Kekudusan dalam Keagungan

Renungan untuk Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [22 September 2018] Markus 9: 30-37

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

ordination 2Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [daikon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.

Tetapi, ada juga berita yang tidak begitu baik. Saat ini, Gereja juga menghadapi krisis yang mendalam. Di banyak negara dan tempat, para klerus dan biarawan, terlibat dalam skandal dan hal-hal yang memalukan. Salah satu yang terburuk adalah pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur yang dilakukan oleh beberapa imam dan bahkan uskup, dan ada usaha untuk menutup-nutupi hal ini sehingga kejahatan struktural ini berkembang subur. Namun, ini bukan satu-satunya hal yang mengganggu Gereja. Beberapa klerus tidak jujur ​​dan memiliki kehidupan ganda. Beberapa diam-diam memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa mungkin tidak melakukan skandal apa pun, tetapi kurang berbelas kasih dan tidak miliki semangat dalam melayani umat Allah. Banyak cerita yang beredar tentang pastor yang menolak untuk mendengar pengakuan dosa atau mengurapi orang yang sakit karena mereka memprioritaskan hobi mereka atau para biarawan yang gampang marah terhadap orang lain. Sikap-sikap ini hanya membuat umat menjauh dari Gereja.

Injil kita Minggu ini berkisah tentang Yesus yang mengajar para murid, yang kemudian akan menjadi pemimpin Gereja perdana. Injil ini sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian yang akan datang di Yerusalem. Di sini, para murid hanya terdiam. Mungkin, memori akan Yesus yang menegur Petrus dan memanggilnya “Setan” masih segar di pikiran para murid dan tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pemalukan yang sama. Bagian kedua dari Injil berbicara tentang tema kebesaran dan kepemimpinan. Kali ini, para murid memiliki reaksi yang berbeda. Tidak hanya mereka yang memulai diskusi, tetapi mereka juga dengan penuh semangat berdebat di antara mereka sendiri. Kita dapat membayangkan Petrus membanggakan dirinya sebagai pemimpin di antara para rasul, atau Yohanes mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah yang paling dekat dengan Yesus, atau Matius bangga akan kekayaannya. Bagaimanapun, mereka adalah Paus pertama dan para uskup pertama kita. Namun, ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sekali lagi terdiam.

Para rasul sepertinya lupa bahwa murid-murid Yesus yang sejati harus memikul salib mereka dan mengikuti Yesus ke Yerusalem. Namun, Yesus memahami bahwa keinginan manusia untuk menjadi yang terbaik adalah karunia dari Allah juga. Yesus tidak melarang rasul-rasul-Nya untuk bermimpi dan berusaha untuk mencapai kebesaran, tetapi Dia membuat perubahan radikal. Dia mengarahkan energi yang kuat ini dari sekedar untuk mencapai kepentingan pribadi, berubah menjadi untuk melayani orang lain. Lalu, Yesus pun berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Memang, mereka perlu menjadi unggul, tetapi tidak dala ukuran duniawi, tetapi dalam melayani dan memberdayakan sesama.

 Dalam dokumen terbarunya, Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus berbiacara tentang “Logika Salib.” Kebahagiaan sejati adalah sebuah paradoks. Jika para klerus, biarawan dan kita semua ingin bahagia, bukanlah kejayaan dan kesuksesan duniawi yang kita kejar, tetapi pelayanan dan pengorbanan kita untuk orang lain.

Kita terus berdoa bagi para imam dan uskup kita, serta para biarawan. Kita berdoa tidak hanya agar mereka dapat menghindari dosa, tetapi mereka mungkin menjadi kudus. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihidupi sampai penuh.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tradition

Twenty Second Sunday in Ordinary Time [September 2, 2018] Mark 7:1-8, 14-15, 21-23

“You disregard God’s commandment but cling to human tradition.” (Mk. 7:8)

mano poIn today’s Gospel, Jesus seems to denounce all traditions. However, this position is rather simplistic and unattainable. The reason is that human beings are the creatures of traditions. Tradition comes from Latin word, “tradere”, meaning “to hand down”. Thus, crudely put, tradition is anything that has been handed down from our predecessors. Traditions range from something tangible like technologies and fashions, to something intangible like values, languages, sciences and many more. I remember how my mother taught me basic Christian prayers, like Our Father, Hail Mary, and the Rosary, and how my father would regularly bring us to the Church every Sunday. This is my family’s religious traditions. As an Indonesian living in the Philippines, I appreciate the “Mano Po” tradition among the Filipinos. This is a simple gesture of respect and blessing. The younger Filipinos are to hold a hand of older Filipino, and place it on their forehead.

Had Jesus renounced all the traditions, He should have stopped speaking Aramaic, refrained from teaching the people, begun removing all His Jewish clothes, and walking naked! Yet, Jesus did not do those things. Jesus respects traditions and acknowledges their importance. However, Jesus also recognizes that there are some traditions that are problematic and bring more problems rather than solutions. Immersed in the stream of traditions, Jesus invites us to discern well on what traditions that bring us true worship of God and genuine progress for human society.

Going back to the time of Jesus, the Jews are particular with ritual purity because they can only worship God when they are ritually clean. In view of this worship, they carefully avoid contamination from blood, dead body and unclean animals, or any objects that are in contact with these things. Since they are not sure whether their hands and utensils are ritually clean, especially if they come from the marketplace or the fields, they make it a habit to purify their hands and utensils to evade contamination from uncleanliness. Thus, various purification rituals develop into traditions for the Jews. The intention of these traditions is good because they assist people to worship God. However, some of the Pharisees put excessive emphasis on these traditions and make them absolute as if failure to observe these rituals means they fail to revere God. They confuse between the genuine worship that brings true honor for God, and other traditional practices that assist people in achieving this worship.

Jesus does not only invite us to discern carefully various traditions we have, but Jesus also offers us a more fundamental tradition in worshiping God. Instead of “handing down” practices or things, Jesus hands down something most important, namely His own life for God and us. Jesus gives up His Body and Blood, His total self, in the Last Supper, and this sacrifice reaches its summit at the Cross. His self-offering becomes the most pleasing worship to God, and procures the gift of salvation for all of us. Because of His Tradition, the world is no longer the same. Jesus hands over this great Tradition to His Disciples and throughout the generations, the Christians are faithfully offering this sacrifice of Jesus Christ in the Eucharist. As we partake Jesus’ self-offering, we are also empowered to hand down ourselves to others. This means we are invited to make our daily sacrifices, to persevere in doing good, and to be faithful to our commitments either as spouse, parents, priests, religious, or professionals. As we live this greatest tradition daily, we do not only make the world a better place, but to offer a pleasing worship to God.

Br. Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Tradisi

Minggu ke-22 pada Masa Biasa [2 September 2018] Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

burning candleDalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam arus tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

The Death of Priesthood

(a reflection of a religious brother for three Filipino priests who recently martyred)

June 17, 2018

paez ventura niloThe Catholic Church in the Philippines is once again in profound grief after one of her priests was mercilessly murdered. Fr. Richmond Nilo, from the diocese of Cabanatuan was shot several times just before he celebrated the mass at a chapel in Zaragoza, Nueva Ecija. His body was laying on the floor at the foot of the image of Blessed Virgin, soaked with blood. Another disturbing and painful image. He becomes the third priest losing his life in a bloody attack in the past six months. On December 4, 2017, Fr. Marcelito Paez was ambushed in Jean, Nueva Ecija. Just a few weeks ago on April 29, Fr. Mark Ventura was also gunned down moment after celebrating the mass. We may also include Fr. Rey Urmeneta who was attacked by a hit man in Calamba, Laguna. He sustained a bullet in his body, yet he survived death.

Several weeks ago I wrote an emotional reflection on the death of Fr. Ventura (see “A Death of Priest) and I would never hope that I would write another one. Yet, just sometime after the priest was buried without justice being served, Fr. Nilo lost his life in the line of duty. Surely, this is not the first time a priest is killed in the Philippines. The history has witnessed the killing of both Filipino and foreign priests in this land, but to lose three lives in just six months is truly alarming. I was asking myself, “Are we now living in the perilous time for priests? Is to become a priest a dangerous vocation? What’s the point of becoming a priest if it brings nothing but persecution and death?” We have left everything for Christ, our family, our future. Should we give up our lives in this heinous manner as well?

These questions are valid, yet these questions also, I realize, spring from fear. Many priests and even seminarians, myself included, have lived in the comfort of our seminaries, parishes or convents. Provided with readily available basic necessities, with individual rooms, with good-quality education, with other facilities and even amenities, we are actually living as middle-class bachelors. These privileges are meant to make us better and well-formed priests for the service of the people, but getting used to these facilities, we often lose sight of their primary purpose. Our priesthood is called as the ministerial priesthood because the ordained priests are to serve the people of God, but sometimes, the priests end up being served by the people of God. At times, the virus of clericalism and careerism infect our minds. Ordinations and positions in the Church are seen as promotions, career, or prestige. A better position means better perks! If the priesthood is just another way to make us rich, we have lost the priesthood even before we die! The death of a priest is terrible sorrow, but the death of priesthood in our hearts is tragedy!

Bishop Pablo David, DD of Caloocan, Metro Manila, reminds seminarians who are aspiring to become priests, that if the deaths of the priests gave them discouragement, rather than inspiration, it is better for them to forget the priesthood and leave the seminary as soon as they can. Bishop David notes that they are not helpless victims, but rather martyrs that bravely choose to face the dangerous consequence of preaching the Gospel and working for justice.

Since the beginning of Christianity, to become Christians and especially priests are dangerous vocations because we follow Christ in His way of the Cross. Yet, the martyrdom of the three priests turns out to be a shock therapy that wakes us up from our comfortable slumber. It is a call for many of us, seminarians, religious, and priests to ask what the purpose of our priesthood is. Have we died every day to ourselves? Are we ready to give up our lives to God and His people? Are we ready to follow Christ till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kematian Tiga Imam

(refleksi seorang frater atas kematian tiga romo di Filipina)

17 Juni 2018

 

paez ventura niloGereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Rm. Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Rm. Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya yang dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Pablo David, DD dari Caloocan, Metro Manila, mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Body

Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ [June 3, 2018] Mark 14:12-16, 22-26

“Take it; this is my body” (Mk 14:22)

last supper africaWe often take for granted that we are created as a bodily creature. Our body is integral to our humanity and created by God as something good; we receive our body as a gift. We freely receive our body from our parents, and our parents from their parents and this goes on till we discover God as the source of this gift. Because our body is a gift from God, we are called to honor our body as we honor the Giver of the gift Himself.

Since the earliest time, the Church has fought against various false teachings that undermine the integrity and sanctity of the body. Early Christians stoutly defended the goodness of the body against the Gnostic sects that condemned the body as evil, a prison to our soul, and a curse to our existence. The Order of Preachers where I belong was founded for the salvation of souls. Some of my friends complain why we only save the soul and disregard other aspects of our humanity. I remind them that the Order was originally established to counter the Albigensian sect, and one of its basic teachings is that the body is evil, that suicide is a great means to achieve final liberation. To preach and fight for the goodness and integrity of our body is essential to the Dominican preaching, as it is to the Church’s preaching.

Unfortunately, the gnostic teaching grows and takes modern forms. Sanctity of our body is ever compromised as our body is trivialized and even commoditized. Human trafficking is one of the greatest abuses of our body. Young women, mostly from a poor background, are lured into prostitution and turned to be sex objects. Young children are forced to work in inhuman conditions in many countries. Organ harvesting has become most luxurious business involving the countless amount of money. There is a price for every organ we have. In fact, there is a nasty story in the social media of a teenager who sells his kidney to buy the latest model of iPhone. For some people, another additional ‘bodies’ in the wombs are just liabilities and hindrance to self-progress and career development, and thus, it is better to abort these ‘bodies’ before they grow and become bigger problems.

In celebrating the solemnity of the body and blood of Jesus Christ, we are invited through our Gospel reading, to go back to Jesus’ Last Supper. There, Jesus freely offers His body as a gift to His disciples, “Take it, this My body.”  He then asks these disciples to share His body they have received to the future generations of disciples. Jesus receives His body as a gift, and now, in His Supper, He passes this gift so that we may have a life. This is the foundation of the Eucharist, as well as the core of the Christian sexuality.

Husband and wife join together in marriage, and they are no longer “two but one body.” As both spouses face the altar of God, they recognize that their bodies are gifts from God, and by lovingly offering to their spouse, they honor God who created them. We oppose any pre-marital and extra-marital sex because unless our body is given freely and totally in lifetime marriage commitment, we are always exposed to objectify our body. A husband’s or wife’s body is not simply the “property” or object to satisfy sexual, psychological needs, but it is a gift from God that even leads us to a deeper appreciation of our own body. In marriage, husband and wife give their body as a gift to each other in love and honor, so that they may have life more abundantly and in fact, they may welcome a new body, a new life, a new gift, into their marriage.

Married life is one among several ways we may accept and offer our body as a gift. Even a celibate life dedicated to service of others is another way to offer our body as a gift. Like Jesus in the Last Supper, it is only by receiving our body as a gift and freely sharing it as a gift that we may have meaningful lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh

Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus [3 Juni 2018] Markus 14: 12-16, 22-26

“Ambil; inilah tubuhku ”(Markus 14:22)

african-last-supper-lukandwa-dominicTubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.

Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.

Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.

Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.

Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.

Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Holy Spirit of Pentecost

Pentecost Sunday [May 20, 2018] Jn 20:19-23

“We hear them speaking in our own tongues of the mighty acts of God (Acts 2:11)”

small candle
picture by Harry Setianto SJ

Just a week ago, three churches in Surabaya, Indonesia were attacked by suicide bombers.  Fear immediately seized me knowing the bombing sites were not far from our Dominican community. Some of my good friends were from Surabaya, and they might have been harmed by the senseless explosions. I was somehow able to breathe upon knowing that they were safe, but part of my heart remained deeply hurt because many people, Christians and Moslems, police officers, ordinary citizen, and even children, died and were wounded. These were people with their hopes and dreams, their stories and faith, with family and friends. Yet, the brutal attacks instantly destroyed all. As we are now celebrating the Pentecost, we may ask ourselves: What does it mean to celebrate the outpouring of the Holy Spirit in a world chocked by fear and violence? How do we call ourselves the hopeful Pentecost People in the midst of persecution and death?

 

On the day of Pentecost, the Holy Spirit does appear in the form of the tongues of fire and rests on each apostle and disciple. They are filled with the Holy Spirit and begin to speak different languages and to proclaim the mighty acts of God to people coming from many nations. From the story, we discover that people from different languages and nations are able to understand, and begin to be one community as they listen to the mighty acts of God. Thus, the mission of the Holy Spirit is to become the principle of connection and unity among people separated by many walls and divisions.

We are coming from different languages, culture, and nations, having diverse upbringings, characters, and value system. We possess different convictions, beliefs, and faith. It is the work of the devil to sow the seed of fear and lies, and with so much fear and misconceptions of the others, it is easier to build higher fences and dig deeper trenches. These are the roots of fundamentalism and radicalism that kills rather than heals.

The Holy Spirit pushes us to go out from ourselves and reach to the others. If we are created in the image of the Holy Trinity, and if the Trinity is three unique divine persons living in the unity of love, we are designed to be unique individuals and yet we are also made as a person with others and for others. The Holy Spirit is like a mother eagle that when the right time comes, will throw its young brood from the cliff and let them learn how to fly gracefully like a mature eagles.

Hours after the bombing, people also flooded the hospitals where the terror victims were treated and offered themselves to be blood donors for the victims. One remarks that blood knows no ethnicity, religion or nation; it only knows type O, A, B or AB! The Holy Spirit works against the work of the devil, the father of lies. Thus, the Holy Spirit empowers us to proclaim the truth and the mighty acts of God. Minutes after the bombing, the social media was flooded by a graphic picture of people killed as to spread fear, but then the Indonesian netizens refused to share further the fear and began to place in their social media accounts hashtag #wearenotafraid.

The heroic stories also emerge. There is Aloysius Bayu, a parish volunteer, who died in the explosion. Had he not stopped the terrorists who tried to enter the church premises, countless people could have died that day. His death does not only end his life but also scatters the life of a woman who expects his husband to come home and a little baby who needs her father. Yet, it is not without hope. It succumbs to fear or anger, Bayu’s friends see his death as a sacrifice that leads to a new hope. One of his friends remarks, “We must not stop going to the Church because of fear. If we stop, Bayu would have died for nothing.” The Holy Spirit does not blind us to the harsh and ugly world we have, but the Holy Spirit empowers us to be brave and work for better future of this world.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Kudus Pentekosta

Hari Raya Pantekosta [20 Mei 2018] Yohanes 20: 19-23

“kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

kami tidak takutSeminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahaw darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

 Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Dari pada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja karena takut. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia. ” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter [April 22, 2018] Jn 10:11-18

“I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep. (Jn. 10:11)”

good shepherd
photo by Harri Setianto, SJ

The Bible itself is filled with the good shepherd image. My personal favorite among the psalms is Psalm 23, The LORD is my shepherd; there is nothing I lack.”  Prophet Isaiah who consoles the Israelites in Babylonian Exile, speaks of God who is like a shepherd who gathers back the lost sheep and brings them back home from the land of exile (Isaiah 40:11) Some great leaders of Israel are shepherds. Moses is tending to his father-in-law flocks when he is called by God in the burning bush (Exo 3). David also is taking care of his father’s sheep when Samuel comes and anoints him king (1 Sam 16).  No wonder, Jesus takes the image of Himself and introduces Himself as the Good Shepherd.

 

 From today’s Gospel, we can learn several characters of a good shepherd. Firstly, Jesus distinguishes between the Good Shepherd and the bad shepherds. The good shepherd owns the flocks and is responsible for their lives. Meanwhile, those bad shepherds do not own the sheep, and they work primarily for the money, not for the sheep. That is why when the danger comes from the predators’ attack or the thieves’ ambush; the hired workers would run and save their own lives rather than to protect their sheep. The prophet Jeremiah criticizes the corrupt and abusive leaders of Israel during his time as he prophesies, “Woe to the shepherds who destroy and scatter the flock of my pasture (Jer 23:1).”

The second character of a good shepherd is he knows well his sheep and call them by name. I used to think that “calling sheep by name” is just exaggerated metaphorical language to show shepherd care to his sheep, but later on, I discover “calling by name” actually literally happens. The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’ Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd and will listen whenever he calls them. It reminds me of our pet-dog in our house. Our family calls it “cipluk,” and my mother and young brother take good care of it. Thus, every time my mother or brother calls its name, cipluk hastens to approach them. Yet, every time I go home and try to call its name, cipluk just won’t give any attention!

The third and more important character is the good shepherd will lay down his life for his sheep. This character seems to be an exaggeration. Why would you die for your sheep? If we recognize that the shepherd has a strong bond with his sheep and takes good care of them, he will have no second thought in defending his sheep from that attack of dangerous predators and robbers. At times, the robbers simply outnumber the shepherd and mercilessly beat the courageous shepherd to the death. The shepherd literally lays down his life for the sheep. This is not uncommon happening in the time of Jesus in Palestine, and in fact, still happening in our time in some parts of the world.

To have the Good Shepherd as our Lord means that we belong to God intimately for better and for worse. He knows each one of us personally, and He will not abandon us when our lives face serious problems and dangers. He will not only care for us as long as we produce “wool,” but He continues to love us even we have not been good sheep. In fact, Jesus lays down His life on the cross, so that we, His sheep, may have life, a life to the fullest. Have we become a good sheep? Do we recognize His voice? Do we listen to Him? Do we truly follow Him?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP