Be a Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter. April 17, 2016 [John 10:27-30]

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me (Jn 10:27).”

good shepherdOne of the loveliest images of Jesus is the Good Shepherd. It is even more beautiful when we try to bring ourselves to Palestine in the time of Jesus.  Life as a shepherd is tough and tiresome. Grass was scarce and the sheep constantly wondered. Since there was not protective fence, the shepherd was bound to watch his sheep for all time, otherwise the sheep would go astray. The terrain in Judea was rough and rocky, and these forced the shepherd to exert extra energy. Not only constant, shepherd’s duty was also dangerous. Wild animals, especially wolfs, were ready to attack and devour the meek sheep. Not only wild predators, robbers and thieves were eager to pirate the sheep.

The sheep in Judea were raised primarily for wool. Thus, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knew well each individual sheep, its characters, and even its unique physical features. He would call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears’. Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd. H.V. Morton, a bible scholar, once narrated his encounter with two shepherds who shared the same cave to shelter their flocks at night. How would they sort them out? In the morning, one shepherd stood some distance and simply voiced a peculiar sound. His sheep recognized the sound immediately, and they ran toward him, while the sheep belonged to the other shepherd remained in the cave!

 Good shepherd is a symbol of providential care, sacrifice, and true love. No wonder if ancient Israelites saw God as their shepherd. Psalm 23 is one of the loveliest poems in the bible, describing God as the Good Shepherd. Remember that some great leaders of Israel were actually shepherds. Moses was tending to his father-in-law flocks when he was called by God in the burning bush (Exo 3). David also was taking care of his father’s sheep when Samuel came and anointed him king (1 Sam 16).

Jesus understood this and He took this identity upon himself. Not only any shepherd, He is the Good Shepherd. He knows us individually as unique and precious. He takes care of us constantly, and search us if we go astray. He protects us from any harm and danger. Even He is willing to give up His life just to save us.

Now, we are not merely animals just like any other sheep. We are human being, with intellect and freedom. To be the sheep of Christ takes another profound form. It means that we are also called to become a good shepherd. A priest is a good shepherd to his faithful. A husband or wife is a good shepherd to each other. Parents are good shepherds to their children. Fr. Gerard Timoner, OP, our provincial, once reminded us that ‘brother-shepherding-brother’ should be our spirit of our formation.

Being a good shepherd is never easy, just like Christ, we shall give our all to others. But, only in giving ourselves that our lives finds its meaning. John Maxwell, leadership guru, once said that the success of man is not how many people serve him, but how many people whom he serves. Meanwhile Zig Ziglar, great American inspirational speaker, reminds us that we can get everything in life we want if we help enough people get what they want. Fundamentally, we were created in the image of God, and if our God is the Good Shepherd, we are the image of the Good Shepherd. It is our purpose and mission in life to be a good shepherd and grow our sheep.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Gembala yang Baik

Minggu Paskah Keempat. 17 April 2016 [Yohanes 10: 27-30]

“Domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27).”

pope francis crossSalah satu citra terindah Yesus adalah Gembala yang Baik. Citra ini bahkan lebih indah ketika kita mencoba untuk melihat situasi Palestina pada zaman Yesus. Hidup sebagai seorang gembala adalah sulit dan melelahkan. Rumput terbatas dan domba akan terus berkelana. Karena tidak ada pagar pembantas, gembala akan memantau domba-dombanya sepanjang waktu, jika tidak, domba akan hilang. Medan di Yudea kasar dan berbatu, dan ini memaksa gembala mengerahkan energi ekstra. Selain itu, tugas gembala juga berbahaya. Hewan liar, terutama serigala, siap untuk menyerang dan melahap domba. Tidak hanya predator liar, perampok dan pencuri juga ingin membajak domba-dombanya.

Domba di Yudea diternakan terutama untuk wol. Jadi, gembala bisa hidup bersama dengan domba-dombanya untuk bertahun-tahun. Tak heran jika ia tahu baik setiap domba, karakter, dan bahkan fitur fisik mereka yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti si ‘kaki kecil’ atau si ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba menjadi begitu akrab dengan suara gembala. H.V. Morton, seorang sarjana Alkitab,  menceritakan pertemuannya dengan dua gembala yang berbagi gua yang sama untuk melindungi ternak mereka di malam hari. Bagaimana mereka akan memisahkan domba mereka? Di pagi hari, satu gembala berdiri beberapa meter dari gua dan dengan hanya menyuarakan suaranya yang khas, domba-dombanya segera berlari ke arahnya. Sementara domba milik gembala lainnya tetap di gua!

Gembala yang baik adalah simbol dari dedikasi, pengorbanan, dan kasih sejati. Tak heran jika bangsa Israel melihat Tuhan sebagai gembala mereka. Mazmur 23 adalah salah satu puisi terindah di Alkitab, menggambarkan Allah sebagai Gembala yang Baik. Ingat bahwa beberapa pemimpin besar Israel sejatinya adalah gembala. Musa sedang mengembalakan ternak ayah mertuanya saat dia dipanggil oleh Allah dalam semak yang terbakar (Kel 3). David juga sedang mengurus domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia menjadi raja (1 Sam 16).

Yesus memahami hal ini dan Dia mengambil identitas ini pada dirinya sendiri. Tidak hanya gembala biasa, Dia adalah Gembala yang Baik. Dia mengenal kita sebagai pribadi unik dan berharga. Dia merawat kita, dan mencari kita jika kita tersesat. Ia melindungi kita dari berbagai bahaya. Bahkan Dia bersedia menyerahkan nyawa-Nya hanya untuk menyelamatkan kita.

Sekarang, kita bukanlah domba biasa. Kita adalah manusia, dengan kecerdasan dan kehendak bebas. Maka, untuk menjadi domba Kristus, kita perlu menjadi sesuatu yang lebih. Ini berarti bahwa kita juga dipanggil untuk menjadi gembala yang baik. Seorang imam adalah gembala yang baik untuk umatnya. Seorang suami atau istri adalah gembala yang baik bagi pasangannya. Orang tua adalah gembala yang baik bagi anak-anak mereka. Fr. Gerard Timoner, OP, provinsi kita, pernah mengingatkan kita bahwa ‘saudara-penggembalaan-saudara’ harus semangat kita formasi kita.

Menjadi seorang gembala yang baik tidak pernah mudah. Seperti Kristus, kita akan memberikan diri kita secara total kepada orang lain. Tapi, hanya dalam  pemberian total, hidup kita menemukan maknanya. John Maxwell, guru kepemimpinan, pernah berkata bahwa keberhasilan manusia tidak berdasarkan berapa banyak orang melayaninya, tapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Sementara, Zig Ziglar, pembicara inspirasional besar Amerika, mengingatkan kita bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu kita inginkan di dalam hidup jika kita cukup membantu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pada dasarnya, kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Gembala Baik, kita adalah citra Gembala yang Baik. Maka, tujuan dan misi dalam hidup kita addalah menjadi gembala yang baik dan merawat domba-domba yang dipercayakan kepada kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do You Love Me?

Third Sunday of Easter. John 21:1-19 [April 8, 2016]

jesus n peterReading today’s Gospel in original Greek, we get to appreciate more the dialogue between Jesus and Peter. In English translation, both Jesus and Peter expressed themselves in the same word ‘love’, but in Greek, the word Jesus employed is ‘agapao’ while Peter’s is ‘phileo’. ‘Agapao’ or ‘agape’ refers to unconditional and radical love that every Christian should exemplify. This love is based on freewill and discipline, not just affections. This love empowers to love, to forgive and to have mercy even to our enemies. While ‘phileo’ or ‘philia’ is the reciprocal love of friendship. It is coming from both natural liking as well as firm decision. We make friends with whom we feel close, yet we exert also efforts to get close and understand them. As an old adage say, ‘friend in indeed is friends indeed.

Jesus asked, “Peter, do you unconditionally and radically love me?” yet Peter answered, “Lord, you know that I love you as my friend.” Jesus demanded radical love of ‘agape’ for three times, and for three times, Peter could only give Jesus the love of friendship or ‘philia’. This seems another Peter’s outright denial of Jesus. But, Pope Emeritus Benedict XVI humbly defended his predecessor that at that very moment, ‘phileo’ was his very best.

The dialogue of love between Jesus and Peter is also our dialogue with the Lord. Jesus demands from us that radical and selfless love for Him. But, it is difficult. It is hard to give time in service in the Church, when we are also struggling with our daily life and financial status. A friend told me how he has desire to serve, yet he is the ‘breadwinner’ of the family and has to work 12 hours a day. It is also difficult to love God, when our lives are in mess. How can we love God, when our marriage is falling, when our children entered rehabilitation due to drug-addiction or in jail for their juvenile delinquency? How can we love when our job or business is falling apart? How can we love God if we are betrayed and hurt by persons we love so much? We stop loving and enter into our own self-confinement.

Yet, when Peter failed to meet Jesus’ hope, Jesus was not angry. He never said, ‘You are a failure. You are a mistake.’ Rather, He gave Peter a tremendous responsibility, ‘Tend and Feed my sheep.’ Jesus knows well it is difficult to love. He himself has to die the most brutal death just to prove His love for us. Yet, He does not see us as a failure despite our shortcomings and difficulties in loving. He who has given us the ability to love, knows exactly our potential to love. Indeed, Peter who was struggling to love Jesus, finally proved his love to Jesus as he tended His sheep to the last moment of his life. Peter was crucified upside down, because he refused to abandon Jesus’ sheep in Rome.

When we fail to love God, He did not abandon us, and in fact, He gives us even more mission to love because Jesus is aware that only through this hardship, we may expand our ability to love. Love without trials and tribulations is shallow and weak kind of love. St. John reminded us that God is love (1 John 4:8). Thus, when we struggle to love through thick and thin of lives, we shall remember that it is not us who love, but God himself.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Minggu Paskah ketiga. Yohanes 21:1-19 [8 April 2016]

jesus n peter 2aMembaca Injil hari ini dalam bahasa Yunani, kita bisa lebih menghargai dialog antara Yesus dan Petrus. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, baik Yesus maupun Petrus mengungkapkan diri dalam kata yang sama ‘mengasihi’, tapi dalam bahasa Yunani, kata yang Yesus gunakan adalah ‘agapao’ sementara Petrus adalah ‘phileo’. ‘Agapao’ atau ‘agape’ mengacu pada kasih tak bersyarat dan radikal. Kasih ini didasarkan pada kehendak bebas dan disiplin, bukan hanya afeksi dan emosi. ‘Agape’ memberdayakan kita untuk mengasihi, mengampuni dan berbelas kasih bahkan kepada musuh-musuh kita. Sementara ‘phileo’ atau ‘philia’ adalah kasih persahabatan yang resiprokal. Kasih ini datang dari naluri alamiah dan juga kehendak bebas. Kita bersahabat dengan siapa kita merasa dekat, namun kita juga mengerahkan upaya untuk mendekati dan memahami mereka. Sebagai pepatah tua mengatakan, Friend in need is friend indeed.’

Yesus bertanya, “Petrus, apakah kamu mengasihiku secara radikal dan total?” Namun, Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau sebagai sahabat.” Yesus menuntut kasih yang radikal atau ‘agepe’ tiga kali, dan tiga kali juga, Petrus hanya bisa memberikan Yesus kasih persahabatan atau ‘philia’. Hal ini tampaknya sebuah penyangkalan Petrus terhadap Yesus. Namun, Paus Emeritus Benediktus XVI dengan rendah hati membela Petrus bahwa pada saat itu, ‘phileo’ adalah terbaik yang dapat Petrus berikan.

Dialog kasih antara Yesus dan Petrus juga adalah dialog kita dengan Tuhan. Yesus menuntut kita kasih yang radikal dan tanpa pamrih. Tapi, mengasihi itu sungguh sulit. Seorang teman bercerita bagaimana ia memiliki keinginan untuk melayani di Gereja, namun ia adalah tulang punggung keluarga dan harus bekerja 12 jam sehari, termasuk akhir pekan. Bagimana kita bisa mengasihi Allah, ketika hidup kita berantakan? Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan, ketika pernikahan kita luluh lantah, ketika anak kita masuk rehabilitasi karena kecanduan atau penjara karena kenakalan remaja mereka? Bagaimana kita bisa menkasihi ketika pekerjaan atau bisnis kita berantakan, dan teman-teman kita yang meninggalkan kita sendirian? Bagaimana kita bisa menkasihi Tuhan jika kita dikhianati dan disakiti oleh orang yang kita kasihi begitu banyak? Saat gagal mengasihi dan dikasihi, kita berhenti mengasihi dan terkunci dalam isolasi sempit buatan kita sendiri.

Namun, ketika Petrus gagal memenuhi harapan Yesus, Yesus tidak marah. Dia tidak pernah mengatakan, “Kamu adalah sebuah kegagalan dan kesalahan.” Sebaliknya, Dia bahkan memberi Petrus tanggung jawab yang lebih besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu benar betapa sulitnya untuk mengasihi. Dia sendiri harus mati di salib hanya untuk membuktikan kasih-Nya bagi kita. Namun, Dia tidak melihat ini sebagai kegagalan. Dia yang telah memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, tahu persis potensi kita untuk mengasihi. Petrus pun yang terus bergulat untuk mengasihi Yesus, akhirnya membuktikan kasihnya kepada Yesus dengan setia mengembalakan domba-domba-Nya sampai akhir hayatnya. Petrus pun disalibkan karena ia menolak untuk meninggalkan umat Kristiani di Roma.

Ketika kita gagal untuk mengasihi Allah, Dia tidak meninggalkan kita, dan pada kenyataannya, Dia memberi kita lebih banyak misi untuk menkasihi. Mengapa? Karena Yesus tahu persis bahwa hanya melalui kesulitan ini, kita dapat memperluas kemampuan kita untuk menkasihi. Kasih tanpa cobaan dan kesengsaraan adalah kasih dangkal dan lemah. St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Jadi, ketika kita berjuang untuk menkasihi di dalam kehidupan, kita akan ingat bahwa bukan kita yang menkasihi, tapi Allah sendiri di dalam kita.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wounds of Christ

Second Sunday of Easter – Divine Mercy Sunday. April 3, 2016 [John 20:19-31]

 “Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

jesus n thomas The request of Thomas was a bit strange. To recognize the risen Lord, Thomas demanded that he would be able to touch the wounds of Christ. But, why did Thomas look for the wounds of Jesus? He could have asked to see Jesus’ face, or to touch Jesus’ nose. He had been Jesus’ disciple for some years, and surely, Thomas would not have any difficulty to recognize Jesus. Why wounds?

I guess one of the reason is that Thomas looked for the wounds because he could identify himself with that very wounds that Jesus bore.  Thomas was searching for himself as much as for Jesus. Deep inside his being, Thomas admitted that he is the wounds of Christ, indeed all of the disciples. Thomas who once said, “Let us go to die with Him (John 11:16)!” ran away when Jesus was arrested. Peter, the leader, denied Jesus three times. Judas sold Him for a price of slave. The rest were leaving Him alone to the hand of His murderers. The stories of disciples are the stories of failure, cowardice and betrayal. They have crucified Jesus. They were the wounds of Christ.

We are also the wounds of Christ. Ours are the stories of failure, selfish ambition and unfaithfulness. Some of us might have betrayed our friends just to gain certain personal benefits. Some of us might have do violence even to our beloved ones. Some of us might have told lies to protect our good reputation and cover up our mistakes. In his book, Blood and Earth, Kevin Bales wrote on how our desire for cheaper goods encourages the modern day of human slavery in the third world countries. Who knows that our cellular phone we use to read this reflection are, to certain extent, the products of people working in subhuman conditions in Africa and Asia. And who knows our choice of food has damaged the million acres of soil and hurt the mother earth.

Just like the disciples, we are weak, broken and wounded. We have crucified Jesus and we recognize the wounds of Jesus as ourselves. Yet, we must not miss the point of Easter. Yes, we are the wounds, but we are the wounds of the Risen Christ. Yes, we are weak, frail and sinful, but we do not lose hope because we do not carry our broken selves alone. Jesus is carrying us, and all our imperfection, and transforms them in His resurrection. When in January 2015, Pope Francis visited Tacloban city, Philippines that was devastated by the typhoon Yolanda, he was deeply saddened by the destruction that it brought and thousand lives that it had destroyed. In this face of utter destruction, Pope Francis pointed his hands to the crucified Lord, and said to survivors,

 “So many of you have lost everything. I don’t know what to say to you. But the Lord does know what to say to you. Some of you have lost part of your families. All I can do is keep silence and walk with you all with my silent heart. Many of you have asked the Lord – why lord? And to each of you, to your heart, Christ responds with his heart from the cross. I have no more words for you. Let us look to Christ. He is the Lord. He understands us because he underwent all the trials that we, that you, have experienced.”

Thomas focused only on the wounds, but when he began to touch Jesus and saw the Risen Lord, he exclaimed, “My Lord and My God.” Christian are not to escape from the sufferings of this world nor to be in despair, but we are to face the trials of life and hopeful even if we are weak, because Jesus who has embraced the worst of this world, finally rose and brought us together in his body.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno

Luka-Luka Yesus

Minggu Paskah Kedua – Minggu Kerahiman Ilahi. 3 April 2016 [Yohanes 20:19-31]

 “Kalau saya belum melihat bekas paku pada tangan-Nya, belum menaruh jari saya pada bekas-bekas luka paku itu dan belum menaruh tangan saya pada lambung-Nya, sekali-kali saya tidak mau percaya(Yoh 20:25).”

wounds of jesusDi dalam Injil hari ini, permintaan Thomas agak aneh. Untuk mengenali Tuhan yang bangkit, Thomas menuntut bahwa dia harus menyentuh bekas paku di tubuh Kristus. Tapi, mengapa Thomas mencari luka-luka Yesus? Dia bisa saja meminta untuk melihat wajah-Nya atau menyentuh hidung-Nya. Dia adalah murid Yesus yang hidup bersama Dia selama beberapa tahun, dan tentunya, Thomas tidak akan memiliki kesulitan untuk mengenali Yesus. Lalu, mengapa luka-luka Yesus?

Thomas mencari luka-luka Yesus karena ia bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dengan luka-luka yang diterima Yesus di salib. Thomas sebenarnya sedang mencari dirinya sendirinya dan tidak hanya Yesus. Jauh di dalam jiwanya, Thomas mengakui bahwa ia adalah luka-luka Kristus. Thomas yang pernah berkata, “Marilah kita pergi untuk mati bersama-Nya (Yoh 11:16)!”, tapi ia akhirnya melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali. Yudas menjual-Nya dengan harga seorang budak. Selebihnya meninggalkan-Nya ke tangan para pembunuh-Nya. Kisah-kisah para murid adalah kisah kegagalan, kelemahan dan pengkhianatan. Mereka telah menyalibkan Yesus. Mereka adalah luka-luka Kristus.

Kita juga adalah luka-luka Kristus. Kita adalah kisah kegagalan, keegoisan dan ketidaksetiaan. Kita mungkin telah mengkhianati teman-teman kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita mungkin telah melakukan kekerasan bahkan terhadap orang-orang yang kita cintai. Kita mungkin telah berbohong untuk melindungi reputasi baik kita dan menutupi kesalahan kita. Dalam bukunya, Blood and Earth, Kevin Bales menulis tentang bagaimana hasrat kita untuk barang-barang yang lebih murah mendorong perbudakan manusia modern di negara-negara dunia ketiga. Siapa tahu bahwa telepon selular yang kita gunakan untuk membaca refleksi ini, sebenarnya, adalah hasil kerja dari orang-orang yang bekerja di kondisi yang tidak manusiawi di Afrika dan Asia. Dan siapa tahu pola konsumsi makanan kita sebenarnya telah merusak jutaan hektar tanah dan menyakiti sang bumi.

Sama seperti para murid, kita lemah, tak berdaya dan terluka. Kita telah menyalibkan Yesus dan kita menyadari luka-luka Yesus adalah diri kita sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa pesan dari Paskah. Ya, kita adalah luka-luka, tapi kita adalah luka-luka Kristus yang bangkit. Ya, kita lemah, rapuh dan berdosa, tapi kita tidak kehilangan harapan karena kita tidak menanggung luka-luka ini sendirian. Yesus menanggung kita, dan semua ketidaksempurnaan kita, dan mengubah hal-hali ini di dalam kebangkitan-Nya. Pada Januari 2015, Paus Fransiskus mengunjungi kota Tacloban, Filipina yang luluh lantah oleh topan Yolanda, dan dia sangat sedih dengan kehancuran ia lihat dan akan ribuan hidup yang telah hilang di kejadian ini. Di hadapan kehancuran total ini, Paus Fransiskus menunjukkan tangannya kepada Tuhan di salib, dan berkata kepada para penduduk Tacloban,

 “Begitu banyak dari kalian telah kehilangan segalanya. Saya tidak tahu harus berkata apa. Tetapi Tuhan tahu harus berkata apa bagimu. Beberapa dari kalian telah kehilangan bagian dari keluarga kalian. Yang bisa saya lakukan adalah berdiam diri dan berjalan dengan kalian semua dengan hati saya yang diam. Banyak dari kalian telah bertanya kepada Tuhan – mengapa Tuhan? Dan kepada setiap dari kita, Kristus menjawab dengan hati-Nya dari salib. Saya tidak punya kata-kata lagi untuk kalian. Mari kita lihat kepada Kristus. Dia adalah Tuhan. Dia mengerti kita karena ia menjalani semua cobaan dan penderitaan yang telah kita alami.

Thomas hanya terfokus pada luka, tetapi ketika ia mulai menyentuh Yesus dan melihat Tuhan yang Bangkit, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita menjadi seorang Kristiani bukan untuk melarikan diri dari penderitaan dunia ini atau juga menjadi putus asa, tapi untuk menghadapi cobaan hidup dengan penuh harapan karena walaupun kita lemah, rapuh dan berdosa, Yesus yang telah mengalami yang terburuk dari dunia ini, tapi akhirnya bangkit dan membawa kita bersama-sama didalam tubuh-Nya yang mulia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seeing the Empty Tomb

Easter Sunday. March 27, 2016 [John 20:1-9]

 “Then the other disciple, whom Jesus loved, also went in, the one who had arrived at the tomb first, and he saw and believed (John 20:8).”

empty-tombWhat do you see inside the empty tomb? Seeing the empty tomb, Mary Magdalene was at lost, terrified and confused. Where is Jesus? Is He moved to the other tomb? Is someone stealing His Body? Peter, the leader of the apostles, did not understand the empty tomb and went home puzzled. All things were so depressing. Jesus was betrayed, denied, tortured, crucified and now he is missing!

Once he was a charismatic preacher, but then, he was dead. Once he was an inspirational leader, but then he was buried. Once he was welcome as a king and Messiah, then He was crucified by the people who welcome Him. Even the tomb where his body rested, was not spared from this cruelty. All expectations were shattered, all dreams were put off, and it was just empty and dark, just like the empty tomb.

When everything seems so absurd and hopeless, one disciple did not give up. He was the disciple who loved Jesus and whom Jesus loved. Indeed, love turns to be the game changer. Only the eyes of love can pierce through the darkest empty tomb and see a deepest meaning of it. In love, Jesus was not lost, and not even dead. He is fully alive, present and vibrant. Easter is our celebration of faith that drives away meaninglessness, hope that prevails over despair. And all of this, only possible when there is love that conquers all. As St. Paul would say, “So faith, hope, love remain, these three; but the greatest of these is love (1 Cor 13:13).”

Easter is the time for us to learn to see what the beloved sees, to see through the eyes of love. As the beloved sees the risen Lord at the empty tomb, we shall see the resurrected Christ as well in this emptiness of life. With the eyes of love, a mother will not see a baby in her womb just as an intruder or burden, but life that holds bright future. With the eyes of love, a wife will not see her aging and sickly husband as mistake, but a living brave soul who dedicated his life for her, despite so many imperfections.

In 2006, after Zimbabwe president, Robert Mugabe, won the election, he decreed operation Murambatsvina, “the cleaning out of the rubbish”. He ordered the demolition of the houses of those people who refused to vote for him during the election. More than 700,000 people watched their home bulldozed. They became refugees in their homeland and begun their life again out of the rubbles of their home. At the heart of this place of refuge, was a small plastic tent, called ‘the young Generation pre-school’. This was a home of a young woman called Evelyn, and she used it as a school in the day. There were around a dozen of her students under the age of eight, nearly all HIV-positive and with TB. Sometimes there was food to eat, but usually, there was none. Yet, Evelyn never gave up taking care of the children and even the children sang welcome songs happily every time guests would visit them. Fr. Timothy Radcliffe, OP once visited her and seeing her condition, he asked her why she did that. She just had one simple reason that she loved the children so much and indeed found meaning and joy in what she was doing.

Easter is the time when Jesus resurrects, defeats death, renews our broken humanity and disfigured world. And all begins at the empty tomb. The question now is: What do you see in the empty tomb?

 Happy Easter!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Melihat Makam yang Kosong

Minggu Paskah. 27 Maret 2016 [Yohanes 20:1-9]

Maka masuklah juga murid yang dikasihi Yesus, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya (Yoh 20:8).

 Apa yang Kamu lihat dalam kubur yang kosong? Melihat kubur yang kosong, Maria Magdalena  ketakutan, sedih dan bingung. Dimana Yesus? Apakah Dia dipindah ke makam lainnya? Apakah seseorang mencuri tubuh-Nya? Petrus, pemimpin para rasul, tidak mengerti kenapa kubur menjadi kosong dan pulang kebingungan. Semua hal-hal yang terjadi di sekitar mereka sungguh sangat menyedihkan. Yesus dikhianati, ditolak, disiksa, disalib dan sekarang dia hilang!

Dulu Ia adalah seorang pengkhotbah karismatik, tapi kemudian, Ia mati. Dulu Ia adalah seorang pemimpin inspirasional, tapi kemudian Ia dikubur. Dulu Dia disambut sebagai raja dan Mesias, namun kemudian Dia disalibkan oleh orang-orang yang menyambut Dia. Bahkan makam di mana tubuhnya terbaring, tidak luput dari kekejaman ini. Semua harapan hancur, semua mimpi pudar, dan semuanya hanya kekosongan dan kegelapan, seperti kubur yang kosong.

Ketika semuanya tampak begitu tidak masuk akal dan putus asa, satu satu murid tidak menyerah. Ia adalah murid yang mengasihi Yesus dan dikasihi Yesus. Sungguh, kasih menjadi titik nadir perubahan. Hanya mata kasih yang dapat menembus kubur yang kosong dan paling gelap dan melihat makna di dalamnya. Bagi mereka yang mengasihi, Yesus tidak hilang, dan bahkan tidak mati. Ia hidup, hadir dan penuh bersemangat. Paskah adalah sebuah perayaan akan iman kita yang mengusir kehampaan makna, akan harapan yang menang atas keputusasaan. Dan semua ini, hanya mungkin bila ada kasih yang mengalahkan segalanya. Seperti St. Paulus yang berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13). “

Paskah adalah waktu bagi kita untuk belajar untuk melihat dengan mata sang rasul yang mengasihi Yesus, untuk melihat melalui mata kasih. Sebagai sang rasul melihat Tuhan yang bangkit di kubur yang kosong, kita akan melihat Kristus yang bangkit di dalam kekosongan hidup ini. Dengan mata kasih, seorang ibu tidak akan melihat bayi di dalam rahimnya hanya sebagai penyusup atau beban berat, tapi sebuah hidup yang memegang masa depan yang cerah. Dengan mata kasih, seorang istri tidak akan melihat suaminya yang tua, sakit-sakitan dan penuh dengan ketidaksempurnaan sebagai sebuah kesalahan, tapi sebuah jiwa pemberani yang telah mendedikasikan hidupnya bagi dia.

Pada tahun 2006, setelah presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, memenangkan pemilu, dia mengadakan operasi Murambatsvina, ‘pembersihan sampah.’ Ia memerintahkan pembongkaran rumah-rumah mereka yang menolak untuk memilih dia selama pemilu. Lebih dari 700.000 orang menyaksikan rumah mereka dibuldoser. Mereka menjadi pengungsi di tanah air mereka sendiri dan harus memulai hidup mereka lagi dari puing-puing reruntuhan. Di tengah-tengah kehancuran ini, ada sebuah tenda plastik kecil, bernama ‘the Young Generation Pre-School.’ Ini adalah rumah bagi seorang wanita muda bernama Evelyn, dan dia menggunakan tenda ini sebagai sekolah. Ada sekitar belasan murid-muridnya di bawah usia delapan tahun, hampir semua mengidap HIV-positif dan TB. Kadang-kadang ada makanan untuk makan, tetapi biasanya, tidak ada. Namun, Evelyn tidak pernah menyerah mengurus anak-anak ini dan bahkan anak-anak menyanyikan lagu-lagu menyambut gembira setiap kali ada tamu yang mengunjungi mereka. Romo Timothy Radcliffe, OP pernah mengunjungi dan melihat kondisinya, ia bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia hanya punya satu alasan sederhana bahwa dia menkasihi anak-anak begitu banyak dan memang menemukan makna dan sukacita dalam apa yang dia lakukan.

Paskah adalah waktu ketika Yesus bangkit, mengalahkan kematian, memperbaharui kemanusiaan kita rusak dan dunia yang remuk. Dan semua ini berawal di kubur yang kosong. Sekarang pertanyaan adalah: Apa yang Kamu lihat di kubur yang kosong?

 Selamat Hari Paskah!

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Christian Life, Authentic Life?

Palm Sunday of the Lord’s Passion. March 20, 2016 [Luke 19:28-40/Luke 23:1-49]

 “Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

palm sundayPalm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. Why was Jesus’ entrance to the ancient city Jerusalem so significant?

His entrance was unusual and less triumphant because he preferred to ride a meek donkey rather than a combat-ready horse. Yet, his unique entrance was not unexpected by the Jewish people looking forward for the Messiah. By riding on the donkey, he was fulfilling the prophecy of Zechariah, “Rejoice heartily, O daughter Zion, shout for joy, O daughter Jerusalem! See, your king shall come to you; a just savior is he, Meek, and riding on an ass, on a colt, the foal of an ass.” (Zec 9:9). The people who gathered in Jerusalem for annual Jewish festival, could not hide their excitement to this Jesus who had been rumored as the expected Christ. Indeed, the people welcome Him as a king as they shouted, “Blessed is the King who comes in the name of the Lord! (Luk 19:38)” Through his action, Jesus no longer hid His true identity, but revealed publicly that He is the Messiah.

Unfortunately, the moment Jesus revealed who He was, both the Jewish authority and the Roman rulers were ready to pin him down. They did not care whether Jesus came as the peaceful and humble leader or war-freak king. Jesus was the potential troublemaker and the sooner they get rid of him, the better. True enough, lest than a week, Jesus was betrayed, deserted by his followers and condemned to death. The people who acclaimed Him king, now cried to the top of their voice, “Crucify him!” The entrance to Jerusalem is significant because Jesus made a firm decision to live and die to the fullest. Jesus knew this horrifying possibility would take place, but He did not run and look for safety. He freely embraced his identity and mission, and because of this, his death was not in vain. He has made a difference that mattered most.

We are called Christian because we indeed the follower of Jesus Christ, but our name is worthless if we fail to follow Him up to Jerusalem. For some of us, being Christian or Catholic is just a matter of social convenience or family tradition. Our family, our society is Christian then we should be Christians. Often we just remember that we are Christians during special events in our life. In the Philippines, there are KBL Catholics, those who attend the Mass only for ‘Kasal’ or marriage, ‘Biyag’ or baptism and ‘Libing’ or funeral mass. In Indonesia, we are familiar with ‘Na-Pas’ (literally means ‘breath’) Christians, those who only go to the Church during ‘Natal’ or Christmas and ‘Paskah’ or Easter.

But, we must not forget that for some being Christians means hardship, sufferings and death. Christians in war-zones like Syria and Iraq, or when the Christians were minority, live in constant danger and discriminations are so real. Just few weeks ago, four sisters of Missionaries of Charity were brutally executed by the terrorists in Yemen. While they were fully aware of the extent of the danger, they refused to live behind the people they served, the elderly and the disabled. They are the disciples of Christ who lived their authentic Christianity to the end. Both in death and life, their faith has made the world a better.

Philosopher Abraham Kaplan noted that if Socrates said ‘unexamined life is not worth living’, so ‘the unlived life is worth examining. As we are entering the most solemn week in our liturgy, we ask ourselves: have we live our lives to the fullest? Is our Christian faith making any difference? Are we willing to make the change that matters most in our lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menuju Hidup yang Otentik

Minggu Palma. 20 Maret 2016 [Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49]

 “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38).”

palm sunday 2Minggu Palma atau disaat Yesus memasuki kota Yerusalem menandai awal dari drama yang paling penting di Kitab Suci. Ini adalah drama Pekan Suci. Memori ini begitu signifikan bagi Gereja Perdana, sampai-sampai episode ini tercatat di keempat Injil (Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19). Pertanyaannya adalah: Mengapa Minggu Palma begitu penting bagi kita?

Yesus memasuki kota tua Yerusalem dengan cara yang tidak biasa dan tidak begitu meyakinkan karena ia lebih memilih menaiki keledai yang lembut daripada kuda kuat yang siap tempur. Namun, cara yang unik ini sebenarnya tidak dianggap aneh oleh orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias. Dengan mengendarai keledai, Yesus memenuhi nubuat nabi Zakharia, Hai penduduk Sion, bergembiralah! Hai penduduk Yerusalem, bersoraklah! Lihatlah! Rajamu datang dengan kemenangan! Ia raja adil yang membawa keselamatan. Tetapi penuh kerendahan hati ia tiba mengendarai keledai, seekor keledai muda (Zak 9:9). Orang-orang yang berkumpul di Yerusalem untuk festival Yahudi tahunan, tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka kepada Yesus yang telah dikabarkan sebagai Mesias yang diharapkan. Memang, orang-orang menyambut Dia sebagai raja dan merekapun berseru, Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi! (Luk 19:38)Melalui peristiwa ini, Yesus tidak lagi menyembunyikan identitas-Nya, tetapi mengungkapkannya secara terbuka bahwa Dia adalah Mesias bagi bangsa Israel.

Sayangnya, saat Yesus mengungkapkan identitasnya, baik otoritas Yahudi dan penguasa Romawi siap untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak peduli apakah Yesus datang sebagai pemimpin damai dan rendah hati atau raja yang siap berperang. Yesus adalah sebuah potensi keonaran dan semakin cepat mereka menyingkirkan dia, semakin baik. Benar saja, kurang dari seminggu, Yesus dikhianati, ditinggalkan oleh para pengikutnya dan dihukum mati. Orang-orang yang menyambut-Nya sebagai raja, sekarang berteriak, “Salibkan Dia!” Minggu Palma adalah peristiwa penting karena Yesus membuat keputusan tegas untuk hidup dan mati secara total. Yesus sadar akan kemungkinan mengerikan ini, tetapi Dia tidak lari dan mencari keselamatan pribadi. Dia dengan bebas memeluk identitas dan misi-Nya, dan karena ini, kematian-Nya tidak sia-sia. Pilihan-Nya telah membuat perbedaan yang paling penting di dalam sejarah umat manusia.

Kita dipanggil sebagai Kristiani karena kita memang pengikut Yesus Kristus, tetapi nama kita tidak ada gunanya jika kita gagal untuk mengikuti-Nya ke Yerusalem. Bagi sebagian dari kita, menjadi Kristen atau Katolik hanyalah masalah kenyamanan sosial atau tradisi keluarga. Keluarga kita dan masyarakat kita adalah Kristiani maka kita harus menjadi Kristiani. Seringkali kita hanya ingat bahwa kita adalah Kristen atau Katolik saat acara penting dalam hidup kita. Di Filipina, ada namanya Katolik KBL, orang-orang yang hanya menghadiri Misa ketika ‘Kasal’ atau pernikahan, ‘Biyag’ atau baptisan dan ‘Libing’ atau misa arwah. Di Indonesia, kita mengeenal dengan Katolik ‘Na-Pas’, orang-orang yang hanya pergi ke Gereja saat ‘Natal’ dan ‘Paskah’.

Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa untuk sebagian orang, menjadi Kristaini berarti kesulitan, penderitaan dan bahkan kematian. Umat Kristiani di dalam zona perang seperti Suriah dan Irak, atau ketika orang-orang Kristiani adalah minoritas, akan terus hidup dalam bahaya dan diskriminasi yang begitu nyata. Hanya beberapa minggu yang lalu, empat suster dari Missionaries of Charity secara brutal dieksekusi oleh teroris di Yemen. Sementara mereka sepenuhnya menyadari situasi yang membahayakan di Yemen, mereka menolak untuk meninggalkan orang-orang yang mereka layani, para lansia dan kaum difabel. Mereka adalah murid-murid Kristus yang meghidupi panggilan mereka secara otentik sampai akhir. Baik dalam kematian dan kehidupan, iman mereka telah membuat dunia menjadi lebih baik.

Filsuf Abraham Kaplan berpendapat, “Jika Socrates berkata unexamined life is not worth living maka the unlived life is worth examining.” Saat kita memasuki minggu paling kudus dalam liturgi Gereja, kita diajak berefleksi dan menjawab pertanyaan penting bagi hidup kita: Apakah kita telah menjalani hidup secara penuh? Apakah hidup kita sebagai orang Apakah kita bersedia untuk membuat perbedaan yang paling penting dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP