Rejoice, But Why?

3rd Sunday of Advent [B]

December 15, 2024

Luke 3:10-18

We are now in the third Sunday of Advent, also known as the Gaudete Sunday. “Gaudete” is a Latin word meaning “Rejoice!” This name comes from the introit or the opening antiphon of the Mass, taken from Phil 4:4-5, “Rejoice in the Lord always; again I will say, Rejoice. Let your gentleness be known to everyone. The Lord is at hand!” Yet, why should we rejoice in this season of Advent?

The coming of the Lord is, at its heart, a cause for great joy. On the first Sunday of Advent, we heard about the terrifying events surrounding the second coming of Jesus at the end of time, “the powers of heaven will be shaken (Luk 21:26).” Yet, this fear is only those who do not love Jesus, those who are afraid of His judgment. For those who love Jesus and live according to His commandments, His coming is a reason to rejoice, for we are confident that we will be with Him.

But why do we experience profound joy when we are with Jesus? Think about our relationship with those we love. When we love someone, we desire to be close and share time together. This bond brings us joy and peace. When we love our children, we desire to be together with them and spend time with them. The experience brings joy in our hearts. It is the same with Jesus. If we truly love Jesus, we long to be united with Him, and when we embrace Jesus, we receive the joy that our hearts desire. The more deeply we love Jesus, the deeper the joy we experience when He comes.

However, the opposite is also true. If we do not love Jesus as we should, or even we hate Jesus, then we will not rejoice at His coming. Instead, we fear His coming. But what does it mean to “hate” Jesus? It can be more subtle than we think.

  • Forsaking Jesus: We “hate” Jesus when we abandon Him or no longer trust in Him.
  • Loving other things more: We “hate” Jesus also when we prioritize other things like wealth, popularity, and pleasures more than Jesus.
  • Excessive self-love: Perhaps, most subtly, we “hate” Jesus when we love ourselves excessively and inordinately. The center of our lives is nothing but ourselves, in other words, being narcissistic. We need to be very careful with this inordinate love for ourselves because we may not be conscious about it. We are always going to the Church or active in many parish’s organizations, but the real motivation is that we can be seen by others as pious man or woman.

We rejoice because we love Jesus. Jesus understands how painful it is to be far from one we love dearly. Thus, He comes to us through His Word and in the Eucharist. While this is not a perfect union, it is enough for us to rejoice in the Lord.

Questions for reflection:

Do we love Jesus above all else? How do we love Jesus in our context as parents, spouses, children, professional, or students? What do we love ourselves more than Jesus? Do we teach other to love Jesus?

Bersukacitalah, Tetapi Mengapa?

Minggu ke-3 Masa Adven [B]

15 Desember 2024

Lukas 3:10-18

Sekarang kita berada di hari Minggu ketiga masa Adven, yang juga dikenal sebagai Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah sebuah kata dalam bahasa Latin yang berarti ”Bersukacitalah!” Nama ini berasal dari antifon pembuka Misa, yang diambil dari Flp. 4:4-5, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, sekali lagi aku akan berkata: Bersukacitalah. Hendaklah kelembutanmu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Namun, mengapa kita harus bersukacita di masa Adven ini?

Kedatangan Tuhan pada dasarnya adalah alasan untuk bersukacita. Pada hari Minggu pertama masa Adven, kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa menakutkan seputar kedatangan Yesus yang kedua kali di akhir zaman, “kuasa-kuasa langit akan goncang (Luk 21:26).” Namun, ketakutan ini hanya akan dirasakan oleh mereka yang tidak mengasihi Yesus, yaitu mereka yang takut akan penghakiman-Nya. Bagi mereka yang mengasihi Yesus dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya, kedatangan-Nya adalah alasan untuk bersukacita, karena kita yakin bahwa kita akan bersama dengan-Nya.

Tetapi mengapa kita mengalami sukacita yang mendalam ketika kita bersama Yesus? Kita bisa membandingkannya dengan hubungan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Ketika kita mengasihi seseorang, kita ingin dekat dan berbagi waktu bersama mereka. Ikatan ini memberikan kita sukacita dan kedamaian. Ketika kita mengasihi anak-anak kita, kita ingin bersama dan menghabiskan waktu bersama mereka. Pengalaman ini membawa sukacita dalam hati kita. Sama halnya dengan Yesus. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, kita rindu untuk bersatu dengan-Nya, dan ketika kita memeluk Yesus, kita menerima sukacita yang didambakan oleh hati kita. Semakin dalam kita mengasihi Yesus, semakin dalam pula sukacita yang kita alami ketika Dia datang.

Akan tetapi, hal yang sebaliknya juga benar. Jika kita tidak mengasihi Yesus sebagaimana mestinya, atau bahkan membenci Yesus, maka kita tidak akan bersukacita atas kedatangan-Nya. Sebaliknya, kita akan takut akan kedatangan-Nya. Tetapi apakah yang dimaksud dengan “membenci” Yesus? Hal ini bisa jadi lebih halus daripada yang kita pikirkan.

  • Meninggalkan Yesus: Kita “membenci” Yesus ketika kita meninggalkan-Nya atau tidak lagi percaya kepada-Nya.
  • Lebih mengasihi hal-hal lain: Kita “membenci” Yesus juga ketika kita lebih memprioritaskan hal-hal lain seperti kekayaan, popularitas, dan kesenangan daripada Yesus.
  • Mengasihi diri sendiri secara berlebihan: Mungkin, yang paling tidak disadari, kita “membenci” Yesus ketika kita mengasihi diri kita sendiri secara berlebihan dan tidak teratur. Pusat kehidupan kita tidak lain adalah diri kita sendiri, dengan kata lain, kita menjadi narsis. Kita harus sangat berhati-hati dengan cinta yang berlebihan kepada diri kita sendiri karena kita mungkin tidak menyadarinya. Kita selalu pergi ke Gereja atau aktif dalam banyak organisasi di paroki, tetapi motivasi sebenarnya adalah agar kita dapat dilihat orang lain sebagai pria atau wanita yang saleh.

Kita bersukacita karena kita mengasihi Yesus. Yesus mengerti betapa sulitnya berada jauh dari orang yang sangat kita kasihi. Oleh karena itu, Ia datang kepada kita melalui Firman-Nya dan di dalam Ekaristi. Meskipun ini bukanlah persatuan yang sempurna, ini cukup bagi kita untuk bersukacita di dalam Tuhan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita mengasihi Yesus di atas segalanya? Bagaimana kita mengasihi Yesus dalam konteks kita sebagai orang tua, pasangan, anak, profesional, atau pelajar? Apakah kita lebih mengasihi diri kita sendiri daripada Yesus? Apakah kita mengajar orang lain untuk mengasihi Yesus?

Why John the Baptist?

Second Sunday of Advent [C]

December 8, 2024

Luke 3:1-6

On the second Sunday of Advent, the Church presents St. John the Baptist as a model for preparing the way for Jesus. But why is John always chosen as the example? The answer lies in the fact that John is one of the most significant figures in the Bible, exemplifying how we should prepare for the coming of Christ. Especially in the Gospel of Luke, we see that John precedes Jesus and prepares His way in three important stages. So, what are these three stages?

1) Through John’s Birth. John was the son of Zechariah, a priest, and Elizabeth. Since Elizabeth and Mary of Nazareth were relatives, this makes John and Jesus family. In Luke’s account, John’s birth is portrayed as an answer to his parents’ prayers. His birth is a miracle, as it occurred when Zechariah and Elizabeth were old and considered barren. This miraculous birth prefigures an even greater one—the birth of Jesus. While John was conceived despite his parents’ old age, Jesus was conceived without the involvement of any man. John’s birth fulfils God’s promises in the Old Testament (such as to Abraham and Sarah, Gen 17-18; Elkanah and Hannah, 1 Sam 1:1-20), while the birth of Jesus inaugurates the New Testament era.

2) Through John’s Preaching. Today’s Gospel speaks of John preaching a baptism of repentance for the forgiveness of sins (Luke 3:3). This fulfills the prophecy of Isaiah, which foretold that a great prophet would prepare the way for the Lord (Isaiah 40:3). John teaches that the best way to prepare for the coming of the Lord is through repentance. Without repentance, our Advent and Christmas celebrations will be shallow. There’s little meaning in decorating our homes or enjoying festive meals with loved ones if we do not first seek to reform our lives.

3) Through John’s Death. John’s death comes at the hands of Herod’s executioners. He had condemned Herod, the ruler of Galilee, for living in sin—taking his brother’s wife and divorcing his own wife. This angered Herod and his wife. When the opportunity arose, Herod, to please his wife, ordered John’s execution (Luke 9:7-9; Mark 6:14-29; Matthew 14:1-12). John was beheaded because he faithfully preached the truth, calling for repentance. Jesus, too, would eventually be crucified for preaching the truth of the Gospel and calling the Jewish leaders in Jerusalem to repentance. The lesson is not just about how John died, but about how he lived—faithfully preaching the truth, even at the cost of his life. We are also invited not only to reform our own lives but to encourage others to repent, even in the face of rejection.

John is Jesus’ predecessor—in his birth, his preaching, and his death. Through his entire life, John prepared the way for Jesus. This is why John is one of the best models in the Bible for us to follow during this season of Advent.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

  • Inspired by John the Baptist, how will you prepare yourself this Advent?
  • What lessons can you draw from John’s example?
  • Like John, are you willing to invite your family, relatives, and friends to repentance and help bring them closer to Jesus?

Mengapa Yohanes Pembaptis?

Minggu Kedua Masa Adven [C]

8 Desember 2024

Lukas 3:1-6

Pada hari Minggu kedua masa Adven, Gereja memberikan Yohanes Pembaptis sebagai teladan dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan. Tetapi mengapa Yohanes selalu dipilih sebagai teladan? Jawabannya adalah karena ada banyak hal yang kita bisa pelajari dan teladani dari Yohanes. Khususnya dalam Injil Lukas, kita melihat bahwa Yohanes mendahului Yesus dan mempersiapkan jalan-Nya dalam tiga tahap penting. Jadi, apakah ketiga tahap tersebut?

1) Melalui Kelahiran Yohanes. Yohanes adalah anak dari Zakharia dan Elisabet. Karena Elisabet dan Maria dari Nazaret adalah saudara, maka hal ini menjadikan Yohanes dan Yesus sebagai satu keluarga besar. Dalam Injil Lukas, kelahiran Yohanes digambarkan sebagai jawaban atas doa orang tuanya. Kelahirannya adalah sebuah mukjizat, karena terjadi ketika Zakharia dan Elisabet sudah tua dan dianggap mandul. Kelahiran yang ajaib ini menjadi gambaran dari kelahiran yang lebih besar lagi, yaitu kelahiran Yesus. Sementara Yohanes dikandung meskipun orang tuanya sudah tua, Yesus dikandung oleh Roh Kudus dan tanpa campur tangan laki-laki. Kelahiran Yohanes menggenapi janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama (seperti kepada Abraham dan Sara, Kej. 17-18; Elkana dan Hana, 1 Sam. 1:1-20), sementara kelahiran Yesus meresmikan era Perjanjian Baru.

2) Melalui Pewartaan Yohanes. Injil hari ini berbicara tentang Yohanes yang memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa (Lukas 3:3). Hal ini menggenapi nubuat Yesaya, yang menubuatkan bahwa seorang nabi besar akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesaya 40:3). Yohanes mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan adalah melalui pertobatan. Tanpa pertobatan, perayaan Adven dan Natal kita akan menjadi dangkal. Tidak ada artinya menghias rumah kita atau menikmati makanan bersama orang-orang terdekat jika kita tidak terlebih dahulu berusaha untuk memperbaharui hidup kita.

3) Melalui Kematian Yohanes. Kematian Yohanes terjadi di tangan para algojo Herodes. Ia telah menegur Herodes, penguasa Galilea, karena hidup dalam dosa, yakni mengambil istri saudaranya dan menceraikan istrinya sendiri. Hal ini membuat Herodes dan istrinya geram. Ketika ada kesempatan, Herodes, untuk menyenangkan hati istrinya, memerintahkan untuk mengeksekusi Yohanes (Luk 9:7-9; Mar 6:14-29; Mat 14:1-12). Yohanes dipenggal karena ia dengan setia memberitakan kebenaran, menyerukan pertobatan. Yesus juga pada akhirnya akan disalibkan karena memberitakan kebenaran Injil dan memanggil para pemimpin Yahudi di Yerusalem untuk bertobat. Pelajaran yang dapat kita ambil bukan hanya tentang bagaimana Yohanes wafat, tetapi juga tentang bagaimana ia hidup, yakni dengan setia memberitakan kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Kita juga diundang untuk tidak hanya mengubah hidup kita sendiri, tetapi juga mendorong orang lain untuk bertobat, bahkan saat kita menghadapi penolakan.

Yohanes adalah pendahulu Yesus, di dalam kelahiran, kehidupan, dan kematiannya. Sepanjang hidupnya, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus. Inilah sebabnya mengapa Yohanes menjadi salah satu teladan terbaik dalam Alkitab yang dapat kita ikuti selama masa Adven ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

– Terinspirasi oleh Yohanes Pembaptis, bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita pada masa Adven ini?

– Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teladan Yohanes?

– Seperti Yohanes, apakah kita bersedia mengundang keluarga, kerabat, dan teman-teman kita untuk bertobat dan membantu membawa mereka lebih dekat kepada Yesus?

Advent: Are We Ready?

1st Sunday of Advent [C]

December 1, 2024

Luke 21:25–28, 34–36

The first Sunday of Advent marks the beginning of the new liturgical year of the Church. Advent, which means “the arrival,” is a time to prepare for the coming of Christ, both His first coming in Bethlehem, over 2000 years ago, and His second coming at the end of time. Basically, through this season, the Church teaches us to wait. Yet, how do we prepare ourselves to wait for Christ?

There are three key steps in this preparation:

First. Knowing who is coming. The most basic thing to prepare the arrival of someone is to know who they are. The preparation we make to welcome a close friend into our home is vastly different from the preparation to welcome a country’s president. The person coming will dictate overall planning, the resources needed, and the level of effort involved. The more important the person, the greater resources we commit. Advent reminds us that the one who is coming is Jesus! If Jesus is God, then all our lives, time, strength, and hearts are devoted to welcome Him.

Second. Knowing the reason of the coming. The nature of our preparations also depends on the reason of the visit. If a friend comes to borrow a book, we simply make the book available. But if a relative from another town is visiting for several days, we prepare the space for her stay, buy or cook necessary food, and ensure everything she may need. Advent teaches us that Jesus comes at the end of time to bring final judgement. He will be just both to the righteous and the wicked. Surely, we do not want to be numbered among evil-doers. So, our preparation is to become a righteous by faithfully doing what is pleasing to Him.

Third. Knowing the time of the coming. The timing of arrival also shapes our preparations. A mother who knows the expected date of her child’s birth can plan accordingly. Parents who are expecting the arrival of their daughter after study abroad, will go to the airport ahead of time, and perhaps bringing small, lovely gifts. However, Advent tells us a different story. While the Bible assures us that Jesus surely will come, it also makes clear that we are not to know when Jesus comes. Therefore, we must live as though Jesus is coming at any moment. Every second of our lives is an opportunity to make ourselves ready to stand before Him.

Advent season is rightly called as the time of expectation. Through this season, the Church teaches us how to expect Jesus’ coming in our lives.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One crucial element in our preparation is the Eucharist. The Mass is often referred to as “Jesus’ third coming”.  Jesus is present sacramentally, and the way we approach the Mass is most likely how we will face Jesus in the final judgement. Do we receive Jesus worthily in the Eucharist? What kind spiritual preparation we do before we go the mass? Do we approach Jesus in the Eucharist with eagerness and devotion or do we feel lazy and uninspired?

Adven: Sudahkah Kita Siap?

Hari Minggu Pertama Masa Adven [C]

1 Desember 2024

Lukas 21:25-28, 34-36

Minggu pertama Adven menandai dimulainya tahun liturgi baru Gereja. Adven, yang berarti “kedatangan”, adalah waktu untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, baik kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem, lebih dari 2000 tahun yang lalu, maupun kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Pada dasarnya, melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan Yesus. Namun, bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk menantikan Kristus?

Ada tiga langkah kunci dalam persiapan ini:

Pertama. Mengetahui siapa yang akan datang. Hal yang paling mendasar untuk mempersiapkan kedatangan seseorang adalah dengan mengetahui siapa mereka. Persiapan yang kita lakukan untuk menyambut seorang teman dekat datang ke rumah kita sangat berbeda dengan persiapan untuk menyambut seorang presiden sebuah negara. Orang yang datang akan menentukan keseluruhan perencanaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan tingkat usaha yang diperlukan. Semakin penting orang tersebut, semakin besar sumber daya yang kita sediakan. Masa Adven mengingatkan kita bahwa Dia yang akan datang adalah Yesus! Jika Yesus adalah Tuhan, maka seluruh hidup, waktu, kekuatan, dan hati kita akan dikhususkan untuk menyambut Dia.

Kedua. Mengetahui alasan kedatangannya. Bentuk persiapan kita juga tergantung pada alasan kunjungan. Jika seorang teman datang untuk meminjam buku, kita cukup menyediakan buku tersebut. Tetapi jika seorang kerabat dari kota lain berkunjung selama beberapa hari, kita mempersiapkan tempat untuk menginap, membeli atau memasak makanan yang diperlukan, dan memastikan segala sesuatu yang mungkin ia perlukan. Masa Adven mengajarkan kepada kita bahwa Yesus datang di akhir zaman untuk membawa penghakiman terakhir. Dia akan berlaku adil kepada orang benar dan orang jahat. Tentunya, kita tidak ingin dimasukkan dalam golongan orang-orang jahat. Jadi, persiapan kita adalah menjadi orang benar dengan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.

Ketiga. Mengetahui waktu kedatangannya. Waktu kedatangan juga membentuk persiapan kita. Seorang ibu yang mengetahui tanggal perkiraan kelahiran bayinya dapat mempersiapkan diri dengan baik. Orang tua yang menantikan kedatangan anak perempuannya setelah belajar di luar negeri, akan pergi ke bandara lebih awal, dan mungkin membawa hadiah kecil. Namun, Adven menceritakan kisah yang berbeda. Meskipun Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus pasti akan datang, Kitab Suci juga menjelaskan bahwa kita tidak akan tahu kapan Yesus akan datang. Oleh karena itu, kita harus hidup seolah-olah Yesus akan datang setiap saat. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri kita untuk berdiri di hadapan-Nya.

Masa Adven disebut sebagai masa penantian. Melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan kedatangan Yesus dalam hidup kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salah satu elemen penting dalam persiapan kita adalah Ekaristi. Misa sering disebut sebagai “kedatangan Yesus yang ketiga kalinya”.  Yesus hadir secara sakramental, dan sikap kita dalam mengikuti Misa tidak akan berbeda dengan sikap kita saat menghadapi Yesus pada penghakiman terakhir. Apakah kita menerima Yesus dengan layak dalam Ekaristi? Persiapan rohani seperti apa yang kita lakukan sebelum menghadiri misa? Apakah kita menghampiri Yesus dalam Ekaristi dengan penuh semangat dan devosi atau kita merasa malas dan tidak terinspirasi?

Full of Grace

4th Sunday of Advent [B]

December 24, 2023

Luke 1:26-38

‘Full of Grace’ is the most iconic title of the Blessed Virgin Mary. Every time we recite ‘Hail Mary,’ we immediately recognize that the first title after the name of Mary is full of grace. Not only is it her most recognized title, but it is also the most ancient. Even it goes back to the Bible, the first chapter of Luke’s Gospel. The angel Gabriel appeared and greeted Mary, ‘Hail, full of grace!’ (Luk 1:28). However, if we carefully read this passage, the title ‘Full of Grace’ is not there. What did the angel say to Mary? Why do we have ‘Full of Grace’ in the first place?

The title ‘Full of Grace’ appears in the Vulgate version of the Bible. Vulgate is the Latin Bible translation done by St. Jerome in the early fifth century. In Latin, it is ‘gracia plena’. Since Latin is the official language of the Roman Catholic Church, ‘gracia plena’ became the standard title of Blessed Virgin Mary and got translated into different languages. When ‘Hail Mary’ and the holy rosary became the most popular devotion in the Catholic world, the title ‘full of grace’ could no longer be separated from Mary, the mother of Jesus. But what is written in the Bible?

What St. Luke wrote in Greek is ‘κεχαριτωμένη’ (read: kecharitomene), and it literally means ‘one who has been graced’ or ‘one who has received grace.’ So, is St. Jerome mistaken? Not really. St. Jerome decided not to make a literal translation but rather a more poetic one, and by this choice, St. Jerome wanted to draw our attention to the total and continuous presence of grace in the life of Mary. Yet, why is the title ‘κεχαριτωμένη’ extremely important for Mary and us?

Firstly, we need to understand the meaning of the word ‘grace .’In Greek, it is ‘χάρις’ (read: Charis), and its most fundamental meaning is ‘gift’ or ‘favor .’Yet, in the New Testament, the word grace does not simply mean any gift, like birthday or graduation gifts, but it is the ultimate and the most important gift. Grace refers to God’s gift of salvation. The salvation is not only from sins and death but also for God. When we are saved, not only are our sins forgiven, but we are also enabled to share the divine life of the Holy Trinity. Grace is the gift of salvation, the gift of holiness, and the gift of heaven. (for a fuller discussion, see CCC 1996-2007)

Mary is wholly unique because she is the first person who has received grace even before our Lord was crucified and resurrected, and in fact, before He was born. The reality of grace perfectly manifested in her. It is not that Mary was worthy but that she was chosen. She did not earn it, but grace was given freely. It is not because of Mary’s plan but God’s providence. Yet, the moment of Annunciation also shows us that grace is free but never cheap. Though grace has filled her since the beginning, Mary still has to make the free choice to accept the grace and make it fruitful in her life. Thus, she said, “May it be done to me according to your word!” Mary’s yes to God’s grace is not only a one-time action but a lifetime commitment, even in the face of the cross.

Our Savior has died, risen for us, and poured out His grace for our redemption. Yet, like Mary, we must choose freely to accept the grace in our lives; through it, we flourish in God’s friendship. This is why we avoid sins, go to the mass regularly and devoutly, or do works of mercy. Not because we want to earn salvation, but to grow in God’s grace and express our thanks for the grace freely given.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penuh Rahmat

Minggu ke-4 Masa Adven [B]
24 Desember 2023
Lukas 1:26-38

“Penuh Rahmat” adalah gelar yang tak terpisahkan dari Maria. Setiap kali kita mengucapkan doa ‘Salam Maria’, kita langsung menyadari bahwa gelar pertama setelah nama Maria adalah ‘penuh rahmat’. Tidak hanya gelar ini yang paling dikenal, tetapi juga yang paling kuno. Bahkan gelar ini berasal dari Alkitab, yaitu pada bab pertama Injil Lukas. Malaikat Gabriel menampakkan diri dan menyapa Maria, “Salam, penuh rahmat!” Namun, jika kita membaca ayat ini dengan saksama, sebutan ‘Penuh Rahmat’ sebenarnya tidak ada di sana (lih. Luk 1:28). Lalu, apa yang dikatakan malaikat kepada Maria? Mengapa kita mengunakan kata ‘Penuh Rahmat’?

Kata ‘Penuh Rahmat’ muncul dalam Alkitab versi Vulgata. Vulgata sendiri adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin oleh Santo Heronimus pada awal abad ke-5. Dalam bahasa Latin, kata ini adalah ‘gratia plena’. Karena bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik Roma, ‘gratia plena’ akhirnya menjadi gelar standar Maria dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, ‘penuh rahmat.’ Ketika ‘Salam Maria’ dan doa rosario menjadi devosi yang paling populer di dunia Katolik, gelar ‘penuh rahmat’ tidak dapat lagi dipisahkan dari Maria. Namun, apa yang sebenarnya tertulis di dalam Alkitab?

Lukas menulis dalam bahasa Yunani ‘κεχαριτωμένη’ (baca: kecharitomene) yang secara harfiah berarti ‘dia yang telah diberi rahmat.’ Jadi, apakah Santo Heronimus keliru? Tidak juga. Heronimus memutuskan untuk tidak membuat terjemahan harfiah, melainkan terjemahan yang lebih puitis. Dengan pilihan ini, Santo Heronimus ingin menarik perhatian kita pada kehadiran rahmat secara total dan terus menerus dalam kehidupan Maria. Namun, mengapa gelar ‘κεχαριτωμένη’ sangat penting bagi Maria dan bagi kita?

Pertama, kita perlu memahami arti kata ‘rahmat’. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘χάρις’ (baca: charis) dan arti yang paling mendasar adalah ‘anugerah’, ‘pemberian’ atau ‘hadiah’. Namun, dalam Perjanjian Baru, kata rahmat tidak hanya berarti hadiah secara umum, seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kelulusan, tetapi rahmat adalah hadiah yang paling utama dan paling penting. Rahmat mengacu pada anugerah keselamatan dari Tuhan. Dan, keselamatan itu tidak hanya selamat dari dosa dan kematian, tetapi juga selamat untuk Allah. Ketika kita diselamatkan, bukan hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi kita juga dimampukan untuk berpartisipasi pada kehidupan ilahi sang Allah Tritunggal. Rahmat adalah karunia keselamatan, karunia kekudusan, dan karunia surga. (untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat KGK 1996-2007)

Maria sepenuhnya unik karena dia adalah orang pertama yang telah menerima rahmat bahkan sebelum Tuhan kita disalibkan dan bangkit, dan bahkan, sebelum Dia dilahirkan. Realitas rahmat secara sempurna dimanifestasikan di dalam diri Maria. Rahmat hadir bukan karena Maria layak, tetapi karena ia dipilih. Bukan karena usahanya, tetapi karena rahmat diberikan secara cuma-cuma. Bukan karena rencana Maria, tetapi karena penyelenggaraan Allah. Namun, momen Kabar Sukacita juga menunjukkan kepada kita bahwa rahmat itu benar-benar cuma-cuma, tetapi tidak pernah murahan. Meskipun rahmat telah memenuhi diri Maria sejak awal, Maria masih harus membuat pilihan bebas untuk menerima rahmat tersebut dan membuatnya berbuah dalam hidupnya. Karena itu, ia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!” Jawaban ya dari Maria terhadap rahmat Allah bukan hanya satu kali, tetapi sebuah komitmen seumur hidup, bahkan dalam menghadapi salib.

Juruselamat kita telah wafat dan bangkit bagi kita dan mencurahkan rahmat-Nya untuk penebusan kita. Namun, seperti Maria, kita harus memilih dengan bebas untuk menerima rahmat tersebut dalam hidup kita, dan melaluinya, kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Allah. Inilah sebabnya mengapa kita berusaha menghindari dosa, pergi ke misa secara teratur dan pantas, dan melakukan karya-karya belas kasih. Bukan karena kita ingin mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, melainkan kita ingin bertumbuh dalam rahmat Allah, dan mengungkapkan rasa syukur kita atas rahmat keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bersukacita, Berdoa, dan Bersyukur

Hari Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Masa Adven [B]
17 Desember 2023
Yohanes 1:6-8, 19-28

Pada Minggu Gaudete ini, Santo Paulus mengajarkan, “Bersukacitalah selalu. Berdoalah tanpa henti. Dalam segala keadaan, mengucap syukurlah, karena itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. (1 Tes 5:16).” Paulus memberi kita tiga karakteristik dasar orang Kristen: bersukacita senantiasa, berdoa tanpa henti, dan mengucap syukur dalam segala hal. Paulus mengingatkan kita bahwa karakter-karakter ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan kehendak Tuhan bagi kita. Namun, bagaimana kita dapat bersukacita di tengah penderitaan? Bagaimana kita dapat berdoa ketika kita disibukkan dengan tugas dan pekerjaan kita? Bagaimana kita dapat mengucap syukur di tengah-tengah pencobaan?

Kuncinya adalah kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri, tetapi pada rahmat Allah yang memampukan kita untuk melakukan ketiga tugas yang mustahil ini. Melalui rahmat Allah, kita dimampukan untuk selalu bersukacita, bahkan di tengah-tengah masa-masa sulit. Bersukacitalah [bahasa Yunani ‘χαίρω’ – chairo] bukanlah sekadar emosi sesaat atau rasa senang yang berasal dari hal-hal yang berasal dari luar. Bersukacita adalah sebuah pilihan. Tindakan ini mengalir dari kesadaran bahwa Tuhan memegang kendali atas setiap peristiwa dalam hidup kita. Bahkan pada saat-saat yang paling menyakitkan sekalipun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi karena Dia memiliki tujuan yang baik bagi kita. Memang, Tuhan tidak memberitahukan kepada kita sebelumnya rencana-Nya. Namun, Roh Kudus datang dan memberikan kita iman dan pengharapan kepada-Nya dan penyelenggaraan-Nya.

Rahmat Tuhan juga memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya setiap saat. Bersyukur dan bersukacita, pada kenyataannya, berhubungan erat, seperti dua sisi mata uang yang sama. Kita dapat mengucap syukur dalam segala situasi karena Roh Kudus menolong kita untuk melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan alami memiliki tujuan. Dan, ketika segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan demi kasih Allah. Tindakan ini menjadi berkat dan penyebab sukacita. Kata untuk mengucap syukur dalam bahasa Yunani adalah ‘εὐχαριστέω’ [eucharisteo], dan kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata Ekaristi. Dengan demikian, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mempersembahkan kurban Yesus Kristus dan hidup kita sebagai ucapan syukur kepada Allah.

Terakhir, bagaimana kita berdoa tanpa henti? Meluangkan sedikit waktu untuk berdoa setiap hari saja sudah sulit. Apakah itu berarti kita harus mundur dari pekerjaan kita, meninggalkan tanggung jawab kita dalam keluarga, dan menyepi masuk goa untuk berdoa? Tentu saja tidak! Berdoa tanpa henti dapat dilakukan setidaknya dengan dua cara. Pertama, kita berdoa sebagai komunitas orang beriman, yakni Gereja, tubuh Kristus yang satu. Dengan demikian, ketika kita tidak dapat berdoa pada saat ini, saudara-saudari kita di tempat lain akan berdoa untuk kita dan atas nama kita. Karena jutaan umat Katolik berdoa di seluruh dunia, doa-doa kita tidak terputus.

Kedua, kita mengandalkan Roh Kudus untuk berdoa bagi kita. Paulus sendiri mengatakan kepada kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa seperti yang seharusnya, tetapi Roh sendiri yang berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terungkapkan dengan kata-kata (Rm. 8:26-27).” Kita meminta Roh Kudus untuk hadir dan menguduskan setiap kegiatan kita, dan sebelum kita beristirahat, kita mempersembahkan hari kita kepada Tuhan.

Bersukacitalah selalu, berdoalah tanpa henti, dan mengucap syukurlah dalam segala hal!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hope and Dream

2nd Sunday of Advent [B]

December 10, 2023

Mark 1:1-8

What are your dreams and hopes in life? The answers can be extremely diverse. Students dream of finishing their studies and graduating from their schools with honors. Others wish to work in big companies or have respectable businesses. Others hope to achieve high-level careers or acquire cozy properties and flashy cars. Yet, we can also dream for other people, like parents, who wish their children to grow healthy and succeed.

Why do we have hopes and dreams and hopes? Unlike animals, we not only wish to survive but also want to become a much better version of ourselves. Our material and biological composition alone cannot explain this ability to hope. There is something beyond this body and this world. Pope Benedict XVI beautifully offers us an answer through his encyclical Spe Salvi, “Man was created for greatness—for God himself; he was created to be filled by God. But his heart is too small for the greatness to which it is destined. It must be stretched.” The reason that God has given us these immortal souls and through our dreams and hopes, we are enlarging our souls and eventually being ready, through the help of grace, to receive God.

Advent is the season of hope because this season teaches us to hope rightly. We can learn from our Gospel. St. Mark opened his Gospel by presenting John the Baptist, who announced the true hope of Israel, that the Lord is coming. During this time, Israelites lived through extremely harsh times under the Roman Empire. The taxes were choking their necks, the Roman-appointed rulers like Herod were cruel, and some Jews were stealing and scamming fellow poorer Jews. At this time, it was easy to fall into despair and stop hoping, or they developed a delusion that the Messiah would come as a military leader that would lead them to bloody victory against their oppressors. John told them to keep hoping because the Lord was coming, but he also reminded them that the best preparation was not political nor military ways but repentance. For, God of Israel is neither a god of war, nor a god of wealth, nor a god of politics, but He is the God of holiness.

We live in a much better time than the ancient Israelites, yet terrible things can always diminish or even corrupt our capacity to hope. Economic difficulties, broken relationships, and failures to achieve our dreams are to name a few. We may live depressed, hopeless, and in survival mode, no different from many animals. Or, we may grow delusions and false expectations. We falsely expect God to be a magician, so we go to the Church and pray because God will grant us anything we wish. We also may fall into the temptation to utilize evil and unjust ways to realize our dreams.

The season of Advent teaches us to hope and dream. The season introduces us to the biggest dream in our lives: to be saints, that is, to welcome God, and to be with God. We must dare to hope despite countless challenges and failures, yet we shall see our hopes and dreams into building blocks to stretch our souls to receive God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP