Yesus, Tuhan dari Segala Badai

Minggu Biasa ke-12 [B]

20 Juni 2021

Markus 4:35-41

Dalam Injil hari ini, Yesus dan murid-murid-Nya menyeberangi danau Galilea. Danau Galilea adalah sebuah danau besar di Israel utara. Danau ini menjadi tempat berkembang biak ikan nila yang sering disebut sebagai ikan St. Petrus, Danau ini juga menjadi menghubung berbagai kota di sekitar danau tersebut. Karena hal-hal inilah, danau ini menjadi pusat sosial-ekonomi di Galilea. Tidak heran jika banyak orang yang tinggal di sini adalah nelayan, termasuk beberapa murid Yesus. Banyak dari mereka menghabiskan masa dewasa mereka di dan di sekitar danau Galilea. Danau pada dasarnya adalah rumah dan tempat mata pencaharian mereka. Namun, ada kalanya danau ini berperilaku tidak terduga dan berubah menjadi tempat bahaya besar. Bahkan Simon dan Yakobus, nelayan yang paling berpengalaman di antara para rasul, tidak berdaya menghadapi badai yang dahsyat itu. Danau yang adalah rumah mereka akan segera menjadi kuburan mereka.

Di tengah kepanikan para murid, mereka melihat Yesus yang tertidur. Namun, para murid secara naluriah membangunkan sang guru mereka dan mengungkapkan ketakutan mereka akan kematian. Yesus menanggapi panggilan mereka dan memerintahkan angin dan danau untuk tenang. Danau dan angin segera patuh! Yesus membuktikan diri-Nya bukan hanya sebagai penyembuh dan pelaku mujizat, tetapi Dia adalah Penguasa badai, alam semesta dan seluruh ciptaan. Dalam Perjanjian Lama, hanya Tuhan Allah yang berdiri di atas air yang perkasa [Kej 1:1-3]. Hanya Tuhan yang bisa mengendalikan dan memerintah lautan karena Tuhan adalah penciptanya [Maz 107]. Melihat kekuatan yang fenomenal ini, para murid justru menjadi lebih takut. Mereka tidak hanya menghadapi badai, tetapi mereka sedang berhadapan dengan Tuhan atas badai ini.

Seringkali, kita seperti para rasul yang sedang berlayar melalui wilayah yang kita kenal, namun tiba-tiba kita menghadapi badai yang tak terduga dan menghancurkan. Bisa dikatakn, sekarang kita berada di tengah-tengah badai pandemi Covid-19. Kita percaya bahwa kita baik-baik saja dalam pekerjaan atau bisnis kita, tetapi secara mengejutkan pandemi menghantam kita dengan keras dan kita kehilangan stabilitas finansial kita. Dulu kita memiliki keluarga dan kerabat yang dekat, namun tiba-tiba kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa covid-19 merenggut salah satu orang yang kita kasihi. Kita memiliki pelayanan dan komunitas di Gereja yang luar biasa dan berkembang, tetapi sekarang, kita tidak dapat berkumpul dan melayani, dan kita kehilangan arah.

Kita takut, dan kita bingung. Mungkin, kita perlu melakukan apa yang para rasul lakukan: berseru lebih keras kepada Tuhan. Namun, yang mengejutkan kita, Tuhan dari segala badai ini sebenarnya ada bersama kita di kapal yang sama menghadapi badai. Dia mengizinkan kita untuk menghadapi badai besar, untuk menguji iman kita. Namun, Dia tidak pernah meninggalkan kita, walaupun kadang tampak seperti sedang tidur.

Saat yang sulit dalam pelayanan saya sebagai seorang imam adalah ketika saya harus berkhotbah dalam misa pemakaman atau arwah bagi orang-orang yang meninggal secara tak terduga. Apa yang harus saya katakan kepada orang tua? Apa yang harus saya tawarkan ketika Tuhan tampaknya diam? Apa yang harus saya bawa ketika doa tampaknya tidak dijawab? Saat saya bergumul dengan misteri penderitaan dan kematian, seperti Ayub yang saleh, saya meminta jawaban dari Tuhan. Dan sama seperti para murid, jawaban Yesus adalah “Mengapa kamu takut? Apakah kamu belum memiliki iman?” Melalui masa krisis dan pencobaan ini, kita dipanggil untuk memiliki iman yang lebih besar lagi untuk melihat bahwa bahkan badai terbesar dalam hidup kita berada di bawah perintah-Nya dan ini terjadi sebagai pemeliharaan pemeliharaan-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of the Kingdom of God

11th Sunday in Ordinary Time [B]
June 13, 2021
Mark 4:25-34

The Kingdom of God is arguably the core of Jesus’ gospel. At the beginning of Jesus’ public ministry, His first sentence was, “This is the time of fulfilment. The Kingdom of God is at hand. Repent, and believe in the gospel [Mar 1:15].” Jesus’ mission is certainly to express love, save us from our sins, and so we will be able to partake in the life of God. To achieve this mission, He was establishing the Kingdom of God. Since Jesus is God, we can say that the Kingdom of God is the Kingdom of Jesus. No wonders, we celebrate the solemnity of Christ the King because He is the head of the Kingdom of God.

Yet, the real question is, what is the Kingdom of God? We shall go back a little to the Old Testament. In 2 Samuel 7, David was planning to build the house of God, the Temple in Jerusalem, but God, through the prophet Nathan, told David that instead of David constructing God’s house, it was God who would build the house of David. God promised that God would establish the Kingdom of David’s son, and the throne of his Kingdom would reign forever. However, if we learn the history, we are aware that after Solomon, the Kingdom of David was divided and declining. The northern Kingdom was demolished in 721 BC by the Assyrian empire, and the southern Kingdom was destroyed in 587 BC by the Babylonian superpower. Many Israelites were exiled and deported far from their homeland. Where was the promise of God to David?

Thus, when Jesus came and preached the Kingdom, many Jews were asking, “Is this the promised Kingdom? Is He for the real deal or just another mad man?” To the public, Jesus did not give a straightforward answer but parables. These parables both hide and reveal the truth of the Kingdom of God. For those who hated Jesus, these parables were just bizarre stories. For those who expected Jesus to be the militaristic messiah, these parables were confusing. ‘The kingdom of God should be like a mighty cedar tree, not like a mustard!’ However, for those disciples who believed in Jesus, these parables revealed the great mystery of the Kingdom.

Introducing the Kingdom of God like a mustard seed indeed shocked the people who hoped for the empires like Egypt or Rome. Surprisingly, the Kingdom of Jesus indeed behaved like mustard. It began with Jesus and His small and imperfect companions, but it gradually and slowly filled the whole world. The Kingdom does not conquer other nations with military and political maneuvering, and, like its head, the Kingdom has been subjected to countless cruel persecutions. However, despite the setback and trials, the Kingdom continues to grow and become the most prominent human community on the earth.

As part of the Kingdom of God, this is excellent news. We do not have to believe that we are majestic oak tree or mighty cedar and think that we can do everything with our strength. Otherwise, when we fail, we will get depressed. Yet, if we consider ourselves nothing but mustard seeds, we allow trials and failures to be part of our lives and let God work wonders. That is how amazing our God is.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Kerajaan Allah

Minggu ke-11 pada Masa Biasa [B]
13 Juni 2021
Markus 4:25-34

Kerajaan Allah bisa dikatakan sebagai inti dari Injil Yesus. Di awal pelayanan Yesus, kalimat pertama-Nya adalah, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mar 1:15].” Misi Yesus tentu saja untuk mengungkapkan kasih Allah, menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Untuk mencapai misi ini, Dia mendirikan Kerajaan Allah. Karena Yesus adalah Allah, kita dapat mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Kerajaan Yesus sendiri. Tidak heran, kita merayakan pesta Kristus Raja pada akhir masa liturgi, karena Dia adalah sungguh kepala Kerajaan Allah.

Namun, pertanyaan sebenarnya adalah apakah Kerajaan Allah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan ke Perjanjian Lama. Dalam 2 Samuel 7, Daud berencana untuk membangun rumah Tuhan, Bait Allah di Yerusalem, tetapi Tuhan melalui nabi Natan, memberi nubuat kepada Daud bahwa alih-alih Daud yang membangun rumah Tuhan, Tuhanlah yang akan membangun rumah Daud. Tuhan berjanji bahwa Tuhan akan mendirikan kerajaan Daud, dan seorang anak Daud akan bertakhta akan memerintah selamanya. Namun, jika kita mempelajari sejarah, kita menyadari bahwa setelah Salomo, kerajaan Daud terpecah dan terus mengalami kemunduran. Kerajaan utara dihancurkan pada 721 SM oleh kekaisaran Asyur, dan kerajaan selatan dihancurkan pada 587 SM oleh negara adidaya Babel. Banyak orang Israel diasingkan dan dideportasi jauh dari tanah air mereka. Dimanakah janji Tuhan kepada Daud?

Jadi, ketika Yesus datang dan memberitakan Kerajaan, banyak orang Yahudi bertanya, “Apakah ini Kerajaan yang dijanjikan? Apakah Yesus ini benar atau hanya penyebar hoax?” Kepada publik, Yesus tidak memberikan jawaban langsung melainkan melalui perumpamaan. Perumpamaan ini menyembunyikan dan mengungkapkan kebenaran tentang Kerajaan Allah. Bagi mereka yang membenci Yesus, perumpamaan ini hanyalah cerita-cerita aneh. Bagi mereka yang mengharapkan Yesus menjadi Mesias dalam artian pemimpin militer atau politik, perumpamaan ini membingungkan. ‘Kerajaan Allah harus seperti pohon beringin yang perkasa, bukan seperti sesawi!’ Namun, bagi para murid yang percaya kepada Yesus, perumpamaan ini mengungkapkan misteri besar kerajaan Allah.

Memperkenalkan kerajaan Allah seperti biji sesawi pasti mengejutkan orang-orang yang mengharapkan kerajaan Allah seperti kerajaan Mesir atau kekaisaran Roma. Yang menakjubkan adalah, kerajaan Yesus benar-benar berperilaku seperti sesawi. Ini dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya yang kecil dan tidak sempurna, tetapi secara bertahap dan perlahan memenuhi seluruh dunia. Kerajaan Allah ini tidak menaklukkan negara lain dengan manuver militer dan politik, dan pada kenyataannya, seperti sang Kepala, kerajaan ini telah mengalami penganiayaan kejam yang tak terhitung jumlahnya. Namun, terlepas dari penderitaan dan cobaan, kerajaan itu terus berkembang dan menjadi komunitas manusia terbesar di bumi ini.

Sebagai bagian dari kerajaan Allah, ini benar-benar kabar baik bagi kita. Kita tidak harus percaya bahwa kita adalah pohon beringin yang megah, dan berpikir bahwa kita dapat melakukan segalanya dengan kekuatan kita sendiri. Dengan pemikiran seperti ini, ketika kita gagal, kita akan tertekan dan kecewa. Namun, jika kita melihat diri kita seperti biji sesawi, kita membiarkan ujian dan kegagalan menjadi bagian dari hidup kita, dan membiarkan Tuhan mengerjakan keajaiban di dalam hidup kita, sama seperti Dia membangun kerajaan-Nya. Itulah betapa menakjubkannya Tuhan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Fullness of Love

The Solemnity of the Body dan Blood of Christ [Corpus Christi] – B

June 6, 2021

Mark 14:12-16;22-26

The Solemnity of the Body and Blood of Christ or Corpus Christi is the estuary of all the great feasts we have celebrated. We started from the great Holy Week and culminated in the Easter Triduum. Forty days after Easter Sunday, we worship Christ, who ascended into Heaven, and then He sent the Holy Spirit among the disciples on the day of Pentecost. And, just last Sunday, we gave our most excellent adoration to the Holy Trinity. Now, we have Corpus Christi. But, why this feast?

photocredit: annie Theby

Guided by the Holy Spirit, the Church has recognized the importance of the solemnity of Corpus Christi. The entire economy of creation and salvation streams down to this mystery. God created the world so that the world may share in His love. However, men and women fell into sin and departed from God’s love. Yet, His love and mercy are infinitely bigger than our wickedness, and He commissioned His Son to take up human nature and live among us. Not only to become a human, but Jesus also offered Himself on the cross for our salvation. St. John perfectly summed up, “For God so loved the world, He sent His only begotten Son, so that everyone who believes in may not perish but may have eternal life [John 3:16].” However, it is not the end of God’s amazing love story! The risen Christ miraculously transformed into the Eucharist to become our daily bread. In the most blessed sacrament of the Eucharist, “the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ and, therefore, the whole Christ is truly, really, and substantially contained [CCC 1374].”

For those without faith, this bread is just a white tasteless wafer, but for us, who are called to eternal life, the bread is no longer bread but the fullness of Christ. When Jesus is there, the Holy Trinity is there as well. When the Trinity is there, the entire angelic hosts and choirs of saints are there as well. Receiving the Eucharist is receiving the whole Heaven, the eternal life. This is the will of Christ Himself, “Amen, amen, I say to you, unless you eat the flesh of the Son of Man and drink his blood, you do not have life within you. Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, [Jn 6:53-54].”

The Eucharist is the proof of God’s love. It is not enough for God to become human, not enough for Him to die and rise for us, not enough for Him to open the gates of Heaven. He wants us to share His divine life and love now and here.

Yet, Heaven is meant to be shared. As Jesus shares His life and love in the Eucharist, we are invited to become little Eucharists in our daily lives. As Jesus nourishes us with His Body and Blood, do we nourish people with our body and blood? As parents, do we offer our bodies and blood to our children so that they may experience true heavens? Do we bring Heaven to our family and communities? Do we become the agent of love to our societies?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kepenuhan Kasih

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – B

6 Juni 2021

Markus 14:12-16; 22-26

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau dikenal dalam Bahasa Latin, ‘Corpus Christi’ adalah muara dari semua hari raya yang telah kita rayakan selama ini. Kita mulai beberapa bulan yang lalu, dari Pekan Suci dan mencapai puncaknya dalam Trihari Suci. Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, kita memuliakan Kristus yang naik ke Surga, dan kemudian Dia mengutus Roh Kudus di antara para murid pada hari Pantekosta. Dan, Minggu lalu, kita memberikan pujian terbesar kita kepada Tritunggal Mahakudus. Sekarang, kita memiliki Corpus Christi. Tapi, mengapa hari raya dirayakan sekarang?

photocredit: Eric Mok

Dengan bimbingan Roh Kudus, Gereja telah mengakui betapa pentingnya kehadiran Yesus yang real di Ekaristi. Seluruh sejarah penciptaan dan keselamatan mengalir ke misteri ini. Tuhan menciptakan dunia agar dunia dapat berbagi dalam kasih-Nya. Sayangnya, pria dan wanita jatuh ke dalam dosa, dan menjauh dari kasih Tuhan. Namun, kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada kejahatan dan kelemahan kita, dan Dia mengutus Putra-Nya untuk mengambil kodrat manusia dan hidup di antara kita. Tidak hanya menjadi manusia, Yesus juga mempersembahkan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan kita. St. Yohanes dengan tepat menyimpulkan, “Karena begitu besar kasihAllah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakanAnak-Nyayang tunggal, supaya setiap orang yang percayakepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16].” Namun, ini bukan akhir dari kisah kasih Allah yang luar biasa! Kristus yang bangkit secara mujizat berubah menjadi Ekaristi, menjadi makanan kita. Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus.” – [KGK 1374]

Bagi mereka yang tidak beriman, roti ini hanyalah kerupuk putih yang hambar, tetapi bagi kita yang dipanggil untuk hidup yang kekal, roti itu bukan lagi roti, tetapi kepenuhan Kristus sendiri. Ketika Yesus ada di sana, Tritunggal Mahakudus juga ada di sana. Ketika Trinitas ada di sana, seluruh malaikat dan orang-orang kudus juga ada di sana. Menerima Ekaristi adalah menerima seluruh surga, hidup yang kekal. Inilah kehendak Kristus sendiri, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan dagingAnak Manusiadan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.[Yoh 6:53-54].”

Ekaristi adalah bukti kasih Allah. Tidaklah cukup bagi Tuhan untuk menjadi manusia, tidak cukup bagi Dia untuk mati dan bangkit bagi kita, tidak cukup bagi Dia untuk membuka gerbang surga. Dia ingin kita berbagi kehidupan dan kasih ilahi-Nya sekarang dan di sini.

Namun, kita perlu ingat bahwa surga bukan hanya untuk kita sendiri. Saat Yesus membagikan hidup dan kasih-Nya dalam Ekaristi, kita diundang untuk menjadi Ekaristi kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana Yesus memelihara kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, apakah kita memelihara orang-orang dengan tubuh dan darah kita? Sebagai orang tua, apakah kita mempersembahkan tubuh dan darah kita kepada anak-anak kita agar mereka dapat mengalami kepenuhan hidup yang sesungguhnya? Apakah kita membawa surga bagi keluarga dan komunitas kita? Apakah kita menjadi agen kasih bagi masyarakat kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery

Trinity Sunday [B]
May 30, 2021
Matthew 28:16-20

The mystery of the Holy Trinity is at the heart of our Christian faith. The Church duly recognizes that this is the mystery of all mysteries and the mystery of God in Himself: One God in three divine persons. While acknowledging that it is fundamentally impossible to explain the Trinity in this short writing, this simple reflection may help us appreciate the beauty of this sacred mystery.


Firstly, we need to recognize that this is the mystery. The Trinitarian mystery is not like mystery movies where the audience is kept in suspense and guessing until the film’s end. The Trinitarian mystery is not mysterious, as if there are many secrets and an atmosphere of strangeness. Far from being mysterious, the Trinity has been preached and proclaimed publicly since the birth of the Church. The mystery of the Trinity is like the mystery of love. The mystery is very real, and yet we do not have the intellectual capacity to grasp it fully. Often, we do not understand why this pretty woman falls in love with this not so handsome guy, yet the love between the two is undeniable. The same with the mystery of the Trinity, we do not fully comprehend it, but it is fundamental in our faith and life.


Secondly, we need to see that we are invited to be part of that mystery of Trinity. This is what amazing about the true mystery. We may not fully understand it, but we are drawn to the mystery, and if we open our hearts, we will share in that mystery. Again, like the mystery of love, we often will not reach a solid logical analysis of the reasons behind a sacrificial mother’s love for her children. Still, we know that is true, and we are called to participate in that kind of radical love. It is the same as the mystery of the Trinity. St. Peter, our first pope, has declared that by the help of grace, we are to share God’s divine nature, the life of the Trinity [2 Pet 1:4]. St. Peter knew well the meaning of this mystery. Heaven is becoming part of this love that unites the Father, the Son, and the Holy Spirit.


Thirdly, we need to do our parts to enter that mystery. Being part of the mystery is exceptionally precious because we cannot earn it no matter what we do. It is freely given. Like love, it is entirely free but never cheap. We cannot force someone in return, yet when we receive the love, we need to do our part to grow into that love. Love is an utter gift to the other. It is the same with the mystery of the Trinity. God freely offers His friendship, but we need to do our parts to live and grow in this mystery.


We begin our lives in the Trinity when we were baptized in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit, but do we live and grow in this mystery? When we make the sign of the cross, do we mean to become the sign of the Holy Trinity in our lives? We are blessed in the name of the Father, and Son, and the Holy Spirit, but do we genuinely turn to be a Trinitarian blessing for others?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Misteri

Trinity Sunday [B]
30 Mei 2021
Matius 28: 16-20

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah inti dari iman Kristiani kita. Gereja sendiri mengakui bahwa inilah dasar dari semua misteri iman, sebuah misteri Tuhan di dalam diri-Nya sendiri, yakni: Satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Meskipun menyadari bahwa pada dasarnya saya tidak mungkin untuk menjelaskan Tritunggal dalam tulisan pendek ini, dengan refleksi sederhana ini, saya berharap dapat membantu kita semua menghargai keindahan misteri paling sakral ini.


Pertama, kita perlu menyadari bahwa arti dari kata misteri. Misteri Tritunggal tidak seperti film misteri yang penontonnya dibuat penasaran dan menebak-nebak hingga akhir film. Misteri Tritunggal tidaklah misterius seolah-olah terdapat banyak rahasia dan keanehan. Jauh dari kata misterius, Tritunggal telah diwartakan dan dijelaskan secara terbuka sejak lahirnya Gereja. Misteri Tritunggal seperti misteri kasih. Misteri kasih itu sangat nyata, namun kita tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mengerti secara sepenuh. Seringkali, kita tidak mengerti mengapa seorang wanita cantik ini jatuh cinta pada pria yang tidak begitu tampan, namun cinta di antara keduanya tidak dapat disangkal. Sama halnya dengan misteri Tritunggal, kita tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi itu nyata dalam iman dan hidup kita.


Kedua, kita perlu melihat bahwa kita diundang untuk menjadi bagian dari misteri Trinitas ini. Inilah yang menakjubkan tentang arti misteri yang sebenarnya. Kita mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi kita diundang menjadi bagian dari misteri itu. Jika kita membuka hati kita, kita akan sungguh berbagi dalam misteri itu. Sekali lagi, seperti misteri kasih, seringkali, kita tidak akan mencapai analisis logis yang memuaskan tentang alasan di balik kasih seorang ibu yang berkorban untuk anak-anaknya, tetapi kita tahu itu benar dan kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih radikal semacam itu. Santo Petrus, paus pertama kita, telah menyatakan bahwa dengan bantuan rahmat-Nya, kita harus berbagi kodrat ilahi, kehidupan Tritunggal Mahakudus [lih. 2 Pet 1:4]. Inilah artian surga yang sesungguhnya, yakni menjadi bagian dari kasih yang mempersatukan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.


Ketiga, kita perlu melakukan usaha kita untuk tumbuh di dalam misteri itu. Menjadi bagian dari misteri adalah rahmat karena apa pun yang kita lakukan, kita tidak bisa mendapatkannya. Itu diberikan secara cuma-cuma. Sama seperti kasih, mengasihi dan dikasihi sepenuhnya cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, namun ketika kita menerima kasih, kita perlu melakukan bagian kita untuk tumbuh di dalam kasih itu. Jika tidak, kasih itu akan diambil dari kita, dan mungkin tidak pernah akan kembali. Sama halnya dengan misteri Tritunggal. Tuhan dengan bebas menawarkan persahabatan-Nya, tetapi kita perlu melakukan bagian kita untuk hidup dan bertumbuh dalam misteri ini.


Kita memulai hidup kita dalam Tritunggal ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tetapi apakah kita hidup dan bertumbuh juga dalam misteri ini? Ketika kita membuat tanda salib, apakah kita sungguh ingin menjadi tanda Tritunggal Mahakudus dalam dunia? Setiap kali kita diberkati oleh imam, Kita diberkati dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, tetapi apakah kita benar-benar berubah menjadi berkat Tritunggal bagi orang lain?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Holy Spirit and Us

Pentecost Sunday [B]

John 20:19-23

May 23, 2021

The Pentecost is the feast of the Holy Spirit. We are celebrating the descent of the Holy Spirit upon the Church, and this event commences the age of the Holy Spirit. With the help of the Holy Spirit, the disciples slowly grew and gradually expanded into the biggest community in the world. However, among the three divine persons, the Holy Spirit is often left behind and sometimes misunderstood. Surely, this reflection does not and cannot cover the entire subject of pneumatology, but it offers us a little piece of information that hopefully will lead us to gratitude.

Firstly, Faith in Jesus Christ is fundamentally a gift of the Holy Spirit. St. Paul reminds us that without the help of the Holy Spirit, we will not believe in Jesus as our Lord and God [see 1 Cor 12:]. To believe in a creator and almighty God may not be difficult because our mind can discern His existence. However, to believe in the God who took the human nature in the womb of a humble woman, and eventually suffered death on the cross is just beyond human ordinary reasoning. This Jesus did not stop on the cross, but He rose from the death, and decided to be present sacramentally and really in the Eucharist. The God of the universe become a small white host! Without this supernatural gift of the Holy Spirit, it is naturally impossible to have this extraordinary faith. Yet, for those who have the gift of faith, believe in Jesus seems as natural as breathing. 

Secondly, the Holy Spirit animates and strengthens the Church here on earth. Often, we mistakenly thought that the Holy Spirit only functioned when someone begins speaking in tongue. Yet, the Holy Spirit’s roles are more much massive and fundamental that. The Holy Spirit strengthens us in the time of trials. That’s why we ask for the gift of fortitude. The Holy Spirit enlightens us when we are having hard time in understanding our faith and the meaning of life. That’s why we ask for the gift of understanding. These are just two of seven gifts of the Holy Spirit! The Holy Spirit inspired the writers of the Sacred Scriptures that they were empowered to produce the Word of God. And, only the Holy Spirit can make the sacraments the means of God’s grace.

Thirdly, the Holy Spirit is the source of our holiness. The Holy Spirit does not only make the beginning of our faith possible; He does not only sustain and nourish our growth in hope, but He also gives spiritual fruits. For us who are persevering and relying on the Holy Spirit, we enjoy the fruit of the Holy Spirit: love, joy, peace, patience, kindness, generosity, faithfulness, gentleness, self-control [see Gal 5:22]. In fact, the eternal bliss in heaven is a gift of the Holy Spirit. We recall that the only sin that will not be forgiven is the blasphemy against the Holy Spirit [see Mat 12:30]. The Church has taught us that this sin is the final impenitence [CCC 1864]. If we obstinately reject the works of the Holy Spirit within us, we throw insult to the Holy Spirit, and if until our dying breath, we close our hearts to Him, then salvation is lost.

The Holy Spirit is in the beginning of our journey of faith, He is present along the way and He grants the final gift of salvation. Praise be to the Holy Spirit!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Kudus dan Kita

Minggu Pentekosta [B]

Yohanes 20: 19-23

23 Mei 2021

Pentekosta adalah hari raya Roh Kudus. Kita merayakan turunnya Roh Kudus ke atas Gereja, dan momen ini memulai era Roh Kudus. Dengan bantuan Roh Kudus, para murid perlahan-lahan tumbuh dan secara bertahap berkembang menjadi komunitas terbesar di dunia. Namun, sayangnya, di antara ketiga pribadi ilahi, Roh Kudus sering kali sering dilupakan dan terkadang disalahpahami. Tentunya, refleksi ini tidak akan dan tidak dapat mencakup seluruh pneumatologi [subjek tentang Roh Kudus], tetapi saya mencoba menawarkan secuil refleksi yang diharapkan akan membawa kita pada rasa syukur kepada Roh Kudus.

Pertama, iman kepada Yesus Kristus pada dasarnya adalah karunia Roh Kudus. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tanpa bantuan Roh Kudus, kita tidak akan bisa percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita [lihat 1 Kor 12:3]. Untuk percaya akan adanya Allah sebagai pencipta dan mahakuasa mungkin tidak sulit karena pikiran dan logika kita dapat membuktikan  keberadaan Tuhan. Namun, percaya pada Tuhan yang mengambil kodrat manusia di dalam rahim seorang wanita yang sederhana, dan akhirnya menderita di kayu salib adalah di luar nalar manusia biasa. Bahkan Yesus ini tidak berhenti di kayu salib, tetapi Dia bangkit dari kematian, dan memutuskan untuk hadir secara sakramental dan nyata dalam Ekaristi. Allah alam semesta menjadi hosti putih kecil! Tanpa karunia supernatural Roh Kudus ini, secara alami mustahil untuk memiliki iman yang luar biasa ini. Namun, bagi mereka yang memiliki karunia iman, percaya kepada Yesus tampak sealami bernafas.

Kedua, Roh Kudus menghidupkan dan memperkuat Gereja di bumi ini. Seringkali, kita salah mengira bahwa Roh Kudus hanya berfungsi ketika seseorang mulai berbicara dalam bahasa roh. Namun, peran Roh Kudus jauh lebih masif dan mendasar dari itu. Roh Kudus menguatkan kita pada saat masa-masa sulit. Itu sebabnya kita meminta karunia keperkasaan. Roh Kudus menerangi kita ketika kita mengalami kesulitan dalam memahami iman kita dan makna hidup. Itu sebabnya kita meminta karunia pengertian. Ini hanyalah dua dari tujuh karunia Roh Kudus! Jangan lupa juga bahwa Roh Kudus mengilhami para penulis Kitab Suci sehingga tulisan yang mereka hasilkan adalah Firman Tuhan sendiri. Dan, hanya Roh Kudus yang dapat menjadikan sakramen sebagai sarana rahmat Tuhan.

Ketiga, Roh Kudus adalah sumber kekudusan kita. Roh Kudus tidak hanya memungkinkan permulaan dari iman kita, Dia tidak hanya menopang dan memelihara pertumbuhan kita dalam pengharapan, tetapi Dia juga memberi buah-buah rohani. Bagi kita yang bertekun dan mengandalkan Roh Kudus, kita akan menikmati buah Roh Kudus: cinta, sukacita, damai, kesabaran, kebaikan, kemurahan hati, kesetiaan, kelembutan, pengendalian diri [lihat Gal 5:22]. Bahkan, kebahagiaan abadi di surga adalah karunia Roh Kudus. Kita ingat bahwa satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni adalah penghujatan terhadap Roh Kudus [lihat Mat 12:30]. Gereja telah mengajar kita bahwa dosa ini adalah kekerasan hati kita untuk bertobat sampai akhir [KGK 1864]. Jika kita dengan tegas menolak pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, kita menghina Roh Kudus, dan jika sampai nafas terakhir kita, kita menutup hati kita kepada-Nya, maka keselamatan kitapun hilang.

Roh Kudus ada di awal perjalanan iman kita, Dia hadir di sepanjang jalan dan Dia memberikan karunia terakhir keselamatan. Segala hormat dan pujian bagi Roh Kudus!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sanctified

7th Sunday of Easter [B]
May 16, 2021
John 17:11b-19

John chapter 17 is traditionally called Jesus’ prayer as a high priest. This prayer was in the context of the Last Supper and just before His passion and death. Jesus prayed to the Father and interceded for His disciples and all of us who believe in Him. It was a beautiful and powerful prayer.

Bl. Carlo Acutis


One interesting subject that Jesus asked from the Father is that Jesus did not plead that the Father took the disciples from the world but rather to protect them from the evil one. We remember that Jesus was soon returning to the Father in the ascension, but Jesus did not want them to follow Him yet. Instead, Jesus then asked the Father to sanctify the disciples in Truth.


To sanctify is to make holy. Often our understanding of being holy is limited to those people who already in heaven. We call them the saints or the holy men and women. Yet, the fundamental meaning of ‘to be holy’ is ‘to be set apart’. In Biblical Hebrew, the word for holy is “Kados”, and it has the same meaning. Therefore, to be sanctified means to be set apart for purposes. For example, holy water is not just ordinary water because it has been blessed and set apart from everyday use like drinking or washing. It is now only for religious purposes.
In His prayer, Jesus was sanctifying His disciples. Jesus was making His disciples holy, and He was setting them apart from this world, for the Truth. Though the disciples were in the world, they no longer belonged to the world. They were consecrated to the Truth that is Jesus Christ Himself [see John 14:6]. The disciples belonged to Jesus. Thus, they remained in the world, not because they enjoyed and attaching themselves to the world, but they were to preach the Truth and bring Jesus.


Jesus’ prayer is not only for His apostles two thousand years ago but for all of us. When we are baptized, we have been set apart from the world and for God. We belong to God. Yet, the same baptism makes us share in the mission of the apostles. We remain in the world because God sent us to bring Christ to more people.
However, the temptation is that we often forget how we are and believe that we are part of the world rather than belong to Christ. We are not only simply in the world, but we become too worldly. We become too attached to the world and busy with many temporal affairs. Indeed, I am not suggesting that we all enter the monasteries or turn to be hermits. We remain in the world as who we are now, as parents, spouses, workers, teachers, students, yet in all of these, we bring Christ. Thus, holy parents do not mean those who pray in the chapel 24/7, but who raise their children with dedication and bring them to Christ. Holy workers are not those who come to workplaces and mediate the whole day, but those who work hard and honestly.


We remember Blessed Carlo Acutis. He loved to go to Mass and pray the rosaries, but He was an ordinary student and a computer geek. He used his passion for the computer to establish a Catholic website to spread the devotion to the Holy Eucharist. If Carlo Acutis can do it, why can’t we?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP