Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, Darah para martir adalah benih umat Kristiani.

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Blood and Life

Solemnity of the Body and Blood of Christ. May 29, 2016. [Luke 9:11-17]

“His cup is the new covenant in my blood. Do this, as often as you drink it, in remembrance of me (1 Cor 11:25).”

chalice n hostOne of my personal ministries is to be a blood donor. If ever someone needs a blood transfusion, I do my best to donate my blood and if possible, visit the ailing person. In biology, we learn that blood is a crucial element of our body that transports nutrition and oxygen to various body parts and also fight the harmful elements inside our body. Thus, losing too much blood will bring us to critical condition even death. No wonder that blood is closely associated with life and I hope that a little blood I share, may save lives.

In time of Jesus, the understanding on blood is not actually far different from our contemporary time. The ancient Jews considered blood as the source of life, if not life itself. Perhaps, they were able to observe that many living things have blood running in their veins and if they were losing so much blood, it means a certain death. Since every living being comes from God, then blood, as the source of life, must be sacred and belong to God (cf. Deu 12:23). Therefore, shading a person’s blood is forbidden (Gen 9:6). Drinking blood of animal is also not allowed (Lev 7:27). But, the sacredness of blood is profoundly manifested at the Jewish rituals.

Blood of an animal is important element of the sacrificial rituals in the Temple of Jerusalem. After the blood is separated from the body, it is poured out around the altar and being burned together with the flesh (cf. Lev 1). The burn sacrifice mainly serves two purposes: as thanksgiving and atonement for sin. Since blood and body are symbols of life and totality of a living creature, the best way to give thanks and atone for one’s mistake is to offer this life totally to God. The Israelites offered their best to God through the mediation of a sacrificial animal.

Unfortunately, blood of animal and even our blood is far from perfect. Thus, perfect thanksgiving and forgiveness is not possible. Yet, we are not hopeless since God provides an answer. He sent His only Son, Jesus Christ, and Jesus offered Himself as the sacrifice of the cross. He is the most pleasing thanksgiving and the perfect atonement for our sins. In his treatise of Corpus Christi, St. Thomas Aquinas wrote, “He offered His body to God the Father on the altar of the cross, as a sacrifice for our reconciliation. He shed His blood for our ransom and purification…” My blood may help saving a person who needs a transfusion, but Jesus’ blood saves the entire creations.

As we drink His blood and eat His body in the Eucharist, our lives are caught in this beautiful offering and sacrifice of Christ. Now, in Christ, our lives are also offerings to God. Every sacrifice we make for God and for the good of others, however small it may be, will be pleasing to God and contribute in the salvation of the world. Our simple prayer may have a great impact for souls in purgatory. Our little contribution in Church may help greatly the parish priest and the poor. Even our daily waking up and works at the office may seem to be monotonous and fruitless, but they may help in building a just society. Our blood, our life is not perfect, but in Christ, it becomes precious. As a psalmist once sang, “From extortion and violence he frees them, for precious is their blood in his sight (Ps 72:14).

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Darah dan Hidup

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. May 29, 2016 [Lukas 9: 11-17]

“Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (1 Kor 11:25).”

chalice ihsSalah satu pelayanan pribadi saya adalah menjadi donor darah. Jika ada seseorang yang membutuhkan transfusi darah, saya berusaha untuk donorkan darah saya dan jika mungkin, mengunjungi orang sakit tersebut. Dalam biologi, kita belajar bahwa darah merupakan elemen penting dari tubuh kita yang membawa nutrisi dan oksigen ke berbagai bagian tubuh dan juga melawan elemen-elemen berbahaya di dalam tubuh kita. Dengan demikian, kehilangan terlalu banyak darah akan membawa kita ke kondisi kritis bahkan kematian. Tidak heran jika darah berterkaitan erat dengan kehidupan, dan saya berharap bahwa sedikit darah yang saya donorkan, bisa menyelamatkan orang lain.

Pada zaman Yesus, pemahaman tentang darah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan masa kontemporer. Orang-orang Yahudi kuno menganggap darah sebagai sumber kehidupan, bahkan sebagai kehidupan itu sendiri. Mungkin, mereka mampu mengamati bahwa banyak makhluk hidup memiliki darah, dan jika mereka kehilangan begitu banyak darah, itu berarti kematian. Karena setiap makhluk hidup berasal dari Tuhan, maka darah, sebagai sumber kehidupan, tentulah kudus dan menjadi milik Allah (lih. Ul 12:23). Oleh karena itu, menumpahkan darah seseorang adalah terlarang (Kej 9: 6). Meminum darah binatang juga tidak diperbolehkan (Im 7:27). Tapi, kekudusan darah terwujud secara mendalam pada ritual keagamaan bangsa Yahudi.

Darah binatang adalah elemen penting dari ritual pengorbanan di Kuil Yerusalem. Setelah darah dipisahkan dari tubuh, darah dicurahkan di sekitar altar dan dibakar bersama-sama dengan daging (lih. Im 1). Korban bakaran memiliki dua tujuan: sebagai ucapan syukur dan penebusan dosa. Karena darah dan tubuh menjadi simbol kehidupan, cara terbaik untuk bersyukur dan menebus kesalahan adalah dengan mempersembahkan kehidupan ini secara total kepada Allah. Israel mempersembahkan yang terbaik untuk Allah melalui perantaraan hewan kurban.

Sayangnya, darah binatang dan bahkan darah kita jauh dari sempurna. Dengan demikian, syukur dan pengampunan yang sempurna tidak mungkin tercapai. Namun, kita tidak putus asa karena Tuhan memberikan solusi. Dia mengikirim Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus, dan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban di salib. Dia adalah rasa syukur yang paling baik dan penebusan yang sempurna untuk dosa-dosa kita. Di tulisannya tentang Corpus Christi, St. Thomas Aquinas menulis, “Dia mempersembahkan tubuh-Nya kepada Allah Bapa di atas altar salib, sebagai korban untuk rekonsiliasi kita. Ia mencurahkan darah-Nya bagi tebusan dan pemurnian kita …Darah saya mungkin bisa membantu menyelamatkan orang yang membutuhkan transfusi, tapi hanya darah Yesus yang dapat menyelamatkan seluruh dunia.

Saat kita meminum darah-Nya dan makan tubuh-Nya dalam Ekaristi, hidup kita terjaring dalam persembahan dan pengorbanan Kristus yang indah. Sekarang, di dalam Kristus, hidup kita menjadi persembahan kepada Tuhan. Setiap pengorbanan, besar atau sederhana, yang kita membuat untuk Allah dan untuk kebaikan sesama, akan menyenangkan Tuhan dan berkontribusi dalam keselamatan dunia. Doa sederhana kita mungkin memiliki dampak yang besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Kontribusi kecil kita di Gereja dapat sangat membantu pastor paroki dan papa miskin. Bahkan usaha kita untuk bangun dan bekerja di kantor setiap harinya mungkin terasa monoton dan sia-sia, tetapi ini dapat membantu dalam membangun masyarakat yang adil. Darah kita, hidup kita tidaklah sempurna, tapi dalam Kristus, menjadi berharga. Sebagai pemazmur bernyanyi, Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka berharga di matanya (Mzm 72:14).

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Love Transforms

Sixth Sunday of Easter. May 1, 2016 [John 14:23-29]

“Whoever loves me will keep my word, and my Father will love him, and we will come to him and make our dwelling with him (Jn 14:23).”

god love never failsOne day, I had an opportunity to converse with one of our security personnel at our convent of Santo Domingo. I asked him if he sees God, what question would he ask of God? His answer went beyond my expectation. In Filipino, he would say, ‘Panginoon, Mahal mo ba ako?’ [Lord, do you love?] Surprised by his question, I inquired further, ‘Why that question?’ He replied in Filipino, ‘Brother, I am poor person with a lot of problems. Sometimes, I don’t really feel His presence and love.’ I realized that his question is not only single isolated case, but question of many people.

At times, we are asking the good Lord, why is life full of suffering and problems despite our faithfulness to God. We attend mass every Sunday, we pray the rosary everyday, and we never fail to be good Catholics, yet our lives seems never getting better. We continue to face many problems, from financial problems, health issues to relationship brokenness. We then ask God, ‘Lord, do you love me?’

The Gospel constantly tells us that God loves us. But, often we do not see how God loves us. Why? Because we expect a different kind of love. We expect that if we are good, we are obeying His rules, then everything will be fine. But, God is not like a spiritual ATM that grants instantly our wishes as we insert correct spiritual card of prayers and place the right spiritual code of living. But rather, God’s love works deep inside us and transforms us into His own love. God is not created in our image, then we need to stop forcing Him to be like us. Our prayers, our good works, and our faithfulness to God does not mean to give us an instant solution to our problems, but they are God’s ways to gradually form us to be like Him.

Jesus’ love did not liberate Israelites from the oppressions of the Roman Empire, nor He give them prosperity that the Jews longed for. His love rather transformed those people around Him to love like God. The disciples, despite their weakness and sufferings, gradually became more and more loving, and finally made a final sacrifice for the love of Jesus and others. Peter, the leader as well the most problematic apostle, denied and ran away from Jesus, but he progressively learned to love like Jesus. When the final moment came, he gave also his life for Christ and the Christians in Rome.

As I bide a goodbye to Manong guard and went back to seminary, I handed him a food I brought from the mall. Upon receiving the food, he said to me, “Can I share this food with some of the poor kids outside the Church?” His gesture astounded me and yet was heartwarming. Being a security guard in Metro Manila, was a dangerous job with little earning, plus so many problems I had to carry, yet his poverty did not prevent him to share a little blessing he had, a little love he received. He questioned the love of God, but he himself never stopped loving others. This simple man has become the embodiment of God’s love for others. The love of God transforms us more and more into His image, and without realizing it, we also have become the embodiment of His love to others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, Panginoon, Mahal mo ba ako? [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, Mengapa pertanyaan itu? Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya. Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A New Commandment: Love

Fifth Sunday of Easter. April 24, 2016 [John 13:31-33a, 34-35]

 “I give you a new commandment: love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).”

love one anotherThe first time God gave His commandment was on the Mount Sinai. To Moses and the Israelites, He made His covenant that He will be their God and they will be His People. And to live as a Holy People, God gave them the Law, famously called the Ten Commandment (Exo 19-20). Then, centuries after Moses, at the Upper Room, in old city Jerusalem, God gave His new commandment. This time, His Law is simpler and yet, more radical than the old one. Jesus handed to them the greatest command: Love one another as He has loved them.

John was called the beloved. Perhaps, it is because he was loved by Jesus in special way, but I believe, it is because among other disciples, John is the one who struggled the most to understand Jesus’ love for him and for all of us. Jesus’ love is extremely puzzling. In the culture of tooth-for-tooth retaliation, to forgive an enemy is unthinkable, but Jesus asked them to forgive them seventy times seven, to love them and pray for them! When society abhorred sinners, tax-collectors, and law-breakers, Jesus welcome them. Yet, He Himself demanded from them to repent and be perfect as the Father is perfect. When He was left alone, tortured and crucified, He manifested His greatest love as He forgave His tormentors. It does not stop there. The risen Lord came back and precisely to renew His love for His scattered and hopeless disciples. John then concluded in his letter, indeed God is love (1 John 4:8). He is not only loving, merciful, and forgiving, but love itself.

Why did God create universe, despite He is actually perfect and self-sufficient? Because Love cannot but share itself. Why did God trouble Himself by taking close care of His creations? Because Love means caring. Why did God make us human in his image? Because lLve begets another love. Why did God give us freedom despite the fact that we tend to abuse this freedom? Because Love cannot be true unless there is freedom.

Love is difficult and indeed, often full of sacrifices. Parents are struggling to understand and caring their teenage kids who are involved in drug addiction. A wife is fighting for her marriage that begins to crumble because of her husband’s secret affair. A parish priest is giving his best effort to educate his parishioners in faith despite so many criticism and misunderstanding against him. The movie Of Gods and Of Man is a true story of a community of French Trappist monks in Algeria, and they were eventually kidnapped and murdered in1996 by the terrorists. In one meeting, they were arguing whether to leave the monastery and the Muslim villagers they served, or stay and face uncertain future. One of the younger monks said to the Prior, “I did not become a monk to die.” And the prior answered back, “But you have already given away your life.” They finally decided to stay and continue to love until the end.

One time, I faced a profound crisis in my vocation. Honestly, I was confused: both to be a lay and a priest are holy and dignified call. Then, my formator would give this precious advice: “Bayu, choose the path that offers you more sufferings, because there, you may love more.” Indeed, love is tough and demanding, but only through loving, we can become the Disciples of Christ, that reflects His very image.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Perintah Baru: Kasih

Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]

 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”

god-is-loveAllah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.

Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.

Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.

Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu  rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.

Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be a Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter. April 17, 2016 [John 10:27-30]

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me (Jn 10:27).”

good shepherdOne of the loveliest images of Jesus is the Good Shepherd. It is even more beautiful when we try to bring ourselves to Palestine in the time of Jesus.  Life as a shepherd is tough and tiresome. Grass was scarce and the sheep constantly wondered. Since there was not protective fence, the shepherd was bound to watch his sheep for all time, otherwise the sheep would go astray. The terrain in Judea was rough and rocky, and these forced the shepherd to exert extra energy. Not only constant, shepherd’s duty was also dangerous. Wild animals, especially wolfs, were ready to attack and devour the meek sheep. Not only wild predators, robbers and thieves were eager to pirate the sheep.

The sheep in Judea were raised primarily for wool. Thus, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knew well each individual sheep, its characters, and even its unique physical features. He would call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears’. Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd. H.V. Morton, a bible scholar, once narrated his encounter with two shepherds who shared the same cave to shelter their flocks at night. How would they sort them out? In the morning, one shepherd stood some distance and simply voiced a peculiar sound. His sheep recognized the sound immediately, and they ran toward him, while the sheep belonged to the other shepherd remained in the cave!

 Good shepherd is a symbol of providential care, sacrifice, and true love. No wonder if ancient Israelites saw God as their shepherd. Psalm 23 is one of the loveliest poems in the bible, describing God as the Good Shepherd. Remember that some great leaders of Israel were actually shepherds. Moses was tending to his father-in-law flocks when he was called by God in the burning bush (Exo 3). David also was taking care of his father’s sheep when Samuel came and anointed him king (1 Sam 16).

Jesus understood this and He took this identity upon himself. Not only any shepherd, He is the Good Shepherd. He knows us individually as unique and precious. He takes care of us constantly, and search us if we go astray. He protects us from any harm and danger. Even He is willing to give up His life just to save us.

Now, we are not merely animals just like any other sheep. We are human being, with intellect and freedom. To be the sheep of Christ takes another profound form. It means that we are also called to become a good shepherd. A priest is a good shepherd to his faithful. A husband or wife is a good shepherd to each other. Parents are good shepherds to their children. Fr. Gerard Timoner, OP, our provincial, once reminded us that ‘brother-shepherding-brother’ should be our spirit of our formation.

Being a good shepherd is never easy, just like Christ, we shall give our all to others. But, only in giving ourselves that our lives finds its meaning. John Maxwell, leadership guru, once said that the success of man is not how many people serve him, but how many people whom he serves. Meanwhile Zig Ziglar, great American inspirational speaker, reminds us that we can get everything in life we want if we help enough people get what they want. Fundamentally, we were created in the image of God, and if our God is the Good Shepherd, we are the image of the Good Shepherd. It is our purpose and mission in life to be a good shepherd and grow our sheep.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Gembala yang Baik

Minggu Paskah Keempat. 17 April 2016 [Yohanes 10: 27-30]

“Domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27).”

pope francis crossSalah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.

Domba di Yudea diternakan terutama untuk wol. Jadi, gembala bisa hidup bersama dengan domba-dombanya untuk bertahun-tahun. Tak heran jika ia tahu baik setiap domba, karakter, dan bahkan fitur fisik mereka yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti si ‘kaki kecil’ atau si ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba menjadi begitu akrab dengan suara gembala. H.V. Morton, seorang sarjana Alkitab,  menceritakan pertemuannya dengan dua gembala yang berbagi gua yang sama untuk melindungi ternak mereka di malam hari. Bagaimana mereka akan memisahkan domba mereka? Di pagi hari, satu gembala berdiri beberapa meter dari gua dan dengan hanya menyuarakan suaranya yang khas, domba-dombanya segera berlari ke arahnya. Sementara domba milik gembala lainnya tetap di gua!

Gembala yang baik adalah simbol dari dedikasi, pengorbanan, dan kasih sejati. Tak heran jika bangsa Israel melihat Tuhan sebagai gembala mereka. Mazmur 23 adalah salah satu puisi terindah di Alkitab, menggambarkan Allah sebagai Gembala yang Baik. Ingat bahwa beberapa pemimpin besar Israel sejatinya adalah gembala. Musa sedang mengembalakan ternak ayah mertuanya saat dia dipanggil oleh Allah dalam semak yang terbakar (Kel 3). David juga sedang mengurus domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia menjadi raja (1 Sam 16).

Yesus memahami hal ini dan Dia mengambil identitas ini pada dirinya sendiri. Tidak hanya gembala biasa, Dia adalah Gembala yang Baik. Dia mengenal kita sebagai pribadi unik dan berharga. Dia merawat kita, dan mencari kita jika kita tersesat. Ia melindungi kita dari berbagai bahaya. Bahkan Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Sekarang, kita bukanlah domba biasa. Kita adalah manusia, dengan kecerdasan dan kehendak bebas. Maka, untuk menjadi domba Kristus, kita perlu menjadi sesuatu yang lebih. Ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi gembala yang baik. Seorang imam adalah gembala yang baik untuk umatnya. Seorang suami atau istri adalah gembala yang baik bagi pasangannya. Orang tua adalah gembala yang baik bagi anak-anak mereka. Fr. Gerard Timoner, OP, provinsi kita, pernah mengingatkan kita bahwa ‘saudara-penggembalaan-saudara’ harus semangat kita formasi kita.

Menjadi seorang gembala yang baik tidak pernah mudah. Seperti Kristus, kita akan memberikan diri kita secara total kepada orang lain. Tapi, hanya dalam  pemberian total, hidup kita menemukan maknanya. John Maxwell, guru kepemimpinan, pernah berkata bahwa keberhasilan manusia tidak berdasarkan berapa banyak orang melayaninya, tapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Sementara, Zig Ziglar, pembicara inspirasional besar Amerika, mengingatkan kita bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu kita inginkan di dalam hidup jika kita cukup membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya, kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Gembala Baik, kita adalah citra Gembala yang Baik. Maka, tujuan dan misi dalam hidup kita addalah menjadi gembala yang baik dan merawat domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seeing the Empty Tomb

Easter Sunday. March 27, 2016 [John 20:1-9]

 “Then the other disciple, whom Jesus loved, also went in, the one who had arrived at the tomb first, and he saw and believed (John 20:8).”

empty-tombWhat do you see inside the empty tomb? Seeing the empty tomb, Mary Magdalene was at lost, terrified and confused. Where is Jesus? Is He moved to the other tomb? Is someone stealing His Body? Peter, the leader of the apostles, did not understand the empty tomb and went home puzzled. All things were so depressing. Jesus was betrayed, denied, tortured, crucified and now he is missing!

Once he was a charismatic preacher, but then, he was dead. Once he was an inspirational leader, but then he was buried. Once he was welcome as a king and Messiah, then He was crucified by the people who welcome Him. Even the tomb where his body rested, was not spared from this cruelty. All expectations were shattered, all dreams were put off, and it was just empty and dark, just like the empty tomb.

When everything seems so absurd and hopeless, one disciple did not give up. He was the disciple who loved Jesus and whom Jesus loved. Indeed, love turns to be the game changer. Only the eyes of love can pierce through the darkest empty tomb and see a deepest meaning of it. In love, Jesus was not lost, and not even dead. He is fully alive, present and vibrant. Easter is our celebration of faith that drives away meaninglessness, hope that prevails over despair. And all of this, only possible when there is love that conquers all. As St. Paul would say, “So faith, hope, love remain, these three; but the greatest of these is love (1 Cor 13:13).”

Easter is the time for us to learn to see what the beloved sees, to see through the eyes of love. As the beloved sees the risen Lord at the empty tomb, we shall see the resurrected Christ as well in this emptiness of life. With the eyes of love, a mother will not see a baby in her womb just as an intruder or burden, but life that holds bright future. With the eyes of love, a wife will not see her aging and sickly husband as mistake, but a living brave soul who dedicated his life for her, despite so many imperfections.

In 2006, after Zimbabwe president, Robert Mugabe, won the election, he decreed operation Murambatsvina, “the cleaning out of the rubbish”. He ordered the demolition of the houses of those people who refused to vote for him during the election. More than 700,000 people watched their home bulldozed. They became refugees in their homeland and begun their life again out of the rubbles of their home. At the heart of this place of refuge, was a small plastic tent, called ‘the young Generation pre-school’. This was a home of a young woman called Evelyn, and she used it as a school in the day. There were around a dozen of her students under the age of eight, nearly all HIV-positive and with TB. Sometimes there was food to eat, but usually, there was none. Yet, Evelyn never gave up taking care of the children and even the children sang welcome songs happily every time guests would visit them. Fr. Timothy Radcliffe, OP once visited her and seeing her condition, he asked her why she did that. She just had one simple reason that she loved the children so much and indeed found meaning and joy in what she was doing.

Easter is the time when Jesus resurrects, defeats death, renews our broken humanity and disfigured world. And all begins at the empty tomb. The question now is: What do you see in the empty tomb?

 Happy Easter!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP