Paradoks Kebangkitan

Minggu Paskah kedua. 23 April 2017 [Yohanes 20: 19-31]

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya (Yoh 20:25).”

Jesus appears to Thomas - John 20:24-29

Thomas sedang mencari bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian. Tidak cukup  baginya untuk melihat Yesus dengan matanya, Thomas membutuhkan bukti lain: menyentuh luka-luka bekas penyaliban Yesus. Thomas adalah salah satu dari dua belas rasul yang merupakan lingkaran dalam murid Yesus. Sebagai bagian dari dua belas rasul, Thomas memiliki hak istimewa untuk berjalan bersama Yesus, makan bersama-Nya, dan menyaksikan perbuatan-Nya yang perkasa. Sekilas, dia akan dengan mudah mengenali Yesus, Gurunya, tapi tetap saja dia menuntut bekas luka-luka Yesus. Mengapa Thomas bersikeras untuk mencari luka-luka itu?

Alasannya adalah bahwa Thomas ingin memastikan bahwa dia tidak melihat hantu atau hanya berhalusinasi. Selain itu, dia ingin memastikan bahwa orang yang akan dia temui benar-benar Yesus, dan bukan seorang penipu yang menyerupai Yesus. Luka-luka penyaliban Yesus menjadi bukti identifikasi Kristus yang bangkit. Meski sangat praktis, ada juga sisi negatifnya. Thomas mengidentifikasi Yesus terutama dengan luka-luka-Nya, kelemahan-Nya. Thomas tidak sendirian di sini. Seringkali, kita juga mengikuti Thomas dalam mengidentifikasi orang lain dengan luka dan kelemahan mereka.

Kita memiliki kelemahan, kegagalan, dan luka kita masing-masing. Seringkali, kita mengasosiasikan diri kita atau orang lain dengan luka dan kelemahan ini. Bayu, yang selalu terlambat; Alex, seorang pengangguran; Roy, si pesakitan; Andre, yang gemuk; Fransiskus, si pembohong; Petrus, si penyangkal; Thomas, si peragu; Maria, yang dirasuki oleh tujuh setan; Yesus, yang tersalibkan. Kita adalah luka-luka kita. Kita tidaklah lebih baik dari tanda kelemahan yang kita tanggung.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus tidak menegur Thomas karena hanya mencari tanda-tanda-Nya. Yesus tidak menuntut Thomas untuk mencari yang terbaik dari-Nya. Dia bahkan memintanya untuk melihat dan menyentuh luka-luka-Nya. Yesus merangkul tanda-tanda kekalahan-Nya dan menjadikannya tanda kebangkitan-Nya. Ini telah menjadi bukti karya Tuhan yang luar biasa, dan tempat pertemuan antara Thomas dan Tuhan. Ini bukan sekedar ‘berpikiran positif’ yang berseru ,“Jika kamu gagal seratus kali, bangunlah seratus satu kali!” Kebangkitan memanggil kita untuk tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahan kita, tapi untuk melihat Tuhan bahkan dalam situasi hidup kita yang paling rendah ini.

Waktu saya kelas satu SD, nilai saya merah di hampir semua mata pelajaran. Sayapun tidak naik kelas dan diminta untuk mengulang. Ini adalah sesuatu yang memalukan dan menyedihkan bagi saya dan keluarga. Kepercayaan diri saya hilang dan saya mulai berpikir bahwa saya adalah anak bodoh dan tidak memiliki masa depan. Tetapi, orang tua saya tidak menyerah. Mereka terus mendukung dan memberikan yang terbaik bagi saya. Sayapun perlahan maju dan berkembang. Melihat kembali pengalaman ini, saya bersyukur karena saya menemukan Tuhan bahkan di dalam pengalaman paling buruk dalam hidup saya. Tuhan yang bangkit hadir di dalam orang tua saya.

Di saat kita lemah dan terluka, di saat kita tidak lagi bisa membanggakan segala hal keberhasilan kita, inilah saatnya Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita. Saat kita gagal dan kalah, kita berlutut dan berdoa. Di dalam luka dan kelemahan, kita menemukan Yesus yang bangkit. Inilah paradoks kebangkitan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eli, Eli, lema sabachthani?

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 9, 2017

Matthew 26:14—27:66

“Eli, Eli, lema sabachthani?” which means, “My God, my God, why have you forsaken me? (Mat 27:46)”

holy week 1Many theologians and ordinary Christians alike are baffled by these words of Jesus on the cross. If Jesus is God, how is it possible for Him to be separated from God? Why does the most compassionate God abandon His beloved Son? It simply does not make any sense. The Catechism of the Catholic Church tries to explain that it is a consequence of sin. Not that Jesus had committed any sin, but He endured the sin of the world on the cross. The greatest effect of sin is separation from God. Thus, carrying the heaviest burden of sin, Jesus could not but feel the chilling effect of alienation from His own Father.

However, for early Christians and Jews who listened to the last words of Jesus on the cross, they understood that Jesus was actually reciting the beginning line of Psalm 22. The tradition considers this as a psalm of lamentation. In fact, the Book of Psalms contains a lot of psalms of lament. Despite its sorrowful nature, this kind of psalm remains true to its form, which is a prayer inspired by the Holy Spirit. Reading closely Psalm 22, we discover that the psalmist tried to express his desperate situation because of the enemies’ assault. The attack was so intense and brutal that he felt that even God abandoned him. Yet, despite the feeling of abandonment, he kept lamenting to God as if He was just near. Indeed, the psalmist was frustrated and complaining, but even this, he turned it into a prayer. Though it was the only prayer he could utter, it was an authentic prayer, without any pretension and pride. This is the paradox: when the psalmist became honest with himself and sufferings, God was closest to him.

In the cross, Jesus felt an excruciating pain both on physical and emotional levels. His triumphal entrance to Jerusalem in which He was welcomed as the King, the Son of David and Prophet, was a jubilant event, yet in a matter of days, many people who had followed Him turned to be His enemies and shouted, “Crucify Him!”. All his great successes as a preacher, teacher and wonder maker, were scattered. He was about to die as a criminal, a shame to Himself and His family. In this extreme sorrow, He decided to pray. Not any prayer, but the prayer that is most fitting to a suffering faithful Jew: a Psalm of Lament. This is the paradox of the cross: He felt abandonment and frustration, but in this prayer, this was the moment Jesus was closest to His Father.

We share also this experience of the cross in our lives. We might face terrible financial situation and uncertainty in our works. We might have health conditions that drain our resources. We might fail in our marriages or friendships. We might just lose our beloved family member. We are misunderstood and accused of wrongdoings we never committed. We might be wronged unjustly. We suddenly lose the works or the ministries we have built on for years. It seems we cannot see any light at the end of the tunnel. Yet, even in the horrifying experiences of the cross, Jesus teaches us to pray. Not any prayer, but a prayer of lamentation, a sincere prayer that expresses deepest desires, angst and pains. It is true that our situations might not change at all, but as we articulate ourselves and our situations, we are helped to find meanings, consolation, and hope. This is the paradox: in the prayer of lament, as we strip our pride and pretentiousness, even when we are in the lowest pit of our lives, God is actually closest to us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Hari Minggu Palma – Hari Minggu Prapaskah VI – Mengenangkan Sengsara Tuhan

April 9, 2017

Matius 26: 14-27: 66

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46)”

holy week 2Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.

Namun, bagi umat Kristiani perdana yang mendengarkan kata-kata terakhir Yesus di kayu salib ini, mereka mengerti bahwa Yesus sejatinya mendaraskan Mazmur 22. Tradisi mengkategorikan Mazmur 22 sebagai mazmur ratapan. Bahkan, Kitab Mazmur mengandung banyak mazmur ratapan. Meskipun bersifat sedih, jenis mazmur ratapan tetap merupakan sebuah doa yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Jika kita membaca Mazmur 22 dengan teliti, kita menemukan bahwa sang pemazmur mencoba untuk mengekspresikan situasi gentingnya karena serangan musuh. Serangan itu begitu intens dan brutal sehingga ia merasa bahwa bahkan Tuhan telah meninggalkan dia. Namun, meskipun merasakan ditinggalkan, ia terus meratap dan berdoa kepada Allah seolah-olah Dia dekat dan tak pernah meninggalkannya. Memang, sang pemazmur frustrasi dan mengeluh, tapi ia mengubahnya menjadi sebuah doa. Meskipun itu satu-satunya doa yang dia daraskan, itu tetap yang doa otentik, tanpa pretensi dan keangkuhan. Inilah sebuah paradoks: ketika sang pemazmur menjadi jujur dengan dirinya sendiri, Allah menjadi sungguh dekat dengannya.

Di kayu salib, Yesus merasakan sakit yang luar biasa baik di secara fisik dan emosional. Saat Ia memasuki kota Yerusalem di mana Ia disambut sebagai Raja, Anak Daud dan Nabi, adalah peristiwa luar biasa, namun dalam hitungan hari, banyak orang yang mengikuti Dia berubah menjadi musuh-Nya dan berteriak, “Salibkan Dia!” Semua keberhasilan besar sebagai seorang pengkhotbah, guru dan pembuat muzijat, hilang dalam sekejap. Ia mati sebagai seorang kriminal, menjadi aib bagi keluarga-Nya dan bangsa-Nya. Dalam kesedihan ekstrim ini, Ia memutuskan untuk berdoa. Bukan sekedar doa, tetapi doa yang paling tepat bagi seorang Yahudi yang sedang menderita: sebuah Mazmur Ratapan. Kata-kata Mazmur 22 mengungkapkan frustrasi dan perasaan ditinggalkan oleh Allah, tetapi sebagai doa, ini sejatinya momen di mana Yesus menjadi paling dekat dengan Bapa-Nya. Ini adalah paradoks salib!

Kita juga memiliki pengalaman salib dalam hidup kita. Kita mungkin menghadapi situasi keuangan yang terpuruk dan ketidakpastian dalam pekerjaan kita. Kita mungkin memiliki kondisi kesehatan yang menguras kekuatan kita. Kita mungkin gagal dalam pernikahan atau persahabatan kita. Kita mungkin kehilangan anggota keluarga tercinta. Kita disalahpahami dan dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah kita perbuat. Kita mungkin diperlakukan dengan tidak adil. Kita tiba-tiba kehilangan proyek atau karya yang telah kita bangun selama bertahun-tahun. Kita tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan gelap ini. Namun, bahkan dalam pengalaman salib ini, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa. Tidak sekedar doa, tapi doa ratapan, doa yang tulus yang mengungkapkan keinginan, kecemasan dan sakit kita yang terdalam. Memang benar bahwa situasi kita mungkin tidak berubah sama sekali, tapi saat kita bisa mengartikulasikan diri kita dan situasi kita, kita dibantu untuk menemukan makna, penghiburan, dan harapan. Dalam doa ratapan, kita melucuti pretensi dan keangkuhan kita. Inilah paradoks: bahkan di dalam doa ratapan, ketika kita berada di jurang terdalam kehidupan kita, Tuhan sebenarnya paling dekat dengan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Weep

 Fifth Sunday of Lent. April 2, 2017 [John 11:1-45]

Raising-of-Lazarus-2 Today’s Gospel contains my personal favorite verse: Then, Jesus wept. It is the shortest verse in the Bible, yet it is also one of the most powerful. However, its strength does not rest on any superhuman power that can multiply bread or calm the storm, but on the humanity of Jesus.

The death of Lazarus must have been overwhelming for the family. In the ancient Jewish society, man was responsible for the survival of the family. If presumably, Lazarus was the only bread winner, Martha and Mary would have a serious problem in surviving in that troubled and difficult times. But, more than any economic difficulty, a loss of a family member due to sickness and death had always crushed the entire family. Not only Martha and Mary were uncertain of their future, they also had to endure the terrible pain of losing someone they loved dearly, a brother with whom they shared a lot of good memories, and a friend to whom they could trust and rely on. Anyone of us who has lost a beloved family member can easily commensurate with Martha and Family.

When Jesus saw Martha and Mary were grieving and weeping, Jesus was groaned and was troubled. And when He saw the tomb, He began to shed tears as well. He did not pretend that He was Ok, or He did not appear as if nothing happened. He got affected by the overwhelming emotion and suffering, and He wept. We see today Jesus who is truly human and becomes one with our humanity with its all pains, sufferings, and grief. The revelation is that before Jesus does any miracle or sign, He first becomes part of our sorrow, our humanity. This very consoling.

We are living at a time where success and happiness are the determinants of a fulfilled life. No wonder, the books or seminars on ‘positive thinking’, ‘greatness’, ‘self-help’ or ‘success’ are mushrooming. Even we and some other churches follow suit and preach the ‘Gospel of Prosperity’. I guess there is nothing wrong with being successful and rich, all are a blessing of God. It becomes problematic when we tend to focus on the happy only emotions and suppress ‘negative’ emotions by reciting ‘positive thinking mantra’ or attending praise and worship. In the face of sufferings, failures, and loss of someone we love or we are crushed by burden of life, it is but natural to feel sorrow. Many psychologists would agree that suppression of this feeling will do more harm than good. In the animation film ‘Inside Out’, life of Riley, the main protagonist, turns to be a little mess when Sadness is pushed aside, and Joy is always at the helm. But, when Joy gives away to Sadness, things begin to fall in their places. God created Sadness also, and it is for a good purpose.

Certainly Jesus does not teach us to be melancholic, nor to dwell in our grief for eternity. He teaches us what it means to be fully and truly human, with all love, joy, sorrow, hope, fear, and anger. Our faith tells us that Jesus is not only fully divine, but also fully human, and this means that when we strive to know Jesus, not only we know more about God, but also about humanity. The more we love Jesus, the more we become truly human.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Maka Menangislah Yesus

Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]

jesus-weptPada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.

Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.

Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.

Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.

Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mammon

8th Sunday in Ordinary Time (Year A). February 26, 2017 [Matthew 6:24-34]

 “You cannot serve God and mammon (Mat 6:24)”

liberationMammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.

It is not an uncommon story that in many nations government officials are involved in large-scale corruptions, while ordinary citizens have to break their bones working and paying taxes. In Brazil, the Philippines and other countries, small farmers are violently evicted from their homes and lands by the greedy landowners. The grim reality of human trafficking is covert yet enormous. The children and women are abducted and traded as commodities, used as drug mules or sex objects. While others face immediate death as their bodily organs are harvested and sold in black market. Our beautiful forest and mountains are destroyed because of massive illegal logging and mining. This leads to nothing but ecological destruction, the animals are endangered, the rivers and seas become giant dumped sites of toxic waste, and our land is sorely barren and dead.

The mammon-worship does not only take place outside our fence, but without realizing it, it also plagues our own house and families. Who among us are addicted to work and begin to sideline our responsibilities in the family and neglect our health? Who among us start to think that giving money to our children is enough for their growth? Sometimes, the clergy and the religious are caught in the same mentality. We do our ministry as if there will be no tomorrow. We begin putting aside the basics like prayers, study, and community.

St. Thomas Aquinas makes it clear that riches and money cannot satisfy our deepest longing. He argues that wealth’s purpose is to meet our temporal human needs, but never to fulfill our spiritual and supreme desire. The real problem happens when we mistakenly accept riches as the fulfillment of our infinite desire for the infinite God. We make Mammon a god. We dethrone the true God and all serious problems start flooding in.

Jesus calls us to once again go back to true God. Other forms of gods, like wealth, money, gadgets, properties, cars, sex, prestige, works only drag us into slavery and misery. Just like the Hebrews in Egypt, only when they followed Yahweh, were they liberated from the slavery and marched toward the Promised Land. Yet, it was not easy. Like the Israelites who wanted to go back to Egypt after some time in the desert, we also cling to our Mammon firmly. It took 40 years for Israelites to struggle with their faithfulness to God, and perhaps we need years to before we rediscover the true God in your lives. Difficult indeed, yet, it is necessary because only God can bring us true happiness and liberation. We are liberated from the illusion of self-sufficiency, from the excessive ego-centrism. Not only we are freed, but also our family and our society, our environment and our earth. Want to make our world a better place? Let God be your God!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mamon

Minggu pada Pekan Biasa ke-8 (Tahun A) 26 Februari 2017 [Matius 6:24-34]

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)

slaveMamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.

Bukan hal baru di banyak negara, pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi besar-besaran, sementara warga biasa harus bekerja keras dan membayar pajak. Di Brazil, Filipina dan negara-negara lain, petani-petani kecil diusir dari rumah dan tanah mereka oleh tuan tanah yang serakah. Kita juga menghadapi Realitas suram perdagangan manusia yang terselubung namun  sangat besar. Anak-anak dan perempuan diculik dan diperdagangkan sebagai komoditas, digunakan sebagai pengantar narkoba atau objek seks. Sementara yang lain menghadapi kematian karena organ tubuh mereka dijual di pasar gelap. Hutan dan pegunungan yang indah hancur karena penebangan liar dan pertambangan ilegal. Hal ini menyebabkan kehancuran ekologi, satwa terancam punah, sungai dan laut menjadi situs limbah beracun raksasa, dan tanah menjadi sangat tandus dan mati.

Penyembahan Mamon tidak hanya berlangsung di luar sana, tapi tanpa disadari, hal ini juga menjadi malapetaka di rumah dan keluarga kita sendiri. Siapa di antara kita yang kecanduan kerja dan mulai mengesampingkan tanggung jawab kita dalam keluarga dan mengabaikan kesehatan kita? Siapa di antara kita mulai berpikir bahwa memberikan uang kepada anak-anak kita sudah cukup untuk pertumbuhan mereka? Kadang-kadang, para imam dan rohaniawan terjebak dalam mentalitas yang sama. Kami melakukan pelayanan seolah-olah tidak ada hari esok. Kita mulai menyisihkan dasar-dasar seperti doa, studi, dan komunitas.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kekayaan dan uang tidak dapat memuaskan kerinduan terdalam kita. Dia berpendapat bahwa tujuan kekayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita yang fana, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan tertinggi kita. Masalah sebenarnya terjadi ketika kita keliru dan menjadikan kekayaan sebagai pemenuhan keinginan kita yang tak terbatas. Kita membuat Mamon tuhan. Kita meninggalkan Allah yang benar dan semua masalah serius pun dating karena kita mulai menjadi seperti Mamon, tidak rasional, tidak berpikir dan tidak hidup.

Yesus memanggil kita untuk kembali ke Allah yang benar. Bentuk lain dari mamon, seperti kekayaan, uang, gadget, properti, mobil, sex, prestise, pekerjaan hanya menyeret kita ke dalam perbudakan dan kesengsaraan. Sulit memang karena kenikmatan instan yang kita terima, namun, hal ini perlu karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita kebahagiaan sejati dan pembebasan. Kita dibebaskan dari ilusi keperkasaan kita, dari berlebihan ego-sentrisme kita. Tidak hanya kita dibebaskan, tetapi juga keluarga dan masyarakat kita, lingkungan kita dan bumi kita juga terbebaskan. Ingin membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik? Lepaskanlah mamon dan biarkan Allah menjadi Allah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

My Nagging God

29th Sunday in the Ordinary Time. October 16, 2016 [Luke 18:1-8]

 “…This widow keeps bothering me… (Luk 18:5)”

persistent-widow-2Getting tired and bored is unwanted yet unavoidable part of our lives. After doing things for a certain period of time, we get exhausted. Even if we are doing something we love, we are also bound to feel weary. Indeed, a man marries the woman he loves, but after sometime, encountering disappointments and problems, he begins to think whether he made the right decision. A woman loves dearly her teenage girl, but after sometime, her girl gets involved in substance abuse and runs away with his friends. She spends all her money and energy to win her daughter back yet to no avail, and she simply gets tired. As a religious brother, I love my vocation, but after years of waking up early, attending Mass and prayers, and plunging myself in rigorous study, I get bored.

In these times that we feel weak and weary, the temptation will set in and lure us to abandon our commitments. We are even emboldened to do crazy things and sin. We become like the judge in today’s Gospel, who “neither fear God nor respect human being’. We begin doing unthinkable things. We hurt people we love. We cause sufferings and misery to other people and ourselves.

However, we are so blessed that we have God who is like the nagging widow in the Gospel. He is knocking at our hearts day and night so that we may render justice to Him and our neighbors. Tirelessly He reminds us to be faithful to our commitments, repeatedly encourages us to persevere in doing good, and ceaselessly calls us back everytime we falter.

His unceasing care and ‘disturbance’ are manifested in subtle yet manifold ways. He places in us His subtle grace and joy in our daily prayer, despite boredom and sleepiness. He gives us family and friends who remain supportive to us in time of trials. He provides us with little blessings that we tend to ignore. One sustaining factor in my vocation, I believe, is that the Lord gives me a community. Indeed, sometimes living in a community is troublesome, but it provides also a structure and living ecosystem to support my Dominican religious life. My brothers will knock my door reminding me not to be late in prayer, encourage and evaluate my preaching, and in fact, correct me if I commit mistake. My community is my nagging God.

We may be tired of many things, exhausted in keeping our demanding commitments as spouses or parents, and bored of doing again and again our obligations as students or ministry as priests or religious. Yet, we remember we have our nagging God who persistently loves us and does not give up on us, even if we have already given up on ourselves. What we need to do is just open our eyes, ears and hearts to His subtle yet constant actions in us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan yang Tidak Pernah Jenuh

Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8

“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)

persistent-widow-1Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.

Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.

Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.

Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and Us

26th Sunday in Ordinary Time. September 25, 2016 [Luke 16:19-31]

“Lazarus, covered with sores, who would gladly have eaten his fill of the scraps that fell from the rich man’s table (Luk 16:20-21).”

richman-n-lazarusWhen Abraham said to the tormented rich man, “My child, you have received what was good during your life,” does it mean I will be thrown to the netherworld as well? I admit I have received so many good things in my life. I enjoy three good meals a day. I am studying in one of the best schools in the country. I do not have to worry about the security and future of my life. Many of us are enjoying the good things in this world, and we may ask ourselves, “are we going to have the same fate with this rich man in the parable?”

Reading closely on the Gospel, the rich man was sent to the netherworld not because of the good things he received in life. In fact, it would be unfair for him and for us. Many of us are working diligently and we deserve to enjoy our lives after all the backbreaking jobs. He was there because he did not care for Lazarus, his poor brother. If we pay attention to the proximity between the rich man and Lazarus, there is something unusual. Initially, Lazarus was outside the door, but then when he ate the food scraps that fell from the rich man’s table, he was actually inside the house. In fact, Lazarus was under the table of the rich guy. With this extreme closeness the rich man acted as if Lazarus did not exist. What sent him to the netherworld is not because of the good things he received, but his gross neglect and grave ignorance of his own poor brother.

We may have the same fate as the rich man if we do not care for our poor brothers and sisters around us. In fact, our ignorance may be the cause of their poverty and misery. Sometimes, we just feel good after donating some coins to the beggars, but is that enough? Indeed, we cannot do much to help the thousands of refugees in war-torn Syria, but do we do something for those who are close to us? Are we too busy working and earning, so much so that we forget to share? Do we close our eyes to our relatives who are struggling with their children’s education? Do we shield ourselves from the social issues in our society, like the increasing number of poor people being killed simply because they are thought to be small-time drug addicts?

We give thanks to God for the blessings and good things we receive in this life. Yet, we should remember also our brothers and sisters who are just outside our doors, those who are just under our table, waiting for our food scraps.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP