Broken Enough

Third Sunday of Advent [December 16, 2018] Luke 3:10-18

kneelingThe second question that Archbishop Socrates Villegas of Lingayen-Dagupan asked us during our ordination was, “Are you broken enough?” Once again his question raised eyebrows and was, indeed, counter-intuitive. We want to be flawless, whole and perfect. We desire to achieve more in life, to be wealthy, healthy and pretty. We wish to be socially accepted, respected and gain certain prominence. We want to become somebody, and not nobody. We like others to call us as the famous doctors, the creative entrepreneurs, or successful lawyers. Or for us, people in the Church, we like people to consider us well-sought preachers, generous and builder-priests, or skillful and well-educated sisters.

However, we often forget that the people we serve are broken people. They are broken in many aspects of life. Some are broken financially, some are struggling with health problems, and many are crushed by traumatic experiences in the families. Some are dealing with anger and emotional instability, and some are confronting depression and despair. Some are hurt, and some other are forced to hurt. Many fall victims to injustice and violations of human rights. And all of us are broken by sin. We are serving broken people, and unless we are broken enough like them, our ministry is nothing but superficial and even hypocritical.

Therefore, as the ministers of the Church, we ask ourselves: are we disciplined enough in our study and allow the demands of academic life to push us hard to kiss the ground and continually beg the Truth to enlighten us? Are we patient enough in our life in the community and allow different personalities and conflicts in the seminary, convent or community to shape us up, to make us realize that life is much bigger than ourselves, and to enrich us? Are we resilient enough in our ministry and allow different people in our ministries to challenge our small world, to confront us with failures, and to face a reality that it is not them being served, but us? Are we humble enough in our prayer and allow God to take control of our lives?

In the center of our Eucharistic liturgy are the Word and the Body being broken. The Word of God in the scriptures is read, and the preacher ‘stretches’ and ‘breaks’ it into more relevant and meaningful words for the people of God. The Body of Christ in the consecrated hosts is literally broken, and so this may be enough for everyone. These Word and Body of Christ are broken for the broken people of God. Jesus saves and makes us holy by being one with us, by being broken for us. He is a broken Lord for His broken brothers and sisters.

We the ministers of God are like Jesus Christ, and thus, the questions are: Are we willing to recognize and accept our own imperfections? Are we strong enough to admit that we are weak? Are broken enough that we may share our total selves to our brothers and sisters? Are we like Christ who is broken for others to live?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Terpecah

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Adven [16 Desember 2018] Lukas 3: 10-18

kneeling 2Pertanyaan kedua yang diajukan uskup agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu sudah cukup terpecah dan remuk?” Sekali lagi pertanyaannya ini mengherankan. Kita ingin menjadi utuh dan sempurna. Kita ingin mendapatkan lebih banyak dalam hidup, menjadi kaya, sehat dan cantik. Kita ingin diterima secara sosial, dan dihormati dan memiliki pencapaian yang dapat dibanggakan. Kita ingin menjadi seseorang. Kita ingin orang lain menyebut kita sebagai dokter terkenal, pengusaha kreatif, atau pengacara yang sukses. Atau bagi kita, orang-orang yang melayani di Gereja, kita suka orang-orang menganggap kita sebagai pengkhotbah yang disukai, imam pembangun, atau suster yang terampil dan berpendidikan.

Namun, kita sering lupa bahwa orang yang kita layani adalah orang-orang yang terpecah dan remuk. Mereka terpecah dalam banyak aspek kehidupan. Ada yang remuk secara finansial, ada yang bergulat dengan masalah kesehatan, dan banyak yang dihancurkan oleh pengalaman traumatis dalam keluarga. Ada yang berurusan dengan kemarahan dan ketidakstabilan emosi, dan ada pula yang menghadapi depresi dan keputusasaan. Beberapa terluka, dan beberapa lainnya dipaksa untuk melukai. Banyak menjadi korban dari ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dan kita semua diremukkan oleh dosa. Kita melayani orang-orang yang terpecah dan remuk, dan kecuali kita cukup remuk seperti mereka, pelayanan kita sekedar superfisial dan bahkan menjadi sebuah kemunafikan.

Oleh karena itu, sebagai pelayan Gereja, kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita cukup disiplin dalam hidup studi dan membolehkan tuntutan kehidupan akademis memaksa kita untuk berlutut dan terus memohon kepada sang Kebenaran untuk menerangi kita? Apakah kita cukup sabar dalam kehidupan di komunitas dan memungkinkan berbagai kepribadian dan konflik di seminari, biara atau komunitas untuk membentuk kita, untuk membuat kita menyadari bahwa hidup jauh lebih besar daripada diri kita sendiri, dan memperkaya kita? Apakah kita cukup ulet dalam pelayanan kita dan memungkinkan orang-orang yang kita layani untuk menantang dunia kecil kita, untuk menghadapkan kita dengan kegagalan, dan kenyataan bahwa bukan mereka yang dilayani, tetapi kita? Apakah kita cukup rendah hati dalam doa kita dan membiarkan Tuhan mengendalikan hidup kita?

Di ditengah-tengah liturgi Ekaristi kita adalah Firman dan Tubuh yang dipecah-pecah. Firman Tuhan dalam kitab suci dibaca, dan sang pewarta ‘memecah-mecah’ sang Sabda menjadi kata-kata yang lebih relevan dan bermakna bagi umat Allah. Tubuh Kristus dalam hosti putih yang dikuduskan dipecah-pecah agar menjadi cukup untuk semua orang. Ini adalah Firman Allah dan Tubuh Kristus yang dipecah-pecah untuk umat-Nya yang juga terpecah dan remuk. Yesus menyelamatkan dan menjadikan kita kudus dengan menjadi satu dengan kita, dengan diremukan bagi kita. Dia adalah Tuhan yang terpecah bagi saudara-saudari-Nya yang remuk redam.

Kita adalah para pelayan Tuhan, dan pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita mau mengakui dan menerima ketidaksempurnaan kita sendiri? Apakah kita cukup kuat untuk mengakui bahwa kita lemah? Apakah cukup terpecah dan remuk sehingga kita dapat berbagi diri kita secara total kepada saudara-saudari kita? Apakah kita mau seperti Kristus yang diremukan agar banyak orang bisa memiliki hidup?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christmas and the Love of God

The Nativity of the Lord [December 25, 2017] John 1:1-18

 “And the Word became flesh and made his dwelling among us, and we saw his glory, the glory as of the Father’s only Son, full of grace and truth. (Joh 1:14)”

John-Word-made-fleshChristmas is one of the most joyous events in the Church and the world. But, what makes us happy this Christmas? Is it only about partying? Is it all about buying gifts? Is it about family gathering? Is it about fulfilling our obligation of going to the Church? Is there something more than these? Immersed in many celebrations, merriment, spending, and holidays, we often forget the main reason behind Christmas. We all know Christmas is the birthday of Jesus Christ, but what is the meaning and significance of this birth for us? Let us stop for a while and reflect on the Gospel of John.

John describes the birth of Jesus in just one line, “and the Word was made flesh and dwell among us.” It is a short yet powerful line, but demands an explanation. “…was made flesh” means that the Word becomes a totally human being. He breathes the air we breathe, feels what we feel, and works for a living just many of us. He is human like us in all respect except sin (see Heb 4:15).

Yet, this man is also fundamentally different from us, because he is the Word. Who is this Word?  At the beginning of his Gospel, John the evangelist gives us an extremely brief but potent description of the Word. He was with God since the beginning, and the Word was God. With boldness, John the evangelist proclaims that this Word is God the Son, the second divine person of the Holy Trinity. He has existed with the God the Father in eternity, and only through Him, all creations come to existence. In the Annunciation, this all-powerful Word became man, and in Christmas day, He was born in Bethlehem.

It is true that Christmas accounts of Luke and Matthew are more vivid and details as compare to John. Matthew has the three Magi, and Luke has the angels and shepherds. Yet, despite its brevity, only John connects Christmas to the divine Word. Christmas reaches its deepest meaning when we are able to appreciate the Word, the God the Son, decides to be born as man. Then why does God choose to be a man, fragile, prone to pain and suffering, and mortal like us?

The only answer is love. God is love (1 Jn 4:8) and God so loves us, that He gives only Son for us. God is madly in love with us, to the point that He becomes one of us, and by becoming a man, we may feel His love in a most radical manner. We can discuss various theories of love at length, but unless we put into actions, love is meaningless. So thus, the love of God is manifested in the most concrete manner as He becomes man. We might do not understand why this kind of love, but God is like a mother who is so in love with her newly born baby, will do anything to ensure his wellbeing even to the point of sacrificing her own life. Christmas is indeed one of the happiest events because here we are able to feel and appreciate the love of God in a most radical way. It is the gift of love, and only true love that can make us truly happy.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Natal dan Kasih Tuhan

Hari Raya Natal [25 Desember 2017] Yohanes 1: 1-18

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yoh 1:14)”

nativity_he-qiNatal adalah salah satu hari yang paling menggembirakan di dalam Gereja. Tapi, apa yang membuat kita gembira Natal ini? Apakah karena banyak pesta? Apakah karena kita menerima banyak hadiah? Apakah karena kita bisa berkumpul dengan keluarga? Terlarut dalam banyak perayaan, kegembiraan, belanja, dan liburan, kita sering melupakan alasan utama di balik Natal. Tentunya, kita semua tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, tapi apa arti sesungguhnya kelahiran ini bagi kita? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan Injil Yohanes.

Yohanes Penginjil menggambarkan kelahiran Yesus hanya dalam satu kalimat, “dan Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Ini adalah kalimat yang sangat pendek namun penuh daya. Firman menjadi manusia sejati. Dia menghirup udara yang kita hirup, merasakan apa yang kita rasakan, dan bekerja untuk mencari nafkah seperti halnya banyak dari kita. Dia adalah manusia seperti kita dalam segala hal kecuali dosa (lihat Ibr 4:15).

Namun, manusia ini juga sangat berbeda dengan kita, karena dia adalah Firman. Siapakah Firman ini? Pada awal Injilnya, Yohanes penginjil memberi kita deskripsi Firman yang sangat singkat tetapi penuh kekuatan. Firman bersama Tuhan sejak awal, dan Firman itu adalah Tuhan. Dengan keberanian, Yohanes penginjil menyatakan bahwa Firman ini adalah Allah Putra, pribadi ilahi yang kedua dari Tritunggal Mahakudus. Dia telah ada bersama dengan Allah Bapa dalam kekekalan, dan hanya melalui Dia, semua ciptaan ada. Saat Maria menerima Kabar Sukacita, Firman yang Maha Kuasa ini menjadi manusia, dan pada hari Natal, Dia lahir di Betlehem.

Memang benar bahwa kisah kelahiran Yesus di Lukas dan Matius lebih hidup dan panjang dibandingkan dengan Yohanes. Matius memiliki tiga orang Majus, dan Lukas memiliki malaikat dan gembala. Namun, meski singkat, hanya Yohanes yang menghubungkan Natal dengan sang Firman. Natal mencapai makna terdalamnya saat kita dapat menemukan sang Firman, Putra Allah, yang memutuskan untuk dilahirkan sebagai manusia. Lalu mengapa Tuhan memilih untuk menjadi seorang manusia, rapuh, rentan terhadap rasa sakit dan penderitaan, dan fana seperti kita?

Satu-satunya jawabannya adalah cinta kasih. Tuhan adalah kasih (1 Yoh 4: 8) dan Tuhan sangat mengasihi kita, sehingga Dia memberi Putra-Nya bagi kita. Tuhan sangat mencintai kita, sampai-sampai Ia menjadi salah satu dari kita, dan dengan menjadi seorang manusia, kita dimungkinkan merasakan kasih-Nya dengan cara yang paling radikal. Kita bisa membahas berbagai teori cinta dengan panjang lebar, tapi tanpa tindakan nyata, cinta kasih itu tidak ada artinya. Jadi, cinta kasih Tuhan diwujud nyatakan dengan cara yang paling konkret saat Ia menjadi manusia. Kita mungkin tidak mengerti mengapa Ia mencintai kita seperti ini, tapi Tuhan seperti seorang ibu yang sangat mencintai bayi yang baru lahir, akan melakukan apapun untuk memastikan kesejahteraan sang bayi, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Natal memang merupakan salah satu peristiwa terindah karena disini kita bisa merasakan dan menghargai kasih Tuhan dengan cara yang paling radikal. Itu adalah karunia cinta kasih, dan hanya cinta sejati yang bisa membuat kita benar-benar bahagia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Surpassing the Pharisees

6th Sunday in Ordinary Time. February 12, 2017 [Matthew 5:20-37]

 “I tell you, unless your righteousness surpasses that of the scribes and Pharisees, you will not enter into the kingdom of heaven. (Mat 5:20)”

phariseeThe word ‘Pharisee’ has a rather negative connotation for us. In the Gospels, they are the bad guys. They often argued with Jesus and Jesus challenged their way of life. Even some planned to get rid of Jesus (see Mat 12:14). In our time, the term ‘Pharisaic’ simply means hypocrite.

However, if we look from another angle, the Pharisees are not that ugly. In the time of Jesus, they had important roles to play. They, in fact, revolutionized the Jewish society itself. What did they do? They brought the Law, various rituals and devotional practices from the Temple of Jerusalem to the Jewish communities and families in Israel. Many Pharisees took care of the local synagogues and made sure that the people would observe properly the Law and its traditions, like the Sabbath and rituals of cleansing. Unlike the priests who served in the Temple, the Pharisees were lay people who loved the Law in their ordinariness of life. Thus, when the Temple was destroyed by the Roman army in 70 AD, the priestly clan also disappeared, but the Jewish cultural fabrics and religion continued to live because of the Pharisees, the lay people.

Jesus criticized them not because they were following the Law and traditions, but because of their ‘interpretations’ of the Law. Doubtless, the Pharisees loved the Law of Moses dearly, but they fell into fundamentalism. They absolutized the letters of the Law and the traditions, and trivialized what or who is actually at the service of the Law: God and fellow human beings. To become a fundamentalist means we opt to follow the dead letters of the Law of the Bible, which is easier, rather than to dialogue with the Person behind it and persons in front of it.

Without realizing it, many of us are acting like the Pharisees. Like them, we love God, His Law, and His Church, but sometimes, we are too busy with the trivial things. I am sad when some people are arguing on how to receive the Holy Eucharist, kneeling, standing, by hands or directly to the mouth. Some accuse Charismatic mass as heretical. Others label the Latin Mass as ultra-conservative. I am also saddened with a young Catholic apologist who is zealously debating on the Internet, yet does not lift a finger to help his sick mother. Yes, Sacred Scripture and the Liturgy is an essential part of our faith as the exercise of the priestly office of Jesus Christ and means of salvation, but if we are disintegrated because of details of the rituals, we miss the point.

We forget to transform our love for God and His Church into love for others. St. Dominic sold his expensive books made of animal skins so he could feed the poor, and argued, “Would you have me study from these dead skins when the living skins are dying of hunger?” Who among us are involved in feeding the poor around us? Who among us are doing something meaningful to the victims of injustice in the society? Who among us have the patience towards our ‘difficult’ brothers and sisters in the family or community? Remember that we are called to surpass the righteousness of the Pharisees.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

The Word of God in the Desert

First Sunday of Lent. February 14, 2016 [Luke 4:1-13]

“Filled with the Holy Spirit, Jesus returned from the Jordan and was led by the Spirit into the desert (Luk 4:1).”

jesus temptationToday’s Gospel shows us that the Holy Spirit led Jesus to the desert. Yes, the Holy Spirit will not spare us from the desert! The desert experience can be anything that spells dryness and emptiness in our lives and souls. Out of nowhere, a seminarian enters into a desert as he is feeling unexplainable meaninglessness in his chosen vocation. A mother begins to experience exhaustion in fulfilling her difficult mission to rear her children. Through her journals, it was revealed that even holy person like Mother Teresa of Calcutta went through ’the eclipse of God’ when she did not sense the presence of God for almost 10 years in her life.

The Gospel reminds us as well that in the desert, Jesus was tempted by the devil. Walking through the desert experiences, the devil knows well that our defense is at its lowest and surely he will take his change to make us fall from our commitment. The seminarian starts seeing another way of life as more attractive and a solution to his emptiness. Now, not only dryness, he is also facing a crisis. Tired of spending time with her children, the mother starts thinking to shift her focus on something else like her career, hobbies, or friends. The devil is an extremely smart creature. He will manipulate our basic desires and longings. He offers us little compromises that eventually destroy all together our commitment. The seminarian begins not attending prayers, a student is becoming lazy in study and a husband starts spending more time outside his own house and family.

How then do we counter this situation? Jesus gave the answer: the Word of God. In the desert, Jesus was firmly rooted in the Word of His Father, and resisted the temptations. In the midst of life’s dryness and challenges, we shall turn ourselves into the Word of God. Doubtless, we can do our own bible reading and study. This very reflection and other reflections are an invitation to go deeper into the Word of God. Or, praying the rosary is one effective way to meditate the life of Jesus and to refuse temptation. But, the only place that the Word of God is in the most powerful and unique form is at the Eucharist. In the Eucharist, the Word of God is lavishly shared to us through the biblical readings and expanded through the homily. Most importantly, the Word of God finally is made flesh and we partake of it at the Holy Communion.

When the devil tempted hungry Jesus to change the stone into bread, Jesus resisted by pointing that we truly live because of the real Bread, the Word made flesh, the Eucharist. When the evil one attempted to allure the Son of God to exhibit His power at the temple of Jerusalem, Jesus outsmarted him by showing him that the Temple is the home of the Word, and not place of showoff. When the prince of darkness asked Jesus to worship him in exchange for the world’s glory and richness, Jesus confronted him with the truth that only God and His Word in the Eucharist worthy of all worship.

The Holy Spirit will indeed lead us into the desert, but it is not to destroy us, but to allow us to find how we truly are, persons rooted in the Word of God, in the Eucharist.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP