Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leave a comment