Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leave a comment