Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [29 Juli 2018] Yohanes 6: 1-15
Yesus berkata kepada Filipus, ” Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)
Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.
Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.
Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.
Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

I am currently having my clinical pastoral education at one of the hospitals in Metro Manila. It has been one month since I started my pastoral visits. Since then, I have encountered people in different stages of illness. Many of them are fast recovering, some are taking more time to get cured, but some others have to face serious conditions. It is my ministry as a chaplain to accompany them in their journey of healing. I feel immense joy when I can witness their healing process, from one who is weak on the bed, to one who is standing and ready to leave the hospital.
Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.
Our Gospel today speaks of the mission of the Twelve. They are sent to perform the threefold task: to exorcise the evil spirits, to heal the sick and to preach repentance. This threefold missionary duty reflects Jesus’ mission also in the Gospel according to Mark. To facilitate their preaching ministry, they need to travel light. No extra baggage, no extra burden. They need to travel two by two as a sign of communal and ecclesial dimension of the mission. They shall depend also their sustenance on the generosity of the people. And, when they face rejection, they shall shake the dust off their feet as a symbolic judgment against those who reject them. In ancient time, the Jews shake the dust off their feet when they reenter the Israel soil from the Gentile territories, as a sign of disowning and disapproval of the Gentiles nations.
Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.
When Jesus teaches in the synagogue in Nazareth, the listeners are amazed by his wisdom. Jesus speaks like a mighty prophet. However, the people soon make a background check on Jesus, and they realize Jesus’ identity and his family background. Nazareth is a small rural town in Galilee, and everyone knows everyone in this kind of setting. The people of Nazareth know Jesus as a son of a carpenter, and himself a carpenter. They are familiar also with Jesus’ family and relatives.
Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.
Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.
Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.
Today we are celebrating the birth of John the Baptist. Two figures emerge as the protagonists of our today’s Gospel, Elizabeth, and Zachariah. Luke describes the couple as “righteous in the eyes of God, observing all the commandments and ordinances of the Lord blamelessly. (Luk 1:6)”. But, they have no child. The possibility to have a child is close to zero as Elizabeth is perceived to be barren and Zachariah is already old. In ancient Jewish society, children are considered to be a blessing of the Lord and a source of honor, and barrenness is a curse and shame.