Featured

Perintah Ketiga

Minggu Ketiga Puluh dalam Masa Biasa [A]

25 Oktober 2026

Matius 22:34-40

Yesus mengajarkan dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat 22:37–39). Namun, tersirat di dalam perintah kedua tersebut sebuah kebenaran yang sangat penting, yakni supaya dapat mengasihi orang lain secara benar, kita harus terlebih dahulu mengasihi diri sendiri. Dalam pengertian inilah, kasih yang benar terhadap diri sendiri berfungsi sebagai perintah utama yang ketiga. Namun, apa sebenarnya arti mengasihi diri sendiri, dan apakah kita sudah tahu cara melakukannya dengan benar?

Santo Thomas Aquinas mendefinisikan kasih sebagai kehendak untuk mengusahakan kebaikan bagi orang lain (Summa Theologiae, I-II, q. 26, a. 4). Definisi ini berlaku juga bagi diri kita sendiri: kasih terhadap diri sendiri adalah kehendak untuk mengusahakan kebaikan sejati bagi diri kita sendiri. Keinginan mendasar untuk hidup dan menjaga kesejahteraan diri merupakan bukti nyata dari kasih untuk diri sendiri. Aquinas menekankan bahwa kasih bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah tindakan kehendak—sebuah komitmen yang teguh untuk bertindak. Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat yang cukup merupakan bentuk nyata dari kasih terhadap diri sendiri karena semua itu meningkatkan kesejahteraan fisik kita. Bahkan ketika rasa malas muncul, kita perlu menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih tindakan-tindakan ini demi kebaikan diri sendiri.

Karena manusia lebih dari sekadar makhluk biologis, pola makan yang sehat dan olahraga baru memenuhi satu aspek dari kodrat kita. Sebagai makhluk berakal budi yang diciptakan oleh Allah, kita memiliki kapasitas untuk membangun masa depan yang bermakna. Kita menginvestasikan waktu bertahun-tahun dan sumber daya yang besar dalam pendidikan karena kita menyadari bahwa pertumbuhan intelektual memungkinkan kita untuk memperbaiki karakter dan menjalani hidup yang lebih bernilai. Oleh karena itu, mencari pengetahuan dan mengembangkan diri merupakan ekspresi otentik lainnya dari kasih terhadap diri sendiri.

Namun, pada tingkat yang paling mendasar, kita tidak hanya terdiri dari tubuh, melainkan juga jiwa yang kekal. Akibatnya, kebaikan tertinggi kita tidak terletak di dunia yang fana ini, melainkan dalam kehidupan kekal bersama Allah. Mengasihi diri sendiri berarti menghargai martabat luhur kita ini dengan menyadari bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27) serta diciptakan untuk kekekalan. Kita juga perlu menolak apa pun yang merendahkan martabat tersebut.

Sebaliknya, terlalu terpaku pada keinginan duniawi—seperti kekayaan, ketenaran, kesenangan jasmani, atau kesombongan—hingga merugikan orang lain, merusak lingkungan, atau mengorbankan integritas moral kita merupakan penyimpangan dari kasih terhadap diri sendiri. Sungguh tidak bijaksana menukar kebaikan abadi dengan hal-hal yang bersifat sementara, atau mengorbankan hubungan kita dengan Allah demi kesenangan duniawi yang sesaat.

Oleh karena itu, memelihara dan melindungi jiwa melalui praktik-praktik rohani bukanlah hal sekunder, melainkan kebutuhan yang sangat penting. Ekaristi bukanlah sekadar tradisi keluarga yang rutin atau kewajiban yang dipaksakan, melainkan santapan rohani yang sejati bagi jiwa kita. Doa jauh lebih dari sekadar tanda salib yang tergesa-gesa sebelum makan; doa adalah persekutuan yang hidup dengan Allah yang menjadi napas bagi jiwa kita. Demikian pula, Sakramen Tobat bukanlah sekadar mencari-cari kesalahan, melainkan sarana penyembuhan bagi jiwa kita yang terluka.

Pada akhirnya, kasih yang benar terhadap diri sendiri menjadi fondasi yang penting untuk mengasihi sesama. Tanpa memahami apa yang benar-benar baik bagi kesejahteraan fisik dan rohani kita sendiri, kita tidak akan dapat mengusahakan kebaikan sejati bagi orang lain secara efektif. Kasih yang benar terhadap diri sendiri ini juga menuntun kita secara langsung kepada kasih Allah, di mana kebaikan kita yang tertinggi dan utama terpenuhi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita mempraktikkan kasih yang benar terhadap diri sendiri dengan menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan rohani kita, ataukah kita puas hanya dengan kepuasan duniawi yang sementara? Seberapa efektifkah kita memanfaatkan kebiasaan sehari-hari, doa, dan sakramen untuk menyegarkan jiwa serta mempersiapkan diri bagi kehidupan kekal? Dengan cara apa kasih yang lebih dalam dan sehat terhadap diri sendiri dapat mengubah cara kita mengasihi sesama dan Allah?

Ekaristi, Pesta Surgawi bagi Kita

Hari Minggu Biasa ke-28 [A]

11 Oktober 2026

Matius 22:1-14

Sebagai seorang Katolik, saya selalu mengaitkan perumpamaan tentang perjamuan kawin ini dengan perayaan Ekaristi. Mengapa demikian?

Dalam perumpamaan tersebut, sang raja menyiapkan perjamuan kawin bagi putranya. Kita dapat membayangkannya sebagai perayaan paling megah di dalam kerajaan tersebut. Seorang ayah yang bangga, yang juga merupakan raja, tentu ingin menjadikan putranya pria paling bahagia di kerajaannya, sekaligus menunjukkan kepada seluruh rakyatnya bahwa ini adalah peristiwa terpenting dalam keluarga kerajaan. Oleh karena itu, semua orang tentu membayangkan hidangan yang paling lezat, aneka anggur pilihan yang berlimpah, dan hiburan terbaik. Setiap tamu yang memenuhi undangan tersebut tidak hanya merasa sangat terhormat, tetapi juga mengalami sukacita yang luar biasa.

Demikian pula halnya dengan Ekaristi. Ekaristi adalah sebuah perjamuan, tetapi disiapkan bukan oleh penguasa duniawi, melainkan oleh Raja Semesta Alam. Karena disiapkan oleh Raja Surgawi, perayaan ini menjadi perayaan terbesar dan tertinggi yang dapat kita alami di bumi. Namun, hal yang benar-benar menjadikan Ekaristi sebagai perayaan puncak adalah karena Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menanggapi undangan-Nya. Sesuatu itu tidak dapat ditawarkan oleh dunia, jauh lebih berharga daripada emas, dan lebih agung daripada hadiah apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah menganugerahkan Yesus sendiri kepada kita—bukan sekadar hadir dalam pikiran atau hati kita, melainkan benar-benar menyentuh bibir dan meresap ke dalam jiwa kita. Yesus memberikan bukan hanya sebagian dari diri-Nya, melainkan semuanya. Karena Yesus bersatu secara kekal dengan Bapa dan Roh Kudus, serta dengan seluruh orang kudus di surga, maka setiap kali menyambut Ekaristi, kita sebenarnya sedang menyambut surga itu sendiri.

Sayangnya, sebagian dari kita sering kali menyerupai para tamu undangan yang menolak hadir karena lebih mengutamakan urusan sehari-hari dan pekerjaan rutin daripada perjamuan kerajaan tersebut. Saat kita tidak nilai Ekaristi sebagai sesuatu yang paling berharga, yakni undangan ilahi perayaan surgawi, kita mulai mencari alasan-alasan dangkal untuk pergi ke gereja. Mungkin kita hadir hanya untuk mencari inspirasi atau hiburan dari homili sang imam; sehingga saat homilinya membosankan, kita pun berhenti menghadiri Misa. Atau, mungkin kita pergi semata-mata karena tradisi keluarga; begitu tidak lagi tinggal bersama orang tua, kita merasa tidak berkewajiban lagi untuk hadir. Melalui sikap-sikap tersebut, kita telah merendahkan Ekaristi menjadi sekadar aktivitas duniawi biasa, sekaligus menyia-nyiakan jalan menuju surga.

Bahaya lain yang tidak kalah besarnya adalah memperlakukan Ekaristi secara tidak pantas, layaknya tamu yang memasuki perjamuan raja tanpa mengenakan pakaian pesta yang pantas. Mungkin kita menghadiri misa, bukan untuk mencari Allah, melainkan demi mengejar kepentingan diri sendiri yang egois. Namun, kondisi yang paling berbahaya adalah menyambut Ekaristi dalam keadaan dosa berat. Sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1 Kor 11:27, 29). Rahmat Allah itu cuma-cuma, tapi tidak pernah murahan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk permenungan:

Apakah saya sungguh memandang kehadiran saya dalam Misa sebagai tanggapan penuh sukacita atas undangan ilahi dari Sang Raja, atau justru membiarkan kesibukan sehari-hari, dan maupun motif yang dangkal menjadi prioritas utama? Saat bersiap menyambut Ekaristi, apakah saya menerima Yesus dengan hati yang tulus, ataukah saya memperlakukan perjumpaan kudus hanya sebagai sekadar rutinitas? Adakah dosa berat yang belum diakui atau sikap egois dalam hidup saya yang menghalangi saya untuk mengenakan “busana pesta pernikahan” di hadapan altar Tuhan?

Kasih Allah yang “Tidak Masuk Akal”

Hari Minggu Biasa ke-27 [A]

4 Oktober 2026

Matius 21:33-43

Bacaan Injil kita mengisahkan seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para pekerja agar mereka merawatnya dan menghasilkan panen yang baik. Awalnya, kisah ini tampak seperti peristiwa biasa dalam dunia pertanian. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai peristiwa aneh dan tidak terduga mulai terjadi. Apa sajakah hal itu? Apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, sang pemilik mempersiapkan hampir seluruh kebutuhan kebun sebelum ia pergi. Ia menanam pohon anggur, membangun pagar untuk melindungi kebun dari binatang liar, menggali tempat pemerasan untuk mengolah buah anggur menjadi sari buah untuk difermentasi, serta mendirikan menara jaga agar penjaga dapat memantau datangnya pencuri atau binatang pengganggu. Menara tersebut juga berfungsi sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi para pekerja. Padahal, secara hukum, sang pemilik tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menyediakan seluruh fasilitas itu. Sang pemilik sudah mengerjakan setengah bagian dari apa yang para pekerja perlu lakukan!

Kedua, hal yang lebih luar biasa terjadi ketika hamba pertamanya dipukuli oleh para penggarap yang memberontak. Normalnya, seorang pemilik tanah akan segera mengirim pasukan untuk merebut kembali haknya dan menghukum para pekerja yang tidak tahu berterima kasih tersebut. Sebaliknya, ia justru melakukan hal yang tidak terpikirkan: ia mengirim hamba-hamba lainnya meskipun tahu mereka dapat mengalami nasib kejam yang sama. Pada akhirnya, ia mengutus putra kesayangannya sendiri dengan harapan para pekerja akan menghormati putranya. Namun, para penggarap jahat itu malah membunuh putra sang pemilik (Mat 21:33–39; Mar 12:1–8; Luk 20:9–15).

Tindakan pemilik kebun tersebut tampak tidak rasional, bahkan dapat dianggap tidak bijaksana oleh pemikiran manusia. Tidak ada orang yang berpikir secara logis akan bertindak demikian. Namun, tindakan tersebut justru mencerminkan besarnya kasih Allah kepada manusia. Sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16), meskipun Allah tahu bahwa manusia akan berulang kali menolak-Nya. Kasih ilahi ini melampaui logika manusia, dan melalui kasih inilah kita menerima harapan keselamatan, bukan penghukuman.

Logika manusia yang terbatas ini sering kali tercermin dalam pertanyaan kita sehari-hari. Sebagai contoh, seorang pelajar pernah bertanya kepada seorang imam, “Romo, mengapa kita perlu mengaku dosa jika kita tahu bahwa kita akan berdosa lagi?” Imam tersebut menjawab, “Ya, kamu benar. Kita memang bisa jatuh ke dalam dosa lagi.” Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, “Saat sakit, bukankah kita minum obat agar sembuh? Namun, kita pun tahu bahwa setelah kita sembuh, ada kemungkinan untuk sakit lagi di masa depan. Lalu, apakah kita akan berhenti minum obat tersebut?”

Ilustrasi tersebut membantu kita memahami Sakramen Rekonsiliasi sebagai wujud nyata dari kasih dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Sebesar apa pun dosa kita dan sejauh apa pun kita telah jatuh, Allah selalu siap menerima kita kembali ketika kita datang dengan penyesalan yang tulus. Dia memahami kelemahan kita dan mengetahui kejatuhan kita di masa depan, namun Dia tidak pernah menarik kembali kasih-Nya. Meski demikian, kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah sesuatu yang murahan. Jika kita terus menganggap remeh kasih-Nya dan menyalahgunakan kerahiman-Nya, maka pada penghakiman terakhir, Tuhan akan datang bukan hanya sebagai Juruselamat, melainkan sebagai Hakim yang Adil.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Seberapa sering saya menyadari dan mensyukuri anugerah, berkat, dan rahmat yang telah Allah siapkan serta percayakan kepada saya dalam hidup ini? Saat saya berulang kali gagal atau jatuh ke dalam dosa yang sama, apakah saya dengan rendah hati memohon belas kasih Allah melalui pengakuan dosa, atau justru mencari-cari alasan dan menjauh dari-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan, atau apakah saya menganggap remeh kasih Allah dan menyalahgunakan belas kasih-Nya yang tak terbatas dalam pilihan-pilihan hidup saya sehari-hari?

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?

Kurban Hidup

Minggu ke-22 Masa Biasa [A]

30 Agustus 2026

Roma 12:1-2

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, Santo Paulus mendesak umat beriman untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “kurban yang hidup” (Roma 12:1). Bagi para pembaca pada zaman dahulu, pernyataan Santo Paulus ini merupakan sebuah oksimoron —sebuah kiasan yang menggabungkan dua kata bermakna berlawanan, seperti “manis pahit” atau “permasalahan yang baik.” Namun, mengapa konsep Paulus tentang “kurban yang hidup” sejak awal dianggap sebagai suatu oksimoron?

Pada masa lampau, orang-orang menyembah dewa-dewa dengan mempersembahkan kurban. Praktek ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada zaman Paulus. Orang-orang Israel akan pergi ke Bait Allah di Yerusalem membawa hewan—paling sering domba—untuk dikorbankan. Pertama-tama, para imam memeriksa setiap hewan untuk memastikan bahwa hewan tersebut bebas dari cacat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, penyembah meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu untuk secara simbolis mengidentifikasi dirinya dengan kurban tersebut. Tenggorokan hewan itu kemudian dipotong dengan gerakan cepat menggunakan pisau yang sangat tajam untuk menjamin kematian yang cepat. Seorang imam menampung darah segar hewan itu dalam baskom khusus dan mengaduknya secara terus menerus untuk mencegah pembekuan darah. Dia kemudian membawanya ke mezbah untuk dipercikkan di bagian dasarnya. Akhirnya, para imam menguliti hewan itu, memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkan bagian-bagian tersebut atau seluruh tubuh kurban di atas mezbah untuk dibakar (lihat Imamat 1–4).

Karena ritus pengorbanan di dunia kuno maupun di Israel kuno berkaitan erat dengan kematian kurban, ungkapan Santo Paulus mengenai “kurban yang hidup” terdengar seperti sebuah kontradiksi. Padahal, Paulus sedang mengacu pada tradisi Perjanjian Lama. Para nabi terdahulu sering menekankan bahwa pengorbanan hewan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pertobatan yang tulus dan sepenuh hati. Raja Daud pernah menyatakan, “Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Maz 51:17). Demikian pula, Nabi Hosea menyampaikan firman Allah: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

Menjadi “kurban yang hidup” memang masih melibatkan kematian, namun bukan kematian secara fisik. Santo Paulus menjelaskan transformasi pribadi ini saat menuliskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Paulus tidak dieksekusi secara harfiah di kayu salib saat menulis kalimat itu; melainkan, ia telah mematikan ego, kepentingan pribadinya, serta ambisi duniawinya demi hidup sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Sejak saat itu, segala hal yang ia katakan dan lakukan semata-mata diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan mewartakan Injil.

Sama seperti Yesus yang telah mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban sempurna di kayu salib, Santo Paulus juga menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada Allah dengan cara hidup selaras dengan kehendak ilahi. Melalui teladan yang sama, Santo Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh, pekerjaan, studi, relasi, waktu istirahat, dan bahkan penderitaan kita sebagai kurban yang hidup. Dalam segala hal yang kita jalani, kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Bagi umat Katolik, setiap aktivitas sehari-hari ini dapat disatukan dengan pengorbanan Yesus dalam Kurban Suci Ekaristi, sehingga menjadi bagian dari persembahan sempurna yang merupakan ibadah rohani yang sejati (Roma 12:1).

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana kita dapat mematikan ego, keinginan diri, dan ambisi duniawi kita sehingga Kristus benar-benar dapat hidup melalui kita setiap hari? Dengan cara apa kita dapat mempersembahkan rutinitas harian kita—pekerjaan, studi, hubungan, dan bahkan perjuangan hidup kita—sebagai kurban yang hidup kepada Tuhan? Apakah kita telah mempersembahkan devosi batin serta kasih yang bermakna kepada Tuhan dalam tindakan sehari-hari, ataukah kita sekadar menjalankan rutinitas keagamaan lahiriah?

Siapakah Yesus Bagimu?

Minggu ke-21 Masa Biasa [A]

23 Agustus 2026

Matius 16:13-20

Hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Pertanyaan ini dapat dikatakan sebagai pertanyaan terpenting yang harus kita jawab dalam hidup ini. Kita mungkin memberikan berbagai jawaban—bahwa Yesus adalah sahabat terkasih, Gembala yang Baik, Sang pemimpin, atau Juruselamat dan Penebus kita. Walaupun semua sebutan itu benar, segalanya akan berubah ketika kita menjawab Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita.

Jika kita sungguh-sungguh mengakui Yesus sebagai Allah, hidup kita harus terarah kepada-Nya dan menjadikan Dia prioritas utama. Sekadar memberikan penghormatan tertinggi kepada-Nya belumlah cukup; kita dipanggil untuk mempersembahkan penyembahan yang hanya layak bagi Allah. Memberikan sebagian waktu, sumber daya, dan talenta demi kemuliaan-Nya pun belum memadai; kita dituntut untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Dibaptis dan menghadiri Misa setiap hari Minggu hanyalah batas minimum. Sebaliknya, kita perlu berusaha menyenangkan hati-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pilihan sehari-hari setiap saat.

Banyak di antara kita mungkin merasa bahwa standar ini terlalu sulit untuk dicapai karena kita bukan imam atau biarawan-biarawati, atau karena kita memiliki berbagai prioritas lain seperti karier, hobi, dan ambisi pribadi. Bagi banyak orang, tuntutan ini tampak tidak realistis. Namun, tuntutan ini tidak muncul tanpa alasan, melainkan mengalir secara alami dari kebajikan keadilan.

Sederhananya, keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Ketika seorang pemberi kerja membayar upah yang layak kepada pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya, hal itu bukanlah tindakan belas kasih, melainkan kewajiban yang dituntut oleh keadilan. Demikian pula sebagai warga negara, keadilan menuntut kita untuk mematuhi hukum dan berkontribusi bagi kebaikan bersama, misalnya dengan membayar pajak. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban melayani masyarakat dengan jujur dan berintegritas—seperti melindungi warga dari kriminalitas, menyediakan layanan kesehatan, serta membangun infrastruktur—karena semua pelayanan tersebut merupakan hak warga negara. Semua kewajiban ini bersumber dari tuntutan keadilan.

Jika kita harus menegakkan keadilan dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, terlebih lagi kita wajib memberikan apa yang menjadi hak Allah sebagai Pencipta kita. Kita perlu menyadari bahwa Allah tidak wajib menciptakan kita, namun Dia menghadirkan kita ke dunia, menganugerahi kita akal budi dan kehendak bebas, serta menjadikan kita istimewa di antara seluruh ciptaan. Lebih dari itu, Allah tidak berkewajiban menyelamatkan kita, namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Dia menebus kita melalui Putra-Nya agar kita tidak binasa (Yohanes 3:16). Akhirnya, dengan penuh kasih, Allah menawarkan persahabatan-Nya dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Walaupun kita tidak layak menerima apa pun, Allah telah memberikan segalanya bagi kita. Oleh karena itu, keadilan menuntut kita untuk menyerahkan kembali seluruh keberadaan kita kepada-Nya—waktu, talenta, dan bahkan seluruh hidup kita. Hal ini tidak berarti bahwa semua orang dipanggil menjadi imam atau biarawan-biarawati. Sebagai kaum awam dan profesional, kita dapat memprioritaskan Yesus dengan memastikan bahwa setiap keputusan yang kita ambil selaras dengan kehendak ilahi-Nya dan menyenangkan hati-Nya.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa jauh kita mengizinkan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah membentuk kembali pilihan, prioritas, dan kebiasaan hidup sehari-hari? Apakah kita hanya memberikan waktu dan talenta seminimal mungkin kepada Allah, ataukah kita berusaha mempersembahkan pengabdian seutuhnya yang menjadi hak-Nya? Lewat langkah praktis apa kita dapat memuliakan Allah dan mencari kehendak-Nya dalam panggilan hidup sebagai awam, dalam keluarga, serta dalam pekerjaan sehari-hari?

Gandum dan Lalang di Hati Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [A]

19 Juli 2026

Matius 13:24-43

Hari ini kita mendengarkan Perumpamaan tentang Gandum dan Lalang. Sebuah hal yang menarik muncul ketika pemilik tanah menyadari bahwa lalang tumbuh berdampingan dengan tanaman yang baik, namun ia justru memilih untuk membiarkan keduanya hidup bersama. Mengapa ia mengambil keputusan demikian?

Ketika para pelayan menyarankan agar lalang segera disingkirkan, pemilik tanah menolaknya karena alasan yang sepenuhnya praktis. Pada tahap awal pertumbuhan, lalang memiliki rupa yang hampir identik dengan gandum yang sehat. Jika para pelayan memaksa untuk mencabuti lalang sebelum waktunya, mereka justru akan keliru mencabut gandum yang baik. Meskipun tindakan ini sangat masuk akal dalam konteks pertanian, Yesus tidak secara eksplisit menjelaskan dalam uraian teologis-Nya mengapa Tuhan tidak langsung menghukum orang-orang yang membawa kejahatan di dalam hati mereka. Kenyataan ini memicu sebuah pertanyaan yang penting: apa alasan spiritual yang lebih dalam sehingga Tuhan mengizinkan orang jahat dan orang benar untuk hidup berdampingan di dunia ini untuk sementara waktu?

Jawabannya berkaitan erat dengan Perumpamaan Penabur yang dikisahkan sebelumnya dalam Matius 13:1-23 (Minggu sebelumnya). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menguraikan empat jenis tanah yang mewakili disposisi atau kondisi hati manusia saat mendengar Firman Tuhan, yaitu jalan setapak, tanah berbatu, tanah berduri, dan tanah subur. Berbeda dengan tanah di dunia nyata yang sifatnya statis, disposisi spiritual hati manusia bersifat dinamis dan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sifat dinamis inilah yang menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan menunda kehancuran “lalang” rohani. Di dalam hati manusia, baik Sabda Allah dan pengaruh dunia terus-menerus berjuang untuk menguasai tanah kehidupan kita. Ketika menghadapi pengaruh kuasa jahat, manusia memiliki respons yang beragam; sebagian orang mengabaikan kejahatan, sebagian berjuang melawannya, dan sebagian lagi justru menyambutnya hingga berkembang menjadi tindakan berdosa.

Kemampuan manusia untuk berubah secara internal menjelaskan mengapa Yesus memilih untuk membiarkan “lalang” tetap tumbuh di antara gandum daripada menjatuhkan penghakiman instan. Tuhan mengizinkan perjuangan spiritual ini terjadi karena Dia tahu bahwa meskipun sebuah hati sedang dikuasai oleh pengaruh jahat saat ini, kisah hidup manusia tersebut belum berakhir. Melalui kehendak bebas yang rahmat-Nya, seseorang yang saat ini hidup bagaikan “lalang” memiliki kesempatan untuk bertobat, berubah, dan akhirnya bertransformasi menjadi “gandum.” Prinsip ini menjadi kabar baik yang luar biasa bagi kita semua. Sekalipun bisikan roh jahat mencoba menaklukkan hati kita, Allah dengan penuh kesabaran terus memberikan pertolongan-Nya agar kita memiliki kesempatan untuk sembuh dan menghasilkan buah yang baik.

Allah membantu kita melawan benih-benih jahat di dalam hati melalui beberapa cara praktis. Pertama, Dia bekerja melalui Firman-Nya yang telah ditanam di dalam diri kita melalui Kitab Suci, yang tidak hanya menginspirasi kita untuk berbuat baik tetapi juga melatih kita untuk mengenali dan melawan kejahatan. Kedua, Ia mencurahkan rahmat-Nya secara sakramental, terutama melalui Ekaristi yang menyehatkan jiwa dan Sakramen Tobat yang memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Ketiga, Allah menyediakan komunitas Kristiani sebagai tempat perlindungan yang vital agar kita dapat menemukan dukungan dan dorongan rohani dari sesama orang percaya. Terakhir, Ia bahkan menggunakan penderitaan dan cobaan hidup sebagai proses “pemangkasan” spiritual untuk membuang hal-hal berbahaya yang melekat pada diri kita, sehingga kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa dalam kita menyelami Kitab Suci sehingga kita dapat dengan jelas membedakan antara benih baik dari Allah dan lalang halus dari musuh dalam kehidupan sehari-hari? Ketika kita mengenali adanya kecenderungan atau kebiasaan buruk yang mulai berakar di dalam hati, apakah kita secara aktif mencari pertolongan melalui sakramen dan komunitas, ataukah kita justru mencoba menghadapi perjuangan tersebut sendirian? Terakhir, bagaimana kita dapat mengubah perspektif hidup agar mampu melihat penderitaan dan cobaan yang terjadi saat ini bukan sebagai bentuk pengabaian dari Allah, melainkan sebagai cara-Nya yang sabar dan penuh kasih untuk memangkas kita agar menjadi pribadi yang lebih berbuah?

Pentekosta, Menara Babel, dan Bahasa

Minggu Pentekosta [A]

Kisah Para Rasul 2:1-11

24 Mei 2026

Pentekosta sering dipandang sebagai kebalikan dari kisah Menara Babel (Kej 11). Namun, mengapa tradisi Gereja mengaitkan kedua kisah yang berbeda ini? Jawabannya adalah bahasa.

Dalam Kejadian 11, kita melihat fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kej 11 mengisahkan manusia yang memiliki satu bahasa dan juga kata-kata yang sama. Kesatuan bahasa ini memungkinkan mereka berbagi ide dengan lancar dan bekerja sama dengan mudah, sehingga mendorong kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Bahasa memungkinkan mereka mengembangkan teknologi seperti pembuatan batu bata, membangun kota yang membutuhkan sistem politik dan ekonomi yang kompleks, serta membangun menara raksasa yang menuntut teknik yang rumit.

Sejatinya, bahasa membedakan kita dari semua makhluk lain. Meskipun hewan berkomunikasi, hanya manusia yang berbagi ide-ide kompleks. Hewan dapat bertukar informasi dasar tentang makanan dan predator, tetapi manusia menyampaikan idealisme, impian masa depan, imajinasi, kebijaksanaan masa lalu, dan juga pengetahuan. Meskipun hewan berkomunikasi melalui suara dan bau, hanya manusia yang dapat mencatat kata-kata mereka dalam tulisan, meneruskan pemikiran mereka kepada generasi mendatang. Melalui bahasa tertulis, kita mengubah kata-kata kita menjadi seni, puisi, musik, dan ilmu pengetahuan.

Jika melihat perkembangan bayi manusia dan membandingkannya dengan bayi binatang lain, kita menyadari bahwa bayi manusia sangat rentan dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk bertahan hidup selama beberapa tahun pertama. Namun, meskipun memiliki kelemahan fisik ini, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki hewan lain: kemampuan bawaan untuk berbahasa. Pada dua hingga tiga bulan pertama, bayi mulai mengeluarkan suara-suara vokal seperti “ooh” dan “ah.” Mereka menangis, tersenyum, dan tertawa sebagai respons terhadap orang tua mereka. Pada usia empat hingga enam bulan, mereka mulai menggabungkan konsonan dan vokal menjadi bunyi berulang seperti “ba-ba” atau “ma-ma,” berlatih dengan pita suara mereka. Antara enam dan dua belas bulan, mereka mulai menghubungkan bunyi dengan makna—mengatakan “mama” untuk secara khusus memanggil ibu mereka. Mereka juga mulai menggunakan isyarat, menunjuk pada apa yang mereka inginkan atau melambaikan tangan untuk berpamitan, serta mulai memahami kata-kata sederhana seperti “ya.” Bayi manusia sungguh terlahir untuk menggunakan bahasa.

Sayangnya, orang-orang dalam Kejadian 11 melupakan satu kebenaran mendasar: bahasa manusia pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan dunia melalui firman-Nya, yang berarti bahwa kata-kata dan bahasa pada hakikatnya adalah milik-Nya. Ketika Ia menciptakan pria dan wanita menurut citra-Nya, Ia memberdayakan kita dengan kapasitas intelektual, termasuk kemampuan untuk membentuk dan menggunakan bahasa. Para pembangun menara Babel percaya bahwa kecerdasan, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, dan talenta besar lainnya sepenuhnya merupakan pencapaian mereka sendiri. Mereka pun dengan sombong berusaha mencapai langit dan membuat nama bagi diri mereka sendiri (Kej 11:4).

Pentekosta membalikkan peristiwa di Babel dengan mengungkapkan bahwa bahasa adalah karunia Roh Kudus. Tujuan utama karunia ini adalah untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, bukan karya-karya manusia. Pentekosta mengingatkan kita bahwa bahasa kita tidak hanya mempersatukan kita satu sama lain, tetapi juga menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebelum para murid menerima karunia Roh Kudus, mereka menghabiskan waktu berdoa—dan doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Sebelum mereka berbicara tentang Allah, mereka terlebih dahulu berbicara kepada Allah. Kita tidak perlu membangun menara dengan tangan kita untuk mencapai langit; kita hanya perlu menggunakan bahasa yang diberikan Allah kepada kita untuk mencapai-Nya dengan kerendahan hati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

pertanyaan panduan:

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita menggunakan kata-kata kita untuk membangun nama bagi diri kita sendiri (seperti di Babel), atau untuk mempersatukan dan mengangkat orang-orang di sekitar kita? Para murid berbicara kepada Tuhan sebelum mereka berbicara tentang-Nya—seberapa banyak bahasa sehari-hari kita yang didedikasikan untuk berbicara dengan Tuhan dalam kerendahan hati? Karena kata-kata kita adalah karunia yang dimaksudkan untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, pesan apa yang disampaikan oleh ucapan kita kepada dunia saat ini?

Roh Kudus dan Sakramen Penguatan

Minggu Paskah Keenam [A]

Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17

10 Mei 2026

Sakramen Penguatan atau Krisma bisa dibilang yang paling kurang mendapatkan perhatian dan juga seringkali disalahpahami di antara ketujuh Sakramen di Gereja Katolik. Namun, mengapa kita gagal menghargai sakramen ini? Apakah sakramen ada dalam Alkitab? Dan, bagaimana sakramen ini mengungkapkan rahasia-rahasia tentang Roh Kudus?

Kita sering kali kesulitan untuk menghargainya karena sakramen ini tidak memiliki dampak langsung dan terlihat dalam hidup kita, padahal dasarnya sangat alkitabiah. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, khususnya bab 8, kita melihat Filipus sang Diakon berkhotbah dan membaptis di Samaria. Ketika para Rasul Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa agar mereka yang sudah dibaptis menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun atas mereka. Narasi biblis ini menegaskan bahwa sejak zaman para Rasul, telah ada sakramen yang khusus untuk menyampaikan kehadiran dan karunia Roh Kudus, suatu pelayanan yang secara unik terikat pada otoritas para Rasul.

Melanjutkan tradisi ini, Gereja mengajarkan bahwa para Uskup sebagai penerus para Rasul menjadi pelaksana utama sakramen penguatan ini. Nama “Penguatan” digunakan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang diterima memperkuat dan mengokohkan rahmat awal Baptisan. Sementara Baptisan dipandang sebagai sarana kelahiran rohani, Penguatan berfungsi sebagai sarana peralihan menuju kedewasaan rohani. Sakramen ini dirancang untuk membekali orang beriman dalam menjalankan misi mereka di dunia dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk peperangan rohani melawan kuasa kegelapan.

Namun, sakramen ini sering kali kurang populer dibandingkan sakramen-sakramen lain karena tidak secara dramatis mengubah gaya hidup atau status eksternal seseorang. Sakramen ini tidak seperti Sakramen Perkawinan atau Tahbisan yang mengubah seseorang menjadi suami-istri atau imam. Selain itu, karena hanya diterima sekali, sakramen ini tidak memiliki katekese berkala seperti yang kita temukan dalam Ekaristi atau Sakramen Pengakuan Dosa. Banyak orang Kristen modern juga keliru mengidentikkan pertumbuhan rohani dengan sensasi emosional. Ketika kita tidak merasa “tersentuh,” tidak mendengar suara Tuhan, atau tidak mengalami karunia yang spektakuler selama doa, kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki Roh Kudus. Karena sakramen ini tidak memberikan sensasi yang diharapkan, kita menganggap bahwa sakramen ini membosankan atau stagnan.

Namun, jika kita baca dengan teliti Kisah Para Rasul, bab 8 menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui pertunjukan yang spektakuler. Setelah Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka pada orang-orang Samaria, tidak ada penyebutan tentang mukjizat, nubuat, bahasa roh atau pertunjukan rohani yang luar biasa lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sering bekerja dengan tenang dan bertahap. Melalui Sakramen Penguatan, kita menerima peningkatan dalam tujuh karunia Roh Kudus: Kebijaksanaan, Pemahaman, Nasihat, Keteguhan Hati, Pengetahuan, Kesalehan, dan Takut akan Tuhan. Karunia-karunia ini memungkinkan kita menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bahkan di tengah cobaan. Bukti sejati karya Roh Kudus terdapat pada tindakan-tindakan kecil yang setia—memilih untuk menghadiri Misa meski terasa membosankan, tetap penuh kasih di tengah kesulitan pernikahan, atau melayani orang lain tanpa mencari pujian. Inilah tanda-tanda hening bahwa Roh Kudus melalui sakramen benar-benar mengubah jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa sering saya menyamakan pertumbuhan iman dengan seberapa “emosional” atau “bersemangat” saat berdoa? Bagaimana saya dapat kembali fokus pada pertumbuhan yang tenang dan bertahap yang diberikan Roh Kudus? Jika Baptisan adalah kelahiran rohani dan Penguatan adalah masuknya saya ke dalam kedewasaan rohani, di bidang-bidang kehidupan mana saya dipanggil untuk lepas dari iman “yang kekanak-kanakan” dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang Kristen yang dewasa?