Renungan untuk Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [16 September 2018] Markus 8: 27-35
“Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mk. 8:29)
Beberapa tahun yang lalu, saya memberikan ceramah pengantar Kristologi bagi sekelompok profesional muda Filipina yang ingin memperdalam spiritualitas mereka. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah, “Menurut kamu, siapakah Yesus itu?” Jawabannya beragam. Beberapa memberikan formula dogmatis seperti Yesus adalah Allah, ada yang mengutip Alkitab dan mengatakan Yesus adalah Firman yang menjadi daging, seseorang menyatakan dengan berani bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan, dan sisanya berbagi keyakinan pribadi seperti Yesus adalah sahabat terdekat mereka, atau Yesus adalah Gembala mereka. Semua jawaban ini benar, tetapi tidak ada yang mengklaim bahwa Yesus adalah Kristus. Mempertimbangkan bahwa ceramah kami adalah Kristologi, kami sepertinya lupa akan identitas dasar Yesus, dalam bahasa Yunani, “Christos,” dalam bahasa Ibrani, “Mesias,” yang berarti “Yang Diurapi”. Untungnya, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Simon Petrus mampu mengucapkan identitas dasar ini ketika Yesus Sendiri menanyakan pertanyaan ini.
Masuk lebih dalam ke dalam Injil kita hari ini, kita berada di bab 8 Injil Markus. Injil Markus memiliki 16 bab, kita secara harfiah berada di tengah-tengah Injil ini. Namun, bacaan hari ini hanya berada di tengah-tengah Injil, tetapi ternyata menjadi titik balik dari Injil. Delapan bab pertama, Markus menceritakan pelayanan Yesus di Galilea dan beberapa wilayah non Yahudi lainnya di utara Israel. Yesus melakukan mujizat dan mengajar dengan otoritas. Dia dapat menarik banyak orang, dan beberapa dari mereka akan menjadi pengikut dekat yang disebut sebagai murid-murid-Nya. Sedangkan, delapan bab terakhir, Yesus mulai melakukan perjalanan ke selatan dan mencapai tujuan-Nya di Yerusalem. Dia akan menghadapi para penyiksanya di sana dan Dia akan menjalani sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Petrus mendapat jawaban dengan benar. Pengakuan Petrus tidak lain adalah apa yang Markus ingin sampaikan kepada para pembacanya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mk. 1:1).” Sayangnya, ketika Yesus mengungkapkan bahwa Anak Manusia akan menderita dan wafat, Petrus merasa tidak cocok dengan gagasan tentang Mesias tersebut. Mungkin Petrus terjebak dengan konsep Kristus yang kuat dan dapat memimpin Israel menuju kejayaan. Yesus telah mewartakan tentang kedatangan Kerajaan, mengajar pelajaran yang tak terlupakan, dan melakukan mujizat yang tak tertandingi. Tentunya, kerajaan Romawi yang besar pun tidak mampu mengalahkan Mesias ini. Namun, Petrus hanya menginginkan paruh pertama dari Injil, dan tidak dapat menerima Injil secara keseluruhan. Jika Petrus dan murid-murid lain ingin menerima Yesus sepenuhnya, maka mereka perlu menerima paruh kedua dari Injil Yesus Kristus juga. Mengikuti Yesus tidak berhenti di Galilea di mana hal-hal yang luar biasa terjadi, tetapi harus turun ke Yerusalem, di mana penganiayaan dan kematian mengintai. Dengan demikian, Yesus menyatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mk. 8:34).”
Seringkali kita seperti Petrus. Kita menyebut diri kita murid Yesus dan menerima Injil Yesus Kristus, tetapi dalam kenyataannya, kita hanya ingin separuh dari Yesus atau bagian dari Injil. Kita pergi ke Gereja dan menyembah Tuhan, tetapi kita tidak ingin membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kita aktif di Gereja, tetapi kita tetap saja membawa agenda pribadi dan mendapatkan keuntungan sendiri. Pria dan wanita yang hidup membiara juga tidak terhindar dari godaan ini. Kita berjanji untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya, tetapi seringkali, kita melayani kepentingan dan keinginan kita sendiri. Sewaktu kami mencoba menjawab pertanyaan Yesus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Apakah Yesus kita adalah Yesus yang hanya setengah? Apakah Yesus kita hanya mengambarkan kepentingan-kepentingan pribadi kita? Apakah kita berani mengikuti Yesus secara utuh?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The deaf man whom Jesus heals is so blessed. He is able to see Jesus, and He finds healing. Inspired by this miracle, we wish that we will also meet Jesus and He will heal our sickness and solve our problems. Thus, we come to various places where we believe Jesus will heal us. We visit pilgrimage sites, we attend prayer and worship meetings, we recite various novenas, and we become actively involved in the Church’s organizations. We believe that our faith in Jesus will save us. However, what if our prayers are not granted? What if our problems are not solved but rather grow in number? What if our sickness is not healed, but gets worse? What if we do not feel that we are saved? One time, I visited Flora [not her real name], a colon-cancer patient, and she asked me, “Brother, I have faith in God, and I faithfully serve the Church, but why am I suffering from this terrible sickness?” Surely, it was a tough question.
Minggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.

Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”
Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?
We are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.