Kusta

Minggu Keenam dalam Masa Biasa [B]

14 Februari 2021

Markus 1: 40-45

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.

Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sangat menular pada zaman dahulu, reaksi alami bagi para penduduk adalah untuk mengeluarkan orang yang terinfeksi dari komunitas. Bisa dibayangkan dampak pengusiran yang diderita para korban. Mereka terputus dari sumber kebutuhan dasar, dipisahkan dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka sadar bahwa mereka akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Penderita kusta bisa dengan mudah menjadi gila. Kesadaran bahwa mereka tidak akan bertahan hidup sendiri di luar masyarakat mendorong para penderita kusta untuk berkumpul dan membentuk komunitasnya. Oleh karena itu, koloni penderita kusta dianggap sebagai solusi praktis untuk saling mendukung dalam menghadapi kenyataan hidup yang suram.

Dalam konteks Yahudi kuno, penyakit kulit khususnya kusta tidak hanya merupakan masalah biologis, mental dan sosial, tetapi merupakan masalah agama. Kitab Imamat menyatakan bahwa orang dengan penyakit kulit tertentu termasuk kusta harus menghadap imam dan diperiksa tubuhnya. Kemudian, sang imam dapat menyatakan orang itu najis. Setelah putusan ini, orang tersebut harus keluar dari komunitas, memakai kain lusuh, dan membiarkan rambutnya acak-acakan. Ini menjadi tanda-tanda bahwa mereka mengidap penyakit menular dan najis. Namun, jika seseorang tetap mendekati mereka, mereka akan berteriak, “Najis! Najis!” Ini untuk memastikan orang yang sehat dan tahir tidak akan mendekat. [Im 13] Jika seseorang dinyatakan sebagai najis, ini berarti orang tersebut tidak layak untuk beribadah dan tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci seperti Bait Allah. Jadi, bagi seorang Yahudi yang mengidap penyakit kusta, ia tidak hanya dikucilkan secara fisik dan mental, tetapi juga secara agama. Penyakit itu juga memisahkan mereka dari Tuhan yang mereka layani dan sembah.

Dalam Injil, kita belajar banyak dari sang penderita kusta. Kita melihat sang penderita kusta adalah orang yang berinisiatif untuk mendekati Yesus, dan dengan demikian, melanggar larangan paling mendasar untuk menjauh dari manusia lain dan Tuhan. Permintaan penderita kusta bukanlah untuk disembuhkan, melainkan untuk ‘menjadi tahir’. Keinginan terdalam dari penderita kusta ini bukanlah pertama-tama penyembuhan fisik, tetapi menjadi tahir agar bisa menyembah Tuhannya. Kesembuhan yang sejati datang hanya jika kita bisa mendekati dan menyembah Tuhan yang benar. Melihat keberanian dan kerinduannya yang terdalam, Yesus tergerak oleh belas kasihan dan membuatnya tahir.

Penderita kusta dalam Injil mengajar kita banyak hal tentang keinginan sejati untuk kesembuhan. Mungkin, banyak dari kita mencari Tuhan karena ingin sembuh dari penyakit, mencari kesuksesan finansial atau terbebas dari masalah lain. Namun, kita jarang ingin melihat Tuhan karena kita ingin disembuhkan secara rohani, dibebaskan dari dosa, dan menjadi satu dengan Dia. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penyembuhan sejati lebih dari sekedar kesehatan fisik dan stabilitas ekonomi, tetapi persatuan dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Healer of Our Souls

Fifth Sunday in Ordinary Time [B]

February 7, 2021

Mark 1:29-39

Jesus cannot be separated from His healing ministries. Some of the healings are remarkable, like the healing of a woman with the hemorrhage and Jarius’ daughter [Mark 5:321-43]. They are astonishing because these are practically impossible cases. The woman has suffered for twelve years without sign of hope, and Jarius’ daughter is as good as dead. Yet, Jesus does heal not only those with grave illness but also those with curable sickness.

Jesus is at the house of Simon, and He discovers that Simon’s mother-in-law has a fever. Fever is a symptom that points to an infection, from ordinary flu to covid-19. In the case of Simon’s mother-in-law, we can safely assume that she has a curable sickness. Without proper rest and treatment, she will get back to her usual activities. Yet, despite this fact, and even without a particular request from the person, Jesus decides to heal her anyway. Jesus understands that sickness, no matter insignificant it is, remains improper in our lives. To be a healthy person is God’s plan for us.

If we see our lives, we quickly recognize that getting sick is part of our life. Sickness becomes a constant reminder that our bodies are limited and fragile. Indeed, we have an immune system, but often this potent protection is not enough. With the pandemic caused by covid-19, we realize that human beings are not powerful as we think. As we struggle to find the cures, the virus, bacteria, and other sickness causes are also evolving and getting deadlier. The illness causes pain and suffering, and these weaknesses remind us of our death. Yet, despite this realization, deep down, we know that sickness is not the real deal, and it is a privation rather than perfection. We desire to be healthy. We fight to be healthy, and only by being healthy, we may achieve our potentials.

This is why we go to the doctors if we are sick, hit the gym, do other exercises, and live a healthy lifestyle. It is the same reason that the persons with the gift of healing are sought for. It is the same reason that many people want to see Jesus. 

We may ask, why does not Jesus heal all of us? The answer might not be that simple, but we can say that Jesus first comes to heal our broken relationship with God. He saves us from our sins. His miraculous healings are signs of this redemption. Even in His providential way, God can use our illness and suffering to make us even spiritually closer to Him. St. Dominic de Guzman is known to have very rigid mortification practices, and a witness said that a cord of chains was tied in his tight and just removed when he died. Mortification is one of the favorites ways of the saints to seek God. They do not want that their healthy bodies become a hindrance to seek God. Meanwhile, Beato Carlo Acutis, who got sick of leukemia, a severe illness that eventually took his life, offered his suffering to the Lord. He said, “I offer all the suffering I will have to suffer for the Lord, for the Pope, and the Church.”

Jesus brings us healing to our souls and bodies. Yet, in His providential care, our bodily weakness can lead us even closer to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: jonathan-borba

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]

7 Februari 2021

Markus 1: 29-39

Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.

Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.

Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.

Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.

Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.

St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”

Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Jonathan-borba

Jesus and Exorcism

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

January 31, 2021

Mark 1:21-28

Jesus performed His first exorcism in the Gospel of Mark. Reading the context, we discover that Jesus was teaching in the synagogue, and the people recognized Him teaching with authority. When Jesus taught with authority, it does not merely mean He preached with eloquence and chrism, but His teachings manifested in powerful signs, like healings and exorcism.

The word exorcism is usually understood as expelling the evil spirits or demons from a person possessed or a place infected. Unfortunately, because of Hollywood movies’ influence, the understanding of exorcism has been corrupted, deformed, and even ridiculed. Yet, the Catholic Church, exorcism is rooted in Jesus Christ Himself.

The literal meaning of ‘exorcism’ is to ‘bind with an oath.’ Then, how did this word become related to evil spirits? When we swear an oath, we need to invoke a higher being as the guarantor of our promise. Naturally, an oath is to say a pledge by invoking the Lord Himself as a witness. In the context of exorcism, the priest-exorcist will invoke the name of God to bind the demons and send them ‘at the feet of the cross of Jesus’ for the judgment. There is no genuine and effective exorcism without invoking the name and power of the true God.

What is interesting is that Jesus drove out demons without invoking the name of God. He said, “Quiet, come out of him!” Jesus was exorcising with His authority, and the demons obeyed Him because they recognized His divine power. The demons also acknowledge Jesus not as Messiah or the king of the Jews, but as ‘the Holy One of God.’ If we go back to the Old Testament, this particular title refers to Israel’s high priest. “… Aaron, the holy one of the Lord… [Psa 106:16].” The demons revealed another dimension of Jesus’ identity: He is the high priest. From this truth, we may conclude that exorcism is a priestly duty.

Participating in the high priestly office of Jesus, the bishops are the chief exorcists in their dioceses. We remember that bishops are high priests in their respective dioceses. Each bishop then may appoint and delegate some well-trained priests to become exorcists. I was fortunate to meet and discuss many things with Fr. Jose Syquia, an exorcist of the Archdiocese of Manila.

However, we must not forget that we also share in the priesthood of Jesus Christ because of our baptism. So, we also have authority over the evil spirits. As laity, we are allowed to say specific prayers of deliverance when we feel extraordinary presence and activities of the evil spirits. The prayer to St. Michael, the archangel, is most recommended for the laity. Yet, we must not forget that the evil spirits work in very subtle ways, primarily through temptations to sin. Often, without realizing it, we are already under the control of the devil as we live a life full of vices. This is our daily war against the kingdom of Satan, and we cannot win without invoking the name of Jesus, constant prayers, the sacraments, and the help of the Church.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Eksorsisme

Minggu Keempat di Masa Biasa [B]

31 Januari 2021

Markus 1: 21-28

Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.

Kata eksorsisme biasanya diartikan sebagai mengusir roh-roh jahat dari seseorang yang kerasukan atau tempat yang terjangkiti. Sayangnya, karena pengaruh yang datang dari film-film Hollywood, pemahaman tentang eksorsisme telah terdistorsi, dan bahkan menjadi bahan lelucon. Namun, bagi Gereja Katolik, eksorsisme berakar di dalam pribadi Yesus Kristus sendiri, dan sebuah misi yang mulia.

Arti harafiah dari ‘eksorsisme’ adalah ‘mengikat dengan sumpah.’ Lalu, bagaimana kata ini bisa akhirnya berhubungan dengan roh jahat? Ketika kita bersumpah, kita perlu memanggil seseorang yang lebih tinggi dari diri kita sebagai penjamin janji kita. Secara sederhana, sumpah adalah mengucapkan janji dengan memanggil Tuhan sendiri sebagai saksi kita. Dalam konteks eksorsisme, imam yang bertugas sebagai eksorsis akan memanggil nama Tuhan untuk mengikat setan, dan mengirim mereka ‘ke kaki salib Yesus’ untuk menerima penghakiman. Kita tidak bisa mengusir setan dengan menggunakan otoritas kita sendiri karena setan adalah makhluk yang juah lebih kuat dari kita. Hanya dalam nama Tuhan yang benar, eksorsisme yang sejati dan efektif dapat terjadi.

Satu hal yang menarik dari Injil adalah Yesus mengusir setan tanpa menyebut nama Tuhan. Dia hanya berkata, “Diam, keluarlah dari dia!” Yesus mengusir dengan otoritas-Nya sendiri dan setan-setan mematuhi-Nya karena mereka mengenali kuasa ilahi-Nya. Setan juga mengenali Yesus bukan hanya sebagai Mesias atau sebagai raja orang Yahudi, tetapi sebagai ‘Yang Kudus dari Tuhan.’ Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, gelar khusus ini mengacu pada imam agung Israel, secara khusus Harun. “… Harun, Yang Kudus dari Tuhan… [Mzm 106: 16].” Melalui mulut setan, Injil mengungkapkan dimensi lain dari identitas Yesus: Dia adalah sang Imam Agung. Dari kebenaran ini, kita dapat menyimpulkan bahwa eksorsisme adalah bagian dari tugas imamat.

Berpartisipasi dalam identitas Yesus sebagai imam agung, para uskup adalah eksorsis utama di keuskupan mereka. Kita ingat bahwa uskup adalah imam agung di keuskupan masing-masing. Setiap uskup kemudian dapat menunjuk dan mendelegasikan beberapa imam yang terlatih untuk menjadi eksorsis di keuskupan mereka. Waktu saya di Manila, saya beruntung bisa bertemu dan berdiskusi banyak hal, dengan Romo Jose Syquia, seorang eksorsis dari Keuskupan Agung Manila.

Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa karena pembaptisan kita, kita juga mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus. Jadi, kita juga memiliki otoritas atas roh-roh jahat. Sebagai orang awam, kita diizinkan untuk mengucapkan doa-doa pembebasan tertentu ketika kita merasakan kehadiran dan aktivitas roh-roh jahat yang luar biasa. Doa kepada St. Michael, sang malaikat agung, adalah salah satu contoh doa pembebasan yang bisa digunakan kaum awam. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa sebenarnya roh-roh jahat bekerja dengan cara yang sangat halus, terutama melalui godaan untuk berbuat dosa. Seringkali, tanpa disadari, kita sudah di bawah kendali iblis saat kita menjalani hidup yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menghadapi perang kita sehari-hari melawan kerajaan Setan, dan kita tidak bisa menang tanpa menyebut nama Yesus, tanpa doa yang konstan, tanpa sakramen, dan tanpa bantuan Gereja.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We are Fishers of Men

3rd Sunday in Ordinary Time [B]

January 24, 2021

Mark 1:14-20

We once again listen to the story of the calling of the first disciples: Simon and Andrew, as well as James and John, the sons of Zebedee. Jesus called them, and He would make them ‘the fishers of men.’ Yet, from countless possibilities of professions and occupations, why did they have to be ‘the fishers of men’? Why not merely Jesus’ promotion team? Why not Jesus’ soldiers?

The answer is not far from who the first disciples were. They were fishermen of Galilee. Yet, this time, they were no longer catching fish but gathering people for Christ. While they left almost everything behind and followed Jesus, they brought their lives, characters, experiences, and skills with them. They remained fishermen, but this time Jesus transformed the object of their catch: men and women.

The second reason why they were called ‘fishers of men’ is even more profound. It speaks of the fulfillment of the Old Testament’s prophesy. The great prophet Jeremiah who lived around 500 years before Christ, once said, “For I will bring them back to their land that I gave to their ancestors. I am now sending for many fishermen, says the Lord, and they shall catch them… [Jer 16:15-16].” The historical context of this prophecy is critical. After Salomon’s reign, the kingdom of Israel was divided into two smaller kingdoms. The northern kingdom was the coalition of 10 tribes, and the southern kingdom was the tribe, Judah and Benjamin. In 721 SM, the northern kingdom was destroyed by the Assyrian empire, and the ten tribes were deported to foreign lands. Then in 587 SM, the southern kingdom was demolished by the Babylonian empire, and the inhabitants were brought to the Babylonian lands. Jeremiah prophesied that God would bring back the scattered Israelites by sending ‘fishermen.’

By calling His first disciples as ‘fishers of men,’ Jesus was fulfilling Jeremiah’s prophecy. Jesus was gathering back the lost tribes of Israelites to Himself as the new Israel. This is why Jesus called and chose twelve apostles. The twelve apostles shall serve as the leaders of the new twelve tribes of Israel.

The identity and mission as ‘fishers of men’ are primarily for the apostles, yet every baptized Christians are sharing in this identity. We are fishers of men and women for Christ. Some of us may be called to get a quantity gain, like a priest who baptized thousands of people. Some of us may be invited to have a quantity yield, like parents who raise and educate their children as mature and responsible Catholics. Some of us stand in between these two kinds of catches, like zealous catechists, courageous lay missionaries, faithful religious sisters who take care of schools or orphanages, or indefatigable community leaders.

Surely to be a fisherman is not a stress-free job. Sometimes, we are facing storms and dangers. Sometimes, we are getting nothing after our best effort. Occasionally, we get in a disagreement with our fellow fishermen. However, the Gospel reminds us that we are not fishermen because we are good, but because Jesus calls us and makes us His fishermen. We draw our purpose and strength from Jesus because we are participating in Jesus’ mission to gather people to Himself. We are working together with apostles to fulfill God’s promise of the New Israel. We are the fishers of men.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: paolo-nicolello

Kita adalah Penjala Manusia

Minggu ke-3 di Masa Biasa [B]

24 Januari 2021

Markus 1: 14-20

Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?

Jawabannya tidak jauh dari siapa murid pertama itu. Mereka adalah para nelayan di Galilea. Namun, kali ini, mereka tidak lagi menangkap ikan, tetapi mengumpulkan orang bagi Kristus. Meskipun mereka meninggalkan hampir semuanya dan mengikuti Yesus, pada dasarnya mereka membawa serta kehidupan, karakter, pengalaman, dan keterampilan mereka. Mereka tetap menjadi nelayan, tetapi kali ini Yesus mengubah objek yang mereka tangkap: manusia.

Alasan kedua mengapa mereka disebut ‘penjala manusia’ bahkan lebih bermakna. Hal ini berbicara tentang pemenuhan sebuah nubuat di Perjanjian Lama. Nabi besar Yeremia yang hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus, pernah berkata, “Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka. Sesungguhnya, Aku mau menyuruh banyak penangkap ikan, demikianlah firman TUHAN, yang akan menangkap mereka… [Yer 16: 15-16].” Untuk mengerti maksud nubuat ini, kita perlu melihat konteks historisnya. Setelah pemerintahan raja Salomon, kerajaan Israel terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil. Kerajaan utara yang merupakan gabungan 10 suku, dan kerajaan selatan yaitu suku Yehuda dan Benyamin. Pada 721 SM, kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur, dan sepuluh suku itu dideportasi ke negeri asing. Kemudian pada tahun 587 SM, kerajaan bagian selatan dihancurkan oleh kerajaan Babel, dan penduduknya dibawa ke tanah Babel. Yeremia bernubuat bahwa Tuhan akan mengembalikan bangsa Israel yang tercerai-berai dengan mengirim ‘penangkap ikan’.

Dengan menyebut murid-murid-Nya yang pertama sebagai ‘penjala manusia’, Yesus sedang memenuhi nubuat Yeremia. Yesus sedang mengumpulkan kembali suku-suku Israel yang hilang di dalam diri-Nya sebagai Israel baru. Inilah mengapa Yesus memanggil dan memilih dua belas rasul. Kedua belas rasul akan menjadi pemimpin dari dua belas suku baru Israel.

Identitas dan misi sebagai ‘penjala manusia’ ini tidak hanya bagi para rasul, namun setiap orang yang telah dibaptis berbagi dalam identitas ini. Kita adalah penjala manusia bagi Kristus. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk mendapatkan tangkapan yang berlimpah, seperti seorang imam yang membaptis ribuan orang. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk memiliki hasil yang berkualitas, seperti orang tua yang membesarkan dan mendidik anak-anak mereka sebagai orang Katolik yang dewasa dan bertanggung jawab. Beberapa dari kita berdiri di antara dua jenis tangkapan ini, seperti katekis yang berdedikasi, misionaris awam yang berani, suster yang setia mengurus sekolah atau panti asuhan, atau pemimpin komunitas yang tak kenal lelah.

Pastinya menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang bebas stres. Terkadang, kita menghadapi badai dan bahaya. Terkadang, kita tidak mendapatkan apa-apa setelah usaha terbaik kita. Terkadang, kita berselisih paham dengan sesama pekerja. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa kita bukan penjala manusia karena kita layak dan sempurna, tetapi karena Yesus memanggil kita dan menjadikan kita penjala manusia-Nya. Kita mengambil tujuan dan kekuatan kita dari Yesus karena kita berpartisipasi dalam misi Yesus untuk menyatukan seluruh umat manusia di dalam-Nya. Kita bekerja dengan para rasul untuk memenuhi janji Tuhan tentang Israel Baru. Kita adalah penjala manusia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: fredrik ohlander

Yesus, Anak Domba Allah kita

Minggu Kedua Masa Biasa [B]

17 Januari 2021

Yohanes 1: 35-42

Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”

Saya seorang Katolik sejak kecil dan saya tidak dapat mengingat lagi kapan saya mendengar Anak Domba Allah ini untuk pertama kalinya. Namun, saya tidak pernah bertanya mengapa Yesus dipanggil seperti itu. Mungkin, itu hanyalah salah satu gelar Yesus. Namun, Saya secara bertahap mempelajari kebenaran yang indah ini saat saya masuk seminari dan mendalami pembelajaran teologi dan Kitab Suci.

Jika kita menempatkan diri kita pada posisi para murid yang hidup di Palestina abad pertama, kita akan melihat betapa dalamnya gelar ini. Ketika para murid mendengar ‘Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,’ mereka dengan mudah mengerti apa yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis.

Pertama, domba adalah hewan korban utama di Bait Allah Yerusalem. Setiap hari anak domba disembelih dan dipersembahkan kepada Tuhan. Khususnya pada hari raya Paskah, ribuan ekor domba dibawa ke Bait Allah dan dikorbankan. Meskipun pengorbanan anak domba bukan satu-satunya cara untuk menyembah Tuhan yang benar, ini berfungsi sebagai cara beribadah yang utama. Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita mengakui bahwa penyembahan yang benar dan utama kepada Allah terjadi di dalam Yesus.

Kedua, salah satu hari raya Yahudi terpenting adalah hari raya Paskah. Ini merayakan kebebasan dari perbudakan bani Israel dari Mesir. Salah satu ciri utama dari perayaan ini adalah anak domba yang dikorbankan. Kitab Keluaran memberikan rincian bagaimana Paskah pertama harus diperingati. Anak domba berumur satu tahun yang tidak bercacat harus disembelih. Darahnya ditempatkan di tiang pintu rumah orang Israel dan tubuhnya yang dipanggang akan dimakan [lihat Keluaran 12]. Untuk menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menyadari bahwa kita diselamatkan oleh pengorbanan dan darah Yesus, dan kita juga perlu makan tubuh-Nya.

Ketiga, satu nubuat yang menghubungkan seorang manusia dengan seekor domba berasal dari Yesaya. Nabi besar ini berbicara tentang sosok misterius ‘hamba Tuhan yang menderita.’ Hamba Allah ini akan menebus Israel, tetapi Dia harus menanggung penderitaan dan kematian yang hebat, meskipun tidak bersalah. Sang Nabi menulis, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian… [Yes 53: 7]. ” Dengan menerima Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita menerima Yesus sebagai Penebus kita yang menderita dan wafat bagi kita.

Sekarang, kita telah mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, kita perlu melakukan apa yang dilakukan para murid pertama: mereka ‘tinggal’ bersama Dia. Para murid tidak hanya mengenal dan menerima Yesus, tetapi mereka mengikuti dan tinggal bersama-Nya. Tidaklah cukup bagi kita untuk melihat Yesus sebagai Anak Domba, tetapi kita diundang untuk tinggal bersama-Nya, untuk menjadi murid-Nya yang sejati.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Daniel Sandvik

Jesus, Our Lamb of God

2nd Sunday of Ordinary Time [B]

January 17, 2021

John 1:35-42

John the Baptist identified Jesus as the ‘Lamb of God.’ If we are attending the celebration of the Eucharist, we cannot miss hearing this phrase. Just before the communion, the priest will hold the consecrated bread and wine, and present them to the faithful, then saying, “Behold the Lamb of God, Behold Him who takes away the sin of the world. Happy are those invited to the supper of the Lamb!”

I am a cradle Catholic, and I could no longer remember when I heard this Lamb of God for the first time. Yet, I never bother asking why Jesus is called such because it does not make much sense. Perhaps, it is just another fancy title of Jesus. I gradually learn this beautiful truth as I go deeper into my theology study and scriptures.

If we put ourselves in the shoes of the disciples who were living in the first century Palestine, we will see a lot more going on. When the disciples heard ‘the Lamb of God who takes away the sin of the world,” they quickly understood. It was undoubtedly mind-blowing, but they were expecting to hear that.

Firstly, a lamb was a primarily sacrificial animal in the Jerusalem temple. Every day lambs were slaughtered and offered to God. Especially during the feast day of Passover, thousands of lambs were brought to the Temple and sacrificed. It was a massive display of devotion to behold. Though the lamb’s sacrifice is not the only way to worship the true God, it serves as the ordinary way of worship. By calling Jesus the Lamb of God, we acknowledge that God’s true worship takes place in Jesus.

Secondly, one of the most important Jewish feasts is Passover. It celebrates the freedom from the slavery of God. One of the central features of this celebration is the sacrificed lamb. The Book Exodus gives the details of how the Passover has to be commemorated. An unblemished one-year-old lamb has to be slaughtered. Its blood was placed on the Jewish household doorpost, and its roasted body shall be eaten [see Exo 12]. To accept Jesus as the Lamb of God, we recognize that the sacrifice and blood of Jesus save us, and we need to eat also His body.

Thirdly, one prophesy that connects a person, and a lamb is from Isaiah. The great prophet spoke about the mysterious figure of ‘suffering servant of God.’ This man shall redeem Israel, but He has to endure great suffering and death, despite being innocent.  The prophet wrote, “He was oppressed, and he was afflicted, yet he did not open his mouth; like a lamb that is led to the slaughter… [Isa 53:7].” By receiving Jesus as the Lamb of God, we accept Jesus as our Redeemer who has to suffer and die for us.

Now, we have recognized Jesus as the Lamb of God; we need to do like the first disciples did: they remained with Him. The disciples did not merely know and accept Jesus, but they followed and stayed with Him. It is not enough for us to see Jesus as the Lamb, but we are invited to remain with Him, to become His true disciples.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: Daniel Sandvik

Baptism and the Cross

Baptism of the Lord

January 10, 2021

Mark 1:7-11

Baptism of the Lord is one of the defining moments in the life of Jesus. The synoptic gospels [Matthew, Mark, and Luke] writes this event, though with their own perspective and emphasis. We are in the liturgical year B, and thus, we are listening from the Gospel of Mark. Mark’s version is noticeably the shortest, but it does not mean it does not deliver a powerful message. The Baptism of Jesus in the River Jordan is a turning point in Jesus’ life. After this Jesus will be in the desert for 40 days, tempted by the devil, but he will prevail. Then, from this, Jesus will begin His public ministry and unreservedly move toward Jerusalem, to Cross, Death, and Resurrection.

Often, we ask, “why should John baptize Jesus?” We are well aware that John’s baptism is an outward sign of inner repentance. If a person repents, it means that the person has been living a sinful life. Does it mean that Jesus is a sinful man, He asks for John’s baptism? Surely, Jesus who is God, is perfectly sinless, but the question remains, “why should Jesus be baptized?”  Mark does not give us a straight answer, yet the Church offers us the reason. Catechism of the Catholic Church states, “The baptism of Jesus is on his part the acceptance and inauguration of his mission as God’s suffering Servant. He allows himself to be numbered among sinners… Already he is anticipating the “baptism” of his bloody death… [CCC 536].”

Simply put, Jesus’ baptism speaks of this solidarity with us sinners, and this solidarity does not stop in the symbolic baptism of John, but this will find its fulfillment in the cross. As sinners, we deserve to die, but it is God who dies for us. The Church’s answer is beautiful, but is it truly in the mind of the evangelists, especially Mark?

When Jesus is baptized, Mark describes the sky as ‘torn apart’ and a voice came, “You are my Son, the Beloved…” The Greek word for ‘tearing apart’ is ‘schizo,’ and the same word is employed again by Mark when he recounts the happening in the Temple when Jesus died on the cross: the giant curtain that separates the holy place and the holiest place inside the Jerusalem temple [see 15:38]. Meanwhile, Mark also recounts a Roman centurion proclaims that Jesus is truly the Son of God, after witnessing remarkable events during Jesus’ death. From here, we can draw an interesting insight. With this basic pattern between what happens in baptism and in the cross, Mark is telling us that these two events are indeed related. The Baptism points to the Cross, and the Cross is the fulfillment of the Baptism.

It reveals the reason why the Father is so ‘so well pleased with His Son.’ The reason is through baptism, Jesus signals to all of us His eagerness to do His Father’s will. Though Jesus is sinless, He takes up our burden of sin and dies for us as proof of the Father’s love for us.

If in His baptism, Jesus accepts the cross, we, as the baptized Christians, are also called to carry our crosses. As we share Christ’s cross and carry it faithfully, we can hope to love radically. As we love deeply, we may hope for our salvation.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP