We Are Peter

21st Sunday in Ordinary Time

August 23, 2020

Matthew 16:13-20

peter n crossToday’s Gospel speaks volume about the new identity and roles of St. Simon Peter as the leader of the college of the apostles, and thus, the leader of the Church. He is the chosen foundation rock upon which Jesus built His Church. He is the prime minister who holds the keys of the kingdom of God. He is the chief priest who is responsible for the Temple of God. He is the chief Rabbi whose teachings binds the entire faithful. These are the bigger-than-life privileges and one may wonder, “Among the disciples, why was he chosen? Did Jesus know that he would deny Him three times?”

Jesus’ choice is a huge mystery, yet in the final analysis, nobody is worthy to be the first pope. If we scan the Bible and try to see many vocation stories of the great leaders of Israel, we are going to see the same pattern: most of them are not worthy and great sinner. Abraham was a coward who hid behind his wife. Moses was involved in killing an Egyptian. David was committing adultery and plotting a murder of Uriah. God seems to have a penchant to choose unworthy sinner!

Yet, that is only half of the story. These great leaders possess their remarkable quality in relation to God’s mercy and love. Despite their weakness, they never lose hope in God’s grace working in them. When they fall, they learn to rise once again and allow God sustains them. This particular quality also that Simon has.

Through his life, Peter was struggling to love Jesus and to become a leader for Christ’s Church. He made few step on water, but doubted and distracted, he began to sink. He made divinely inspired statement on Jesus divinity, but right after, he prevented Jesus to accomplish His mission on the cross. Thus, Jesus called him “Satan!” He promised Jesus that he would lay down his life for Jesus, but less than twenty-four hour, he denied Jesus with curse, and ran away! Yet, despite so grave a sin, he repented, but does not despair. Compare to Judas who lost hope and killed himself in the process, Peter knew too well that there is nothing impossible for God. Indeed, the risen Christ restored his place as the leader and the shepherd of His flocks, after asking Simon’s confession of love thrice. Yet, that was not the end of the story. A tradition says that during the persecution of emperor Niro, Peter was trying to escape Rome. In his way out of the city, Peter encountered Jesus going to the opposite direction. He then asked Jesus, “Quo vadis, Domine? [where are you going, Lord?]” Jesus responded, “I am going to Rome, to be crucified again!” Hearing this, Peter ran back to Rome. True enough, he was arrested and crucified upside down.

The choice of Peter is a mystery, but also good news. We are like Simon Peter, we are chosen to be God’s people, chosen into particular role and mission, but deep in our hearts, we are not worthy and full of weaknesses. Why did God choose me to be His priest? Why did God want me to raise children for the kingdom? Why did God elect me to become His ministers? We are not sure the exact reason, but like Peter, we are also called to trust His providence, and never lose hope in midst of trials and failures, and to love even more.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Petrus

Minggu ke-21 di Masa Biasa

23 Agustus 2020

Matius 16: 13-20

peter crucifixion 1Injil hari ini berbicara banyak tentang identitas baru dan peran St. Simon Petrus sebagai pemimpin para rasul, dan dengan demikian, pemimpin Gereja. Dia adalah batu fondasi pilihan yang di atasnya Yesus membangun Gereja-Nya. Dia adalah perdana menteri yang memegang kunci kerajaan Tuhan. Dia adalah imam kepala yang bertanggung jawab atas Bait Allah yang baru. Dia adalah Rabi kepala yang ajarannya mengikat seluruh umat beriman. Ini adalah hak istimewa yang luar biasa dan orang mungkin bertanya-tanya, “Di antara para murid, mengapa dia yang dipilih? Apakah Yesus tahu bahwa dia akan menyangkal-Nya tiga kali? “

Pilihan Yesus adalah sebuah misteri besar, namun pada akhirnya, tidak ada yang layak menjadi paus pertama. Jika kita membaca Alkitab dan mencoba melihat banyak cerita panggilan dari para pemimpin besar Israel, kita akan melihat pola yang sama: kebanyakan dari mereka tidak layak dan pendosa besar. Abraham adalah seorang pengecut yang bersembunyi di belakang istrinya. Musa terlibat dalam pembunuhan seorang Mesir. Daud melakukan perzinaan dan merencanakan pembunuhan Uria. Tuhan tampaknya memiliki kecenderungan untuk memilih orang berdosa yang tidak layak!

Namun, itu baru setengah dari cerita. Para pemimpin hebat ini memiliki kualitas luar biasa dalam hubungannya dengan belas kasihan dan cinta Tuhan. Terlepas dari kelemahan mereka, mereka tidak pernah kehilangan harapan akan kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam diri mereka. Ketika mereka jatuh, mereka belajar untuk bangkit sekali lagi dan membiarkan Tuhan menopang mereka. Kualitas khusus ini juga yang dimiliki Simon.

Sepanjang hidupnya, Petrus berjuang untuk mencintai Yesus dan menjadi pemimpin Gereja Kristus. Dia berhasil berjalan beberapa langkah di atas air, tetapi ragu sehingga dia mulai tenggelam. Dia membuat pernyataan yang diilhami Roh kudus tentang keilahian Yesus, tetapi segera setelah itu, dia mencegah Yesus untuk menuntaskan misi-Nya di kayu salib. Tak ayal, Yesus menyebutnya “Setan!” Dia berjanji kepada Yesus bahwa dia akan menyerahkan nyawanya untuk Yesus, tetapi kurang dari dua puluh empat jam, dia menyangkal Yesus tiga kali, dan melarikan diri! Namun, meskipun begitu besar dosa, dia memilih bertobat, tetapi tidak putus asa. Bandingkan dengan Yudas yang kehilangan harapan dan bunuh diri, Petrus tahu betul bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sungguh, Kristus yang bangkit memulihkan tempatnya sebagai pemimpin dan gembala kawanan domba-Nya, setelah meminta pengakuan kasih Simon tiga kali. Namun, itu bukanlah akhir cerita. Sebuah tradisi mengatakan bahwa selama penganiayaan kaisar Niro, Petrus berusaha melarikan diri dari Roma. Dalam perjalanannya ke luar kota itu, Petrus bertemu Yesus berjalan dengan arah berlawanan. Dia kemudian bertanya kepada Yesus, “Quo vadis, Domine? [Ke mana kamu pergi, Tuhan?]” Yesus menjawab, “Aku akan ke Roma, untuk disalibkan lagi!” Mendengar ini, Petrus lari kembali ke Roma. Benar saja, dia ditangkap dan disalibkan secara terbalik.

Pilihan kepada Petrus adalah sebuah misteri, tapi juga kabar baik. Kita seperti Simon Petrus, kita dipilih menjadi umat Tuhan, dipilih untuk peran dan misi tertentu, tetapi jauh di lubuk hati kita, kita tidak layak dan penuh kelemahan. Mengapa Tuhan memilih saya menjadi imam-Nya? Mengapa Tuhan ingin saya membesarkan anak-anak untuk kerajaan? Mengapa Tuhan memilih saya untuk menjadi pelayan-Nya? Kita tidak yakin alasan pastinya, tetapi seperti Petrus, kita juga dipanggil untuk memercayai rencana-Nya, dan tidak pernah kehilangan harapan di tengah pencobaan dan kegagalan, dan untuk lebih mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kingdom of God

Third Sunday of Ordinary Time [A]

January 26, 2020

Matthew 4:12-17

giving lettersAfter the arrest of John the Baptist, Jesus begins His public ministry. Jesus left Nazareth, His hometown, and moved to a more crowded and bigger town, Capernaum. Crudely speaking, Jesus did urbanization. This strategic move of Jesus was to support His mission. With a dense population and with better access to neighboring towns, Jesus could minister to more people in a more efficient way.

However, Jesus’ movement from Nazareth to Capernaum is not just about practicality and preaching strategy. Jesus was fulfilling the prophecy of Isaiah. “Land of Zebulun and land of Naphtali…the people who sit in darkness have seen a great light…” For many of us, Zebulun and Naphtali do not make any sense, and we tend to skip these verses. Yet, for the first-century Jews, this prophecy is a game-changer because God will gather the lost twelve tribes of Israel, and re-establish the Kingdom of Israel.

Let us go back to the Old Testament a little bit. In 2 Samuel 7, God promised that the throne of David will last forever, however after the reign of Salomon, David’s son, the kingdom of David was divided into two. After some hundred years, these two kingdoms, one by one, were destroyed by the enemies, and the twelve tribes were scattered among the Gentiles. Among the tribes of Israel, only Judah, and Benjamin were able to return to the land of Israel, while the rest, including Zebulun and Naftali, were lost. Jewish people in the time of Jesus knew well that one of the missions of the expected Messiah is to restore the Kingdom and to gather the lost tribes of Judah.

Jesus, the Messiah, came indeed to fulfill this expectation, and no wonder if the first thing He did was to preach that the Kingdom of God is at hand. It is called the Kingdom of God because it is the Kingdom promised by God, built by God, and governed by God. It is the restored kingdom of David, and much bigger than the first David’s kingdom.

However, there is a fundamental difference between David’s kingdom and Jesus’. David’s kingdom was established to fight Israel’s enemies. His kingdom was filled with nobilities, generals, and armies. It was characterized by political rivalry, a struggle for power, and treachery. Finally, it is no different from other kingdoms in the world. All is about “game of thrones”. And like other earthly kingdoms, the kingdom of David was bound to crush as well.

The Kingdom of God basically goes in the opposite direction. It is the Kingdom built upon faith in God, service, and love for others, even to the point of sacrifice. When we were baptized, we become the members of this Kingdom, and in fact, we are transformed into the children of God, calling Him as our Father. However, despite being heirs to the Kingdom, we are not princes, lords or generals. We are servants and lovers. The higher our positions in the Kingdom, the more love and service we shall render. That is why the priests do not have wives, because they are busy serving the people! No wonder St. John of the Cross would say, “in the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human success, but rather on how much we have loved.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Kerajaan Allah

Minggu Ketiga pada Masa Biasa [A]

26 Januari 2020

Matius 4: 12-17

giving waterSetelah penangkapan Yohanes Pembaptis, Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Yesus meninggalkan Nazaret, kampung halamannya, dan pindah ke kota yang lebih ramai dan lebih besar, Kapernaum. Sebenarnya, Yesus melakukan urbanisasi. Langkah strategis Yesus ini tentu saja untuk mendukung misi-Nya. Dengan populasi yang padat dan dengan akses yang lebih baik ke kota-kota lain, Yesus dapat melayani lebih banyak orang dengan cara yang lebih efisien.

Namun, pergerakan Yesus dari Nazareth ke Kapernaum bukan hanya tentang strategi marketing. Yesus menggenapi nubuat Yesaya. “Tanah Zebulon dan negeri Naphtali … orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar …” Banyak dari kita tidak tahu apa itu Zebulon dan Naphtali, dan kita cenderung melewati ayat-ayat ini. Namun, untuk orang Yahudi abad pertama, nubuat ini sangat penting karena Allah akan mengumpulkan dua belas suku Israel yang hilang, dan membangun kembali Kerajaan Israel.

Mari kita lihat kembali ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Tuhan berjanji bahwa takhta Daud akan bertahan selamanya, namun setelah masa pemerintahan Salomon, putra Daud, kerajaan Daud terjadi perang saudara dan terpecah menjadi dua. Setelah beberapa ratus tahun, kedua kerajaan ini, satu per satu, dihancurkan oleh musuh. Kedua belas suku Israel itu tersebar di antara bangsa-bangsa lain. Di antara suku-suku Israel, hanya Yehuda dan Benyamin yang dapat kembali ke tanah Israel, sementara sisanya hilang. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus tahu betul bahwa salah satu misi Mesias yang dinantikan adalah memulihkan Kerajaan dan mengumpulkan suku-suku Yehuda yang hilang.

Yesus, sang Mesias, memang datang untuk memenuhi harapan ini, dan tidak heran jika hal pertama yang Dia lakukan adalah memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan ini disebut sebagai Kerajaan Allah karena Kerajaan ini dijanjikan oleh Allah, dibangun oleh Allah, dan diperintah oleh Allah. Ini adalah kerajaan Daud yang dipulihkan, dan jauh lebih besar dari kerajaan Daud yang pertama.

Namun, ada perbedaan mendasar antara kerajaan Daud dan Yesus. Kerajaan Daud didirikan untuk memerangi musuh-musuh Israel. Kerajaannya dipenuhi bangsawan, jenderal, dan tentara. Kerajaan yang diwarnai oleh persaingan politik, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan kerajaan lain di dunia. Sama seperti serial TV “Game of Thrones”. Dan seperti kerajaan duniawi lainnya, kerajaan Daud pasti akan hancur juga.

Kerajaan Allah pada dasarnya pergi ke arah yang berlawanan. Itu adalah Kerajaan yang dibangun di atas iman kepada Allah, pelayanan dan kasih bagi orang lain, bahkan sampai pada titik pengorbanan. Ketika kita dibaptiskan, kita menjadi anggota Kerajaan ini, dan pada kenyataannya, kita diubah menjadi anak-anak Allah, memanggil Dia sebagai Bapa kita. Namun, meskipun pewaris Kerajaan, kita bukan pangeran, raja atau jenderal. Kita adalah pelayan bagi sesama. Semakin tinggi posisi kita di Kerajaan, semakin banyak kasih dan pelayanan yang akan kita berikan. Itulah sebabnya para romo tidak memiliki istri, karena mereka sibuk melayani orang-orang! Tidak heran St. Yohanes dari Salib akan berkata, “di masa senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas dasar harta duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi lebih pada seberapa besar kita telah mengasihi.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno

Faithful and Wise Stewards

19th Sunday in Ordinary Time [C] – August 11, 2019 – Luke 12:32-48

light lampIn ancient Israel, the masters of the house were often leaving their homes for business trips or attending social gatherings like weddings. They would entrust their houses and their possessions to chief servants. And this was the world without a cellular phone, internet, and GPS. Thus, the servants have no idea of the ETA (estimated time of arrival) of their masters. It could be 8 PM, midnight or even early in the morning. The best attitude of a servant in this scenario is to be always vigilant and prepared for the arrival of his master.

However, being prepared is not understood as being idle or passivity, like someone who does nothing but waits near the door, and opens the door when the master knocks. Jesus says, “Gird your loins and light your lamps… (Lk. 12:35)” In ancient Israel, people were wearing robe or tunic. It is a long dress that covers the entire body, from the neck down to the leg. When people are working, they gird their loins with a robe or belt, to make sure that their tunic will not get in the way. In short, the servants are doing their jobs, making sure that the house is in order, and ready to receive any order just in case their masters arrive. This is a kind of readiness and preparedness that Jesus asks of His disciples.

This kind of preparedness naturally comes the humble recognition of who we are. If the servant accepts that he is a servant and aware that the house belongs to his master, he will not act as if he is the owner of the house and neglect his jobs, but perform his tasks well despite the absence of his master. So, we need also to recognize who we are and do the works that follow from our identity well. If our pride gets in the way, and we fail to understand who we are. We start playing God, and we begin doing whatever we please, even to confidently predict the end of the world.

Based on the Scriptures, the Church always believes that Jesus will come for the second time in glory and bring the final judgment to the world. We do not know when Jesus will come as the King and those who prophesy that they understand when, turn to be a dangerous hoax. In 1997, Marshall Applewhite predicted that the earth would be destroyed by the alien spaceships, and the only way to survive was to “transfer” their souls to another planet by committing suicide. Marshall and 36 followers killed themselves, yet the earth’s destruction never happened. Marshall was playing God, and he brought calamity to himself and his followers.

Be ready for the coming of Jesus means that we realize who we are before God. If we are God’s children, we love and obey our Father, and care for the other creations because God cares for them as well. If we are God’s disciples, we faithfully follow Him and continuously learn from Him. If we are fathers, we love, protect, and provide for their family. If we are mothers, we love, care, and educate our children. And when the Lord truly comes, we may be one of those “Blessed servants who are faithful and prudent [see Lk. 12:42]”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hamba yang Setia dan Bijaksana

Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48

faithful servantDi Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.

Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.

Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.

Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Marta, Marta

Minggu Biasa ke-16 [C] – 21 Juli 2019 – Lukas 10:38-42

martha-and-mary-1Melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan tentu baik dan terpuji. Dan karya-karya ini sangat banyak dan beragam. Tindakan-tindakan ini dapat secara langsung melayani Dia di Gereja, terutama dalam liturgi. Kita dapat berpartisipasi dalam ibadat sebagai anggota paduan suara, lektor, putra altar, asisten imam, atau bahkan sebagai imam yang mempersembahkan Ekaristi itu sendiri. Namun, kita juga dapat melayani Dia melalui sesama ketika kita terlibat dalam inisiatif amal untuk membantu orang miskin, untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dan integritas ciptaan. Kita memiliki banyak cara, tetapi tujuannya adalah satu dan itu adalah untuk memuliakan Dia.

Dalam Injil hari ini, kita bertemu Marta dan Maria dari Bethania. Mereka berdua melayani Yesus dan mereka melakukannya sesuai dengan karakter unik mereka sendiri. Maria lebih pendiam dan mungkin seorang introvert, memilih untuk tetap dekat dengan Tuan dan mendengarkan-Nya. Sementara Marta, yang sebagian besar aktif dan mungkin ekstrovert, lebih suka memberi Yesus akomodasi terbaik. Keduanya ingin membuat Yesus merasa disambut dengan cara mereka sendiri. Namun, ada sedikit masalah. Tampaknya Yesus pilih kasih. Dia lebih menyukai Maria daripada Marta dan memberi tahu Marta bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik.

Tentunya Yesus tidak pilih kasih, dan tentu saja itu bukan karena Maria lebih cantik dari Marta! Namun, kita masih harus menjelaskan pilihan Yesus. Pertama, kita perlu melihat bahwa keduanya baik, tetapi yang satu lebih baik dari yang lain karena sebuah alasan. Apakah tindakan mendengarkan lebih baik daripada memberi keramahan? Dalam konteks Yahudi kuno, memberikan keramahan pada seorang tamu adalah salah satu nilai utama. Kita ingat bagaimana Lot menawarkan bahkan putrinya sendiri untuk melindungi tamunya [lihat Kejadian 19]! Dengan standar ini, Marta melakukan hal yang lebih baik, tetapi Yesus berpendapat lain. Mengapa?

Sekali lagi, kita perlu lebih memahami Kitab Suci kita. Tindakan mendengarkan adalah tindakan mendasar baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Setiap orang Yahudi yang saleh di zaman Yesus maupun di zaman sekarang, setiap hari mendaraskan doa syahadat yang mereka sebut sebagai “Shema Israel” – itu diambil langsung dari Ul 6: 4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Tindakan mendengarkan tidak hanya berarti mendengar suara dan menerima informasi, tetapi juga untuk mematuhi apa telah didengarkan. Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Mat 7:24)” Maria mengambil bagian yang lebih baik karena dia telah mendengarkan Yesus yang adalah TUHAN, dan dia mendengarkan karena dia mengasihi TUHAN.

Marta memiliki sedikit masalah dengan pelayanannya karena dia memaksakan jalannya kepada Maria, mungkin dia berpikir cara pelayanannya adalah yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, Marta menjadi terlalu terbebani dalam pelayanannya, dan Yesus menunjukkan bahwa Marta sendiri penuh kecemasan dan khawatir dengan banyak hal. Marta kehilangan tujuan pelayanannya; dia kehilangan Yesus dalam proses melayani. Betapa malang ya!

Belajar dari Maria dan Marta, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa gunanya pelayanan kita? Kemana kita akan pergi dengan banyak kegiatan yang kita miliki di Gereja? Apakah kita mendengar suara Kristus dalam pelayanan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Yesus dalam pelayanan kita atau pada akhirnya kita melayani diri kita sendiri?”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Martha, Martha

16th Sunday in Ordinary Time [C] – July 21, 2019 – Luke 10:38-42

To perform works to serve the Lord is certainly good and praiseworthy. And these works are numerous and varied. These acts may directly serve Him in the Church, especially during the liturgy. We may participate in the worship as the choir members, lectors, altar servers, ministers of the Holy Communion, or even as the presiders of the Eucharist itself, the priest. Yet, we may also serve Him through others as we involve in charitable initiatives to help the poor, to fight for justice and peace and integrity of creation. We have many ways, but the goal is one: to honor and glorify Him.

In today’s Gospel, we encounter Martha and Mary of Bethania. They both are serving Jesus, and they perform it according to their unique characters. Mary, more reserved and perhaps an introvert, chooses to stay close to the Master and listen to Him. While Marta, predominantly active and perhaps extrovert, prefers to provide Jesus with the best accommodation. Both want to make Jesus feel welcome in their way. However, there is a little problem. It seems that Jesus is playing little favoritism. He favors Mary over Martha and tells Martha that Mary has chosen a better part.

Surely Jesus does not play favoritism, and surely it is not because Mary is more beautiful than Martha!  Yet, we still have to explain Jesus’ choice. First, we need to see that both are good, but one is just happened to be better than the other. Is it the act of listening better than the act of giving hospitality? In an ancient Jewish context, to provide the hospitality to a guest is one of the prime values. We remember how Lot was offering even his daughters to protect his guests [see Gen 19]! By this standard, Martha is doing a better thing, but Jesus insists that it is not hers. Why?

Again, we need to understand better our Scriptures. The act of listening is fundamental in both Old and New Testament. Every devout Jew in the time of Jesus as well as in our time, daily prays a creedal prayer they call as “Shema Israel” – it was taken straight from Deu 6:4-5 “Hear, O Israel! The LORD is our God, the LORD alone! Therefore, you shall love the LORD, your God, with your whole heart, and with your whole being, and with your whole strength.” Acts of listening do not only mean to hear voices and receive information, but it is also to obey what one has heard. Jesus Himself says, “Everyone who listens to these words of mine and acts on them will be like a wise man who built his house on the rock. (Mat 7:24)” Mary is taking a better part because she has listened to Jesus, who is the LORD, and she listens because she loves her LORD.

Martha has a little problem with her service because she imposes her ways to Mary, perhaps thinking her way of service is the best one. But more than that, Martha becomes overburdened in her serving, and Jesus points out that Martha is anxious and worried with many things. Martha is losing the purpose of her service; she is losing Jesus in the process of serving. What a loss!

Learning from Mary and Martha, we may ask ourselves, “What is the point of our services? Where are we going with many activities we have in the Church? Do we hear the voice of Christ in our ministries? Do we love Jesus in our serving or we discover ourselves in the end?”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Scribes

Reflection on the 32nd Sunday in Ordinary Time [November 11, 2018] Mark 12: 38-44

[the Scribes] devour the houses of widows and, as a pretext, recite lengthy prayers. They will receive a very severe condemnation. (Mk. 12:40)

kissing the groundIn Jesus’ time, the scribes are the well-educated Jewish men who are expert in the Law of Moses. Some of them come from the wealthy families, and others hail from the priestly clan. Being able to teach and interpret the Law, they receive the respect and honor from the ancient Jewish society. Thus, ordinary Jews will greet them and prepare them the seats of honor in the synagogues and the banquets. Surely, there is no problem with receiving greetings and sitting as honor guests. Jesus Himself is often greeted as “Teacher” or “Rabbi”, and He attends the banquets as guest of honor (see Mar 14:3). The problem comes when some of the scribes possesses “narcissistic desire” and intentionally look for these privileges.

However, not only Jesus criticizes them for this narcissistic attitude, He gravely condemns also their acts of injustice, particularly “devouring the houses of widows.” In Jesus’ time, widows (Hebrew “almanah”) is considered to be one of the poorest and weakest. They are women who do not only lose their husband, but also fall into deeper poverty because they no longer have anybody to support them. They are lucky if their family and relatives take care of them, but in difficult times, they are left to their own. The Law of Moses provides that the widows, together with the orphans and strangers should be protected (see Deu 10:18).

Since the scribes are the respected and wealthy members of the society, it is a logical choice to entrust the care of Jewish widows to them. Unfortunately, instead helping and defending the widows, some of the scribes oppress and steal from the little the widows have. To steal is evil, but to rob the poor people who place their trust in us is far greater evil. Yet, it is not yet worst. After perfectly hiding their acts of injustice, some of the scribes continue going to the Temple and reciting lengthy prayer, as if there is nothing happens. This is hypocrisy, a double-life attitude at its finest!

As my ordination day to the diaconate is drawing closer, some of my brothers in the community and friends began to call me with title of honor like “reverend” or simply, “rev”. Admittedly, I am not comfortable with it. I wish that the people remain calling me brother. However, it has become the common practice in the Catholic Church to honor her ordained ministers. It is my prayer and my sincere wish I will not be like some of the Scribes who become “narcissistic” and “covets” the people’s adulation and all the privileges it brings. George Weigel, an American Catholic author, in his recent article, traces the root of Catholic anger against the clergy in the US. He writes that while it is true that many clergymen are good and holy, it is the clerical narcissism that builds anger of the Catholic lay.

Learning from the scribes, the narcissism is the seed. The vice grows into hidden acts of injustice. And from evil of injustice, the men in white garment are turning worse as they live in hypocrisy. It is my earnest hope that we continue praying, supporting and even correcting our brothers who are ordained to become the servants of God and His people. Without God’s grace, the right dose of humility and lay people’ prayer and help, our deacons, priests and bishops may become like the scribes who earn Jesus’ condemnation.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Ahli Hukum Taurat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [11 November 2018] Markus 12: 38-44

[Para ahli Taurat] yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Markus 12:40)

jesus n scribesPada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.

Namun, Yesus tidak hanya mengkritik mereka karena sikap narsis ini, Dia dengan serius mengecam tindakan ketidakadilan mereka, terutama karena mereka “menelan rumah para janda.” Pada zaman Yesus hidup, para janda (bahasa Ibrani “almanah”) dianggap sebagai salah satu bagian masyarakat Yahudi yang paling miskin dan lemah. Mereka adalah wanita yang tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga jatuh miskin karena mereka tidak lagi  memiliki sarana penopang hidup. Mereka beruntung jika keluarga dan kerabat mereka merawat mereka, tetapi pada masa-masa sulit, mereka dibiarkan terlantar. Hukum Musa menyatakan bahwa para janda, bersama dengan anak-anak yatim dan orang asing harus dilindungi (lihat Ul. 10:18).

Karena para ahli Taurat adalah salah satu anggota masyarakat yang paling dihormati dan kaya, itu adalah pilihan logis untuk mempercayakan pelayanan kepada para janda Yahudi kepada mereka. Sayangnya, alih-alih membantu dan membela para janda, beberapa ahli Taurat menindas dan mencuri dari para janda miskin ini. Mencuri itu jahat, tetapi merampas dari orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada kita adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Namun, hal ini bukanlah yang terburuk. Setelah dengan sempurna menyembunyikan tindakan ketidakadilan mereka, beberapa ahli Taurat tanpa malu pergi ke Bait Allah dan membaca doa yang panjang. Ini adalah kemunafikan!

Ketika hari pentahbisan saya semakin dekat, beberapa frater dan teman-teman mulai memanggil saya dengan sapaan kehormatan seperti “reverend” (- yang dihormati). Harus diakui, saya tidak nyaman. Saya berharap bahwa orang-orang tetap memanggil saya sebagai frater atau “Brother”. Namun, ini telah menjadi tradisi umum bagi para awam memanggil mereka yang telah tertahbis. Saya hanya bisa berdoa dan berhasrat bahwa saya tidak akan seperti beberapa ahli Taurat “narsistik” dan gila akan pujian orang-orang dan semua kenyamanan hidup. George Weigel, seorang penulis Katolik Amerika, dalam artikel terbarunya, menelusuri akar kemarahan umat Katolik terhadap para klerus di AS. Dia menulis bahwa memang benar bahwa banyak para romo dan uskup yang baik dan kudus, tetapi umat tidak lagi tahan dengan sikap narsisisme yang diperlihatkan sejumlah oknum klerus di Amerika.

Belajar dari ahli-ahli Taurat, narsisisme adalah benih yang tertanam dalam hati mereka yang tertahbis. Jika dibiarkan benih ini tumbuh menjadi tindakan-tindakan ketidakadilan yang tersembunyi. Dan dari kejahatan ketidakadilan, kaum berjubah putih bisa hidup dalam kemunafikan. Adalah harapan saya bahwa kita terus berdoa, mendukung dan bahkan mengoreksi saudara-saudara kita yang adalah hamba Allah dan umat-Nya. Tanpa rahmat Allah, kerendahan hati dan doa serta bantuan para umat awam, para diakon, imam, dan uskup kita mungkin bisa menjadi seperti ahli Taurat yang narsis dan munafik.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP