Featured

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?

Kurban Hidup

Minggu ke-22 Masa Biasa [A]

30 Agustus 2026

Roma 12:1-2

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, Santo Paulus mendesak umat beriman untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “kurban yang hidup” (Roma 12:1). Bagi para pembaca pada zaman dahulu, pernyataan Santo Paulus ini merupakan sebuah oksimoron —sebuah kiasan yang menggabungkan dua kata bermakna berlawanan, seperti “manis pahit” atau “permasalahan yang baik.” Namun, mengapa konsep Paulus tentang “kurban yang hidup” sejak awal dianggap sebagai suatu oksimoron?

Pada masa lampau, orang-orang menyembah dewa-dewa dengan mempersembahkan kurban. Praktek ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada zaman Paulus. Orang-orang Israel akan pergi ke Bait Allah di Yerusalem membawa hewan—paling sering domba—untuk dikorbankan. Pertama-tama, para imam memeriksa setiap hewan untuk memastikan bahwa hewan tersebut bebas dari cacat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, penyembah meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu untuk secara simbolis mengidentifikasi dirinya dengan kurban tersebut. Tenggorokan hewan itu kemudian dipotong dengan gerakan cepat menggunakan pisau yang sangat tajam untuk menjamin kematian yang cepat. Seorang imam menampung darah segar hewan itu dalam baskom khusus dan mengaduknya secara terus menerus untuk mencegah pembekuan darah. Dia kemudian membawanya ke mezbah untuk dipercikkan di bagian dasarnya. Akhirnya, para imam menguliti hewan itu, memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkan bagian-bagian tersebut atau seluruh tubuh kurban di atas mezbah untuk dibakar (lihat Imamat 1–4).

Karena ritus pengorbanan di dunia kuno maupun di Israel kuno berkaitan erat dengan kematian kurban, ungkapan Santo Paulus mengenai “kurban yang hidup” terdengar seperti sebuah kontradiksi. Padahal, Paulus sedang mengacu pada tradisi Perjanjian Lama. Para nabi terdahulu sering menekankan bahwa pengorbanan hewan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pertobatan yang tulus dan sepenuh hati. Raja Daud pernah menyatakan, “Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Maz 51:17). Demikian pula, Nabi Hosea menyampaikan firman Allah: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

Menjadi “kurban yang hidup” memang masih melibatkan kematian, namun bukan kematian secara fisik. Santo Paulus menjelaskan transformasi pribadi ini saat menuliskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Paulus tidak dieksekusi secara harfiah di kayu salib saat menulis kalimat itu; melainkan, ia telah mematikan ego, kepentingan pribadinya, serta ambisi duniawinya demi hidup sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Sejak saat itu, segala hal yang ia katakan dan lakukan semata-mata diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan mewartakan Injil.

Sama seperti Yesus yang telah mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban sempurna di kayu salib, Santo Paulus juga menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada Allah dengan cara hidup selaras dengan kehendak ilahi. Melalui teladan yang sama, Santo Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh, pekerjaan, studi, relasi, waktu istirahat, dan bahkan penderitaan kita sebagai kurban yang hidup. Dalam segala hal yang kita jalani, kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Bagi umat Katolik, setiap aktivitas sehari-hari ini dapat disatukan dengan pengorbanan Yesus dalam Kurban Suci Ekaristi, sehingga menjadi bagian dari persembahan sempurna yang merupakan ibadah rohani yang sejati (Roma 12:1).

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana kita dapat mematikan ego, keinginan diri, dan ambisi duniawi kita sehingga Kristus benar-benar dapat hidup melalui kita setiap hari? Dengan cara apa kita dapat mempersembahkan rutinitas harian kita—pekerjaan, studi, hubungan, dan bahkan perjuangan hidup kita—sebagai kurban yang hidup kepada Tuhan? Apakah kita telah mempersembahkan devosi batin serta kasih yang bermakna kepada Tuhan dalam tindakan sehari-hari, ataukah kita sekadar menjalankan rutinitas keagamaan lahiriah?

Siapakah Yesus Bagimu?

Minggu ke-21 Masa Biasa [A]

23 Agustus 2026

Matius 16:13-20

Hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Pertanyaan ini dapat dikatakan sebagai pertanyaan terpenting yang harus kita jawab dalam hidup ini. Kita mungkin memberikan berbagai jawaban—bahwa Yesus adalah sahabat terkasih, Gembala yang Baik, Sang pemimpin, atau Juruselamat dan Penebus kita. Walaupun semua sebutan itu benar, segalanya akan berubah ketika kita menjawab Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita.

Jika kita sungguh-sungguh mengakui Yesus sebagai Allah, hidup kita harus terarah kepada-Nya dan menjadikan Dia prioritas utama. Sekadar memberikan penghormatan tertinggi kepada-Nya belumlah cukup; kita dipanggil untuk mempersembahkan penyembahan yang hanya layak bagi Allah. Memberikan sebagian waktu, sumber daya, dan talenta demi kemuliaan-Nya pun belum memadai; kita dituntut untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Dibaptis dan menghadiri Misa setiap hari Minggu hanyalah batas minimum. Sebaliknya, kita perlu berusaha menyenangkan hati-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pilihan sehari-hari setiap saat.

Banyak di antara kita mungkin merasa bahwa standar ini terlalu sulit untuk dicapai karena kita bukan imam atau biarawan-biarawati, atau karena kita memiliki berbagai prioritas lain seperti karier, hobi, dan ambisi pribadi. Bagi banyak orang, tuntutan ini tampak tidak realistis. Namun, tuntutan ini tidak muncul tanpa alasan, melainkan mengalir secara alami dari kebajikan keadilan.

Sederhananya, keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Ketika seorang pemberi kerja membayar upah yang layak kepada pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya, hal itu bukanlah tindakan belas kasih, melainkan kewajiban yang dituntut oleh keadilan. Demikian pula sebagai warga negara, keadilan menuntut kita untuk mematuhi hukum dan berkontribusi bagi kebaikan bersama, misalnya dengan membayar pajak. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban melayani masyarakat dengan jujur dan berintegritas—seperti melindungi warga dari kriminalitas, menyediakan layanan kesehatan, serta membangun infrastruktur—karena semua pelayanan tersebut merupakan hak warga negara. Semua kewajiban ini bersumber dari tuntutan keadilan.

Jika kita harus menegakkan keadilan dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, terlebih lagi kita wajib memberikan apa yang menjadi hak Allah sebagai Pencipta kita. Kita perlu menyadari bahwa Allah tidak wajib menciptakan kita, namun Dia menghadirkan kita ke dunia, menganugerahi kita akal budi dan kehendak bebas, serta menjadikan kita istimewa di antara seluruh ciptaan. Lebih dari itu, Allah tidak berkewajiban menyelamatkan kita, namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Dia menebus kita melalui Putra-Nya agar kita tidak binasa (Yohanes 3:16). Akhirnya, dengan penuh kasih, Allah menawarkan persahabatan-Nya dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Walaupun kita tidak layak menerima apa pun, Allah telah memberikan segalanya bagi kita. Oleh karena itu, keadilan menuntut kita untuk menyerahkan kembali seluruh keberadaan kita kepada-Nya—waktu, talenta, dan bahkan seluruh hidup kita. Hal ini tidak berarti bahwa semua orang dipanggil menjadi imam atau biarawan-biarawati. Sebagai kaum awam dan profesional, kita dapat memprioritaskan Yesus dengan memastikan bahwa setiap keputusan yang kita ambil selaras dengan kehendak ilahi-Nya dan menyenangkan hati-Nya.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa jauh kita mengizinkan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah membentuk kembali pilihan, prioritas, dan kebiasaan hidup sehari-hari? Apakah kita hanya memberikan waktu dan talenta seminimal mungkin kepada Allah, ataukah kita berusaha mempersembahkan pengabdian seutuhnya yang menjadi hak-Nya? Lewat langkah praktis apa kita dapat memuliakan Allah dan mencari kehendak-Nya dalam panggilan hidup sebagai awam, dalam keluarga, serta dalam pekerjaan sehari-hari?

Gandum dan Lalang di Hati Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [A]

19 Juli 2026

Matius 13:24-43

Hari ini kita mendengarkan Perumpamaan tentang Gandum dan Lalang. Sebuah hal yang menarik muncul ketika pemilik tanah menyadari bahwa lalang tumbuh berdampingan dengan tanaman yang baik, namun ia justru memilih untuk membiarkan keduanya hidup bersama. Mengapa ia mengambil keputusan demikian?

Ketika para pelayan menyarankan agar lalang segera disingkirkan, pemilik tanah menolaknya karena alasan yang sepenuhnya praktis. Pada tahap awal pertumbuhan, lalang memiliki rupa yang hampir identik dengan gandum yang sehat. Jika para pelayan memaksa untuk mencabuti lalang sebelum waktunya, mereka justru akan keliru mencabut gandum yang baik. Meskipun tindakan ini sangat masuk akal dalam konteks pertanian, Yesus tidak secara eksplisit menjelaskan dalam uraian teologis-Nya mengapa Tuhan tidak langsung menghukum orang-orang yang membawa kejahatan di dalam hati mereka. Kenyataan ini memicu sebuah pertanyaan yang penting: apa alasan spiritual yang lebih dalam sehingga Tuhan mengizinkan orang jahat dan orang benar untuk hidup berdampingan di dunia ini untuk sementara waktu?

Jawabannya berkaitan erat dengan Perumpamaan Penabur yang dikisahkan sebelumnya dalam Matius 13:1-23 (Minggu sebelumnya). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menguraikan empat jenis tanah yang mewakili disposisi atau kondisi hati manusia saat mendengar Firman Tuhan, yaitu jalan setapak, tanah berbatu, tanah berduri, dan tanah subur. Berbeda dengan tanah di dunia nyata yang sifatnya statis, disposisi spiritual hati manusia bersifat dinamis dan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sifat dinamis inilah yang menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan menunda kehancuran “lalang” rohani. Di dalam hati manusia, baik Sabda Allah dan pengaruh dunia terus-menerus berjuang untuk menguasai tanah kehidupan kita. Ketika menghadapi pengaruh kuasa jahat, manusia memiliki respons yang beragam; sebagian orang mengabaikan kejahatan, sebagian berjuang melawannya, dan sebagian lagi justru menyambutnya hingga berkembang menjadi tindakan berdosa.

Kemampuan manusia untuk berubah secara internal menjelaskan mengapa Yesus memilih untuk membiarkan “lalang” tetap tumbuh di antara gandum daripada menjatuhkan penghakiman instan. Tuhan mengizinkan perjuangan spiritual ini terjadi karena Dia tahu bahwa meskipun sebuah hati sedang dikuasai oleh pengaruh jahat saat ini, kisah hidup manusia tersebut belum berakhir. Melalui kehendak bebas yang rahmat-Nya, seseorang yang saat ini hidup bagaikan “lalang” memiliki kesempatan untuk bertobat, berubah, dan akhirnya bertransformasi menjadi “gandum.” Prinsip ini menjadi kabar baik yang luar biasa bagi kita semua. Sekalipun bisikan roh jahat mencoba menaklukkan hati kita, Allah dengan penuh kesabaran terus memberikan pertolongan-Nya agar kita memiliki kesempatan untuk sembuh dan menghasilkan buah yang baik.

Allah membantu kita melawan benih-benih jahat di dalam hati melalui beberapa cara praktis. Pertama, Dia bekerja melalui Firman-Nya yang telah ditanam di dalam diri kita melalui Kitab Suci, yang tidak hanya menginspirasi kita untuk berbuat baik tetapi juga melatih kita untuk mengenali dan melawan kejahatan. Kedua, Ia mencurahkan rahmat-Nya secara sakramental, terutama melalui Ekaristi yang menyehatkan jiwa dan Sakramen Tobat yang memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Ketiga, Allah menyediakan komunitas Kristiani sebagai tempat perlindungan yang vital agar kita dapat menemukan dukungan dan dorongan rohani dari sesama orang percaya. Terakhir, Ia bahkan menggunakan penderitaan dan cobaan hidup sebagai proses “pemangkasan” spiritual untuk membuang hal-hal berbahaya yang melekat pada diri kita, sehingga kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa dalam kita menyelami Kitab Suci sehingga kita dapat dengan jelas membedakan antara benih baik dari Allah dan lalang halus dari musuh dalam kehidupan sehari-hari? Ketika kita mengenali adanya kecenderungan atau kebiasaan buruk yang mulai berakar di dalam hati, apakah kita secara aktif mencari pertolongan melalui sakramen dan komunitas, ataukah kita justru mencoba menghadapi perjuangan tersebut sendirian? Terakhir, bagaimana kita dapat mengubah perspektif hidup agar mampu melihat penderitaan dan cobaan yang terjadi saat ini bukan sebagai bentuk pengabaian dari Allah, melainkan sebagai cara-Nya yang sabar dan penuh kasih untuk memangkas kita agar menjadi pribadi yang lebih berbuah?

Pentekosta, Menara Babel, dan Bahasa

Minggu Pentekosta [A]

Kisah Para Rasul 2:1-11

24 Mei 2026

Pentekosta sering dipandang sebagai kebalikan dari kisah Menara Babel (Kej 11). Namun, mengapa tradisi Gereja mengaitkan kedua kisah yang berbeda ini? Jawabannya adalah bahasa.

Dalam Kejadian 11, kita melihat fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kej 11 mengisahkan manusia yang memiliki satu bahasa dan juga kata-kata yang sama. Kesatuan bahasa ini memungkinkan mereka berbagi ide dengan lancar dan bekerja sama dengan mudah, sehingga mendorong kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Bahasa memungkinkan mereka mengembangkan teknologi seperti pembuatan batu bata, membangun kota yang membutuhkan sistem politik dan ekonomi yang kompleks, serta membangun menara raksasa yang menuntut teknik yang rumit.

Sejatinya, bahasa membedakan kita dari semua makhluk lain. Meskipun hewan berkomunikasi, hanya manusia yang berbagi ide-ide kompleks. Hewan dapat bertukar informasi dasar tentang makanan dan predator, tetapi manusia menyampaikan idealisme, impian masa depan, imajinasi, kebijaksanaan masa lalu, dan juga pengetahuan. Meskipun hewan berkomunikasi melalui suara dan bau, hanya manusia yang dapat mencatat kata-kata mereka dalam tulisan, meneruskan pemikiran mereka kepada generasi mendatang. Melalui bahasa tertulis, kita mengubah kata-kata kita menjadi seni, puisi, musik, dan ilmu pengetahuan.

Jika melihat perkembangan bayi manusia dan membandingkannya dengan bayi binatang lain, kita menyadari bahwa bayi manusia sangat rentan dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk bertahan hidup selama beberapa tahun pertama. Namun, meskipun memiliki kelemahan fisik ini, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki hewan lain: kemampuan bawaan untuk berbahasa. Pada dua hingga tiga bulan pertama, bayi mulai mengeluarkan suara-suara vokal seperti “ooh” dan “ah.” Mereka menangis, tersenyum, dan tertawa sebagai respons terhadap orang tua mereka. Pada usia empat hingga enam bulan, mereka mulai menggabungkan konsonan dan vokal menjadi bunyi berulang seperti “ba-ba” atau “ma-ma,” berlatih dengan pita suara mereka. Antara enam dan dua belas bulan, mereka mulai menghubungkan bunyi dengan makna—mengatakan “mama” untuk secara khusus memanggil ibu mereka. Mereka juga mulai menggunakan isyarat, menunjuk pada apa yang mereka inginkan atau melambaikan tangan untuk berpamitan, serta mulai memahami kata-kata sederhana seperti “ya.” Bayi manusia sungguh terlahir untuk menggunakan bahasa.

Sayangnya, orang-orang dalam Kejadian 11 melupakan satu kebenaran mendasar: bahasa manusia pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan dunia melalui firman-Nya, yang berarti bahwa kata-kata dan bahasa pada hakikatnya adalah milik-Nya. Ketika Ia menciptakan pria dan wanita menurut citra-Nya, Ia memberdayakan kita dengan kapasitas intelektual, termasuk kemampuan untuk membentuk dan menggunakan bahasa. Para pembangun menara Babel percaya bahwa kecerdasan, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, dan talenta besar lainnya sepenuhnya merupakan pencapaian mereka sendiri. Mereka pun dengan sombong berusaha mencapai langit dan membuat nama bagi diri mereka sendiri (Kej 11:4).

Pentekosta membalikkan peristiwa di Babel dengan mengungkapkan bahwa bahasa adalah karunia Roh Kudus. Tujuan utama karunia ini adalah untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, bukan karya-karya manusia. Pentekosta mengingatkan kita bahwa bahasa kita tidak hanya mempersatukan kita satu sama lain, tetapi juga menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebelum para murid menerima karunia Roh Kudus, mereka menghabiskan waktu berdoa—dan doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Sebelum mereka berbicara tentang Allah, mereka terlebih dahulu berbicara kepada Allah. Kita tidak perlu membangun menara dengan tangan kita untuk mencapai langit; kita hanya perlu menggunakan bahasa yang diberikan Allah kepada kita untuk mencapai-Nya dengan kerendahan hati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

pertanyaan panduan:

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita menggunakan kata-kata kita untuk membangun nama bagi diri kita sendiri (seperti di Babel), atau untuk mempersatukan dan mengangkat orang-orang di sekitar kita? Para murid berbicara kepada Tuhan sebelum mereka berbicara tentang-Nya—seberapa banyak bahasa sehari-hari kita yang didedikasikan untuk berbicara dengan Tuhan dalam kerendahan hati? Karena kata-kata kita adalah karunia yang dimaksudkan untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, pesan apa yang disampaikan oleh ucapan kita kepada dunia saat ini?

Roh Kudus dan Sakramen Penguatan

Minggu Paskah Keenam [A]

Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17

10 Mei 2026

Sakramen Penguatan atau Krisma bisa dibilang yang paling kurang mendapatkan perhatian dan juga seringkali disalahpahami di antara ketujuh Sakramen di Gereja Katolik. Namun, mengapa kita gagal menghargai sakramen ini? Apakah sakramen ada dalam Alkitab? Dan, bagaimana sakramen ini mengungkapkan rahasia-rahasia tentang Roh Kudus?

Kita sering kali kesulitan untuk menghargainya karena sakramen ini tidak memiliki dampak langsung dan terlihat dalam hidup kita, padahal dasarnya sangat alkitabiah. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, khususnya bab 8, kita melihat Filipus sang Diakon berkhotbah dan membaptis di Samaria. Ketika para Rasul Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa agar mereka yang sudah dibaptis menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun atas mereka. Narasi biblis ini menegaskan bahwa sejak zaman para Rasul, telah ada sakramen yang khusus untuk menyampaikan kehadiran dan karunia Roh Kudus, suatu pelayanan yang secara unik terikat pada otoritas para Rasul.

Melanjutkan tradisi ini, Gereja mengajarkan bahwa para Uskup sebagai penerus para Rasul menjadi pelaksana utama sakramen penguatan ini. Nama “Penguatan” digunakan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang diterima memperkuat dan mengokohkan rahmat awal Baptisan. Sementara Baptisan dipandang sebagai sarana kelahiran rohani, Penguatan berfungsi sebagai sarana peralihan menuju kedewasaan rohani. Sakramen ini dirancang untuk membekali orang beriman dalam menjalankan misi mereka di dunia dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk peperangan rohani melawan kuasa kegelapan.

Namun, sakramen ini sering kali kurang populer dibandingkan sakramen-sakramen lain karena tidak secara dramatis mengubah gaya hidup atau status eksternal seseorang. Sakramen ini tidak seperti Sakramen Perkawinan atau Tahbisan yang mengubah seseorang menjadi suami-istri atau imam. Selain itu, karena hanya diterima sekali, sakramen ini tidak memiliki katekese berkala seperti yang kita temukan dalam Ekaristi atau Sakramen Pengakuan Dosa. Banyak orang Kristen modern juga keliru mengidentikkan pertumbuhan rohani dengan sensasi emosional. Ketika kita tidak merasa “tersentuh,” tidak mendengar suara Tuhan, atau tidak mengalami karunia yang spektakuler selama doa, kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki Roh Kudus. Karena sakramen ini tidak memberikan sensasi yang diharapkan, kita menganggap bahwa sakramen ini membosankan atau stagnan.

Namun, jika kita baca dengan teliti Kisah Para Rasul, bab 8 menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui pertunjukan yang spektakuler. Setelah Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka pada orang-orang Samaria, tidak ada penyebutan tentang mukjizat, nubuat, bahasa roh atau pertunjukan rohani yang luar biasa lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sering bekerja dengan tenang dan bertahap. Melalui Sakramen Penguatan, kita menerima peningkatan dalam tujuh karunia Roh Kudus: Kebijaksanaan, Pemahaman, Nasihat, Keteguhan Hati, Pengetahuan, Kesalehan, dan Takut akan Tuhan. Karunia-karunia ini memungkinkan kita menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bahkan di tengah cobaan. Bukti sejati karya Roh Kudus terdapat pada tindakan-tindakan kecil yang setia—memilih untuk menghadiri Misa meski terasa membosankan, tetap penuh kasih di tengah kesulitan pernikahan, atau melayani orang lain tanpa mencari pujian. Inilah tanda-tanda hening bahwa Roh Kudus melalui sakramen benar-benar mengubah jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa sering saya menyamakan pertumbuhan iman dengan seberapa “emosional” atau “bersemangat” saat berdoa? Bagaimana saya dapat kembali fokus pada pertumbuhan yang tenang dan bertahap yang diberikan Roh Kudus? Jika Baptisan adalah kelahiran rohani dan Penguatan adalah masuknya saya ke dalam kedewasaan rohani, di bidang-bidang kehidupan mana saya dipanggil untuk lepas dari iman “yang kekanak-kanakan” dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang Kristen yang dewasa?

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”