The Road to Emmaus, the Road to the Eucharist

3rd Sunday of Easter [A]
April 23, 2023
Luke 24:13-35

Two of Jesus’ disciples went to a village called Emmaus. One of them was Cleopas, and his traveling companion was probably his own wife, Mary [see John 19:25]. Why did they go to Emmaus? Perhaps they were afraid of the Roman and Jewish authorities who were pursuing the disciples after Jesus’ body was found missing. Therefore, they hid in Emmaus. Another reason was hopelessness. Although the Gospels do not explicitly say that Emmaus was the hometown of Cleopas, there is a high probability that Emmaus was indeed his hometown. Their hopes and expectations were shattered when Jesus, their expected Messiah, was betrayed and crucified. They no longer had any reason to stay in Jerusalem. Finally, they decided to leave the other disciples and return to their home in Emmaus.

However, Jesus had a special plan for them. On the way, Jesus appeared to them, although they could not recognize Him. Jesus started a dialog by asking them how they were doing. In sadness, they began to tell Him how they expected Jesus to redeem Israel, but He failed, and died on the cross. Even in their disappointment, Cleopas only regarded Jesus as a prophet, no longer the Messiah. Then, Jesus rebuked them for their slowness to believe what the Old Testament prophets had foretold about the Messiah. Then, Jesus began to explain ‘Moses and the prophets’ (i.e. the Old Testament Scriptures) to them. This was the first post-resurrection bible study and was given by Jesus himself!

Luke gives us interesting details on how Jesus’ method of conducting a bible study. “Then he explained to them what was written about him in all the Scriptures… [Lk 24:27].” The center of gravity of this bible study is Jesus. He shows how Moses and the prophets had prophesied about Him, and how now Jesus has fulfilled those prophecies through His suffering, death, and resurrection. In Church tradition, this method is called ‘typological catechesis’ [cf. CCC 129). Simply put, typology is a way of seeing Old Testament characters, places and events fulfilled in the New Testament, particularly in Jesus Christ. In fact, the early Church also used this method of Jesus right on. For example, Paul in his letters, referred to Jesus as the new Adam or the second Adam [cf. Romans 5:12-21; 1 Cor 15:45-49]. However, Jesus is more than just the new Adam. He is also the new Moses, the new David, and many more.

However, Jesus Bible Study is not just about good methods. In fact, it is not only about deepening the knowledge of the Scriptures. The story of Cleopas and his companion did not end with the end of the Bible Study, although they wanted Jesus to stay longer with them. So, Jesus stayed with them, but in a new and eternal way. He took bread, blessed it, broke it, and gave it to them. Any honest Catholic who regularly goes to Church will immediately recognize this act of Jesus as the Eucharist, and the Eucharist is Jesus himself. Likewise, the eyes of Cleopas and his companion were opened, and they recognized Jesus in this first post-resurrection Eucharist. So, the ultimate goal of Jesus’ bible study is to lead us to the Eucharist.

The story of Cleopas and his journey to Emmaus has always been my personal inspiration. Before I went to Rome, I used to give a Bible study every Saturday night. In this program, I explained the readings for the following Sunday. Yet, this activity is not only to go deeper into the Bible especially through the method of Jesus, but the real purpose is to help us experience a deeper encounter with Jesus in the Eucharist. If a Bible Study does not lead us to Jesus in the Eucharist, then it is not a Jesus’ Bible Study.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerahiman Ilahi dan Sakramen Pengakuan Dosa

Minggu Kedua Paskah [A]

Minggu Kerahiman Ilahi

16 April 2023

Yohanes 20:19-31

Pada 30 April 2000, Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan Minggu Paskah Kedua sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Lalu, pertanyaannya adalah “Mengapa Paus Yohanes Paulus II memilih hari Minggu Paskah kedua sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi?” Jawabannya terkait dengan catatan harian St. Faustina yang menulis instruksi Yesus untuk menjadikan hari Minggu kedua Paskah sebagai Hari Raya Kerahiman Ilahi. Melalui St Faustina, Yesus tidak hanya meminta untuk merayakan Minggu Kerahiman, tetapi juga mengundang umat beriman untuk melaksanakan pengakuan dosa dan menerima komuni pada hari itu. Namun, apa yang sebenarnya membuat hari Minggu kedua Paskah ini layak disebut sebagai Minggu Kerahiman Ilahi dapat kita temukan pada Injil hari ini. Mari kita telusuri lebih jauh.

Yohanes Penginjil menceritakan dua peristiwa penampakan Kristus yang telah bangkit kepada para murid-Nya, yaitu pada hari Minggu kebangkitan dan pada hari Minggu berikutnya. Tentunya, tokoh utama penghubung dua penampakan adalah Tomas, rasul. Namun, selain kisah Tomas, ada detail khusus yang sering kita lewatkan. Yesus bangkit dari kematian untuk memberikan rahmat khusus Roh Kudus kepada Gereja-Nya, “Damai sejahtera bagimu! Seperti yang telah diutus oleh Bapa, demikianlah sekarang Aku mengutus kamu.” Dan setelah berkata demikian, Ia menghembuskan nafas-Nya atas mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus! Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; jika kamu tidak mengampuni dosa orang, dosanya tetap ada (Yoh 20:21-23).”

Yesus datang bukan hanya untuk membuktikan kebangkitan-Nya dan menawarkan damai kepada murid-murid-Nya yang takut. Dia juga mengutus murid-murid-Nya sebagaimana Bapa mengutus-Nya ke dunia. Ketika Dia mengutus para murid-Nya, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka. Tindakan Yesus ini secara khusus merupakan pengulangan dari apa yang Allah lakukan ketika Allah menciptakan manusia pertama (lihat Kej. 2:7). Dengan demikian, Dia datang untuk menjadikan murid-murid-Nya sebagai ciptaan baru, dan kemudian mengutus mereka untuk sebuah misi. Apakah misi itu?

Ini adalah misi pengampunan dosa, atau misi kerahiman. Yesus secara khusus menciptakan kembali murid-murid-Nya untuk memungkinkan mereka menerima kuasa ilahi, yaitu mengampuni dosa. Kita ingat dalam Injil bahwa Yesus dituduh melakukan penghujatan ketika Dia mengampuni dosa karena orang-orang Farisi mengetahui bahwa pengampunan dosa adalah hak prerogatif Tuhan. Namun, Yesus bangkit dari kematian dan membuktikan keilahian-Nya. Dengan demikian, Dia sungguh memiliki otoritas untuk mengampuni dosa. Namun, Dia tidak berhenti sampai di situ. Dia menghendaki agar Gereja-Nya melanjutkan misi kerahiman-Nya. Dengan demikian, Dia memberikan otoritas ilahi untuk mengampuni dosa ini, kepada para murid-Nya.

Inilah dasar alkitabiah dari sakramen rekonsiliasi. Peristiwa ini juga menjawab sebuah keberatan, “mengapa kita perlu mengakui dosa-dosa kita dan meminta pengampunan kepada manusia yang juga berdosa?” Jawabannya sederhana: karena Allah menghendakinya. Memang benar bahwa manusia tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, tetapi situasinya berubah secara radikal ketika Allah membagikan otoritas ilahi ini kepada para wakil-Nya di bumi dan menugaskan mereka untuk membawa lebih banyak orang kepada Kerahiman Ilahi.

Sebenarnya, sakramen pengakuan dosa telah dipraktikkan sejak Gereja primitif. St. Yakobus mencatat dalam suratnya bahwa umat beriman mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Gereja, dan kemudian para penatua Gereja akan membawa kesembuhan dan pengampunan melalui doa mereka (lihat Yak 5:14-16). Setelah ribuan tahun, ritus sakramen rekonsiliasi memang telah berevolusi, tetapi tetap mempertahankan struktur dasarnya, yaitu penyesalan, pengakuan dosa, dan penitensi (lihat KGK 1448). Lebih mendasar lagi, sakramen ini tetap menjadi bukti Kerahiman Allah kepada kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Divine Mercy and Sacrament of Confession

Second Sunday of Easter [A]
Divine Mercy Sunday
April 15, 2023
John 20:19-31

On April 30, 2000, Pope St. John Paul II has declared the Second Sunday of Easter as the Divine Mercy Sunday. Then, the question is “Why did St. John Paul II choose second Sunday of Easter as the Divine Mercy Sunday?” Partially, the answer is related to the diary of St. Faustina, who recorded Jesus’ instruction to make the second Sunday of Easter as the divine Mercy Sunday. Through St. Faustina, Jesus did not only ask to create the divine Mercy Sunday, but also invite the faithful to make confessions and receive the communion in this day. However, what makes the second Sunday of Easter is worth to be called the Divine Mercy Sunday is the Gospel of the day. Let’s explore further.

John the evangelist narrated the two appearances of the risen Christ to His disciples, at the Sunday of resurrection and the following Sunday. Obviously, the connecting protagonist is St. Thomas, apostle. However, aside from the story of Thomas, there is a particular detail that we often miss. Jesus rose from the dead to give this particular grace of the Holy Spirit to His Church, “Peace be with you. As the Father has sent me, even so I send you.” And when he had said this, he breathed on them, and said to them, “Receive the Holy Spirit. If you forgive the sins of any, they are forgiven; if you retain the sins of any, they are retained (John 20:21-23).”

Jesus came not only to show His resurrection and offered peace to His fearful disciples. He sent His disciples as the Father sent Jesus to the world. As He commissioned His disciples, Jesus breathed on them the Holy Spirit. This Jesus’ act is particularly re-enactment of what God did when God made the first humans alive (see Gen 2:7). Thus, He came to recreate His disciples and to send them for a mission. What’s mission?

It is the mission to forgive sins, or the mission of mercy. Jesus particularly recreated His disciples as to enable them to receive the divine power, that is to forgive sins. We recall in the Gospel that Jesus was accused as blasphemy when He forgave sins because the Pharisees recognized that the forgiveness of sins is God’s prerogative. Yet, Jesus rose from the dead and proved His divine nature. Thus, He indeed possesses the authority to forgive sins. But, He does not stop there. He wills that His Church continue His mission of mercy, and thus, He shares this divine authority to His disciples.

This is the biblical foundation of the sacrament of reconciliation. This event also answers an objection, “why do we need to confess our sins and ask forgiveness to another sinful man?” The answer is simple: because God wills it to be so. It is true that men have no power to forgive sins, but the situation radically changes when God shares this divine authority to His representatives on earth and commissions them to bring more and more people to the divine Mercy.

In fact, the practice of confession of sins has been practiced since the primitive Church. St. James recorded in his letter that the faithful were confessing their sins before the Church and the prayer of the righteous men, that is, the elders of the Church, would bring healing and forgiveness (see James 5:14-16). Throughout the centuries, the rite of the sacrament of reconciliation has indeed evolved, but it retains its basic structure, that is, contrition, confession and satisfaction (see CCC 1448). More fundamentally, the sacrament remains the testament of God’s Mercy to us.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Daun Palma

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan
2 April 2023
Matius 21:1-11

Minggu Palma menandakan dimulainya pekan suci dalam liturgi Gereja. Pada saat yang sama, perayaan liturgi pada hari Minggu ini merupakan salah satu yang paling unik di antara hari Minggu lainnya. Hari ini dinamakan ‘Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan’ karena ada dua bacaan Injil yang berbeda: Yesus yang memasuki kota Yerusalem dan Kisah Sengsara dari Injil Sinoptik (Matius, Markus, atau Lukas, tergantung pada tahun liturgi). Namun, jika kita membaca Injil Matius ini dengan cermat, kita tidak akan menemukan kata ‘palma’. Jadi, di manakah kita dapat menemukan kata ‘Palma’?

photocredit: Grant Whitty

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman pribadi saya dengan Minggu Palma. Pengalaman pertama saya dengan kegiatan kudus ini tentu saja di Indonesia, secara khusus di Jawa. Umat akan membawa daun palma ke Gereja untuk diberkati dan kemudian dibawa pulang untuk diletakkan pada salib. Jenis daun yang biasa digunakan adalah dari palem bambu. Dulu saya percaya bahwa ini adalah satu-satunya jenis ranting dan daun yang digunakan Gereja di seluruh dunia. Namun, ketika saya datang ke Filipina untuk pendidikan imamat, saya menemukan bahwa orang Filipina menggunakan daun pohon kelapa. Kemudian, ketika saya datang ke Roma, saya menemukan bahwa umat beriman menggunakan jenis ranting yang berbeda-beda!

Kembali ke pertanyaan kita, ‘di mana kita menemukan palma dalam Injil?’ Jawabannya adalah tidak dalam Injil Sinoptik, tetapi dalam Injil Yohanes (lihat Yoh 12:13). Namun, meskipun bacaan Injil hari ini tidak menyebutkan kata “palma,” kemungkinan besar banyak orang di Yerusalem yang menggunakan ranting-ranting palma karena pohon kurma (juga termasuk jenis pohon palma) berlimpah di daerah tersebut. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah ‘mengapa kita menggunakan ranting dan daun pohon palma?’

Dalam Perjanjian Lama, Mazmur 118:25-27 menggambarkan bagaimana orang-orang menyambut Mesias dengan arak-arakan ranting-ranting pohon saat Dia memasuki Yerusalem. Demikian pula dalam 1 Makabe 13:51, orang-orang Yerusalem memasuki benteng dengan ranting-ranting pohon palma setelah musuh-musuh mereka diusir. Kisah-kisah ini menggambarkan bahwa ranting-ranting pohon, terutama palma, adalah simbol kedatangan Mesias dan kemenangan-Nya.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, kehadiran ranting-ranting pohon dalam peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem menjadi simbol akan misi keselamatan-Nya. Pada mulanya, Adam dan Hawa tinggal di taman di mana berbagai macam tanaman dan pohon tumbuh. Dosa dan ketidaktaatan mereka yang pertama adalah memakan buah dari sebuah pohon. Sekarang, dalam penebusan-Nya, Yesus membalikkan kutukan itu. Sengsara-Nya dimulai di taman Getsemani. Tindakan kasih dan ketaatan-Nya yang terakhir juga melibatkan pohon (kayu salib).

Saat kita memegang dahan palma, semoga ini tidak menjadi ritual tahunan untuk pamer. Palma mengingatkan kita akan komitmen kita untuk berpartisipasi dalam misi penebusan Yesus, untuk berjalan ke dalam sengsara-Nya, dan memikul salib kita masing-masing bersama-Nya. Hal ini tidak pernah mudah, tetapi kita tidak pernah sendirian dan pahala yang akan kita terima tidak dapat kita bayangkan. Semoga kita juga terinspirasi oleh saudara-saudari kita yang memilih untuk mati bagi Kristus, dan bukannya hidup menyangkal Dia. Para martir ini telah berjuang dalam pertandingan yang baik, telah sampai pada garis akhir, dan telah memelihara iman (lih 2 Tim. 4:7). Sekarang, mereka telah menerima daun-daun palma sebagai tanda kemenangan mereka (lihat Why. 7:9)!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why Palm

Palm Sunday of the Lord’s Passion
April 2, 2023
Matthew 21:1-11

Palm Sunday signals the beginning of the most sacred week in the liturgy of the Church. At the same time, the liturgical celebration of this Sunday is one of the most unique among the other Sundays. The day is named Palm Sunday of the Lord’s Passion because it includes two different Gospel readings: the triumphant entrance of Jesus to Jerusalem and the Passion Narrative from the Synoptic Gospels (Matthew, Mark, or Luke, depending on the liturgical year). However, if we carefully read today’s Gospel, we will not find the word ‘palm’. So, where do we find ‘Palm’?

Before we answer this question, I will share a little of my personal experience with Palm Sunday. My first experience with this solemn event is surely in my own country Indonesia. There, people will bring palm branches to the Church to be blessed and later, we bring these home to be placed on our crucifixes. The type of branches commonly used are from areca palms or bamboo palms. I used to believe that this is the only type branch the Church uses worldwide. Yet, when I come to the Philippines for my priestly formation, I discover that the Filipinos make use of coconut palm branches. Then, when I come to Rome, I find out that the faithful are using different kind of branches!

Going back to our question, ‘where do we find palm in the gospel?’ The answer is that not in the synoptic gospels but in the Gospel of John (see John 12:13). However, while today’s Gospel reading does not mention the word “palm,” it is likely that many people in Jerusalem used palm branches because date palm trees were abundant in the area. Yet, the most important question remains ‘why do we use palm branches?’

In the Old Testament, Psalm 118:25-27 describes how people would welcome the Messiah with a procession of branches when he entered Jerusalem. Similarly, in 1 Maccabees 13:51, people of Jerusalem entered the citadel with palm branches after their enemies were driven out. These stories illustrate that tree branches, especially palm, are symbols of the coming of the Messiah and his victory.

However, if we see from a bigger perspective, the presence of branches in Jesus’ entry to Jerusalem becomes a powerful symbol of His mission of salvation. In the beginning, Adam and Eve lived in the garden where various plants grew. Their first sin and disobedience involved the tree. Now, in His redemption reverses the curse. His Passion begins in the garden of Gethsemane. His final act of love and obedience involve the tree of the cross.

As we are holding our palm branches, may it not become a meaningless annual ritual. They remind us on our commitment to participate in mission of Jesus’ redemption, to walk into His Passion, and to carry our own crosses with Him. It is never easy, but we are never alone and the reward is beyond our imagination. May we be inspired also by our brothers and sisters who chose to die for Christ, rather live denying Him. These martyrs have fought a good fight, have finished the race, and have kept the faith (see 2 Tim 4:7). Now, they have received the palm branches as the sign of their victory (see Rev 7:9)!

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

5th Sunday of Lent [A]
March 26, 2023
John 11:1-45

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles correspond to the seven sacraments. Last Sunday, we have seen that the healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism (see John 9:1-41). Now, we discover another Jesus’ sign-miracle, that is, the raising Lazarus to life. This miracle points to the sacrament of confirmation.

The sacrament of confirmation is often misunderstood and even neglected. There are many reasons for this. Some of us may feel that it is not necessary. We feel that we are already fulfilling sacred obligation when we are baptized, go to the Mass every now and then, and perhaps go to the confession once a year. Other receive an insufficient catechesis, and therefore, our understanding on the sacrament is very limited and even fussy. Others do not want to trouble themselves with another series of catechesis before the Confirmation. Others receive the sacrament without proper catechesis because their weddings are fast approaching. Thus, many see the confirmation as the second-rate sacrament.

However, this is not true at all. The Church continues to teach that this sacrament has indispensable role in the lives of the faithful. In fact, it is the second of the three sacraments of the initiation (together with baptism and Eucharist). To be full and mature member of the Church, we must receive the grace of the Holy Spirit imparted in the sacrament of confirmation. Now, how does today’s Gospel relate to the sacrament?

Firstly, Lazarus, together with Mary and Martha, has a loving friendship with Jesus before the miracle. This condition shows us that Lazarus is the symbol of baptized Christians who live in Christ. Secondly, Lazarus’ death and his going back to life point to the new life in the Spirit. John the Evangelist narrated explicitly that Lazarus has been in the tomb for four days (John 11:17). This is important detail, that is, Lazarus is truly dead, and his soul is no longer with his body. Thus, miracle of Jesus is a divine act that brings back life, uniting body and soul. While it is true that the Holy Spirit is not mentioned, but Jesus’ miracle brings us back to the creation of man where the Spirit of God was active and life-giving.

Finally, the miracle has enduring effects in Lazarus. After his return from the dead, Lazarus becomes a living witness to Jesus’ power and love. Because of Lazarus’ testimony, many come to Jesus and believe in Him. And for the same reason, Lazarus faces persecutions from Jesus’ enemies [see John 12:9-11]. Yet, Lazarus does not coward. He has been through death, but not even death can separate him from the love of Christ.

What happen to Lazarus are also happening in us. When we are baptized, we receive a loving friendship with Christ. Yet, in the sacrament of confirmation, our souls receive the gifts of the Holy Spirit and we become a mature Christians. We are now transformed to be a living witnesses of Jesus Christ and bring more people to God. We also are empowered to endure hardship and persecution because of Christ.

This is why before receiving the sacrament of holy matrimony or the sacrament of holy orders, we need to receive the confirmation. These two are the sacraments of service and witnessing, that bring other closer to holiness. Thus, only mature Christians are fit for this tasks. We are not only called to be Jesus’ friends, but also His brave witnesses to the world, and this sacrament makes us one.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [A]
19 Maret 2023
Yohanes 9:1-41

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes. Secara naluriah, Gereja melihat ketujuh mukjizat ini sebagai simbol dari tujuh sakramen. Lalu, kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini yang kita dengarkan Minggu ini berhubungan dengan sakramen apa? Jawabannya adalah sakramen Pembaptisan. Dan, karena tema dasar dari masa Prapaskah adalah pembaptisan, Gereja pun tidak ragu-ragu untuk menempatkan bacaan ini pada masa suci ini. Namun, benarkah mukjizat ini berhubungan dengan pembaptisan? Dan bagaimana kita sungguh tahu?

Kisah ini dimulai dengan Yesus dan para murid yang melihat seorang yang menderita kebutaaan sejak lahir. Kemudian, murid-murid-Nya mulai bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yoh 9:2)? Murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan yang dialami orang ini adalah akibat dari dosa-dosa pribadinya, atau setidaknya dosa orang-tuanya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa baik orang yang buta ini maupun orang tuanya tidak melakukan sebuah dosa yang menyebabkan kebutaan. Meskipun penderitaan dan kematian memang berkaitan dengan dosa, tetapi hubungan tersebut tidaklah sejajar, melainkan sebuah misteri. Orang itu tidak melakukan dosa, tetapi ia menanggung konsekuensi dari dosa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Gereja mengajarkan kondisi ini sebagai dosa asal. Setiap keturunan Adam dan Hawa dilahirkan ke dunia sebagai ‘musuh’ Allah. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita adalah ‘orang berdosa’, bukan karena kita melakukan dosa pribadi, tetapi karena kita jauh dari Allah dan tidak memiliki persahabatan rohani dengan-Nya. Oleh karena dosa asal tersebut, kita rentan terhadap berbagai penderitaan dan juga bergumul dengan concupiscentia (lihat juga renungan saya dua minggu yang lalu). Kondisi pria yang buta ini menjadi simbol dari kondisi dosa asal.

Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta ini? Yesus meludah ke tanah dan membuat tanah liat dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan tanah liat tersebut ke matanya. Lalu, Dia meminta orang buta itu untuk membasuh dirinya dengan air. Mengapa Yesus melakukan pengobatan yang aneh dan tidak higienis seperti itu? Jawabannya ada di Perjanjian Lama. Yesus melakukan apa yang Allah lakukan di kisah penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengunakan tanah. Ada sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Allah menggunakan air liur-Nya untuk membuat tanah menjadi lebih mudah dibentuk. Yesus melakukan hal yang sama di sini. Dia membawa orang yang buta menjadi sembuh dengan ‘menciptakannya kembali’. Kemudian, kesembuhan menjadi nyata ketika orang itu membasuh dirinya dengan air.

Apa yang terjadi pada orang yang disembuhkan itu, juga terjadi pada setiap orang saat pembaptisan. Apa yang kita lihat di mata kita, adalah seseorang dibasuh dengan air, tetapi secara rohani, Tuhan sedang membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Semua dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dibersihkan. Jiwa kita diubah menjadi serupa dengan Kristus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, bukan dalam arti kiasan, tetapi dalam arti yang sesungguhnya.

Terakhir, menjelang akhir cerita, Yesus bertanya kepada orang itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Lalu, orang itu menyatakan imannya kepada Yesus dan menyembah Dia. Iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari baptisan. Tidak masalah, jika kita percaya sebelum pembaptisan (seperti dalam kasus baptisan orang dewasa) atau setelah pembaptisan (dalam kasus baptisan bayi). Namun, yang terpenting adalah baptisan hanyalah permulaan, dan iman kita harus terus bertumbuh.

Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tersebut setelah kesembuhan yang diterimanya, tetapi kita dapat percaya bahwa ia menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Setelah pembaptisan dan iman awal kepada Yesus, Gereja mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kekudusan kita. Kita bertumbuh dalam iman melalui hidup di dalam Kristus, menghindari dosa, melakukan karya amal, dan menerima sakramen-sakramen lainnya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Healing of the Blind Man and Baptism

4th Sunday of Lent [A]
April 19, 2023
John 9:1-41

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles corresponds to the seven sacraments entrusted to her. The healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism. Since the basic theme of Lenten season is baptism, the Church does not hesitate to place this reading during this holy season. But, is true that this miracles is related to baptism? And how do we know?

The story begins with Jesus and disciples saw a poor blind man. Then, His disciples start to ask Him, ‘Rabbi, who sinned, this man or his parents, that he was born blind (John 9:2)?’ Jesus’ disciples believe that his sufferings are consequences of his personal sins, or at least his parents. Yet, Jesus immediately teaches them the truth. Jesus points out that neither blind man nor his parents have sinned to cause him blindness. Although sufferings and death are indeed related to sin, but the relation is not linear, but a mystery. The man does not commit personal sins, but he bears the consequence of sin. How is it possible?

The Church recognizes this condition as the original sin. Every descendant of Adam and Eve was born into the world as ‘enemies’ of God. Since we are in the womb of our mothers, we were ‘sinners’, not because we commit any personal sins, but because we are far from God and do not have a spiritual friendship with Him. Thus, because of the original sin, we are susceptible to various sufferings as well as struggling with concupiscence (check also my reflection two weeks ago).

How does Jesus heal this blind man? Jesus spats on the ground and makes clay with the saliva, and smears the clay on his eyes. Finally, He asks the blind man to wash himself with water. Why does Jesus perform such a weird and unhygienic treatment? Jesus performs what God did in the beginning: the creation of man. When God created Adam, He molded a soil of the ground. There is a Jewish tradition that says that God used His own saliva to make soil easier to form. Jesus does the same here. He is bringing the man with blindness into healing by ‘re-creating’ him. Then, the final healing takes place when the man wash himself with water.

What happens to the healed man, takes place also in every person during the baptism. What we see in our eyes is someone is washed with water, but spiritually, God is making us a new creation. All sins, both original and personal sins, are cleansed. Our souls are transformed into the likeness of Christ and are elevated into the adopted children of God. Thus, we call God our Father, not in the metaphorical sense, but in the real one.

Lastly, towards the end of the story, Jesus asks him, ‘Do you believe in the Son of Man?’ Eventually, the man professes his faith in Jesus and worships Him. Faith is integral part of baptism; whether we believe before the baptism (like in the case of adult baptism) or after baptism (in the case of infant baptism). However, baptism is just the beginning, and our faith must also grow.

We are not sure what the man does after the healing he received, but we may believe that he becomes Jesus’s disciple and follow Him. After baptism and initial faith in Jesus, the Church encourages us to continue our journey of holiness. We grow in faith through living in Christ, works of charity, and proper reception of other sacraments.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP