Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]
28 Maret 2021
Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15
Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.
Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.
Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.
Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.
Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.
Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Traditionally, the Gospel of John is divided into two major divisions: the Book of Sign [chapter 1-12] and the Book of Glory [Chapter 13-21]. The book of Sign focuses on the public ministry of Jesus and presents the seven signs of Jesus. In John’s Gospel, Sign is a technical term for a miracle. Jesus’ signs begin with changing water into wine in Cana and reaching its culmination in raising Lazarus from the dead. Meanwhile, the book of Glory tells us how Jesus is glorified. The second part starts with Jesus and his disciples in the Upperroom and culminates in His Passion, death, and resurrection.
njil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Today’s Gospel presents us with one of the most cryptic sayings of Jesus, “Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, so that everyone who believes in him may have eternal life.” To unpack this, we cannot but go back to the Old Testament, especially the Book of Numbers.
Injil hari ini memberi kita salah satu perkataan Yesus yang paling sulit dimengerti, “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Untuk memahami perkataan ini, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, terutama Kitab Bilangan.
We, modern readers, often misunderstand today’s Gospel. This particular Jesus’ story becomes a basis for some to refuse the church building and parish vicinities for non-religious activities, however good its intention is. I personally agree that the inside of the Church’s building is a place set aside for worship and prayer. This is the sacred ground for people to encounter God and experience heaven.
Mountain is a special place in the Bible. It is a place where God meets His people. In the Old Testament, there are many instances where mountains become a pivotal point of salvation history. After the great flood that cleansed the world, the Ark of Noah landed on Mount Ararat, and there, Noah offered sacrifice to God [see Gen 8:4]. Abraham was asked by God to offer his son Isaac on Mount Moriah. Just right before the sacrifice, the angel of God prevented Abraham and God recognized Abraham’s faith [see Gen 22]. When Moses was tending the flock of his father-in-law, Moses saw a burning bush yet was not consumed, and there, on the mount of Horeb, God called Moses to save Israelites from the Egyptians [see Exo 3]. After the liberation from Egypt, Moses and the Israelites the Law and established a covenant with God on the mount of Sinai [see Exo 24:18].
Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].
Why did Jesus have to stay in the wilderness for 40 days? The answer is not difficult. He was reperforming what the Israelites did when they were liberated from Egypt. The Israelites stayed for 40 years in the wilderness before they entered the promised land. Yet, there is one more thing! Mark gives us a small, however important detail: in the wilderness, Jesus was staying with the beasts. Why so? If there is one man closely connected to the beasts in the scriptures, he is no other than Adam. Jesus is the new Israel who endured the harsh conditions of the desert and the new Adam who faced the onslaught of the devil.