Mary Magdalene and Resurrection

Easter Sunday [April 19, 2019] John 20:1-9

mary magdalene n resurrection 2
He Qi_Easter morning

Mary Magdalene is a female disciple that loves her Teacher deeply, and being a woman, there is something that she teaches us. Luke describes her in his Gospel as a woman “from whom seven demons have come out” [see Luk 8:2]. It must be a terrible experience to be tormented by seven demons, and when Jesus heals her, she expresses her deep gratitude by following Jesus. As one of Jesus’ disciples, she is proven to be the most faithful to her Teacher. When many followers of Jesus are running away to save their lives, and even Peter, the leading figure in the group, denies Jesus, Mary follows Jesus in His way of the Cross to the end. She received the insult Jesus receives, she bears the humiliation Jesus bears, she carries the cross Jesus carries. In fact, she is standing beside the cross together with the mother of Jesus and John the beloved.

However, Mary’s love is even bigger than death. She is the first person who visits the tomb early in the morning. We recall that after Jesus died on the cross, his body was hastily brought to the tomb by Nicodemus and Joseph Arimathea because the Sabbath was drawing near. During Sabbath, Jews are not allowed to bury the dead. Mary knows that Jesus’ body was not taken care of properly, and she wants to make sure that Jesus deserves the proper burial. She comes to the tomb to express her love for the last time for the Teacher by anointing the body of Jesus. Yet, she only sees the empty tomb. Fear seizes her. She may think that some bad guys stole, inflicted further damages and desecrated the body. Instinctively, she runs towards the men of authority after Jesus Himself, Peter and John.

After checking the tomb, Peter fails to understand, and he goes back to the house. She also does not understand and weeps for the loss of her love, but unlike Peter, Mary stays at the tomb. In utter confusion and meaninglessness, Mary does not abandon Jesus. Indeed, the Savior does not disappoint and gives Mary Magdalene a singular privilege to witness the resurrected Jesus. Her great love and fidelity lead her to the joy of Resurrection. She becomes the first preacher of Resurrection.

In the Gospel, often female disciples are depicted as a model of love and perseverance. God created man and woman as equal in dignity, but they differ in characters. Indeed, men like Peter, are the figures of authority, but women excel in what often is lacking in male disciples. I have visited many places in Indonesia and the Philippines, and I give talks and reflections, but one thing in common from these places, is that women often outnumber the men. I am newly assigned in Redemptor Mundi Parish, Surabaya, Indonesia, and a simple gaze will prove that more women are attending our daily morning masses.

Mary Magdalene, a woman disciple, shows to us that it is possible to love and to be faithful when things got tough and rough, when life throws us its trash, and when confusion and meaningless seem to reign. Mary is those women who unceasingly pray for the priests despite so many failures they have made Mary are those mothers who make daily sacrifices for their children despite being unappreciated. Mary is those religious sisters who serve the poor committedly despite many setbacks and trails. We must thank many Mary Magdalene around us. They show us that there love truly conquers death and that there is a resurrection in even the senseless empty tomb.

Happy Easter!

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maria Magdalena dan Kebangkitan

Minggu Paskah [21 April 2019] Yohanes 20: 1-9

mary magdalene at tombMaria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.

Namun, cinta Maria bahkan lebih besar daripada kematian. Dia adalah orang pertama yang mengunjungi makam Yesus pagi-pagi buta. Kita ingat bahwa setelah Yesus mati di kayu salib, tubuhnya dengan tergesa-gesa dibawa ke makam oleh Nikodemus dan Joseph Arimathea karena hari Sabat semakin dekat. Selama hari Sabat, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menguburkan orang mati. Maria tahu bahwa tubuh Yesus tidak dirawat dengan baik, dan dia ingin memastikan bahwa Yesus mendapatkan penguburan yang layak. Dia datang ke makam untuk mengekspresikan cintanya yang terakhir kalinya bagi sang Guru. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Maria hanya melihat makam kosong. Ketakutan luar biasa merasuki dirinya. Dia mungkin berpikir bahwa beberapa pria jahat mencuri dan menodai tubuh sang Guru. Secara naluriah, dia berlari kepada para pemimpin Gereja setelah Yesus sendiri, Petrus dan Yohanes.

Setelah memeriksa makam, Petrus gagal untuk mengerti apa yang terjadi, dan dia kembali ke rumah. Maria juga tidak mengerti dan menangisi kehilangan cintanya, tetapi ada perbedaan yang signifikan, tidak seperti Petrus, Maria tidak meninggalkan makam. Dalam kebingungan dan ketidakberartian, Maria tidak meninggalkan Yesus. Sungguh, Juruselamat tidak mengecewakan dan memberi Maria Magdalena hak istimewa untuk menyaksikan Yesus yang telah bangkit. Cinta dan kesetiaannya yang luar biasa menuntunnya ke sukacita Kebangkitan. Dia pun menjadi pewarta pertama akan Yesus yang bangkit.

Dalam Injil, seringkali murid perempuan digambarkan sebagai model cinta kasih, kesetiaan dan ketekunan. Tuhan menciptakan pria dan wanita setara dalam martabat, tetapi mereka berbeda dalam karakter. Memang, pria seperti Petrus, adalah figur otoritas, tetapi wanita unggul dalam apa yang sering kurang pada murid pria. Saya telah mengunjungi banyak tempat, komunitas dan gereja di Indonesia dan Filipina, dan satu hal yang sama dari tempat-tempat ini, adalah bahwa wanita sering kali lebih banyak jumlahnya dari kaum pria. Saya baru saja ditugaskan di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, Indonesia, dan pandangan sederhana akan membuktikan bahwa lebih banyak wanita menghadiri misa pagi harian kami.

Maria Magdalena, seorang murid perempuan, menunjukkan kepada kita bahwa adalah mungkin untuk mencintai dan setia ketika segala sesuatu menjadi sulit, ketika hidup melempari kita segala permasalahan, dan ketika kebingungan dan ketidakberartian tampaknya berkuasa. Maria Magdalena adalah wanita-wanita yang terus-menerus berdoa untuk para imam meskipun begitu banyak kegagalan yang mereka buat. Maria adalah para ibu yang berkorban setiap harinya untuk anak-anak mereka meskipun tidak dihargai. Maria adalah para suster religius yang melayani orang miskin dengan penuh komitmen meskipun ada banyak jalan terjal dan gosip tidak sedap yang harus dihadapi. Kita harus berterima kasih banyak kepada Maria Magdalena di sekitar kita. Mereka menunjukkan kepada kita bahwa di sana kasih benar-benar mengalahkan maut, dan bahwa ada kebangkitan bahkan di kubur kosong yang tidak masuk akal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Core Memories

Palm Sunday of the Lord’s Passion [April 14, 2019] Luke 19:28-40/Luke 23:1-49

“Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

jesus enter jerusalem 3One of the greatest gifts to humanity is the gift of memory. It gives us a sense of identity. Biology teaches us that almost all our body parts are being replaced over the years. One-year-old Stephen is biologically different from thirty-year-old Stephen. All bodily cells, with the sole exception of his eyes’ lens, are changed. What unites thirty-year-old Stephen with his younger self as well as his future self is his memory.

Not only does memory enable us to connect to ourselves, but it also relates us to other people. We are able to recognize our parents, siblings, and friends because we remember all the good thing, we have received from them. Our memories shape who we are. Thus, the illness that ruins our memories like Alzheimer, is one of the most heinous. Persons with Alzheimer gradually can no longer remember persons who love them; they even cannot recall doing their basic functions like eating and going to the restroom.

One of the uniqueness of human beings is that we do not have only individual memory, but we have communal memory. These common memories are passed through generations, and these form the identity of a group. We are Indonesians, Filipinos, Indians, Americans, or other nations because we have common memories that unite us as a nation. When a nation is inflicted by a kind “Alzheimer” that destroys its common memory, it begins to lose its identity as a nation. Cardinal Robert Sarah from Guinea reminds that Europe is in crisis and in danger of dissolution. He argues that the reason is that the European people began to forget their historical and cultural roots, their common memories.

We Christian share the core and fundamental memory. Palm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels with great details (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. We may even say that the Holy Week especially the Last Supper, the Passion, and Resurrection are the core and foundational memory of every true Christian.

This explains why the Church celebrates Holy Week every year, not because she simply wants to have big events, but because this celebration reconnects us with the core memories that make us as Christians. Yet, we do not only remember the events of the past; we are not just spectators. Through the power of the liturgy, we relive the fundamental stories of Jesus Christ. Together with Christ, we enter Jerusalem. Together with Him, we celebrate the Passover. Together with Him, we are persecuted, crucified and we die. Together with Him, we are buried in the dark tomb. But together with Him, we are raised from the dead.

However, it is our choice whether to follow Him or go against Him: to become people who shout “Hosanna” or people who cry “Crucify Him”; to become a disciple who walks the way of the cross or disciples who run away from Him; to be crucified with Jesus or to crucify Jesus. But it is only the true followers of Jesus who can together with Him be raised from the dead. Holy Week is our time to make that choice: to follow Jesus or to go against Him.

Deacon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Memori Kita

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [14 April 2019] Lukas 19: 28-40 / Lukas 23: 1-49

jesus enter jerusalem 2Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21: 1-11, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang berseru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

The Woman and Jesus’ Mercy

5th Sunday of Lent [April 7, 2019] John 8:1-11

adulterous woman 3Adultery is a serious sin according to the Law of Moses. It is a violence against the Basic Law, the Ten Commandments. It is in fact, one of the few crimes that are punishable by death [Lev 20:10]. Why so cruel? It is a grave sin because adultery profanes the holiness of marriage and the gift of sexuality. In the Book of Genesis, God has willed that man and woman through marriage and their sexuality participate in God’s work of creation and caring of creation. Since marriage is a sacred calling, violation to this holy mission is an utmost insult to God who calls man and woman into marriage.

Some Jewish people bring a woman caught in adultery to Jesus. It is a tough dilemma for Jesus who knows well the Law of Moses. If Jesus agrees to stone the woman, He upholds the Law of Moses, but He is going to invalidate His preaching of mercy and forgiveness. If Jesus refuses to condemn the woman, He violates the Law of Moses, condones the evil committed by the woman, and denies the justice of God. Stoning means he is not merciful but refusing to stone means he is not just. “Damned if you do, damned if you don’t”.

Jesus then begins to write on the ground. The Gospel does not specify what Jesus writes, but we may come up with an intelligent guess. In original Greek, to write is “grapho”, but in this episode, the word used is “katagraho”, and this can be translated as “to write against”. Jesus is writing the sins of the people who brought the woman. Jesus says, “Let the one among you who is without sin be the first to throw a stone at her (Jn. 8:7).” After Jesus reveals their sins, they realize that they themselves deserve to be stoned. They go away, leaving Jesus and the woman.

The Law of Moses states that both man and woman caught in adultery shall be punished, but where is the man? Jesus points out that she is merely a pawn used to trick Jesus, and some are ready to sacrifice this woman just to get what they want. Her humanity is disregarded, her identity as a daughter of God is trampled, and she is treated as a mere tool. Manipulating our neighbors, especially the weak and the poor, for our own gain is a graver sin than adultery!

Jesus knows that the woman has committed a serious sin, but she herself is a victim of injustice and more serious sin. Jesus surely hates evil, but He forgives the woman and gives her a second chance because He understands what has happened to her. She has fallen into sin because of her human weakness and temptation, but God is greater than all ugly things that has befallen her, if she just repents and goes back to God.

There was a movie entitled “Malena”. It was the story of a beautiful woman in an Italian rural village during World War II. She received news that her husband died in the war. After this, her father, her only family, also died when the German planes bombed their village. Because of the poverty and desperation to survive, she was forced into prostitution, even to serve the German soldiers. After the loss of German forces, the villagers condemned her not only as a whore but also as a traitor. She was expelled from the village with humiliation. Surprisingly, her husband came back to the village, alive. He learned of what happened to his wife. Instead of condemning his wife, and looking for another wife, he fetched his wife and brought her back to the village. He proudly walked with his wife around the village as if telling everyone, “it is not her fault that she becomes a prostitute. She is still my faithful wife!”

Mercy gives justice is the beauty. With mercy, we see the bigger picture of our own and other people’s failures. Mercy empowers us to be patient with others and ourselves.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahmat Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah ke-5 [7 April 2019] Yohanes 8: 1-11

adulterous woman 1Perzinahan adalah dosa serius menurut Hukum Musa. Ini adalah pelanggaran terhadap Sepuluh Perintah Allah. Pezinahan adalah satu dari sedikit dosa yang bisa dihukum mati [Im 20:10]. Kenapa begitu kejam? Ini adalah dosa besar karena perzinahan mencemarkan kekudusan pernikahan dan karunia seksualitas. Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menghendaki pria dan wanita melalui pernikahan dan seksualitas mereka berpartisipasi dalam karya penciptaan. Karena pernikahan adalah panggilan suci, pelanggaran terhadap misi suci ini adalah salah satu penghinaan terbesar bagi Allah yang memanggil pria dan wanita ke dalam pernikahan.

Beberapa orang Yahudi membawa seorang wanita yang tertangkap dalam perzinahan kepada Yesus. Ini adalah dilema yang sulit bagi Yesus yang menjalankan dengan baik Hukum Musa. Jika Yesus setuju untuk melempari wanita itu dengan batu, Ia menegakkan Hukum Musa, tetapi Ia akan membatalkan pemberitaan belas kasih dan pengampunan-Nya. Jika Yesus menolak untuk mengutuk wanita itu, Dia melanggar Hukum Musa, mentolerir kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu, dan menyangkal keadilan Allah. Merajam berarti Yesus tidak berbelas kasihan tetapi menolak untuk melempar batu berarti Dia tidak adil. “Bagaikan memakan buah simalakama.”

Yesus kemudian mulai menulis di tanah. Injil tidak menjelaskan secara spesifik apa yang ditulis oleh Yesus, tetapi kita mungkin dapat menebaknya. Dalam bahasa Yunani asli, menulis adalah “grapho”, tetapi dalam episode ini, kata yang digunakan adalah “katagraho”, dan ini dapat diterjemahkan sebagai “menulis tuntutan”. Yesus menulis dosa-dosa orang-orang yang membawa wanita tersebut. Yesus berkata, “Biarlah orang di antara kamu yang tanpa dosa menjadi yang pertama melemparkan batu ke arahnya (Yoh 8: 7).” Setelah Yesus mengungkapkan dosa-dosa mereka, mereka menyadari bahwa mereka sendiri layak dirajam. Mereka pergi, meninggalkan Yesus dan wanita itu.

Hukum Musa menyatakan bahwa pria dan wanita yang tertangkap dalam perzinahan akan dihukum, tetapi di mana sang pria? Kenapa hanya perempuan yang diadili? Yesus menunjukkan bahwa sang perempuan hanyalah pion yang digunakan untuk menjebaka Yesus, dan beberapa orang Yahudi siap untuk mengorbankan wanita ini hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kemanusiaannya diabaikan, identitasnya sebagai putri Allah diinjak-injak, dan ia diperlakukan sebagai alat belaka. Memanipulasi sesama kita, terutama yang lemah dan yang miskin, demi keuntungan kita sendiri adalah dosa yang lebih besar daripada perzinahan!

Yesus tahu bahwa wanita itu telah melakukan dosa serius, tetapi dia sendiri adalah korban ketidakadilan dan dosa yang lebih berat. Yesus tentu membenci kejahatan, tetapi Dia mengampuni wanita itu dan memberinya kesempatan kedua karena Dia mengerti apa yang terjadi padanya. Dia jatuh ke dalam dosa karena kelemahan manusia dan godaannya, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari segala hal buruk yang menimpannya, jikalah dia bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Ada film berjudul “Malena”. Itu adalah kisah tentang seorang wanita cantik di pedesaan Italia selama Perang Dunia II. Dia menerima kabar bahwa suaminya meninggal dalam perang. Setelah ini, ayahnya, satu-satunya keluarganya, juga meninggal ketika pesawat Jerman membom desa mereka. Karena kemiskinan dan keputusasaan untuk bertahan hidup, dia terpaksa menjadi pelacur, bahkan untuk melayani tentara Jerman. Setelah kekelahan pasukan Jerman, penduduk desa mengutuknya, tidak hanya sebagai pelacur tetapi juga sebagai pengkhianat. Dia diusir dari desa dengan penghinaan. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi, ternyatanya, suaminya tidak meninggal, dan kembali ke desa. Setelah dia mengetahui apa yang terjadi pada istrinya, alih-alih mengutuk istrinya, dan mencari wanita, ia menjemput istrinya dan membawanya kembali ke desa. Dia dengan bangga berjalan bersama istrinya di sekitar desa seolah-olah memberi tahu semua orang, “bukan salahnya kalau dia menjadi pelacur. Dia masih istriku yang setia!”

Kerahiman memberi keadilan yang tegas keindahannya. Dengan belas kasihan, kita melihat gambaran yang lebih besar dari kegagalan kita sendiri dan orang lain. Rahmat memberdayakan kita untuk bersabar dengan orang lain dan diri kita sendiri.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A Father Who Never Abandons His Son

Fourth Sunday of Lent [March 31, 2019] Luke 15:1-3, 11-32

prodigal fatherThe Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. Why? I guess one of the reasons is the story of the Prodigal Son is also our story.

Let us look at some details of the parable especially the father and the younger son. The son demands his inheritance while his father is still alive and well. That’s a no-no! It simply means the son wishes his father’s death, and wills that he is no longer part of the family [see Sir 33:20-24]. The offended father has the authority to discipline the ungrateful son, but he does not! Because of his tremendous love for the son, he allows the son to get what he wants. Like the son, we often offend the Lord, wishing to be away from Him. We choose “the inheritance”, the good things God created like wealth, power, and pleasure above and over Him. We keep abusing His love and kindness, knowing that He is a Good Father.

However, the younger son’s action has a terrible consequence. The farther he is away from his father, the more pitiful his life becomes. The inheritance without the true owner is nothing but a passing shadow. The Jewish young man loses everything, and even becomes the caretaker of pigs, the very animal Jews hate! He becomes so low to the point of eating what the pigs eat. Like the younger son, without God, we become miserable. Yes, we may become richer, more powerful and famous, but we have lost our souls. We never become truly happy because these pleasurable things without God are mere addiction.

The son comes to his sense when he remembers his father and his life with him. Even the father is far away, it does not mean he is idle. He is drawing his lost son through good memories they share. No matter far we are from God, He is constantly pulling us back to Him through His mysterious ways. Yet, it remains our choice to heed the voice of our conscience but ignore it and plunge ourselves further into sin.

The parable also speaks about the father who is patiently waiting, looking forward to the day that his son returns home. The moment he sees his son from distance, without a second thought, he runs toward his son and embraces him and kisses him. The son never thinks that he deserves to be his son once more, and just wants to be treated like a servant. But, mercy precisely is to receive something we do not deserve. The father receives back his young man as his child.

Allow me to close this simple reflection with a story. In 1988, a terrible earthquake hit Armenia. In just four minutes, buildings crumbled, and thousands died. A man immediately ran to a school where his son studied. He had promised to his son that he would be there to fetch him. He saw that the school was now piles of rubbles. He rushed to the site where the class used to be. He started digging barehandedly. Some people tried to help him but stopped afterward. Some people discouraged him, saying, “It is useless. They are dead!” He refused to give up, and continue digging for hours. Then after more than 30 hours of searching, he heard a small voice from the rubble. He shouted, “Arman!” and he heard a response, “Father!” His boy was still alive, and together with him were other pupils. That day, the man had saved 14 children who got trapped. Arman told his friends, “I told you, my father will come no matter what!”

The parable of the Prodigal Son is so beautiful because it does not only reflect who we are but also reveals who our God is. He is a merciful Father who refuses to give up hope on us, however desperate we have become.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ayah yang Tak Pernah Meninggalkan Putranya

Minggu keempat Prapaskah [31 Maret 2019] Lukas 15: 1-3, 11-32

prodigal son 3Perumpamaan tentang Anak yang Hilang adalah salah satu kisah Yesus yang paling mengharukan dan telah dianggap sebagai yang paling disukai. Mengapa? Saya kira salah satu alasannya adalah kisah Anak yang Hilang adalah kisah hidup kita juga.

Marilah kita melihat beberapa rincian perumpamaan terutama ayah dan putra bungsunya. Sang putra menuntut warisannya saat ayahnya masih hidup dan sehat. Itu hanya berarti sang putra berharap ayahnya mati! Ia juga menghendaki bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga [lihat Sir 33: 20-24]. Sang ayah memiliki wewenang untuk mendisiplinkan anak yang tidak tahu berterima kasih, tetapi ia tidak melakukannya! Karena cintanya yang luar biasa pada putranya, ia membiarkan putranya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti sang putra, kita sering berdosa terhadap Tuhan, ingin menjauh diri dari-Nya. Kita memilih “warisan”, hal-hal baik yang Allah ciptakan seperti kekayaan, kuasa, dan kesenangan dari pada Dia. Kita terus menyalahgunakan kasih dan kebaikan-Nya, mengetahui bahwa Dia adalah Bapa yang Baik.

Namun, tindakan putra bungsu memiliki konsekuensi yang mengerikan. Semakin jauh dia dari ayahnya, semakin menyedihkan hidupnya. Warisan tanpa pemilik sejati hanyalah bayangan yang semu. Sang pemuda Yahudi tersebut kehilangan segalanya, dan bahkan menjadi penjaga babi, hewan yang sangat dibenci orang Yahudi! Dia menjadi sangat rendah sampai memakan apa yang dimakan babi peliharaannya. Seperti putra bungsu, tanpa Tuhan, kita menjadi sengsara. Ya, kita mungkin menjadi lebih kaya, lebih perkasa dan terkenal, tetapi tanpa Tuhan, kita telah kehilangan jiwa kita. Kita tidak pernah menjadi benar-benar bahagia karena hal-hal yang menyenangkan ini tanpa Allah hanyalah sebuah kecanduan.

Putranya baru menyadari keadaannya ketika dia ingat ayahnya dan hidupnya bersamanya. Bahkan ketika sang ayah berada jauh, bukan berarti dia tidak peduli. Dia menarik kembali putranya yang hilang melalui kenangan indah yang mereka bagi bersama. Tidak peduli seberapa jauh kita dari Tuhan, Dia terus-menerus menarik kita kembali kepada-Nya melalui cara-cara misterius-Nya. Namun, ini tetaplah pilihan kita untuk mengindahkan suara hati kita atau mengabaikannya dan menceburkan diri kita lebih jauh ke dalam dosa.

Perumpamaan itu juga berbicara tentang ayah yang dengan sabar menunggu, menantikan hari ketika putranya pulang. Saat dia melihat putranya dari jauh, tanpa berpikir dua kali, dia berlari, memeluk putranya serta menciumnya. Putranya tidak pernah berpikir bahwa dia pantas menjadi anaknya, dan hanya ingin diperlakukan seperti pelayan. Tetapi, rahmat sesungguhnya adalah memberi sesuatu yang tidak pantas kita terima. Sang ayah menerima kembali putranya sebagai anaknya.

Izinkan saya untuk menutup refleksi sederhana ini dengan sebuah cerita. Pada tahun 1988, gempa bumi dahsyat melanda Armenia. Hanya dalam empat menit, bangunan-bangunan runtuh, dan ribuan meninggal. Seorang pria segera berlari ke sekolah tempat putranya belajar. Dia telah berjanji kepada putranya bahwa dia akan berada di sana untuk menjemputnya. Dia melihat bahwa sekolah itu sekarang menjadi puing. Dia bergegas ke situs tempat kelas anaknya berada. Dia mulai menggali dengan tangannya. Beberapa orang mencoba membantunya tetapi berhenti ketika mereka lelah. Beberapa orang mengecilkan hatinya, mengatakan, “Itu tidak berguna. Mereka sudah mati! ”Dia menolak menyerah, dan terus menggali selama berjam-jam. Kemudian setelah lebih dari 30 jam mencari, dia mendengar suara kecil dari reruntuhan. Dia berteriak, “Arman!” Dan dia mendengar jawaban, “Ayah!” Putranya masih hidup, dan bersama-sama dengannya ada murid-murid lain. Hari itu, pria tersebut telah menyelamatkan 14 anak yang terjebak. Arman memberi tahu teman-temannya, “Sudah kubilang, ayahku akan datang apa pun yang terjadi!”

Perumpamaan tentang Anak yang Hilang begitu indah karena tidak hanya mencerminkan siapa kita tetapi juga mengungkapkan siapa Allah kita. Dia adalah Bapa yang berbelaskasih yang menolak untuk menyerah pada kita, betapapun buruknya kita.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A Story of a Fig Tree

Third Sunday of Lent [March 24, 2019] Luke 13:1-9

“Sir, leave it for this year also, and I shall cultivate the ground around it and fertilize it; it may bear fruit in the future (Luk 13:8).”

fig tree 2It normally takes around three years for a fig tree to reach its maturity and fruition. If it does not produce fruit by that time, it is not likely to bear fruit at all. The owner has a reasonable right to cut the tree, but through the effort of the gardener, it is given another chance. Like the fig tree, through the effort of our Chief Gardener, the new Adam of eternal Eden, Jesus Christ, we are given another chance to change and be fruitful.

However, it is always easier said than done. In daily reality, it is not simply a matter of instantly erasing errors on the whiteboard, of flash and clear-cut change from bad guy to good guy, from villains to heroes. Some of us are merely entrapped in the evil structures or systems that promote sin in us and through us, and we simply do not know how to get out of it. Some of us are victims of vicious cycles of sin in our families or our societies that sooner or later turn us to be the perpetrators, and we are merely powerless to find the way out.

One time, I visited a place for the youth who conflicted with the Law. I met this teenager, Joseph, not his real name. He was arrested for stealing small amount of money, or petty theft. He shared to me his story that he was without parents, and he lived together with a band of snatchers. His elders in the group taught him how to steal and snatch, and after several practices and actual deeds, he developed the habit, not only to take the money, but also to desire for an easy money. He has been in the facility for several times, and every time he was released, he promised himself not to go back to that way of life. Yet, because he no longer knew what to do and where to go outside the facility, he once again stole something for him to fill his hungry stomach. Then, again he was caught.

Then, what does it mean to repent, to change? Is there any point we observe Lenten season every year, yet no apparent change seems to take place? We miss the point if we just think that Lenten season is only about instant change.

It is a story of a struggling fig tree to be fruitful and yet find itself facing desperate end, the story of struggling humanity. It is a story of a gardener who refuses to give up on his tree, a story of God who never loses hope in humanity. The Lenten season means that despite of all our imperfection and disfigured life, we refuse to succumb to despair. It means we take courage to fight hopelessness even when no actual fruit of change seems visible in our lives. It means we always hope in the Lord who never loses hope in us.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno

Kisah Sebuah Pohon Ara

Minggu ketiga Pra-Paskah [24 Maret 2019] Lukas 13:1-9

“Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:8)”

fig treeBiasanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun bagi pohon ara untuk mencapai masa dewasa dan berbuah. Jika tidak menghasilkan buah pada saat ini, kemungkinan besar pohon ara tersebut tidak akan berbuah sama sekali. Tentunya, Sang pemilik memiliki hak untuk menebang pohon tersebut dan menanam pohon baru. Tetapi, melalui upaya sang tukang kebun, pohon ara diberi kesempatan baru. Seperti pohon ara, melalui upaya Sang Tukang Kebun kita, Adam yang baru di taman Eden yang abadi, Yesus Kristus, kita diberi kesempatan baru untuk berubah dan berbuah.

Namun, hal ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dalam kenyataan sehari-hari, perubahan bukanlah sesuatu yang instan seperti halnya menghapus kesalahan pada papan tulis. Perubahan yang sangat cepat dari orang jahat menjadi orang baik, dari penjahat menjadi pahlawan sangatlah jarang. Beberapa dari kita terperangkap dalam struktur atau sistem kedosaan yang membuat kita terus melakukan dosa dan kita tidak tahu bagaimana untuk keluar dari struktur tersebut. Beberapa sebenarnya adalah korban dari lingkaran setan kekerasan dalam keluarga kita atau masyarakat kita dan membuat kita cepat atau lambat menjadi pelaku, dan kita berdaya untuk menemukan jalan keluar dari lingkaran setan tersebut. Sangat sulit bagi seorang anak yang dibesarkan sebagai korban kekerasaan dalam ‘rumah tangga’ untuk tidak melakukan kekerasan terhadap saudara atau teman yang lebih lemah.

Suatu kali, saya mengunjungi fasilitas bagi para pemuda yang bermasalah dengan Hukum di General Santos City, Mindanao, Filipina. Saya bertemu seorang remaja, Joseph, bukan nama sebenarnya. Dia ditangkap karena ia mencopet. Dia mensharingkan kepada saya ceritanya bahwa dia tidak memiliki orang tua, dan dia dibesarkan dan hidup bersama dengan gerombolan pencopet. Para tetua dalam kelompok itu mengajarinya cara mencuri dan mencopet, dan setelah beberapa latihan, mencuri menjadi kebiasaannya, tidak hanya untuk mengambil uang, tetapi juga untuk menginginkan uang dengan mudah. Dia telah berada di fasilitas itu beberapa kali, dan setiap kali dia dibebaskan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali ke jalan hidup seperti itu. Namun, karena dia tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi ke luar fasilitas, dia sekali lagi mencuri sesuatu untuk mengisi perutnya yang lapar. Dan, sekali lagi dia ditangkap.

Lalu, apa artinya bertobat, apa artinya berubah? Apakah maknanya jika kita merayakan masa Pra-Paskah setiap tahun, namun tidak ada perubahan yang tampaknya terjadi? Kita kehilangan maknanya jika kita hanya berpikir bahwa masa Pra-Paskah hanya tentang perubahan yang instan.

Kisah kita adalah kisah tentang pohon ara yang berjuang untuk berbuah tetapi menemukan dirinya dalam kenyataan pahit keputusaasaan. Ini adalah kisah tentang seorang ‘Tukang Kebun’ yang menolak untuk menyerah pada pohon aranya yang tidak berbuah, cerita tentang Allah yang tidak pernah kehilangan harapan dalam kemanusiaan kita yang lemah. Musim Pra-Paskah berarti bahwa meskipun hidup kita tidak pernah sempurna dan bahkan penuh cacat, kita menolak untuk menyerah dan menjadi putus asa. Ini berarti kita mengambil keberanian untuk melawan keputusasaan bahkan ketika buah perubahan tampaknya tidak terlihat dalam kehidupan kita. Masa Pra-Paskah berarti kita selalu berharap bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan harapan dalam diri kita.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP