Hari Raya Penampakan Tuhan [6 Januari 2019] Matius 2:1-12
Pertanyaan ketiga yang diajukan Uskup Agung Socrates Villegas kepada saya saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu takut? Sama seperti dua pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ini juga berlawanan dengan intuisi dasar. Salah satu ungkapan favorit saya dalam Alkitab adalah “Jangan takut!” Dalam banyak kesempatan dalam Kitab Suci, pernyataan ini tidak hanya menyampaikan dorongan semangat, tetapi juga sebuah misi yang mengubah hidup. Ketika Abram menjadi tua dan tidak memiliki anak, dia ragu dengan janji Tuhan yang menjanjikan keturunan seperti bintang-bintang di langit, Allah berkata, “Jangan takut!” (Kej 15) Akhirnya, Abraham menjadi bapak dari bangsa-bangsa. Ketika Allah memanggil Yeremia untuk bernubuat kepada Yehuda, ia ragu dan beralasan bahwa usianya yang masih muda, tetapi Tuhan berkata, “Jangan takut!” (Yer 1:8) Lalu, Yeremia menjadi salah satu nabi terbesar Israel. Ketika Yusuf merasa dikhianati saat dia mengetahui Maria mengandung diluar nikah, namun dalam belas kasihannya, ia berencana untuk menceraikan Maria secara rahasia, malaikat pun berkata kepadanya, “Yusuf, anak Daud, jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” (Mat 1:20) Kemudian, Yusuf menjadi ayah angkat Putra Allah. Ketika Maria menerima Kabar Baik dari malaikat Gabriel, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Gabriel pun berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk. 1:30) Lalu, dia menjadi Bunda Allah.
Kita membutuhkan di Gereja, orang-orang yang tidak takut untuk mengikuti panggilan Allah untuk mengasihi dan melayani. Kita membutuhkan para imam yang tidak takut untuk memberitakan Injil terlepas dari kesulitan, cobaan, dan bahkan ancaman terhadap hidup mereka. Kita membutuhkan biarawan-biarawati yang tekun melayani yang miskin, yang terpinggirkan dan yang terlupakan. Kita membutuhkan imam yang berani mengatakan tidak untuk kenyamanan hidup, untuk melawan kemalasan, dan untuk melayani dan bukan dilayani. Kita membutuhkan pria dan wanita awam yang berani dalam melakukan pengorbanan setiap hari untuk keluarga mereka dan dalam memberikan kesaksian kepada dunia. Kita dapat belajar juga dari ketiga orang Majus yang melakukan perjalanan ribuan mil dari timur, menantang semua bahaya termasuk para perampok dan cuaca yang tidak bersahabat, dan berhadapan dengan Herodes yang haus kekuasaan, hanya untuk melihat bayi Yesus.
Namun, tidak memiliki rasa takut bukan berarti nekat, ceroboh dan seenaknya sendiri. Dalam Alkitab yang sama, kita juga menemukan bahwa ada satu ketakutan yang diperlukan dan pada kenyataannya, kudus. Ini adalah takut akan Tuhan (Ayub 28:28; Mazmur 110: 10). Ini bukanlah rasa takut yang mengalir dari citra Allah yang menakutkan dan penuh dendam. Kita takut karena Tuhan akan menghukum kita dan melemparkan kita ke neraka! Tidak, ini gambar yang salah.
Kita takut akan Tuhan karena kita takut melukai seseorang yang mengasihi kita dan seseorang yang sangat kita kasihi. Kita harus takut saat kita kehilangan Tuhan karena kelekatan kita terhadap dosa. Kita harus takut bahwa kita terpisah dari Tuhan yang merupakan sumber kehidupan kita. Para imam harus takut untuk merayakan Ekaristi dengan tidak layak. Kaum awam harus takut untuk mendekati Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya dengan keadaan berdosa. Para imam harus takut untuk mencuri uang Gereja. Para klerus harus takut menolak kebutuhan rohani umat. Sekali lagi, ketiga majus adalah model yang baik kita. Mereka berani menghadapi banyak tantangan dan menentang Herodes agung, tetapi di hadapan bayi Yesus, mereka bersujud dan memberi hormat. Jangan takut terhadap hal-hal yang menghalangi kita jalan kita menuju Tuhan, dan kita takut dengan hal-hal yang menjauhkan kita dengan Tuhan.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Some of us may wonder why the Church places the celebration of the solemnity of Mary, the Mother of God on January 1, or on the New Year. One may guess that the Church wants us to attend mass on the first day of the year, so as to start the year right. For those who wish to have a long holiday, it might be pretty a killjoy, but for some of us who wish to be blessed for the entire year, it is a nice thought. Yet, surely there is something deeper than that.
Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja menempatkan Hari Raya Maria, Bunda Allah pada tanggal 1 Januari, atau pada Tahun Baru. Orang mungkin berpikir bahwa Gereja ingin kita menghadiri misa pada hari pertama tahun baru ini. Bagi mereka yang ingin memiliki liburan panjang, ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi bagi sebagian dari kita yang ingin diberkati sepanjang tahun, itu adalah ide yang bagus. Namun, pasti ada sesuatu yang lebih dalam mengapa tanggal 1 Januari.
We are celebrating the feast of the Holy Family of Nazareth, the feast day of Jesus, Mary, and Joseph. The last event in the Bible that presents the Homily Family together is the Finding of the Child Jesus in the Temple. After this event, Joseph no longer appeared in the Bible, and according to the tradition, he passed away even before he was able to see Jesus in His public ministry. Since this is the last episode where Joseph gets involved in the narrative, we shall reflect more about him.
Minggu ini, kita merayakan pesta Keluarga Kudus Nazareth. Peristiwa terakhir dalam Alkitab yang menghadirkan Keluarga Kudus adalah ketika Yesus ditemukan di Bait Allah. Setelah peristiwa ini, Yusuf tidak lagi muncul dalam Alkitab, dan menurut tradisi, ia meninggal bahkan sebelum ia dapat melihat Yesus mewartakan Injil. Karena ini adalah episode terakhir di mana Yusuf terlibat dalam narasi, kita akan merenungkan Injil hari ini dan belajar dari St. Yusuf.
Today’s Gospel is truly beautiful. We have two protagonists. They are women, and they are both pregnant. Who are they? Mary and Elizabeth. Yet, why is the story beautiful? It is just natural for women to get pregnant. Unless we need to go closer to the stories and place ourselves in the shoes of Mary and Elisabeth, we can never see the true beauty of their story.
Injil hari ini benar-benar indah. Kita memiliki dua protagonis. Mereka adalah wanita, dan mereka berdua sedang hamil. Siapa mereka? Maria dan Elizabeth. Namun, mengapa cerita mereka indah? Tentunya, wajar bagi wanita untuk hamil. Hanya dengan melihat lebih dekat kisah mereka berdua, kita baru bisa melihat keindahan sejati dari kisah mereka.
The second question that Archbishop Socrates Villegas of Lingayen-Dagupan asked us during our ordination was, “Are you broken enough?” Once again his question raised eyebrows and was, indeed, counter-intuitive. We want to be flawless, whole and perfect. We desire to achieve more in life, to be wealthy, healthy and pretty. We wish to be socially accepted, respected and gain certain prominence. We want to become somebody, and not nobody. We like others to call us as the famous doctors, the creative entrepreneurs, or successful lawyers. Or for us, people in the Church, we like people to consider us well-sought preachers, generous and builder-priests, or skillful and well-educated sisters.
Pertanyaan kedua yang diajukan uskup agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu sudah cukup terpecah dan remuk?” Sekali lagi pertanyaannya ini mengherankan. Kita ingin menjadi utuh dan sempurna. Kita ingin mendapatkan lebih banyak dalam hidup, menjadi kaya, sehat dan cantik. Kita ingin diterima secara sosial, dan dihormati dan memiliki pencapaian yang dapat dibanggakan. Kita ingin menjadi seseorang. Kita ingin orang lain menyebut kita sebagai dokter terkenal, pengusaha kreatif, atau pengacara yang sukses. Atau bagi kita, orang-orang yang melayani di Gereja, kita suka orang-orang menganggap kita sebagai pengkhotbah yang disukai, imam pembangun, atau suster yang terampil dan berpendidikan.
During my ordination, Archbishop Socrates Villegas of Lingayen-Dagupan asked this question to us who would receive the sacred order, “Are you weak enough?” The question was mind-blogging and unexpected because often we have strength, power, and talents as our favorite subjects, and even obsession. We like to show to the world that we are achievers and conquerors. We parade our good education, high-earning job, or a beautiful face. The ‘superior’ mentality does not only affect the lay people traversing in the ordinary world, but also people dressed in white walking through the corridors of the Church. The clergy, as well as religious men and women, are not immune to this hunger for approval and sense of worthiness.