the people who sit in darkness have seen a great light…” For many of us, Zebulun and Naphtali do not make any sense, and we tend to skip these verses. Yet, for the first-century Jews, this prophecy is a game-changer because God will gather the lost twelve tribes of Israel, and re-establish the Kingdom of Israel.

Let us go back to the Old Testament a little bit. In 2 Samuel 7, God promised that the throne of David will last forever, however after the reign of Salomon, David’s son, the kingdom of David was divided into two. After some hundred years, these two kingdoms, one by one, were destroyed by the enemies, and the twelve tribes were scattered among the Gentiles. Among the tribes of Israel, only Judah, and Benjamin were able to return to the land of Israel, while the rest, including Zebulun and Naftali, were lost. Jewish people in the time of Jesus knew well that one of the missions of the expected Messiah is to restore the Kingdom and to gather the lost tribes of Judah.

Jesus, the Messiah, came indeed to fulfill this expectation, and no wonder if the first thing He did was to preach that the Kingdom of God is at hand. It is called the Kingdom of God because it is the Kingdom promised by God, built by God, and governed by God. It is the restored kingdom of David, and much bigger than the first David’s kingdom.

However, there is a fundamental difference between David’s kingdom and Jesus’. David’s kingdom was established to fight Israel’s enemies. His kingdom was filled with nobilities, generals, and armies. It was characterized by political rivalry, a struggle for power, and treachery. Finally, it is no different from other kingdoms in the world. All is about “game of thrones”. And like other earthly kingdoms, the kingdom of David was bound to crush as well.

The Kingdom of God basically goes in the opposite direction. It is the Kingdom built upon faith in God, service, and love for others, even to the point of sacrifice. When we were baptized, we become the members of this Kingdom, and in fact, we are transformed into the children of God, calling Him as our Father. However, despite being heirs to the Kingdom, we are not princes, lords or generals. We are servants and lovers. The higher our positions in the Kingdom, the more love and service we shall render. That is why the priests do not have wives, because they are busy serving the people! No wonder St. John of the Cross would say, “in the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human success, but rather on how much we have loved.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Kerajaan Allah

Minggu Ketiga pada Masa Biasa [A]

26 Januari 2020

Matius 4: 12-17

giving waterSetelah penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Yesus meninggalkan Nazaret, kampung halamannya, dan pindah ke kota yang lebih ramai dan lebih besar, Kapernaum. Sebenarnya, Yesus melakukan urbanisasi. Langkah strategis Yesus ini tentu saja untuk mendukung misi-Nya. Dengan populasi yang padat dan dengan akses yang lebih baik ke kota-kota lain, Yesus dapat melayani lebih banyak orang dengan cara yang lebih efisien.

Namun, pergerakan Yesus dari Nazareth ke Kapernaum bukan hanya tentang strategi marketing. Yesus menggenapi nubuat Yesaya. “Tanah Zebulon dan negeri Naphtali … orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar …” Banyak dari kita tidak tahu apa itu Zebulon dan Naphtali, dan kita cenderung melewati ayat-ayat ini. Namun, untuk orang Yahudi abad pertama, nubuat ini sangat penting karena Allah akan mengumpulkan dua belas suku Israel yang hilang, dan membangun kembali Kerajaan Israel.

Mari kita lihat kembali ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Tuhan berjanji bahwa takhta Daud akan bertahan selamanya, namun setelah masa pemerintahan Salomon, putra Daud, kerajaan Daud terjadi perang saudara dan terpecah menjadi dua. Setelah beberapa ratus tahun, kedua kerajaan ini, satu per satu, dihancurkan oleh musuh. Kedua belas suku Israel itu tersebar di antara bangsa-bangsa lain. Di antara suku-suku Israel, hanya Yehuda dan Benyamin yang dapat kembali ke tanah Israel, sementara sisanya hilang. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus tahu betul bahwa salah satu misi Mesias yang dinantikan adalah memulihkan Kerajaan dan mengumpulkan suku-suku Yehuda yang hilang.

Yesus, sang Mesias, memang datang untuk memenuhi harapan ini, dan tidak heran jika hal pertama yang Dia lakukan adalah memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan ini disebut sebagai Kerajaan Allah karena Kerajaan ini dijanjikan oleh Allah, dibangun oleh Allah, dan diperintah oleh Allah. Ini adalah kerajaan Daud yang dipulihkan, dan jauh lebih besar dari kerajaan Daud yang pertama.

Namun, ada perbedaan mendasar antara kerajaan Daud dan Yesus. Kerajaan Daud didirikan untuk memerangi musuh-musuh Israel. Kerajaannya dipenuhi bangsawan, jenderal, dan tentara. Kerajaan yang diwarnai oleh persaingan politik, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan kerajaan lain di dunia. Sama seperti serial TV “Game of Thrones”. Dan seperti kerajaan duniawi lainnya, kerajaan Daud pasti akan hancur juga.

Kerajaan Allah pada dasarnya pergi ke arah yang berlawanan. Itu adalah Kerajaan yang dibangun di atas iman kepada Allah, pelayanan dan kasih bagi orang lain, bahkan sampai pada titik pengorbanan. Ketika kita dibaptiskan, kita menjadi anggota Kerajaan ini, dan pada kenyataannya, kita diubah menjadi anak-anak Allah, memanggil Dia sebagai Bapa kita. Namun, meskipun pewaris Kerajaan, kita bukan pangeran, raja atau jenderal. Kita adalah pelayan bagi sesama. Semakin tinggi posisi kita di Kerajaan, semakin banyak kasih dan pelayanan yang akan kita berikan. Itulah sebabnya para romo tidak memiliki istri, karena mereka sibuk melayani orang-orang! Tidak heran St. Yohanes dari Salib akan berkata, “di masa senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas dasar harta duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi lebih pada seberapa besar kita telah mengasihi.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

Let-Mom-Rest(1)A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspects of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love and Hate

23rd Sunday in Ordinary Time [C] – September 8, 2019 – Luke 14:25-33

carrying crossToday we listen to one of Jesus’ hard sayings. If we want to follow Jesus, we need to hate our fathers, mothers, our other siblings, and even our own lives; otherwise we are not worthy of Him [Luk 14:25]. Is Jesus serious? Jesus must be kidding around. NO, he means what he says. So, how are we going to understand this hard saying? Jesus teaches love, mercy, and compassion, and the only thing He hates is a sin. Does Jesus change his mind and now turn to be the promoter of hatred? If we can hate our family, we now hate practically everyone. Is this what Jesus intending to say?

To answer this hard question, we need to comprehend also the broader context. Jesus is journeying towards Jerusalem, and He knows well what awaits Him in this city: crucifixion and death. There are crowds following Jesus because Jesus is a popular public figure. Many want to be healed, others wish to see Jesus’s miracles, and the rest just like to listen to His authoritative teachings. This is the crowd mentality: following something or someone because of our selfish interest. This is not true discipleship. This is entertainment.

Jesus understands this too well, and He needs to rebuke them that following Him is not entertainment. He makes them decide whether to remain as a crowd or to become disciples, to leave or to walk in His way of the cross. Yet, this kind of decision is only possible when we are not attached to things and persons we hold dear. We cannot carry our cross unless we are ready to give up our lives.

The question remains, though, is Jesus promoting hatred? One of Jesus’ favorite style in preaching is hyperbole, or to exaggerate to emphasize a point. For example, Jesus once says, “And if your eye causes you to sin, tear it out and throw it away [Matt. 18:9]” Of course, Jesus does not literally demand us to plug our eyes out, but He strongly underlines the severe consequences of sin. Thus, when Jesus speaks that we need to “hate” our parents and our lives, Jesus does not mean to promote hatred and violence. Jesus powerfully reminds the people that unless they love Jesus above all, we are not worthy to be His followers.

This has tremendous implications in our lives. Yes, we need to love our family, but we should love Jesus first, or we should love our parents in Jesus. It is just natural to cling to life, but this life only has true meaning when it is offered to Jesus. In marriage, the couple should love each other, but unless they love Jesus first, the marriage will simply be a social contract. It is the duty of the husband to lead his wife to love Jesus and the wife to follow Jesus together with her husband. It is also the primary duty of parents to teach their children to love God and His Law.

Jesus surely loves His mother, Mary and respect his foster father, Joseph, but it is clear to Jesus that His love for them is rooted and directed to His Father in heaven. It is true discipleship, that unless we hate our lives and everything else, we are not worthy of Him.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Cinta dan Benci

Minggu ke-23 dalam Waktu Biasa [C] – 8 September 2019 – Lukas 14: 25-33

carrying cross 2Hari ini kita mendengarkan salah satu ucapan keras Yesus. Jika kita ingin mengikuti Yesus, kita perlu membenci ayah, ibu, saudara kita, dan bahkan hidup kita sendiri; kalau tidak, kita tidak layak bagi-Nya [Luk 14:25]. Apakah Yesus serius? Yesus pasti bercanda!? TIDAK, Dia tidak bercanda dan sungguh-sungguh dengan apa yang Dia katakan. Jadi, bagaimana kita bisa memahami perkataan yang sulit ini? Yesus mengajarkan cinta kasih, belas kasihan, dan pengampunan, dan satu-satunya hal yang Ia benci adalah dosa. Apakah Yesus berubah pikiran dan sekarang berubah menjadi provokator kebencian? Jika kita bisa membenci keluarga kita, kita sekarang bisa membenci semua orang. Apakah ini yang ingin dikatakan Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan sulit ini, kita perlu memahami juga konteks perkataan-Nya yang lebih luas. Yesus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem, dan Dia tahu benar apa yang menanti-Nya di kota ini: penyaliban dan kematian. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus karena Yesus adalah public figure yang sangat populer. Banyak yang ingin disembuhkan, yang lain ingin melihat mukjizat Yesus, dan sisanya hanya ingin mendengarkan ajaran-Nya yang penuh kuasa. Ini adalah mentalitas kerumunan: mengikuti sesuatu atau seseorang karena kepentingan egois kita. Ini bukan murid-murid sejati. Ini adalah hiburan.

Yesus memahami hal ini dengan baik, dan Dia perlu menegur mereka bahwa mengikuti-Nya bukanlah hiburan. Dia membuat mereka memutuskan apakah akan tetap sebagai kerumunan atau menjadi murid, untuk pergi atau berjalan di jalan salib-Nya. Namun, keputusan semacam ini hanya mungkin terjadi ketika kita tidak terikat pada hal-hal dan orang yang kita sayangi. Kita tidak dapat memikul salib kita kecuali kita siap untuk menyerahkan hidup kita.

Pertanyaannya tetap, apakah Yesus mempromosikan kebencian? Salah satu gaya favorit Yesus dalam berkhotbah adalah hiperbola, atau melebih-lebihkan untuk menekankan suatu hal. Sebagai contoh, Yesus pernah berkata, “jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. [Mat. 18: 9] ” Tentu saja, Yesus tidak secara harfiah menuntut kita untuk mencabut mata kita, tetapi Dia dengan kuat menggarisbawahi konsekuensi menyedihkan dari dosa. Jadi, ketika Yesus berbicara bahwa kita perlu “membenci” orang tua kita dan hidup kita, Yesus tidak bermaksud untuk mempromosikan kebencian dan kekerasan. Yesus dengan kuat mengingatkan orang-orang bahwa kecuali mereka mencintai Yesus di atas segalanya, kita tidak layak menjadi pengikut-Nya.

Ini memiliki implikasi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Ya, kita perlu mencintai keluarga kita, tetapi kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, atau kita harus mengasihi orang tua kita di dalam Yesus. Adalah wajar untuk berpegang teguh pada kehidupan, tetapi kehidupan ini hanya memiliki makna yang sebenarnya ketika ditawarkan kepada Yesus. Dalam pernikahan, pasangan harus saling mencintai, tetapi kecuali mereka mencintai Yesus terlebih dahulu, pernikahan itu hanya akan menjadi kontrak sosial. Adalah tugas suami untuk memimpin istrinya untuk mengasihi Yesus dan istri untuk mengikuti Yesus bersama suaminya. Adalah juga tugas utama orang tua untuk mengajar anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan Hukum-Nya.

Yesus pasti mencintai ibu-Nya, Maria dan menghormati ayah angkatnya, Yusuf, tetapi jelas bagi Yesus bahwa kasih-Nya bagi mereka berakar dan diarahkan kepada Bapa-Nya di surga. Adalah murid yang sejati yang mau membenci hidup kita dan segala hal lainnya demi Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Inevitable

Ascension of Jesus Christ [June 2, 2019] Luke24:46-53

goodbyeIf you are a fan of Marvel universe movies, you will easily remember Thanos, the primary villain with twisted moral conviction. After he swept half of the living beings in the universe with the power of the infinity stones, he went into hiding. Yet, the Avenger found him and forced him to restore the world, but he said it was no longer possible because he has destroyed the stones, because what he did was inevitable, and he said, “I am inevitable”.

Thanos’ words echo the message of Jesus in today’s Gospel that any human relation will find its end. Separation is inevitable. Yet, it is natural for us that we do not want to be separated from our loved ones in life. Every separation surely will bring pain and anguish. I still remember when I needed to enter a seminary, and I had to be separated from my mother for good. My mother cried, and I shed some tears, too, but I guess my father was happy that I am leaving!

Thus, we can imagine that when Jesus is going up to heaven, and He will be no longer with the disciples, they are grief-stricken and full of anxiety. They would ask each other, what’s next? They are going to lose their Master, their hope, their expected Messiah and King. Yet, Jesus said that He is leaving for their own good.

Yes, separation can be painful and fearful, but Jesus assures us that separation is part of life, and it is good for us.

We take an example of my mother. Had my mother refused to let me go, I would not have been a priest and served you here in this celebration. Or another example, a mother who is pregnant. We know that she loves her baby, but she must let her baby go from her womb and let the baby breathe using his own lungs. Otherwise, the baby and the mother will both die. The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good.

Separation can also mean allowing our loved ones to face life’s adversities and pain. After I entered the seminary, my life did not get any comfortable, yet it went in the opposite direction. No more mother to wake me up, no more father to bring me to school or help in my assignment. But what does not kill you, builds you up. Often, we love so much our children, and we want to shield them from life’s trials and pain, but it may backfire. It may create a soft generation with deadly entitlement mentality: children who believe that they are entitled to the privileges of life, people who too quickly complain about life.

Jesus understands this, and He leaves disciples so that the disciples may grow and bear fruits. Jesus knows that He will stay and protect them; they will remain a group of crying men. After Jesus left, life did not get any easier for the disciples. Eleven out of twelve were martyred. Other Jesus’ followers shared the same lot. Yet, through adversaries, they grew and flourished.  True enough, after two thousand years, the Church Jesus founded, has become the biggest community in the world with more than 1/3 of the earth’s population as its members.

The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good and even fruitful.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Requirement of Love

Sixth Sunday of Easter [May 26, 2019] John 14:23-29

“Whoever loves me will keep my word… (Jn. 14:23)”

adult and child hands holiding red heart, health care love and family concept

The basic form of love is obedience, and the minimum of love is to obey the Law. We can say “I love you”, but do not do what we ought to do as a lover. That’s a plain lie. A man asked a priest whether it is ok to say “I love you” during the Lenten season, especially during the days of fasting and abstinence. The priest immediately replied that it was a violation of God’s Law. The answer shocked the young man, and he asked why. The priest answered, “It is a violation because surely you tell a lie to your girlfriend!”

When we say that we love someone, but we fail to do what is required, we just hurt ourselves and the persons we love. When a child loves his mother, he will follow the instructions coming from his mother even though he does not understand why. Yet, sometimes, a child gets stubborn and refuses his mother’s plea to stop playing outside because it is time for study. This hurts the mother and father who have worked hard to pay the education and long for a better future for their son. In the long run, it also hurts the child and his future.

The same with our love for God, we need to do at least the basic, to observe His Law. From the Old Testament, we have ten commandments. We cannot say that we love the Lord, but we put our faith also in other “gods and idols”. We profess only one and true God, but we also believe in Horoscope, Feng Shui, and superstitions. We go to the Church every Sunday, but in our houses, we collect all kind of statues of animals for charm and luck. We believe in God who is just, but we steal the money or things from the government or the companies.

In the New Testament, we have the New Commandment: love one another as Jesus has loved us. Unfortunately, what we say is different from what we do. We attend the prayer meeting and shout to the top of our voices that we love Jesus, but we still are not able to forgive our enemies and still wish that they be dead. We pray the rosary regularly, but we do not even care for our ageing mothers at home. We say that we condemn the killing of the babies in other countries, but we get easily angry and make our wives as punching bags.

When we say that we love the Lord, but we do not keep His commandment, it hurts God’s heart. Perhaps, it is more hurtful than people who never say love at all to God. We can learn from our brothers and sisters who lived when the Church was still very young. Living in a hostile Roman Empire, they acknowledged that they were Christians means capital punishment. They were a good and a law-abiding citizen of Rome, except for one thing: they refused to worship Caesar. The Roman government believed that the unifying factor of the vast and diverse empire was the cult of the emperor as the embodiment of the Roman spirit. Any Roman citizen was required to offer incense and proclaimed, “Hail, Caesar is Lord.” Then, they may worship their other gods. Christians refused to do this because they loved Jesus dearly as their God, and as proof of their love, they were ready to offer their own lives.

It is the same with us. God loves us immensely that every time we do not observe His Law, we hurt God and make Him jealous. If we cannot do the essential requirement of love, our words are empty and our love cheap.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP