Minggu Paskah ke-7 [B]
12 Mei 2024
Yohanes 17:11-19
Dalam Injil hari ini, Yesus memanjatkan doa kepada Bapa untuk kesatuan dan kekudusan murid-murid-Nya. Secara khusus, Ia meminta Bapa untuk ‘menguduskan mereka dalam kebenaran’ karena ‘firman Allah adalah kebenaran.’ (Yohanes 17:17) Namun, apakah yang dimaksud dengan kata ‘menguduskan’ di sini?

Kata yang digunakan oleh Yesus adalah ‘ἁγιάζω’ (hagiazoo), yang berarti menjadikan kudus. Dalam Alkitab, menjadi kudus berarti dipisahkan dari hal-hal lain dan untuk tujuan tertentu. Dalam Perjanjian Lama, Israel adalah bangsa yang kudus. Mereka telah dipilih, dikhususkan, dan dikuduskan melalui perjanjian di Gunung Sinai (lihat Keluaran 20). Mereka hanya milik Allah dan harus dipisahkan dari ilah-ilah dan berhala-berhala lain. Tuhan juga memberikan hukum-hukum untuk memastikan bahwa orang Israel hidup sesuai dengan identitas baru mereka dan menghindari penodaan terhadap ilah-ilah lain. Mereka juga diminta untuk menghindari kontak yang tidak perlu dengan bangsa-bangsa lain dan tidak meniru praktik-praktik hidup mereka, terutama penyembahan berhala, praktik takhayul, dan perilaku tidak bermoral. Jika mereka setia, mereka akan diberkati dan menjadi berkat. Namun, terkadang mereka gagal dan jatuh dalam penyembahan berhala, sehingga menajiskan diri mereka sendiri (lihat Kel. 32). Dengan kenajisan itu, mereka tidak layak di hadapan Allah dan mengundang segala macam bencana dalam hidup mereka.
Sebagai murid Kristus, kita dikuduskan bagi Tuhan ketika kita dibaptis. Melalui air sakramen pembaptisan dan formula Tritunggal yang diucapkan oleh imam, kita menjadi milik Allah semata, dan kita dipisahkan dari hal-hal dan tindakan yang menjauhkan kita dari Allah. Seperti bangsa Israel kuno yang hidup menurut Hukum Allah, kita juga diharapkan untuk hidup menurut Hukum Yesus Kristus yang Dia wariskan kepada Gereja-Nya. Jika kita setia, kita akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak orang. Namun, pada saat kita mendekatkan diri dengan penyembahan berhala dan berbagai praktik takhayul serta terlibat dalam perilaku amoral, kita menajiskan diri kita sendiri dalam dosa. Dengan kenajisan, kita tidak layak di hadapan Allah dan menarik segala macam kejahatan dalam hidup kita.
Namun, baptisan bukanlah satu-satunya bentuk pengudusan yang kita miliki. Salah satu pengudusan yang sering luput dari perhatian kita adalah pernikahan. Pernikahan itu unik karena kedua pasangan berjanji dengan kata-kata kebenaran untuk memberikan diri mereka secara total dan eksklusif kepada satu sama lain. Suami adalah milik istri sepenuhnya, dan istri adalah milik suami sepenuhnya. Dengan kata lain, pasangan suami-istri menguduskan diri mereka satu sama lain. Dalam pernikahan Katolik, pengudusan ini bersifat permanen karena dilakukan di hadapan Tuhan dan disahkan oleh Tuhan. Tidak heran jika pernikahan ini juga disebut sebagai pernikahan kudus. Jika pasangan setia pada pengudusan mereka, mereka sungguh menjadi kudus, dan hanya dalam kekudusanlah mereka dapat menerima kebahagiaan sejati. Namun, jika tidak setia, pasangan suami istri menajiskan diri mereka sendiri. Dengan kenajisan, mereka menjadi tidak layak bagi pasangannya dan membuka diri mereka terhadap segala macam hal yang buruk.
Pengudusan diri adalah jalan hidup kita sebagai murid Yesus. Setia pada pengudusan adalah kunci kebahagiaan sejati.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
