Harapan dan Impian

Minggu ke-2 Masa Adven [B]
10 Desember 2023
Markus 1:1-8

Apa impian dan harapan Anda dalam hidup ini? Jawabannya bisa sangat beragam. Para pelajar bermimpi untuk menyelesaikan studi mereka dan lulus dari sekolah dengan prestasi. Ada juga yang ingin bekerja di perusahaan besar atau memiliki bisnis sendiri. Yang lain ingin mencapai karier yang tinggi atau memiliki rumah yang nyaman dan mobil yang keren. Namun, pertanyaannya: Mengapa kita memiliki harapan, impian, dan cita-cita?

Tidak seperti hewan, kita tidak hanya tergerak oleh insting untuk bertahan hidup, tapi kita juga memiliki hasrat untuk menjadi versi yang jauh lebih baik dari diri kita sendiri. Kemampuan untuk berharap ini tidak dapat dijelaskan oleh komposisi biologis kita saja. Ada sesuatu di luar tubuh dan dunia ini. Paus Benediktus XVI dengan indahnya memberikan jawaban melalui ensikliknya Spe Salvi, “Manusia diciptakan untuk sesuatu yang besar – untuk Tuhan sendiri; ia diciptakan untuk dipenuhi oleh Tuhan. Namun hatinya terlalu kecil untuk hal besar yang disiapkan untuknya. Ia harus diluaskan.” Kenapa kita punya harapan? Karena Tuhan menciptakan kita di dunia ini, tetapi bukan untuk dunia ini, tetapi untuk-Nya. Dia telah memberikan kita jiwa yang abadi, dan melalui mimpi dan harapan kita, kita memperbesar jiwa kita dan pada akhirnya siap, melalui bantuan rahmat, untuk menerima Tuhan.

Masa Adven adalah masa pengharapan karena masa ini mengajarkan kita untuk berharap dengan benar. Kita dapat belajar dari Injil hari ini. Markus membuka Injilnya dengan menampilkan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pengharapan sejati bangsa Israel, bahwa Tuhan akan datang. Pada masa itu, bangsa Israel telah hidup dalam masa-masa yang sangat sulit di bawah kekaisaran Romawi. Pajak mencekik leher mereka, para penguasa yang ditunjuk Romawi seperti Herodes sangat kejam dan brutal, dan beberapa orang Yahudi mencuri dan menipu sesama orang Yahudi yang lebih miskin. Pada saat itu, mudah sekali untuk jatuh dalam keputusasaan dan berhenti berharap, atau mereka mengembangkan khayalan bahwa Mesias akan datang sebagai pemimpin militer yang akan membawa mereka ke dalam kemenangan berdarah melawan para penindas mereka. Yohanes mengatakan kepada mereka untuk tetap berharap karena Tuhan memang akan datang, tetapi ia juga mengingatkan mereka bahwa persiapan yang terbaik bukanlah dengan bermanuver politis atau mengumpulkan kekuatan militer, tetapi dengan pertobatan. Tuhan Allah Israel bukanlah dewa perang, bukan dewa uang, dan juga bukan dewa politik, tetapi Allah kekudusan.

Kita hidup di masa yang jauh lebih baik daripada bangsa Israel kuno, namun selalu ada hal-hal buruk yang dapat mengurangi atau bahkan merusak kemampuan kita untuk berharap dan bermimpi. Kesulitan ekonomi, rusaknya relasi, dan kegagalan dalam meraih impian kita, adalah beberapa di antaranya. Hal-hal ini dapat menyebabkan kita hidup dengan kekecewaan, dan bahkan putus asa. Kemudian, kita mungkin mengembangkan pengharapan yang salah. Kita secara keliru mengharapkan Tuhan sebagai tukang sulap, sehingga kita pergi ke Gereja dan berdoa karena Tuhan akan mengabulkan apa pun yang kita inginkan. Kita juga dapat jatuh ke dalam pencobaan untuk menggunakan cara-cara yang jahat dan tidak adil untuk mewujudkan impian-impian kita.

Masa Adven mengajarkan kita untuk berharap dan bermimpi. Bahkan, masa ini mengajarkan kita untuk memiliki mimpi terbesar dalam hidup kita: menjadi kudus, yakni menyambut Tuhan dan hidup bersama-Nya. Kita harus berani berharap meskipun ada banyak tantangan dan kegagalan, namun kita harus melihat harapan dan impian kita sebagai batu-batu bangunan yang dapat memperluas jiwa kita untuk menerima Tuhan.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kedatangan Ketiga Yesus Kristus

Minggu Pertama Masa Adven [B]
3 Desember 2023
Markus 13:33-37

Kita memasuki masa Adven, dan tahun liturgi baru Gereja telah dimulai. Adven sendiri berasal dari kata Latin ‘Adventus,’ dan secara harfiah berarti ‘kedatangan.’ Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, Gereja mengajarkan bahwa Kristus datang dua kali. Kedatangan-Nya yang pertama terjadi di Bethlehem sekitar dua ribu tahun yang lalu, dan kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi pada penghakiman terakhir sebagai raja di atas segala raja dan hakim atas segalanya. Masa liturgi ini mengingatkan dan mempersiapkan kita untuk kedua kedatangan Yesus. Namun, ada kedatangan Kristus yang lain, yang juga disebut kedatangan Kristus yang ketiga. Apakah artinya? Dan, bagaimana kedatangan Kristus yang ketiga menghubungkan dua kedatangan lainnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan merenungkan lebih dalam tentang hubungan antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, karena bagaimana Yesus datang untuk pertama kalinya memberikan kita pelajaran yang sangat berharga untuk mempersiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya yang kedua kali. Bagaimanakah Yesus datang untuk pertama kalinya? Dia dilahirkan oleh Maria, seorang perawan yang sederhana, istri Yusuf, seorang tukang kayu miskin. Dia bukan berasal dari keluarga Herodes yang berpengaruh atau dinasti Kaisar Romawi yang berkuasa. Dia lahir di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua kandang yang kotor di Betlehem, dan bukan di istana kerajaan atau rumah sakit kelas satu. Dia dilahirkan sebagai manusia yang paling lemah, seorang bayi, dan tidak turun dari langit seperti superhero. Kedatangan-Nya yang pertama mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga bahwa Yesus hadir di tempat yang paling hina, di antara orang-orang sederhana, dan pada saat-saat yang paling tidak terduga. Sebagaimana Yesus tiba di Betlehem secara tidak terduga, demikian juga, Dia akan datang pada saat-saat terakhir dalam kedatangan-Nya yang kedua.

Sebagaimana banyak orang gagal mengenali kedatangan Mesias yang pertama, kita juga mungkin gagal untuk bersiap-siap menghadapi penghakiman terakhir. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang kedua? Kebenaran ini menuntun kita kepada “kedatangan Kristus yang ketiga”. Apakah itu? Kedatangan yang ketiga mengacu pada kedatangan dan kehadiran Yesus di antara kita dalam kehidupan kita sehari-hari, meskipun dengan cara yang tidak terduga. Pada masa Adven, kita mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Kristus yang kedua dengan merefleksikan kedatangan-Nya yang pertama dan, dengan demikian, mengenali dan menyambut “kedatangan-Nya yang ketiga” dalam hidup kita. Semakin kita dapat menemukan Kristus dalam kedatangan-Nya yang ketiga, semakin kita dipersiapkan untuk kedatangan-Nya yang terakhir.

Lalu, apa saja manifestasi dari kedatangan Kristus yang ketiga?

  1. Yang pertama dan utama adalah Ekaristi yang kudus. Di sini, Yesus sungguh-sungguh dan benar-benar hadir, namun kita membutuhkan iman yang besar untuk menerima Dia, yang hadir dalam bentuk roti dan anggur.
  2. Dia juga hadir dalam kata-kata Kitab Suci. Gereja dengan teguh percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dalam bentuk tertulis. Dengan membaca dan merenungkannya, kita berjumpa dengan Yesus yang berbicara kepada kita.
  3. Santo Paulus juga mengajarkan kepada kita bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Dengan demikian, berjumpa dengan Kristus tidak dapat dilakukan tanpa berjumpa dengan tubuh-Nya, yaitu Gereja. Namun, juga benar bahwa seringkali, adalah hal yang paling sulit untuk melihat Kristus di dalam Gereja karena beberapa anggota Gereja masih jauh dari keserupaan dengan Kristus. Namun, hal ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melakukan tindakan kasih dan menjadi serupa dengan Kristus.
  4. Terakhir, kita berjumpa dengan Kristus dalam diri saudara dan saudari kita yang kurang beruntung, seperti yang Yesus katakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Third Coming

First Sunday of Advent [B]

December 3, 2023

Mark 13:33-37

We are entering the Advent season, and the new liturgical year of the Church has begun. Advent itself is from the Latin word ‘Adventus,’ and it literally means ‘the coming.’ In light of the Scriptures and Tradition, the Church teaches two arrivals of Christ. His first coming was in Bethlehem around two millennia ago, and the second coming of Jesus will be at the final judgment as the king of kings and the judge of all. This liturgical season reminds and prepares us for both comings of Jesus. However, there is another coming of Christ, also called the third coming of Christ. What does it mean? And, how does the third coming of Christ connect the other two comings?

Before we answer this question, we shall reflect more deeply on the relationship between the first and second coming of Christ because how Jesus came for the first time should give us precious lessons in preparing ourselves for His second coming. How did Jesus come for the first time? He was born of Mary, a humble virgin married to Joseph, a poor carpenter, and neither to the powerful family of Herod nor to the ruling dynasty of Caesar. He was born in the most unworthy place, a dirty cave in Bethlehem, and not in a royal palace or a first-class hospital. He was born as the weakest human being, a baby, and not coming down from the skies like a superhero. The first coming teaches us a precious lesson that Jesus is present in the humblest places, among the simple people, and at the most unexpected moments. As Jesus arrived in Bethlehem most unexpectedly, so also, He will come for the final moment in His second coming.

As many people failed to recognize the first arrival of the Messiah, we might also fail to be ready for this last judgment. Then, how shall we do to anticipate His coming down from the heavens? This truth leads us to “the third coming of Christ.” What is it? The third coming refers to Jesus’ coming and presence among us in our daily lives, albeit in the most unexpected ways. In the Advent season, we prepare ourselves for the second coming of Christ by reflecting on His first coming and, thus, recognizing and welcoming ‘His third coming’ in our lives. The more we can discover Christ in His third coming, the more we are prepared for His final appearance.

Then, what are the manifestations of the third coming of Christ? The first and foremost is the holy Eucharist. Here, Jesus is truly and really present, yet we need great faith to perceive Him, who appears in the forms of bread and wine. He is also present in the words of the Holy Scriptures. The Church firmly believes that the Bible is the Word of God in the written form. By reading and meditating, we encounter Jesus, who speaks to us. St. Paul also teaches us that the Church is the body of Christ. Thus, encountering Christ cannot be done without encountering His body, the Church. However, it is also true that often, it is the most difficult to see Christ in the Church because some members of the Church are far from Christ-like. Yet, this has become an excellent opportunity to perform acts of charity and be Christ-like. Lastly, we encounter Christ in our unfortunate brothers and sisters, as Jesus said, “Amen, I say to you, whatever you did for one of these least brothers of mine, you did for me (Mat 25:40).”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Persiapan untuk Akhir Zaman

Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam
26 November 2023
Matius 25:31-46

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam mengingatkan kita bahwa akhir zaman itu nyata dan pasti akan datang. Ini adalah saat Yesus akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan hakim tertinggi bagi semua makhluk. Bagi orang benar, surga siap menyambut mereka, dan bagi orang jahat, neraka akan mengikat mereka selamanya. Namun, saat kita berbicara akhir zaman, banyak yang terobsesi dengan pertanyaan, “Kapan Dia akan datang?” Dengan peperangan dan konflik yang berkecamuk di berbagai penjuru dunia, dengan bencana alam yang dahsyat, dan dengan penyakit yang melanda seluruh bumi, banyak yang percaya bahwa akhir zaman sudah dekat. Namun, bertanya ‘kapan’ adalah pertanyaan yang salah.

Dalam Injil, Yesus tidak mengungkapkan kapan Dia akan datang. Kapan Dia datang, tidaklah penting bagi Yesus; sebaliknya, ‘bagaimana menghadapi kedatangan-Nya yang kedua’ adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Sebab tidak ada gunanya jika kita mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi penghakiman itu. Dan, terkadang, ketika kita mengetahui waktunya, alih-alih melakukan persiapan yang panjang dan konsisten, kita malah menunda-nunda dan berharap bahwa usaha kita di menit-menit terakhir akan cukup. Oleh karena itu, Yesus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya secara konsisten mengatakan kepada kita bahwa waktunya akan tiba seperti pencuri di malam hari. Dan jika pertanyaan tentang waktu penghakiman terakhir masih mengganggu kita, kita harus mengingat perkataan Yesus, “Karena itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok akan membawa kekhawatirannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini (Mat. 6:34).”

Jadi, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya yang kedua? Santo Yohanes dari Salib meringkasnya dengan baik, “Pada akhir hidup kita, kita akan dihakimi oleh kasih.” Dari terang Injil, Gereja mengakui bahwa ‘kasih’ ini diwujudkan dalam karya belas kasih, terutama kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung. Yesus menyebutkan setidaknya enam tindakan: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi tempat tinggal kepada para tunawisma, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang yang sakit, dan mengunjungi mereka yang dipenjara. Gereja menambahkan tindakan ketujuh, yaitu menguburkan orang yang meninggal. Hal ini terinspirasi dari Yusuf Arimatea, yang mengurus penguburan Yesus dan bahkan memberikan makam baru bagi Yesus.

Gereja tidak hanya membatasi kata ‘miskin’ pada miskin secara jasmani, ekonomi, dan sosial, tetapi juga mencakup pada miskin secara rohani. Oleh karena itu, Gereja juga mengajarkan tujuh karya kerahiman rohani: menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang tidak tahu, menegur orang berdosa, menghibur orang yang bersedih hati, menanggung kesalahan dengan sabar, memaafkan kesalahan dengan sukarela, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Yang menarik, kita tidak harus meninggalkan rumah kita untuk melakukan pekerjaan belas kasih ini. Suami dan istri dapat dengan sabar menanggung kelemahan satu sama lain dan belajar untuk saling mengampuni. Orang tua dapat memberi makan bergizi kepada anak-anak mereka, membelikan mereka pakaian untuk perlindungan, dan menyediakan tempat tinggal yang baik. Orang tua juga dapat memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak mereka, mengoreksi mereka ketika mereka melakukan kesalahan, dan menghibur mereka di saat-saat kegagalan. Sementara, anak-anak dapat mendoakan orang tua mereka, terutama yang telah meninggal dunia.

Inilah Kabar Baik bagi kita. Kristus Raja kita telah memilih kasih sebagai jalan kekudusan dan menjadikan keluarga kita sebagai langkah pertama menuju surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preparation for the End Time

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe

November 26, 2023

Matthew 25:31-46

The solemnity of the Christ of the King of the Universe reminds us that the end time is real and will surely come to all of us. This is the moment when Jesus will come again as the King of kings and the supreme judge of all. For the righteous, heaven is ready to welcome them, and for the evildoers, hell is binding them forever. Then, many of us are obsessed with the question, “When is He coming?” With wars and conflicts raging around the globe, with deadly natural calamities, and with sickness that scourges the entire earth, many believe the end is near. Yet, to ask when is to ask the wrong question.

In the Gospel, Jesus did not reveal when He would come. The time is not important for Jesus; rather, ‘how to face the second coming’ is critical for Jesus. Why? It is useless if we recognize the time of the second coming, yet we must learn how to face the judgment. And, sometimes, when we recognize the time, instead of making a long and consistent preparation, we procrastinate and hope that our last-minute and instant effort will suffice. Therefore, Jesus and other writers of the New Testament consistently tell us that the time will come like a thief in the night. And if the question of the time of the final judgment still bothers us, we shall recall Jesus’ words, “So do not worry about tomorrow, for tomorrow will bring worries of its own. Today’s trouble is enough for today (Mt 6:34).”

So, How do we prepare for the second coming? St. John of the Cross sums it up nicely: “At the evening of our lives, we will be judged by love alone.” From the light of the Gospel, the Church recognizes this ‘love’ manifests itself in the works of mercy, especially to our unfortunate brothers and sisters. Jesus listed at least six acts: to feed the hungry, to give drink to the thirsty, to shelter the homeless, to clothe the naked, to take care of the sick, and to visit those who are imprisoned. The Church adds the seventh act, that is, to bury the dead. This takes inspiration from Joseph Arimathea, who took care of Jesus’s burial and even offered his family’s new tomb.

The Church does not only limit the word ‘poor’ to the bodily, economic, and social poor but also extends to the spiritually poor. Thus, the Church also teaches seven spiritual works of mercy: to counsel the doubtful, to instruct the ignorant, to admonish the sinner, to comfort the sorrowful, to bear wrongs patiently, to forgive offenses willingly, and to pray for the living and the dead.

Interestingly, we don’t have to leave our homes to do the works of mercy. Husband and wife can patiently bear each other’s weaknesses and learn to forgive one another. Parents can feed their hungry children, buy them clothes for protection, and provide a good living place. Parents can also provide their children with a quality education, correct them when they commit mistakes, and console them in their moments of failure. Children can pray for their parents, especially those who have passed away.

This is our Good News. Christ our King has chosen charity as the path of holiness and made our families the first step to heaven.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Real Talent

33rd Sunday in Ordinary Time [A]

November 19, 2023

Matthew 25:14-30

Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern languages. Talent connotes a God-given ability or a natural, unique skill, and it needs to be fully developed. Harnessing our talents may contribute to the progress of society. In fact, talents have become a well-sought commodity in our society. Companies only hire talented employees. Schools are marketed as venues of talent development. TV shows like ‘American Got Talent’ or other similar programs flood our contemporary culture and shape our understanding of talents. To be successful means to have fully developed talents!

Unfortunately, this modern understanding of talent has also reshaped our behaviors as Church members. As Christians, we are expected to use our talents to serve. We may participate in various roles in the liturgy, like as choir members, lectors, or altar servers. Not only in the liturgy, we can also use our talents to serve in various communities and organizations. In fact, this limited sense of talent also affects how we see priests and other religious figures. Talented priests are either charismatic preachers or capable leaders in the parishes. Then, what will happen to many of us who do not have these ‘talents’ fit to serve in the Church? Are we not successful in the Church if we do not have talents?

To answer this, we must go back to the biblical understanding of talent. The Greek word ‘τάλαντον’ (read: talanton) is a Greek monetary unit (also a unit of weight) with an extremely high value. In the time of Jesus, a silver talent was worth approximately six thousand denarii. If a denarius is equal to a daily wage, then a talent means six thousand daily wages. How do we understand the talent in the Gospel, then? We are sure that talent is something precious, and when used correctly, it can grow and even multiply. Yet, Jesus also linked talents with our eternal salvation or damnation. Thus, talent must not only be something related to natural abilities that are useful for our lives on earth but rather something spiritual that is beneficial for our souls and salvation.

No wonder, if we read Fathers of the Church and other spiritual authors, we will see a different understanding of talent. St. Thomas Aquinas, in his commentary of St. Matthew, saw talent as the gift of graces. While it is true that Christians have different capacities to receive spiritual gifts, each of us has the most basic gift of faith, hope and charity. Furthermore, we are expected to grow in these spiritual gifts and to recognize them if we wish to please our Lord and the giver of these talents.

 While St. Jerome recognized it as the Gospel. Different persons receive different intensities of the Gospel message depending on our capacity, but everyone must live and share the Gospel. Some of us who have received five talents of the Gospel are tasked to proclaim it loud and clear to many people. Some of us who receive one talent of the Gospel are called to share it with the closest persons in our lives, like our families and close friends.

Indeed, this is Good News. We thank the Lord for the natural talents we have, but far more critical is how we receive and share our spiritual talents for the salvation of souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Talenta yang Sesungguhnya

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [A]
19 November 2023
Matius 25:14-30

Talenta adalah salah satu kata dalam Alkitab yang telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari kita. Talenta memiliki konotasi sebagai kemampuan yang diberikan Tuhan atau keterampilan alamiah yang unik, dan perlu dikembangkan sepenuhnya. Dengan memanfaatkan talenta, kita dapat berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Faktanya, talenta telah menjadi komoditas yang sangat dicari dalam dunia sekarang ini. Perusahaan-perusahaan hanya mempekerjakan karyawan yang bertalenta. Sekolah-sekolah dipasarkan sebagai tempat pengembangan talenta. Acara TV seperti ‘Indonesia Got Talent’ atau program serupa lainnya membanjiri budaya kontemporer kita dan membentuk pemahaman kita tentang talenta: Menjadi sukses berarti memiliki talenta!

Sayangnya, pemahaman modern tentang talenta ini juga telah mengubah perilaku kita sebagai anggota Gereja. Sebagai umat Kristiani, kita diharapkan untuk menggunakan talenta kita untuk melayani. Kita dapat berpartisipasi dalam berbagai peran dalam liturgi, seperti sebagai anggota paduan suara, lektor, atau misdinar. Tidak hanya dalam liturgi, kita juga dapat menggunakan talenta kita untuk melayani di berbagai komunitas dan organisasi. Faktanya, pengertian talenta yang terbatas ini juga mempengaruhi bagaimana kita melihat para imam dan tokoh-tokoh rohaniawan lainnya. Para imam yang bertalenta adalah pengkhotbah yang karismatik atau pemimpin yang cakap di paroki-paroki. Lalu, apa yang akan terjadi pada kita yang tidak memiliki ‘talenta’ yang cocok untuk melayani di Gereja? Apakah kita tidak akan berhasil dalam hidup menggereja?

Untuk menjawab ini, kita harus kembali kepada pemahaman alkitabiah tentang talenta. Kata Yunani ‘τάλαντον’ (baca: talanton) adalah unit moneter Yunani (juga unit berat) dengan nilai yang sangat tinggi. Pada zaman Yesus, satu talenta perak bernilai sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar sama dengan upah harian, maka satu talenta berarti sama enam ribu hari kerja. Lalu, bagaimana kita memahami talenta dalam Injil? Kita yakin bahwa talenta adalah sesuatu yang berharga, dan jika digunakan dengan benar, talenta dapat bertumbuh dan bahkan berlipat ganda. Namun, Yesus juga mengaitkan talenta dengan keselamatan dan hukuman kekal kita. Dengan demikian, talenta seharusnya bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan alamiah yang berguna bagi kehidupan kita di dunia, tetapi juga sesuatu yang bersifat rohani dan bermanfaat bagi jiwa dan keselamatan kita.

Tidak heran, jika kita membaca para Bapa Gereja dan penulis rohani lainnya, kita akan melihat pemahaman yang berbeda tentang talenta. Santo Thomas Aquinas, dalam tafsirnya terhadap Injil Matius, melihat talenta sebagai karunia rahmat. Meskipun benar bahwa orang Kristen memiliki kapasitas yang berbeda untuk menerima karunia-karunia rohani, masing-masing dari kita memiliki rahmat yang paling mendasar yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Lebih jauh lagi, kita diharapkan untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, sang pemberi talenta rohani ini.

Sementara St. Heronimus, pujangga Gereja dari abad ke-4, mengenali talenta sebagai Injil. Setiap orang menerima intensitas yang berbeda dari pesan Injil, tergantung pada kapasitas kita masing-masing, tetapi setiap orang harus hidup dan membagikan Injil. Beberapa dari kita yang telah menerima lima talenta Injil ditugaskan untuk memberitakan Injil dengan lantang dan jelas kepada banyak orang. Beberapa dari kita yang menerima satu talenta Injil dipanggil untuk membagikannya kepada orang-orang terdekat dalam hidup kita, seperti keluarga dan teman-teman dekat.

Sungguh, ini adalah Kabar Baik. Kita bersyukur kepada Tuhan atas talenta-talenta alamiah yang kita miliki, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menerima dan membagikan talenta-talenta rohani kita untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wise for Heaven

32nd Sunday of the Ordinary Time [A]

November 12, 2023

Matthew 25:1-12

Wisdom is necessary to enter the Kingdom of God. Through today’s parable, Jesus contrasted two categories of people. The five wise virgins represent the first group; the second class represents the five foolish virgins. Though Jesus used the first-century Jewish wedding in Israel as its model, the parable does not simply speak of the ordinary wedding. Jesus taught about the final judgment, and wisdom is one of the essential characteristics that makes us able to enter the eternal banquet. What does it mean to be wise?

The Greek word that Matthew used is ‘φρόνιμος’ (read: phronimos). This word can be translated in English as wise or prudent. This word denotes clarity of one’s end and proper preparation and anticipation to achieve this goal. The term ‘φρόνιμος’ also signifies our ability to utilize appropriate means to solve difficulties encountered as well as to reach the finish line. Matthew also used this word on several occasions. “Everyone then who hears these words of mine and does them will be like a wise man (φρόνιμος) who built his house upon the rock (Mt 7:24).” Also, “Who then is the faithful and wise servant (φρόνιμος), whom his master has set over his household, to give them their food at the proper time (Mt 24:45)?” These two other verses also are closely connected to our salvation.

Throughout our lives, we are educated on how to be wise in dealing with this world, survive against challenges in this life, and grow and flourish as human beings. Yet, there is more than just this earthly life; from this parable, Jesus teaches us to be wise for eternal life. At the same time, we must not be foolish like the five virgins. Yes, the five virgins neither waste the oil unnecessarily nor intentionally run away from their duty. They must be good friends of the bride and groom, and they do not cause severe troubles that can disturb the wedding. Yet, it is not enough just sitting and waiting but doing nothing to keep the light alive and burning. For us, it is not enough to avoid mortal sins but to do nothing to keep the light of charity alive. Do not be foolish to think that it is enough to enter the Kingdom by believing in Jesus Christ but doing nothing to fulfill His commandment of love.

To be wise for the Kingdom means the understanding that we are created for heaven (not only for this world), and we must do what is necessary to reach this destination. This means to make daily and practical choices that lead us closer to Jesus. This can be done through simple daily sacrifices for our children or being patient with other’s weaknesses. We are also called to pray when possible and celebrate the Eucharist worthily each Sunday. We can also perform acts of kindness even to strangers. Again, the seven corporal and spiritual works of charity can be our simple guide to be wise for the Kingdom.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bijaksana untuk Surga

Minggu ke-32 Waktu Biasa [A]
12 November 2023
Matius 25:1-12

Kebijaksanaan diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan hari ini, Yesus mengontraskan dua kelompok orang. Lima gadis yang bijaksana mewakili kelompok yang akan masuk surga; kelompok yang tidak akan masuk ke dalam surga diwakili oleh lima gadis yang bodoh. Meskipun Yesus menggunakan pernikahan Yahudi abad pertama di Israel sebagai latar belakang perumpamaannya, perumpamaan ini tidak berbicara tentang pernikahan biasa. Yesus mengajarkan tentang pengadilan terakhir, dan kebijaksanaan adalah salah satu karakteristik penting yang membuat kita bisa masuk ke dalam perjamuan abadi. Apa artinya menjadi bijaksana?

Kata Yunani yang digunakan Matius adalah ‘φρόνιμος’ (baca: phronimos). Kata ini dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai bijaksana atau berhikmat. Kata ini menunjukkan kejelasan tujuan seseorang, dan persiapan serta antisipasi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Kata ‘φρόνιμος’ juga menandakan kemampuan kita untuk menggunakan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapi serta untuk mencapai garis akhir. Matius juga menggunakan kata ini dalam beberapa kesempatan. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana (φρόνιμος), yang mendirikan rumahnya di atas batu karang (Mat. 7:24).” Juga, “Jadi siapakah hamba yang setia dan bijaksana (φρόνιμος), yang diangkat oleh tuannya atas seisi rumahnya, yang memberikan kepada mereka makanan pada waktunya (Mat. 24:45)?” Dua ayat ini juga berkaitan erat dengan keselamatan kita.

Sepanjang hidup kita, kita dididik untuk menjadi bijaksana dalam menghadapi dunia ini, bertahan menghadapi tantangan dalam hidup ini, bertumbuh dan berkembang sebagai manusia di tengah masyarakat. Namun, ada yang lebih penting dari sekadar kehidupan duniawi ini; dari perumpamaan ini, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi bijaksana demi kehidupan kekal. Ini berarti kita memahami bahwa kita diciptakan untuk surga (bukan hanya untuk dunia ini), dan kita harus mencapai tujuan ini dengan cara-cara yang tepat.

Pada saat yang sama, kita tidak boleh menjadi bodoh seperti kelima gadis lainnya. Sebenarnya kelima gadis ini tidak melakukan hal yang buruk. Kelima gadis itu tidak membuang-buang minyak dengan percuma atau tidak dengan sengaja melarikan diri dari tugas mereka. Mereka tentunya adalah teman baik bagi kedua mempelai, dan mereka juga tidak menyebabkan masalah besar yang dapat mengganggu acara pernikahan. Namun, sekedar duduk, menunggu dan tidak buat masalah tidaklah cukup. Mereka perlu menjaga agar cahaya tetap hidup dan menyala. Dari lima gadis ini, kita belajar bahwa tidak cukup hanya dengan menghindari dosa-dosa besar tetapi tidak melakukan apa-apa untuk menjaga cahaya kasih tetap hidup. Janganlah kita menjadi bodoh dengan berpikir bahwa masuk ke dalam Kerajaan Surga cukup dengan percaya kepada Yesus Kristus saja, tetapi tidak melakukan apa pun untuk memenuhi perintah kasih-Nya.

Bijaksana untuk surga berarti membuat pilihan-pilihan praktis sehari-hari yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus. Hal ini dapat dilakukan melalui pengorbanan sederhana setiap hari untuk anak-anak kita atau bersabar dengan kelemahan orang lain di sekitar kita. Kita juga dipanggil untuk berdoa dan merayakan Ekaristi dengan layak setiap hari Minggu. Kita juga dapat melakukan tindakan-tindakan kebaikan bahkan kepada orang asing. Sekali lagi, tujuh karya kasih baik jasmani dan rohani dapat menjadi panduan sederhana bagi kita untuk menjadi bijaksana bagi Kerajaan Allah. Selama waktu masih ada, jangan membuat pilihan-pilihan bodoh, tetapi bijaksana karena waktu Tuhan dapat datang kapan saja.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Krisis Kebapaan

Hari Minggu ke-31 Masa Biasa [A]
5 November 2023
Matius 23:1-12

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah krisis kebapaan. Di berbagai masyarakat, banyak anak yang hidup dan tumbuh tanpa figure ayah. Banyak survei dan penelitian menunjukkan bahwa kenyataan ini terutama melanda negara-negara barat. Namun, virus ini juga merambah ke negara-negara lain yang memiliki budaya keluarga yang kuat, termasuk Indonesia. Absennya seorang ayah dalam keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan tumbuh anak-anak. Mereka yang tidak memiliki ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang memiliki berbagai masalah mental dan bermasalah dengan masyarakat. Dalam Injil, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyebut seorangpun sebagai bapa di muka bumi ini…” (Matius 23:9). Dalam konteks kita, perkataan Yesus ini sangat menarik. Mengapa Yesus tidak mengizinkan kita memanggil siapa pun sebagai ‘bapa’, sementara masyarakat kita sangat membutuhkan figur bapa?

Sebelum kita mendalami perkataan Yesus, kita akan memahami terlebih dahulu pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga. Ayah memiliki banyak peran yang sangat penting dan tak tergantikan, namun jika kita harus meringkasnya, ada dua tugas yang paling mendasar. Alkitab berbicara tentang dua karakter ini dalam kitab Kejadian, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk melayani (עבד) dan menjaga (שׁמר) taman itu. (Kej 2:15)” Dari ayat ini, Tuhan menugaskan Adam dengan dua tanggung jawab penting: melayani dan menjaga taman. Karena taman adalah tempat tinggal Adam dan Hawa, maka taman melambangkan rumah dan keluarga Adam. Seperti Adam, setiap pria yang menjadi seorang ayah menerima dua tugas penting ini.

Melayani (עבד – baca: abad) dapat dipahami sebagai menyediakan hal-hal yang diperlukan agar keluarga dapat berfungsi dengan baik dan bahkan berkembang. Seorang ayah tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan material bagi anak-anaknya, tetapi juga kebutuhan emosional dan yang terpenting, kebutuhan spiritual. Banyak pria yang bekerja keras untuk keluarga mereka, tetapi ketika mereka pulang ke rumah, mereka menghabiskan waktu mereka dengan diri mereka sendiri daripada dengan anak-anak. Banyak pria yang memang menjadi pemberi nafkah yang baik, tetapi cenderung mengabaikan pertumbuhan iman anak-anak mereka. Banyak pria bahkan memiliki kesalahpahaman bahwa kebutuhan emosional dan spiritual hanyalah tugas wanita. Namun, cara mengasihi wanita dan pria itu berbeda, dan anak-anak membutuhkan keduanya untuk bertumbuh dengan sehat. Melayani berarti juga mengajarkan nilai-nilai dan moralitas yang benar, dan seringkali, hal ini paling baik diajarkan melalui teladan, bukan hanya dengan kata-kata.

Menjaga (שׁמר – baca: shamar) berarti melindungi dari bahaya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam, baik secara fisik maupun spiritual. Seringkali, mudah untuk melindungi keluarga dari kekuatan eksternal dan yang terlihat karena kita dapat dengan mudah melihat ancamannya. Namun, melindungi dari musuh yang tidak terlihat jauh lebih sulit. Bahaya yang tidak terlihat dapat datang dalam bentuk ide-ide yang salah atau ajaran moral yang tidak benar. Para ayah membutuhkan kebenaran dan kejelasan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Para ayah juga membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan ketika mereka memberikan koreksi dan disiplin. Anak-anak yang tidak menerima disiplin cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lemah dan ragu-ragu, sementara anak-anak yang dibesarkan dalam kekerasan cenderung menjadi pria dan wanita yang suka memberontak.

Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu memanggil siapa pun di bumi ini sebagai bapa, kecuali Bapa yang di sorga…” Yesus tidak melarang semua pria untuk dipanggil sebagai bapa. Sebaliknya, Yesus mengingatkan kita bahwa semua pria tidak secara otomatis menjadi seorang bapa ketika mereka memiliki anak (baik secara fisik maupun sakramental). Kecuali mereka mengikuti teladan Bapa Surgawi, mereka tidak pantas menyandang gelar ‘bapa’. Melayani dan menjaga adalah dua hal yang harus dilakukan oleh setiap bapa, dan kita memiliki Bapa di surga sebagai inspirasi dan teladan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP