Deacon

Reflection on the 31st Sunday in Ordinary Time [November 4, 2018]

Mark 12:28-31

“You shall love the Lord your God… The second is this: ‘You shall love your neighbor as yourself.’ There is no other commandment greater than these.” (Mk. 12:30-31)

Seven Deacons (Monochrome)I am currently preparing for my ordination to the diaconate. It is a transitional stage before I become a priest of Jesus Christ. Despite the fact of being transitional, a deacon in itself is an important state in the life of the Church. Bishop Virgilio David, DD of Kalookan reminded the 15 newly-ordained Jesuit deacons in his homily last October that we shall not see a deacon as a mere stepping step toward higher states, like priests and bishops. It is the very core in the layers of concentric circles that make up the ordained ministries of the Church. The diaconate is not a lower rank but the core, without which both the offices of presbyters and bishops collapse. It is the foundation on which we build leadership in the Church. Yet, why do the deacons have to be placed at the core, and become the foundation?

Pope Benedict in his apostolic letter “Omnium in Mentem” clarified further the basic identity of a deacon. He wrote, “deacons are empowered to serve the People of God in the ministries of the liturgy, the word, and charity.” The deacons are the heart of both the ordained and non-ordained ministers of the Church because they perform and remind the most basic duties of every Church’s servants: to serve and love God and His people. The very word deacon is coming from the Greek word, “ diakoneo ” meaning to serve, and therefore, a deacon is someone who serves, a servant. Yet, it is not any service. If we go back to the first chapter of the Gospel of Mark, the first person who serves Jesus, the God-man, is Peter’s mother-in-law (Mar 1:31). She serves Jesus because He has restored her to health. It is not a service done out of fear, but gratitude and love. Thus, to serve and to love are at the very essence of being deacon.

In today’s Gospel, Jesus faces the scribe who asks Him on the first of all the commandments. In the Law of Moses, aside from the famous Ten Commandments, they have hundreds of more commandments. Jesus answers, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus quotes part of the Shema or the basic Jewish Creed that every devout Jews would recite every day (see Deu 6:4-5). Yet, Jesus does not stop there. He completes the first and the greatest law with another one, “You shall love your neighbor as yourself.” It also comes from the Old Testament (see Lev 19:18). To the delight of the scribe, Jesus’ answer is an orthodox one, but there is something novel as well.

The connection between first and second turns to be a watershed. For Jesus, true love for God has to be manifested in love for others, and genuine love for others has to be oriented toward God. Thus, it is unthinkable for Jesus to order His disciples to kill for the love of God. Or, Jesus will not be pleased if His followers are busy with performing rituals, but blind to the injustices that plague their communities.

With these Jesus’ first commandments in mind, we can now see why the role of the deacons is fundamental in the Church. The deacons are those who are called and empowered to fulfill Jesus’ commandment of love. The deacons are to serve and love God and His people, both in the context of Christian worship and real life. While it is true that deacons are one of the ordained ministers in the Church, every Christian is also called to become a “deacon” in our lives, to serve God and His people out of love.  Without the heart of a deacon, who is the very core of Church’s ministry, every Christian, whether they are lay or cleric, will lose their identity and fail to accomplish the most fundamental law of Christ.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Diakon

Renungan pada Hari Minggu ke-31 dalam Masa Biasa [4 November 2018] Markus 12: 28-31

“Kamu harus mengasihi Tuhan, Tuhanmu… Yang kedua adalah ini: ‘Kamu harus mencintai sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Tidak ada perintah lain yang lebih besar dari ini. “(Mrk. 12: 30-31)

ordination 4Hari-hari ini, saya sedang mempersiapkan tahbisan diakonat saya. Diakon sendiri adalah tahap transisi sebelum saya menjadi seorang imam. Terlepas dari kenyataan bahwa diakonat adalah masa transisi, seorang Diakon itu sendiri adalah masa hidup yang penting dalam kehidupan Gereja. Uskup Virgilio David, DD dari Kalookan, Metro Manila, mengingatkan 15 diakon Yesuit yang baru saja ditahbiskan Oktober lalu bahwa kita jangan melihat Diakon hanya sebagai langkah pertama menuju tingkat yang lebih tinggi, seperti imam dan uskup. Diakon adalah inti dalam lapisan lingkaran konsentris yang membentuk pelayanan tertahbis di Gereja. Diakon menjadi inti dari lingkaran pelayanan ini dan tanpa inti ini, para imam dan uskup akan runtuh. Ini adalah fondasi tempat kita membangun kepemimpinan di Gereja. Namun, mengapa Diakon harus ditempatkan sebagai inti dan menjadi fondasi?

Paus Benediktus XVI dalam surat apostoliknya “Omnium in Mentem” memperjelas lebih lanjut identitas dasar seorang Diakon. Dia menulis, “Diakon diberdayakan untuk melayani umat Allah dalam pelayanan liturgi, sabda, dan kasih.” Para diakon adalah hati dari semua pelayan Gereja baik yang ditahbiskan maupun yang tidak ditahbiskan karena diakon melakukan dan mengingatkan kita akan tugas paling dasar dari setiap pelayan Gereja: untuk melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya. Kata Diakon berasal dari kata Yunani, “diakoneo” yang berarti melayani, dan karena itu, Diakon adalah seorang pelayan. Jika kita kembali ke bab pertama Injil Markus, orang pertama yang melayani Yesus, Sang Allah yang menjadi manusia, adalah ibu mertua Petrus (Mar 1:31). Dia melayani Yesus karena dia telah dipulihkan dari sakit. Ini bukan pelayanan yang dilakukan karena takut atau kebutuhan egois semata, tetapi atas syukur dan cinta kasih. Jadi, melayani dan mengasihi berada pada inti kehidupan seorang Diakon.

Dalam Injil hari ini, Yesus bertemu dengan seorang ahli Hukum Taurat yang bertanya tentang hukum yang paling utama. Dalam Hukum Taurat Musa, selain dari Sepuluh Perintah Allah, bangsa Yahudi memiliki ratusan lebih peraturan. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Dengan mengingat hukum cinta kasih Yesus ini, kita sekarang dapat melihat mengapa peran diakon merupakan hal mendasar dalam Gereja. Diakon adalah mereka yang dipanggil dan diberdayakan untuk memenuhi hukum kasih Yesus. Diakon melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya, baik dalam konteks ibadah dan kehidupan sehari-hari. Meskipun benar bahwa diakon adalah salah satu pelayan yang ditahbiskan di Gereja, setiap pengikut Kristus juga dipanggil untuk menjadi “Diakon,” untuk melayani Allah dan umat-Nya berdasarkan cinta kasih. Tanpa hati seorang Diakon, yang merupakan inti dari pelayanan Gereja, setiap orang Kristiani, baik awam ataupun klerus, akan kehilangan identitas dan gagal untuk memenuhi hukum Kristus paling mendasar, hukum cinta kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Power

29th Sunday in the Ordinary Time [October 21, 2018] Mark 10:35-45

Whoever wishes to be first among you will be the slave of all. (Mk. 10:44)

washing feet“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” This familiar adage comes from an English noble, Lord Acton in his letter to Bishop Mandell Creighton in 1887. Lord Acton observed that people who possessed absolute control over other persons were inclined to abuse their power and exploit their subjects. This happens throughout human history. Jesus and His disciples themselves witnessed these corrupt powerful leaders during their time and eventually, became victims of this corruption.

We recall how Herod the Great commissioned his army to slaughter all the babies under two years old in Bethlehem. He was having a paranoia that a baby born in this town of David would overthrow him from power someday. Herod Antipas, a son of Herod the Great, ordered the beheading of John the Baptist. This was done just to pacify the anger of his whimsical yet anti-critic wife. A Jewish historian, Josephus, narrated how Pilate, the Roman procurator, ruled Judea with iron and bloody hand. He commanded the crucifixion more than two thousand Jews during his brief stint in Jerusalem. With absolute power in their hands, human lives become so cheap. The only thing that matters is how they remain in power.

Ironically, despite witnessing those horrible events, James and John, as well as the rest of the disciples remain obsessed with power. James and John wish that they sit at the right and left hands of Jesus when His kingdom comes. The throne is the symbol of power. We are familiar with box-office hit “Game of Thrones.” This TV series is about people who are struggling to sit on the Iron Throne of the Seven Kingdom. And just any game, the different characters use various strategies, including deceit and deceptions to capture this throne. Friends and foes are the ones and the same. Enemies turn to be friends, and allies kill each other. If they cannot be on that throne, at least, they can be next to that seat of power.

Why do we want power so much?  It is because, with power, we are in control. When we are in charge, we have this sense of independence and pride. When autonomy is within our grasp, we cannot but feel good about ourselves. The opposite is also true. When we lose control, we feel terrible. Powerlessness is just awful. Thus, the more power we have, the better we feel. However, this is a mere illusion. No matter how powerful we are, we cannot control everything. The mere fact that we are not able to control the desire to possess power is proof how powerless we are.

Knowing well the irony of power, Jesus gives us a solution: be the servant and slave of all. A slave is a person who is under control of somebody else. In a normal situation, to be slaves are dreadful. Yet, when we have power, our decision to be slaves for others can be liberating. Jesus understands that power is not to be acquired, but to be shared. Power is to empower and not to be hoarded. Yet, it is not the same with yielding to fate, powerlessness, and desperation. Pretty the opposite, to serve and empowering others, we need to exercise our power actively. Think of Mother Teresa of Calcutta. She was just a little religious sister who did nothing but dedicated her life for the poor, the abandoned and the dying. She was far from the image of a strong and powerful leader. Yet, because she became the slave of all, she was considered to be one of the most influential and admired persons in the twentieth century. Echoing the words of Her Lord, “God has not called me to be successful. He has called me to be faithful.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kekuatan Sejati

Minggu ke-29 di Masa Biasa [21 Oktober 2018] Markus 10: 35-45

Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mk. 10:44)

washing feet 2“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berasal dari bangsawan Inggris, Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 1887. Lord Acton mengamati bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan mutlak atas orang lain cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi bawahan mereka. Ini terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus dan murid-murid-Nya sendiri menyaksikan para pemimpin korup ini pada zaman mereka dan akhirnya, menjadi korban kekuasaan yang korup tersebut.

Kita ingat bagaimana Herodes menugaskan pasukannya untuk membantai semua bayi di bawah dua tahun di Betlehem. Dia mengalami paranoia bahwa satu bayi yang lahir di kota Daud ini akan menggulingkannya dari kekuasaan suatu hari nanti. Herodes Antipas, putra Herodes, memerintahkan pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis. Ini dilakukan hanya untuk menenangkan kemarahan istrinya yang juga haus kekuasaan. Sejarawan Yahudi, Josephus, menceritakan bagaimana Pilatus, wali negara Romawi, memerintah Yudea dengan tangan besi. Dia memerintahkan penyaliban lebih dari dua ribu orang Yahudi selama masa pemerintahannya di Yerusalem. Dengan kekuatan absolut di tangan mereka, hidup manusia menjadi begitu murah. Satu-satunya hal yang penting adalah bagaimana mereka tetap berkuasa.

Ironisnya, meski menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan itu, Yakobus dan Yohanes, serta para murid lainnya tetap terobsesi dengan kekuasaan. Yakobus dan Yohanes berharap agar mereka duduk di tangan kanan dan kiri Yesus ketika kerajaan-Nya datang. Tahta adalah simbol kekuasaan. Kita akrab dengan hit box-office “Game of Thrones.” Serial TV ini adalah tentang orang-orang yang berjuang untuk duduk di Tahta Besi Tujuh Kerajaan. Berbagai karakter menggunakan berbagai strategi, termasuk tipu daya untuk memenangkan tahta ini. Teman dan musuh tidak bisa dibedakan. Musuh berubah menjadi teman, dan sekutu saling membunuh. Jika mereka tidak dapat berada di tahta itu, setidaknya, mereka dapat berada di sebelah kursi kekuasaan itu.

Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan dan kekuatan? Karena, dengan hal ini, kita memegang kendali. Ketika kita memampu mengendalikan banyak hal, kita memiliki rasa kebebasan dan kemandirian ini. Ketika otonomi ada di dalam genggaman kita, kita pun merasa senang dengan diri kita sendiri. Namun, ketika kita kehilangan kendali, kita merasa tidak nyaman. Ketidakberdayaan tidaklah menyenangkan. Dengan demikian, semakin banyak kekuatan yang kita miliki, semakin baik perasaan kita. Namun, ini hanyalah ilusi belaka. Tidak peduli seberapa kuatnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Fakta bahwa kita tidak dapat mengendalikan hasrat untuk memiliki kekuatan adalah bukti betapa tidak berdayanya diri kita.

Mengetahui dengan baik ironi kekuasaan, Yesus memberi kita solusi: jadilah hamba untuk semuanya. Seorang hamba adalah orang yang di bawah kendali orang lain. Dalam situasi normal, menjadi hamba itu tidak mengenakan. Namun, ketika kita memiliki kekuasaan, keputusan kita untuk menjadi hamba bagi orang lain dapat membebaskan diri kita. Yesus memahami bahwa kuasa bukan untuk diperebutkan, tetapi untuk dibagikan. Kekuatan adalah untuk memberdayakan dan bukan ditimbun. Namun, hal ini tidak sama dengan sekedar menyerah diri pada nasib, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Cukup sebaliknya, untuk melayani dan memberdayakan orang lain, kita perlu menggunakan kekuatan kita secara aktif. Lihatlah Bunda Teresa dari Calcutta. Dia hanyalah seorang suster yang berbadan kecil yang tidak melakukan apa pun selain mengabdikan hidupnya untuk orang miskin dan sakit. Dia jauh dari citra seorang pemimpin yang kuat, kaya dan berkuasa. Namun, karena ia menjadi hamba bagi semua, ia dinobatkan sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dan dikagumi di abad ke-20. Diapun berpesan pada kita semua, “Tuhan belum memanggil saya untuk menjadi sukses. Dia telah memanggil saya untuk setia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

To Teach, to Exorcise, to Heal

4th Sunday in Ordinary Time [January 28, 2018] Mark 1:21-28

 “Then they came to Capernaum, and on the sabbath he entered the synagogue and taught. (Mk. 1:21)”

healing ministry
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

After calling the disciples, Jesus begins his ministry proper in Capernaum. There, Jesus performs a threefold task: teaching, exorcism (driving away the evil spirits) and healing. On the Sabbath, He immediately enters the synagogue and teaches with authority. He faces the unclean spirits who possess a man and rebukes them to leave. And in the next Sunday’s reading, he heals Peter’s mother-in-law (Mk. 1:29-39). All these he does with authority.

 

This threefold task is fundamental to the ministry of Jesus, and in the succeeding Sundays, we will listen to many of these actions. Why are these fundamental to Jesus? The answer is because these three aspects make Jesus’ ministry a holistic one. Teaching is to form a sound mind, to drive away evil spirits is to build a holy spiritual life, and healing is to empower our bodies. It is precisely the Good News because the salvation Jesus brings covers all aspects of our humanity. As His disciples, we are all called to preach, drive evil spirits, and to heal.

Healing deals with the health of our bodies. It is true that we do not have the gift of healing, but all are called to respect our bodies and thus, to live a healthy lifestyle and avoid those things that will make us sick, like unnecessary stress and unhealthy food. To respect our bodies flows from the recognition that our bodies are the gift of God and as St. Paul says, “the Temple of the Holy Spirit.” Thus, abuse of our bodies means disrespecting the God who created us, and the Holy Spirit who gives us life. Yet, healing is not limited to our bodies but also includes healing our neighbors. It is to make sure that our brothers and sister have something to eat, something to clothe their bodies and a place to rest their bodies. It is not only to heal our own bodies but our society as well.

Exorcism is truly a special ministry in the Church, and only delegated to few people under the authority of the bishops, but every Christian is called to drive away evil spirits in their lives and hearts. It is our sacred duty to live holy lives, to receive the sacraments frequently, and to pray fervently. These are the ways to get closer to God, and thus, enable us to have healthy spiritual lives. To drive away evils also means to free ourselves from the bondage of sins and vices. It is a kind of spiritual healing. The devil sometimes possesses our bodies, but most of the time, he possesses our hearts. Our excessive attachment to things, like money, sexual pleasure, prestige, is a manifestation of evil spirits working in our hearts.

It is true that not all are teachers by profession, but we are called to form our minds and other peoples’ mind as well. It is fundamental for the parents to teach the basic Christian values, like honesty, fidelity, and compassion, to their young children. It is also important to habitually reflect on our characters, to correct bad habits, and to improve ourselves. After all, education is not only transfer of information, but the formation of characters. Thus, a right understanding of self will affect the way we act. I have been faithfully attending the Eucharist since my childhood, but when I learn more about its theology, history and its rootedness in the Scriptures and Christ Himself, the more I fall in love with the Eucharist.

We are the disciples of Christ, and it is our sacred mission and honor to participate in His threefold ministry in our sown ways and lives: to teach, to drive evil spirits and to heal.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengajar, Mengusir Roh Jahat, dan Menyembuhkan

Minggu di Biasa ke-4 [28 Januari 2018] Markus 1: 21-28

“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. (Mk. 1:21)”

communion
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus memulai misi-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus melakukan tiga tugas dasar: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki seorang pria dan mengusir mereka. Dan dalam bacaan hari Minggu berikutnya, dia menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk 1: 29-39).

 

Tiga tugas pokok ini sangat penting bagi pelayanan Yesus, dan di hari-hari Minggu yang akan datang, kita akan mendengarkan banyak penggenapan dari tiga tugas ini. Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Yang pertama adalah penyembuhan. Ini berhubungan dengan kesehatan tubuh kita. Memang benar bahwa kita tidak memiliki karunia penyembuhan, tapi semua dipanggil untuk menghormati tubuh kita dan dengan demikian, menjalani gaya hidup sehat dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit, seperti stres yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Ini bersumber pada sebuah pengakuan bahwa tubuh kita adalah anugerah Allah dan seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan demikian, pelecehan terhadap tubuh kita berarti tidak menghargai Tuhan yang menciptakan kita, dan Roh Kudus yang memberi kita hidup. Namun, penyembuhan tidak terbatas pada tubuh kita saja, tapi juga penyembuhan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah tugas kita juga bahwa saudara-saudari kita memiliki sesuatu untuk dimakan, pakaian untuk membalut tubuh mereka dan tempat tinggal. Bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri tapi juga masyarakat kita.

Eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

Memang benar bahwa tidak semua berprofesi sebagai guru, tapi kita semua dipanggil untuk membentuk pikiran kita dan sesama. Sangat mendasar bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Kristiani, seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Penting juga untuk biasa merefleksikan karakter kita, memperbaiki kebiasaan buruk, dan mengembangkan diri. Toh, pendidikan tidak hanya sekedar transfer informasi, tapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, pemahaman diri yang benar akan mempengaruhi cara kita bertindak. Saya telah menghadiri Ekaristi sejak masa kecil saya, namun ketika saya belajar lebih banyak tentang teologi, sejarah dan fondasinya dalam Kitab Suci dan Kristus sendiri, semakin saya jatuh cinta dengan Ekaristi.

Kita adalah murid Kristus, dan inilah misi dan kehormatan kita untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristus: mengajar, mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert or Extrovert?

16th Sunday in Ordinary Time. July 17, 2016 [Luke 10:38-42]

 “There is need of only one thing. Mary has chosen the better part and it will not be taken from her (Luk 10:42).”

Martha and MaryFew weeks ago, I participated in a seminar-workshop on personality recognition and development. The activity was organized by the ministry of Lectors of Santo Domingo Parish and facilitated by seasoned speaker Sr. Leticia Garcia, DC. As I expected, the test result told me that I was dominantly introvert, meaning I was silent and more reserved guy. I found strength in solitude. I shared this treats with many of the participants. Yet, not few were actually our opposite. They were extrovert, meaning they were people-oriented and action-driven. They were recharged in interaction with others. Sr. Garcia made a point that the difference must not bring us into animosity. When properly developed, our personalities shall complete each other and contribute in the service of God.

Reading today’s Gospel, we encounter two lovely protagonists, Martha and Mary. Doubtless, Martha was dominantly extrovert. She did all the chores. She was very mobile and action-driven. In fact, she did all talk. Mary, meanwhile, was predominantly introvert. She did nothing but listened to Jesus. She was not even moving at the foot of Jesus. No single word was uttered from her mouth.

In the story, when Martha complained to Jesus about her sister’s inactivity, Jesus defended Mary. It seems that Jesus was favoring Mary over Martha. Does it mean that Jesus preferred introvert people than extrovert one? Not really. Looking deeper into the life of Jesus, we may justifiably say that Jesus himself was predominantly extrovert. He was action-oriented, He did a lot of things: healing, exorcising, feeding, doing miracles, and teaching. He involved in people’s lives. He attended many parties, and even accused as a glutton and a drunkard, a friend of tax collectors and sinners (Mat 11:19)!

So, why is it that Jesus said to Martha, There is need of only one thing. Mary has chosen the better part (Luk 10:42)?” I believe Jesus was not playing favoritism. Rather, Jesus intended to remind Martha that she has missed the point of serving. Not that being extrovert and energetic were wrong, but she began to compare herself with her sister. Worse, she imposed her way as the best option to serve the Lord. As she was immersed in herself, Martha was losing Jesus.

Mary chose a better part because she allowed Martha to be Martha, and to serve Jesus through her unique personalities. She did not complain when Martha did something different from her, because her focus was on Jesus not herself. Mary refused the temptation to make herself as the center of activities and life, create a little god out of herself. Thus, not only she allowed Martha to be Martha, she allowed Jesus to be God. This is the best part.

Every one of us, with our different unique personalities and talents, are called to become Jesus’s disciple, and to contribute in building His Church. The Church needs both the introvert and the extrovert. In fact, when we are working together, we may contribute even significantly larger than our individual contribution. Some of my brothers in the community are truly outgoing and enjoy to do missions and preaching in many places. I admit I have to exert extra effort to go out seminary, and a lot easier for me to spend hours reading and writing. We then work together as I provide them with preaching modules and my friends do the actual preaching.

The danger is when we only think that our ways are the only way and begin to complain about those who are different from us. We no longer think of Christ, but ourselves, and make ourselves as little gods. We pray that we may choose the better part as we work together to serve God and in our works and lives, God is truly glorified.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert atau Ekstrovert?

Minggu Biasa ke-16. [17 Juli 2016] Lukas 10: 38-42

 Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42).”

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikMartha and Mary by He Qiuti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan dua protagonis, Marta dan Maria. Tak diragukan lagi, Marta secara dominin adalah ekstrovert. Dia melakukan semua pekerjaan. Dia sangat aktif. Bahkan, dia tidak segan-segan terlibat pembicaraan dengan Yesus. Sementara Maria adalah tipikal introvert. Dia bisa tenang, diam dan hanya mendengarkan Yesus. Dia bahkan tidak bergerak di kaki Yesus. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.

Dalam cerita, ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena saudaranya yang diam saja, Yesus membela Maria. Apakah ini berarti bahwa Yesus lebih meyukai pribadi introvert daripada ekstrovert? Saya rasa tidak. Jika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat mengatakan bahwa Yesus secara dominan adalah ekstrovert. Ia melakukan banyak hal: penyembuhan, mengusir roh jahat, memberi makan, melakukan mujizat, dan mengajar. Dia terlibat dalam kehidupan banyak orang. Dia menghadiri banyak pesta dan perayaan, dan bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (lit. Mat 11:19)!

Jadi, mengapa Yesus berkata kepada Marta, Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk 10:42)?” Saya percaya Yesus tidak pilih kasih. Sebaliknya, Yesus  bermaksud mengingatkan Marta bahwa ia telah kehilangan tujuan utama dari pelayanannya. Yesus tidak alergi dengan Marta yang adalah ekstrovert, tapi Marta membandingkan dirinya dengan saudaranya. Lebih buruk lagi, ia memaksakan caranya sebagai cara terbaik terbaik untuk melayani Tuhan. Saat ia terhanyut di dalam dirinya sendiri, Marta kehilangan Yesus.

Maria memilih bagian yang lebih baik karena ia tidak memaksakan kehendaknya dan membiarkan Marta menjadi Marta. Dia tidak mengeluh ketika Marta melakukan sesuatu yang berbeda darinya, karena ia fokus pada Yesus. Maria menolak godaan untuk membuat dirinya sebagai pusat pelayanan dan kehidupannya, dan menjadikan dirinya sabagai tuhan kecil. Jadi, tidak hanya dia membolehkan Marta menjadi Marta, ia juga membolehkan Yesus menjadi Tuhan. Ini adalah bagian yang terbaik.

Kita semua, dengan kepribadian yang unik dan bakat yang berbeda, dipanggil untuk menjadi murid Yesus, dan untuk berkontribusi dalam membangun Gereja-Nya. Gereja membutuhkan baik introvert dan ekstrovert. Bahkan, ketika kita bekerja bersama-sama, kita dapat berkontribusi secara signifikan lebih besar dari kontribusi individu kita masing-masing. Beberapa frater-frater saya di komunitas menikmati bermisi dan berkhotbah di banyak tempat. Saya mengakui bahwa saya harus mengerahkan usaha ekstra untuk sekedar pergi keluar seminari, dan jauh lebih mudah bagi saya untuk menghabiskan berjam-jam membaca dan menulis. Kami kemudian bekerja sama. Saya menawarkan berbagai materi pewartaan dan frater-frater saya melakukan aksi pewartaan yang sebenarnya.

Bahayanya adalah ketika kita hanya berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara dan mulai mengeluh tentang orang-orang yang berbeda dari kita. Kita tidak lagi memikirkan Kristus, tetapi diri kita sendiri, dan membuat diri kita sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita berdoa agar kita dapat memilih bagian yang lebih baik karena kita bekerja bersama-sama untuk melayani Tuhan, dan di dalam karya dan kehidupan kita, Tuhan benar-benar dimuliakan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP