Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

Let-Mom-Rest(1)A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspects of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yusuf, sang Ayah Penuh Iman

Minggu Keempat Adven [A] – 21 Desember 2019 – Matius 1: 18-24

Let-Mom-Rest(1)Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan  kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.

Jika Tuhan telah memilih dan mempersiapkan wanita yang paling cocok dalam sejarah manusia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, logika yang sama juga mengatur pilihan ayah angkat Yesus. Orang yang paling cocok dipilih untuk tugas besar namun luar biasa ini jatuh ke tangan St. Yusuf.

Sayangnya, kita tidak tahu banyak tentang Yusuf. Matius hanya memberi kita informasi yang sangat sedikit, tetapi dari sedikit pengetahuan ini, kita dapat mengekstraksi beberapa kebenaran penting. Pertama, Yusuf berasal dari keluarga Daud. Ini berarti bahwa setiap anak yang ia terima secara hukum akan menjadi bagian dari keluarga Daud juga. Yusuf adalah mata rantai yang menghubungkan antara Yesus dan Daud, dan dengan demikian, kelahiran Yesus akan menggenapi nubuat bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud.

Kedua, dia adalah seorang tukang kayu, dan menjadi seorang tukang kayu bukanlah pekerjaan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di Palestina abad pertama. Namun, Yusuf tahu betul bahwa kerja keras, presisi, dan kesempurnaan adalah bagian dari pekerjaannya. Kehidupan yang sulit adalah rutinitas harian bagi Yusuf. Tuhan tahu untuk membesarkan Anak-Nya akan membutuhkan banyak pengorbanan, dan Yusuf, sang tukang kayu, sanggup menghadapi tantangan itu.

Menerima dan membesarkan anak yang bukan miliknya, tentu merupakan panggilan yang sulit, tetapi Yusuf mematuhi kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam mimpinya, “Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” Selain itu, Yusuf memastikan bahwa misi ini akan tuntas. Dari gambar “Biarkan Bunda Beristirahat”, tampaknya Maria baru saja melahirkan Yesus dan proses melahirkan tentunya yang menguras tenaga. Maria kelelahan. Yusuf mengambil alih tanggung jawab untuk merawat bayi Yesus, sementara Maria mendapatkan kesempatan beristirahat. Ini hanyalah satu contoh konkret kecil dari bagaimana Yusuf menjalankan misi yang diberikan Allah untuk membesarkan Anak Allah. Tentu saja, tugasnya tidak hanya diwujudkan dalam peristiwa ini. Dia melindungi Maria dan Anaknya dari bahaya, terutama dari ancaman dari Herodes Agung yang akan membunuh Yesus. Selama sisa hidupnya, Yusuf akan bekerja keras untuk menyediakan, mendidik, dan membesarkan Yesus sebagai seorang manusia yang siap memberikan hidup-Nya untuk semua.

Seperti Maria, Yusuf juga tidak mengerti mengapa ia harus menjadi ayah dari akan orang lain, mengapa ia harus mempertaruhkan nyawanya dan masa depannya untuk seorang putra yang bukan anaknya? Namun, seperti Maria, Yusuf memiliki iman dan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Tidak hanya sekadar menerima kehendak Tuhan, tetapi dia juga memastikan bahwa dia memberikan yang terbaik dan membuat rencana Tuhan terwujud.

Kita sering tidak mengerti mengapa rencana Tuhan untuk kita. Kita tahu kemana Tuhan akan membawa kita. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita dipanggil untuk menjadi pria dan wanita yang beriman, untuk menerima rencana Allah sebagai milik kita sendiri dan membawa kehendak-Nya ke dalam kesempurnaan.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gaudete!

Third Sunday of Advent [A] – December 15, 2019 – Matthew 11:2-11

gaudete sunday - benedictToday, we are going to see something different in the Church. Yes, the priests are not wearing a purple vestment, but a rose liturgical vestment. It is not because the priests are mistaken or want to make a fashion statement. It is because we are entering the third Sunday of Advent, also known as, the Gaudete Sunday. “Gaudete” is a Latin word meaning “rejoice!”. This color also symbolizes the joyful atmosphere. But, why do we need to celebrate Gaudete Sunday?

The first reading from Isaiah [33:1-6] speaks about the joy of all creations when the Lord comes. Not only men but all natures, animals, plants, even rivers, will rejoice before the Lord. While it is true that Advent is a season of expectation and preparation for the coming of the Lord, Gaudete Sunday does not break the general mood of Advent, but rather it gives us the right direction.

When we are waiting for something, there are two reactions. The first one is to complain and to be disappointed. it is like when we are ready to board the airplane, and suddenly the crew announces that there is a delay. We need to wait, and we wait in annoyance. We get disappointed because we are impatient and expecting things to happen according to our plans.

From today’s Gospel, John was in prison, and he knew that his time was short. As the one who prepared for the coming of Messiah, John knew that Jesus was the Christ, but Jesus seemed not to behave like a Messiah John expected. He was waiting for someone brought divine judgment, but Jesus was rather different. Jesus then had to explain what kind of Messiah He is: One who brings mercy, love and joy to world. From here, we discovered that John’s personal expectation hinders him to see that the One he has expected has come.

Sometimes, we wait for an answer to our prayers, but after all the novenas, all the rosaries, all the way of the cross, and all the masses, we do not get the answer. Sometimes, we are expecting that our lives will get better, but the things are getting worse. Sometimes, we are hoping for healing and fast recovery someone we love, but things just do not go the way we want it. The more we expect, the more we get disappointed.

To counter this, we come to the second response in waiting. We can also wait in joy. It is like a mother who is expecting her baby. It is certainly a period of waiting, but the mother was anticipating it with joy. Like an expectant mother, we can wait for the Lord in joy, and like the pregnant woman, the key to joyful expectation is when we are aware that we are waiting something or something we love, and one who we expect has actually come.

I do believe that God always answers our prayers, but the problem is that we do not want to listen to His answers. When we pray, we often pray that our will be done, and not His will be done. This is the reason why we fail to see God and His abundant blessings around us. Indeed, in this Advent season, we are preparing for the coming of Jesus, but this season also we rejoice because Jesus has come in His unexpected and surprising ways. We cannot be grateful and joyful when we are able to see Jesus comes in our daily lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gaudete!

Minggu Ketiga Advent [A] – 15 Desember 2019 – Matius 11: 2-11

gaudetesunday22Hari ini, kita akan melihat sesuatu yang berbeda di Gereja. Ya, para imam tidak mengenakan jubah ungu, tetapi jubah liturgis berwarna merah muda. Itu bukan karena para imam salah memakai baju atau ingin tampil trendi. Ini karena kita memasuki hari Minggu ketiga Adven, juga dikenal sebagai, hari Minggu Gaudete. “Gaudete” adalah kata Latin yang berarti “bersukacitalah!”. Warna merah muda ini juga melambangkan suasana sukacita. Tapi, mengapa kita perlu merayakan Minggu Gaudete?

Bacaan pertama dari Yesaya [33: 1-6] berbicara tentang sukacita semua makhluk ketika Tuhan datang. Tidak hanya manusia tetapi semua ciptaan, termasuk binatang, tanaman, bahkan sungai, akan bersukacita di hadapan Tuhan. Meskipun benar bahwa Advent adalah musim pengharapan dan persiapan untuk kedatangan Tuhan, Minggu Gaudete tidak merusak suasana umum Advent, tetapi justru memberi kita arah yang benar.

Ketika kita sedang menunggu sesuatu, ada dua reaksi. Yang pertama adalah mengeluh dan kecewa. Hal ini seperti ketika kita siap untuk naik pesawat, dan tiba-tiba kru mengumumkan bahwa ada penundaan. Kita harus menunggu, dan kita menunggu dengan kesal. Kita kecewa karena kita tidak sabar dan mengharapkan hal-hal terjadi sesuai dengan rencana kita.

Dari Injil hari ini, Yohanes berada di penjara, dan dia tahu waktunya tidak lama lagi. Sebagai orang yang mempersiapkan kedatangan Mesias, Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Kristus, tetapi Yesus tampaknya tidak berperilaku seperti yang diharapkannya. Yohanes sedang menunggu seseorang membawa penghakiman ilahi, tetapi Yesus agak berbeda. Yesus kemudian harus menjelaskan Mesias seperti apa Dia: Orang yang membawa kemurahan, kasih, dan sukacita ke dunia. Dari sini, kita menemukan bahwa ekspektasi pribadi Yohanes menghalangi dia untuk melihat bahwa Dia yang harapkan telah datang.

Terkadang, kita menunggu jawaban untuk doa-doa kita, tetapi setelah semua novena, semua rosario, semua jalan salib, dan semua misa, kita tidak mendapatkan jawabannya. Kadang-kadang, kita berharap bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik, tetapi keadaan semakin memburuk. Terkadang, kita berharap untuk penyembuhan dan pemulihan cepat seseorang yang kita cintai, tetapi hal-hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Semakin banyak yang kita harapkan, semakin kita kecewa.

Untuk mengatasi ini, kita sampai pada respons kedua dalam menunggu. Kita juga bisa menunggu dengan sukacita. Itu seperti seorang ibu yang sedang mengandung bayinya. Ini tentu saja merupakan masa penantian, tetapi sang ibu mengantisipasinya dengan gembira. Seperti seorang ibu hamil, kita dapat menunggu Tuhan dalam sukacita, dan sama seperti wanita hamil, kunci dari harapan penuh sukacita adalah ketika kita sadar bahwa kita sedang menunggu sesuatu atau seseorang yang kita cintai, dan seseorang yang kita harapkan datang ini sesungguhnya telah datang.

Saya percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa-doa kita, tetapi masalahnya adalah kita tidak mau mendengarkan jawaban-Nya. Ketika kita berdoa, kita sering berdoa agar kehendak kita terjadi, dan bukan kehendak-Nya yang terjadi. Inilah alasan mengapa kita gagal melihat Tuhan dan berkat-Nya yang berlimpah di sekitar kita. Memang, di masa Advent ini, kita sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, tetapi musim ini juga kita bersukacita karena Yesus telah datang dengan cara-Nya yang tak terduga dan mengejutkan. Kita bisa bersyukur dan bersukacita ketika kita dapat melihat Yesus datang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Like John the Baptist

2nd Sunday of Advent [A] – [December 8, 2019] – Matthew 3:1-12

john-the-baptist-mafaJohn the Baptist is a prominent figure in four Gospels, and he powerfully appears before Jesus begins His public ministry. But, who is this John the Baptist? His name is simply John, and the Church calls him the Baptist to distinguish him from other John in the Bible like John the son of Zebedee, one of Jesus’ disciples. John the Baptist is the miracle son of Zacharia and Elizabeth in their old days. And since Elizabeth and Mary, the mother of Jesus, are relatives, John and Jesus are closely related to each other.

Certainly, there is something strange about this John. He is eating locust and honey. Surely, it is an exotic food, but we need to remember he is living in the desert, and this kind of food is common. He is wearing clothing made of camel’s hair and a leather belt around his waist. It is just a fashion statement or he has nothing to wear. John’s clothing reminds us of the things Prophet Elijah wore in his time [see 1 Kings 1:8]. John is presenting himself as a prophet, and not any prophet, he is the new Elijah. The appearance of Elijah is an important sign of the imminent coming of the Messiah [Mal 4:5].

One thing for sure about John is that he becomes very popular, and people from all over the country come to him, to listen to his preaching and to be baptized as a sign of repentance. Yet, despite the great number of followers, he remains true to his mission. He is preaching on the coming of someone who is much greater than him, even he declares that “is unworthy to carry His sandals.” He is God’s instrument in fulfilling the prophecy, and he has a specific role to play.

Now, we know a little background about John the Baptist, what will be next for us? Certainly, we are not called to follow him in wearing clothing made of camel’s hair or to eat locust everyday, but we are to prepare the way for the coming of the Savior. How? Some of us are called literally to baptize people like myself. Some are commissioned to preach and educate people. Yet, all of us is to live a life of repentance. The repentance has to be alive and penetrating all aspects of life. The word used by John in Greek is “metanoiete” and it does not simply mean “repent!” but more precisely, “keep repenting!”

The first stage of repentance is certainly turning away from a sinful life, but it is more than that. Repentance is not about one-done-deal action, but a life-long process. The word “Metanoia” is coming from two words, “meta” meaning “changing” and “nous” meaning “mind”; Thus, “metanoia” means changing of mind, changing the way we see life and the way we live. Our mind is no longer earth-bond, but fixed into God. The transformation is not from sinful life to a good life, but a life that is even closer to God. It implies changing of priority. Do we make God our priority? It entails holiness. Do we do things that are pleasing to God? This presupposes the love of God. Do we love God more than other things, or do we love other things more than Him?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Yohanes Pembaptis

Minggu ke-2 Adven [A] – [8 Desember 2019] – Matius 3: 1-12

John-the-Baptist-212x300Yohanes Pembaptis adalah tokoh terkemuka dalam keempat Injil, dan Yohanes muncul sebelum Yesus memulai pelayanan dan karnya-Nya. Tetapi, siapakah Yohanes Pembaptis ini? Namanya Yohanes, dan Gereja memanggilnya sebagai Pembaptis untuk membedakannya dari Yohanes lainnya dalam Alkitab seperti Yohanes putra Zebedeus, salah satu murid Yesus. Yohanes Pembaptis adalah putra Zakharia dan Elisabet yang terlahir di masa tua mereka. Dan karena Elizabeth dan Maria, ibu Yesus, masih saudara, Yohanes dan Yesus saling berhubungan erat.

Tentu saja, ada yang aneh dengan Yohanes ini. Dia memakan belalang dan madu. Tentunya, ini adalah makanan eksotis, tetapi kita harus ingat dia hidup di padang gurun, dan makanan seperti ini adalah hal biasa. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta dan sabuk kulit di pinggangnya. Hal ini bukan berarti Yohanes suka berbusana trendi atau kekinin. Pakaian Yohanes mengingatkan orang-orang Yahudi akan hal-hal yang dikenakan Nabi Elia di masanya [lihat 1 Raja-Raja 1: 8]. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai nabi, dan bukan nabi biasa, ia adalah Elia baru. Munculnya Elia adalah tanda penting dari kedatangan Mesias yang akan segera terjadi [Mal 4: 5].

Satu hal yang pasti tentang Yohanes adalah bahwa ia menjadi sangat populer, dan orang-orang dari seluruh negeri datang kepadanya, untuk mendengarkan khotbahnya dan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan. Namun, terlepas dari jumlah pengikut yang besar, ia tetap setia pada misinya. Dia mewartakan tentang kedatangan seseorang yang jauh lebih besar darinya, bahkan dia menyatakan bahwa “tidak layak untuk membawa sandal-Nya.” Dia adalah alat Tuhan dalam memenuhi nubuat, dan dia memiliki peran khusus untuk dimainkan.

Sekarang, kita tahu sedikit latar belakang tentang Yohanes Pembaptis, apa yang akan terjadi selanjutnya bagi kita? Tentu saja, kita tidak dipanggil untuk mengikutinya dalam mengenakan pakaian yang terbuat dari rambut unta atau makan belalang setiap hari, tetapi kita harus mempersiapkan jalan bagi kedatangan Juruselamat. Bagaimana? Beberapa dari kita dipanggil memang untuk membaptis orang seperti saya. Beberapa ditugaskan untuk mengabar dan mendidik orang. Namun, kita semua harus menjalani kehidupan pertobatan. Kata yang digunakan oleh Yohanes dalam bahasa Yunani adalah “metanoiete” dan itu tidak hanya berarti “bertobat!” Tetapi lebih tepatnya, “teruslah bertobat!”

Tahap pertobatan pertama tentu saja beralih dari kehidupan dosa, tetapi lebih dari itu. Pertobatan bukan tentang satu dua tindakan saja, tetapi proses seumur hidup. Kata “Metanoia” berasal dari dua kata, “meta” yang berarti “perubahan” dan “nous” yang berarti “pikiran”; Jadi, “metanoia” berarti mengubah pikiran, mengubah cara kita melihat kehidupan dan cara kita hidup. Pikiran kita bukan lagi tertuju pada hal-hal duniawi, tetapi terpaku pada Tuhan. Transformasi bukan hanya dari kehidupan yang berdosa menjadi kehidupan yang baik, tetapi kehidupan yang bahkan lebih dekat dengan Tuhan. Ini menyiratkan perubahan prioritas. Apakah kita menjadikan Tuhan sebagai prioritas kita? Ini membutuhkan kekudusan. Apakah kita melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah? Ini mengandaikan kasih Allah. Apakah kita mencintai Tuhan lebih dari hal-hal lain, atau kita lebih mencintai hal-hal lain daripada Dia?

Yohanes Pembaptis doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advent Mission: Be Holy!

First Sunday Advent [A] –  December 1, 2019 – Matthew 24:37-44

Advent coming of the saviorWe are entering the season of Advent. This time marks the beginning of the new liturgical year of the Church. The season itself is a preparation for us to welcome the Christmas, the coming of Jesus Christ. The word Advent is coming from the Latin word “Adventus” that simply means “arrival.” The dominant liturgical color will be purple that signifies hope and joyful expectation of the coming of our Savior.

The Church has always taught that there are two comings of Jesus. The first coming was two thousand years ago in Bethlehem, when Jesus was born into the simple family of Joseph and Mary. The second coming will be at the end of time, and nobody knows when it will be. It is the secret of God, and anybody who attempts to predict it is bound to fail.

Particularly, the first Sunday of Advent focuses on the second coming of Jesus. From the reading, we can extract at least two characteristics of this coming. Firstly, there will be judgment and the segregation between the good and the evil. Secondly, the coming will be utterly unexpected like the day of Great Flood in the time of Noah and his family or like a thief at the night. Since there will be a judgment based on our life as well as the unpredictable timing, we are expected to be always ready by persevering doing good.

The purpose of Advent is truly to remind us that God will definitely come, and we are prepared for that coming. How are we going to prepare for Jesus’ coming then?

The answer is unbelievably simple: be holy and keep holy. Surely, it is easier said than done, yet we can learn from the saints (they are called “saints” precisely because they have lived a holy life). Yet, again some of us may say that is just tough to be a saint, and it is almost impossible to be like John Paul II who was the holy Pope, or to be like Mother Teresa of Calcutta who spent her life in slump of India and tirelessly the poor, or like St. Stephen who was stoned to death for preaching Jesus. Indeed, it seems to be unsurmountable if we focus on the greatness of these saints, but truthfully, there are a lot of saints who are living simple lives.

St. Therese of the Child Jesus who spent her quiet and simple life inside a convent once wrote, “Miss no single opportunity of making some small sacrifice, here by a smiling look, thereby a kindly word; always doing the smallest right and doing it all for love.” They are many things we can offer sacrifice in our daily life, like our addiction to cellphone, our obsession to be workaholic, our time for our hobbies, and our tendency to complain. While St. Martin de Porres, a Dominican brother, who spent his life cleaning the convent and serving the poor, shows us that the path of holiness is not always grand, “Everything, even sweeping, scraping vegetables, weeding a garden and waiting on the sick could be a prayer, if it was offered to God.”

The way to prepare Jesus’ second coming is by being holy, and living a holy life can be done in doing ordinary things in love and for God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misi Adven: Menjadi Kudus

Minggu Adven Pertama [A] – 1 Desember 2019 – Matius 24:37-44

Advent-season-candlesKita memasuki masa Adven. Waktu ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru. Masa itu sendiri adalah persiapan bagi kita untuk menyambut Natal, kedatangan Yesus Kristus. Kata Adven berasal dari kata Latin “Adventus” yang berarti “kedatangan.” Warna liturgi yang dominan adalah ungu yang menandakan harapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita.

Gereja selalu mengajarkan bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama adalah dua ribu tahun yang lalu di Betlehem, ketika Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana Yusuf dan Maria. Kedatangan kedua akan terjadi pada akhir zaman, dan tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Itu adalah rahasia Tuhan, dan siapa pun yang mencoba untuk memprediksi pasti akan gagal dan menjadi nabi palsu.

Khususnya, hari Minggu Adven pertama berfokus pada kedatangan Yesus yang kedua. Dari bacaan Injil, kita dapat melihat setidaknya dua karakteristik dari kedatangan ini. Pertama, akan ada penghakiman dan pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Kedua, kedatangan akan sama sekali tak terduga seperti hari Air Bah di zaman Nuh dan keluarganya atau seperti pencuri di malam hari. Karena akan ada penilaian berdasarkan hidup kita serta waktu yang tidak terduga, kita diharapkan untuk selalu siap dengan tekun berbuat baik.

Tujuan masa Adven adalah untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan pasti akan datang, dan kita siap untuk kedatangan itu entah kapanpun itu. Bagaimana kita akan bersiap untuk kedatangan Yesus?

Jawabannya sangat sederhana: menjadi kudus dan tetaplah kudus. Tentunya, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun kita dapat belajar dari orang-orang kudus. Namun, sekali lagi beberapa dari kita mungkin mengatakan itu sulit untuk menjadi orang kudus, dan hampir tidak mungkin untuk menyerupai Yohanes Paulus II yang adalah Paus suci, atau untuk meniru Bunda Teresa dari Calcutta yang menghabiskan hidupnya dalam di daerah kumuh di India dan melayani tanpa lelah orang-orang miskin, atau seperti Santo Stefanus yang dilempari batu sampai mati karena menjadi saksi Yesus. Memang, tampaknya mustahil jika kita fokus pada kebesaran orang-orang kudus ini, tetapi sebenarnya, ada banyak orang kudus yang menjalani kehidupan sederhana.

St. Teresa dari Anak-Anak Yesus yang menghabiskan hidupnya yang sangat sederhana di dalam sebuah biara pernah menulis, “Jangan lewatkan kesempatan untuk berkorban kecil, di sini dengan wajah tersenyum, di sana dengan kata-kata yang ramah; selalu melakukan hal yang paling kecil dan melakukan semuanya demi kasih. ” Itu adalah banyak hal yang dapat kita persembahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kecanduan kita pada ponsel, obsesi kita untuk menjadi gila kerja, waktu kita untuk hobi kita, dan kecenderungan kita untuk mengeluh. Sementara St. Martin de Porres, seorang bruder Dominikan, yang menghabiskan hidupnya membersihkan biara dan melayani orang miskin, menunjukkan kepada kita bahwa jalan kekudusan tidak selalu dasyat, “Segalanya, bahkan menyapu, membersihkan sayuran, menyiangi kebun dan merawat orang sakit bisa menjadi doa, jika dipersembahkan kepada Tuhan. “

Cara untuk mempersiapkan kedatangan kedua Yesus adalah dengan menjadi kudus, dan menjalani kehidupan yang suci dapat dilakukan dalam melakukan hal-hal biasa dalam kasih dan untuk Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Tale of Two Mothers

Fourth Sunday of Advent [December 23, 2018] Luke 1: 46-56

“Blessed are you who believed that what was spoken to you by the Lord would be fulfilled.”  (Lk. 1:45)

5236277111_0c2ebf8133_bToday’s Gospel is truly beautiful. We have two protagonists. They are women, and they are both pregnant. Who are they? Mary and Elizabeth. Yet, why is the story beautiful? It is just natural for women to get pregnant. Unless we need to go closer to the stories and place ourselves in the shoes of Mary and Elisabeth, we can never see the true beauty of their story.

First, Mary, she is young, and at the same time, she is pregnant with no husband. St. Joseph is indeed the husband of Mary, but he is not the father of the baby. Perhaps, in our time, if a woman gets pregnant and yet without a husband, this is an unfortunate event, but life goes on for both the woman and child. however, if we go back to the time of Mary, way back two thousand years ago, that woman would be a great disgrace her family and community. She would be expelled from the community, and sometimes, they would be also stoned to death. Mary understands that when she accepts the will of God, to be the mother of Jesus, she faces death. Indeed, death is the future of Mary.

Second, Elizabeth. Elizabeth has a husband, so nobody will stone her, but her situation is also difficult. She is too old to get pregnant. Once I asked my medical doctor-friends, why is it risky to get pregnant if you are old? One said that as we grow old, so does our body and our muscles. With weaker muscles, a mother will have a difficult time during the process of giving birth, and this can be very dangerous to the baby and the mother.  I said further, why not caesarian? They said that it is also difficult if not deadly. As we grow old, our hearts weaken. If we place ourselves under the knife, with weaker hearts, there is a big possibility that we will not wake up. Like Mary, death may be the future of Elizabeth.

If Mary and Elizabeth know that it is dangerous and even deadly to be pregnant, why are they still following the will of the Lord?

The answer is at the very name of Elizabeth and her husband Zechariah. Zachariah is from the Hebrew word “Zakar”, meaning to remember. Meanwhile, Elizabeth is formed two Hebrew words, Eli and Sabbath, meaning God’s oath or promise. So if we combine the two names, Zachariah-Elizabeth, they mean “God remembers His promise” or “God fulfills His promise.”

Elizabeth knows it is deadly to have John in her womb, but she still follows the will of God, because she is aware the baby was a fulfillment of God’s promise. Mary from Nazareth, the north part of Israel, travels to Judea, the south of Israel, in haste. But, why in haste? Mary is excited, and she wishes to witness how God fulfills His promise to Elizabeth. The moment Mary sees Elizabeth; she knows that the baby inside her womb is also a fulfillment of God’s promise.

Every child, indeed every on us is the fulfillment of God’s promise. Mary and Elizabeth never see the babies in their wombs as mere inconveniences in their lives or unplanned garbage that can be disposed of. Yet, to accept these babies as gifts of God, Mary and Elizabeth have to be courageous because they are going to sacrifice a lot including their own lives. Elizabeth and Mary are brave women and mothers.

The questions are for us: Who among us is not coming from a woman’s womb? We are all here because of a mother. Indeed, not all mothers are perfect. Some of them are not rich, some are having attitude problems, some are not good examples. Yet, the mere fact we are here now, one woman in our life, against all odds, has decided to courageously accept us as a gift, as the fulfillment of God’s promise. To all mothers, thank you very much.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Ibu

Hari Minggu Keempat Adven [23 Desember 2018] Lukas 1: 46-56

“Berbahagialah Anda yang percaya bahwa apa yang diucapkan kepada Anda oleh Tuhan akan digenapi.” (Luk 1:45)

The Visitation - Mary and Elizabeth meet - Luke 1:39-45Injil hari ini benar-benar indah. Kita memiliki dua protagonis. Mereka adalah wanita, dan mereka berdua sedang hamil. Siapa mereka? Maria dan Elizabeth. Namun, mengapa cerita mereka indah? Tentunya, wajar bagi wanita untuk hamil. Hanya dengan melihat lebih dekat kisah mereka berdua, kita baru bisa melihat keindahan sejati dari kisah mereka.

Pertama adalah Maria. Dia masih muda, dan pada saat yang sama, dia juga hamil tanpa suami. St Yosef memang suami Maria, tetapi ia bukan bapak bayi yang dikandung oleh Maria. Mungkin, di zaman kita, jika seorang wanita hamil tanpa suami, ini adalah peristiwa yang tidak tidak baik, tetapi hidup terus berlanjut bagi sang wanita dan anak. Namun, jika kita kembali ke zaman di saat Maria hidup, wanita yang hamil di luar nikah akan menjadi aib besar bagi keluarga dan komunitasnya. Dia akan diusir dari komunitas, dan kadang-kadang, dia juga akan dirajam sampai mati. Maria memahami bahwa ketika dia menerima kehendak Allah, untuk menjadi bunda Yesus, dia sebenarnya menghadapi kematian.

Kedua adalah Elizabeth. Dia bersuami, jadi tidak ada yang akan merajam dia, tetapi situasinya juga sulit. Dia terlalu tua untuk hamil. Saya pernah bertanya kepada teman dokter, mengapa hamil diusia tua cukup beresiko? Ia mengatakan bahwa ketika kita semakin tua, tubuh dan otot kita juga semakin lemah. Dengan otot yang lebih lemah, seorang ibu akan mengalami kesulitan saat proses melahirkan, dan ini bisa sangat berbahaya bagi bayi dan ibu. Saya kemudian bertanya, mengapa tidak operasi caesar? Ia mengatakan bahwa itu juga sulit dilakukan. Ketika kita semakin tua, jantung kita melemah. Jika kita menjalani operasi dengan jantung yang tidak kuat, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak akan pernah bangun lagi. Seperti Maria, Elizabet juga menghadapi kematian.

Jika Maria dan Elizabeth tahu bahwa itu berbahaya dan bahkan mematikan untuk hamil, mengapa mereka masih mengikuti kehendak Tuhan?

Jawabannya adalah atas nama Elizabeth dan suaminya, Zakharia. Zakharia berasal dari kata Ibrani “Zakar”, yang berarti mengingat. Sementara itu, Elizabeth membentuk dua kata Ibrani, Eli dan Sabat, yang berarti janji atau janji Allah. Jadi jika kita menggabungkan kedua nama itu, Zakaria-Elisabet, itu berarti “Tuhan mengingat janji-Nya” atau “Tuhan menggenapi janji-Nya.”

Elizabeth mengerti bahwa ia bisa saja kehilangan nyawanya jika ia mengandung, tetapi ia tetap mengikuti kehendak Allah, karena ia mengerti bahwa sang bayi adalah penggenapan dari janji Allah. Maria melakukan perjalanan dari Nazaret ke Yudea. Tapi, mengapa Maria harus berjalan sangat jauh? Maria ingin menyaksikan bagaimana Tuhan memenuhi janji-Nya kepada Elizabeth. Saat Maria melihat Elizabeth, Maria mengerti bahwa bayi di dalam rahimnya juga merupakan pemenuhan janji Allah.

Setiap anak, memang setiap dari kita adalah pemenuhan janji Allah. Maria dan Elizabeth tidak pernah melihat bayi di dalam rahim mereka hanya sebagai ketidaknyamanan dalam hidup atau sampah yang dapat dibuang kapan saja. Namun, untuk menerima bayi-bayi ini sebagai sebuah penggenapan janji Tuhan, Maria dan Elizabeth harus menjadi wanita yang berani dan tangguh karena mereka akan banyak berkorban termasuk mengorbankan hidup mereka sendiri.

Pertanyaannya untuk kita semua: Siapa di antara kita yang tidak berasal dari rahim seorang wanita? Kita semua di sini karena seorang ibu. Memang, tidak semua ibu sempurna. Beberapa dari mereka tidak kaya, ada yang kurang perhatian, ada juga yang bukan contoh yang baik. Namun, fakta bahwa kita ada di sini sekarang, ini berarti ada seorang wanita dalam hidup kita, dengan menghadapi segala resiko dan bahaya, telah memutuskan untuk dengan berani menerima kita sebagai sebuah pemenuhan janji Allah. Kepada semua ibu, terima kasih banyak.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP