The Beauty of Christmas

Christmas Vigil – December 24, 2019 – Luke 2:1-14

nativity scene 1Today is Christmas, the day of Jesus was born in Bethlehem, and it is a traditional practice that in every Church or Christian family, there is a nativity scene. Usually, the baby Jesus was born in a kind of stable or shed, and He was placed on the wooden manger (a place where animals eat). Surely, Mary and Joseph are intently watching on the Baby, while other animals like sheep and cows become the silent witnesses of this most beautiful moment in human history. The scene will not be complete without the shepherds and the angel.

The nativity scene is indeed beautiful and always remains us of the simplicity of Christmas that we often miss.

However, if we go back to the time of Joseph and Mary, to first-century Palestine, we will discover a slightly different yet have a deeper meaning. Most probably, Joseph and Mary were not resting in a wooden stable, but inside a stone cave since this is a common feature in hill country Judea. Inside the stone cave is warm and sometimes spacious, and the shepherds use them as a safe and warm shelter for their sheep at night. The mangers provided for sheep were not made of wood, but stone. Sometimes, we see Baby Jesus half-naked on the manger, but Luke describes that Jesus was wrapped in a swaddling cloth. It is normal practice that a new-born baby will be cleansed, and then be enclosed by the cloth to keep the baby warm, protected and comfortable.

We discover that Jesus was born in a stone cave, rested on a stone manger and swaddled in cloth. These three things point to an even greater reality in the life of Christ: His death and resurrection. After the crucifixion, his body was enclosed in cloth, put inside the cave tomb, and rested on the large stone. Yet, it is also the same stone tomb where Jesus rose from death. From the very beginning of Jesus’ life here on earth, His destiny has been foretold: by His death and resurrection, He will save us.

However, there is something even more remarkable. Jesus was placed on a manger, and a manger is none other than a place for animal’s feed. From the beginning, Jesus is already presented to us as a food that will satisfy those who come to Him. Then, what “kind of food” is He? It is not a coincidence that Jesus was born in Bethlehem. The word Bethlehem comes from two Hebrew words: “Beth” meaning “house” and “Lehem” meaning “bread”; thus, Bethlehem is a house of bread. Jesus is given to us as bread, and indeed, Jesus calls Himself as the bread of life [Jn 6:35]. It is interesting also to ask why the shepherds were the first persons invited to see Jesus. One of the possible answers is that the shepherds are the first men who are aware of the birth of a lamb. The shepherds recognized that this holy Baby is a new-born lamb. Indeed, later, Jesus would be called as the Lamb of God [John 1:29]. In ancient Israel, lambs were also the main sacrificial animal in the Temple. Baby Jesus came to feed us, and He came as the bread of life and sacrifice that saves us.

While it is good to spend Christmas with vacation or festive celebration, the best way to celebrate Christmas is none other than to celebrate the Eucharist, to mediate the simplicity and humility of God who came to us as little baby, and to ponder His infinite love that He offered Himself to feed us. This is the beauty of Christmas, that God has chosen to love us to the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Greed

18th Sunday in Ordinary Time [C] – August 4, 2019 – Luke 12:13-21

fool rich man 2We were all born without bringing anything with us, and for sure, when we die, we will bring nothing with us. Job once said, “Naked I came forth from my mother’s womb, and naked shall I go back there. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). However, as we grow up and old, we begin to acquire things and possessions. Some are given, but some we earn it. As we are accumulating, we start attaching ourselves to these material belongings. Some of us are obsessed with collecting bags, shoes, and clothes, some others with more expensive things like electronic devices and cars. We believe these are ours, and we can own them until the Kingdom comes.

This kind of attachment is rooted in a bigger and more sinister vice: greed. St. Thomas Aquinas defines greed or avarice as “an inordinate desire for wealth or money.” To desire for richness and possession is not evil itself because, in essence, money and belongings are a means to achieve higher goals in life. However, the problem arises when we are confusing between means and the end. Greed enters the picture when we make money as our goal and no longer a means. We begin to measure our happiness and meaningfulness of our lives in terms of wealth. When we place wealth as our yardstick of happiness, all other problems start flooding our lives. When we do not have enough money, we become anxious, but when we have more than enough money, we are also anxious about how to hoard them. We think that the more we have, the happier we become, but the truth is, the more we acquire, the more we feel lacking. An ancient Roman proverb once said that desire for wealth is like drinking seawater; the more you drink, the thirstier you get.

What sickening about this vice is that it brings other sins along. St. Thomas mentions treachery, corruption, fraud, anxiety, insensibility to mercy, and even violence as the daughters of greed. Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with a sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

So how are we going to cure this vice? If greed makes us turn means as goal, our response should return the right order: to make wealth as our means to achieve higher goals. If we are blessed with a lot of money, we praise the Lord and use this money to praise the Lord even more. If we do not have enough money, we are called to have more faith in God’s providence.  It is the time to use our worldly possession to make “heavenly investment” that no thief can reach, nor moth destroy (Lk. 12:33)

Fr. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketamakan

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [C] – 4 Agustus 2019 – Lukas 12: 13-21

fool rich manKita semua dilahirkan tanpa membawa apa-apa, dan sama ketika kita mati, kita tidak akan membawa apa pun. Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai memperoleh banyak hal dan harta benda. Ketika kita mulai mengakumulasi, kita mulai terikat pada barang-barang materi ini. Beberapa dari kita terobsesi dalam mengumpulkan tas, sepatu, dan baju, beberapa lainnya dengan barang-barang yang lebih mahal seperti perangkat elektronik, mobil dan bahkan mobil. Kita mulai percaya ini adalah milik kita, dan kita dapat memilikinya bahkan sampai kita masuk surga.

Keterikatan semacam ini berakar pada sifat buruk yang lebih besar dan lebih jahat: ketamakan. St Thomas Aquinas mendefinisikan keserakahan atau ketamakan sebagai “keinginan yang tidak teratur akan kekayaan atau uang”. Keinginan untuk kekayaan dan kepemilikan bukanlah sesuatu yang jahat karena pada dasarnya, uang dan barang adalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dalam hidup. Namun, masalah muncul ketika kita mulai tidak bisa melihat mana yang sarana dan mana yang tujuan. Keserakahan memasuki hidup kita ketika kita membuat uang sebagai tujuan kita dan bukan lagi sarana. Kita mulai mengukur kebahagiaan dan arti hidup kita dalam hal kekayaan yang kita akumulasikan. Ketika kita menempatkan kekayaan sebagai tolok ukur kebahagiaan kita, semua masalah lain akan membanjiri hidup kita. Ketika kita tidak memiliki cukup uang, kita menjadi khawatir, tetapi ketika kita memiliki lebih dari cukup uang, kita juga cemas bagaimana agar orang lain tidak mencurinya. Kita berpikir bahwa semakin banyak kita miliki, semakin bahagialah kita, tetapi kebenaran adalah semakin banyak yang kita dapatkan, semakin kita merasa kurang. Sebuah pepatah Romawi kuno pernah mengatakan bahwa hasrat akan kekayaan seperti minum air laut; semakin banyak Anda minum, semakin Anda haus.

Yang memuakkan tentang ketamakan ini adalah hal ini membawa dosa-dosa lain. St. Thomas menyebutkan pengkhianatan, korupsi, penipuan, kecemasan, ketidak pekaan terhadap sesama, dan bahkan kekerasan sebagai anak-anak keserakahan. Film Slumdog Millionaire (2008) menceritakan kepada kita kisah Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan ini. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian religius di daerah kumuh di India, mereka terpaksa tinggal di TPA. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Satu adegan khusus yang mengungkapkan manifestasi mengerikan dari keserakahan adalah seorang bocah lelaki dengan suara bagus, Arwind, dibutakan. Jamal kemudian berkomentar, “Penyanyi tunanetra mendapat gaji dua kali lipat.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film tersebut tidak sepenuhnya fiksi, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan.

Jadi bagaimana kita akan menyembuhkan ketamakan ini? Jika keserakahan membuat kita membalikkan antara sarana dan tujuan, respons kita haruslah mengembalikan urutan yang benar: menjadikan kekayaan sebagai sarana kita untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jika kita diberkati dengan banyak uang, kita memuji Tuhan, dan menggunakan harta ini untuk lebih memuji Tuhan. Jika kita tidak memiliki cukup uang, kita dipanggil untuk lebih percaya kepada pemeliharaan Allah. Ini adalah waktu untuk menggunakan kepemilikan duniawi kita untuk melakukan “investasi surgawi” yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. (Luk. 12:33)

Rm. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be Wise in Small Things

32nd Sunday in Ordinary Time. November 12, 2017 [Matthew 25:1-13]

“The foolish ones, when taking their lamps, brought no oil with them, but the wise brought flasks of oil with their lamps. (Mat 25:3-4)”

In the Jewish patriarchal society, an unmarried woman has to stay with her father. Then, when she gets married, she will move to her husband’s house. This transition from her family of origin to her new family is ritualized by an elaborate wedding procession. The groom will fetch the bride from her father’s house, and together they march back to the groom’s house where usually the wedding celebration is held. For practical reason, the procession takes place after sunset, and thus, men and women who are involved in the procession shall bring their torch or lamp.

Within this context, the presence of the ten virgins have to be understood. They are assigned to welcome the groom and the bride, and join community in the procession of light. Since there are no means communications like cellular phone with GPS, they are not able to track the location of the couple, and yet, they need to be ready with their lamps anytime the procession comes. There is element of surprise and expectation, and the virgins have to prepare themselves well for this.

Jesus compares the five wise virgins and the five foolish virgins. The wisdom of the five virgins manifests in their ability to foresee some practical considerations like the estimated distance between the house of the groom and bride, the possible delay, and the expected slow-pacing procession. Thus, bringing along extra oil for the lamp is something sensible, and in fact, necessary. Extra oil might be just a simple thing compare to the entire wedding celebration, but its absence proves to be costly for the five virgins. It is just “foolish” to miss the entire celebration just because they fail to bring simple thing like an oil. Jesus likens this to the preparation for the Kingdom of Heavens. It begins with practicality of life, to prepare apparently simple things in life and yet proved to be important for those who are welcoming Jesus and His Kingdom.

Many great saints are those who are most humble. What basically Mother Teresa of Calcutta did was to serve the poorest of the poor in India. Sometimes, she and her sisters had something to give, but often they only had themselves to share. Yet, for the lonely, sick and dying, Mo. Teresa’s loving company was what mattered most. Then, she advised us, “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” When sister Breda Carroll, a Dominican nun from Drogheda, Ireland, was asked by a journalist, “Isn’t life in the monastery is completely useless? And how do you become a preacher if you never go out and preach?”  She replied, “The greatest preaching is to make people think of God, and our mere presence and constant prayer cannot but disturb people and make them think of God.” For all we know, their simple ways of life and constant prayer have saved countless souls in purgatory.

We are invited to act like this practical and wise virgins. We prepare ourselves for Jesus by faithfully doing seemingly simple and ordinary things in our lives. Preparing breakfast every morning seems nothing special, but for a mother of five children, that is her share in the Kingdom. Working hard every day looks to be normal for a young man aiming for a bright future, but for a poor and old man who needs to support his family, it is his share in the Kingdom. What are our share in the Kingdom? Are we faithfully doing simple things with love? Are we ready to welcome Christ?

  Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Bijak dalam Hal Kecil

Minggu Biasa ke-32 [12 November 2017] Matius 25: 1-13

“Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak (Mat 25:3).”

ten virgins - africaPada zaman Yesus, seorang perempuan yang belum menikah harus tinggal dengan ayah dan keluarganya. Hanya saat dia menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Peralihan dari keluarga asalnya ke keluarga barunya ini dilambangkan oleh perarakan pernikahan yang melibatkan hampir semua orang di desa. Pengantin laki-laki akan menjemput sang istri dari rumah ayahnya, dan bersama-sama mereka diarak kembali ke rumah pengantin laki-laki di mana biasanya perayaan pernikahan diadakan. Untuk alasan praktis, perarakan berlangsung setelah matahari terbenam, dan dengan demikian, pria dan wanita yang terlibat dalam perarakan harus membawa obor atau pelita mereka.

Dalam konteks inilah kehadiran sepuluh gadis harus dipahami. Mereka ditugaskan untuk menyongsong pengantin pria dan wanita, dan bergabung dengan komunitas dalam perarakan cahaya. Karena belum ada sarana komunikasi seperti handphone dengan GPS, mereka tidak dapat melacak lokasi perarakan, tetapi mereka harus siap dengan pelita mereka kapan pun perarakan datang. Ada unsur kejutan dan penantian, dan para gadis ini harus mempersiapkan diri dengan baik.

Yesus membandingkan lima gadis yang bijaksana dan lima gadis bodoh. Kebijaksanaan kelima gadis tersebut terletak pada kemampuan mereka untuk melihat beberapa pertimbangan praktis seperti perkiraan jarak antara rumah mempelai pria dan wanita, kemungkinan keterlambatan, dan perarakan yang berjalan dengan lambat. Dengan demikian, membawa tambahan minyak untuk lampu adalah sesuatu yang masuk akal dan sebenarnya diharuskan. Minyak tambahan mungkin hanya hal yang sederhana dibandingkan dengan keseluruhan perayaan pernikahan, tetapi kegagalan untuk mempersiapkannya terbukti membawa bencana bagi kelima gadis lain. Tentu saja hal yang “bodoh” tidak bisa mengikuti seluruh perayaan hanya karena mereka gagal membawa hal sederhana seperti minyak. Bagi Yesus, hal ini seperti mempersiapkan Kerajaan Surga. Semua dimulai dengan kemampuan kita untuk menentukan dan mempersiapkan hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup, tetapi terbukti penting bagi kita yang menyambut Yesus dan Kerajaan-Nya.

Orang-orang kudus yang paling besar adalah mereka yang paling rendah hati dan sederhana. Bunda Teresa dari Kalkuta memberikan hidupnya melayani orang-orang miskin di India. Terkadang, dia dan para susternya memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang miskin, tapi sering kali mereka tidak memiliki apa-apa kecuali belas kasih. Namun, bagi mereka yang sakit, miskin dan menjelang ajal mereka, persahabatan dan kasih Bunda Teresa adalah yang paling penting. Bunda Teresa pun mengatakan, “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” Ketika suster Breda Carroll, seorang rahib Dominikan dari Drogheda, Irlandia, ditanya oleh seorang wartawan, “Bukankah kehidupan di dalam pertapaan sama sekali tidak berguna? Dan bagaimana Anda menjadi seorang pewarta jika Anda tidak pernah pergi keluar dan berkarya?” Dia menerangkan, “Pewartaan terbesar adalah untuk membuat orang-orang merasakan dan berpikir tentang Tuhan, dan kehadiran kami sebagai petapa dan doa-doa kami mengundang mereka untuk melihat sesuatu yang lebih dari mereka, untuk memikirkan Tuhan.”

Kita diundang untuk bertindak seperti gadis-gadis bijaksana ini. Kita mempersiapkan diri kita untuk Yesus dengan kesetiaan melakukan hal-hal yang tampak sederhana dan biasa dalam hidup kita. Mempersiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya setiap hari tampaknya tidak istimewa, tapi bagi ibu dengan lima anak, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Bekerja keras dan jujur setiap hari terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi pria miskin dan tua yang perlu menghidupi keluarganya, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Apakah kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Kerajaan? Apakah kita melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar? Apakah kita siap untuk menyambut Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Metamorphosis

The Feast of Transfiguration. August 6, 2017 [Matthew 17:1-9]

 “He was transfigured before them; his face shone like the sun and his clothes became white as light (Mat 17:2).”

transfiguration 2This Sunday, the Church is celebrating the feast of Transfiguration.  The word ‘transfiguration’ comes from Matthew who writes Jesus transfigures before the three disciples, Peter, James and John, his face shines like the sun and his clothes become white as light (17:2). The word “transfigure” is the direct transliteration of the Latin Vulgate Bible “transfigurare”. It is a combination of two words “trans” meaning to across, and “figura” meaning figure.  Thus, transfiguration literally means the change of figure. It is a fitting word to describe what happens to Jesus.

However, if we look at the original Greek, Matthew used the word “metamorphos” which is actually the root of the English word metamorphosis. Many of us understand metamorphosis as a biological term. It is a marked and more or less abrupt developmental change in the form or structure of an animal. The classical examples are the transformation from a leaf-eating caterpillar into a beautiful butterfly, or an aquatic tadpole into a land-dwelling frog. Metamorphosis is surely a radical change, but we do not use this term to describe what happens to Jesus in Mount Tabor perhaps because we do not want to limit Jesus’ transformation to the biological sphere only. It is something more fundamental, spiritual and even divine.

In our time, the medical technologies have advanced considerably, and this enables us also to undergo a metamorphosis. We can look young despite our age. We can reduce our excess fat in no time. We can make even our face bright and vibrant, even ‘shining like the sun’. I have to admit that often I do not pay much attention to my physical and facial improvement, but I believe that our efforts to care for our bodies and improve our beauty are part of appreciating God’s creations. The problem sets in when we become excessive and even obsessive. Spending huge amount of money just for beauty products and cosmetic surgery while our neighbors are dying of hunger is simply unchristian. Spending our fortune for the companies that cause environmental damages or sufferings to people is also our participation in this injustice.

However, we are called not simply to metamorphosize but to transfigure. While the change and improvement in our body can be good and beautiful, transfiguration is not only a matter of physical alteration. We need to change in a more fundamental, spiritual and even divine way. It is a change that pleases the Father because we become like Jesus, we become His sons and daughters. Through the sacrament of baptism, we have been made God’s children, and now it is our mission to act and behave like His worthy children. Like Jesus, we need to be more aware of the sufferings around us and be compassionate to our poor brothers and sisters. Like Jesus, we fight against the injustices and abuses that take place around us. Like Jesus, we instruct and educate our family, friends and neighbors in truth.

Finally, Matthew places the event of the Transfiguration just before Jesus goes to Jerusalem as He offers His life for our salvation. The true transfiguration enables us to become less and less self-centered and empowers us to do sacrifices for our loves ones. We are called to make the world a better place for us and all children of God. Like Jesus, we are called to be transfigured and be pleasing to the Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Metamorfosis

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. 6 Agustus 2017 [Matius 17: 1-9]

“Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. (Mat 17:2)”

transfiguration 1Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.

Namun, jika kita menyimak bahasa Yunani yang digunakan Matius, kata yang dipilih adalah “metamorphos” yang sejatinya merupakan akar kata dari metamorfosis. Banyak dari kita memahami metamorfosis sebagai istilah biologis. Ini adalah perubahan dan perkembangan drastis yang terjadi dalam bentuk atau struktur anatomi hewan. Contohnya adalah transformasi dari ulat pemakan daun menjadi kupu-kupu yang indah, atau kecebong yang hidup di air menjadi katak yang mampu hidup di daratan. Metamorfosis merupakan perubahan yang radikal, namun kita tidak menggunakan istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung Tabor mungkin karena kita tidak ingin membatasi transformasi Yesus pada sisi biologis saja. Ini adalah sesuatu yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi.

Di zaman modern ini, teknologi medis telah berkembang pesat, dan ini memungkinkan kita juga mengalami “metamorphosis”. Kita bisa terlihat lebih muda meski sudah berusia. Kita bisa mengurangi kelebihan lemak kita dalam waktu singkat. Kita bahkan bisa membuat wajah kita cerah dan bahkan bersinar seperti matahari. Saya harus mengakui bahwa seringkali saya tidak terlalu memperhatikan perbaikan fisik dan wajah saya, namun saya percaya bahwa usaha kita untuk merawat tubuh kita adalah bagian dari menghargai ciptaan Tuhan. Masalah terjadi saat kita menjadi berlebihan dan bahkan obsesif. Menghabiskan sejumlah besar uang hanya untuk produk kecantikan dan bedah kosmetik sementara sesama kita kelaparan karena tidak ada makanan adalah sikap yang sama sekali tidak kristiani. Menghabiskan kekayaan kita untuk perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan atau penderitaan orang banyak juga membuat kita turut berpartisipasi dalam ketidakadilan.

Namun, kita dipanggil tidak hanya untuk bermetamorfosis tapi juga ber-transfigurasi. Sementara perubahan dan perbaikan dalam tubuh kita adalah baik dan indah, transfigurasi bukan hanya soal perubahan fisik. Kita perlu berubah dengan cara yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi. Ini adalah perubahan yang menyenangkan hati Allah Bapa karena kita menjadi seperti Yesus, kita menjadi putra dan putri-Nya. Melalui sakramen pembaptisan, kita telah dijadikan anak-anak Allah, dan sekarang misi kita adalah untuk bertindak dan berperilaku seperti anak-anak-Nya. Seperti Yesus, kita perlu lebih sadar akan penderitaan di sekitar kita dan berbelas kasihan kepada saudara dan saudari kita yang miskin. Seperti Yesus, kita berjuang melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Seperti Yesus, kita mendidik keluarga, teman dan sesama kita dalam iman dan kebenaran.

Akhirnya, Matius menempatkan peristiwa Transfigurasi sebelum Yesus pergi ke Yerusalem dan mempersembahkan hidup-Nya bagi keselamatan kita. Transfigurasi yang sejati memungkinkan kita untuk menjadi tidak egois dan memberdayakan kita untuk berkorban bagi orang-orang yang kita cintai. Kita dipanggil untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kita dan semua anak-anak Allah. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk ber-transfigurasi dan berkenan kepada Bapa.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Giving Up All

 19th Sunday in Ordinary Time. August 7, 2016 [Luke 12:32-48]

 “For where your treasure is, there also will your heart be (Luk 12:34).”

jesus-hands-holesAre we ready to sell everything we have and follow Jesus? Are we prepared to give up our dreams and ambitions for the Kingdom? Are we willing to place our hearts, our treasures where no moth can destroy and no thief can steal?

St. Dominic de Guzman whose feast day we will celebrate tomorrow, is a shining example for us to emulate. When he was a canon regular in the Cathedral of Osma, Spain, he was actually a rising star. He was elected sub-prior at a very young age. To be a sub-prior means he was next to the leader of the Cathedral and was groomed to the position of the Bishop. Osma was a fortified city and had a beautiful Church. Osma provided Dominic tranquility and comfort when wars and famine ravaged portions of Spain. He was also prepared to take the coveted position in Osma as its bishop. Yet, Dominic decided to abandon all of these. Facing overwhelming difficulties and life-threating dangers, he went to preach the Gospel in Southern France where the heretic group, Albigentians, took its root.

St. Dominic and many other saints are indeed illustrious models of this evangelical self-giving, but how many among us are doing what the saints did? In all honesty, many of us are not ready to do what Jesus commanded in today’s Gospel. Some of us cannot simply sell everything we have because we need to feed our children and send them to school. Some cannot just give up their studies because they need to prepare for a better future. Some of us have to run our businesses because we are responsible for the lives of our workers and their families. I myself have to admit that it is difficult for me even to let go of my book collections.

We are entangled with so many complexity of life. Yet, deep inside us, we always feel that yearning to surrender everything for the sake of the Kingdom. Sometimes, the best thing we can do is to do simple sacrifices everyday.

A mother who wakes up early morning, prepares the breakfast for the family, brings her children to school, go to work to earn a living, cooks dinner for her husband, and basically puts aside her dream to work with the urban poor, is truly giving herself to the Lord. I have a friend who is young, intelligent and very determined to become a priest. I am sure that he can become a good priest someday. But, his father is old and sickly, his siblings are still studying, and his mother earns very little. With a heavy heart, he decided to leave the seminary and work to help his family. He sacrificed his hope to serve the Lord as a priest, yet he surrenders his life to serve the Lord, through his family.

I do believe that God is very compassionate and merciful. He understands our daily struggles to follow Him. Thus, God does not leave us alone. He empowers us in our struggles and His grace enables us to give our lives despite the complexity of our lives.

St. Dominic de Guzman, pray for us!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menyerahkan Semuanya

Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48

 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”

giving handsApakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?

St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.

St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.

Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.

Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.

Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.

St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP