Lazarus dan Kita

Minggu pada Pekan Biasa ke-26 [25 September 2016] Lukas 16: 19-31

 “Lazarus, menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. (Luk 16: 20-21).”

lazarusKetika Abraham berkata kepada orang kaya yang tersiksa di alam maut, Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu. Apakah saya juga akan berakhir di alam maut? Saya mengakui bahwa saya telah menerima begitu banyak hal baik dalam hidup. Saya makan tiga kali sehari. Saya belajar di salah satu sekolah terbaik di Filipina. Saya tidak perlu khawatir tentang keamanan dan masa depan hidup saya. Banyak dari kita yang menikmati hal-hal baik di dunia ini, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah kita akan memiliki nasib yang sama dengan pria kaya dalam perumpamaan ini?”

Membaca lebih teliti Injil hari ini, orang kaya dikirim ke alam maut bukan karena hal-hal baik yang ia terima dalam hidup. Bahkan, jika ini sungguh alasannya, ini akan menjadi tidak adil bagi dia dan kita. Banyak dari kita bekerja dengan tekun, dan kita layak untuk menikmati hasil kerja keras kita. Dia ada di sana bukan karena hal-hal baik yang ia terima, tetapi karena dia tidak peduli kepada Lazarus, saudaranya yang miskin dan menderita.

Jika kita memperhatikan jarak antara orang kaya dan Lazarus, ada sesuatu yang tidak biasa. Awalnya, Lazarus ada di luar pintu, tapi kemudian ketika ia makan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu, dia benar-benar berada di dalam rumah. Bahkan, Lazarus sebenarnya berada di bawah meja orang kaya tersebut. Kita bisa menduga bahwa Lazarus sebenarnya adalah anggota keluarga sang kaya. Dengan kedekatan yang ekstrim ini, sang kaya tetap bertindak seolah-olah Lazarus tidak pernah ada. Apa yang mengirimnya ke akhirat bukanlah hal-hal baik yang ia terima, tetapi ia tega mengabaikan dan masa bodoh dengan saudaranya sendiri yang miskin.

Kita mungkin memiliki nasib yang sama dengan orang kaya ini jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang miskin di sekitar kita. Bahkan, ketidakpedulian kita mungkin menjadi penyebab kemiskinan dan penderitaan mereka. Kadang-kadang, kita merasa puas setelah menyumbangkan uang bagi para pengemis, tetapi apakah ini cukup? Memang, kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ribuan pengungsi di Suriah yang dilanda perang, tetapi apakah kita melakukan sesuatu bagi mereka yang dekat dengan kita? Mungkin kita terlalu sibuk bekerja dan mencari uang, sehingga kitapun lupa untuk berbagi? Apakah kita menutup mata kita terhadap anggota keluarga kita yang bergulat dengan pendidikan anak-anak mereka? Apakah kita diam saja terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat kita?

Kita bersyukur kepada Tuhan atas berkat dan hal-hal baik yang kita terima dalam hidup ini. Namun, kita ingat juga saudara-saudara kita yang berada di luar pintu kita, mereka yang hanya di bawah meja kita, menunggu sisa-sisa makanan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God of Life

 10th Sunday in Ordinary Time. June 5, 2016 [Luke 7:11-17]

“He stepped forward and touched the coffin; at this the bearers halted, and he said, “Young man, I tell you, arise! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of NainThe bible seems to contain a lot of death. Almost all the characters in the Bible tasted death. Some were lucky and enjoyed peaceful end, like Abraham, David and Joshua. Yet, a lot more endured tragic one. Abel was murdered by his own brother. Moses passed away just at the doorstep of the Promised Land. James the son of Zebedee was beheaded, and countless unnamed individuals who were victims of wars, diseases and calamities. In today’s Gospel, a young man died presumably due to illness and left his widowed mother alone. The Bible time was bad period to live.

We are living in a better world where life expectation is significantly higher than the time of Jesus. With modern medical technologies and well-trained and professional medical practitioners, we are enjoying the greater possibility to live longer. Had the young man of Nain lived today, he would not have died early. Yet despite all these advancements, death remains a most certain reality. As Benjamin Franklin said, “In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes!” This may lead us to think that God is a kind an uncaring God that allows even His people to suffer and receive violent death.

Jesus then came into the rescue and moved by his compassion, He brought the young man to life. To raise people from the death is one of the greatest miracles of Jesus, and this not only recorded in Luke, but in all the four Gospels. This story of young man of Nain resembles the story of the daughter of the synagogue official in Matthew 9 and Mark 5, and the story of Lazarus, the brother of Mary and Martha in John 11. Yet, we understand that the miracle will not last long. The young man would finally die again. Jesus seemed to cheat death and gives false hope to the widow and the crowd who expected the ‘the great prophet’.

Jesus’ miracles are not a quick-fix to many problems we have, but basically pedagogical, meaning they were designed to teach us a core value. Jesus comes into the story precisely to correct the mindset of the people on God. While the sorrowful widow and the lethargic crowd marched toward certain graveyard, a symbol of despair, Jesus stopped them and pointed to a different direction. They cannot find God among the dead, since He is not the god of the dead, but of the living (Mrk 12:27). Undeniably, we are going to die, but live is not about dying, but about living, and living life to the fullest.

    Yes, we die every day because of our sins, failures, and problems. Like the crowd, we march hopelessly toward our graveyard and despair. We are crushed by the weight of the financial issues. We are down by heavy workload. We are depressed by difficulties in the family. We forget to live fully as we focus our attention on death. But, we must not be hopeless, because our God is not the god of death, and His Son comes to bring us to life once again. “I came so that they might have life and have it more abundantly (John 10:10).”

 Together with St. Paul, we shall boldly say, “We are afflicted in every way, but not constrained; perplexed, but not driven to despair; persecuted, but not abandoned; struck down, but not destroyed; always carrying about in the body the dying of Jesus, so that the life of Jesus may also be manifested in our body (2 Cor 4:8-10).”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan Kehidupan

Minggu Biasa ke-10. 5 Juni 2016 [Lukas 7: 11-17]

“Yesus berkata, Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of Nain 2Tampaknya Alkitab mengandung banyak kematian. Hampir semua tokoh di dalam Alkitab meninggal dunia. Beberapa dari mereka beruntung karena meninggal dalam damai, seperti Abraham, Daud dan Yosua. Namun, kebanyakan mengalami kematian tragis. Abel dibunuh oleh saudaranya sendiri. Musa meninggal sebelum ia bisa masuk Tanah Perjanjian. Yakobus, rasul pertama yang menjadi martir setelah dipenggal. Dan kita tidak lupa sangat banyak individu yang tak bernama menjadi korban perang, penyakit dan bencana alam di Alkitab. Dalam Injil hari ini, seseorang meninggal dalam usia muda dan meninggalkan ibunya yang janda sendirian. Masa ini adalah masa buruk untuk tinggal dan hidup.

Kita bersyukur karena kita hidup di dunia yang lebih baik di mana ekspetasi hidup jauh lebih tinggi daripada zaman Yesus. Dengan teknologi medis modern dan praktisi medis yang terlatih dan handal, kita bisa menikmati kwantitas dan kualitas hidup yang lebih baik. Jika saja pemuda dari Nain hidup hari ini, dia tidak akan mati dalam usia muda. Namun, dengan semua kemajuan yang kita miliki, kematian tetap menjadi realitas yang tidak terhidarkan. Tak salah jika Benjamin Franklin berkata, Di dunia ini tidak ada hal yang pasti kecuali kematian dan pajak. Hal-hal ini dapat memdorong kita untuk berpikir bahwa Allah adalah tuhan yang tidak peduli dengan ciptaan-Nya dan mengizinkan kita untuk menderita dan akhirnya kehilangan hidup ini.

Tergerak oleh belas kasihan, Yesus menghidupkan kembali sang pemuda. Membangkitkan orang dari kematian merupakan salah satu mujizat terbesar Yesus, dan ini tidak hanya tercatat dalam Injil Lukas, tetapi dalam keempat Injil. Kisah pemuda dari Nain menyerupai kisah anak perempuan dari kepala rumah ibadat di Matius 9 dan Markus 5, dan kisah Lazarus, saudara Maria dan Marta di Yohanes 11. Namun, kita paham bahwa sang pemuda yang dihidupkan kembali akhirnya akan menemui kematian lagi. Yesus tampaknya sekedar mensiasati kematian dan memberikan harapan palsu kepada sang janda dan orang banyak yang mengharapkan kedatangan ‘nabi besar’.

Kita perlu memahami bahwa mujizat-mujizat Yesus bukanlah solusi instan untuk permasalah kita, tetapi pada dasarnya adalah pedagogis, yang berarti mujizat dirancang untuk mengajari kita nilai-nilai utama. Yesus datang untuk memperbaiki pola pikir bangsa Israel dan kita tentang Tuhan. Saat ibu janda yang berduka dan kerumunan yang lesu berjalan menuju kuburan, yang menjadi simbol keputusasaan, Yesus menghentikan mereka dan menunjuk ke arah yang berbeda. Mereka tidak dapat menemukan Allah di antara orang mati, karena Dia bukan Tuhan orang mati, melainkan orang hidup (Mrk 12:27). Tak dapat disangkal, kita semua akan menghadapi kematian, tetapi hidup bukanlah tentang kematian, tapi tentang hidup, dan bagaimana kita menghidupi hidup sepenuhnya.

Ya, kita mati setiap hari karena dosa-dosa kita, kegagalan, dan permasalahan. Seperti orang-orang yang menyertai sang janda, kita berjalan menuju kuburan keputusasaan. Kita remuk oleh beratnya masalah keuangan. Kita luluh karena beban kerja yang berat. Kita tertekan oleh kesulitan dalam keluarga. Kita lupa untuk hidup secara penuh karena kita memusatkan perhatian kita pada kematian. Tapi, kita tidak boleh putus asa karena Allah kita bukanlah Allah kematian namun kehidupan, dan Putra-Nya datang untuk membawa kita sekali lagi kepada hidup. Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memiliki lebih berlimpah (Yoh 10:10).”

Bersama dengan St. Paulus, kita akan berani mengatakan, Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Kor 4: 8-10).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s Love Transforms

Sixth Sunday of Easter. May 1, 2016 [John 14:23-29]

“Whoever loves me will keep my word, and my Father will love him, and we will come to him and make our dwelling with him (Jn 14:23).”

god love never failsOne day, I had an opportunity to converse with one of our security personnel at our convent of Santo Domingo. I asked him if he sees God, what question would he ask of God? His answer went beyond my expectation. In Filipino, he would say, ‘Panginoon, Mahal mo ba ako?’ [Lord, do you love?] Surprised by his question, I inquired further, ‘Why that question?’ He replied in Filipino, ‘Brother, I am poor person with a lot of problems. Sometimes, I don’t really feel His presence and love.’ I realized that his question is not only single isolated case, but question of many people.

At times, we are asking the good Lord, why is life full of suffering and problems despite our faithfulness to God. We attend mass every Sunday, we pray the rosary everyday, and we never fail to be good Catholics, yet our lives seems never getting better. We continue to face many problems, from financial problems, health issues to relationship brokenness. We then ask God, ‘Lord, do you love me?’

The Gospel constantly tells us that God loves us. But, often we do not see how God loves us. Why? Because we expect a different kind of love. We expect that if we are good, we are obeying His rules, then everything will be fine. But, God is not like a spiritual ATM that grants instantly our wishes as we insert correct spiritual card of prayers and place the right spiritual code of living. But rather, God’s love works deep inside us and transforms us into His own love. God is not created in our image, then we need to stop forcing Him to be like us. Our prayers, our good works, and our faithfulness to God does not mean to give us an instant solution to our problems, but they are God’s ways to gradually form us to be like Him.

Jesus’ love did not liberate Israelites from the oppressions of the Roman Empire, nor He give them prosperity that the Jews longed for. His love rather transformed those people around Him to love like God. The disciples, despite their weakness and sufferings, gradually became more and more loving, and finally made a final sacrifice for the love of Jesus and others. Peter, the leader as well the most problematic apostle, denied and ran away from Jesus, but he progressively learned to love like Jesus. When the final moment came, he gave also his life for Christ and the Christians in Rome.

As I bide a goodbye to Manong guard and went back to seminary, I handed him a food I brought from the mall. Upon receiving the food, he said to me, “Can I share this food with some of the poor kids outside the Church?” His gesture astounded me and yet was heartwarming. Being a security guard in Metro Manila, was a dangerous job with little earning, plus so many problems I had to carry, yet his poverty did not prevent him to share a little blessing he had, a little love he received. He questioned the love of God, but he himself never stopped loving others. This simple man has become the embodiment of God’s love for others. The love of God transforms us more and more into His image, and without realizing it, we also have become the embodiment of His love to others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, Panginoon, Mahal mo ba ako? [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, Mengapa pertanyaan itu? Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya. Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A New Commandment: Love

Fifth Sunday of Easter. April 24, 2016 [John 13:31-33a, 34-35]

 “I give you a new commandment: love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).”

love one anotherThe first time God gave His commandment was on the Mount Sinai. To Moses and the Israelites, He made His covenant that He will be their God and they will be His People. And to live as a Holy People, God gave them the Law, famously called the Ten Commandment (Exo 19-20). Then, centuries after Moses, at the Upper Room, in old city Jerusalem, God gave His new commandment. This time, His Law is simpler and yet, more radical than the old one. Jesus handed to them the greatest command: Love one another as He has loved them.

John was called the beloved. Perhaps, it is because he was loved by Jesus in special way, but I believe, it is because among other disciples, John is the one who struggled the most to understand Jesus’ love for him and for all of us. Jesus’ love is extremely puzzling. In the culture of tooth-for-tooth retaliation, to forgive an enemy is unthinkable, but Jesus asked them to forgive them seventy times seven, to love them and pray for them! When society abhorred sinners, tax-collectors, and law-breakers, Jesus welcome them. Yet, He Himself demanded from them to repent and be perfect as the Father is perfect. When He was left alone, tortured and crucified, He manifested His greatest love as He forgave His tormentors. It does not stop there. The risen Lord came back and precisely to renew His love for His scattered and hopeless disciples. John then concluded in his letter, indeed God is love (1 John 4:8). He is not only loving, merciful, and forgiving, but love itself.

Why did God create universe, despite He is actually perfect and self-sufficient? Because Love cannot but share itself. Why did God trouble Himself by taking close care of His creations? Because Love means caring. Why did God make us human in his image? Because lLve begets another love. Why did God give us freedom despite the fact that we tend to abuse this freedom? Because Love cannot be true unless there is freedom.

Love is difficult and indeed, often full of sacrifices. Parents are struggling to understand and caring their teenage kids who are involved in drug addiction. A wife is fighting for her marriage that begins to crumble because of her husband’s secret affair. A parish priest is giving his best effort to educate his parishioners in faith despite so many criticism and misunderstanding against him. The movie Of Gods and Of Man is a true story of a community of French Trappist monks in Algeria, and they were eventually kidnapped and murdered in1996 by the terrorists. In one meeting, they were arguing whether to leave the monastery and the Muslim villagers they served, or stay and face uncertain future. One of the younger monks said to the Prior, “I did not become a monk to die.” And the prior answered back, “But you have already given away your life.” They finally decided to stay and continue to love until the end.

One time, I faced a profound crisis in my vocation. Honestly, I was confused: both to be a lay and a priest are holy and dignified call. Then, my formator would give this precious advice: “Bayu, choose the path that offers you more sufferings, because there, you may love more.” Indeed, love is tough and demanding, but only through loving, we can become the Disciples of Christ, that reflects His very image.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do You Love Me?

Third Sunday of Easter. John 21:1-19 [April 8, 2016]

jesus n peterReading today’s Gospel in original Greek, we get to appreciate more the dialogue between Jesus and Peter. In English translation, both Jesus and Peter expressed themselves in the same word ‘love’, but in Greek, the word Jesus employed is ‘agapao’ while Peter’s is ‘phileo’. ‘Agapao’ or ‘agape’ refers to unconditional and radical love that every Christian should exemplify. This love is based on freewill and discipline, not just affections. This love empowers to love, to forgive and to have mercy even to our enemies. While ‘phileo’ or ‘philia’ is the reciprocal love of friendship. It is coming from both natural liking as well as firm decision. We make friends with whom we feel close, yet we exert also efforts to get close and understand them. As an old adage say, ‘friend in indeed is friends indeed.

Jesus asked, “Peter, do you unconditionally and radically love me?” yet Peter answered, “Lord, you know that I love you as my friend.” Jesus demanded radical love of ‘agape’ for three times, and for three times, Peter could only give Jesus the love of friendship or ‘philia’. This seems another Peter’s outright denial of Jesus. But, Pope Emeritus Benedict XVI humbly defended his predecessor that at that very moment, ‘phileo’ was his very best.

The dialogue of love between Jesus and Peter is also our dialogue with the Lord. Jesus demands from us that radical and selfless love for Him. But, it is difficult. It is hard to give time in service in the Church, when we are also struggling with our daily life and financial status. A friend told me how he has desire to serve, yet he is the ‘breadwinner’ of the family and has to work 12 hours a day. It is also difficult to love God, when our lives are in mess. How can we love God, when our marriage is falling, when our children entered rehabilitation due to drug-addiction or in jail for their juvenile delinquency? How can we love when our job or business is falling apart? How can we love God if we are betrayed and hurt by persons we love so much? We stop loving and enter into our own self-confinement.

Yet, when Peter failed to meet Jesus’ hope, Jesus was not angry. He never said, ‘You are a failure. You are a mistake.’ Rather, He gave Peter a tremendous responsibility, ‘Tend and Feed my sheep.’ Jesus knows well it is difficult to love. He himself has to die the most brutal death just to prove His love for us. Yet, He does not see us as a failure despite our shortcomings and difficulties in loving. He who has given us the ability to love, knows exactly our potential to love. Indeed, Peter who was struggling to love Jesus, finally proved his love to Jesus as he tended His sheep to the last moment of his life. Peter was crucified upside down, because he refused to abandon Jesus’ sheep in Rome.

When we fail to love God, He did not abandon us, and in fact, He gives us even more mission to love because Jesus is aware that only through this hardship, we may expand our ability to love. Love without trials and tribulations is shallow and weak kind of love. St. John reminded us that God is love (1 John 4:8). Thus, when we struggle to love through thick and thin of lives, we shall remember that it is not us who love, but God himself.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]

jesus n peter 2aMembaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, Friend in need is friend indeed.’

Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.

Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.

Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.

Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wounds of Christ

Second Sunday of Easter – Divine Mercy Sunday. April 3, 2016 [John 20:19-31]

 “Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

jesus n thomas The request of Thomas was a bit strange. To recognize the risen Lord, Thomas demanded that he would be able to touch the wounds of Christ. But, why did Thomas look for the wounds of Jesus? He could have asked to see Jesus’ face, or to touch Jesus’ nose. He had been Jesus’ disciple for some years, and surely, Thomas would not have any difficulty to recognize Jesus. Why wounds?

I guess one of the reason is that Thomas looked for the wounds because he could identify himself with that very wounds that Jesus bore.  Thomas was searching for himself as much as for Jesus. Deep inside his being, Thomas admitted that he is the wounds of Christ, indeed all of the disciples. Thomas who once said, “Let us go to die with Him (John 11:16)!” ran away when Jesus was arrested. Peter, the leader, denied Jesus three times. Judas sold Him for a price of slave. The rest were leaving Him alone to the hand of His murderers. The stories of disciples are the stories of failure, cowardice and betrayal. They have crucified Jesus. They were the wounds of Christ.

We are also the wounds of Christ. Ours are the stories of failure, selfish ambition and unfaithfulness. Some of us might have betrayed our friends just to gain certain personal benefits. Some of us might have do violence even to our beloved ones. Some of us might have told lies to protect our good reputation and cover up our mistakes. In his book, Blood and Earth, Kevin Bales wrote on how our desire for cheaper goods encourages the modern day of human slavery in the third world countries. Who knows that our cellular phone we use to read this reflection are, to certain extent, the products of people working in subhuman conditions in Africa and Asia. And who knows our choice of food has damaged the million acres of soil and hurt the mother earth.

Just like the disciples, we are weak, broken and wounded. We have crucified Jesus and we recognize the wounds of Jesus as ourselves. Yet, we must not miss the point of Easter. Yes, we are the wounds, but we are the wounds of the Risen Christ. Yes, we are weak, frail and sinful, but we do not lose hope because we do not carry our broken selves alone. Jesus is carrying us, and all our imperfection, and transforms them in His resurrection. When in January 2015, Pope Francis visited Tacloban city, Philippines that was devastated by the typhoon Yolanda, he was deeply saddened by the destruction that it brought and thousand lives that it had destroyed. In this face of utter destruction, Pope Francis pointed his hands to the crucified Lord, and said to survivors,

 “So many of you have lost everything. I don’t know what to say to you. But the Lord does know what to say to you. Some of you have lost part of your families. All I can do is keep silence and walk with you all with my silent heart. Many of you have asked the Lord – why lord? And to each of you, to your heart, Christ responds with his heart from the cross. I have no more words for you. Let us look to Christ. He is the Lord. He understands us because he underwent all the trials that we, that you, have experienced.”

Thomas focused only on the wounds, but when he began to touch Jesus and saw the Risen Lord, he exclaimed, “My Lord and My God.” Christian are not to escape from the sufferings of this world nor to be in despair, but we are to face the trials of life and hopeful even if we are weak, because Jesus who has embraced the worst of this world, finally rose and brought us together in his body.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno

Luka-Luka Yesus

Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]

 “Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”

wounds of jesusDi dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.

Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.

Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,

 “Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.

Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP