Becoming Whole

25th Sunday in Ordinary Time. September 18, 2016 [Luke 16:1-13]

“Make friends for yourselves with dishonest wealth, so that when it fails, you will be welcomed into eternal dwellings (Luk 16:9).”

unjust-steward1We were created in the image of God. Thus, our true happiness is only in God. As St. Augustine would say, “You have created us for Yourself, O God, and our hearts are restless until they rest in You.” St. Teresa of the Avilla would echo the same truth when she simply said, “God alone suffices.” But, we were also born into the real human body within a complex and concrete world. As we journey toward God, we cannot totally separate our soul from the various mundane concerns. Even the monks and nuns living in monasteries will still work hard to fulfill their daily and basic needs.

Our humanity and temporal aspects of our life are integral part of who we are. They are blessing and gift of God. We must not be enslaved by money, wealth and other material possessions. Certainly, easier said than done. Who among us are concerned with the latest version of our cellular phone? Who among us spending hours just to choose most fashionable dress? In a bigger scale, corruption, injustice and exploitation are the offshoots of this attachment to this temporal aspect of our lives. Thus, the proper and prudent thing to do is to place the gift of our body and temporal dimension of our life in the service of God and others. I do believe that in order to preach well, it is imperative for the preachers to take care of their health. As an ancient Latin proverbs goes, ‘Mens sana in corpore sano’ (healthy mind in healthy body).

Learning from the parable of the dishonest steward, Jesus taught us to be like the steward in dealing with worldly things. In ancient Israel, for a master entrusting the business to his steward was a common practice. Some stewards would manipulate their position and raise wealth by practice of usury. They charged the borrowers of his masters’ property with high interest. Unfortunately, the steward was caught with this usurious practice as well as squandering his master’s wealth. To save his life, he chose to be smart. He met the debtors and to ask them to rewrite the debt’s notes. He decided to erase the interest that would go to him and let them pay the original amount. The borrowers would be indebted to him, and he might save himself. Like the steward, we need to know what truly matters for our happiness and salvation, as well as well aware of the place of worldly goods in the totality of our lives.

Jesus becomes a splendid example for all us. He is divine and spiritual being. He controlled the forces of nature, He overpowered the evil spirits, and He forgave sins. Though, He was divine, He did not disregard his humanity as useless. He, in fact, was humanly practical and respectful of His own Jewish culture. He observed Jewish traditions and customs, He worshipped God in the synagogues and He taught using the language that His original listeners would understand. Thus, He is truly God and truly man.  Indeed, our salvation rest in this balance and unity of this spiritual and bodily aspects of our humanity.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One Shepherd

24th Sunday in Ordinary Time. September 11, 2016 [Luke 15:1-10]

“Rejoice with me because I have found my lost sheep (Luk 15:6).”

parable-lost-sheep-good-shepherdThe parable of the lost sheep subtly speaks of who we are fundamentally to Jesus. We are all His sheep and He is our shepherd. Whether we faithfully remain inside the sheepfold or go astray, we are still His sheep.

From this truth, we may ask ourselves. Why is it that some of us are going astray? Why are some of us no longer going to the Church or not active in the parish? Why are some abandoning the Church? Why do some turn to be our enemies and haters? We might be easily tempted to say that that is their fault. But, we are sheep of the same flock, sharers of the same pasture and have the same Shepherd. In one way or another, we might be responsible for our brothers and sisters who stray.

It is easy to pass the blame on others, but do we ever bother to ask why they fail? We tend to see them as problems to be solved, objects to dissect into logical parts. We no longer see them as our brothers and sisters, our co-sheep in Jesus’ sheepfold. Our brothers are no longer going to Church perhaps because we no longer care to help them. Our sisters are leaving the Church perhaps because we are living like hypocrites.

 The war on drugs in the Philippines has caused more than two thousand lives in just two months. As one national news outlet remarks ‘the bodies continues pilling up’. Indeed, many of them are small-time drug-pushers and addicts, and if we look at them as mere problems and pests to the society, death seems the fastest and easy answer. But, if we have headache, do we cut the head? Do we ever wonder why they fall victims of that deadly narcotics? A Lion share of those who got killed were actually poor people. Do we ever lift a finger to alleviate their poverty? Our ignorance and negligence may have indirectly led them into poverty and misery.

Fr. Gerard Timoner III, OP, our provincial, used to teach an idea of brothers shepherding brothers in the seminary. This means that the responsibility of taking care of our brothers in formation does not only rest only on the formators, but also on every brother. We need to become shepherds to one another, especially when the shepherds seem to stray away. Recently, he met us and shared what he gained from the Dominican General Chapter in Bologna last August. He emphasized that to promote vocation is not only about recruiting new members, but also nurturing and safeguarding the vocation of our own brothers in the Order.

To become a sheep of Christ means that we are also part of a bigger sheepfold. As Jesus takes care of each one of us, so we need to take care of one another. As the Good Shepherd reaches out to the lost sheep, we shall stretch ourselves to meet those who are lost in their journey. Surely, it is difficult, but they are still our brothers and sisters, fellow-sheep of Christ.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Disciples

Twenty-third Sunday in Ordinary Time. September 4, 2016 [Luke 14:25-33]

“If any one comes to me without hating his father and mother, wife and children, brothers and sisters, and even his own life, he cannot be my disciple (Luk 14:26).

carry crossBeing a disciple is an essential character of Jesus’ followers. In our time, a disciple may mean a student of particular teachers or schools. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, Manila. In ancient time, especially in Eastern and Jewish tradition, being a disciple has a different understanding. A disciple would not only accept his master’s teachings, but literally follow his Master wherever he would go and stay. Disciples would not only learn on various insight, but also witness and imitate how their master lived his life. They shared their master’s meal, and they were part of their teachers’ joy and sadness. Thus, being a disciple is not only about an intellectual education, but also a holistic formation. It is fundamentally sharing the very life of the master himself.

Therefore, it makes sense for us now, when Jesus demanded that his disciples ‘hate’ their family as well as their own lives. To follow Jesus wherever he goes literally meant the disciples had to leave behind the family and the lives and works they used to have. ‘Hating’ did not mean that they should harbor enmity to their family, but rather place them as secondary priority. Jesus was their new family, their first priority and their real life.

Jesus Himself gave us a fitting imagery of discipleship: following Him is like carrying a cross.  To be a disciple of Christ is indeed difficult, tough; it demands a radical re-orientation of one’s life. Yet, the good news is that to be Jesus’ disciples is not impossible. A good number of young men and women, leaving behind their promising careers, enter the monastery and dedicate themselves for the Lord in constant prayer. Lay Men and women offer themselves as missionaries and are sent to far corners of the globe to share the joy of the Gospel. The evangelization of the Philippines were nearly impossible if not for zealous Spanish friars who travelled for months, risked their lives and many never returned to their homeland. These generous people literally left everything behind to follow Christ.

However, being Jesus’ disciple does not mean for many that they have to abandon our families. Following Christ may take place within the family. When a man and a woman decide to leave their families of origin, and build their own Christian family, then they have become the community of Christ’ disciples. When parents commit themselves to the demanding task of raising their children to be God-fearing and honest Christians, they are following Christ. More fundamentally, our discipleship manifests clearly in the sacraments, especially the Eucharist. In the Eucharist, we become disciples who listen to His teachings and partake in His very life in the sacred host. Then, finally we are sent to preach what we have learned and lived in the Eucharist.

We continue to pray that we may become His true disciples and many will be also inspired to follow Him and share His life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Murid Yesus

Minggu pada Pekan Biasa ke-23. [4 September 2016] Lukas 14:25-33

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk 14:26).

ISRAEL-PALESTINIAN-RELIGION-CHRISTIANTY-EASTER

Menjadi seorang murid adalah jati diri penting dari pengikut Yesus. Pada masa kini, seorang murid dapat berarti seorang siswa sebuah sekolah tertentu. Seperti Frater Bayu adalah mahasiswa University of Santo Tomas, Manila. Namun, di zaman dahulu, terutama dalam tradisi Timur dan Yahudi, menjadi murid memiliki pemahaman yang berbeda. Seorang murid tidak hanya akan menerima ajaran gurunya, tapi benar-benar mengikuti sang guru kemanapun dia akan pergi dan tinggal. Murid tidak hanya akan belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga menyaksikan dan meniru bagaimana sang guru menjalani hidupnya. Mereka berbagi makan yang sama, dan mereka adalah bagian dari sukacita dan pergulatan sang guru. Dengan demikian, menjadi murid tidak hanya tentang pendidikan intelektual, tetapi merupakan formasi holistik. Pada dasarnya sang murid akan menjadi bagian hidup sang guru.

Oleh karena itu, masuk akal bagi kita sekarang, ketika Yesus menuntut agar para murid harus ‘membenci’ keluarga mereka serta kehidupan mereka. Untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi berarti para murid harus meninggalkan keluarga, kehidupan dan pekerjaan yang mereka memiliki. ‘Membenci’ tidak berarti bahwa mereka membuat permusuhan dengan keluarga mereka, melainkan menjadikan mereka sebagai prioritas sekunder. Yesus adalah keluarga baru mereka, prioritas pertama mereka dan kehidupan nyata mereka sekarang.

Yesus sendiri memberi kita citra pemuridan: mengikuti Dia adalah seperti membawa salib. Untuk menjadi murid Kristus memang sulit dan menuntut radikal re-orientasi hidup kita. Namun, kabar baiknya adalah bahwa untuk menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mustahil. Tidak sedikit pria dan wanita muda meninggalkan karir yang menjanjikan, masuk ke biara dan membaktikan diri bagi Tuhan dalam doa. Pria dan wanita awam mempersembahkan diri mereka sebagai misionaris dan dikirim ke penjuru dunia untuk berbagi sukacita Injil. Evangelizasi Filipina 400 tahun lalu hampir tidak mungkin kalau bukan karena imam-imam Spanyol yang bersemangat yang selama berbulan-bulan berlayar, mempertaruhkan nyawa mereka dan banyak yang tidak pernah kembali ke tanah air mereka. Ini adalah saudara dan saudari kita secara nyata meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus.

Namun, menjadi murid Yesus tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan keluarga kita. Mengikuti Kristus dapat terjadi dalam keluarga. Ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk meninggalkan keluarga asal mereka, dan membangun keluarga Kristiani mereka sendiri, maka mereka telah menjadi komunitas para murid Kristus. Ketika orang tua berkomitmen dalam tugas sulit untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman, mereka mengikuti Kristus. Lebih mendasar, menjadi murid Kristus terlihat jelas di dalam sakramen, terutama Ekaristi. Dalam Ekaristi, kita menjadi murid yang mendengarkan ajaran-Nya dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya di hosti suci. Akhirnya, kita diutus untuk memberitakan apa yang telah kita pelajari dan hidupi dalam Ekaristi.

Kita terus berdoa agar kita dapat menjadi murid-Nya sejati dan banyak juga akan terinspirasi untuk mengikuti-Nya dan berbagi kehidupan-Nya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salvation: Gift and Choice

21st Sunday in Ordinary Time. Luke 13:22-30 [August 21, 2016]

 “Lord, will only a few people be saved? (Luk 13:23)”

jesus the gateSalvation is both a gift and a choice. It is free yet it is never cheap. It is a gift because it is freely given by God and no one earns it. Yet, it is a choice because we make all the efforts to receive it and make it ours. Through His death and resurrection, Jesus has made available the grace of salvation for everyone. But, we need to participate in His work of salvation by living out the gift of faith in our daily lives.

There is a story of a rabbi who visited a soap maker to buy a supply for his household. Suddenly, the soap maker asked, “What good is religion? Look at all the suffering and evil in the world! Still there, even after years and thousand years of teaching about goodness and peace. Still there, after all the prayers and preaching. If religion is good and true, why should we continue to suffer?” The rabbi said nothing. He then noticed a child playing in the gutter in front of the shop, and the rabbi said, “Look at that child. You say that soap makes people clean, but do you see the dirt on that kid. Of what good is soap? With all the soap in the world, over thousand years, the child is still dirty. I wonder how effective your soap is, after all?” The soup maker protested, “But, Rabbi, soap cannot do any good unless it is properly used.” The rabbi replied, “Exactly!”

To make the gift of salvation ours is not an easy job. Jesus Himself admitted, “Strive to enter through the narrow gate, for many, I tell you, will attempt to enter but will not be strong enough (Luk 22:24).” It is tough because it demands radical transformation of our hearts, or metanoia. All external forces, like rules, regulations and commands, will not last. The gift of salvation cannot be forced from the outside, but has to grow from within us so that it will be stable and permanent in us. Yes, we are saved, but we are also saved each day of our lives.

The call for living out our salvation is the call of the prophets of the Old Testament. The prophets reminded the Israelites that they indeed have been chosen by God as His own precious possessions, saved from Egypt and dwelt in the land of milk and honey. Yet, this wonderful gift will not last unless they also reform their hearts and truly become God’s people. God, through prophet Ezekiel, demanded this, “I will give you a new heart and place a new spirit within you, taking from your bodies your stony hearts and giving you natural hearts (Ezekiel 36:26).”

It is a radical choice to live up our salvation daily. We can be baptized as Catholics or Christians, yet we never go to the Church. We profess our belief in only one God, but we enjoy reading horoscopes, consulting fortunetellers and use religious items as mere protective amulets. We can easily shout, “God is good all the time,” but we have a lot of complaints in our lives. We are often instructed by Jesus Himself to love our enemies, yet we maintain hatred, remain vengeance-oriented and take pleasure when our enemies suffer misfortunes. We enjoy the worship and good preachings, yet we simply look for feeling-good experiences.

God shall remove our stony hearts and replace them with natural hearts if we make the way. We are saved if we shall make every gift of salvation counts. We shall enjoy the Kingdom, if together with Jesus, we enter our daily narrow gate.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Giving Up All

 19th Sunday in Ordinary Time. August 7, 2016 [Luke 12:32-48]

 “For where your treasure is, there also will your heart be (Luk 12:34).”

jesus-hands-holesAre we ready to sell everything we have and follow Jesus? Are we prepared to give up our dreams and ambitions for the Kingdom? Are we willing to place our hearts, our treasures where no moth can destroy and no thief can steal?

St. Dominic de Guzman whose feast day we will celebrate tomorrow, is a shining example for us to emulate. When he was a canon regular in the Cathedral of Osma, Spain, he was actually a rising star. He was elected sub-prior at a very young age. To be a sub-prior means he was next to the leader of the Cathedral and was groomed to the position of the Bishop. Osma was a fortified city and had a beautiful Church. Osma provided Dominic tranquility and comfort when wars and famine ravaged portions of Spain. He was also prepared to take the coveted position in Osma as its bishop. Yet, Dominic decided to abandon all of these. Facing overwhelming difficulties and life-threating dangers, he went to preach the Gospel in Southern France where the heretic group, Albigentians, took its root.

St. Dominic and many other saints are indeed illustrious models of this evangelical self-giving, but how many among us are doing what the saints did? In all honesty, many of us are not ready to do what Jesus commanded in today’s Gospel. Some of us cannot simply sell everything we have because we need to feed our children and send them to school. Some cannot just give up their studies because they need to prepare for a better future. Some of us have to run our businesses because we are responsible for the lives of our workers and their families. I myself have to admit that it is difficult for me even to let go of my book collections.

We are entangled with so many complexity of life. Yet, deep inside us, we always feel that yearning to surrender everything for the sake of the Kingdom. Sometimes, the best thing we can do is to do simple sacrifices everyday.

A mother who wakes up early morning, prepares the breakfast for the family, brings her children to school, go to work to earn a living, cooks dinner for her husband, and basically puts aside her dream to work with the urban poor, is truly giving herself to the Lord. I have a friend who is young, intelligent and very determined to become a priest. I am sure that he can become a good priest someday. But, his father is old and sickly, his siblings are still studying, and his mother earns very little. With a heavy heart, he decided to leave the seminary and work to help his family. He sacrificed his hope to serve the Lord as a priest, yet he surrenders his life to serve the Lord, through his family.

I do believe that God is very compassionate and merciful. He understands our daily struggles to follow Him. Thus, God does not leave us alone. He empowers us in our struggles and His grace enables us to give our lives despite the complexity of our lives.

St. Dominic de Guzman, pray for us!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menyerahkan Semuanya

Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48

 “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”

giving handsApakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?

St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.

St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.

Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.

Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.

Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.

St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP