Ekaristi, Pesta Surgawi bagi Kita

Hari Minggu Biasa ke-28 [A]

11 Oktober 2026

Matius 22:1-14

Sebagai seorang Katolik, saya selalu mengaitkan perumpamaan tentang perjamuan kawin ini dengan perayaan Ekaristi. Mengapa demikian?

Dalam perumpamaan tersebut, sang raja menyiapkan perjamuan kawin bagi putranya. Kita dapat membayangkannya sebagai perayaan paling megah di dalam kerajaan tersebut. Seorang ayah yang bangga, yang juga merupakan raja, tentu ingin menjadikan putranya pria paling bahagia di kerajaannya, sekaligus menunjukkan kepada seluruh rakyatnya bahwa ini adalah peristiwa terpenting dalam keluarga kerajaan. Oleh karena itu, semua orang tentu membayangkan hidangan yang paling lezat, aneka anggur pilihan yang berlimpah, dan hiburan terbaik. Setiap tamu yang memenuhi undangan tersebut tidak hanya merasa sangat terhormat, tetapi juga mengalami sukacita yang luar biasa.

Demikian pula halnya dengan Ekaristi. Ekaristi adalah sebuah perjamuan, tetapi disiapkan bukan oleh penguasa duniawi, melainkan oleh Raja Semesta Alam. Karena disiapkan oleh Raja Surgawi, perayaan ini menjadi perayaan terbesar dan tertinggi yang dapat kita alami di bumi. Namun, hal yang benar-benar menjadikan Ekaristi sebagai perayaan puncak adalah karena Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menanggapi undangan-Nya. Sesuatu itu tidak dapat ditawarkan oleh dunia, jauh lebih berharga daripada emas, dan lebih agung daripada hadiah apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah menganugerahkan Yesus sendiri kepada kita—bukan sekadar hadir dalam pikiran atau hati kita, melainkan benar-benar menyentuh bibir dan meresap ke dalam jiwa kita. Yesus memberikan bukan hanya sebagian dari diri-Nya, melainkan semuanya. Karena Yesus bersatu secara kekal dengan Bapa dan Roh Kudus, serta dengan seluruh orang kudus di surga, maka setiap kali menyambut Ekaristi, kita sebenarnya sedang menyambut surga itu sendiri.

Sayangnya, sebagian dari kita sering kali menyerupai para tamu undangan yang menolak hadir karena lebih mengutamakan urusan sehari-hari dan pekerjaan rutin daripada perjamuan kerajaan tersebut. Saat kita tidak nilai Ekaristi sebagai sesuatu yang paling berharga, yakni undangan ilahi perayaan surgawi, kita mulai mencari alasan-alasan dangkal untuk pergi ke gereja. Mungkin kita hadir hanya untuk mencari inspirasi atau hiburan dari homili sang imam; sehingga saat homilinya membosankan, kita pun berhenti menghadiri Misa. Atau, mungkin kita pergi semata-mata karena tradisi keluarga; begitu tidak lagi tinggal bersama orang tua, kita merasa tidak berkewajiban lagi untuk hadir. Melalui sikap-sikap tersebut, kita telah merendahkan Ekaristi menjadi sekadar aktivitas duniawi biasa, sekaligus menyia-nyiakan jalan menuju surga.

Bahaya lain yang tidak kalah besarnya adalah memperlakukan Ekaristi secara tidak pantas, layaknya tamu yang memasuki perjamuan raja tanpa mengenakan pakaian pesta yang pantas. Mungkin kita menghadiri misa, bukan untuk mencari Allah, melainkan demi mengejar kepentingan diri sendiri yang egois. Namun, kondisi yang paling berbahaya adalah menyambut Ekaristi dalam keadaan dosa berat. Sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1 Kor 11:27, 29). Rahmat Allah itu cuma-cuma, tapi tidak pernah murahan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk permenungan:

Apakah saya sungguh memandang kehadiran saya dalam Misa sebagai tanggapan penuh sukacita atas undangan ilahi dari Sang Raja, atau justru membiarkan kesibukan sehari-hari, dan maupun motif yang dangkal menjadi prioritas utama? Saat bersiap menyambut Ekaristi, apakah saya menerima Yesus dengan hati yang tulus, ataukah saya memperlakukan perjumpaan kudus hanya sebagai sekadar rutinitas? Adakah dosa berat yang belum diakui atau sikap egois dalam hidup saya yang menghalangi saya untuk mengenakan “busana pesta pernikahan” di hadapan altar Tuhan?

Leave a Reply