Shalom

Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi) [8 April 2018] Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!. ” (Yoh. 20:19)

Jesus n moon
photo by Harry Setianto, SJ

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarnya. Ilmu anatomi menunjukan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.

 

Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengkerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!

Shalom!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Resurrection and Love

Easter Sunday [April 1, 2018] John 20:1-10

… he saw and believed (Jn. 20:8)

light and child
photo by Harry Setianto, SJ

Today is the Easter morn! Today is the day the Lord has risen! Today is the day death has been defeated! Today is the day of resurrection! Yet, how do we understand Jesus’ resurrection and our resurrection? What does it mean when we say that death has been conquered?

 

We all know that we are going to die. We just do not know when, where and how, but we are sure that death will come. We remain anxious and afraid of the reality of suffering and death. It seems that death has not been defeated? It is true that sometimes death can be a liberation. A pious lady in her fifties once told a priest that she prayed that the Lord would take her when she was still beautiful. Then, the priest remarked, “How come you are still here!”

The usual occasion preachers speak of resurrection is the funeral mass! The resurrection has become a kind of pain reliever for the bereaved families and relatives. We are assured that the death of our beloved ones is not the final destiny. There is the blissful afterlife waiting, and we shall join our Lord in the resurrection. Though our preachers speak the consoling truth, the way we preach it tends to reduce the eternal life as a permanent retirement place, and the resurrection as extremely remote reality. Another priest once admitted that he was not that handsome, and thus he planned that in the day of resurrection, he would quickly snatch the body of handsome Canadian singer, Justin Bieber! The resurrection is only good for the dead, and it does not mean much for us the living. But, resurrection is really for all of us, here and now.

Going back to the first resurrection in the garden, no Gospel describes how the resurrection takes place. It simply cannot. Yet, there is an empty tomb, and Jesus’ body is missing. Peter is greatly puzzled. Mary Magdalene is weeping bitterly. Only one disciple understands. He is the disciple who loves dearly Jesus and whom Jesus loves. Despite death and emptiness, love endures. Through the eyes of love, the disciple is able to see the resurrection.

Love and its relation to the resurrection go back to the story of human creation in the book of Genesis. We are created in the image of God (Gen 1:26). If God is love (1 Jn 4:8), then we are made in the image of love. More than other creatures, we are designed with the ability to love and to receive love. Not only having the ability to love one another, our nature is even gifted with the ability to be loved by God and to love God. No other creation on earth is able to participate in this most beautiful love affair with the Lord. Unfortunately, sin destroys this love relationship with God and seriously damages our ability to love and be loved. The history of humankind turns to be the history of sins, suffering, and death. Husband and wife hurt each other, brothers kill each other, men exploit women, women sell their children, and men destroy nature. We need redemption.

Out of His immense love, God becomes man so that He may begin His work of redemption. This redemption culminates in Jesus’ resurrection. One of the greatest graces of resurrection is our ability to love God and to receive God’s love is restored. Thus, John the Beloved Disciple is able to see through the empty tomb and believe in the risen Lord. Just as the grace of resurrection heals John, so the same grace heal us and restore our ability to love God. In the midst of emptiness of life, we are empowered to see the risen Lord. Despite the absurdity of life, we are enabled to transform our sorrows and pains into the opportunity to love more and serve better. Despite pain and death, love endures.

Blessed Easter! Happy Resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Arti Kebangkitan bagi Kita yang Hidup

Minggu Paskah [1 April 2018] Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

jump of joy
Photo by Harry Setianto, SJ

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?

 

Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ups and Downs of Life

Palms Sunday of the Lord’s Passion [March 25, 2018] Mark 11:1-10; Mk 14:1—15:47

“Though he was in the form of God…Rather, he emptied himself, taking the form of a slave…” (Phil. 2:6-7)

friends
photo by Harry Setianto, SJ

We are celebrating the Palm Sunday of the Lord’s Passion. In today’s celebration, we have the only liturgical celebration in which two different Gospel readings are read. The first Gospel, usually read outside the Church, is about the triumphal entry of Jesus into Jerusalem, and the second Gospel narrates the Passion of Jesus Christ. Reflecting on the two readings, we listen to two different and even opposing themes: triumph and defeat. These are two fundamental themes, not only in the life of Jesus, but in our lives as well.

 

The triumphal entry into Jerusalem represents our times of success and great joy. It is when we achieve something precious in our lives. These are moments like when we accomplish our studies, when we gain new and promising work, or when we welcome the birth of a family’s newest member. These are the “Up” events of life. While the Passion story speaks of times of defeat and great sorrow. It is when we experience great losses in our lives. There are moments like when we fail decisive examinations or projects, whenwe lose our jobs, or we experience death in the family. These are the “Down” events of life. Passing through these Upsand Downs of life, Jesus teaches us valuable lessons.  In times of triumph, like Jesus riding on the colt, we are challenged to remain humble and grateful. In moments of defeat, like Jesus who embraces His sufferings, we are invited to patiently bear these moments and offer them to the Lord.

However, there is something more than this. If we read the second reading from the letter of Paul to the Philippians (2:6-11), we listen to one of the most beautiful hymns in the New Testament that affirms both the divinity and humanity of Christ. If we believe that Jesus is God become man , then God does not only give us success or allow us to undergo suffering but in Jesus, God experiences what it means to be successful as well as to fail. This point is a radical departure from an image of God that is distant yet controlling, or a kind of a teddy bear that we can hug during crying moments, or a trophy we can parade in our victorious time. Our God is one with us in all our experience of joy and sadness, of triumph and defeat.

In the Book of Genesis chapter 3, we read the first story of human failure. Adam and Eve were deceived by the serpent and disobeyed God. It is true that our first parents failed God, and they had to leave the Garden of Eden. Yet, God did not cease to care for them. God made them garments of skin to cloth them, as to cover their nakedness and give them protection. God prepared them to face the harsh life outside the Garden. However, there is something even more remarkable. After Genesis 3, we will never read again about the Garden and what happens inside, but rather the stories of Adam, Eve and their descendants. Why? Because God did not choose to stay in the Garden, and just watch things through a giant LCD monitor, but rather He followed our first parents and walked with them. He accompanied them, struggled with them, cried with them and shared their happiness. Truly, the Bible is a book about God and His people.

As we enter the Holy Week, may we find time to reflect: How is God sharing in our ups and downs? Have we become a good companion to our friends in their ups and downs? Do we accompany Jesus in his way of the cross and resurrection?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pasang Surut Kehidupan

Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan [25 Maret 2018] Markus 11: 1-10; Markus 14: 1—15: 47

walaupun dalam rupa Allah…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2: 6-7)”

cross afar
foto oleh Harry Setianto SJ

Kita merayakan Minggu Palma. Hari ini adalah satu-satunya perayaan liturgis di mana dua Injil yang berbeda dibacakan. Injil pertama, biasanya dibacakan di luar Gereja, adalah tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, dan Injil kedua menceritakan tentang sengsara dan wafatnya Yesus. Merenungkan pada dua bacaan ini, kita mendengarkan dua tema yang berbeda dan bahkan bertentangan, yakni tentang kemenangan dan kekalahan. Ini adalah dua tema dasar, tidak hanya dalam kehidupan Yesus, tetapi dalam kehidupan kita juga.

 

Yesus yang disambut saat Ia masuk ke Yerusalem melambangkan saat-saat kesuksesan dan sukacita kita. Itu adalah ketika kita meraih sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Ini adalah saat-saat ketika kita menyelesaikan sekolah kita, ketika kita mendapatkan pekerjaan baru, atau ketika kita menyambut kelahiran anggota keluarga terbaru. Ini adalah peristiwa “pasang” kehidupan. Sementara, kisah sengsara Yesus berbicara tentang saat-saat kekalahan dan kesedihan kita. Saat inilah kita mengalami kehilangan besar dalam hidup kita. Ada saat-saat seperti ketika kita gagal dalam ujian atau proyek yang menentukan, kita kehilangan pekerjaan kita, dan kita mengalami kematian dalam keluarga. Ini adalah peristiwa “surut” kehidupan. Melewati masa-masa pasang dan surut kehidupan, Yesus mengajarkan kita pelajaran berharga. Pada masa kemenangan, kita ditantang untuk tetap rendah hati dan bersyukur, seperti Yesus yang naik keledai. Di saat-saat kekalahan, kita diajak untuk dengan sabar menanggung saat-saat ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan, seperti Yesus yang merangkul salib-Nya.

Namun, ada sesuatu yang lebih dari ini. Jika kita membaca bacaan kedua dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2: 6-11), kita mendengarkan salah satu madah yang paling indah dalam Perjanjian Baru. Madah ini menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah tidak hanya memberi kita kesuksesan atau mengizinkan kita mengalami penderitaan, tetapi di dalam Yesus, Allah mengalami sendiri apa artinya menjadi sukses dan juga gagal. Ini menjadi titik perubahan radikal dari citra Allah sebagai Tuhan yang jauh, tapi tidak tersentuh. Dia juga bukan seperti boneka teddy bear yang dapat kita peluk saat kita sedih. Dia juga bukan piala yang kita pamerkan di saat kemenangan kita. Allah kita adalah satu dengan kita dalam semua pengalaman kita, baik sukacita maupun kesedihan, baik kemenangan maupun kekalahan.

Dalam Kitab Kejadian bab 3, kita membaca kisah pertama tentang kegagalan manusia. Adam dan Hawa ditipu oleh ular dan merekapun tidak taat kepada Tuhan. Memang benar bahwa mereka gagal, dan mereka harus meninggalkan Taman Eden. Namun, Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka. Tuhan membuatkan mereka pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka dan memberi mereka perlindungan. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang keras di luar Taman. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih luar biasa. Setelah Kejadian bab 3, kita tidak akan pernah membaca lagi tentang Taman Eden dan apa yang terjadi di dalam, melainkan kisah-kisah Adam, Hawa dan keturunan mereka. Mengapa? Karena Tuhan tidak memilih untuk tinggal di Taman Eden, dan memisahkan diri dari para manusia yang lemah, tetapi Dia mengikuti Adam dan Hawa dan berjalan bersama mereka. Dia menemani mereka, bergulat bersama, menangis bersama dan berbagi kebahagiaan mereka. Sungguh, Kitab Suci adalah buku tentang Tuhan dan umat-Nya.

Sata kita memasuki Pekan Suci, semoga kita menemukan waktu untuk merefleksikan: Bagaimana Tuhan menjadi bagian dalam pasang surut kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi teman berbagi bagi saudara-saudari dalam pasang surut kehidupan mereka? Apakah kita sungguh menemani Yesus di jalan salib dan kebangkitannya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Die and Live

Fifth Sunday of Lent [March 18, 2018] John 12:20-33

“Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. (Jn. 12:24)”

seedling
by Harry Setianto SJ

The hour of Jesus’ suffering and death has come. Jesus knows well that Jewish leaders want him dead, and there is no other punishment worse than crucifixion. Yet, Jesus does not see His suffering and death as defeat and shame, but in fact, it is the opposite. His crucifixion shall be the hour that He will be glorified and draw all men and women to Himself. It is the moment of victory because Jesus sees Himself as a grain of wheat that falls to the ground and dies, and then bears many fruits. It is not a kind of positive thinking technique to vilify the suffering or a pep talk to ignore the pain, but rather Jesus chooses to embrace it fully and make it meaningful and fruitful.

 

In the theological level, Jesus’ suffering, death, and resurrection are the summits of the work of redemption, our salvation. Jesus is the resurrection and life so that whoever knows and believes in Him may have the eternal life. Jesus’ choice of a grain of wheat, a basic material for making bread, may allude to the sacrament of the Eucharist through which Jesus gives the fullness of Himself to us in the form of a bread. Thus, through our participation in the Eucharist, we share this fruit of salvation.

However, through His sacrifice and death, Jesus also offers us a radical way to live this life. Truly, there is nothing wrong in pursuing wealth, success and power because these are also gifts from God and necessary for our survival and growth. Yet, when we are too captivated by these alluring things, and make other things and people simply tools to gain these, we choose to live the way of the world. Since the dawn of humanity, the world has offered us an inward-looking and self-seeking way of life. It is “Me First,” my success, my happiness at the expense of others and nature. Some people exploit nature and steal other people’s hard-earned money to enrich themselves. Some objectify and abuse even their family members, people under their care, just to have an instant pleasure. Some others manipulate their co-workers or friends to have more power for themselves. These are precisely what the world offers. These are good as far as they fulfill our transitory needs as a human being, but when we make them as the be-all and end-all, we begin losing our lives. Science calls this effect the hedonic treadmill: We work hard, advance, so we can afford more and nicer things, and yet this doesn’t make us any happier. We fail to find what truly makes us human and alive, and despite breathing, we already dying.  As Jesus says, “Whoever loves his life, loses it (Jn 12:25).”

Paradoxically, it is in dying to ourselves and in giving ourselves, our lives to others that we may find life and bear fruits. Sometimes, we need to offer our lives literally.  St. Maximillian Kolbe offered his life in exchange for a young man who had children in the death camp Auschwitz. Later Pope John Paul II canonized him and declared him as a martyr of charity. Not all of us are called to make the ultimate sacrifice like St. Maximillian, and we can die to ourselves in our little things, and give ourselves for others in simple ways. The questions then for us: how are we going to die to ourselves? How shall we give ourselves to others? What makes our lives fruitful for ourselves and others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto SJ

Mati dan Hidup

Minggu kelima Prapaskah [18 Maret 2018] Yohanes 12:20-33

“Amin, amin, saya katakan kepada Anda, kecuali satu butir gandum jatuh ke tanah dan mati, itu tetap hanya sebutir gandum; Tapi jika mati, itu menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24) “

small candle
oleh Harry Setianto SJ

Saat penderitaan dan kematian Yesus telah tiba. Yesus mengerti bahwa para pemimpin Yahudi menginginkan dia mati, dan tidak ada hukuman lain yang lebih keji daripada penyaliban. Namun, Yesus tidak melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai kekalahan dan aib, namun justru sebaliknya. Penyaliban-Nya akan menjadi saat dimana Dia akan dimuliakan. Inilah saat kemenangan karena Yesus melihat diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak buah. Ini bukanlah semacam teknik berpikir positif untuk melupakan penderitaan atau mengabaikan rasa sakit, namun Yesus memilih untuk merangkul penderitaan-Nya sepenuhnya dan membuatnya bermakna dan berbuah.

 

Di tingkat teologis, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari karya penebusan, keselamatan kita. Yesus adalah kebangkitan dan hidup dan siapapun yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal. Pilihan biji gandum oleh Yesus, yang adalah bahan dasar pembuatan roti, mungkin berbicara tentang sakramen Ekaristi dimana Yesus memberikan kepenuhan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti. Jadi, melalui partisipasi kita dalam Ekaristi, kita menikmati buah-buah keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus.

Namun, melalui pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus juga memberi kita cara radikal untuk menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak ada yang salah dalam mengejar kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan karena ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Namun, ketika kita terlalu terpukau, dan sampai membuat sesama hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan hal-hal ini, kita memilih jalan dunia. Sejak awal, dunia telah menawari kita jalan hidup yang berwawasan sempit dan egois. Ini adalah mentalitas “Me First,” kesuksesanku, kebahagiaanku, bahkan dengan mengorbankan sesama dan alam. Beberapa orang mengeksploitasi alam dan mencuri uang orang lain untuk memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa orang melecehkan bahkan anggota keluarga mereka hanya untuk mendapatkan kesenangan instan. Beberapa orang lainnya memanipulasi rekan kerja atau teman mereka untuk memiliki lebih banyak kekuasaan. Inilah yang ditawarkan dunia.

Hal-hal ini sebenarnya baik sejauh mereka memenuhi kebutuhan sementara kita sebagai manusia, tapi ketika kita menjadikannya sebagai segalanya, kita mulai kehilangan hidup kita. Beberapa ilmuwan menyebut efek ini sebagai “treadmill hedonis”: Kita terus bekerja keras, maju, dan mampu menghasilkan banyak hal yang lebih baik, namun hal ini tidak membuat kita lebih bahagia. Kita gagal menemukan apa yang kita benar-benar membuat kita manusia dan hidup, dan meski bernapas, kita sudah kehilangan hidup. Tidak salah jika Yesus berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Yoh 12:25).”

Paradoksnya adalah saat kita mati terhadap diri kita sendiri dan memberikan hidup kita kepada sesama, kita menemukan hidup dan berbuah. Terkadang, kita perlu mengorbankan hidup kita secara radikal. St. Maximilianus Kolbe menawarkan hidupnya sebagai pengganti bagi seorang pemuda yang akan dieksekusi di kamp Auschwitz. Saat dia dikanonisasi, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai martir cinta kasih. Tidak semua dari kita dipanggil untuk membuat pengorbanan radikal seperti St. Maximilianus, tetapi kita dapat mati terhadap diri kita sendiri dalam hal-hal kecil, dan memberikan diri kita kepada sesama dengan cara-cara yang sederhana. Pertanyaan sekarang: bagaimana kita akan mati terhadap diri kita sendiri? Bagaimana kita memberi diri kita kepada sesama? Apa yang membuat hidup kita sungguh berbuah bagi diri kita dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foto oleh Harry Setianto SJ

Beholding the Crucified Christ

Fourth Sunday of Lent [March 11, 2018] John 3:14-21

“Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, (Jn. 3:14)”

beholding cross
photo by Harry Setianto, SJ

As early as chapter 3 of the Gospel of John, Jesus is aware that he is going to suffer and die on the cross. The crucifixion is the worst kind of punishment in the ancient time. It is reserved for the rebels and foulest criminals. For the Jews, death on the tree is considered accursed by God Himself (Deu 21:22-23). By dying on the cross, Jesus may be seen by Jewish contemporaries as an evil criminal, a great dishonor to the family and the nation, and an accursed by God.

 

However, Jesus sees His death on the cross, not in these horrible perspectives, but rather He likens himself to the bronze serpent lifted up by Moses in the desert. In the book of Numbers (21:4-9), the Israelites complain against the Lord and Moses in the desert. They particularly do not like the manna despite being freely and miraculously given by God. So, God sends serpents to punish the Israelites. When the Israelites repent, Moses lifts a bronze serpent on the pole, so those who behold it, will be healed from the snake’ bite and live. We notice that the serpent that becomes the instrument of punishment and death turns to be the instrument of healing and life. Like the serpent, the cross is originally a means of torture and death, but God transforms it into the means of forgiveness and salvation. Therefore, like the Israelites who see the bronze serpent, those who behold the crucified Jesus and believe in Him will have the eternal life.

The faith in the Crucified Man is fundamental in the life of every Christian. Yet, we, Catholics, seem to take this faith and Gospel verses pretty passionately. We do not only have faith in the Jesus Crucified; we literally behold Him on the cross.  In every church, we see the cross both inside and outside the building. In Catholic schools, hospitals, and homes, the crucifix (cross with the body) is hanging on practically every wall. The crucifix is also inseparable from our religious and liturgical activities. The General Instruction of the Roman Missal no. 270 even states, “There is to be a crucifix, clearly visible to the congregation, either on the altar or near it.” Our rosaries always begin with holding the crucifix and ends by kissing it. During the Way of the Cross, we literally genuflect before the cross, and proclaim, “We adore You, O Christ, and we praise you. Because, by Your holy cross, You have redeemed the world.” Even, during the exorcism rite, a priest finds the crucifix, especially St. Benedict’s cross, as a powerful means against the evil spirits. Finally, we make the sign of the cross every time we pray because we acknowledge that our salvation comes the Jesus Crucified.

Like the Israelites in the desert behold the bronze serpent, we too behold Jesus on the cross. As the Israelites are healed and live, we are also saved and have eternal life in the Son of Man that is lifted up on the cross. This Lenten season, we are invited once again to reflect the meaning of the cross in our lives. Is the cross a mere cute accessory or ornament? Is making the sign of the cross a meaningless repeated practice? Are we ashamed of the cross of Christ? What does it mean for us to be the men and women who behold the cross?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lihatlah Kristus yang Tersalib

Minggu Keempat Prapaskah [11 Maret 2018] Yohanes 3: 14-21

“sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14)”

before the cross
foto oleh Harry Setianto SJ

Sudah dari bab 3 Injil Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Penyaliban adalah hukuman terburuk pada zaman dahulu. Hukuman ini diperuntukkan bagi para pemberontak dan kriminal yang paling jahat. Bagi orang Yahudi, kematian di atas pohon dianggap terkutuk oleh Allah (Ul 21: 22-23). Dengan mati di kayu salib, Yesus dilihat oleh orang-orang sezaman-Nya sebagai penjahat, aib besar terhadap keluarga dan bangsa, dan telah dikutuk oleh Allah.

 

Namun, Yesus melihat kematian-Nya di kayu salib, bukan dalam perspektif negatif ini, melainkan Ia menyamai diri-Nya seperti ular tembaga yang diangkat Musa di padang gurun. Dalam kitab Bilangan (21: 4-9), orang Israel mengeluh kepada Tuhan dan Musa di padang gurun. Mereka tidak suka Manna meski telah diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan penuh Mujizat. Tuhan pun mengirim ular-ular tedung untuk menghukum orang Israel. Ketika orang Israel bertobat, Musa mengangkat ular tembaga di atas tiang, sehingga orang-orang yang melihatnya, akan disembuhkan dari gigitan ular dan hidup. Kita melihat bahwa ular yang menjadi alat penghukuman dan kematian ternyata menjadi alat penyembuhan dan kehidupan. Seperti ular, salib pada awalnya merupakan alat penyiksaan dan kematian, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana pengampunan dan penyelamatan. Oleh karena itu, seperti orang Israel yang melihat ular tembaga, mereka yang melihat Yesus yang tersalib dan percaya kepada Dia akan memiliki hidup yang kekal.

Iman kepada Yesus tersalib sangat penting dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Namun, kita, umat Katolik, tampaknya menghidupi iman ini dan ayat-ayat Injil dengan penuh semangat. Kita tidak hanya memiliki iman kepada Yesus yang tersalib; Kita benar-benar memandang Dia di kayu salib. Di setiap gereja, kita melihat salib baik di dalam maupun di luar gedung. Di sekolah-sekolah Katolik, rumah sakit, dan rumah, salib tergantung di hampir setiap dinding. Salib juga tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan dan liturgis kita. Pedoman Umum Misale Romawi no. 117 bahkan menyatakan, “Hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya.” Rosario kita selalu dimulai dengan salib dan diakhiri dengan menciumnya. Selama Jalan Salib, kita berlutut di depan salib, dan menyatakan, “Kita memuji Engkau, ya Kristus. Karena, oleh salib-Mu kudus, Engkau telah menebus dunia.” Bahkan, selama ritual exorsisme, seorang imam menggunakan salib, khususnya salib St. Benediktus, sebagai sarana yang sangat kuat melawan roh-roh jahat. Akhirnya, kita membuat tanda salib setiap kali kita berdoa karena kita mengetahui bahwa keselamatan kita berasal dari  Yesus yang disalibkan.

Seperti orang Israel di padang gurun melihat ular tembaga, kita juga melihat Yesus di kayu salib. Saat orang Israel disembuhkan dan hidup, kita juga diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal karena kita beriman kepada Anak Manusia yang diangkat ke atas kayu salib. Masa Prapaskah ini, kita diajak sekali lagi untuk merefleksikan makna salib dalam kehidupan kita. Apakah salib hanyalah sekedar aksesori atau ornamen cantik untuk rumah kita? Apakah membuat tanda salib merupakan sebuah rutinitas yang tidak berarti? Apakah kita malu dengan salib Kristus? Apakah artinya bagi kita hidup sebagai orang yang menatap salib Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Business as Usual

Third Sunday of Lent [March 4, 2018] John 2:13-25

“Take these out of here, and stop making my Father’s house a marketplace.” (Jn. 2:16}

inside the chuch
photo by Harry Setianto SJ

The presence of the animal vendors and money-changers in the Temple of Jerusalem comes out of practical necessity. When Jews from all over Palestine come to Jerusalem, especially during the important days like Passover, they will fulfill their religious obligation to offer their sacrifices in the Temple. Since it is impractical to bring a sacrificial animal like oxen, lambs, or turtledoves from their hometowns, the Jews prefer an easier solution by buying them in Jerusalem. It does not only save those Jewish pilgrims the hassle, but it gives the assurance also that the animals will be unblemished as the Law of Moses has prescribed. Therefore, many vendors have the authorization from the Temple elders that their animals are unblemished and ready for sacrifice. The Jews are also required to support the upkeep the Temple and the priests through so-called “Temple tax.” Yet, they are not allowed to pay the Temple tax with the Roman money because it bears the image of Caesar as a god, a blasphemy. Thus, they need to change their money with more acceptable currency. Here the role of money-changers comes in. It is a kind of win-win solution for the pilgrims, the vendors, and the Temple authorities. We could imagine that with so many people visiting the Temple, the business must be buzzing and thriving.

 

When Jesus comes and drives them all out of the Temple, surely it angers not only the vendors and the money-changers but also the Jewish authority and even ordinary Jewish pilgrims. The disappearance of this vendors and money-changers may mean that some people lose their earnings, some people find their profit disappear, and most people are irked by the inconveniences it causes. Jesus tells the reason behind his action, “the Jews making His Father’s house a marketplace.”  The very core of the Temple of Jerusalem is the encounter between God and his chosen people, between God the Father and His children, but with so many activities, trading, and noise, this essence of the Temple is lost. The Temple means usual business. The priests certify the sacrificial animals for the vendors, the vendors sell them to the pilgrims, and the pilgrims give the animals to the priests for the slaughter. Everyone goes home happy! Jesus’ action is to break this vicious cycle of “normalcy” that makes people’ worship shallow. Jesus criticizes the structure that exploits the Temple for mere profit and superficial fulfillment of religious obligation, and for making God’s house into the marketplace.

In this season of Lent, we ask ourselves, if Jesus comes to our church, diocese, parish, congregation, religious organization, and even our family, what will Jesus do? Will He drive us out like He drives out the vendors from the Temple? Or, will He make His home among you? Financial resources are important in helping our Church grow but do we not make the Church an income-generating institution? While the leadership structure is essential in the Church and our smaller groups, do we serve others, or exploit people? Do we find peace and joy in our communities, or are they full of intrigues, gossips, unhealthy competitions? Do encounter God in our Church, or simply find ourselves? We thank the Lord if we discover God, our Father, in our Church and community, but if we do not, we better call on Jesus to drive us away from His Father’s house.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP