Eksodus

Hari Minggu Prapaskah Pertama [9 Maret 2019] Lukas 4: 1-11

Satan-Tempts-Jesus-GettyImages-463967715-5808f7b65f9b58564c318113Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].

Roh membawa Yesus ke padang gurun karena Yesus akan menjalani Eksodus-Nya. Yesus adalah sang Musa yang Baru yang memimpin Israel Baru ke dalam eksodus baru. Jika kita ingin mengikuti Yesus dan menyebut diri kita sebagai orang Kristiani, kita perlu mengikuti Yesus ke padang gurun dan eksodus baru. Namun, padang gurun bukanlah tempat yang nyaman. Itu adalah tempat pencobaan dan godaan. Tetapi, mengapa Yesus ingin kita mengikuti Dia ke tempat pencobaan? Karena Yesus mengerti bahwa iman tanpa godaan adalah hampa, harapan tanpa tantangan adalah fantasi dan kasih tanpa pengorbanan adalah murahan.

Jika kita membaca dengan cermat kisah bangsa Israel di padang gurun, mereka sebenarnya dapat mencapai Tanah Perjanjian hanya dalam waktu dua minggu bahkan dengan berjalan kaki. Tetapi, mengapa itu menjadi empat puluh tahun? Hal ini karena ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, mereka takut pada penduduk asli yang tinggal di sana, dan mereka mengeluh kepada Tuhan. Hanya satu langkah lagi sebelum sampai di Tanah Terjanji, namun mereka menyia-nyiakan kesempatan itu karena mereka tidak memiliki iman kepada Tuhan. Kemudian, Tuhan menghukum mereka, dan menempatkan mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka perlu belajar dengan cara yang sulit.

Hidup dalam kenyamanan tidak membuat kita benar-benar tumbuh dalam iman. Tanpa terduga, di tempat-tempat terberat saya menemukan Tuhan hidup dan berkuasa. Ketika saya mengunjungi rumah sakit, menemui pasien dengan penyakit mengerikan seperti kanker dan gagal ginjal; Ketika saya mengunjungi penjara, berbicara dengan para tahanan, saya menyaksikan iman, harapan, dan kasih yang luar biasa.

Suatu kali saya bertemu seorang wanita, sebut saja dia Maria. Dia adalah seorang ibu tunggal, dan satu-satunya anak adalah anak yang berkebutuhan khusus. Otaknya menyusut, dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain bertepuk tangan. Itu benar-benar situasi yang sulit, dan yang lebih buruk adalah ketika beberapa orang-orang lain yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat mengatakan kepadanya bahwa anak itu adalah kutukan. Dia hidup di dunia yang kejam, dan sungguh hidup di padang gurun. Dan saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya tetap aktif di Gereja. Dia berkata, “karena saya tahu Tuhan mencintai saya melalui anak saya yang special ini.” Sekali lagi saya melihat iman yang dapat memindahkan gunung.

Seringkali melalui cobaan, tantangan, dan “gurun” kita belajar nilai sebenarnya dari iman, harapan, dan kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful like the Father

7th Sunday in Ordinary Time [February 24, 2019] Luke 6:27-38

Last week, we listened to the core teaching of Jesus Christ, the Beatitudes. This is the set of conditions that leads a person to blessedness or true happiness. This Sunday, we discover the practical steps on how to achieve this genuine joy. Last week, we learned that Jesus’ Beatitudes is the reversal of worldly order of happiness. For the world, to become greedy rich, violently powerful, and sexually potent are the conditions for happiness. Jesus reverses the order and says that those who are generous, gentle, merciful, and chaste are the ones who are truly happy.

As the Beatitudes are the reversal of worldly order, so also Jesus’ practical teachings on how to achieve these Beatitudes. The world tells us to seek revenge, a tooth for a tooth, an eye for an eye, but Jesus teaches us to forgive, to bless those who curse us, and to pray for those who mistreat us. The world tells us to give something and expect something in return. It is business and investment. But, Jesus instructs us to give in the generosity of heart, without counting the cost, without expecting something in return. The world tells us to love people who love us back and to hate people who hate us, but Jesus preaches that we shall love our enemies and do good to who hate us.

Jesus’ instructions are easier said than done, and in fact, they go against the natural tendencies we have. We may forgive people who do petty and unintentional mistakes, like someone who steps on our foot. However, how are we going to love someone who bullies us, lowers our self-esteem, and causes us depression? How are we going to forgive someone betrays our trust, steals from us, and makes use of us for their personal interest? How are we going to accept someone who sexually and physically abuses us? How are we going to do good to someone who murdered a member of our family? How are we going to forgive someone who never asks our forgiveness?

Human as we are, it is nearly impossible to follow Jesus’ teachings. Yet, it is not totally impossible because we are not animals who blindly follow instincts, but we are created in the image of God who is mercy. Jesus does not teach us the impossible because He knows who we truly are, the children of God. If God can be merciful to the wicked and the ungrateful, if He showers rain for the good and the bad, if He provides for the saints and sinners, we have the potential to imitate Him.

Last Sunday, January 24, in the middle of the Eucharist celebration, two bombs exploded inside and outside the Cathedral of Our Lady of Mount Carmel, July, Philippines. They killed more than 20 mass-goers and injured a hundred more people. Every victim has a story, and every soul has a family. Daisy Delos Reyes, Rommy Reyes and his wife Leah are several regular mass-goers who actively served in the Church. Their bodies were blown apart and deformed. It was so painful, and the people close to them cannot but be in a rage. However, hatred will not solve anything and vengeance never bring true peace. Our brothers and sisters in Jolo were shattered, but they rise from the ashes and rebuild their Church and faith.

Quoting Ed Sheeran, an English singer and songwriter, in his song “Photograph”

“Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berbelas Kasih seperti Bapa

Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [24 Februari 2019] Lukas 6: 27-38

Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (Lk. 6:36)

father and child 2Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.

Karena Sabda Bahagia adalah kebalikan dari tatanan duniawi, demikian juga ajaran praktis Yesus tentang bagaimana mencapai Sabda Bahagia ini. Dunia memberi tahu kita untuk membalas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni, memberkati orang-orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dunia memberi tahu kita untuk memberikan sesuatu dengan mengharapkan balasannya. Ini bisnis dan investasi. Tetapi, Yesus memerintahkan kita untuk memberi dalam kemurahan hati, tanpa menghitung biayanya, tanpa mengharapkan imbalan. Dunia memberitahu kita untuk mencintai orang yang mencintai kita dan membenci orang yang membenci kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada siapa yang membenci kita.

Instruksi Yesus sangat sulit karena pada kenyataannya, itu bertentangan dengan kecenderungan alami yang kita miliki. Kita mungkin memaafkan orang yang melakukan kesalahan kecil dan tidak disengaja, seperti seseorang yang menginjak kaki kita. Namun, bagaimana kita akan mangasihi seseorang yang menindas kita, menurunkan harga diri kita, dan menyebabkan depresi? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang mengkhianati kepercayaan kita, mencuri dari kita, dan memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadi mereka? Bagaimana kita akan menerima seseorang yang melakukan pelecehan seksual dan fisik terhadap kita? Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada seseorang yang membunuh anggota keluarga kita? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang tidak pernah meminta pengampunan kita?

Manusia seperti kita, hampir mustahil untuk mengikuti ajaran Yesus. Namun, itu tidak sepenuhnya mustahil karena kita bukan binatang yang secara membabi buta mengikuti naluri, tetapi kita diciptakan menurut citra Allah yang berbelas kasihan. Yesus tidak mengajarkan kita hal yang mustahil karena Dia tahu siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah. Jika Allah bisa berbelas kasih kepada yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih, jika Ia menurunkan hujan untuk yang baik dan yang buruk, jika Ia menyediakan bagi orang kudus dan orang berdosa, kita juga bisa menjadi seperti Dia.

Beberapa Minggu lalu, 24 Januari, di tengah perayaan Ekaristi, dua bom meledak di dalam dan di luar Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina. Aksi ini menewaskan lebih dari 20 jemaat dan melukai seratus orang lebih. Setiap korban memiliki cerita, dan setiap jiwa memiliki keluarga. Daisy Delos Reyes, dan juga Rommy Reyes dan istrinya Leah adalah beberapa orang yang secara rutin menghadiri misa dan aktif melayani di Gereja. Tubuh mereka hancur berantakan dan tak dikenali. Itu sangat menyakitkan, dan orang-orang yang dekat dengan mereka tidak bisa tidak marah. Namun, kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun dan pembalasan dendam tidak pernah membawa kedamaian sejati. Saudara dan saudari kita di Jolo hancur, tetapi mereka bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali Gereja dan iman mereka. Memang, itu tidak mudah, tetapi itu karena Bapak kita adalah Allah yang berbelas kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Blessedness and Woes

Sixth Sunday in Ordinary Time [February 17, 2019] Luke 6:17.20-26

“But woe to you who are rich, for you have received your consolation. (Lk. 6:24)”

indiaispoorWe listen today the Beatitude, but unlike the famous Beatitude from the Gospel of Matthew, we have today from the Gospel of Luke. Unlike from Matthew who has eight sayings of blessedness, Luke has four blessedness and for four “woes”. The most striking difference is while Matthew seems to emphasize “the poor in spirit”, Luke wants us to understand poverty in a more literal sense.

We want to have a happy life, and we do not like to have a difficult and poor life. It is just basic in our human nature. If we study diligently, we expect that we have a good result in our education. If we work hard and labor honestly every day, we wish that we will be rewarded with success. If we live our lives with passion and dedication, we look forward to acquire a fulfilling life.

However, in today’s Gospel, we listen that Jesus is telling us that the blessed one are the poor, the hungry, the weeping, and the persecuted, and for those who are rich, filled, and laughing, “woe” is their lot. Is Jesus pro-poor and anti-rich? Does Jesus want us to suffer, famish, and become malnourished? Does Jesus like that we are justly rewarded for our hard work and labor? Is Jesus hyper melancholic man, who sulk in sadness, and does not know how to enjoy life?

These are tough yet valid questions, and to answer these, we need to go back to the time of Jesus and discover the context behind the saying of Jesus. In the first century A.D. Palestine, the majority of the people, including Jesus Himself, were poor, hungry and oppressed. They were poor not because they were lazy but because they were living under a terrible time to live. Palestine was colonized by the Romans, and it was a common practice to levy a heavy tax on ordinary Israelites. Only some nobilities, few landowners, a handful of rich businessmen and Israelites who were working for the Romans, like the tax collectors, were enjoying a better life. Ordinary Israelites did not only have to face the Romans, but they had to suffer from the abuses from their fellow yet greedy and opportunistic Israelites who wished nothing but enrich themselves. It was a terrible time to live.

The message of Beatitude was more making sense now. Jesus promises hope and consolation for those who are poor and suffering due to injustice, and He woes those who are rich through dishonest and oppressive means. Thus, we know now that by His Beatitudes and Woes, Jesus does not hate all the rich guys, but greed and injustice that poison people’s hearts both the rich and the poor. When we have a good life because of our hard work and honest effort, then we praise the Lord. It is a blessing! Yet, Jesus is also reminding us that in good time, we must not be greedy, but remain humble and even to have concern for our brothers and sisters who are poor, hungry, and weeping because of injustice.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penghiburan bagi yang Tertindas

Minggu ke-6 pada Masa Biasa [17 Februari 2019] Lukas 6:17-28

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. (Lk. 6:24)”

poor chilrenKita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.

Tentunya, kita ingin memiliki kehidupan yang bahagia, dan kita tidak ingin dengan kehidupan yang sulit dan miskin. Hal ini mendasar dalam karakter manusia. Jika kita rajin belajar, kita berharap bahwa kita memiliki hasil yang baik dalam pendidikan kita. Jika kita bekerja dengan keras dan jujur setiap hari, kita berharap bahwa kita akan mendapatkan kesuksesan. Jika kita menjalani hidup kita dengan hasrat dan dedikasi, kita berharap untuk memperoleh kehidupan yang memuaskan dan bermakna.

Namun, dalam Injil hari ini, kita mendengarkan bahwa Yesus bersabda bahwa yang diberkati adalah orang miskin, yang lapar, yang menangis, dan yang dianiaya, dan bagi mereka yang kaya, kenyang, dan tertawa, “celakalah” nasib mereka. Apakah Yesus seorang yang pro-miskin dan anti-kaya? Apakah Yesus ingin kita menderita, kelaparan, dan menjadi kurang gizi? Apakah Yesus tidak ingin kita dihargai secara adil atas kerja keras kita? Apakah Yesus seorang yang sangat melankolis, yang berlarut-larut dalam kesedihan, dan tidak tahu bagaimana menikmati hidup?

Ini adalah pertanyaan sulit namun valid, dan untuk menjawab ini, kita perlu kembali ke zaman Yesus dan menemukan konteks di balik perkataan Yesus. Pada abad pertama masehi, Palestina, mayoritas orang, termasuk Yesus sendiri, adalah miskin, lapar dan tertindas. Mereka miskin bukan karena mereka malas tetapi karena mereka hidup di dalam waktu yang sulit untuk hidup. Palestina dijajah oleh bangsa Romawi, dan merupakan praktik umum untuk memungut pajak yang besar pada orang-orang Israel. Hanya beberapa bangsawan, beberapa pemilik tanah, segelintir pengusaha kaya dan orang Israel yang bekerja untuk orang-orang Romawi, seperti para pemungut pajak, menikmati kehidupan yang lebih baik. Orang-orang Israel biasa tidak hanya harus menghadapi orang-orang Romawi, tetapi mereka juga harus menderita di tangan sesama orang Israel yang serakah dan oportunistik yang hanya memikirkan bagaimana mereka bisa memperkaya diri mereka sendiri. Itu adalah waktu yang sulit untuk hidup bagi orang-orang Israel yang sederhana.

Dengan mengetahui konteks, Sabda Bahagia di Injil Lukas jauh lebih masuk akal sekarang. Yesus menjanjikan harapan dan penghiburan bagi mereka yang miskin dan menderita karena ketidakadilan, dan Yesus mengecam mereka yang kaya melalui cara yang tidak jujur dan menindas. Dengan demikian, kita tahu sekarang bahwa dengan Sabda Bahagia dan Sabda Celaka-Nya, Yesus tidak membenci orang kaya, tetapi keserakahan dan ketidakadilan yang meracuni hati orang-orang baik yang kaya maupun yang miskin. Ketika kita memiliki kehidupan yang baik karena kerja keras dan usaha jujur kita, kita bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah berkah! Namun, Yesus juga mengingatkan kita bahwa pada saat kita diberkati, kita jangan serakah, tetapi tetap rendah hati dan bahkan memiliki kepedulian terhadap saudara-saudari kita yang miskin, lapar, dan menangis karena ketidakadilan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Little Apocalypse

Reflection on the 33rd Sunday in Ordinary Time [November 18, 2018] Mark 13:24-32

…they will see ‘the Son of Man coming in the clouds’ with great power and glory… (Mk. 13:26)

The last book of the Bible is called the Book of Apocalypse. The Greek word “ apokalopsis ” means unveiling or revelation.  Thus, the 27th book of the New Testament is also known as the Book of Revelation. It is recognized as an “apocalypse” literature because the book unveils the future events, and usually, these are dramatic happenings at the end of the world. Our Gospel this Sunday is taken from Mark chapter 13, and this chapter is also known as the little “Apocalypse.”

Mark 13 speaks about the coming of the Son of Man. But, reading closely, we discover some distressing and even horrifying events that precede this glorious coming. The Temple of Jerusalem will be demolished, Jesus’ followers will endure severe persecution, and the sun, the moon, and other celestial bodies begin crumbling. This generation will be a terrible time to live.

For modern readers like us, our Gospel today does not sound optimistic at all. In fact, we may question whether it is a Good News of salvation or a nightmarish story that scares little children? For many of us who attend the Sunday mass faithfully, we listen to this little apocalypse at the end of every Church’s liturgical year. Thus, as we have heard it year after year, the story has lost its teeth, and we no longer pay attention to its details. After all, we are still alive and kicking.

However, the apocalypse literature has a different impact and meaning for the first Christians, the original readers of the Gospel of Mark. For the early Church, the apocalypse does not mean to be a horror story, but rather a message of hope.  The early Christians were a tiny minority in the vast Roman empire. Because they were firm in their conviction to worship one God, and refuse to worship Caesars and the Roman gods, they were continually subjects of harassment, persecution and even martyrdom. One of the most brutal persecutions of Christians was under the order of Emperor Nero. He blamed Christians for the fire that consumed parts of the City of Rome. He ordered Christians to be arrested and tortured. Some were fed to the wild beasts. Some were eaten by the hungry dogs. Others were burned at stick to light up the City at night.  In this time of desperation, Mark chapter 13 gave them the Gospel of hope. No matter what happened to Christians, whether it is discrimination, persecution, disaster, or even the end of the world, we are assured that it is God who is in control; He has the final word.

The mere fact we can read this reflection means that we are living in a much better time compared to the persecuted Christians. However, the message of the apocalyptic literature remains true to us and all Jesus’ followers through the ages. Facing daily challenges and toils, unexpected and unfortunate events, and various problems and complexities, we tend to shrink to ourselves, to be frustrated, and lose hope. More and more young people easily get depressed, and some, unfortunately, decide to end their lives. This happens, I believe, because we no longer know how to hope. In his book, Crossing the Threshold of Hope, St. John Paul II was asked whether the holy pope ever doubted his relationship with God, especially in these periods of trouble and difficulty. As a man of hope, his answer was simple yet powerful, “Be not afraid!” The Church should be the school that teaches her children to dare to hope, even hope against all hope, because in the end, God has the final word, and we should not be afraid.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan di Hari Akhir


Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [18 November 2018]

Markus 13: 24-32

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, St. Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amputation

Reflection on the 26th Sunday in Ordinary Time [September 30, 2018] Mark 9:36-43, 45, 47-48

“If your hand causes you to sin, cut it off.  (Mk. 9:43 )”

confessionWhen I was assigned to the hospital to serve as a chaplain, I witnessed the rise of diabetic cases as well as its terrifying effects on the patients. In simple term, diabetes is a condition in a person who can no longer naturally manage their blood sugar. In more serious cases, the body loses its natural ability to heal its wounds. In the beginning, it was a small open wound, yet since the body no longer heals, the infections set in, and this leads into gangrene or the death of the body’s tissues. I accompanied some patients who were struggling with this situation and witnessed how their fingers or even foot were darkened and deformed. When the ordinary treatment no longer worked, the amputation became the only merciful option as to prevent the spread of infections. As a chaplain, accompanying these patients was one of my toughest missions in the hospital.

In today’s Gospel, Jesus’ words are pretty harsh, if not violent. He wants the one who causes the believers to sin to be thrown into the sea. He wants hands and feet cut, and eyes plugged. He even describes Gehenna in more vivid details, “where their worm does not die, and the fire is not quenched.” The image of Jesus seems to be far different from Jesus who is gentle and merciful. What is going on? Is Jesus promoting violence? Is Jesus a schizophrenic or having a split personality?

Jesus is perfectly sane. Yet, he becomes passionate because he is teaching a serious matter with a grave consequence. This is none other than sin. Jesus knows well that sin corrupts, and like growing roots, it corrupts to every side. Sin destroys our souls, our neighbors, our environment and even our holy relationship with God. What more sinister about sin is that deforms our conscience and makes us believe that we are just doing fine. In his book ‘The Name of God is Mercy, Pope Francis speaks of the effect of sinful corruption, “Corruption is not an act but a condition, a personal and social state we become accustomed to living in… The corrupt man always has the cheek to say, ‘It wasn’t me!”…He is the one who goes to Mass every Sunday but has no problem using his powerful position to demand kickbacks…then he boasts to his friends about his cunning ways.”

Like in the case of a person struggling with diabetes and having gangrene in his finger, it is better for him to amputate the affected finger as to prevent the spreading of infection, and thus, save his other organs, and life. So it is with sin. Jesus commands us to “amputate” those areas in our lives that are corrupted by sin, as to save our souls. But, this is not easy. Like some of the patients I ministered to, they refuse to give up the precious parts of their bodies. They deny, get angry and frustrated, and try to bargain with the doctors to avoid amputation. With the same mentality, we often deny that we nurture our vices. We get angry when people correct us and reveal us our sins. We also bargain with the Lord to keep our favorite sins and tell Him that we are going to be better in other aspects of our lives. However, these do not work. A radical “amputation” is necessary to save our ailing souls.

The good news, however, is that unlike the body which will never regain the lost limbs, our souls will, in fact, grow even holier after the “amputation.” The relationship between others will be purified, our attitude towards the environment will be filled with care and mercy, and our love for God will be deepened.

What are our sinful attitudes that harm ourselves, others and the environment ? Are we humble enough to receive corrections? Are we courageous enough to acknowledge them as sins? Do we ask God’s grace to prepare us for the sacrament of confession?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amputasi

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [30 September 2018] Markus 9: 36-43, 45, 47-48

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah. (Mk. 9:43) ”

francis hearing confessionKetika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.

Dalam Injil hari ini, kata-kata Yesus sangat keras. Dia ingin orang yang menyebabkan orang lain berbuat dosa, dibuang ke laut. Dia ingin tangan dan kaki dipotong, dan mata tercungkil. Dia bahkan menggambarkan Gehenna dengan detail yang lebih jelas, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mk. 9:48).” Yesus kali ini tampaknya jauh berbeda dengan Yesus yang lembut dan penuh belas kasihan. Apa yang sedang terjadi? Apakah Yesus mempromosikan kekerasan? Apakah Yesus seorang penderita skizofrenia atau memiliki kepribadian ganda?

Tidak ada yang salah dengan Yesus. Namun, dia menjadi penuh semangat karena dia mengajar tentang hal yang serius dengan konsekuensi sangat berat. Ini tidak lain adalah dosa. Yesus tahu benar bahwa dosa merusak, dan seperti akar yang tumbuh, dosa merusak ke segala sisi. Dosa menghancurkan jiwa kita, sesama kita, lingkungan kita dan bahkan hubungan kudus kita dengan Tuhan. Apa yang lebih menyeramkan tentang dosa adalah dosa merusak hati nurani kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam bukunya ‘The Name of God is Mercy, Paus Fransiskus berbicara tentang efek dari korupsi dosa, “Korupsi jiwa bukanlah suatu tindakan tetapi suatu kondisi, keadaan pribadi dan sosial yang menjadi kebiasaan hidup… Orang yang korup selalu memiliki muka untuk mengatakan, ‘Bukan aku!’ … Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap Minggu tetapi tidak memiliki masalah menggunakan posisinya yang kuat untuk meminta suap … lalu dia memamerkan kepada teman-temannya tentang cara-cara liciknya tersebut.”

Seperti dalam kasus orang yang bergulat dengan diabetes dan memiliki gangren di jarinya, lebih baik baginya untuk mengamputasi jari untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dengan demikian, menyelamatkan organ lain, dan hidupnya. Demikian juga dengan dosa. Yesus memerintahkan kita untuk “mengamputasi” area-area dalam hidup kita yang dirusak oleh dosa, untuk menyelamatkan jiwa kita. Tapi, ini tidak mudah. Seperti beberapa pasien yang saya layani, mereka menolak menyerahkan bagian-bagian berharga dari tubuh mereka. Mereka menolak, marah dan frustrasi, dan mencoba tawar-menawar dengan dokter untuk menghindari amputasi. Dengan mentalitas yang sama, kita sering menyangkal bahwa kita memelihara sifat buruk kita. Kita menjadi marah ketika orang mengoreksi kita dan mengungkapkan dosa-dosa kita. Kita juga tawar-menawar dengan Tuhan untuk tetap menyimpan dosa-dosa favorit kita, dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi lebih baik dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Namun, ini tidak akan pernah berhasil. “Amputasi” radikal diperlukan untuk menyelamatkan jiwa kita yang sakit.

Namun, kabar baiknya adalah bahwa jiwa kita tidak seperti tubuh yang tidak akan mendapatkan kembali anggota badan yang hilang, jiwa kita bahkan akan tumbuh bahkan lebih kudus setelah “amputasi”. Hubungan antara orang lain akan dimurnikan, sikap kita terhadap lingkungan akan dipenuhi dengan perhatian dan belas kasihan, dan cinta kita kepada Tuhan akan diperdalam.

Apa dosa-dosa kita yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan? Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi? Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita? Apakah kita meminta rahmat Tuhan untuk mempersiapkan kita untuk sakramen pengakuan dosa?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Half Christ

Reflection on 24th Sunday in Ordinary Time [September 16, 2018] Mark 8:27-35

“Jesus asked them, ‘But who do you say that I am?’ (Mk. 8:29)”

carrying crossSeveral years ago, I gave a talk on the introduction to Christology to a group of young Filipino professionals who wished to deepen their spirituality. The first question I asked them as we commenced the short course was, “Who do you say that Jesus is?” The answers were varied. Some gave a dogmatic formula like Jesus is God, one quoted the Bible saying Jesus is the Word made flesh, one expressed boldly that Jesus is Savior and Lord, and the rest shared personal convictions like Jesus is their closest friend, or Jesus is their Shepherd. All these answers were right, but nobody claimed that Jesus is the Christ. Considering that our subject was Christology, we missed the basic Jesus’ title, in Greek, “Christos,” in Hebrew, “Messiah,” and translated into English, the Anointed One. Fortunately, around two thousand years ago, Simon Peter was able to spell the title when Jesus Himself asked the question.

Going deeper into our Gospel today, we are at chapter 8 of the Gospel of Mark. Since Mark has 16 chapters, we are literally in the middle of this second canonical Gospel. Yet, today’s reading does only happen to be in the middle of the Gospel, but it turns out to be the turning point of the Gospel. In the first eight chapters, Mark narrates Jesus’ ministry in Galilee and some other Gentile regions in the north of Israel. Jesus is doing wonders and teaching with authority. He can draw a lot of people, and some of them will be close followers called His disciples. Meanwhile, the last eight chapters, Jesus begins to journey down south and reaches His destination in Jerusalem. There, He will face his tormentors, and He will meet His passion, death and resurrection.

Peter gets the bulls-eye answer. After all, Peter’s profession is what Mark intends to convey to his readers, “The beginning of the gospel of Jesus Christ (Mk. 1:1).” Unfortunately, when Jesus reveals His suffering and death, it does not sit well with Peter’s idea of the Messiah. Perhaps Peter gets stuck with the concept of a powerful and conquering Christ that will lead Israel into victory.  Jesus has been preaching about the coming of the Kingdom, teaching unforgettable lessons, and performing unmatched miracles. Surely, nothing, not even the great Roman empire could beat this Messiah. However, Peter just desires the first half of the Gospel, and cannot be at peace with the other half of the Gospel. If Peter and other disciples want to accept Jesus fully, then they need to embrace the other half of the Gospel of Jesus Christ as well. Following Jesus does not stop in Galilee where things are just awesome, but it has to go down to Jerusalem, where the persecution and death lurk. Thus, Jesus declares, “Whoever wishes to come after me must deny himself, take up his cross, and follow me. (Mk. 8:34).”

Often we are like Peter. We call ourselves Jesus’ disciples and accept the Gospel of Jesus Christ, but in reality, we just want half of Jesus or parts of the Gospel. We go to the Church and worship God, but we do not want to soil our hands in helping our brothers and sisters in need. Married couples enjoy the benefits of marriage, yet refuse to see children as a gift of God. Religious men and women vow to serve the Lord and His Church, but often, we serve our own interests and desires. No wonder G. K. Chesterton once wrote, “The Christian ideal has not been tried and found wanting. It has been found difficult; and left untried.” As we try to answer Jesus’ question, “Who do you think that I am?”, we are invited to reflect and to accept Jesus and His Gospel, not half, but the whole of Him.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP