Sukacita dalam Penderitaan

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [C]

20 Juli 2025

Kolose 1:24-28

Penderitaan adalah bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Berbagai agama dan filsafat telah berusaha untuk menjelaskan makna dari penderitaan. Namun, bagaimana pandangan Kristiani tentang penderitaan? Apa bedanya dengan pandangan-pandangan lain?

Beberapa orang memandang penderitaan sebagai hukuman ilahi atas kesalahan kita, menyiratkan bahwa mereka yang menderita pastilah orang yang bersalah dan berdosa. Yang lain menganggapnya sebagai ilusi, dan mengajak kita untuk mengabaikannya. Beberapa mengaitkannya dengan “karma” atau hasil dari tindakan buruk di kehidupan sebelumnya. Sementara yang lain melihatnya sebagai sesuatu yang tidak berarti, sesuatu yang harus dihindari dengan cara apa pun.

Namun, apa yang diajarkan oleh Kitab Suci dan iman kita tentang penderitaan? Apakah perspektif kita berbeda dengan yang lain? Perjanjian Lama bergumul juga dengan pertanyaan ini, khususnya dalam Kitab Ayub. Ayub adalah orang yang benar dan saleh, namun ia mengalami penderitaan yang luar biasa. Para sahabat Ayub mengatakan dia berdosa, tetapi Ayub bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Akhirnya, Kitab Ayub menjawab bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman, tetapi bagian dari rencana misterius Tuhan untuk memurnikan imannya. Kitab Ayub menentang pemikiran sederhana bahwa penderitaan selalu merupakan konsekuensi dari dosa.

Dalam Perjanjian Baru, Santo Paulus menawarkan sebuah perspektif yang radikal. Ia menulis, “Aku bersukacita dalam penderitaanku” (Kol 1:24). Sekilas, hal ini tampak mengherankan; bagaimana mungkin seseorang dapat bersukacita dalam penderitaan? Ayub dalam Perjanjian Lama meratapi penderitaannya, namun Paulus mengungkapkan rasa syukurnya. Apakah Paulus adalah seorang masokis, seseorang yang menikmati penderitaan?

Sama sekali bukan! Untuk memahaminya, kita harus membaca pernyataannya secara lengkap: “Sekarang aku bersukacita dalam penderitaanku oleh karena kamu, dan di dalam dagingku aku menggenapi apa yang kurang pada penderitaan Kristus demi tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Paulus menanggung banyak penderitaan demi Kristus dan Gereja-Nya. Ia mengalami pemukulan, pemenjaraan, kelaparan, dan pengkhianatan. Namun ia melihat penderitaannya bukan sebagai sesuatu yang sia-sia, tetapi sebagai cara untuk berbagi dalam penderitaan Kristus. Memang, Yesus mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan dan kematian yang mengerikan di kayu salib, namun melalui kasih ilahi-Nya, Yesus mengubah penderitaan ini menjadi jalan keselamatan bagi semua orang.

Penyaliban Yesus adalah pengorbanan yang sempurna, yang sepenuhnya cukup untuk keselamatan. Namun, Gereja – tubuh Kristus – terus mengalami penderitaan karena masih mengembara di dunia dan berjalan di jalan salib Yesus. Yesus telah memperingatkan para pengikut-Nya bahwa mereka akan menghadapi penganiayaan karena nama-Nya (Mat 10:38; Yoh 15:20; Kis 9:16). Paulus memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, atau melihatnya sebagai kesempatan untuk menyempurnakan penderitaan Gereja. Paulus memilih yang kedua, dan mempersembahkan penderitaannya sebagai sarana berkat bagi umat di Kolose.

Benar bahwa beberapa penderitaan diakibatkan oleh kesalahan kita sendiri, tetapi sering kali, kita mengalami pencobaan di luar kehendak kita. Pada saat-saat seperti itu, kita memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atau menerima penderitaan sebagai bagian dari salib Kristus. Ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya, penderitaan itu menjadi lebih dari sekadar penderitaan, tetapi menjadi jalan menuju kekudusan, sebuah sarana berkat dan rahmat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Penderitaan-penderitaan apa yang kita hadapi saat ini? Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana kita meresponsnya – dengan kemarahan, keputusasaan, atau kepercayaan? Apakah kita melihat pergumulan kita sebagai bagian dari karya penebusan Kristus?

Tujuh Puluh

Hari Minggu ke-14 dalam Masa Biasa [C]

6 Juli 2025

Lukas 10:1-20

Pengutusan ketujuh puluh murid adalah kisah yang unik dalam Injil Lukas. Episode ini mengungkapkan sebuah kebenaran yang penting: pengikut Yesus jauh lebih banyak daripada sekedar dua belas rasul. Tetapi mengapa Dia memilih angka tujuh puluh?

Ada beberapa alasan:

  1. Sebuah gambaran tentang jumlah pengikut Yesus yang sebenarnya.

Kedua belas rasul bukanlah satu-satunya murid Yesus. Banyak orang lain yang mengikuti dan belajar dari-Nya. Meskipun Dua Belas dipilih sebagai pemimpin komunitas-Nya yang sedang bertumbuh, mereka bukanlah satu-satunya yang berkomitmen pada misi Yesus. Angka tujuh puluh (atau tujuh puluh dua, dalam beberapa manuskrip tua lain) menunjukkan komunitas Yesus yang relatif besar dan juga berdedikasi pada perjuangan Yesus.

  • Penggenapan Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, ada tujuh puluh penatua ditunjuk untuk membantu Musa dan Harun dalam memimpin bangsa Israel melewati padang gurun (Bil 11:16-17). Para penatua ini mendaki Gunung Sinai, di mana mereka bertemu dengan Tuhan dan bahkan mengadakan perjamuan di hadapan-Nya (Kel 24:9-11). Sama seperti Musa dan Harun yang mengandalkan para pemimpin ini untuk memimpin bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, demikian juga Yesus memanggil dan mengutus ketujuh puluh murid-Nya untuk memimpin umat Allah menuju Tanah Perjanjian yang sejati, yaitu Kerajaan Allah.

3. Simbol Kepenuhan dan Perjanjian

Di dalam Alkitab, angka tujuh melambangkan kepenuhan dan perjanjian Allah. Sebagai contoh:

  • Penciptaan diselesaikan dalam tujuh hari (Kej 1), yang melambangkan keteraturan dan kesempurnaan ilahi.
  • Kata Ibrani untuk “tujuh” (sheva) juga terkait dengan pembuatan perjanjian dengan sumpah. Jadi, dalam bahasa Ibrani, ketika kita mengatakan bahwa kita membuat “tujuh”, itu berarti kita bersumpah (Gen 21:23).

Dengan mengalikan tujuh dengan sepuluh, angka tujuh puluh memperkuat makna ini: kesempurnaan dan perjanjian Allah diperluas kepada lebih banyak orang lagi. Tujuh puluh murid adalah bagian dari rencana Allah untuk membawa penebusan, keteraturan, dan lebih banyak jiwa ke dalam keluarga dan Kerajaan Allah.

Lebih dari Sekedar Angka

Tujuh puluh murid ini bukanlah sekadar statistik. Mereka adalah individu-individu yang unik dengan kisahnya masing-masing. Meskipun Lukas tidak mencatat nama atau detail mereka, Yesus meyakinkan mereka (dan kita) bahwa pengorbanan mereka diketahui dan tidak sia-sia. Yesus tahu persis kesediaan mereka untuk diutus dan pergi ke tempat asing, menghadapi berbagai hal yang tidak diketahui. Beberapa orang mungkin gagal menemukan tempat tinggal, yang lain mungkin kelaparan, sementara beberapa bahkan ditolak dan diejek. Banyak juga yang harus menghadapi setan-setan yang jauh lebih kuat daripada kekuatan manusia. Injil tidak menceritakan secara rinci tentang hal ini, tetapi Yesus sangat mengenal mereka, dan karena itu, meskipun Injil tidak menceritakan kisah mereka, kisah-kisah mereka tertulis selamanya dalam Kitab Kehidupan.

Seperti ketujuh puluh murid ini, kita mungkin merasa kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya satu wajah di antara kerumunan orang banyak, hanyalah angka dan statistik, perbuatan kita terlalu kecil untuk dicatat dalam buku-buku sejarah. Tetapi Injil mengingatkan kita: Yesus mengenal dan mengasihi kita masing-masing secara pribadi. Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, sangat berharga bagi-Nya dan dicatat dalam kekekalan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu membangun Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk diutus? Apakah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Apakah kita benar-benar percaya bahwa kita dikasihi?

Petrus dan Paulus

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus [C]

29 Juni 2025

Matius 16:13-19

Mengapa Gereja merayakan Santo Petrus dan Santo Paulus bersama-sama? Ada beberapa faktor kunci yang menyebabkan hal ini:

1. Tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Baru

Baik Petrus maupun Paulus adalah tokoh-tokoh yang paling sering disebut dalam Perjanjian Baru di antara tokoh lainnya. Petrus (termasuk variasi seperti Simon, Kefas, atau Simon Petrus) muncul sekitar 190 kali, sementara Paulus bahkan lebih sering disebut, sekitar 228 kali. Hal ini jauh melampaui tokoh-tokoh besar lainnya seperti Yohanes Pembaptis (disebutkan sekitar 90 kali). Lukas menulis bukunya yang berjudul Kisah Para Rasul, namun narasinya didominasi oleh kedua tokoh ini. Selain mencatat perbuatan mereka, keduanya juga menyumbangkan tulisan-tulisan yang menjadi bagian dari Perjanjian Baru: Petrus menulis dua surat (1 dan 2 Petrus), sementara Paulus menulis 13 surat, yang membentuk sebagian besar kanon Perjanjian Baru.

2. Kehidupan dan Pelayanan yang Saling Terkait

Jalan mereka bertemu pada saat-saat kritis dalam sejarah Gereja mula-mula. Setelah pertobatannya yang dramatis, Paulus mengunjungi Yerusalem dan menghabiskan waktu 15 hari bersama Petrus (Gal 1:18), kemungkinan besar untuk belajar secara langsung tentang ajaran-ajaran Yesus dari sang rasul. Kemudian, dalam Konsili Yerusalem (Kis 15), Paulus dan Barnabas menentang pemberlakuan adat istiadat Yahudi seperti sunat kepada orang-orang non-Yahudi yang percaya. Petrus, sebagai pemimpin para rasul, akhirnya memutuskan bahwa orang-orang yang percaya ini tidak boleh dibebani oleh adat istiadat Yahudi, dan dengan demikian berpihak pada Paulus. Namun, hubungan mereka bukannya tanpa ketegangan. Paulus kemudian secara terbuka mengkritik Petrus ketika ia menarik diri dari makan bersama dengan orang-orang non-Yahudi (Gal 2:11-14). Namun konflik ini bukanlah akhir bagi mereka.

3. Kemartiran Bersama di Roma

Meskipun Alkitab hanya mencatat beberapa pertemuan mereka, tradisi menyatakan bahwa mereka bertemu di Roma. Kisah Para Rasul diakhiri dengan Paulus yang tiba di kota itu sekitar tahun 60-61 Masehi sebagai seorang tahanan, menunggu pengadilan di hadapan Kaisar. Bahkan dalam tahanan rumah, ia tidak berhenti berkhotbah dan kemungkinan besar menulis surat-suratnya seperti kepada Gereja di Efesus dan Filipi. Setelah dibebaskan (sekitar tahun 63 M), ia ditangkap kembali pada masa penganiayaan Nero dan dieksekusi sekitar tahun 65-66 M. Sementara itu, Petrus kemungkinan besar mencapai Roma pada awal tahun 60-an Masehi, di mana ia segara diakui sebagai pemimpin (uskup) Gereja Roma. Keduanya mungkin telah berkolaborasi di sana dalam pewartaan dan pelayanan sebelum keduanya menghadapi kematian. Petrus disalibkan secara terbalik dan Paulus dipenggal karena dia warga negara Romawi.

4. Warisan Abadi di Roma

Makam mereka tetap menjadi titik fokus ziarah umat Kristiani, terutama di tahun Yubileum ini. Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan berdiri di atas lokasi pemakamannya, sementara Basilika Santo Paulus di Luar Tembok di Via Appia menandai tempat Paulus disemayamkan. Yang menarik, Basilika Santo Yohanes Lateran yang adalah katedral di Roma, memiliki patung perunggu Santo Petrus dan Santo Paulus di atas altar utamanya, yang menyimpan relik bagian tengkorak dari kedua santo ini. Simbolisme ini menggarisbawahi peran mereka yang tak terpisahkan sebagai pilar kembar Gereja Roma.

Namun kita perlu ingat bahwa kedua orang itu tidak dimulai sebagai orang hebat. Petrus, yang impulsif dan penakut, menyangkal Kristus tiga kali. Paulus, yang pernah menjadi penganiaya orang-orang Kristen, berusaha menghancurkan Gereja. Namun melalui rahmat Allah, keduanya diubahkan, dan pada akhirnya memberikan hidup mereka bagi Kristus. Hari raya bersama mereka tidak hanya menghormati kemartiran mereka, tetapi juga merayakan bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang memiliki kekurangan untuk membangun Gereja-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia? Bagaimana rahmat Allah memberdayakan dan mentransformasikan kita? Apakah kita mengasihi Gereja seperti Santo Petrus dan Santo Paulus? Bagaimana kita mencintai Gereja?

Tubuh yang Diserahkan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

22 Juni 2025

Lukas 9:11b-17

Hari Raya Corpus Christi (Tubuh dan Darah Yesus Kristus) merayakan Ekaristi, secara khusus kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam Misa Kudus. Karena itu Hari Raya Corpus Christi secara intrinsik terkait dengan Kamis Putih, dimana Yesus melembagakan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir. Jika Corpus Christi pada dasarnya terkait dengan Kamis Putih, maka Corpus Christi juga terkait dengan seluruh Triduum Paskah. Kehadiran Yesus yang nyata tidak hanya dikaitkan dengan Perjamuan Terakhir tetapi juga tidak bisa lepas dengan Salib dan Kebangkitan-Nya. Namun, bagaimana Corpus Christi terkait dengan Salib dan Kebangkitan?

Tubuh dan Darah Yesus, pada dasarnya, adalah kurban Salib (Yoh 1:29; Ef 5:2). Dalam Perjanjian Lama, mempersembahkan kurban adalah cara penyembahan yang diperintahkan Allah. Kitab Imamat menjelaskan berbagai jenis pengorbanan, seperti korban bakaran (holocaust), korban penghapus dosa, dan korban perdamaian (atau korban persekutuan) (Im 1-5). Yesus dengan sempurna menggenapi semua pengorbanan Perjanjian Lama ini. Dia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya di kayu salib sebagai korban bakaran yang sempurna (Ibr 10:5-10). Dia wafat untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sama seperti korban penghapus dosa (2 Kor 5:21). Selain itu, Tubuh dan Darah-Nya diterima oleh umat-Nya, sama seperti kurban persekutuan – jenis persembahan yang sebagian diberikan kepada Tuhan, sebagian dimakan oleh imam, dan sebagian lagi dibagikan kepada para penyembah, yang melambangkan persekutuan antara Tuhan dan umat-Nya (Ef 2:14-16).

Namun, Tubuh Kristus juga terhubung dengan Kebangkitan-Nya. Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima dalam Ekaristi bukanlah sekadar daging biasa, melainkan Tubuh Kristus yang dimuliakan dan dibangkitkan. Tubuh manusia biasa adalah lemah, terbatas, dan hancur setelah kematian. Namun, tubuh Yesus yang telah dibangkitkan penuh dengan rahmat dan kuasa yang memberi kehidupan – tubuh yang tidak akan mati lagi, mampu melampaui ruang dan waktu, bergerak di antara langit dan bumi, dan dapat mengubah wujudnya menjadi roti dan anggur. Inilah sebabnya, dalam Yohanes 6:54-55, Yesus dengan penuh keyakinan mengajarkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada hari terakhir, sebab daging-Ku adalah makanan yang sejati dan darah-Ku adalah minuman yang sejati.”

Perayaan Corpus Christi mengungkapkan bahwa Yesus, Putra Allah yang hidup, menyerahkan segalanya – hidup-Nya, keilahian-Nya, dan kemanusiaan-Nya – bagi kita sebagai tanda utama dari kasih-Nya yang radikal. Namun, Corpus Christi tidak berakhir dengan Ekaristi. Ketika kita membawa Yesus dalam hidup kita, kita juga dipanggil untuk berbagi tubuh kita satu sama lain dalam kasih. Faktanya, sebagai manusia, ungkapan kasih yang terbesar adalah melalui tubuh kita. Pasangan yang sudah menikah memberikan diri mereka satu sama lain sampai maut memisahkan mereka. Orang tua mengorbankan tubuh mereka untuk anak-anak mereka agar mereka dapat hidup dan bertumbuh. Para pria dan wanita religius mempersembahkan tubuh mereka untuk Gereja dan umat Allah. Sama seperti Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” kita juga melakukan hal yang sama, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan dalam kasih!”

Ekaristi sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita – bukan hanya karena Ekaristi memberikan penyembahan yang sempurna dan berkenan kepada Bapa, tetapi juga karena Ekaristi memberikan kita rahmat untuk berbagi tubuh kita dengan orang lain. Hanya dengan berbagi kemanusiaan kita dalam kasih, kita dapat menemukan kebahagiaan sejati, dan hal ini dimungkinkan melalui rahmat yang kita terima dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa pemahaman kita tentang Ekaristi? Seberapa sering kita berpartisipasi dalam Ekaristi dan menerima Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana kita mengekspresikan rasa hormat dan kasih kita ketika kita menerima Ekaristi? Bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengasihi?

Tritunggal di Kitab Suci dan Hidup Kita

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [C]

15 Juni 2025

Yohanes 16:12-15

Misteri Tritunggal Mahakudus berada di pusat dan dasar dari iman kita karena misteri ini menyingkapkan siapa Allah kita sebenarnya. Pikiran logis kita dapat menyimpulkan bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Tuhan yang sempurna yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Namun, kita hanya bisa bergantung pada wahyu ilahi untuk memahami kebenaran yang mendalam ini. Kata “Tritunggal” memang tidak muncul dalam Alkitab, tetapi Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyingkapkan realitas ini. Alkitab menegaskan bahwa hanya ada satu Allah, namun secara bersamaan mengungkapkan kemajemukan (pluralitas) di dalam keesaan-Nya.

Salah satu ayat menarik yang mengisyaratkan Trinitas adalah ayat yang menyatakan keesaan Allah, “Shema Israel” (Ulangan 6:4). Ayat dalam bahasa Ibrani tersebut tertulis: “שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד” (Shema Yisrael Adonai Eloheinu Adonai Echad). Alkitab Indonesia menerjemahkannya sebagai, “Dengarlah, hai Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” Namun, terjemahan yang lebih harfiah adalah: “Dengarlah, hai Israel: Tuhan, Allah kita, Tuhan, satu.” Sungguh mengejutkan bagaimana ayat ini menyebutkan Tuhan tiga kali sebelum diakhiri dengan kata “satu”.

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain juga menunjukkan kemajemukan di dalam kesatuan Allah. Sebagai contoh: Kej 1:1-2 berbicara tentang Allah yang menciptakan dengan Roh dan Sabda-Nya. Lalu Kej 1:26 menggunakan bentuk jamak bagi Allah yang satu, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Malaikat Tuhan muncul sebagai sosok yang ilahi namun berbeda dengan Allah (Kej 16:7-13; 22:11-18; Kel 3:2-6; Hak 13:18-22). Roh Allah aktif di dalam Mazmur dan para nabi (Mzm 51:11; Yes 63:10-11; 48:16; Yeh 36:26-27). Nabi Zakharia (2:10-11) bahkan berbicara tentang “dua Yahwe”. Namun, kepenuhan misteri ini baru terungkap sepenuhnya dalam Perjanjian Baru.

Salah satu ayat yang paling definitif tentang Tritunggal adalah Matius 28:19: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Di sini, Yesus berbicara tentang satu nama, namun di dalam satu nama tersebut terdapat tiga Pribadi yang berbeda: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Namun, Tritunggal bukan hanya sekedar kebenaran Alkitabiah, tetapi juga merupakan anugerah yang paling berharga bagi kita. Paulus menulis, “Tidak ada seorangpun yang dapat berkata: ”Yesus adalah Tuhan“, kalau tidak oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3). Roh Kudus menanamkan iman di dalam hati kita, memampukan kita untuk mengakui Yesus, Putra Bapa. Roh yang sama mencurahkan pengharapan ke dalam diri kita di tengah-tengah pencobaan, terutama untuk mengakui Allah yang benar (Rm 5:3-5). Dan ketika kita mengasihi, bahkan kepada mereka yang paling sulit untuk dikasihi, kita mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal, yang pada hakikatnya adalah kasih (1 Yoh 4:8).

Tritunggal bukan hanya sebuah doktrin yang harus diimani, tetapi sebuah misteri yang kita hayati setiap hari. Kita memasuki kehidupan Kristiani melalui baptisan Tritunggal. Sebagai umat Katolik dan Ortodoks, kita memulai doa dengan Tanda Salib, menyebut nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam Ekaristi, Roh Kudus mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang dipersembahkan kepada Bapa sebagai kurban yang sempurna.

Ketika kita merayakan misteri terbesar dalam iman kita ini, marilah kita bersyukur bahwa Allah mengundang kita ke dalam kehidupan-Nya – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – sekarang dan selamanya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana kita berhubungan dengan Allah Tritunggal Mahakudus? Bagaimana kita berhubungan dengan Bapa? Bagaimana kita berhubungan dengan Yesus? Bagaimana kita berhubungan dengan Roh Kudus?

Roh Kudus dan Karunia-karunia-Nya

Pentekosta [C]

8 Juni 2025

1 Kor 12:3-13

Hari ini, Gereja merayakan Pentekosta, hari Roh Kudus turun di atas para rasul dan murid-murid Yesus yang pertama, yang menandai dimulainya Gereja. Sejak saat itu, Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus, telah memainkan peran sentral dalam membimbing dan menopang kehidupan Gereja. Roh Kudus bekerja melalui rahmat dan karunia-karunia-Nya. Tidaklah mengherankan jika kita menyebut Pentekosta sebagai hari raya Roh Kudus. Namun, ketika kita merenungkan karunia-karunia rohani ini, kita harus bijak karena ada bahaya yang mungkin kita hadapi. Bahaya apakah itu?

Kita hidup di masa ketika banyak umat Kristiani – baik Katolik maupun non-Katolik – mengalami karunia-karunia Roh Kudus dengan cara yang luar biasa. Pencurahan yang berlimpah ini telah menyadarkan kita akan kehadiran Roh Kudus yang aktif dalam hidup kita. Beberapa orang telah menerima karunia bernubuat, mengucapkan kata-kata yang memanggil orang lain untuk bertobat. Yang lainnya telah diberi karunia penyembuhan, menjadi alat Roh Kudus memulihkan kesehatan orang-orang sakit. Yang lainnya lagi berdoa dalam bahasa roh, pujian-pujian mereka mengalir dalam bahasa yang tidak mereka pahami (untuk daftar karunia-karunia Roh Kudus, lihat 1 Kor. 12:8-10). Ini adalah pengalaman-pengalaman yang luar biasa, bahkan mengubah hidup banyak orang.

Namun, meskipun karunia-karunia ini seharusnya memenuhi kita dengan rasa syukur dan memperdalam kesadaran kita akan karya Roh Kudus, ada bahaya jika kita terlalu berfokus pada karunia-karunia itu sendiri. Beberapa dari kita mulai terpaku pada sensasi yang kita rasakan daripada Sang Pemberi, bahkan memperlakukan karunia-karunia rohani sebagai ukuran iman. Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa berbahasa roh adalah bukti kekudusan, atau bahwa tidak adanya mukjizat kesembuhan berarti kita jauh dari Allah. Kita yang menerima karunia-karunia dapat menjadi sombong, sementara kita yang tidak menerimanya mungkin merasa gagal dalam kehidupan Kristiani kita.

Pola pikir seperti ini tidak hanya tidak benar tetapi juga berbahaya. Dan meskipun ini mungkin tampak seperti masalah modern, pergumulan yang sama juga terjadi pada Gereja mula-mula. Hampir dua ribu tahun yang lalu, Gereja di Korintus diberkati dengan berbagai karunia rohani, namun komunitas mereka terganggu oleh perpecahan, kekacauan dalam ibadah, dan kesombongan. Mereka membandingkan karunia-karunia, bersaing untuk menentukan siapa yang memiliki karunia yang “lebih baik”, dan bahkan menggunakannya sebagai ukuran keunggulan rohani.

Paulus mengkritisi pola pikir yang salah ini, mengingatkan mereka bahwa karunia-karunia rohani bukanlah untuk kemuliaan pribadi, tetapi untuk membangun Gereja (1 Kor 12:7). Ia mengajarkan kepada mereka bahwa karunia yang paling penting bukanlah karunia bahasa roh, kesembuhan atau mukjizat, tetapi karunia kasih. Ia bahkan menulis secara khusus kepada mereka yang mencari karunia bahasa roh, “Jika aku berkata-kata dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku adalah gong yang nyaring dan simbal yang bergemerincing (1 Kor 13:1).” Dia memperingatkan bahwa mengejar karunia-karunia yang spektakuler tanpa cinta kasih tidak ada artinya.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa karunia terbesar yang diberikan Bapa kepada kita adalah Roh Kudus (Luk. 11:13), dan karunia terbesar yang diberikan Roh Kudus adalah kasih. Karena dengan mengasihi, kita menemukan kepenuhan hidup.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita meminta Roh Kudus kepada Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Apa yang kita minta dari Roh Kudus? Apakah kita meminta karunia-karunia Roh Kudus dan untuk tujuan apa? Apakah kita memohon karunia untuk mengasihi?

Kita Sangat Berharga

Minggu ke-7 Paskah [C]

1 Juni 2025

Yohanes 17:20-26

Yesus telah wafat untuk kita dan bangkit dari kematian untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Dia melakukan semua ini karena Dia sangat mengasihi kita. Seperti yang dikatakan Yesus sendiri, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Tetapi mengapa Dia begitu mengasihi kita? Mengapa Dia menganggap kita cukup berharga untuk memberikan hidup-Nya bagi kita?

Salah satu jawaban yang paling mendalam terdapat dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” Kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, namun kasih adalah jati diri Allah. Karena itu, Dia tidak bisa tidak, selain mengasihi kita. Kasih Yesus mengalir secara alami dari identitas-Nya. Pada saat yang sama, Alkitab menyatakan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah (Kej. 1:26-27). Ini berarti kita diciptakan menurut citra Kasih itu sendiri. Inilah mengapa kita hanya menemukan kepenuhan sejati ketika kita menghidupi tujuan terdalam kita: mengasihi seperti Allah mengasihi (Yoh 13:34) dan dikasihi oleh-Nya.

Namun, ketika saya merenungkan lebih jauh tentang Kitab Suci, saya menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa, tidak hanya untuk para rasul-Nya tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pewartaan mereka, yang adalah kita. Dia berdoa agar kita dapat bersatu dengan satu sama lain dan dengan Dia, sama seperti Dia dan Bapa adalah satu. Kemudian, Ia menyatakan sesuatu yang menakjubkan: “Bapa, Aku menghendaki supaya mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, ada bersama-sama dengan Aku di mana pun Aku berada” (Yoh 17:24). Kita adalah pemberian Bapa kepada Yesus. Kita adalah ekspresi hidup dari kasih Bapa kepada Anak-Nya.

Kebenaran ini sebenarnya sangat mudah dipahami. Ketika kita mengasihi seseorang, kita sering memberikan hadiah yang berharga sebagai tanda kasih sayang kita, dan bagi penerimanya, hadiah itu menjadi tak tergantikan. Cincin kawin, misalnya, sangat berharga bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi karena cincin itu melambangkan cinta kasih suami istri. Namun, kita jauh lebih berharga daripada emas atau permata. Allah dengan luar biasa menciptakan kita untuk menjadi pemberian yang sempurna bagi Putra-Nya. Maka, apakah mengherankan jika Yesus sangat mengasihi kita? Dia rela memberikan nyawa-Nya bagi kita karena setiap kali Dia melihat kita, Dia melihat bukti kasih Bapa-Nya. Dia tidak dapat menanggung pikiran untuk kehilangan kita atau terpisah dari kita.

Saat ini, di beberapa negara seperti Filipina dan Italia, Gereja merayakan Kenaikan Yesus ke surga. Gambaran yang sering ditampilkan adalah Yesus naik sementara para murid-Nya ditinggalkan. Tetapi Dia tidak meninggalkan kita, melainkan Dia membawa kita lebih dekat kepada Bapa. Mengapa? Karena kita berharga bagi Allah. Kita adalah pemberian Bapa kepada Putra-Nya yang terkasih.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita menyadari bahwa kita berharga di mata Allah? Apakah kita hidup sebagai milik Allah yang berharga? Bagaimana kita hidup sebagai pemberian Bapa kepada Putra? Bagaimana kita membagikan berkat-berkat yang kita terima dari Allah?

Kasih Kita yang Lemah

Minggu Ketiga Paskah [C]

4 Mei 2025

Yohanes 21:1-19

Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Beberapa Bapa Gereja menafsirkan pengulangan ini sebagai Yesus membatalkan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali. Namun, jika dilihat lebih dekat pada teks bahasa Yunani, Yesus menggunakan kata yang berbeda untuk “kasih” dalam setiap contoh. Perbedaan-perbedaan ini memperdalam pemahaman kita akan perikop ini.

Pertama, Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi Ia mengajukan permintaan. Dalam permintaan-Nya yang pertama, Yesus meminta jenis kasih yang spesifik. Yohanes Penginjil menggunakan kata Yunani “agape”, yang menandakan kasih yang rela berkorban, yang mencari kebaikan yang tulus dari orang lain. Kasih ini tidak didasarkan pada emosi, melainkan pada kebebasan dan komitmen. Agape yang sejati menuntut pemberian diri sepenuhnya, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Di sini, Yesus menuntut bentuk agape tertinggi dari Petrus, sebuah kasih yang melampaui segala sesuatu yang lain.

Dalam permintaan-Nya yang kedua, Yesus sekali lagi menggunakan kata “agape”, tetapi kali ini tanpa frasa “lebih dari itu.” Dia masih menyerukan kasih yang berkorban, tetapi tidak sampai pada tingkat yang tertinggi. Dalam permintaan-Nya yang ketiga, Yesus beralih dari agape ke “philia”, kata dalam bahasa Yunani yang berarti kasih yang didasarkan pada persahabatan. Tidak seperti agape yang berakar pada kehendak bebas dan dedikasi, philia lebih bergantung pada emosi, perasaan yang sama, dan minat yang sama. Meskipun persahabatan sejati mungkin membutuhkan tindakan agape, fondasinya tetaplah philia. Ketika kepentingan bersama memudar, persahabatan sering kali melemah.

Tetapi mengapa Yesus tampaknya menurunkan ekspektasi-Nya, dari agape yang total menjadi agape yang sederhana, dan akhirnya menjadi persahabatan? Jawabannya terletak pada jawaban Petrus. Setiap kali Yesus menanyainya, Petrus menjawab dengan kata “philia”. Ia tidak dapat membawa dirinya untuk mengakui agape, terutama dalam bentuk yang paling tinggi. Penyangkalannya yang terdahulu telah membuatnya patah hati, malu, dan ragu untuk mengasihi Yesus lagi. Ketakutan menahannya.

Namun, terlepas dari jawaban Petrus yang tidak lengkap, Yesus tidak menegurnya atau mencari murid yang lebih setia. Sebaliknya, Yesus menemui Petrus di mana ia berada. Dia menerima kasih Petrus yang penuh kekurangan dan keraguan dan tetap mempercayakannya untuk menggembalakan kawanan domba-Nya. Yesus tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Dia menginginkan kerendahan hati dan ketulusan. Dia melihat upaya Petrus dan tahu bahwa, pada saatnya nanti, Petrus akan memberikan nyawanya bagi-Nya.

Tuhan meminta kita masing-masing untuk memberikan kasih yang tertinggi, namun kita sering kali gagal. Seperti Petrus, kita terluka, lemah, dan penuh dengan kegagalan. Tetapi Kabar Baiknya adalah Tuhan menerima kasih kita yang tidak sempurna dan dengan lembut menuntun kita menuju kesempurnaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah?  Apakah kita mengasihi Dia dengan agape atau philia?  Dalam hal apa saja kita gagal mengasihi Allah? Apa yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Bagaimana Dia terus mengasihi kita terlepas dari kekurangan kita? Dapatkah kita mengingat kembali saat-saat dalam hidup kita ketika kasih Allah yang tak tergoyahkan terbukti meskipun kita gagal? 

Damai Paskah

Minggu Kedua Paskah [C]

27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Kata-kata pertama Kristus setelah bangkit kepada para murid-Nya adalah, “Damai bagi kamu!” Dalam bahasa Ibrani, “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), sebuah ucapan yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama (Hakim 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; dll.). Variasi Yahudi lainnya, meskipun tidak ada dalam Alkitab, adalah “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), yang artinya kurang lebih sama. Namun, apakah salam Yesus hanya sekadar sapaan budaya, atau apakah salam itu memiliki makna yang lebih dalam?

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus menyelidiki makna alkitabiah dari kata “shalom”. Shalom adalah salah satu kata yang paling umum dalam Alkitab, muncul sebanyak 237 kali dalam Perjanjian Lama. “Shalom” sering kali diterjemahkan sebagai “damai”. Namun, kata ini memiliki arti yang lebih luas: kesejahteraan yang total dari seseorang, yang berakar pada hubungan yang benar dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Ketika Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, mereka dicengkeram oleh rasa takut akan “orang-orang Yahudi”. Menariknya, “orang Yahudi” ini dapat merujuk pada tiga hal: penguasa bangsa Yahudi, Yesus sendiri, karena dia seorang Yahudi, dan bahkan para murid sendiri karena mereka juga adalah orang Yahudi. Mereka takut kepada para penatua bangsa Yahudi yang telah membunuh Yesus, karena mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi korban berikutnya. Mereka takut kepada Yesus, mengingat kegagalan mereka sebagai murid: pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, dan mereka yang lari dan bersembunyi. Akankah Dia sekarang menghukum mereka? Dan mereka takut akan diri mereka sendiri: mereka merasa tidak layak dan tidak mampu menjadi murid; mereka tidak layak menerima kerahiman dan pengampunan Yesus; mereka hancur karena dosa. Mereka takut akan hidup dan masa depan mereka sendiri.

Namun, kata-kata Yesus menembus rasa takut mereka: “Damai bagi kamu.” Ini bukanlah sapaan biasa. Ini adalah sebuah berkat dan peneguhan ilahi. Mereka tidak perlu takut kepada penguasa, karena jika mereka tidak dapat menghentikan Yesus, mereka tidak dapat menghentikan para pengikut-Nya. Mereka tidak perlu takut kepada Yesus, karena Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk berbelas kasihan dan mengampuni kelemahan mereka. Ketika Ia mengulangi, “Damai sejahtera bagi kamu,” dan menambahkan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu,” Ia menegaskan panggilan mereka terlepas dari kekurangan mereka. Yesus meyakinkan mereka sekali lagi bahwa meskipun mereka tidak layak, mereka tetap terpilih, dan meskipun mereka lemah dan gagal, rahmat Allah cukup untuk menyempurnakan apa yang kurang dari mereka. 

Damai yang sejati hanya mengalir dari Kristus yang telah bangkit, sebuah rahmat yang mendamaikan kita dengan Allah, menyembuhkan hubungan kita, dan menghapus rasa takut di dalam diri kita.  Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa, namun kita telah ditebus sehingga kita berada dalam damai dengan Allah. Kita tahu bahwa kita sering kali memiliki hubungan yang sulit dengan sesama, tetapi kita diundang untuk memohon belas kasihan dan berbelas kasihan kepada sesama. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu untuk mengasihi Allah dan sesama, tetapi rahmat Allah cukup untuk melengkapi apa yang kurang dari diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah ada damai dalam hidup kita? Apa yang kita takuti? Apakah kita memiliki kedamaian dengan Allah? Apakah kita memiliki kedamaian dengan sesama kita? Apakah kita memiliki damai dengan diri kita sendiri? Hal-hal apa saja yang membuat kita gagal mencapai shalom?

`

Salib dan Pohon Kehidupan

Minggu Paskah [C]

20 April 2025

Yohanes 20:1-9

Beberapa Bapa Gereja, seperti Santo Efremus dari Siria, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Krisostomus, melihat Salib Yesus sebagai Pohon Kehidupan yang baru. Pohon Kehidupan pertama kali muncul dalam Kejadian 2:9, di mana Allah menanamnya di tengah-tengah Taman Eden di samping Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Meskipun Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut, penempatan Pohon Kehidupan di tengah-tengah mengisyaratkan maknanya yang mendalam. Sama seperti memakan buah dari pohon terlarang akan membawa kematian, menyantap buah dari Pohon Kehidupan akan memberikan hidup kekal dan persekutuan dengan Tuhan.

Adam, Hawa, dan keturunan mereka dapat hidup selamanya bersama Allah, jika saja mereka memilih Pohon Kehidupan daripada Pohon Pengetahuan. Tragisnya, mereka memilih ketidaktaatan, sehingga membawa kematian atas diri mereka sendiri dan seluruh umat manusia. Diusir dari Eden, mereka terpisah dari Pohon Kehidupan yang dijaga oleh malaikat kerubim (Kej 3:24). Tanpa pohon itu, umat manusia berjalan menuju binasa.

Namun, kita bukannya tanpa pengharapan. Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal (Yoh 3:16), dan Yesus, pada gilirannya, mengasihi kita “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), menyerahkan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Bagi Yesus, Salib bukanlah sebuah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan bebas untuk mengasihi. Meskipun penyaliban adalah kematian yang brutal dan memalukan, Kristus mengubah Pohon Terkutuk ini menjadi Pohon Kehidupan yang kudus. Dia mengajarkan kepada kita bahwa dengan memeluk salib kita sendiri, dan juga menyatukannya dengan salib-Nya, kita akan menemukan kehidupan yang penuh dan kebangkitan yang sejati.

Salib sejatinya adalah sebuah kenyataan dalam hidup kita yang membawa penderitaan. Salib terwujud dalam dua bentuk. Salib jenis pertama adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari. Ini adalah cobaan yang tidak kita pilih: pengkhianatan, penyakit, pergumulan keuangan, atau ketidakadilan. Pada saat-saat seperti ini, kita memohon rahmat kepada Tuhan untuk bertahan, mempersembahkan penderitaan kita dalam persatuan dengan Salib Kristus sehingga dapat menghasilkan buah-buah rohani.

Jenis Salib yang kedua adalah penderitaan yang lahir dari kasih. Ini muncul dari komitmen dan pengorbanan kita. Contoh yang baik adalah seorang ibu yang berkomitmen untuk mengasihi bayinya yang masih kecil. Dalam prosesnya, ia akan kehilangan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Membesarkan dan melindungi anak kecilnya secara fisik dan mental sangat melelahkan. Ia juga kehilangan kesempatan untuk hidup lebih bebas, mendapatkan lebih banyak uang, atau lebih menikmati hidup. Secara lahiriah, ia memikul salibnya, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa ia hidup berkelimpahan dan menemukan makna yang lebih dalam di hidupnya, lebih dari yang dapat ditawarkan oleh dunia. Salibnya menjadi pohon kehidupan bagi anaknya. Itulah kebangkitan yang sejati.

Selamat Paskah!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja salib-salib jenis pertama kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa saja salib jenis kedua kita? Bagaimanakah salib-salib itu membawa kehidupan bagi orang lain? Apakah salib kita, yang dipikul dengan kasih, menjadi Pohon Kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita?