St. Elizabeth: the Spotter of the Good News

Fourth Sunday of Advent. December 20, 2015 [Luke 1:39-45]

“…for at the moment the sound of your greeting reached my ears, the infant in my womb leaped for joy (Luk 1:44).”

St. Elizabeth seemed to have this special skill that often escaped our eyes. She had this ability to spot that Mary, her relative, was with a child. That was their first encounter after years. Nobody told Elizabeth that Mary was pregnant, and surely, no cellphone and Facebook were yet available during that time for speedy communication. Mary’s pregnancy was not yet physically obvious since it was barely a month since the Annunciation. Yet, she did it. We remember that the primary intention of Mary’s visit was to prove Gabriel’s message that Elizabeth was pregnant, but it turned out that Elizabeth was the first one who recognized the Mary’s pregnancy.

Before the presence of Mary and the baby, Elizabeth’s reaction was astonishing. She did not grill Mary with investigative questions like ‘who is the father?’ or ‘why did you break the Law?’ Neither did she harbor any hatred to Mary for breaking the Jewish sacred Law, nor reporting her to authority. She chose rather to embrace Mary and to rejoice with her in the Lord. Elizabeth did not only have the ability to spot the pregnancy, but more importantly, the ability to discover the Good News.

Our world is loaded with bad news. Wars and bloody violence are raging from Sahara desert to tropical jungles in South East Asia, from North America to Syria. Our news outlets are full of this terrible information: killing within the family, abuses against women and children, and natural and man-made disasters. What is horrified is that we buy these kind of news and serve them as our breakfast. We can easily spot the problems and issues in our lives. Financial difficulties, health issues, broken relationships, name it and you have it. We are trained to see the bad news and linger in them. We, thus, become announcers of the bad news or simply the complainers or gossipers.

However, echoing the words of Antonio Cardinal Tagle, the Archbishop of Manila, in the opening of Dominican Jubilee Door in Santo Domingo Church, Metro Manila few weeks ago, “We do not need another proclaimer of the bad news. Our world has already a lot of bad news. We desperately need the preachers of good news.” No wonder if St. Dominic de Guzman is called the preacher of grace, because it is the main mission of every preacher to discover the working of God in our midst. As Sr. Mary Catherine Hilkert OP once said ‘preaching is to articulate grace’.

The Advent season gives us Elizabeth. Her ability to spot the grace among ordinary events and even among unlikely circumstances makes her a humble yet true model of preacher of the Good News. Yet, we must not forget that Elizabeth’s skill is not merely human effort, but in itself a grace of God. She was under the influenced of the Holy Spirit, when she was able to discover Jesus. Eventually, it is the grace of God within us that enables us to unearth the grace around us. In turn, the grace around us brings joy and meaning in our lives as well as strengthens the grace within us. It is all about grace.

To spot grace and to become happy is not simply a matter of choice, but it is primarily the fruits and gift of Holy Spirit. We constantly pray to God to shower us with His grace and blessings so that in the midst of various earthly concerns and problems, we may not miss Jesus this Christmas.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

St. Elisabet: Menjadi Penemu Kabar Baik

 

 

Keempat Minggu Adven. 20 Desember 2015 [Lukas 1: 39-45]

“… ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. (Luk 1:44).”

Santa Elisabet tampaknya memiliki keahlian khusus yang sering luput dari mata kita. Dia memiliki kemampuan untuk melihat bahwa Maria, saudaranya, sedang mengandung. Kunjungan Maria adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Tidak ada yang memberi tahu Elisabet tentang kehamilan Maria, dan pasti, ponsel dan Facebook yang belum tersedia pada zaman ini untuk berkomunikasi dengan cepat. Kehamilan Maria belum secara fisik tampak jelas karena itu baru saja beberapa minggu sesuah Maria menerima Kabar Baik dari Malaikat Gabriel. Namun, Elisabet bisa mengetahuinya. Kita ingat bahwa tujuan utama dari kunjungan Maria adalah untuk membuktikan pesan Gabriel bahwa Elisabet sedang mengandung, tapi ternyata Elisabet menjadi orang pertama yang memahami kehamilan Maria.

Dihadapan Maria dan sang Bayi di dalam rahimnya, reaksi Elisabet sungguh menakjubkan. Dia tidak menginvestigasi Maria dengan pertanyaan seperti ‘Siapa ayah sang bayi?’ atau ‘Mengapa kamu melanggar Hukum Taurat?’ Begitu pula dia tidak memendam kebencian kepada Maria karena dia melanggar hukum suci Yahudi, atau melaporkan Maria ke otoritas untuk diadili. Dia memilih untuk merangkul Maria dan bersukacita dengan dia di dalam Tuhan. Elisabet tidak hanya memiliki kemampuan untuk melihat kehamilan Maria, tetapi yang jauh lebih penting, kemampuannya untuk menemukan Kabar Baik.

Dunia kita penuh dengan berita buruk. Perang dan kekerasan berdarah yang mengamuk dari gurun Sahara ke hutan tropis di Asia Tenggara, dari Amerika Utara ke Suriah. Berbagai sumber berita kita penuh dengan informasi yang mengerikan: pembunuhan di dalam keluarga, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak, dan bencana alam maupun buatan manusia. Apa yang mengerikan adalah bahwa kita justru membayar untuk berita semacam ini dan menyuguhkan sebagai sarapan pagi kita. Kitapun bisa dengan mudah melihat masalah dan isu-isu dalam kehidupan kita. Kesulitan keuangan, masalah kesehatan, hubungan yang rusak, dan masih banyak lagi. Tanpa sadar kitapun dilatih untuk melihat berita buruk dan tinggal di dalamnya. Dengan demikian, kita berubah menjadi penyiar kabar buruk atau pengeluh atau tukang gosip.

Namun, menggemakan kata-kata dari Kardinal Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, dalam pembukaan Pintu Jubilee Dominikan di Gereja Santo Domingo, Metro Manila, Kita tidak perlu tambahan penyebar kabar buruk. Dunia kita memiliki sudah banyak berita buruk. Yang kita sangat butuhkan adalah pengkhotbah kabar baik.Tak heran jika St. Dominikus de Guzman disebut sebagai pewarta rahmat, karena adalah misi utama setiap pengkhotbah untuk menemukan karya Allah di tengah-tengah kita. Sebagaimana Maria Catherine Hilkert OP pernah berkata ‘berkhotbah adalah mengartikulasikan rahmat.’

Mas Adven memberi kita santa Elisabet. Kemampuannya untuk melihat rahmat di antara peristiwa-peristiwa yang biasa dan bahkan di antara keadaan yang tidak terduga menjadikan dia seorang model dari pengkhotbah dari Kabar Baik. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan Elisabet ini bukan sekedar usaha manusia biasa, tetapi sebuah rahmat Allah. Dia berada di bawah pengaruh Roh Kudus, ketika ia mampu menemukan Yesus. Sungguhnya, ini adalah rahmat Allah dalam diri kita yang memungkinkan kita untuk mengenali rahmat di sekitar kita. Dan pada gilirannya, rahmat di sekitar kita membawa sukacita dan makna dalam kehidupan kita serta memperkuat rahmat dalam diri kita. Ini adalah semua tentang rahmat Allah.

Untuk melihat rahmat dan menjadi bahagia bukan hanya soal pilihan pribadi kita, tetapi pada dasarnya buah dan karunia Roh Kudus. Kita terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan rahmat dan berkat-Nya sehingga di tengah-tengah berbagai permasalahan dan kepentingan duniawi, kita tidak kehilangan Yesus di Natal ini.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Excesses

Third Sunday of Advent. December 13, 2015 [Luke 3:10-18]

“Stop collecting more than what is prescribed (Luk 3:13).”

We often think that having more is the sure path to happiness and greatness. Surely, it feels good to own high-end gadgets in our hands, rather than to see them in the hands of our friends. That’s why we work so hard to earn money and buy a lot of things, like fashionable clothes, electronic devices, cars, and more. The more we have, the better we feel. Prosperity is happiness. No wonder books on the secret formula of success and richness are mushrooming and best sold. We spend a lot money to invite management gurus or enroll in programs with great coaches. Even, preachers of various religious groups proclaim wealth as blessing and they sound pleasing to our ears.

However, the Gospel, through John the Baptist, offers us a radical shift of perspective. John told the people to live simply, be avoid excesses and share their surplus. Prosperity is not happiness. Yet, deep inside, we do not like the idea. It is counterintuitive, countercultural and as if we swim against the current of contemporary wisdom. We want to work harder, we like to earn more, and it just feel good to have money and things we desire. Sometimes, priests, religious brothers and sisters are not immune to this temptation. We work so hard, preach a lot, do a lot of ministries and we build many new buildings for our apostolates. We unconsciously are running after another form of prosperity.

Yet, despite preaching against our desire, John is actually proclaiming a Good News, and what good is in having less? When Michelangelo was asked by the Pope, “Tell me the secret of your genius. Tell me how you have made the magnificent statue of David.” He answered, “It is simple. I just remove what is not David.” We are not less human when we stop having excesses, like excessive works, undue problems, complicated relationship, all things that are not essential. In fact, it opens up to other fresh and vibrant possibilities in life, and unforeseen opportunities to discover our true self. Let’s be honest. We are not truly sure what the key to success and happiness is. If we do, we have been as rich as Bill Gate or as powerful as Barack Obama long time ago. If adding things in our lives does not mean happiness, why don’t we just remove those unessential things all together?

John focused on the essential. When he was asked if he was the Messiah, he firmly said no, though it could have been a great opportunity. People of Israel would adore and give him the glory, but John remained firm in his decision. Because his refusal to heed the temptation, he opened up another creative possibility, he became the best man of the Bridegroom, the voice in the wilderness. He then effectively led people to Jesus.

The Advent season is a high time for us to slow down and ask ourselves, “I am working so hard, but am I doing the right thing? I have a lot of things in my hands, but are there really essential?” St. Thomas Aquinas once argued that God is so simple, and because His total simplicity, He was utterly beautiful and lovable. We were created in the image of God, and only going back to that simplicity of God, we are going to discover who we truly are. Like Michelangelo who chiseled out that is not David, we need to detach also those who are not us.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekses

Minggu Adven Ketiga. 13 Desember 2015. [Lukas 3: 10-18]

“Jangan mengambil lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Luk 3:13)

Kita sering berpikir bahwa dengan memiliki lebih banyak adalah jalan pasti menuju kebahagiaan dan kesuksesan. Itu sebabnya kita bekerja keras untuk mendapatkan uang dan membeli banyak hal, seperti pakaian modis, gadget tercanggih, mobil terbaru, dan banyak lagi. Semakin kita miliki, semakin besar kepuasaan yang kita rasakan. Kekayaan adalah kebahagiaan. Tidak heran jika banyak buku tentang formula rahasia kesuksesan dan kekayaan menjamur dan laris manis. Kita juga menghabiskan banyak uang untuk mengundang pembicara tenar atau mendaftar di program sukses dengan coach yang hebat. Bahkan, pengkhotbah dari berbagai kelompok agama menyatakan kekayaan sebagai berkat dan mereka tampak sangat menarik untuk didengarkan.

Namun, Injil, melalui Yohanes Pembaptis, menawarkan kita perubahan perspektif radikal. Yohanes mengatakan kepada orang-orang Israel untuk hidup sederhana, menghindari ekses dan berbagi surplus mereka. Kekayaan bukanlah kebahagiaan. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tidak menyukai ide ini. Hal ini berlawanan dengan intuisi, budaya zaman ini dan seolah-olah kita berenang melawan arus kebijaksanaan kontemporer. Kita ingin bekerja lebih keras, kita ingin mendapatkan lebih, dan kita puas ketika memiliki uang dan hal-hal yang kita inginkan. Kadang-kadang, para imam dan para religius pun tidak kebal terhadap godaan ini. Kita bekerja begitu keras, melakukan banyak pelayanan dan membangun banyak gedung baru untuk kerasulan kita. Tanpa menyadari, kita terjebak dalam godaan untuk mencari kekayaan pribadi.

Namun, walaupun Yohanes menyatakan sesuatu yang kita tidak sukai, sebenarnya ia tetap memberitakan sebuah Kabar Baik. Apa yang baik saat kita tidak memiliki ekses? Ketika Michelangelo ditanya oleh Paus, “Apakah rahasia kamu? Katakan padaku bagaimana kamu bisa membuat patung David yang luar biasa indah!” Dia menjawab, Hal ini sederhana. Saya hanya menanggalkan apa saja yang bukan Daud. Kita tidak akan menjadi setengah manusia ketika kita berhenti memiliki ekses, seperti karya dan kerjaan yang berlebihan, masalah yang tidak perlu, relasi yang terlalu ruwet, semua hal-hal yang tidak penting. Bahkan, hal ini membuka kemungkinan baru dan inovatif dalam hidup, dan kesempatan yang tak terduga untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Mari kita jujur. Kita sebenarnya tidak benar-benar yakin dan tahu apa kunci keberhasilan dan kebahagiaan itu. Jika kita sungguh tahu, kita sudah sekaya Bill Gates atau sekuat Barack Obama sejak lama. Jika memiliki ekses dalam hidup kita tidak berarti kebahagiaan, mengapa kita tidak menanggalkan hal-hal tidak penting dalam hidup kita?

Yohanes memfokuskan dirinya pada yang esensial. Ketika ia ditanya apakah ia adalah Mesias, ia dengan tegas mengatakan tidak, meskipun itu adalah kesempatan besar. Orang Israel akan memuja dan memuliakan dia, tapi Yohanes tetap tegas untuk keputusannya. Karena penolakannya terhadap godaan itu, ia membuka kemungkinan kreatif lain bagi dirinya, dan dia bias menjadi orang terbaik dari mempelai pria dan suara di padang gurun. Dia kemudian secara efektif membawa kita kepada Yesus.

Masa Advent adalah waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, “Saya bekerja begitu keras, tapi apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar? Saya memiliki banyak hal di tangan saya, tetapi apakah ini benar-benar penting?” St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa Allah sesungguhnya begitu sederhana, dan karena kesederhanaan-Nya, Dia benar-benar indah dan mulia. Kita diciptakan menurut citra Allah, dan hanya akan kembali ke kesederhanaan Allah ini, kita akan menemukan siapa kita sejatinya. Seperti Michelangelo yang menanggalkan semua hal yang bukan Daud, kita perlu melepaskan juga hal-hal yang bukan kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP