Penuh Rahmat

Minggu ke-4 Masa Adven [B]
24 Desember 2023
Lukas 1:26-38

“Penuh Rahmat” adalah gelar yang tak terpisahkan dari Maria. Setiap kali kita mengucapkan doa ‘Salam Maria’, kita langsung menyadari bahwa gelar pertama setelah nama Maria adalah ‘penuh rahmat’. Tidak hanya gelar ini yang paling dikenal, tetapi juga yang paling kuno. Bahkan gelar ini berasal dari Alkitab, yaitu pada bab pertama Injil Lukas. Malaikat Gabriel menampakkan diri dan menyapa Maria, “Salam, penuh rahmat!” Namun, jika kita membaca ayat ini dengan saksama, sebutan ‘Penuh Rahmat’ sebenarnya tidak ada di sana (lih. Luk 1:28). Lalu, apa yang dikatakan malaikat kepada Maria? Mengapa kita mengunakan kata ‘Penuh Rahmat’?

Kata ‘Penuh Rahmat’ muncul dalam Alkitab versi Vulgata. Vulgata sendiri adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin oleh Santo Heronimus pada awal abad ke-5. Dalam bahasa Latin, kata ini adalah ‘gratia plena’. Karena bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik Roma, ‘gratia plena’ akhirnya menjadi gelar standar Maria dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, ‘penuh rahmat.’ Ketika ‘Salam Maria’ dan doa rosario menjadi devosi yang paling populer di dunia Katolik, gelar ‘penuh rahmat’ tidak dapat lagi dipisahkan dari Maria. Namun, apa yang sebenarnya tertulis di dalam Alkitab?

Lukas menulis dalam bahasa Yunani ‘κεχαριτωμένη’ (baca: kecharitomene) yang secara harfiah berarti ‘dia yang telah diberi rahmat.’ Jadi, apakah Santo Heronimus keliru? Tidak juga. Heronimus memutuskan untuk tidak membuat terjemahan harfiah, melainkan terjemahan yang lebih puitis. Dengan pilihan ini, Santo Heronimus ingin menarik perhatian kita pada kehadiran rahmat secara total dan terus menerus dalam kehidupan Maria. Namun, mengapa gelar ‘κεχαριτωμένη’ sangat penting bagi Maria dan bagi kita?

Pertama, kita perlu memahami arti kata ‘rahmat’. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘χάρις’ (baca: charis) dan arti yang paling mendasar adalah ‘anugerah’, ‘pemberian’ atau ‘hadiah’. Namun, dalam Perjanjian Baru, kata rahmat tidak hanya berarti hadiah secara umum, seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kelulusan, tetapi rahmat adalah hadiah yang paling utama dan paling penting. Rahmat mengacu pada anugerah keselamatan dari Tuhan. Dan, keselamatan itu tidak hanya selamat dari dosa dan kematian, tetapi juga selamat untuk Allah. Ketika kita diselamatkan, bukan hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi kita juga dimampukan untuk berpartisipasi pada kehidupan ilahi sang Allah Tritunggal. Rahmat adalah karunia keselamatan, karunia kekudusan, dan karunia surga. (untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat KGK 1996-2007)

Maria sepenuhnya unik karena dia adalah orang pertama yang telah menerima rahmat bahkan sebelum Tuhan kita disalibkan dan bangkit, dan bahkan, sebelum Dia dilahirkan. Realitas rahmat secara sempurna dimanifestasikan di dalam diri Maria. Rahmat hadir bukan karena Maria layak, tetapi karena ia dipilih. Bukan karena usahanya, tetapi karena rahmat diberikan secara cuma-cuma. Bukan karena rencana Maria, tetapi karena penyelenggaraan Allah. Namun, momen Kabar Sukacita juga menunjukkan kepada kita bahwa rahmat itu benar-benar cuma-cuma, tetapi tidak pernah murahan. Meskipun rahmat telah memenuhi diri Maria sejak awal, Maria masih harus membuat pilihan bebas untuk menerima rahmat tersebut dan membuatnya berbuah dalam hidupnya. Karena itu, ia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!” Jawaban ya dari Maria terhadap rahmat Allah bukan hanya satu kali, tetapi sebuah komitmen seumur hidup, bahkan dalam menghadapi salib.

Juruselamat kita telah wafat dan bangkit bagi kita dan mencurahkan rahmat-Nya untuk penebusan kita. Namun, seperti Maria, kita harus memilih dengan bebas untuk menerima rahmat tersebut dalam hidup kita, dan melaluinya, kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Allah. Inilah sebabnya mengapa kita berusaha menghindari dosa, pergi ke misa secara teratur dan pantas, dan melakukan karya-karya belas kasih. Bukan karena kita ingin mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, melainkan kita ingin bertumbuh dalam rahmat Allah, dan mengungkapkan rasa syukur kita atas rahmat keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rejoice, Pray, and Give Thanks

Gaudete Sunday. 3rd Sunday of Advent [B]

December 17, 2023

John 1:6-8, 19-28

In this Gaudete Sunday, St Paul teaches, “Rejoice always. Pray without ceasing. In all circumstances, give thanks, for this is the will of God for you in Christ Jesus. [1 The 5:16].” St. Paul gives us three fundamental characteristics of Christians: to rejoice always, pray ceaselessly, and give thanks in all things. St. Paul reminds us that these characters are not an option but God’s will for us. Yet, how can we be joyful amid suffering? How can we pray when we are occupied with our duties and work? How can we give thanks in times of trial?

The key is that we cannot rely on our power but on God’s grace that empowers us to do these three impossible tasks. Through God’s grace, we are empowered to rejoice always, even amid difficult times. Rejoice [Greek ‘χαίρω’ – chairo] is neither simply a fleeting emotion nor happiness that comes from externally induced substance. To rejoice is an action we choose to do. This action flows from the realization that God is in control of every event of our lives. Even in the most painful moments, God allows those to occur because He has a good purpose for us. Indeed, God does not tell us in advance His plans, making it complicated. Yet, the Holy Spirit comes and bestows us faith and hope in Him and His providence.

God’s grace also enables us to thank the Lord every moment. To be grateful and to rejoice are, in fact, closely connected, just like two sides of the same coin. We can give thanks in all circumstances because the Holy Spirit helps us to see that everything we do and experience has a purpose. And, when everything we do, we do for the love of God. This act became a blessing and a cause of joy. The word for give thanks in Greek is ‘εὐχαριστέω’ [eucharisteo], and it has the same root as the word Eucharist. Thus, every time we celebrate the Eucharist, we offer our sacrifice of Jesus Christ and our lives as thanksgiving to God.

Lastly, how do we pray without ceasing? To spend a little time for prayer every day is already difficult. Does it mean we have to resign from our jobs, abandon our responsibilities in the family, and enter seclusion to pray? Indeed, there are better things to do than this. To pray unceasingly can be done at least in two ways. Firstly, we pray as a community of believers, the Church, one body of Christ. Thus, when we cannot pray this time, other brothers and sisters in other places will pray for us and on our behalf. Since millions of Catholics pray worldwide, our prayers are unbroken and unstoppable.

Secondly, we rely on the Holy Spirit to pray for us. St. Paul himself told us, “Likewise the Spirit helps us in our weakness; for we do not know how to pray as we ought, but the Spirit himself intercedes for us with sighs too deep for words (Rom 8:26-27).” We ask the Holy Spirit to be present and sanctify every activity of our day, and before we rest, we offer our day to the Lord.

Rejoice always, pray ceaselessly, and give thanks in all things!

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bersukacita, Berdoa, dan Bersyukur

Hari Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Masa Adven [B]
17 Desember 2023
Yohanes 1:6-8, 19-28

Pada Minggu Gaudete ini, Santo Paulus mengajarkan, “Bersukacitalah selalu. Berdoalah tanpa henti. Dalam segala keadaan, mengucap syukurlah, karena itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. (1 Tes 5:16).” Paulus memberi kita tiga karakteristik dasar orang Kristen: bersukacita senantiasa, berdoa tanpa henti, dan mengucap syukur dalam segala hal. Paulus mengingatkan kita bahwa karakter-karakter ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan kehendak Tuhan bagi kita. Namun, bagaimana kita dapat bersukacita di tengah penderitaan? Bagaimana kita dapat berdoa ketika kita disibukkan dengan tugas dan pekerjaan kita? Bagaimana kita dapat mengucap syukur di tengah-tengah pencobaan?

Kuncinya adalah kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri, tetapi pada rahmat Allah yang memampukan kita untuk melakukan ketiga tugas yang mustahil ini. Melalui rahmat Allah, kita dimampukan untuk selalu bersukacita, bahkan di tengah-tengah masa-masa sulit. Bersukacitalah [bahasa Yunani ‘χαίρω’ – chairo] bukanlah sekadar emosi sesaat atau rasa senang yang berasal dari hal-hal yang berasal dari luar. Bersukacita adalah sebuah pilihan. Tindakan ini mengalir dari kesadaran bahwa Tuhan memegang kendali atas setiap peristiwa dalam hidup kita. Bahkan pada saat-saat yang paling menyakitkan sekalipun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi karena Dia memiliki tujuan yang baik bagi kita. Memang, Tuhan tidak memberitahukan kepada kita sebelumnya rencana-Nya. Namun, Roh Kudus datang dan memberikan kita iman dan pengharapan kepada-Nya dan penyelenggaraan-Nya.

Rahmat Tuhan juga memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya setiap saat. Bersyukur dan bersukacita, pada kenyataannya, berhubungan erat, seperti dua sisi mata uang yang sama. Kita dapat mengucap syukur dalam segala situasi karena Roh Kudus menolong kita untuk melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan alami memiliki tujuan. Dan, ketika segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan demi kasih Allah. Tindakan ini menjadi berkat dan penyebab sukacita. Kata untuk mengucap syukur dalam bahasa Yunani adalah ‘εὐχαριστέω’ [eucharisteo], dan kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata Ekaristi. Dengan demikian, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mempersembahkan kurban Yesus Kristus dan hidup kita sebagai ucapan syukur kepada Allah.

Terakhir, bagaimana kita berdoa tanpa henti? Meluangkan sedikit waktu untuk berdoa setiap hari saja sudah sulit. Apakah itu berarti kita harus mundur dari pekerjaan kita, meninggalkan tanggung jawab kita dalam keluarga, dan menyepi masuk goa untuk berdoa? Tentu saja tidak! Berdoa tanpa henti dapat dilakukan setidaknya dengan dua cara. Pertama, kita berdoa sebagai komunitas orang beriman, yakni Gereja, tubuh Kristus yang satu. Dengan demikian, ketika kita tidak dapat berdoa pada saat ini, saudara-saudari kita di tempat lain akan berdoa untuk kita dan atas nama kita. Karena jutaan umat Katolik berdoa di seluruh dunia, doa-doa kita tidak terputus.

Kedua, kita mengandalkan Roh Kudus untuk berdoa bagi kita. Paulus sendiri mengatakan kepada kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa seperti yang seharusnya, tetapi Roh sendiri yang berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terungkapkan dengan kata-kata (Rm. 8:26-27).” Kita meminta Roh Kudus untuk hadir dan menguduskan setiap kegiatan kita, dan sebelum kita beristirahat, kita mempersembahkan hari kita kepada Tuhan.

Bersukacitalah selalu, berdoalah tanpa henti, dan mengucap syukurlah dalam segala hal!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hope and Dream

2nd Sunday of Advent [B]

December 10, 2023

Mark 1:1-8

What are your dreams and hopes in life? The answers can be extremely diverse. Students dream of finishing their studies and graduating from their schools with honors. Others wish to work in big companies or have respectable businesses. Others hope to achieve high-level careers or acquire cozy properties and flashy cars. Yet, we can also dream for other people, like parents, who wish their children to grow healthy and succeed.

Why do we have hopes and dreams and hopes? Unlike animals, we not only wish to survive but also want to become a much better version of ourselves. Our material and biological composition alone cannot explain this ability to hope. There is something beyond this body and this world. Pope Benedict XVI beautifully offers us an answer through his encyclical Spe Salvi, “Man was created for greatness—for God himself; he was created to be filled by God. But his heart is too small for the greatness to which it is destined. It must be stretched.” The reason that God has given us these immortal souls and through our dreams and hopes, we are enlarging our souls and eventually being ready, through the help of grace, to receive God.

Advent is the season of hope because this season teaches us to hope rightly. We can learn from our Gospel. St. Mark opened his Gospel by presenting John the Baptist, who announced the true hope of Israel, that the Lord is coming. During this time, Israelites lived through extremely harsh times under the Roman Empire. The taxes were choking their necks, the Roman-appointed rulers like Herod were cruel, and some Jews were stealing and scamming fellow poorer Jews. At this time, it was easy to fall into despair and stop hoping, or they developed a delusion that the Messiah would come as a military leader that would lead them to bloody victory against their oppressors. John told them to keep hoping because the Lord was coming, but he also reminded them that the best preparation was not political nor military ways but repentance. For, God of Israel is neither a god of war, nor a god of wealth, nor a god of politics, but He is the God of holiness.

We live in a much better time than the ancient Israelites, yet terrible things can always diminish or even corrupt our capacity to hope. Economic difficulties, broken relationships, and failures to achieve our dreams are to name a few. We may live depressed, hopeless, and in survival mode, no different from many animals. Or, we may grow delusions and false expectations. We falsely expect God to be a magician, so we go to the Church and pray because God will grant us anything we wish. We also may fall into the temptation to utilize evil and unjust ways to realize our dreams.

The season of Advent teaches us to hope and dream. The season introduces us to the biggest dream in our lives: to be saints, that is, to welcome God, and to be with God. We must dare to hope despite countless challenges and failures, yet we shall see our hopes and dreams into building blocks to stretch our souls to receive God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan dan Impian

Minggu ke-2 Masa Adven [B]
10 Desember 2023
Markus 1:1-8

Apa impian dan harapan Anda dalam hidup ini? Jawabannya bisa sangat beragam. Para pelajar bermimpi untuk menyelesaikan studi mereka dan lulus dari sekolah dengan prestasi. Ada juga yang ingin bekerja di perusahaan besar atau memiliki bisnis sendiri. Yang lain ingin mencapai karier yang tinggi atau memiliki rumah yang nyaman dan mobil yang keren. Namun, pertanyaannya: Mengapa kita memiliki harapan, impian, dan cita-cita?

Tidak seperti hewan, kita tidak hanya tergerak oleh insting untuk bertahan hidup, tapi kita juga memiliki hasrat untuk menjadi versi yang jauh lebih baik dari diri kita sendiri. Kemampuan untuk berharap ini tidak dapat dijelaskan oleh komposisi biologis kita saja. Ada sesuatu di luar tubuh dan dunia ini. Paus Benediktus XVI dengan indahnya memberikan jawaban melalui ensikliknya Spe Salvi, “Manusia diciptakan untuk sesuatu yang besar – untuk Tuhan sendiri; ia diciptakan untuk dipenuhi oleh Tuhan. Namun hatinya terlalu kecil untuk hal besar yang disiapkan untuknya. Ia harus diluaskan.” Kenapa kita punya harapan? Karena Tuhan menciptakan kita di dunia ini, tetapi bukan untuk dunia ini, tetapi untuk-Nya. Dia telah memberikan kita jiwa yang abadi, dan melalui mimpi dan harapan kita, kita memperbesar jiwa kita dan pada akhirnya siap, melalui bantuan rahmat, untuk menerima Tuhan.

Masa Adven adalah masa pengharapan karena masa ini mengajarkan kita untuk berharap dengan benar. Kita dapat belajar dari Injil hari ini. Markus membuka Injilnya dengan menampilkan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pengharapan sejati bangsa Israel, bahwa Tuhan akan datang. Pada masa itu, bangsa Israel telah hidup dalam masa-masa yang sangat sulit di bawah kekaisaran Romawi. Pajak mencekik leher mereka, para penguasa yang ditunjuk Romawi seperti Herodes sangat kejam dan brutal, dan beberapa orang Yahudi mencuri dan menipu sesama orang Yahudi yang lebih miskin. Pada saat itu, mudah sekali untuk jatuh dalam keputusasaan dan berhenti berharap, atau mereka mengembangkan khayalan bahwa Mesias akan datang sebagai pemimpin militer yang akan membawa mereka ke dalam kemenangan berdarah melawan para penindas mereka. Yohanes mengatakan kepada mereka untuk tetap berharap karena Tuhan memang akan datang, tetapi ia juga mengingatkan mereka bahwa persiapan yang terbaik bukanlah dengan bermanuver politis atau mengumpulkan kekuatan militer, tetapi dengan pertobatan. Tuhan Allah Israel bukanlah dewa perang, bukan dewa uang, dan juga bukan dewa politik, tetapi Allah kekudusan.

Kita hidup di masa yang jauh lebih baik daripada bangsa Israel kuno, namun selalu ada hal-hal buruk yang dapat mengurangi atau bahkan merusak kemampuan kita untuk berharap dan bermimpi. Kesulitan ekonomi, rusaknya relasi, dan kegagalan dalam meraih impian kita, adalah beberapa di antaranya. Hal-hal ini dapat menyebabkan kita hidup dengan kekecewaan, dan bahkan putus asa. Kemudian, kita mungkin mengembangkan pengharapan yang salah. Kita secara keliru mengharapkan Tuhan sebagai tukang sulap, sehingga kita pergi ke Gereja dan berdoa karena Tuhan akan mengabulkan apa pun yang kita inginkan. Kita juga dapat jatuh ke dalam pencobaan untuk menggunakan cara-cara yang jahat dan tidak adil untuk mewujudkan impian-impian kita.

Masa Adven mengajarkan kita untuk berharap dan bermimpi. Bahkan, masa ini mengajarkan kita untuk memiliki mimpi terbesar dalam hidup kita: menjadi kudus, yakni menyambut Tuhan dan hidup bersama-Nya. Kita harus berani berharap meskipun ada banyak tantangan dan kegagalan, namun kita harus melihat harapan dan impian kita sebagai batu-batu bangunan yang dapat memperluas jiwa kita untuk menerima Tuhan.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kedatangan Ketiga Yesus Kristus

Minggu Pertama Masa Adven [B]
3 Desember 2023
Markus 13:33-37

Kita memasuki masa Adven, dan tahun liturgi baru Gereja telah dimulai. Adven sendiri berasal dari kata Latin ‘Adventus,’ dan secara harfiah berarti ‘kedatangan.’ Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, Gereja mengajarkan bahwa Kristus datang dua kali. Kedatangan-Nya yang pertama terjadi di Bethlehem sekitar dua ribu tahun yang lalu, dan kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi pada penghakiman terakhir sebagai raja di atas segala raja dan hakim atas segalanya. Masa liturgi ini mengingatkan dan mempersiapkan kita untuk kedua kedatangan Yesus. Namun, ada kedatangan Kristus yang lain, yang juga disebut kedatangan Kristus yang ketiga. Apakah artinya? Dan, bagaimana kedatangan Kristus yang ketiga menghubungkan dua kedatangan lainnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan merenungkan lebih dalam tentang hubungan antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, karena bagaimana Yesus datang untuk pertama kalinya memberikan kita pelajaran yang sangat berharga untuk mempersiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya yang kedua kali. Bagaimanakah Yesus datang untuk pertama kalinya? Dia dilahirkan oleh Maria, seorang perawan yang sederhana, istri Yusuf, seorang tukang kayu miskin. Dia bukan berasal dari keluarga Herodes yang berpengaruh atau dinasti Kaisar Romawi yang berkuasa. Dia lahir di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua kandang yang kotor di Betlehem, dan bukan di istana kerajaan atau rumah sakit kelas satu. Dia dilahirkan sebagai manusia yang paling lemah, seorang bayi, dan tidak turun dari langit seperti superhero. Kedatangan-Nya yang pertama mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga bahwa Yesus hadir di tempat yang paling hina, di antara orang-orang sederhana, dan pada saat-saat yang paling tidak terduga. Sebagaimana Yesus tiba di Betlehem secara tidak terduga, demikian juga, Dia akan datang pada saat-saat terakhir dalam kedatangan-Nya yang kedua.

Sebagaimana banyak orang gagal mengenali kedatangan Mesias yang pertama, kita juga mungkin gagal untuk bersiap-siap menghadapi penghakiman terakhir. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang kedua? Kebenaran ini menuntun kita kepada “kedatangan Kristus yang ketiga”. Apakah itu? Kedatangan yang ketiga mengacu pada kedatangan dan kehadiran Yesus di antara kita dalam kehidupan kita sehari-hari, meskipun dengan cara yang tidak terduga. Pada masa Adven, kita mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Kristus yang kedua dengan merefleksikan kedatangan-Nya yang pertama dan, dengan demikian, mengenali dan menyambut “kedatangan-Nya yang ketiga” dalam hidup kita. Semakin kita dapat menemukan Kristus dalam kedatangan-Nya yang ketiga, semakin kita dipersiapkan untuk kedatangan-Nya yang terakhir.

Lalu, apa saja manifestasi dari kedatangan Kristus yang ketiga?

  1. Yang pertama dan utama adalah Ekaristi yang kudus. Di sini, Yesus sungguh-sungguh dan benar-benar hadir, namun kita membutuhkan iman yang besar untuk menerima Dia, yang hadir dalam bentuk roti dan anggur.
  2. Dia juga hadir dalam kata-kata Kitab Suci. Gereja dengan teguh percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dalam bentuk tertulis. Dengan membaca dan merenungkannya, kita berjumpa dengan Yesus yang berbicara kepada kita.
  3. Santo Paulus juga mengajarkan kepada kita bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Dengan demikian, berjumpa dengan Kristus tidak dapat dilakukan tanpa berjumpa dengan tubuh-Nya, yaitu Gereja. Namun, juga benar bahwa seringkali, adalah hal yang paling sulit untuk melihat Kristus di dalam Gereja karena beberapa anggota Gereja masih jauh dari keserupaan dengan Kristus. Namun, hal ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melakukan tindakan kasih dan menjadi serupa dengan Kristus.
  4. Terakhir, kita berjumpa dengan Kristus dalam diri saudara dan saudari kita yang kurang beruntung, seperti yang Yesus katakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Third Coming

First Sunday of Advent [B]

December 3, 2023

Mark 13:33-37

We are entering the Advent season, and the new liturgical year of the Church has begun. Advent itself is from the Latin word ‘Adventus,’ and it literally means ‘the coming.’ In light of the Scriptures and Tradition, the Church teaches two arrivals of Christ. His first coming was in Bethlehem around two millennia ago, and the second coming of Jesus will be at the final judgment as the king of kings and the judge of all. This liturgical season reminds and prepares us for both comings of Jesus. However, there is another coming of Christ, also called the third coming of Christ. What does it mean? And, how does the third coming of Christ connect the other two comings?

Before we answer this question, we shall reflect more deeply on the relationship between the first and second coming of Christ because how Jesus came for the first time should give us precious lessons in preparing ourselves for His second coming. How did Jesus come for the first time? He was born of Mary, a humble virgin married to Joseph, a poor carpenter, and neither to the powerful family of Herod nor to the ruling dynasty of Caesar. He was born in the most unworthy place, a dirty cave in Bethlehem, and not in a royal palace or a first-class hospital. He was born as the weakest human being, a baby, and not coming down from the skies like a superhero. The first coming teaches us a precious lesson that Jesus is present in the humblest places, among the simple people, and at the most unexpected moments. As Jesus arrived in Bethlehem most unexpectedly, so also, He will come for the final moment in His second coming.

As many people failed to recognize the first arrival of the Messiah, we might also fail to be ready for this last judgment. Then, how shall we do to anticipate His coming down from the heavens? This truth leads us to “the third coming of Christ.” What is it? The third coming refers to Jesus’ coming and presence among us in our daily lives, albeit in the most unexpected ways. In the Advent season, we prepare ourselves for the second coming of Christ by reflecting on His first coming and, thus, recognizing and welcoming ‘His third coming’ in our lives. The more we can discover Christ in His third coming, the more we are prepared for His final appearance.

Then, what are the manifestations of the third coming of Christ? The first and foremost is the holy Eucharist. Here, Jesus is truly and really present, yet we need great faith to perceive Him, who appears in the forms of bread and wine. He is also present in the words of the Holy Scriptures. The Church firmly believes that the Bible is the Word of God in the written form. By reading and meditating, we encounter Jesus, who speaks to us. St. Paul also teaches us that the Church is the body of Christ. Thus, encountering Christ cannot be done without encountering His body, the Church. However, it is also true that often, it is the most difficult to see Christ in the Church because some members of the Church are far from Christ-like. Yet, this has become an excellent opportunity to perform acts of charity and be Christ-like. Lastly, we encounter Christ in our unfortunate brothers and sisters, as Jesus said, “Amen, I say to you, whatever you did for one of these least brothers of mine, you did for me (Mat 25:40).”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Persiapan untuk Akhir Zaman

Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam
26 November 2023
Matius 25:31-46

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam mengingatkan kita bahwa akhir zaman itu nyata dan pasti akan datang. Ini adalah saat Yesus akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan hakim tertinggi bagi semua makhluk. Bagi orang benar, surga siap menyambut mereka, dan bagi orang jahat, neraka akan mengikat mereka selamanya. Namun, saat kita berbicara akhir zaman, banyak yang terobsesi dengan pertanyaan, “Kapan Dia akan datang?” Dengan peperangan dan konflik yang berkecamuk di berbagai penjuru dunia, dengan bencana alam yang dahsyat, dan dengan penyakit yang melanda seluruh bumi, banyak yang percaya bahwa akhir zaman sudah dekat. Namun, bertanya ‘kapan’ adalah pertanyaan yang salah.

Dalam Injil, Yesus tidak mengungkapkan kapan Dia akan datang. Kapan Dia datang, tidaklah penting bagi Yesus; sebaliknya, ‘bagaimana menghadapi kedatangan-Nya yang kedua’ adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Sebab tidak ada gunanya jika kita mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi penghakiman itu. Dan, terkadang, ketika kita mengetahui waktunya, alih-alih melakukan persiapan yang panjang dan konsisten, kita malah menunda-nunda dan berharap bahwa usaha kita di menit-menit terakhir akan cukup. Oleh karena itu, Yesus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya secara konsisten mengatakan kepada kita bahwa waktunya akan tiba seperti pencuri di malam hari. Dan jika pertanyaan tentang waktu penghakiman terakhir masih mengganggu kita, kita harus mengingat perkataan Yesus, “Karena itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok akan membawa kekhawatirannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini (Mat. 6:34).”

Jadi, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya yang kedua? Santo Yohanes dari Salib meringkasnya dengan baik, “Pada akhir hidup kita, kita akan dihakimi oleh kasih.” Dari terang Injil, Gereja mengakui bahwa ‘kasih’ ini diwujudkan dalam karya belas kasih, terutama kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung. Yesus menyebutkan setidaknya enam tindakan: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi tempat tinggal kepada para tunawisma, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang yang sakit, dan mengunjungi mereka yang dipenjara. Gereja menambahkan tindakan ketujuh, yaitu menguburkan orang yang meninggal. Hal ini terinspirasi dari Yusuf Arimatea, yang mengurus penguburan Yesus dan bahkan memberikan makam baru bagi Yesus.

Gereja tidak hanya membatasi kata ‘miskin’ pada miskin secara jasmani, ekonomi, dan sosial, tetapi juga mencakup pada miskin secara rohani. Oleh karena itu, Gereja juga mengajarkan tujuh karya kerahiman rohani: menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang tidak tahu, menegur orang berdosa, menghibur orang yang bersedih hati, menanggung kesalahan dengan sabar, memaafkan kesalahan dengan sukarela, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Yang menarik, kita tidak harus meninggalkan rumah kita untuk melakukan pekerjaan belas kasih ini. Suami dan istri dapat dengan sabar menanggung kelemahan satu sama lain dan belajar untuk saling mengampuni. Orang tua dapat memberi makan bergizi kepada anak-anak mereka, membelikan mereka pakaian untuk perlindungan, dan menyediakan tempat tinggal yang baik. Orang tua juga dapat memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak mereka, mengoreksi mereka ketika mereka melakukan kesalahan, dan menghibur mereka di saat-saat kegagalan. Sementara, anak-anak dapat mendoakan orang tua mereka, terutama yang telah meninggal dunia.

Inilah Kabar Baik bagi kita. Kristus Raja kita telah memilih kasih sebagai jalan kekudusan dan menjadikan keluarga kita sebagai langkah pertama menuju surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preparation for the End Time

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe

November 26, 2023

Matthew 25:31-46

The solemnity of the Christ of the King of the Universe reminds us that the end time is real and will surely come to all of us. This is the moment when Jesus will come again as the King of kings and the supreme judge of all. For the righteous, heaven is ready to welcome them, and for the evildoers, hell is binding them forever. Then, many of us are obsessed with the question, “When is He coming?” With wars and conflicts raging around the globe, with deadly natural calamities, and with sickness that scourges the entire earth, many believe the end is near. Yet, to ask when is to ask the wrong question.

In the Gospel, Jesus did not reveal when He would come. The time is not important for Jesus; rather, ‘how to face the second coming’ is critical for Jesus. Why? It is useless if we recognize the time of the second coming, yet we must learn how to face the judgment. And, sometimes, when we recognize the time, instead of making a long and consistent preparation, we procrastinate and hope that our last-minute and instant effort will suffice. Therefore, Jesus and other writers of the New Testament consistently tell us that the time will come like a thief in the night. And if the question of the time of the final judgment still bothers us, we shall recall Jesus’ words, “So do not worry about tomorrow, for tomorrow will bring worries of its own. Today’s trouble is enough for today (Mt 6:34).”

So, How do we prepare for the second coming? St. John of the Cross sums it up nicely: “At the evening of our lives, we will be judged by love alone.” From the light of the Gospel, the Church recognizes this ‘love’ manifests itself in the works of mercy, especially to our unfortunate brothers and sisters. Jesus listed at least six acts: to feed the hungry, to give drink to the thirsty, to shelter the homeless, to clothe the naked, to take care of the sick, and to visit those who are imprisoned. The Church adds the seventh act, that is, to bury the dead. This takes inspiration from Joseph Arimathea, who took care of Jesus’s burial and even offered his family’s new tomb.

The Church does not only limit the word ‘poor’ to the bodily, economic, and social poor but also extends to the spiritually poor. Thus, the Church also teaches seven spiritual works of mercy: to counsel the doubtful, to instruct the ignorant, to admonish the sinner, to comfort the sorrowful, to bear wrongs patiently, to forgive offenses willingly, and to pray for the living and the dead.

Interestingly, we don’t have to leave our homes to do the works of mercy. Husband and wife can patiently bear each other’s weaknesses and learn to forgive one another. Parents can feed their hungry children, buy them clothes for protection, and provide a good living place. Parents can also provide their children with a quality education, correct them when they commit mistakes, and console them in their moments of failure. Children can pray for their parents, especially those who have passed away.

This is our Good News. Christ our King has chosen charity as the path of holiness and made our families the first step to heaven.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Real Talent

33rd Sunday in Ordinary Time [A]

November 19, 2023

Matthew 25:14-30

Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern languages. Talent connotes a God-given ability or a natural, unique skill, and it needs to be fully developed. Harnessing our talents may contribute to the progress of society. In fact, talents have become a well-sought commodity in our society. Companies only hire talented employees. Schools are marketed as venues of talent development. TV shows like ‘American Got Talent’ or other similar programs flood our contemporary culture and shape our understanding of talents. To be successful means to have fully developed talents!

Unfortunately, this modern understanding of talent has also reshaped our behaviors as Church members. As Christians, we are expected to use our talents to serve. We may participate in various roles in the liturgy, like as choir members, lectors, or altar servers. Not only in the liturgy, we can also use our talents to serve in various communities and organizations. In fact, this limited sense of talent also affects how we see priests and other religious figures. Talented priests are either charismatic preachers or capable leaders in the parishes. Then, what will happen to many of us who do not have these ‘talents’ fit to serve in the Church? Are we not successful in the Church if we do not have talents?

To answer this, we must go back to the biblical understanding of talent. The Greek word ‘τάλαντον’ (read: talanton) is a Greek monetary unit (also a unit of weight) with an extremely high value. In the time of Jesus, a silver talent was worth approximately six thousand denarii. If a denarius is equal to a daily wage, then a talent means six thousand daily wages. How do we understand the talent in the Gospel, then? We are sure that talent is something precious, and when used correctly, it can grow and even multiply. Yet, Jesus also linked talents with our eternal salvation or damnation. Thus, talent must not only be something related to natural abilities that are useful for our lives on earth but rather something spiritual that is beneficial for our souls and salvation.

No wonder, if we read Fathers of the Church and other spiritual authors, we will see a different understanding of talent. St. Thomas Aquinas, in his commentary of St. Matthew, saw talent as the gift of graces. While it is true that Christians have different capacities to receive spiritual gifts, each of us has the most basic gift of faith, hope and charity. Furthermore, we are expected to grow in these spiritual gifts and to recognize them if we wish to please our Lord and the giver of these talents.

 While St. Jerome recognized it as the Gospel. Different persons receive different intensities of the Gospel message depending on our capacity, but everyone must live and share the Gospel. Some of us who have received five talents of the Gospel are tasked to proclaim it loud and clear to many people. Some of us who receive one talent of the Gospel are called to share it with the closest persons in our lives, like our families and close friends.

Indeed, this is Good News. We thank the Lord for the natural talents we have, but far more critical is how we receive and share our spiritual talents for the salvation of souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP