Jesus and the Crowd

Palm Sunday of the Lord’s Passion (A)

March 29, 2026

Matthew 21:1-11 and Matthew 26:14 – 27:66

Palm Sunday is a unique moment in the Catholic liturgy where we hear two readings from the Gospel. The first is the story of Jesus’ triumphant entrance into the city of Jerusalem, and the second is the Passion Narrative. Both accounts come from Matthew. We often hear that these two stories are connected by the “crowd.” It is frequently assumed that the people who initially welcome and cheer Jesus as king are the very same people who later shout, “Crucify Him!” Yet, is this true? Or is it just an unrealistic drama to spice up Jesus’ story?

To answer this question, we need to look back at the time of Jesus and understand what was happening in Jerusalem. In first-century Israel, the Jewish people were living under Roman occupation, and life was very difficult for ordinary citizens. The desire for liberation from Roman rule was incredibly strong, drawing inspiration from the Old Testament where God promised a Messiah (the anointed one) to lead them to freedom.

When Jesus appeared, He came as one possessing divine power. He taught the truth with authority and performed unprecedented miracles. Naturally, this raised the excitement of many Israelites, and people started to follow Him, hoping He was the long-awaited Messiah. As Jesus marched toward Jerusalem for His Passion, the Jewish festival of Passover was also approaching. This feast commemorates Israel’s liberation from Egypt (Exodus 12), and during this time, Jews from all over traveled to Jerusalem on pilgrimage.

We can imagine that as Jesus drew closer, more and more pilgrims recognized Him and joined His followers. The people’s expectations were further fueled by Jesus’ unmatched miracle of restoring sight to two blind men in Jericho, not far from Jerusalem (Matthew 20:29-34). As Jesus entered the city riding a donkey, the throng of people who had been following Him began to shout, “Hosanna to the Son of David.”

So, were the people who welcomed Jesus the same ones who demanded His death? I believe these were two different groups. Those who supported Jesus were fellow pilgrims, mostly from outside Jerusalem. In contrast, those who demanded Jesus’ execution were likely Jerusalem elites and some locals whose businesses had been disrupted by Jesus and His followers. In fact, the trial was conducted hastily in the early morning, suggesting it was well-orchestrated. Matthew also notes that the chief priests and elders persuaded the crowd to ask for Barabbas’s release (Matthew 27:20), indicating that this specific crowd was manipulated to follow the Jewish leaders’ plan.

However, despite the existence of two distinct groups, the possibility of individuals switching sides remains. Some of those who initially supported Jesus may have eventually caved and condemned Him. Yet, some of those who approved of Jesus’ crucifixion may have ultimately returned to His side. A good example is Peter, Jesus’ core disciple, who denied Him when He was arrested but returned to Him after the resurrection.

As we enter Holy Week, we follow Jesus in our own lives. When are we like the people who shouted, “Hosanna”? What are those moments when we ardently follow Jesus? When are we like those who shouted, “Crucify Him”? When are the times we fail Him and even rebel against Him? When are we like the weak Peter, running from God or hiding? And when are we like the renewed Peter? What are those moments when we allow God to restore us again?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Air Mata Yesus

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

22 Maret 2026

Yohanes 11:1-45

Minggu Kelima Prapaskah mengungkapkan salah satu momen paling emosional bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Biasanya, Yohanes menggambarkan Yesus sebagai sosok yang khusyuk dan memiliki ketenangan yang agung, jarang mengungkapkan keadaan psikologis batin-Nya. Namun, dalam Bab 11, kita diberi kesempatan untuk melihat sekilas kedalaman kemanusiaan Yesus.

Ketika Yesus tiba di Betania untuk mengunjungi sahabat-Nya, Lazarus, yang baru saja meninggal, saudara perempuan Lazarus, Marta, menyambut-Nya terlebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya tidak akan meninggal. Yesus meyakinkan Marta bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Marta mengakui imannya kepada-Nya, dan sejenak, segalanya tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, Maria datang, dan mengulang kata-kata saudarinya. Namun, ia jatuh di kaki-Nya, menangis bersama mereka yang menyertainya. Yohanes sang Penginjil mencatat bahwa Yesus “sangat terharu” dan “tergerak hati-Nya.” Saat mereka membawa Yesus ke kuburan Lazarus, Ia tak lagi dapat menahan kesedihannya, dan Ia mulai menangis.

Mengapa Yesus menunjukkan emosi yang begitu kuat? Orang-orang Yahudi yang menyaksikan-Nya berkata, “Lihatlah betapa Ia mengasihi Lazarus.” Yesus mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria dengan sangat dalam; saat kehilangan sahabat-Nya, Ia berduka dan menangis. Yesus menunjukkan reaksi manusiawi yang banyak dari kita alami ketika kehilangan seseorang yang kita sayangi. Pertanyaannya adalah: jika Yesus tahu dengan sempurna bahwa Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipenuhi oleh kesedihan?

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam. Secara manusiawi, merasakan kesedihan yang mendalam dan berduka adalah cara alami kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan dari orang yang kita cintai. Tanpa kesedihan ini, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa artinya mencintai dan dicintai—menjaga seseorang yang berharga dan menjadi berharga bagi mereka. Allah, sebagai Pencipta hidup kita, mengetahui dengan baik proses alami ini dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Ia memilih tidak menghilangkan rasa sakit ini, melainkan menguduskannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Meskipun Tuhan tidak akan membangkitkan orang dari kubur setiap hari, Ia meyakinkan kita bahwa Ia berduka dan menangis bersama kita. Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia bukanlah untuk segera menghapus air mata dan penderitaan kita, melainkan untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya, sehingga menjadikannya kudus.

Salah satu momen tersulit dalam hidup saya sebagai imam adalah ketika harus berkhotbah dalam Misa pemakaman. Terkadang, seorang kerabat yang berduka akan bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan mengambilnya sekarang?” Jujur saja, saya tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Saya sering berharap memiliki jawaban yang sempurna, atau bahkan karunia untuk membangkitkan orang mati. Namun, saya perlahan menyadari bahwa kehadiran saya di sana bukanlah untuk menyelesaikan masalah mereka atau menghapus kehilangan mendalam mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk berduka bersama mereka, dan, melalui Ekaristi, untuk membawa Yesus ke dalam dukacita mereka. Ketika kita memiliki Yesus bersama kita, bahkan dalam momen-momen paling menyakitkan dalam hidup kita, kita dapat mempersembahkan dukacita kita kepada Allah sebagai persembahan yang berkenan dan suci.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana mengetahui bahwa Yesus menangis untuk sahabat-Nya mengubah cara kita memandang momen-momen duka dan kerentanan kita sendiri? Jika duka yang mendalam adalah cerminan alami dari cinta yang mendalam, bagaimana kita dapat mengundang Tuhan untuk hadir dalam—dan menguduskan—kehilangan yang menyakitkan dalam hidup kita sendiri? Bagaimana kita dapat menawarkan kehadiran yang menghibur dan menyerupai Kristus kepada kerabat atau teman yang sedang berduka?

Jesus’ Tears

5th Sunday of Lent [A]

March 22, 2026

John 11:1-45

The Fifth Sunday of Lent reveals one of the most profoundly emotional moments for Jesus in the Gospel of John. Typically, John depicts Jesus as solemn and possessing a majestic composure, rarely revealing His inner psychological state. Yet, in Chapter 11, we are granted a glimpse into the depths of Jesus’ humanity.

When Jesus arrived in Bethany to visit his friend Lazarus, who had just passed away, Lazarus’s sister Martha greeted Him first. She expressed that had Jesus come earlier, her brother would not have died. Jesus assured Martha that He is the resurrection and the life. Martha professed her faith in Him, and for a moment, everything seemed peaceful. This tranquility, however, did not last. Shortly after, Mary came to Jesus, echoing her sister’s words. But she fell at His feet, weeping alongside those who had accompanied her. John the Evangelist notes that Jesus was “deeply moved in spirit” and “troubled.” As they led Jesus to Lazarus’s tomb, He could no longer contain His sorrow, and He began to weep.

Why did Jesus express such strong emotion? The Jews who witnessed it noted, “See how He loved him.” Jesus loved Lazarus, Martha, and Mary deeply; in losing His friend, He mourns and weeps. Jesus exhibits the very human reaction many of us experience when we lose someone we hold dear. The question, then, is this: if Jesus knew perfectly well that He had the power to raise Lazarus from the dead, why did He allow Himself to be so overwhelmed by grief?

Through this touching narrative, Jesus teaches us a profound truth. Humanly speaking, feeling deep sorrow and mourning is our natural way of coping with the painful loss of a loved one. Without this grief, we would never truly understand what it means to love and be loved—to hold someone precious and to be precious to them. God, as the author of our lives, recognizes this natural process in our humanity. Thus, in His infinite wisdom, He chooses not to remove this pain, but rather to sanctify it. But how? While the Lord will not raise someone from the grave every day, He assures us that He mourns and weeps with us. Jesus’ first coming into the world was not meant to immediately erase our tears and agonies, but to fill them with His presence, thereby making them holy.

One of the most difficult moments in my life as a priest is preaching at a funeral Mass. Sometimes, a grieving loved one will ask me, “Why did the Lord take him now?” Honestly, I do not always know what to say. I often wish I had the perfect answer, or even the miraculous gift to raise the dead. Yet, I have gradually come to realize that my presence there is not to solve their problems or erase their profound loss. I am there to be with them, to mourn with them, and, through the Eucharist, to bring Jesus into their mourning. When they have Jesus with them, even in the most painful moments of their lives, they can offer their grief to God as a pleasing and holy sacrifice.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

How does knowing that Jesus openly wept for His friend change the way we view our own moments of grief and vulnerability? If deep mourning is a natural reflection of profound love, how might we invite the Lord to be present in—and make holy—a painful loss in our own life? How can we offer our mourning relatives or friends a comforting, Christ-like presence?

King David

Fourth Sunday of Lent [A]

March 15, 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Continuing our journey through the great figures of the Old Testament, the Fourth Sunday of Lent brings us to King David.

David is undoubtedly one of the most pivotal characters in the biblical canon. He was a shrewd warrior who defeated the bigger, stronger and more experienced Goliath with a single sling stone (1 Sam 17:45-47). As a brilliant military strategist, he was victorious in nearly every campaign (2 Sam 8:6), and as a charismatic statesman, he successfully unified the twelve tribes of Israel (2 Sam 5). Furthermore, David demonstrated profound mercy, famously refusing to harm King Saul despite having the opportunity to do so (1 Sam 24:6). Finally, we remember him as the “sweet singer of Israel,” the inspired poet whose Psalms (such as 23 and 51) we continue to recite today.

However, despite these unrivaled achievements, David’s story starts with a humble beginning. As the youngest son of Jesse from the small village of Bethlehem, David was initially overlooked by Samuel, the prophet. Samuel’s human eyes were fixed on David’s elder brothers, who possessed more impressive physical statures and military experience. Yet, God sees what man does not; He chose the inexperienced shepherd boy. Upon his anointing, the Spirit of the Lord rushed upon David (1 Sam 16:13), and from that moment forward, his success was a testament to God’s favor.

Unfortunately, David’s string of successes eventually birthed a sense of pride. He began to believe he was invincible, acting as though he were above everyone. This hubris led to his fall into lust with Bathsheba and the subsequent calculated murder of her husband, Uriah (2 Sam 11). This grave sin necessitated a stern rebuke from the prophet Nathan. Later, David erred again by conducting a census—likely to measure his own military might rather than trusting in divine protection. This act of pride forgotten that victory comes from the Lord alone, leading to divine judgment (2 Sam 24). In both instances, however, David’s deep love for God was revealed through his sincere repentance, recognizing his humble beginning. Sadly, as king, his personal failings inevitably brought consequences upon his family and the nation.

The life of David offers us a vital spiritual lesson. Like him, we all begin from a place of humility and weakness. Any “success” we achieve—be it professional advancement, physical health, or flourishing relationships—is fundamentally a gift from God. This is equally true of our spiritual lives. Our ministries and the fruits of our prayer are movements of the Spirit, not personal trophies.

Yet, pride often poisons the heart. We begin to credit our own “genius” or effort for our successes, clinging to our achievements and demanding recognition. This is the threshold of our downfall. When we focus solely on maintaining our status, we become paralyzed by the fear of failure. We lose our spirit of gratitude and replace it with complaint and resentment. We may even find ourselves manipulating others to preserve our image of success, leading to a state of spiritual misery.

Like David, we are reminded that only true repentance can restore our orientation toward the Lord, who is the sole author of our salvation. Only when we remember our humble beginning and recognize God’s role in our lives, we find true happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

How does God bring us high fro our humble beginning? When we experience a “win” in our career, family, or ministry, do we instinctively offer a prayer of gratitude, or do we begin to rely on your own “genius”? When we face failure or realize we have manipulated a situation to look better than we are, do we hide in your misery, or do we have the courage to let God rebuke and restore us?

Raja Daud

Minggu Keempat Prapaskah [A]

15 Maret 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Dalam perjalanan kita bersama tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama, Minggu Keempat Prapaskah membawa kita kepada Raja Daud.

Daud tanpa diragukan lagi merupakan salah satu tokoh paling penting dalam Alkitab. Ia adalah seorang prajurit cerdik yang mengalahkan Goliat yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman dengan sebongkah batu dari ketepel (1 Sam 17:45-47). Sebagai seorang militer yang brilian, ia menang dalam hampir setiap pertempuran (2 Sam 8:6), dan sebagai seorang negarawan karismatik, ia berhasil menyatukan dua belas suku Israel (2 Sam 5). Selain itu, Daud menunjukkan belas kasih yang mendalam, dengan menolak untuk menyakiti Raja Saul meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya (1 Sam 24:6). Akhirnya, kita mengingatnya sebagai “sang pujangga Israel,” yang mazmur-mazmurnya (seperti 23 dan 51) kita terus daraskan hingga hari ini.

Namun, meskipun memiliki prestasi yang tak tertandingi, kisah Daud dimulai dengan awal yang sederhana. Sebagai anak bungsu dari Yesse di desa kecil Bethlehem, Daud awalnya diabaikan oleh Samuel, sang nabi. Mata manusia Samuel tertuju pada saudara-saudara Daud yang lebih tua, yang memiliki postur fisik yang lebih gagah dan pengalaman militer. Namun, Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia; Dia memilih anak gembala yang belum berpengalaman. Setelah diurapi, Roh Tuhan turun atas Daud (1 Sam 16:13), dan sejak saat itu, kesuksesannya menjadi bukti penyertaan Allah.

Sayangnya, rangkaian kesuksesan Daud akhirnya melahirkan kesombongan di hatinya. Ia mulai percaya bahwa dirinya tak terkalahkan, bertindak seolah-olah ia berada di atas semua orang. Kesombongan ini membawa ia ke dalam dosa percabulan dengan Batsheba dan pembunuhan terencana terhadap suaminya, Uriah (2 Sam 11). Nabi Natan pun harus sampai datang dan menegur Daud dengan keras. Kemudian, Daud kembali berbuat salah dengan mengadakan sensus—mungkin untuk mengukur kekuatan militernya sendiri daripada mempercayai perlindungan ilahi. Tindakan kesombongan ini melupakan bahwa kemenangan datang dari Tuhan saja, yang mengakibatkan hukuman ilahi (2 Sam 24). Namun, dalam kedua kasus tersebut, kasih Daud yang mendalam kepada Tuhan terungkap melalui penyesalannya yang tulus, mengakui asal-usulnya yang bukan siapa-siapa. Sayangnya, sebagai raja, dosa pribadinya membawa konsekuensi buruk bagi keluarganya dan bangsa.

Kehidupan Daud memberikan pelajaran rohani yang penting bagi kita. Seperti dia, kita semua memulai dari tempat yang rendah dan lemah. Setiap “kesuksesan” yang kita capai—baik itu peningkatan profesional, kesehatan fisik, atau relasi yang harmonis—pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Pelayanan kita dan buah-buah doa kita adalah gerakan Roh Kudus, bukan sebuah medali pribadi.

Namun, kesombongan seringkali meracuni hati. Kita mulai mengklaim kesuksesan kita sebagai hasil dari “kejeniusan” atau usaha kita sendiri, memegang erat pencapaian kita, dan menuntut pengakuan dari orang lain. Inilah ambang kehancuran kita. Ketika kita fokus hanya untuk mempertahankan status kita, kita menjadi lumpuh karena takut akan kegagalan dan penderitaan. Kita tidak mampu lagi bersyukur dan menggantinya dengan keluhan dan kepahitan. Kita bahkan mungkin memanipulasi orang lain untuk mempertahankan citra kesuksesan kita, yang justru membawa kita pada penderitaan rohani dan kesedihan hidup.

Seperti Daud, kita diingatkan bahwa hanya pertobatan yang sejati yang dapat memulihkan orientasi kita kepada Tuhan, yang merupakan satu-satunya pencipta segala kebaikan dalam hidup kita. Hanya ketika kita mengingat awal kita yang rendah dan mengakui peran Allah dalam hidup kita, kita menemukan kebahagiaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana Allah membawa kita ke tempat yang tinggi dari awal yang rendah? Ketika kita mengalami “kesuksesan” dalam karier, keluarga, atau pelayanan, apakah kita secara naluriah mengucapkan syukur, atau apakah kita mulai mengandalkan “kejeniusan” kita sendiri? Ketika kita menghadapi kegagalan dan penderitaan, apakah kita mencoba menyembunyikannya, atau apakah kita memiliki keberanian untuk membiarkan Allah menegur dan memulihkan kita?

Musa dan Air Keselamatan

Minggu Ketiga Prapaskah [A]

8 Maret 2026

Keluaran 17:3–7

Pada Minggu-minggu sebelumnya, kita telah bertemu dengan Adam dan Hawa, orang tua pertama kita, dan juga Abraham, bapa orang iman. Pada Minggu ini, kita beralih pada kisah Musa dan bangsa Israel. Kali ini, kita akan fokus pada sebuah unsur yang menghubungkan hidup dan kematian Musa dalam rencana Allah, yakni air.

Ditarik dari Sungai

Cerita hidup Musa dimulai dari “air”. Musa lahir saat bayi-bayi laki-laki Ibrani dicari dan dihabisi. Oleh karena itu, ibunya terpaksa menaruhnya di atas keranjang papirus dan meletakannya di Sungai Nil. Ketika putri Firaun menemukan bayi ini dan merasa iba, ia mengadopsinya dan memberinya nama Mesir “Musa.” Namun, Kitab Keluaran memberikan makna Ibrani yang lebih dalam pada nama tersebut: “Aku menariknya dari air.”

Sumur di Padang Midian

Setelah Musa membunuh seorang Mesir dan melarikan diri ke Midian, air kembali menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sebuah sumur, ia membela putri-putri Rehuel, seorang imam Midian, dari para gembala yang mengganggu dan membantu mereka mengambil air. Pertemuan ini mengarah pada pernikahannya dengan salah satu putri tersebut, Zipporah (Kel 2:16–25).

Sungai Nil dan Laut Merah

Bertahun-tahun kemudian, Tuhan memanggil Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan umat-Nya. Ketika Firaun dengan keras kepala menolak untuk membebaskan orang Israel, Tuhan mengirimkan sepuluh tulah. Air kembali menjadi titik awal dan akhir dari pembebasan Israel. Tulah pertama mengubah air Sungai Nil menjadi darah (Kel 7:14–25). Dan puncaknya adalah mukjizat paling agung yang terjadi di Laut Merah. Tuhan membelah air, dan memungkinkan orang Israel melewati daratan kering dan membebaskan diri dari tentara Firaun untuk selamanya (Kel 14).

Air dari Batu

Keajaiban yang melibatkan air terus berlanjut di padang gurun. Di Marah, airnya begitu pahit sehingga orang-orang mengeluh kepada Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk melemparkan sepotong kayu ke dalam air, yang secara ajaib membuatnya menjadi layak minum (Kel 15:22–27). Kemudian, di Rephidim, orang-orang kembali kehabisan air. Dalam kekeringan dan kemarahan mereka, mereka bertengkar dengan Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk memukul batu di Gunung Horeb dengan tongkatnya, dan air pun memancar untuk menopang orang-orang (Kel 17:1–7).

Ketidaktaatan dan Tanah Perjanjian

Beberapa tahun kemudian, kejadian serupa terjadi di Gurun Zin. Ketika orang-orang meminta air, Tuhan memerintahkan Musa untuk “berbicara” kepada batu karang. Namun, karena diliputi amarah, Musa memukul batu itu dua kali. Meskipun air masih memancar untuk menolong orang-orang, ketidaktaatan Musa membuat Tuhan tidak senang. Akibatnya, ia tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Terjanji (Bil 20:1–13). Akhirnya, ketika Musa mendekati kematian di Gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan kepadanya sekilas Tanah Terjanji yang dibatasi oleh Sungai Yordan (Ul 34).

Air dan Umat Beriman

Kisah Musa mengingatkan kita bahwa Allah menggunakan ciptaan-Nya yang menurut kita adalah hal biasa, seperti air, sebagai sarana rahmat-Nya. Melalui Kristus, kita menerima mukjizat yang lebih besar daripada mukjizat Laut Merah, yakni air Pembaptisan. Sama seperti Musa ditarik dari air dan diselamatkan dari bahaya, kita ditarik dari air Baptisan untuk menjadi ciptaan baru, terbebas dari dosa.

Namun, kisah Musa juga menjadi peringatan. Sama seperti ia gagal masuk ke Tanah Terjanji di bumi karena kelalaian dalam ketaatan, kita harus tetap waspada. Kita dipanggil untuk bertobat, hidup sesuai janji Baptisan kita, dan melakukan perbuatan yang berkenan kepada Tuhan agar suatu hari kita dapat masuk ke Tanah Terjanji yang sejati dan kekal.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Ketika kita menghadapi masa-masa “kering” atau sulit dalam hidup kita, apakah kita cenderung mengeluh, atau apakah kita mencari Tuhan? Apakah ada area tertentu dalam hidup kita di mana kita kesulitan untuk sepenuhnya taat pada Tuhan? Dengan melihat kembali hidup kita, apakah kita dapat mengidentifikasi momen ketika Tuhan menyelamatkan kita dari situasi sulit atau menarik kita keluar dari krisis?

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Samaritan Woman

Third Sunday of Lent [A]
March 12, 2023
John 4:5-42

For the third Sunday of Lent, the Church has selected for us the story of Samaritan woman from the Gospel of John. This story does not only appear in the current liturgical year (Year A), but also other years (Year B and C). Why does the Church select this reading for the season of Lent? What makes it very special that every year we are invited to listen and reflect on the story?

The story of the Samaritan woman is a story of repentance. Thus, it is fitting for the season of Lent. Let us go deeper into the story. John the evangelist does not give us the name of this woman as well as her other details, but there is a particular information that stands out. The woman had five husbands, and presently, is living with another man. Again, we don’t have details on this issue. It seems that the woman has lived through cycle of marriage, divorce, and remarriage. For unknown reason, her former husbands kept dismissing her (see Deu 24). Perhaps, there were serious marital issues. Perhaps, there were problems with her personalities as well as her husbands’ characters, that rendered them unable to live in a permanent and healthy relationship. Again, we are not sure, but we may say that she has been through hell, and the experience was deeply painful and traumatic, to the point that she decided to live with a man without a proper marriage. At the same time, she had to avoid her people because of shame, and run away from her God.

At first, to hear that this woman had five marriages sounds unbelievable. Yet, this is not totally impossible. However, what more important is that the Samaritan woman has become a reflection of some of us, or some people close to us. Before I began my study in Rome, I served as an assistant parish priest in Surabaya, Indonesia. Being in the parish of a big city, my ministry was inevitably tied to Catholic marriages and families. I am fortunate that I was given the opportunity to solemnize more than fifty marriages. Yet, unfortunately, I also encountered many couples as they sought help facing their marital problems. As I was listening to their stories, I could not but feel the pain, frustration and sometimes anger. The consequences are deeply painful and traumatic: relationships are fractured, families are broken, and children are suffering.

Fortunately, the story of Samaritan woman does not end in a tragedy. Jesus unexpectedly waited for her and mercifully offered her the forgiveness and a new life. Though she was initially hesitated, she confessed her sins and found the true Messiah. We are not told what happened exactly to her life, but we can assume that she changed her life because she had the new-born courage to face her own people and proclaim Jesus.

As I accompany men and women who are struggling with their marriages, things are tough and painful, but not hopeless. Some couples eventually reconciled, but there are some who face more difficult situations. Yet, despite their challenging situations, many refuse to fall into sinful life, but choose to grow in holiness. I honored to encounter some of them. Despite being abandoned by their spouses, they refuse to retaliate with violence. They also resiste the temptation to live with another man or woman outside of marriage but committed to rise their children alone. They have all the right to become angry and disappointed with God because of their conditions, but they did not allow negative emotions to control them. More remarkably, they decided to serve also in the Church.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP