Hal-hal yang Tidak Dapat Kita Pinjam

Hari Minggu Biasa ke-32 [A]

8 November 2026

Matius 25:1-13

Perumpamaan tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh membuka sebuah pelajaran yang sangat berharga: ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak bisa kita pinjam dari orang lain. Apakah hal-hal ini?

Yang pertama adalah waktu. Tidak semua orang memiliki kekayaan, bakat, atau kecerdasan yang luar biasa, tetapi setiap orang dianugerahi waktu. Oleh karena itu, waktu adalah sumber daya pribadi kita yang mutlak. Namun, waktu itu terbatas dan kita tidak bisa meminjamnya dari siapa pun. Meskipun kita sering mendengar ungkapan seperti “Bolehkah saya meminta waktumu sebentar?”, secara harfiah kita tidak dapat meminjam satu jam tambahan dari masa hidup orang lain untuk ditambahkan ke dalam masa hidup kita sendiri. Sekali waktu kita terpakai atau terbuang, waktu kita akan hilang untuk selamanya.

Hal kedua yang tidak bisa kita pinjam berhubungan dengan bagaimana kita menggunakan waktu kita, yaitu konsekuensi dari keputusan-keputusan kita. Meskipun orang lain dapat memengaruhi pilihan kita—seperti pola asuh dan pendidikan—tanggung jawab akhir atas tindakan kita tetap berada di pundak kita sendiri. Orang-orang terkasih mungkin berkata, “Saya turut menanggung bebanmu” atau “Saya ikut bersukacita atas keberhasilanmu,” tetapi tidak seorang pun dapat memikul bobot pilihan kita untuk menggantikan kita. Ketika waktu yang terbuang berpadu dengan keputusan yang buruk, yang tersisa hanyalah penyesalan dan kepahitan.

Bahkan ketika keadaan yang menekan atau keterbatasan fisik membatasi pilihan kita, cara kita menanggapi keterbatasan tersebut tetaplah menjadi keputusan kita sendiri. Kita dapat belajar dari Santa Teresia dari Lisieux, khususnya menjelang akhir hidupnya. Ketika ia menderita tuberkulosis pada usia dua puluh tiga tahun, ia harus menanggung rasa sakit yang melumpuhkan hingga tak lagi mampu meninggalkan tempat tidurnya. Pikiran tentang keputusasaan dan keraguan akan Allah sempat menyusup ke dalam benaknya. Namun, di tengah kondisi yang berat itu, ia menolak untuk jatuh ke dalam keputusasaan. Sebaliknya, ia membawa penderitaannya ke dalam doa dan mempersembahkannya demi misi Gereja.

Hal ketiga yang tidak bisa kita pinjam adalah surga. Pada akhirnya, kita semua akan kehabisan waktu dan menghadapi kematian. Kitab Suci mengajarkan bahwa hanya ada dua tujuan akhir: surga atau neraka. Meskipun kita menyadari bahwa kehidupan kekal adalah anugerah dari Allah—karena tidak ada seorang pun yang layak masuk surga atas usahanya sendiri—hal itu tidak berarti kita bersikap pasif sepenuhnya tanpa berbuat apa-apa untuk meraihnya. Surga juga merupakan konsekuensi dari keputusan harian kita dan bagaimana kita mengelola waktu kita yang terbatas. Jika kita terus-menerus mengambil keputusan yang berdosa dan menyia-nyiakan waktu di dunia tanpa melakukan apa yang berkenan kepada Allah, kita tidak hanya akan merasakan penyesalan di dunia ini, tetapi juga penyesalan yang tak dapat diubah di kehidupan mendatang. Kita tidak bisa berkata kepada mereka yang sudah berada di surga, “Bolehkah saya meminjam surgamu sebentar saja?”

Waktu, keputusan pribadi, dan surga adalah anugerah dari Allah. Ketika ketiga hal ini hilang, semuanya akan hilang untuk selamanya.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana saya memanfaatkan waktu terbatas yang Tuhan berikan hari ini, dan apakah saya menggunakannya untuk hal-hal yang benar-benar bernilai bagi surga? Saat menghadapi situasi sulit atau keterbatasan fisik, apakah saya bertanggung jawab penuh atas pilihan-pilihan saya dan menanggapinya dengan iman, atau justru membiarkan keadaan membawa saya pada kepahitan dan penyesalan? Apakah kebiasaan dan pilihan saya sehari-hari secara aktif mendekatkan saya kepada Tuhan dan menuntun saya menuju surga, atau apakah saya hanya berasumsi secara pasif mengenai keselamatan saya tanpa melakukan apa yang berkenan bagi-Nya?

Things We Cannot Borrow

32nd Sunday in Ordinary Time [A]

November 8, 2026

Matthew 25:1-13

The parable of the ten virgins offers a timeless lesson: there are aspects of life that we cannot borrow from others. What are those?

The first of these is time. Not everyone possesses great wealth, talent, or intelligence, but everyone is given time. Everyone has 86,400 seconds each day. Time is both our common and absolute personal resource. Yet, it is finite, and we cannot borrow it from anyone else. While we often hear expressions like “living on borrowed time” or ask, “May I have a moment of your time?,” we cannot strictly borrow an extra hour from someone else’s lifespan to add to our own. Once our time is spent, it is lost forever.

The second thing we cannot borrow is personal responsibility—the consequences of how we choose to use our time. Although upbringing, education, and social environments influence our choices, the ultimate accountability for our actions rests on our own shoulders. Friends and loved ones may say, “I share your burden,” or “I celebrate your success,” but no one can carry the weight of our choices for us. When wasted time is paired with poor decisions, it leaves behind only regret and bitterness. Even when oppressive circumstances or bodily limitations constrain our choices, our response to those limitations remains ours to make. We can see this in the life of Saint Thérèse of Lisieux. When she contracted tuberculosis at the age of twenty-three, she endured debilitating pain and was bedridden. Thoughts of hopelessness and doubts about God tested her mind. Yet, despite her suffering, she refused to fall into despair. Instead, she brought her pain to prayer and offered it for the mission of the Church.

The third thing we cannot borrow is eternal life in heaven. All of us will eventually run out of time on this earth. Scripture teaches that our ultimate destination is either heaven or hell. While eternal life is an unearned gift of God’s grace, receiving it does not mean remaining entirely passive. Heaven is closely tied to our daily choices and how we steward our finite time—the very things no one else can supply for us. If we continually make sinful decisions and waste our lives failing to pursue what pleases God, we invite not only remorse in this life, but irreversible regret in the next. At the end of our journey, we cannot turn to those already in glory and ask to borrow their place in heaven.

Time, personal responsibility, and heaven are profound gifts from God. How we steward them today determines where we stand when our time runs out.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Manila

Guide Questions:
How am I using the finite time God has given me today, and am I spending it on things that truly matter for eternity? When facing difficult situations or bodily limitations, do I take full personal ownership of my choices and respond with faith, or do I let circumstances lead me into bitterness and regret? Are my daily habits and choices actively drawing me closer to God and leading me toward heaven, or am I passively assuming my salvation without doing what pleases Him?