Hosanna

Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan

5 April 2020

Matius 21: 1-11 dan Matius 26: 14—27: 66

palm n crossHari ini, kita merayakan Minggu Palma. Di banyak negara, hari ini adalah perayaan besar dan umat dengan penuh semangat memenuhi Gereja. Saya ingat waktu masih kecil saya selalu paling semangat ikut perarakan romo yang memasuki Gereja dan kami mengikutinya dengan membawa daun palma kami masing-masing.

Namun, sesuatu yang memilukan terjadi tahun ini. Gereja-gereja di banyak negara ditutup sementara, umat beriman diminta untuk tidak berkumpul, termasuk menghadiri Ekaristi suci, dan orang-orang bingung apa yang harus dilakukan dengan Perayaan Pekan Suci. Seorang umat paroki bertanya dengan sedih kepada saya, “Romo, karena Gereja ditutup, apa yang harus saya lakukan dengan cabang-cabang palma yang saya petik?” Tentunya, selalu ada solusi pastoral untuk hal-hal ini, tetapi masalah sebenarnya bukan tentang bagaimana mengatasi kebingungan, tetapi bagaimana menghadapi kepedihan yang mendalam karena kehilangan apa yang membuat kita menjadi Katolik. Tidak ada palma di tangan kita, tidak ada ciuman kaki salib, dan tidak ada Tubuh Kristus.

Orang-orang Yerusalem yang menyambut Yesus dan berteriak, “Hosanna!” Kata Ibrani “Hosanna” secara harfiah berarti “selamatkan kami!” atau “beri kami keselamatan!” Itu adalah seruan harapan. Kita perlu ingat bahwa orang-orang Israel pada masa ini berada di bawah pendudukan Kekaisaran Romawi. Umumnya, kehidupan itu sulit dan banyak orang menanggung pajak berat dan peraturan yang membebankan. Banyak orang Yahudi yang setia mengharapkan Mesias yang dijanjikan, yang seperti Daud, akan memulihkan dua belas suku Israel yang hilang, membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi dan membawa mereka ke kerajaan yang mulia. Mereka melihat Yesus sebagai pewarta karismatik, penyembuh ajaib, dan penakluk alam yang ganas, dan tentunya, Yesus bisa menjadi raja yang akan menjungkirbalikkan pasukan Romawi. Kita perlu mengingat juga konteks Injil hari ini, bahwa dalam beberapa hari, orang-orang Yahudi akan merayakan pesta besar Paskah, dan ribuan orang berkumpul di Yerusalem. Dengan begitu banyak energi dan euforia, insiden kecil bisa memicu pemberontakan skala besar. Dan Yesus berada di pusat pusaran ini.

Yesus memang seorang raja dan penyelamat, tetapi Ia bukan raja yang diharapkan banyak orang. Dia adalah raja damai, bukan jendral perang, itulah sebabnya Dia memilih keledai yang lembut daripada kuda yang kuat. Mahkotanya bukan emas dan berlian yang bersinar, tetapi duri yang tajam. Jubahnya bukan kain halus ungu, tetapi kulit yang penuh luka. Takhta-Nya tidak megah, tetapi sebuah salib yang hina.

Kita mungkin seperti orang-orang di Yerusalem, dan kita berteriak “Hosanna!” kepada Yesus, mengharapkan Dia untuk menyelamatkan kita dari pandemi yang mengerikan ini, untuk mengembalikan perayaan liturgi kita, dan untuk menyelesaikan semua masalah kita. Namun, seperti orang-orang Yerusalem, kita mungkin keliru. Yesus adalah Juru Selamat kita, tetapi Dia mungkin menyelamatkan kita dengan cara yang bahkan tidak kita sukai.

Tantangannya adalah apakah kita kehilangan kesabaran dan mengatakan bahwa Yesus sebagai pewarta hoax, dan bukan kabar baik, atau menanggung penghinaan dengan-Nya; apakah kita berkecil hati dan mulai berteriak, “Salibkan Dia!” atau kita berdiri di dekat salib-Nya. Tantangannya adalah apakah kita menjadi pahit dan mulai mengejek otoritas gereja karena ketidakmampuan mereka menangani krisis, atau kita terus mendukung mereka pada masa pencobaan; apakah kita mengutuk situasi yang suram, atau kita mulai menyebarkan cahaya sekecil apa pun itu.

Mengapa Tuhan membiarkan kita menanggung pengalaman mengerikan ini, atau lebih tepatnya, mengapa Allah membiarkan diri-Nya menanggung pengalaman mengerikan ini? Mari kita tunggu jawabannya di Jumat Agung.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love at the Heart

Seventh Sunday in Ordinary Time [A]

February 23, 2020

Matthew 5:38-48

praying n persecutionAt the heart of Jesus’ teaching in the Mount is the formation of the heart. However, the heart in the Bible is not limited to our affective side or emotions. It also stands for the center of intellectual capacity and freedom. The heart is the seat of life itself, and thus, represents who the man or woman is.

Last week, Jesus told us to purify our hearts from evil thoughts and wicked desires [Mat 5:17-37]. It is not enough not to do violence to others, but it is necessary to cleanse our hearts from anger and vengeance. It is not sufficient not to commit adultery, but we are required to remove from our hearts the lustful desires. Forming the hearts is more fundamental rather than simply and blindly following the written laws and regulations. The formation of the heart is about building up good habits, and virtuous character. A virtuous person is avoiding evil, not because of fear of the external laws, but strong motivation from within.

However, in today’s Gospel, Jesus demands even something higher. The purifying of the heart is just the first step, and we need to go to another and more difficult step: to love. It is precisely tougher because love is not merely about removing impure desires in our hearts or preventing us from doing evil, but it is about actively doing good. Moreover, this love [agape] is only real and meaningful if we are doing good, not in the conditions that are favorable to us, but rather in the face of evil and sufferings.

Since its foundation around two millennia ago, Christians remain the most persecuted people. Opendoorusa.org reported that numbers of persecutions and violence against Christians are on the rise. In 2019, more than 260 million Christians [one out of nine Christians in the world] are living in the places where they experience a high level of persecution. Almost 3 thousand Christians were killed because of their faith. More than 9 thousand churches and Christian buildings like schools were attacked. In Nigeria, priests and seminarians were abducted and tortured. Some were lucky to return alive, but many were found lifeless. In China, the government made national crackdown against Christians and shut down the churches. In Indonesia, things are better for the Christians because our rights are enshrined in the constitutions. Yet, in the grassroots, we continue to feel discriminated against and fear of being targeted by the extremists and terrorists.

Our destiny as Christians are not better than our brothers and sisters who belonged to the early Church. However, as our brothers and sisters in the past, our mission remains the same: to love our enemies, to respond evil with utter generosity, and be ready to fight for justice with gentleness. Christians are accused as weak people, but this is plain wrong. The world that is built by violence and bitterness is self-destruct, and unless we dare to be true followers of Christ, we cannot stop the downward mobility towards total ruin. We thank our predecessors who refused to be controlled by violent anger despite so much evil they had to endure. The world is a much better place with whose hearts are pure. St. Tertullian believed that the blood of martyrs is the seed of Christianity, and we believe also that the love of Christians are the seed of a better world.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s House

33rd Sunday in Ordinary Time – November 17, 2019 – Luke 21:5-9

Cathedral of Notre-Dame of Paris fire aftermath, France - 16 Apr 2019During the reign of Herod the Great, the Temple of Jerusalem was refurbished, adorned by gold and other precious metals, and expanded, and thus making it the crown jewel of the Jewish nation. However, the Temple was not merely a magnificent building, but primarily the center of Jewish religious worship and religion. Every morning and evening, sacrifices were offered, and every year, Jewish men from all over the world made their pilgrimage, and paid their homage the Lord God. It was the place where God chose to stay, the place where the Israelites meet their God, and the house of God.

Looking at the majestic view of the Temple and its religious significance, many would believe that the Temple would last forever because God Himself would defend His house. Yet, Jesus prophesied against the sentiment of the Israelites and told His disciples that this beautiful Temple would be destroyed. Surely, Jesus’ words offended the religious sensitivity of His time and one of the accusations against Him was precisely because Jesus spoke against the Temple, against God Himself. Yet, 40 years later, in 70 AD, the Romans under General Titus, burned the Temple and razed the city to the ground.

Jesus’ prophesy opens us to the profound truth that even God allows His house on earth to be destroyed. Hagia Sophia in Constantinople (now Istanbul) was the grandest church in the 4th and 5th centuries and considered to be an architectural and engineering marvel. Yet, when Constantinople fell to the Turks, the church stopped functioning as a Christian worship place. In our time, the Cathedral of Notre Dame was an iconic Gothic building at the heart of Paris. Yet, on April 15, 2019, the fire destroyed many parts of this holy building. Just this month, some churches in Chile became the target of violent demonstrators. They forcefully entered the churches, took out the pews and other religious images, and burnt them outside the churches, not to mention, the desecration of the tabernacles. The houses of God have been the object of vandalism, violent anger, and untold destruction, and God allows those to take place in our midst. But why? Is God weak enough to stop these from happening? Does God not care? Has God forsaken us?

The Churches as the house of God symbolize the inner sanctuary of our faith. An attack on the Church means an attack on our cherished faith. If God allows His house to be humiliated, so God also allows our faith to be challenged, shocked, and shaken. God allows trials to batter our lives, doubts to question our faith, and darkness to envelop our vision. But why?

When the fire that burned the Church of Notre Dame was extinguished, many things have been lost, but at the center of the Church, one image survived the blazing fire: the huge cross stood still. God allows His houses destroyed, and our faith was shaken to show us what truly matters in life and our journey of faith. It is God and God alone. It is not so much the monuments we build for Him nor the works and mission for Him, even our talents, charism and fruits of prayers. These are surely important, but these easily vanish. Only one remains God alone. God allows us to be shaken so we may find Him again, surprisingly more alive and ever closer.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rumah Tuhan

Minggu Biasa ke-33 – 17 November 2019 – Lukas 21: 5-9

church in tacloban

Pada masa pemerintahan Herodes Agung, Bait Allah di Yerusalem diperbaharui, dihiasi oleh emas dan batu-batu mulia lainnya, diperluas, dan dengan demikian menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Yahudi. Namun, Bait Allah itu bukan hanya bangunan yang megah, tetapi terutama pusat ibadah agama Yahudi. Setiap pagi dan sore, korban dipersembahkan, dan setiap tahun, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah ke Bait ini, dan memberi penghormatan kepada Tuhan Allah. Itu adalah tempat di mana Allah memilih untuk tinggal, tempat di mana orang Israel bertemu dengan Allah mereka, dan ini adalah rumah Allah.

Melihat pemandangan Bait Allah yang agung, banyak orang akan percaya bahwa Bait Allah itu akan bertahan selamanya karena Allah Sendiri akan mempertahankan rumah-Nya. Namun, Yesus bernubuat dan memberi tahu para murid-Nya bahwa Bait Allah yang indah ini akan dihancurkan. Tentunya, kata-kata Yesus menyinggung banyak orang Yahudi pada zaman-Nya dan salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah Yesus berbicara menghujat Bait Allah, yang berarti melawan Allah Sendiri. Namun, 40 tahun kemudian setelah Yesus diangkat ke Surga, pada tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi di bawah komando Jenderal Titus, membakar Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem sampai rata dengan tanah.

Nubuat Yesus membuka kita pada kebenaran mendalam bahwa bahkan Allah mengizinkan rumah-Nya di dunia dihancurkan. Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah gereja termegah di abad ke-4 dan ke-5 dan dianggap sebagai keajaiban arsitektur. Namun, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan orang Turki, gereja ini berhenti berfungsi sebagai tempat ibadah Kristiani. Pada zaman kita, Katedral Notre Dame adalah bangunan Gotik ikonis di jantung kota Paris. Namun, pada 15 April 2019, api menghancurkan banyak bagian bangunan suci ini. Baru bulan ini, beberapa gereja di Chili menjadi sasaran para demonstran yang melakukan kekerasan. Mereka dengan paksa memasuki gereja-gereja, mengambil bangku dan benda-benda religius lainnya, dan membakar mereka di luar gereja, belum lagi, penodaan terhadap tabernakel. Rumah-rumah Tuhan telah menjadi objek vandalisme, brutalitas, dan kehancuran yang tak terhitung, dan Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi di tengah-tengah kita. Tapi kenapa? Apakah Tuhan cukup lemah untuk menghentikan ini terjadi? Apakah Tuhan tidak peduli? Sudahkah Tuhan meninggalkan kita?

Gereja-gereja sebagai rumah Allah melambangkan iman kita. Serangan terhadap Gereja berarti serangan terhadap iman kita yang berharga. Jika Tuhan membiarkan rumah-Nya dihancurkan, Tuhan juga mengizinkan iman kita ditantang, dikejutkan, dan diguncang. Tuhan mengizinkan pencobaan menerpa hidup kita, keraguan atas iman kita, dan kegelapan untuk menyelimuti visi kita. Tapi kenapa?

Ketika api yang membakar Gereja Notre Dame padam, banyak hal telah hilang, tetapi di pusat Gereja, satu benda selamat dari nyala api yang menyala-nyala: salib besar berdiri tegak. Tuhan membiarkan rumah-Nya hancur, dan iman kita terguncang untuk menunjukkan kepada kita apa yang benar-benar penting dalam hidup dan perjalanan iman kita. Hanya Tuhan. Hal-hal yang kita bangun untuk Tuhan atau pekerjaan dan misi untuk-Nya, bahkan talenta, karisma, dan buah doa kita, dapat diambil oleh Tuhan dari kita. Ini memang penting, tetapi ini tidak kekal. Hanya satu yang kekal yakni Tuhan saja. Tuhan membiarkan kita terguncang sehingga kita dapat menemukan-Nya lagi, secara mengejutkan lebih hidup dan semakin dekat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Suffering and God’s Way

28th Sunday of the Ordinary Time – October 13, 2019 – Luke 17:11-19

Jesus_Mafa_Healing_of_LeperSuffering, sickness, and death do not care whether you are Jews or Samaritans, whether you are rich or poor, whether you are old or young. When it strikes, it strikes. In time of Jesus, leprosy or Hansen’s disease was still one of most dreadful sicknesses. It ate you your skin and made you ugly. It is highly contagious, and thus, cut you from your community. It was incurable and thus brought you a slow and agonizing death.

While it is true, and we thank God, that leprosy is now curable, humanity continues to battle with deadly diseases that bring untold suffering and death. When I was still in a brother in the formation, he was assigned to the hospital in Manila to be a chaplain. My duty was to accompany those people who were struggling with terrible sickness. Some were battling cancers and they had to endure painful chemotherapy. Some were having kidney failures and had to patiently undergo hemodialysis. Some were helpless victims of HIV and had to bear various complications.

I never forgot to meet one young man in that hospital. We just call him John. He was a new college graduate, and he had high hopes for his future life. Yet, all were changed when just several weeks after his graduation, he was diagnosed with cancer, stage 3. Thus, to survive he must take up severe medication like surgery and chemotherapy. In the hospital, I learned how painful chemotherapy was and there was no assurance that the treatment would succeed. In fact, it may destroy the body in the process. He lost his hair, he lost his appetite, and every time he tried to eat, he would throw up. He became terribly weak and sickly.

One day, I decided to visit him and had a little chat. I was expecting a very depressing case, but to my surprise, he said that he was doing fine and in fact grateful. Initially, I thought the medication was working, but it was not really the case. I was confused with his answer. In dealing with patients with grave sickness, the chaplains were told about the five stages of grieving: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Nowhere in the process, a sick person will be grateful. Yet, John was thankful for his condition. Why?

When I asked further, I heard an unforgettable answer. He said that in his sickness and suffering, he discovered what is truly important and indispensable in his life. He learned how the love of his parents made his life more meaningful. He saw how God has given life that is simple and yet totally free. A very breath, a very heartbeat, a very memory is precious gift from God. He cannot but be grateful for simple blessings from God, despite his deadly sickness.

John teaches me that suffering is sometimes God’s way to remind us to discover what is truly essential in our life. When we are suffering, we realize our beautiful bodies are no longer important, our richness is empty, and our ambitions are just like passing air. We thank the Lord that we are not suffering like John, but we do not have to wait until we get sick, to find the essentials. The time is now and the place is here.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penderitaan sebagai Jalan Tuhan

Minggu ke-28 pada Masa Biasa – 13 Oktober 2019 – Lukas 17: 11-19

jesushealstenlepers6Penderitaan, penyakit, dan kematian menyerang tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah orang Yahudi atau orang Samaria, apakah kaya atau miskin, apakah tua atau muda. Pada zaman Yesus, kusta atau penyakit Hansen masih merupakan salah satu penyakit yang paling mengerikan. Itu memakan kulit kita dan membuat kita jelek. Ini sangat menular, dan dengan demikian, dikucilkan dari komunitas. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan dengan demikian membawa kematian yang lambat dan menyakitkan.

Kita berterima kasih kepada Tuhan, bahwa kusta sekarang dapat disembuhkan,  tetapi umat manusia terus berjuang dengan penyakit mematikan yang membawa penderitaan dan kematian yang tak terhitung. Ketika saya masih seorang frater dalam formasi, saya ditugaskan ke rumah sakit di Manila untuk mendampingi para pasien. Tugas saya adalah menemani orang-orang yang bergulat dengan penyakit yang mengerikan. Beberapa berjuang melawan kanker dan mereka harus menjalani kemoterapi yang menyakitkan. Beberapa mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis dengan sabar. Beberapa adalah korban HIV yang tak berdaya dan harus menanggung berbagai komplikasi.

Saya tidak pernah lupa bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit itu. Sebutlah dia sebagai John. Dia adalah lulusan perguruan tinggi yang baru diwisuda, dan dia memiliki harapan besar untuk kehidupan masa depannya. Namun, semua berubah ketika hanya beberapa minggu setelah lulus, ia didiagnosis menderita kanker, stadium 3. Dengan demikian, untuk bertahan hidup ia harus mengambil pengobatan yang sangat agresif seperti operasi dan kemoterapi. Di rumah sakit, saya belajar bagaimana kemoterapi yang menyakitkan ini tidak ada jaminan bahwa perawatan ini akan berhasil. Bahkan, itu bisa menghancurkan tubuh dalam proses. Dia kehilangan rambutnya, kehilangan nafsu makan, dan setiap kali dia mencoba makan, dia akan muntah. Dia menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan.

Suatu hari, saya memutuskan untuk mengunjunginya dan mengobrol sedikit. Saya melihat kasus yang sangat menyedihkan, tetapi yang mengejutkan saya, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan sebenarnya bersyukur. Awalnya, saya pikir obatnya bekerja, tetapi sebenarnya tidak demikian. Saya bingung dengan jawabannya. Saat berhadapan dengan pasien dengan penyakit serius, kita diberitahu tentang lima tahap menghadapi duka: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak ada di dalam tahapan ini dimana orang yang sakit akan bersyukur. Namun, John bersyukur atas kondisinya. Mengapa?

Ketika saya bertanya lebih lanjut, saya mendengar jawaban yang tak terlupakan. Dia mengatakan bahwa dalam penyakit dan penderitaannya, dia menemukan apa yang benar-benar penting dan sangat diperlukan dalam hidupnya. Dia mulai mengerti bagaimana kasih orang tuanya membuat hidupnya lebih bermakna. Dia melihat bagaimana Tuhan telah memberikan kehidupan yang sederhana namun sepenuhnya cuma-cuma. Setiap nafas, setiap detak jantung, setiap kenangan adalah anugerah berharga dari Tuhan. Dia tidak bisa tidak bersyukur atas berkat sederhana dari Tuhan, meskipun dia sakit parah.

John mengajarkan saya bahwa penderitaan kadang-kadang cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Ketika kita menderita, kita menyadari tubuh indah kita bukanlah segalanya, kekayaan kita kosong, dan ambisi kita seperti nafas yang lewat. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak menderita seperti John, tetapi kita tidak harus menunggu sampai sakit, untuk menemukan hal-hal yang penting. Waktunya sekarang dan tempatnya ada di sini untuk kita bertanya, apakah yang paling penting di dalam hidup ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Inevitable

Ascension of Jesus Christ [June 2, 2019] Luke24:46-53

goodbyeIf you are a fan of Marvel universe movies, you will easily remember Thanos, the primary villain with twisted moral conviction. After he swept half of the living beings in the universe with the power of the infinity stones, he went into hiding. Yet, the Avenger found him and forced him to restore the world, but he said it was no longer possible because he has destroyed the stones, because what he did was inevitable, and he said, “I am inevitable”.

Thanos’ words echo the message of Jesus in today’s Gospel that any human relation will find its end. Separation is inevitable. Yet, it is natural for us that we do not want to be separated from our loved ones in life. Every separation surely will bring pain and anguish. I still remember when I needed to enter a seminary, and I had to be separated from my mother for good. My mother cried, and I shed some tears, too, but I guess my father was happy that I am leaving!

Thus, we can imagine that when Jesus is going up to heaven, and He will be no longer with the disciples, they are grief-stricken and full of anxiety. They would ask each other, what’s next? They are going to lose their Master, their hope, their expected Messiah and King. Yet, Jesus said that He is leaving for their own good.

Yes, separation can be painful and fearful, but Jesus assures us that separation is part of life, and it is good for us.

We take an example of my mother. Had my mother refused to let me go, I would not have been a priest and served you here in this celebration. Or another example, a mother who is pregnant. We know that she loves her baby, but she must let her baby go from her womb and let the baby breathe using his own lungs. Otherwise, the baby and the mother will both die. The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good.

Separation can also mean allowing our loved ones to face life’s adversities and pain. After I entered the seminary, my life did not get any comfortable, yet it went in the opposite direction. No more mother to wake me up, no more father to bring me to school or help in my assignment. But what does not kill you, builds you up. Often, we love so much our children, and we want to shield them from life’s trials and pain, but it may backfire. It may create a soft generation with deadly entitlement mentality: children who believe that they are entitled to the privileges of life, people who too quickly complain about life.

Jesus understands this, and He leaves disciples so that the disciples may grow and bear fruits. Jesus knows that He will stay and protect them; they will remain a group of crying men. After Jesus left, life did not get any easier for the disciples. Eleven out of twelve were martyred. Other Jesus’ followers shared the same lot. Yet, through adversaries, they grew and flourished.  True enough, after two thousand years, the Church Jesus founded, has become the biggest community in the world with more than 1/3 of the earth’s population as its members.

The separation is inevitable, but properly understood, it can be something good and even fruitful.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salib dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [2 Juni 2019] Yohanes 17: 20-26

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Jn. 17:22)

Jesus christ in heavenAda tiga respons terhadap kesulitan dalam hidup. Yang pertama adalah menghindari atau melarikan diri. Yang kedua adalah menyerah pasrah. Yang terakhir adalah merangkul dan mengubahnya menjadi sarana pertumbuhan dan kemuliaan kita. Ini adalah kemuliaan yang  tidak murahan karena mengalir dari kesulitan, kerja keras dan pengorbanan. Ini adalah kemulian sejati karena tidak bisa dibeli dengan uang tetapi diperoleh dari kucuran keringat, air mata dan bahkan darah.

Adalah dorongan alami dalam diri manusia untuk menghindari apa yang menyakitkan dan untuk mengambil apa yang menyenangkan. Namun, paradoksnya adalah bahwa semakin kita merangkul kesulitan hidup, kita semakin didewasakan dan dikuatkan. Inilah kebijaksanaan yang telah diakui oleh orang-orang tempo dulu. Spartan adalah salah satu bangsa terkuat di semenanjung Yunani kuno. Ini karena mereka melatih anak-anak mereka dalam kesulitan. Pada usia 7 tahun, anak laki-laki diambil dari orang tua mereka dan menjalani pelatihan intens di barak sampai mereka mencapai usia 20 tahun. Salah seorang Spartan yang paling terkenal adalah Leonidas, raja kota Sparta. Saat Persia menyerang semenanjung Yunani, dia bersama dengan 300 prajurit pilihannya menahan pasukan Persia yang jauh lebih unggul selama tiga hari di Thermopylae. Ketika mereka kehilangan pertahanan mereka, Leonidas menolak untuk mundur, dan dengan 300 pasukannya mengorbankan nyawa mereka untuk memberi waktu yang cukup bagi orang-orang Yunani untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik. Leonidas menerima kemuliaan bukan karena kedudukannya sebagai raja, tetapi ia mau berkorban.

Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kita jangan lari dari kesulitan hidup tetapi merangkul mereka dan membiarkan diri kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Kalau tidak, kita bisa berubah menjadi generasi yang lembek dan tidak tahu berterima kasih. Para siswa tidak dapat menguasai keterampilan dan memperoleh pengetahuan sejati kecuali mereka tunduk pada disiplin studi. Atlet tidak dapat memenangkan medali, kecuali mereka berlatih dengan sangat intens.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan kita, para murid-Nya, sebuah kemuliaan. Namun, ada perbedaan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan Yesus. Sementara kemuliaan dunia pada akhirnya adalah tentang kemuliaan, kesuksesan dan keberhasilan pribadi kita, kemuliaan Yesus adalah tentang salib. Terutama dalam Injil Yohanes, waktu kemulian Yesus menunjuk pada salib-Nya. Yesus tidak pernah berbicara tentang Dia disalibkan, tetapi Dia dimuliakan.

Ketika Yesus menganggap salib-Nya sebagai kemuliaan-Nya, maka kita perlu menganggap salib harian kita sebagai kemuliaan kita. Pada zaman Yesus, tidak seorang pun akan menganggap bahwa salib, alat penyiksa Romawi yang brutal, akan berubah menjadi jalan kemuliaan. Salib adalah sebuah absurditas, dan hanya karean kehadiran Yesus yang mengorbankan hidup-Nya untuk kita, salib menemukan makna terdalamnya. Salib bukanlah apa-apa, kecuali itu diarahkan sebagai saran kasih cinta pengorbanan. Kapasitas kita untuk mengasihi ditentukan oleh kemampuan kita untuk memikul salib kita yakni kemampuan kita untuk menderita. Kita memikul salib kita, itu memperbesar kemampuan kita untuk mencintai. Saat kita mencintai sampai akhir, kita dapat menerima kemuliaan kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Exodus

First Sunday of Lent [March 10, 2019] Luke 4:1-11

missionary of charityThe Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].

The Spirit brings Jesus to the wilderness because Jesus is going to enter into His Exodus. Jesus is the New Moses who leads the New Israel into the new exodus. If we want to follow Jesus and call ourselves as the Christian, we need to follow Jesus to the wilderness and the new Exodus. Yet, the desert is far from being a comfortable place. It is a place of trials and temptation. But, why does Jesus want us to follow Him into the place of trials? Because Jesus understands that faith without temptation is empty, hope without challenges is fantasy and love without sacrifice is cheap.

If we read closely the story of Israel in the desert, they could reach the Promised Land in just two-week time even by walking. But, why did it took them forty years? It is because when they were about to enter the Land, they became afraid of the native people who stayed there, and they complained against God. They were just one step away from the promised land, and yet they squandered the opportunity because they did not have faith in God. Then, God punished them, and placed them in the desert for forty years. They needed to learn the lesson in a hard way.

Living a comfortable life does not make us really grow in faith. In fact, it is in the harshest places that we discover God alive and fresh. When I visited the hospitals, meeting the patients with terrible sickness like cancer and kidney failure; when I visited the jails, talking to inmates, I witnessed the stronger faith, hope and love.

Once I met this lady, just called her Mary. She was a single mother, and her only child was a special child. His brain is shrinking, and he cannot do anything but clap his hands. It was a truly difficult situation, and what made it worse was when some other Christians who professed that Jesus is Lord and Savior said to her that the child was a curse. She was living in a cruel world, and terrible people around him. She was figuratively living in the wilderness. And I asked her what made her remain active in the Church. She said, “because I know God loves me through my special child.” Once again I saw a faith that moves a mountain.

Often it is through trials, challenges and the “desert” that we learn the true value of faith, hope and love.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP