Kasih Kristus menguasai kita.

Hari Minggu ke-12 dalam Masa Biasa

23 Juni 2024

2 Korintus 5:14-17

Hubungan antara Santo Paulus dan Gereja di Korintus cukup rumit. Paulus adalah misionaris pertama yang mengabarkan Injil di kota Korintus dan mendirikan Gereja di sana. Namun, setelah Santo Paulus pergi untuk misi lain, beberapa anggota Gereja mulai tidak menaati Paulus dan mendiskreditkannya. Dalam suratnya yang kedua, Santo Paulus mencoba untuk mengatasi masalah ini. Apakah masalahnya? Lalu, bagaimana Paulus menjawab masalah ini?

Korintus adalah salah satu kota besar di semenanjung Akaya (Yunani kuno), dan lokasinya yang strategis membuat kota ini kaya dan menjadi pusat perdagangan utama di Kekaisaran Romawi. Situasi ini membuat kota ini menarik bagi banyak orang, termasuk para misionaris dan pewarta Injil. Ketika Santo Paulus meninggalkan kota itu untuk mewartakan Injil di tempat lain, orang-orang yang disebut sebagai ‘rasul’ datang dan mulai mengajar umat Kristiani di Korintus. Beberapa di antara mereka tampaknya sengaja menjelekkan nama Paulus dengan mengatakan bahwa ia bukan rasul sejati. Mereka menunjukkan beberapa bukti seperti Paulus mewartakan Injil yang berbeda, Paulus bukanlah orang Israel asli, dan Paulus tidak menerima dukungan dari Gereja (seorang pewarta atau misionaris diharapkan untuk menerima nafkah dari Gereja). Namun, sekarang Paulus meminta sumbangan dari Gereja di Korintus.

Dalam suratnya, Paulus membela diri. Dia hanya memberitakan Injil yang benar (2 Kor. 11:1-6). Dia adalah orang Israel sejati dari suku Benyamin dan, pada kenyataannya, dari kelompok Farisi. Dan, seringkali, ia tidak menerima dukungan dari Gereja di Korintus, dan bekerja sebagai pembuat tenda karena ia tidak ingin menjadi beban bagi Gereja (2 Kor. 11:7-10). Namun, Paulus lebih lanjut menjelaskan bahwa sumbangan yang ia cari bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Gereja di Yerusalem (2 Kor. 8:9).

Paulus membela lebih lanjut pelayanan kerasulannya yang ia terima dari Allah untuk menumbuhkan Gereja-Nya. Dia menghadapi penganiayaan baik dari orang Yahudi maupun Yunani; dia dipukuli di Sinagoga dan dipenjara oleh karena penghakiman orang-orang Yunani dan Romawi. Banyak orang yang marah dan mengincarnya. Orang-orang Yahudi menentang Paulus karena ia memberitakan Yesus Kristus. Orang-orang Yunani membenci Paulus karena ia menarik banyak orang dari kuil-kuil dewa-dewi kuno. Paulus juga mengalami bahaya yang mengancam nyawanya dalam perjalanannya: perampok, cuaca yang tidak bersahabat, dan kapal karam. Selain itu, ia juga bekerja di siang hari untuk menghidupi dirinya sendiri dan berkhotbah di malam hari, dan tenaganya dihabiskan dengan penuh kegelisahan untuk menangani berbagai masalah Gereja (lihat 2 Korintus 11:23-29). Paulus menjelaskan mengapa ia melakukan semua hal ini: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami (2 Kor. 5:14).”

Kasih Kristus sanggatlah besar; kasih itu memberdayakan Paulus untuk melakukan hal yang mustahil, yakni mengasihi seperti Yesus. Bukan hanya Paulus yang menerima kasih Yesus yang luar biasa ini, tetapi juga kita semua. Yesus sangat mengasihi kita sampai-sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita sehingga kita dapat menjadi ciptaan baru di dalam Dia (2 Kor. 5:17). Pertanyaannya adalah apakah kita mau menerima kasih ilahi ini dan menjadikannya berbuah dalam hidup kita? Apakah kita cukup berani untuk mengasihi seperti Yesus, seperti yang dicontohkan oleh Santo Paulus? Apakah kita siap menghadapi bahaya dan kesulitan dalam memberitakan Injil? Apakah kita bersedia bekerja keras siang dan malam untuk orang-orang yang dikasihi Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Ekaristi

Hari Raya Corpus Christi [B]

2 Juni 2024

Markus 14:12-16, 22-26

Hari ini, kita merayakan hari raya Corpus Christi, atau hari raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita akan nilai Ekaristi yang tanpa batas. Santo Yohanes Paulus II pernah menulis, “Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam komunitas umat beriman dan makanan rohaninya, merupakan harta paling berharga yang dapat dimiliki Gereja dalam perjalanannya melalui sejarah.” (Ecclesia de Eucharistia, 9). Dalam refleksi ini, saya mengundang semua untuk menghargai berkat yang paling berharga ini; semoga kita menjadi lebih layak untuk menerima Ekaristi, dan juga menjadi lebih kudus karenanya.

Banyak dari kita yang telah menghadiri Ekaristi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Namun, sayangnya, alih-alih bertumbuh dalam rasa hormat dan devosi, beberapa dari kita kehilangan devosi yang sejati dan bahkan menjadi tidak hormat terhadap Ekaristi. Kita melewatkan misa-misa hari Minggu tanpa alasan yang sah. Kita merasa cukup menghadiri misa pada saat Paskah dan Natal saja. Kita terlambat mengikuti misa dengan alasan yang tidak tepat. Kita sibuk dan terganggu dengan banyak hal dalam Ekaristi dan mencari kesempatan untuk menggunakan gadget kita. Beberapa orang tidak lagi mau repot-repot menghadiri Misa dan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang berarti. Beberapa dari kita masih menerima Komuni Kudus dalam kondisi yang tidak layak.

Namun, hal-hal yang tidak pantas ini tidak hanya dilakukan oleh umat awam, tetapi juga oleh kami, para imam. Beberapa mempersembahkan Ekaristi dengan cara-cara yang tidak pantas. Di satu sisi, ada yang memperlakukan Misa seperti sebuah pertunjukan atau teater; dengan demikian, kami bertindak berlebihan, melanggar ritus (tata ibadat yang benar) hanya untuk menghibur umat dan mencari tepuk tangan. Di sisi lain, beberapa dari kami terlalu malas untuk merayakan Misa Kudus; oleh karena itu, kita secara tidak adil datang terlambat atau tidak mempersiapkan homili dan bahkan mempersembahkan misa secara ugal-ugalan. Ini adalah pelanggaran! Ini sangat serius karena pelanggaran-pelanggaran ini dapat menyebabkan domba-domba tersesat, dan para gembala bertanggung jawab atas hilangnya jiwa-jiwa ini.

Memang, ada banyak alasan, tetapi alih-alih saling menyalahkan, saya ingin fokus pada satu hal. Kita perlu mengenali dan menghargai apa itu Ekaristi. Dengan kata-kata yang paling sederhana, Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri. Menerima komuni berarti menerima Yesus sendiri. Ekaristi terutama adalah tentang Allah, bukan tentang kita dan bagaimana kita dihibur. Oleh karena itu, cara kita menghormati (atau menghina) Allah dalam Ekaristi akan secara signifikan memengaruhi keselamatan kita. Memang, Ekaristi diperlukan untuk keselamatan kita justru karena Ekaristi adalah tentang Allah, yang mengasihi kita dan ingin kita menjadi kudus seperti Dia yang kudus.

Kabar baiknya adalah kita masih memiliki waktu untuk bertobat. Kita dapat menerapkan prinsip “lex orandi, est lex credendi, est lex vivendi.” (secara harfiah, hukum berdoa adalah hukum percaya, adalah hukum hidup). Ini berarti cara kita berdoa dan beribadah akan membentuk kepercayaan kita, dan pada gilirannya, kepercayaan kita akan membentuk hidup kita. Jika kita dengan setia mengikuti cara-cara beribadah yang benar, dengan niat dan disposisi batin yang benar, gerakan dan tindakan yang benar, dan dengan upaya untuk menghindari gangguan, kita memperdalam iman kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita memiliki iman yang dalam kepada Tuhan, kita akan hidup dengan cara-cara yang berkenan pada Tuhan. Semakin kita beribadah dengan benar, semakin dalam iman kita. Begitu juga sebaliknya, semakin kita beribadah dengan salah, semakin dangkal iman kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tritunggal Mahakudus dan Pembaptisan

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [B]
26 Mei 2024
Matius 28:16-20

Hari ini, kita merayakan misteri Tritunggal Mahakudus, dan Gereja mengundang kita untuk merenungkan Pembaptisan kita. Kita dibaptis dalam rumusan yang diberikan oleh Yesus sendiri. Yesus memerintahkan para murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Namun, apa artinya dibaptis dengan rumusan Tritunggal ini?

Kita dibaptiskan ‘di dalam’ nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, kata depan ‘di dalam’ adalah ‘εἰς’ (baca: eis), dan ini menunjukkan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi yang lama ke kondisi yang baru. Dengan demikian, Baptisan memungkinkan kita untuk memasuki tempat, keadaan, dan status yang baru.

Dalam Pembaptisan, kita tidak lagi berada di luar Allah, tetapi sekarang kita berada di dalam Allah. Kita tidak lagi menjadi milik dunia, tetapi sekarang menjadi milik Allah. Kita tidak lagi berada di bawah pengaruh Iblis, tetapi sekarang kita digerakkan oleh rahmat Allah. Rahmat Baptisan menciptakan kembali kita dari anak-anak Adam yang telah jatuh ke dalam dosa, menjadi anak-anak Allah yang kudus. Rahmat yang sama mengubah kita menjadi anggota yang telah ditebus dari Tubuh Yesus. Dan akhirnya, rahmat ini juga menguduskan kita dan membuat kita menjadi bait Roh Kudus.

Karena Pembaptisan membawa kita kepada persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus dan surga tidak lain adalah persekutuan yang permanen dengan Allah, maka Pembaptisan sangat penting bagi keselamatan kita. Tidak heran jika Santo Petrus mengajarkan dengan penuh otoritas bahwa Baptisan menyelamatkan kita (1 Pet. 3:21). Namun, kita harus ingat bahwa rahmat yang kita terima dalam Pembaptisan harus diterima dengan benar dan dinyatakan dalam hidup kita.

Persatuan dengan Allah bukan hanya sesuatu yang bersifat rohani dan tidak terlihat, tetapi juga nyata dan dapat dilihat. Di dunia ini, kita percaya bahwa keluarga Allah, Tubuh Kristus, dan Bait Roh Kudus memiliki manifestasi yang dapat dilihat, yakni Gereja. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa Baptisan juga merupakan pintu gerbang menuju keanggotaan kita di dalam Gereja. Oleh karena itu, kita menunjukkan bahwa kita milik Tritunggal Mahakudus ketika kita menyatakan keanggotaan kita dalam Gereja lokal, di paroki-paroki, dan juga Gereja universal, yakni kesatuan dengan Paus.

Kita mengekspresikan persatuan rohani kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita merayakan liturgi Ekaristi dengan layak. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita berada dalam kesatuan dengan Tritunggal Mahakudus, tetapi kita tidak pernah menghadiri misa karena kemalasan atau menerima Komuni dengan tidak layak.

Kita menyatakan kasih kita kepada Tritunggal Mahakudus ketika kita mengasihi sesama umat Kristiani dan bahkan mereka yang belum percaya kepada Tritunggal. Itulah sebabnya Santo Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta, sebab barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang telah dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yoh. 4:20).”

Kita menunjukkan persekutuan kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita memisahkan diri kita dari Iblis dan pekerjaannya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, tetapi kita hidup dalam dosa, kita mencuri dan merugikan dari orang lain, kita terlibat dalam praktik-praktik esoterik, dan kita percaya pada takhayul.

Sakramen Baptisan tidak berhenti dengan penuangan air, tetapi diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Iman kita kepada Tritunggal tidak hanya berarti penerimaan intelektual atas kehadiran Allah tetapi juga mengubah hidup kita di dunia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kapan Hari Ulang Tahun Gereja?

Pentekosta [B]

19 Mei 2024

Yohanes 20:19-23

Hari raya Pentekosta biasanya disebut sebagai hari ulang tahun Gereja. Namun, apakah hal ini benar adanya, atau hanya mitos yang cukup populer?

Jika kita mencoba masuk ke dalam ajaran resmi Gereja, kita akan menemukan ajaran penting di Katekismus Gereja Katolik, khususnya paragraf 766. Di sini, saya mengutip, “Tetapi Gereja lahir terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib” (LG 3). “Sebab dari lambung Kristus yang berada di salib, muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan” (SC 5). Seperti Hawa dibentuk dari rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. St. Ambrosius).

Singkatnya, hari ulang tahun Gereja adalah pada hari Jumat Agung. Gereja mengakui dirinya sebagai Hawa yang baru, yang lahir dari hati Kristus untuk menjadi mempelai-Nya. Oleh karena itu, menyebut hari raya Pentekosta sebagai hari ulang tahun Gereja tampaknya salah. Namun, kebenarannya lebih dalam daripada yang terlihat.

Jika kita mengamati dengan saksama liturgi Pentekosta, terutama dalam prefasi Pentekosta (doa yang diucapkan oleh imam sebelum Doa Syukur Agung), kita akan menemukan sebuah informasi yang menarik. Saya mengutip, “…kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa Yang Kudus… Engkau menganugerahkan Roh Kudus kepada mereka yang Engkau jadikan anak-anak angkat-Mu melalui persekutuan dengan Putra Tunggal-Mu. Roh yang sama, pada awal kelahiran Gereja, telah menganugerahkan pengetahuan akan Allah kepada semua bangsa…”  Singkatnya, liturgi Pentekosta juga merupakan perayaan ulang tahun Gereja.

Jadi, bagaimana kita memahami informasi yang tampaknya saling bertentangan ini? Mengapa ajaran resmi Gereja tampaknya bertentangan dengan liturgi Gereja? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat kelahiran Gereja bukan sebagai satu kejadian yang terjadi seketika, melainkan sebagai sebuah proses melahirkan. Sebagaimana kepala bayi adalah yang pertama kali keluar, dan kemudian seluruh tubuhnya, kita dapat melihat ‘kepala Gereja’ muncul pertama kali di bawah salib Kristus dan kemudian seluruh ‘tubuh’ pada hari Pentekosta. Yohanes, rasul yang dikasihi, dan Maria, ibu Yesus, mewakili kepala. Pada hari Pentekosta, di bawah kuasa Roh Kudus, Petrus dan murid-murid lainnya mulai memberitakan perkara-perkara besar Allah kepada segala bangsa, dan membaptis mereka menjadi anggota Gereja.

Cara lain untuk melihat kebenaran ini adalah bahwa Gereja memang dilahirkan dua kali, pertama dari Kristus dan kedua dari Roh Kudus. Mengikuti Santo Paulus, Gereja adalah tubuh dari Kristus (Ef. 1:22; KGK 792), dan Gereja juga adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:16, KGK 797). Sebagai tubuh Kristus, kita adalah satu kesatuan organik antara kita dan Kristus, sumber keselamatan kita. Sebagai bait Roh Kudus, kita dipersatukan dengan Roh Kudus, sumber kekudusan kita dan alasan kita untuk menguduskan sesama.

Selamat ulang tahun untuk Gereja Katolik!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pengudusan

Minggu Paskah ke-7 [B]

12 Mei 2024

Yohanes 17:11-19

Dalam Injil hari ini, Yesus memanjatkan doa kepada Bapa untuk kesatuan dan kekudusan murid-murid-Nya. Secara khusus, Ia meminta Bapa untuk ‘menguduskan mereka dalam kebenaran’ karena ‘firman Allah adalah kebenaran.’ (Yohanes 17:17) Namun, apakah yang dimaksud dengan kata ‘menguduskan’ di sini?

Kata yang digunakan oleh Yesus adalah ‘ἁγιάζω’ (hagiazoo), yang berarti menjadikan kudus. Dalam Alkitab, menjadi kudus berarti dipisahkan dari hal-hal lain dan untuk tujuan tertentu. Dalam Perjanjian Lama, Israel adalah bangsa yang kudus. Mereka telah dipilih, dikhususkan, dan dikuduskan melalui perjanjian di Gunung Sinai (lihat Keluaran 20). Mereka hanya milik Allah dan harus dipisahkan dari ilah-ilah dan berhala-berhala lain. Tuhan juga memberikan hukum-hukum untuk memastikan bahwa orang Israel hidup sesuai dengan identitas baru mereka dan menghindari penodaan terhadap ilah-ilah lain. Mereka juga diminta untuk menghindari kontak yang tidak perlu dengan bangsa-bangsa lain dan tidak meniru praktik-praktik hidup mereka, terutama penyembahan berhala, praktik takhayul, dan perilaku tidak bermoral. Jika mereka setia, mereka akan diberkati dan menjadi berkat. Namun, terkadang mereka gagal dan jatuh dalam penyembahan berhala, sehingga menajiskan diri mereka sendiri (lihat Kel. 32). Dengan kenajisan itu, mereka tidak layak di hadapan Allah dan mengundang segala macam bencana dalam hidup mereka.

Sebagai murid Kristus, kita dikuduskan bagi Tuhan ketika kita dibaptis. Melalui air sakramen pembaptisan dan formula Tritunggal yang diucapkan oleh imam, kita menjadi milik Allah semata, dan kita dipisahkan dari hal-hal dan tindakan yang menjauhkan kita dari Allah. Seperti bangsa Israel kuno yang hidup menurut Hukum Allah, kita juga diharapkan untuk hidup menurut Hukum Yesus Kristus yang Dia wariskan kepada Gereja-Nya. Jika kita setia, kita akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak orang. Namun, pada saat kita mendekatkan diri dengan penyembahan berhala dan berbagai praktik takhayul serta terlibat dalam perilaku amoral, kita menajiskan diri kita sendiri dalam dosa. Dengan kenajisan, kita tidak layak di hadapan Allah dan menarik segala macam kejahatan dalam hidup kita.

Namun, baptisan bukanlah satu-satunya bentuk pengudusan yang kita miliki. Salah satu pengudusan yang sering luput dari perhatian kita adalah pernikahan. Pernikahan itu unik karena kedua pasangan berjanji dengan kata-kata kebenaran untuk memberikan diri mereka secara total dan eksklusif kepada satu sama lain. Suami adalah milik istri sepenuhnya, dan istri adalah milik suami sepenuhnya. Dengan kata lain, pasangan suami-istri menguduskan diri mereka satu sama lain. Dalam pernikahan Katolik, pengudusan ini bersifat permanen karena dilakukan di hadapan Tuhan dan disahkan oleh Tuhan. Tidak heran jika pernikahan ini juga disebut sebagai pernikahan kudus. Jika pasangan setia pada pengudusan mereka, mereka sungguh menjadi kudus, dan hanya dalam kekudusanlah mereka dapat menerima kebahagiaan sejati. Namun, jika tidak setia, pasangan suami istri menajiskan diri mereka sendiri. Dengan kenajisan, mereka menjadi tidak layak bagi pasangannya dan membuka diri mereka terhadap segala macam hal yang buruk.

Pengudusan diri adalah jalan hidup kita sebagai murid Yesus. Setia pada pengudusan adalah kunci kebahagiaan sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gereja dan Injil

Minggu ke-3 Paskah [B]

14 April 2024

Kisah Para Rasul 3:13-15, 17-19

Bacaan pertama menceritakan pewartaan pertama Santo Petrus pada hari Pentekosta. Setelah Roh Kudus turun ke atas para murid, mereka mulai berbicara tentang karya-karya besar Tuhan dalam berbagai bahasa. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa mereka sedang mabuk. Namun, Santo Petrus, sebagai pemimpin para rasul, menyanggah tuduhan ini dan menggunakan kesempatan itu untuk pemberitaan Injil (lihat Kisah Para Rasul 2). Inilah Injil pertama yang diberitakan oleh Gereja. Apakah Injil ini? Apa isinya? Apa dampaknya bagi kita sekarang?

Injil (εὐαγγέλιον, euangelion) pada mulanya merujuk kepada pemberitahuan kekaisaran tentang berita besar yang mempengaruhi nasib banyak orang di kekaisaran Romawi, seperti naiknya kaisar yang baru atau kemenangan besar dalam peperangan. Yesus menggunakan istilah ini ketika Ia memberitakan ‘Injil Allah’ (lihat Mar 1:14). Kemudian, dibimbing oleh Roh Kudus, Gereja, melalui para pemimpinnya, terutama Petrus, menggunakan kosakata yang sama dalam khotbahnya.

Injil yang diberitakan oleh Gereja perdana berfokus pada Yesus dan apa yang dilakukan oleh Allah Israel kepada-Nya. Petrus mengatakan bahwa karena ketidaktahuan, beberapa pemimpin Yahudi menyerahkan Yesus kepada penguasa Romawi untuk disalibkan. Dengan melakukan hal itu, Sang Pencipta kehidupan disangkal dan dihukum mati. Namun, Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Melalui peristiwa yang luar biasa ini, Allah telah menggenapi apa yang telah Dia nubuatkan melalui para nabi. Kesimpulan dari Injil adalah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari rencana Allah (lihat juga 1 Kor. 15:1-6).

Namun, kabar baik tidak berhenti sampai di situ. Meskipun orang-orang Yahudi, Romawi, dan kita semua, melalui dosa-dosa kita, memiliki andil dalam kematian Kristus, itu tidak berarti bahwa kita semua akan dihukum selamanya. Bahkan, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah membawa rahmat keselamatan. Namun sekali lagi, untuk membuat rahmat ini efektif dalam hidup kita, kita harus membuka diri dan menerimanya. Bagaimana caranya? Santo Petrus mengatakan, “Bertobatlah dan berpalinglah! (Kis 3:19)”

‘Saya bertobat’ dalam bahasa Yunani adalah ‘μετανοέω’ (metanoeo), dan kata ini menunjukkan sebuah perubahan (meta) pola pikir (nous). Sementara ‘Saya berpaling’ dalam bahasa Yunani adalah ‘ἐπιστρέφω’ (epistrepho), dan kata kerja ini menunjukkan gerakan fisik untuk mengubah haluan. Oleh karena itu, dua kata tersebut menunjuk baik pada pembaruan internal dan juga manifestasi eksternal dari pertobatan. Percaya kepada Injil tidak cukup hanya dengan mengatakan dalam hati, “Saya menerima Yesus Kristus di dalam hati” atau “Saya percaya kepada kebangkitan-Nya”, tetapi kita terus hidup dalam dosa. Di sisi lain, jika kita melakukan banyak amal dan menghadiri banyak doa tetapi tidak mentakhtakan Yesus di dalam hati kita, itu hanyalah pamer atau bahkan narsis.

Inilah Injil yang diberitakan oleh Gereja, dan karena kita adalah bagian dari Gereja, kita juga bertanggung jawab untuk mewartakan dan menghidupi Injil. Kita memberitakan Injil kepada keluarga, teman, sesama, dan tentu saja kepada semua orang. Namun, Injil tidak pernah menjadi sebuah beban, melainkan sebuah bukti kasih. Jika kita mengasihi saudara-saudari kita, maka kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, yaitu keselamatan mereka. Dengan demikian, memberitakan Injil adalah penting untuk menawarkan kepada mereka karunia keselamatan ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia Sejati

Minggu Palem Sengsara Tuhan [B]

24 Maret 2024

Markus 14:1 – 15:47

Momen yang menentukan bagi Yesus sebelum salib-Nya adalah sakratul maut di taman Getsemani. Tahun ini, kita bersyukur dapat mendengar versi Injil Markus karena Markus tidak ragu mengungkapkan kondisi batin Yesus pada saat yang genting ini. Bagi sebagian orang, hal ini memalukan karena Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam, dan dengan demikian, Yesus terlihat terlalu manusiawi dan lemah. Namun, kita percaya bahwa ini adalah Firman Tuhan, dan dengan demikian, kita dapat belajar sesuatu yang berharga dari saat-saat genting Yesus ini.

Yesus menyadari apa yang akan terjadi pada-Nya. Dia akan segera menghadapi pengkhianatan dari murid-Nya, penangkapan, pengadilan yang tidak adil, penghujatan dari para pembenci-Nya, penyiksaan yang mengerikan, dan kematian yang sangat menyakitkan. Yesus yang tidak hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, mengalami beban penuh emosi manusiawi. Markus memberikan kita beberapa detail penting. Yesus ‘sangat takut dan gentar’ dan kemudian mengungkapkan apa yang Yesus rasakan, “Jiwaku sangat sedih seperti mau mati.”

St. Irenaeus pernah berkata, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup.” Di sini, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan dengan demikian menjadi kemuliaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk menghindari dua hal ekstrem yang berbahaya dalam menangani emosi. Ekstrim yang pertama adalah mengabaikan atau menekan emosi. Yesus tidak berpura-pura menjadi ‘orang yang kuat.’ Dia tidak berkata, ‘Saya tidak apa-apa’, atau ‘semuanya akan baik-baik saja’. Yesus mengartikulasikan emosi-emosi yang Dia rasakan, dan dengan demikian, Dia merangkul emosi dan kemanusian-Nya. Ekstrim kedua adalah tidak dikuasai oleh emosi. Ketika emosi itu sangat kuat, emosi dengan mudah menelan kita dan, dengan demikian, mengendalikan kita. Meskipun menyadari perasaan-Nya, Yesus tidak memberikan kendali pada perasaan itu. Dia tetap berdiri teguh.

Yesus kemudian memberikan dua cara agar tidak termakan oleh emosi yang meluap ini. Yang pertama adalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Yesus mengundang tiga murid terdekat-Nya ke taman, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dia mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam dan meminta mereka untuk menemani-Nya di saat-saat genting ini. Sayangnya, mereka tertidur, tetapi ketiganya ada di sana untuk menemani Yesus dalam masa sulit ini. Cara kedua adalah dengan doa. Dalam kesedihan, Yesus berbicara kepada Bapa-Nya. Di sini, kita mendengarkan isi doa Yesus yang sangat langka.

Yesus berkata, “Ya, Bapa, bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mrk. 14:36).” Doa ini singkat tetapi luar biasa dalam. Bisa dikatakan bahwa doa ini adalah bentuk singkat dari doa ‘Bapa Kami’. Di sini, Yesus mengungkapkan dan mempersembahkan hasrat-Nya agar Dia terhindar dari penderitaan dan kematian yang kejam. Namun, Ia juga menyadari bahwa misi-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah kehendak Allah agar Yesus akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kasih bagi dunia. Dalam doa ini, Yesus menegaskan kembali misi-Nya dan tidak membiarkan emosi mengaburkan visi-Nya.

Getsemani adalah momen berharga dimana Yesus mengajarkan kita untuk memenuhi kehendak Tuhan meskipun menghadapi kesulitan dan, pada saat yang sama, menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukanlah kehendak Allah untuk menghancurkan kemanusiaan kita melainkan untuk menyempurnakannya, dan Yesus adalah teladan kita sebagai manusia yang sempurna.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Pewartaan Injil

Hari Minggu ke-5 dalam Masa Biasa [B]

4 Februari 2024

Markus 1:29-39

Sering kali, kita berasumsi bahwa tugas pewartaan Injil hanya untuk para uskup, imam, dan diakon, atau untuk biarawan-biarawati atau katekis-katekis awam. Namun, anggapan ini kurang tepat. Yang benar adalah bahwa setiap orang yang dibaptis memiliki sebuah tanggung jawab untuk mewartakan Injil. Ya, Anda dan saya! Tetapi, bagaimana kita mewartakan jika kita tidak memiliki talenta atau kemampuan untuk melakukannya?

Pertama, kita harus menyadari bahwa mewartakan Injil adalah bagian penting dari identitas kita sebagai orang Kristen. Menjadi Kristen berarti kita menjadi ‘citra Kristus’, atau ‘Kristus yang lain.’ Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa misi-Nya adalah untuk mewartakan Injil. Dia menolak untuk berhenti di satu kota dan menikmati pujian dari orang-orang, tetapi Dia harus pergi ke tempat lain dan berkhotbah. Jika Yesus sendiri berkomitmen untuk memberitakan Kabar Baik, maka kita, sebagai citra-Nya, dipanggil untuk mewujudkan komitmen ini juga. Orang Kristen sejati adalah orang yang dengan setia mewartakan Injil.

Yesus mengakui misi ini sebagai bagian dari identitas-Nya dan menyerahkannya kepada Gereja-Nya sebagai sebuah perintah. Setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Sekali lagi, misi ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap murid Yesus.

Gereja memahami misi ini, dan dengan demikian, Gereja mengajarkan kepada kita, “Kaum awam juga memenuhi misi kenabian mereka melalui penginjilan, “yaitu pewartaan Kristus dengan kata-kata dan kesaksian hidup… (KGK 905).” Santo Thomas Aquinas, seorang teolog, menulis, “Mengajar untuk menuntun orang lain kepada iman adalah tugas setiap pengkhotbah dan setiap orang beriman (STh. III, 71,4 ad 3).”

Namun, bagaimana kita berkhotbah jika kita tidak memiliki talenta dan karunia? Pertama, kita perlu menyadari bahwa ada jenis-jenis pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada para klerus, seperti di dalam liturgi. Alasannya adalah karena Gereja ingin memastikan bahwa pewartaan di tempat yang sakral ini akan dilakukan dengan khidmat dan sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja yang benar. Namun, ada banyak kesempatan lain bagi umat awam untuk pewartaan, dan bahkan, pada kenyataannya, ada konteks-konteks di mana hanya umat awam yang dapat mewartakan Injil: pernikahan dan keluarga.

Dalam konteks keluarga, pria dan wanita tidak hanya terikat oleh baptisan mereka untuk memberitakan Injil, tetapi juga oleh janji pernikahan mereka. Suami dan istri membawa satu sama lain lebih dekat kepada Allah, dan orang tua mendidik anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan melatih mereka dalam kekudusan. Kita meluangkan waktu untuk berdoa bersama sebagai sebuah keluarga di rumah atau di gereja. Kita mengajarkan anak-anak kita doa-doa dasar. Kita memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita. Kita membawa anak-anak kita ke paroki untuk pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya serta menerima berbagai petunjuk iman dari para imam dan katekis. Misi ini tidak membutuhkan bakat atau pelatihan khusus, melainkan waktu dan komitmen, sesuatu yang dimiliki semua orang.

Misi pewartaan Injil tidak hanya sesuatu yang esensial dari identitas kita sebagai murid Kristus, dan bahkan keselamatan kita bergantung pada hal ini. Biarlah kata-kata Santo Paulus menjadi moto kita, “Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil” (1 Kor. 9:16).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh-Roh Jahat dan Najis

Hari Minggu Keempat dalam Masa Biasa [B]

28 Januari 2024

Markus 1:21-28

Salah satu hal yang paling menarik dalam pelayanan Yesus adalah pengusiran roh-roh jahat. Markus, sang penulis Injil, bahkan tidak ragu-ragu menuliskan bahwa mengusir roh-roh jahat merupakan bagian dari pengajaran Yesus yang penuh otoritas. Otoritas Yesus tidak hanya mempengaruhi pendengar manusia, tetapi juga mengendalikan roh-roh jahat. Namun, siapakah roh-roh jahat itu? Mengapa Yesus memiliki otoritas atas mereka? Dan bagaimanakah pengaruhnya terhadap kehidupan kita?

Berdasarkan Kitab Suci dan tradisi, Gereja mengajarkan bahwa roh-roh ini juga merupakan ciptaan Allah. Pada dasarnya, mereka adalah roh atau malaikat. Sebagai roh, mereka adalah makhluk tanpa tubuh, dan karena mereka tidak terpengaruh oleh keterbatasan materi, mereka secara alamiah jauh unggul daripada kita manusia. Namun, tidak seperti malaikat baik yang menggunakan kekuatan mereka untuk membantu manusia, roh-roh ini justru melakukan sebaliknya. Mereka ingin mencelakakan manusia. Itulah mengapa mereka disebut sebagai roh-roh jahat.

Jika Allah itu baik, mengapa Allah menciptakan makhluk yang jahat? Pada awalnya, Allah menciptakan mereka sebagai roh-roh yang baik. Namun, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, mereka membuat pilihan yang definitif untuk menentang Pencipta mereka. Pemberontakan mereka terhadap Allah membuat mereka jatuh dari rahmat, dan oleh karena itu, mereka disebut “malaikat-malaikat yang jatuh”. (lihat KGK 391-395)

Lalu, mengapa roh-roh jahat bisa taat kepada Yesus? Jawabannya sangat mudah. Yesus adalah Pencipta mereka. Otoritas Yesus tercermin dalam kata Yunani yang dipilih ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, ‘φιμοω’ (baca: phimoo). Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai ‘diam,’ tetapi secara harfiah, kata ini berarti ‘memasang moncong’ (alat yang dipasang di mulut binatang untuk membuatnya diam). Ini seperti seorang petani yang meletakkan moncong di mulut lembu yang gaduh sehingga membuatnya tunduk. Idenya adalah bahwa Yesus sangat berkuasa sampai-sampai Dia dapat dengan mudah menundukkan roh-roh jahat di bawah kendali-Nya.  

Satu fakta yang menarik adalah bahwa Markus tidak menyebut malaikat-malaikat yang jatuh itu sebagai ‘roh-roh jahat’, melainkan ‘roh-roh najis’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). Dalam konteks Yahudi, najis berarti tidak layak bagi Allah secara ritual. Sesuatu atau seseorang yang najis tidak dapat masuk ke dalam Bait Allah dan, sebagai konsekuensi, tidak dapat mempersembahkan penyembahan dan menjadi jauh dari Allah. Roh-roh ini najis karena mereka tidak layak bagi Allah dan jauh dari-Nya.

Kita juga dapat melihat kenajisan sebagai efek dari roh-roh jahat. Orang yang berada di bawah kekuasaan roh-roh jahat menjadi najis dan jauh dari Allah. Orang yang hidup dalam dosa dan jauh dari Allah, berada di bawah pengaruh roh-roh jahat sampai batas tertentu. Dari sini, kita dapat memahami bahwa misi Yesus untuk mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dari misi-Nya untuk membuat manusia menjadi kudus dan menyatukan manusia dengan Allah.

Pembahasan mengenai roh-roh jahat tentu saja sangat luas dan menarik, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa Yesus jauh lebih unggul daripada roh-roh jahat ini. Oleh karena itu, hidup bersama dan di dalam Yesus adalah satu-satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat. Juga benar bahwa ketika kita semakin dekat dengan Yesus, roh-roh jahat akan melipatgandakan usaha mereka, dan justru dalam situasi ini, kita harus semakin berpegang teguh pada Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa itu Injil?

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Biasa [B]

21 Januari 2024

Markus 1:14-20

Yesus memulai misi-Nya dengan menyatakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Namun, pertanyaannya adalah, “Injil apakah yang harus kita percayai?” Tentu saja, Injil yang dimaksud bukanlah keempat Injil tertulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) karena Injil-injil tersebut ditulis beberapa tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Jadi, apakah yang dimaksud dengan Injil di sini?

Pengertian paling dasar dari Injil adalah ‘kabar baik’. Kata ini berasal dari kata Yunani ‘ευαγγελιον’ (baca: Evangelion). Kata ini sendiri terdiri dari dua unsur: ‘ευ’ yang berarti ‘bahagia’ atau ‘baik’, lalu ‘αγγελιον’ yang berarti ‘berita’. Pada zaman Yesus, kata ‘ευαγγελιον’ bukanlah sembarang kabar baik seperti “Saya lulus ujian” atau “Saya menerima hadiah.” Kata ini adalah istilah teknis kekaisaran Roma untuk menunjukkan kemenangan besar kaisar atau perayaan ulang tahun kaisar. Setiap kali ‘ευαγγελιον’ diumumkan, akan ada sukacita besar bagi rakyat karena musuh telah dikalahkan, dan sekarang penduduk kekaisaran dapat hidup dengan tenang.

Yesus menggunakan kosakata kekaisaran yang sama tetapi menyesuaikan isinya dengan tujuan-Nya. Injil bukan lagi tentang kabar baik tentang kekaisaran Romawi, tetapi tentang Kerajaan Allah. Injil ini bukan lagi tentang kemenangan kaisar, tetapi tentang kemenangan Yesus. Mereka yang hidup pada masa itu mungkin akan merespons Injil Yesus dengan cara yang berbeda. Orang mungkin menganggap Yesus gila, atau bahkan pembohong, dan dengan demikian, Injil-Nya tidak lain adalah kebohongan yang menggelikan. Orang lain mungkin melihat Yesus sebagai seorang yang subversif-revolusioner, dan dengan demikian, Injil-Nya adalah sebuah seruan untuk memberontak terhadap kekaisaran Romawi. Kita juga ingat bahwa pemahaman subversif tentang Injil ini kemudian digunakan untuk menuduh Yesus di hadapan Pilatus. Yesus adalah ‘raja orang Yahudi’ yang menentang kaisar Romawi.

Namun, Yesus membuktikan bahwa anggapan ini tidak benar. Yesus tidak mewartakan Injil kata-kata kosong; Dia mengajar dengan penuh kuasa dan melakukan mukjizat-mukjizat yang dahsyat. Bahkan setan-setan pun taat kepada perkataan-Nya. Dia juga bukan seorang pejuang politik yang revolusioner karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (lihat Yoh 18:36), dan bagaimana Dia menolak untuk diangkat menjadi raja oleh para pendukung-Nya (lihat Yoh 6:15). Kerajaan Yesus adalah Kerajaan Allah yang kudus. Satu-satunya cara untuk masuk ke dalamnya adalah melalui pertobatan (metanoia). Kata metanoia mengandaikan adanya perubahan ‘pikiran’ atau ‘gaya hidup’ dari kehidupan yang penuh dengan dosa dan jauh dari Allah menjadi kehidupan yang sesuai dengan hukum Allah, dan dengan demikian, hidup bersama Allah.

Jadi, dari perspektif ini, kita dapat mengatakan bahwa ‘percaya kepada Injil’ berarti kita percaya kepada Kerajaan Allah dan Yesus, raja dari Kerajaan itu, yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan membawa kita kembali kepada Allah. Dan bukti kita percaya tidak lain adalah dengan bertobat. Mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus,” tetapi kita tetap mencuri uang orang lain, adalah omong kosong. Mengatakan, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi kita tetap melanggar hukum dan perintah-Nya, adalah sia-sia.

Fakta menarik lainnya! Kata Yunani yang sebenarnya digunakan oleh Markus untuk ‘percaya’ adalah ‘πιστεύετε’ (pisteuete), dan secara tata bahasa, kata ini merupakan bentuk imperatif dalam bentuk waktu sekarang (present tense). Dalam bahasa Yunani kuno, bentuk imperatif ini berarti perintah untuk melakukan sesuatu, bukan hanya sekali tetapi terus menerus. Dengan demikian, Markus ingin menekankan bahwa percaya adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan bukannya sebuah tindakan yang dilakukan sekali saja. Percaya kepada Yesus adalah sesuatu yang bertumbuh dan dinamis, bukan statis.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP