Bersukacita, Berdoa, dan Bersyukur

Hari Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Masa Adven [B]
17 Desember 2023
Yohanes 1:6-8, 19-28

Pada Minggu Gaudete ini, Santo Paulus mengajarkan, “Bersukacitalah selalu. Berdoalah tanpa henti. Dalam segala keadaan, mengucap syukurlah, karena itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. (1 Tes 5:16).” Paulus memberi kita tiga karakteristik dasar orang Kristen: bersukacita senantiasa, berdoa tanpa henti, dan mengucap syukur dalam segala hal. Paulus mengingatkan kita bahwa karakter-karakter ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan kehendak Tuhan bagi kita. Namun, bagaimana kita dapat bersukacita di tengah penderitaan? Bagaimana kita dapat berdoa ketika kita disibukkan dengan tugas dan pekerjaan kita? Bagaimana kita dapat mengucap syukur di tengah-tengah pencobaan?

Kuncinya adalah kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri, tetapi pada rahmat Allah yang memampukan kita untuk melakukan ketiga tugas yang mustahil ini. Melalui rahmat Allah, kita dimampukan untuk selalu bersukacita, bahkan di tengah-tengah masa-masa sulit. Bersukacitalah [bahasa Yunani ‘χαίρω’ – chairo] bukanlah sekadar emosi sesaat atau rasa senang yang berasal dari hal-hal yang berasal dari luar. Bersukacita adalah sebuah pilihan. Tindakan ini mengalir dari kesadaran bahwa Tuhan memegang kendali atas setiap peristiwa dalam hidup kita. Bahkan pada saat-saat yang paling menyakitkan sekalipun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi karena Dia memiliki tujuan yang baik bagi kita. Memang, Tuhan tidak memberitahukan kepada kita sebelumnya rencana-Nya. Namun, Roh Kudus datang dan memberikan kita iman dan pengharapan kepada-Nya dan penyelenggaraan-Nya.

Rahmat Tuhan juga memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya setiap saat. Bersyukur dan bersukacita, pada kenyataannya, berhubungan erat, seperti dua sisi mata uang yang sama. Kita dapat mengucap syukur dalam segala situasi karena Roh Kudus menolong kita untuk melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan alami memiliki tujuan. Dan, ketika segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan demi kasih Allah. Tindakan ini menjadi berkat dan penyebab sukacita. Kata untuk mengucap syukur dalam bahasa Yunani adalah ‘εὐχαριστέω’ [eucharisteo], dan kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata Ekaristi. Dengan demikian, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mempersembahkan kurban Yesus Kristus dan hidup kita sebagai ucapan syukur kepada Allah.

Terakhir, bagaimana kita berdoa tanpa henti? Meluangkan sedikit waktu untuk berdoa setiap hari saja sudah sulit. Apakah itu berarti kita harus mundur dari pekerjaan kita, meninggalkan tanggung jawab kita dalam keluarga, dan menyepi masuk goa untuk berdoa? Tentu saja tidak! Berdoa tanpa henti dapat dilakukan setidaknya dengan dua cara. Pertama, kita berdoa sebagai komunitas orang beriman, yakni Gereja, tubuh Kristus yang satu. Dengan demikian, ketika kita tidak dapat berdoa pada saat ini, saudara-saudari kita di tempat lain akan berdoa untuk kita dan atas nama kita. Karena jutaan umat Katolik berdoa di seluruh dunia, doa-doa kita tidak terputus.

Kedua, kita mengandalkan Roh Kudus untuk berdoa bagi kita. Paulus sendiri mengatakan kepada kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa seperti yang seharusnya, tetapi Roh sendiri yang berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terungkapkan dengan kata-kata (Rm. 8:26-27).” Kita meminta Roh Kudus untuk hadir dan menguduskan setiap kegiatan kita, dan sebelum kita beristirahat, kita mempersembahkan hari kita kepada Tuhan.

Bersukacitalah selalu, berdoalah tanpa henti, dan mengucap syukurlah dalam segala hal!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hope and Dream

2nd Sunday of Advent [B]

December 10, 2023

Mark 1:1-8

What are your dreams and hopes in life? The answers can be extremely diverse. Students dream of finishing their studies and graduating from their schools with honors. Others wish to work in big companies or have respectable businesses. Others hope to achieve high-level careers or acquire cozy properties and flashy cars. Yet, we can also dream for other people, like parents, who wish their children to grow healthy and succeed.

Why do we have hopes and dreams and hopes? Unlike animals, we not only wish to survive but also want to become a much better version of ourselves. Our material and biological composition alone cannot explain this ability to hope. There is something beyond this body and this world. Pope Benedict XVI beautifully offers us an answer through his encyclical Spe Salvi, “Man was created for greatness—for God himself; he was created to be filled by God. But his heart is too small for the greatness to which it is destined. It must be stretched.” The reason that God has given us these immortal souls and through our dreams and hopes, we are enlarging our souls and eventually being ready, through the help of grace, to receive God.

Advent is the season of hope because this season teaches us to hope rightly. We can learn from our Gospel. St. Mark opened his Gospel by presenting John the Baptist, who announced the true hope of Israel, that the Lord is coming. During this time, Israelites lived through extremely harsh times under the Roman Empire. The taxes were choking their necks, the Roman-appointed rulers like Herod were cruel, and some Jews were stealing and scamming fellow poorer Jews. At this time, it was easy to fall into despair and stop hoping, or they developed a delusion that the Messiah would come as a military leader that would lead them to bloody victory against their oppressors. John told them to keep hoping because the Lord was coming, but he also reminded them that the best preparation was not political nor military ways but repentance. For, God of Israel is neither a god of war, nor a god of wealth, nor a god of politics, but He is the God of holiness.

We live in a much better time than the ancient Israelites, yet terrible things can always diminish or even corrupt our capacity to hope. Economic difficulties, broken relationships, and failures to achieve our dreams are to name a few. We may live depressed, hopeless, and in survival mode, no different from many animals. Or, we may grow delusions and false expectations. We falsely expect God to be a magician, so we go to the Church and pray because God will grant us anything we wish. We also may fall into the temptation to utilize evil and unjust ways to realize our dreams.

The season of Advent teaches us to hope and dream. The season introduces us to the biggest dream in our lives: to be saints, that is, to welcome God, and to be with God. We must dare to hope despite countless challenges and failures, yet we shall see our hopes and dreams into building blocks to stretch our souls to receive God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan dan Impian

Minggu ke-2 Masa Adven [B]
10 Desember 2023
Markus 1:1-8

Apa impian dan harapan Anda dalam hidup ini? Jawabannya bisa sangat beragam. Para pelajar bermimpi untuk menyelesaikan studi mereka dan lulus dari sekolah dengan prestasi. Ada juga yang ingin bekerja di perusahaan besar atau memiliki bisnis sendiri. Yang lain ingin mencapai karier yang tinggi atau memiliki rumah yang nyaman dan mobil yang keren. Namun, pertanyaannya: Mengapa kita memiliki harapan, impian, dan cita-cita?

Tidak seperti hewan, kita tidak hanya tergerak oleh insting untuk bertahan hidup, tapi kita juga memiliki hasrat untuk menjadi versi yang jauh lebih baik dari diri kita sendiri. Kemampuan untuk berharap ini tidak dapat dijelaskan oleh komposisi biologis kita saja. Ada sesuatu di luar tubuh dan dunia ini. Paus Benediktus XVI dengan indahnya memberikan jawaban melalui ensikliknya Spe Salvi, “Manusia diciptakan untuk sesuatu yang besar – untuk Tuhan sendiri; ia diciptakan untuk dipenuhi oleh Tuhan. Namun hatinya terlalu kecil untuk hal besar yang disiapkan untuknya. Ia harus diluaskan.” Kenapa kita punya harapan? Karena Tuhan menciptakan kita di dunia ini, tetapi bukan untuk dunia ini, tetapi untuk-Nya. Dia telah memberikan kita jiwa yang abadi, dan melalui mimpi dan harapan kita, kita memperbesar jiwa kita dan pada akhirnya siap, melalui bantuan rahmat, untuk menerima Tuhan.

Masa Adven adalah masa pengharapan karena masa ini mengajarkan kita untuk berharap dengan benar. Kita dapat belajar dari Injil hari ini. Markus membuka Injilnya dengan menampilkan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pengharapan sejati bangsa Israel, bahwa Tuhan akan datang. Pada masa itu, bangsa Israel telah hidup dalam masa-masa yang sangat sulit di bawah kekaisaran Romawi. Pajak mencekik leher mereka, para penguasa yang ditunjuk Romawi seperti Herodes sangat kejam dan brutal, dan beberapa orang Yahudi mencuri dan menipu sesama orang Yahudi yang lebih miskin. Pada saat itu, mudah sekali untuk jatuh dalam keputusasaan dan berhenti berharap, atau mereka mengembangkan khayalan bahwa Mesias akan datang sebagai pemimpin militer yang akan membawa mereka ke dalam kemenangan berdarah melawan para penindas mereka. Yohanes mengatakan kepada mereka untuk tetap berharap karena Tuhan memang akan datang, tetapi ia juga mengingatkan mereka bahwa persiapan yang terbaik bukanlah dengan bermanuver politis atau mengumpulkan kekuatan militer, tetapi dengan pertobatan. Tuhan Allah Israel bukanlah dewa perang, bukan dewa uang, dan juga bukan dewa politik, tetapi Allah kekudusan.

Kita hidup di masa yang jauh lebih baik daripada bangsa Israel kuno, namun selalu ada hal-hal buruk yang dapat mengurangi atau bahkan merusak kemampuan kita untuk berharap dan bermimpi. Kesulitan ekonomi, rusaknya relasi, dan kegagalan dalam meraih impian kita, adalah beberapa di antaranya. Hal-hal ini dapat menyebabkan kita hidup dengan kekecewaan, dan bahkan putus asa. Kemudian, kita mungkin mengembangkan pengharapan yang salah. Kita secara keliru mengharapkan Tuhan sebagai tukang sulap, sehingga kita pergi ke Gereja dan berdoa karena Tuhan akan mengabulkan apa pun yang kita inginkan. Kita juga dapat jatuh ke dalam pencobaan untuk menggunakan cara-cara yang jahat dan tidak adil untuk mewujudkan impian-impian kita.

Masa Adven mengajarkan kita untuk berharap dan bermimpi. Bahkan, masa ini mengajarkan kita untuk memiliki mimpi terbesar dalam hidup kita: menjadi kudus, yakni menyambut Tuhan dan hidup bersama-Nya. Kita harus berani berharap meskipun ada banyak tantangan dan kegagalan, namun kita harus melihat harapan dan impian kita sebagai batu-batu bangunan yang dapat memperluas jiwa kita untuk menerima Tuhan.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kedatangan Ketiga Yesus Kristus

Minggu Pertama Masa Adven [B]
3 Desember 2023
Markus 13:33-37

Kita memasuki masa Adven, dan tahun liturgi baru Gereja telah dimulai. Adven sendiri berasal dari kata Latin ‘Adventus,’ dan secara harfiah berarti ‘kedatangan.’ Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, Gereja mengajarkan bahwa Kristus datang dua kali. Kedatangan-Nya yang pertama terjadi di Bethlehem sekitar dua ribu tahun yang lalu, dan kedatangan Yesus yang kedua akan terjadi pada penghakiman terakhir sebagai raja di atas segala raja dan hakim atas segalanya. Masa liturgi ini mengingatkan dan mempersiapkan kita untuk kedua kedatangan Yesus. Namun, ada kedatangan Kristus yang lain, yang juga disebut kedatangan Kristus yang ketiga. Apakah artinya? Dan, bagaimana kedatangan Kristus yang ketiga menghubungkan dua kedatangan lainnya?

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan merenungkan lebih dalam tentang hubungan antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, karena bagaimana Yesus datang untuk pertama kalinya memberikan kita pelajaran yang sangat berharga untuk mempersiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya yang kedua kali. Bagaimanakah Yesus datang untuk pertama kalinya? Dia dilahirkan oleh Maria, seorang perawan yang sederhana, istri Yusuf, seorang tukang kayu miskin. Dia bukan berasal dari keluarga Herodes yang berpengaruh atau dinasti Kaisar Romawi yang berkuasa. Dia lahir di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua kandang yang kotor di Betlehem, dan bukan di istana kerajaan atau rumah sakit kelas satu. Dia dilahirkan sebagai manusia yang paling lemah, seorang bayi, dan tidak turun dari langit seperti superhero. Kedatangan-Nya yang pertama mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga bahwa Yesus hadir di tempat yang paling hina, di antara orang-orang sederhana, dan pada saat-saat yang paling tidak terduga. Sebagaimana Yesus tiba di Betlehem secara tidak terduga, demikian juga, Dia akan datang pada saat-saat terakhir dalam kedatangan-Nya yang kedua.

Sebagaimana banyak orang gagal mengenali kedatangan Mesias yang pertama, kita juga mungkin gagal untuk bersiap-siap menghadapi penghakiman terakhir. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang kedua? Kebenaran ini menuntun kita kepada “kedatangan Kristus yang ketiga”. Apakah itu? Kedatangan yang ketiga mengacu pada kedatangan dan kehadiran Yesus di antara kita dalam kehidupan kita sehari-hari, meskipun dengan cara yang tidak terduga. Pada masa Adven, kita mempersiapkan diri kita untuk kedatangan Kristus yang kedua dengan merefleksikan kedatangan-Nya yang pertama dan, dengan demikian, mengenali dan menyambut “kedatangan-Nya yang ketiga” dalam hidup kita. Semakin kita dapat menemukan Kristus dalam kedatangan-Nya yang ketiga, semakin kita dipersiapkan untuk kedatangan-Nya yang terakhir.

Lalu, apa saja manifestasi dari kedatangan Kristus yang ketiga?

  1. Yang pertama dan utama adalah Ekaristi yang kudus. Di sini, Yesus sungguh-sungguh dan benar-benar hadir, namun kita membutuhkan iman yang besar untuk menerima Dia, yang hadir dalam bentuk roti dan anggur.
  2. Dia juga hadir dalam kata-kata Kitab Suci. Gereja dengan teguh percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dalam bentuk tertulis. Dengan membaca dan merenungkannya, kita berjumpa dengan Yesus yang berbicara kepada kita.
  3. Santo Paulus juga mengajarkan kepada kita bahwa Gereja adalah tubuh Kristus. Dengan demikian, berjumpa dengan Kristus tidak dapat dilakukan tanpa berjumpa dengan tubuh-Nya, yaitu Gereja. Namun, juga benar bahwa seringkali, adalah hal yang paling sulit untuk melihat Kristus di dalam Gereja karena beberapa anggota Gereja masih jauh dari keserupaan dengan Kristus. Namun, hal ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melakukan tindakan kasih dan menjadi serupa dengan Kristus.
  4. Terakhir, kita berjumpa dengan Kristus dalam diri saudara dan saudari kita yang kurang beruntung, seperti yang Yesus katakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Persiapan untuk Akhir Zaman

Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam
26 November 2023
Matius 25:31-46

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam mengingatkan kita bahwa akhir zaman itu nyata dan pasti akan datang. Ini adalah saat Yesus akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan hakim tertinggi bagi semua makhluk. Bagi orang benar, surga siap menyambut mereka, dan bagi orang jahat, neraka akan mengikat mereka selamanya. Namun, saat kita berbicara akhir zaman, banyak yang terobsesi dengan pertanyaan, “Kapan Dia akan datang?” Dengan peperangan dan konflik yang berkecamuk di berbagai penjuru dunia, dengan bencana alam yang dahsyat, dan dengan penyakit yang melanda seluruh bumi, banyak yang percaya bahwa akhir zaman sudah dekat. Namun, bertanya ‘kapan’ adalah pertanyaan yang salah.

Dalam Injil, Yesus tidak mengungkapkan kapan Dia akan datang. Kapan Dia datang, tidaklah penting bagi Yesus; sebaliknya, ‘bagaimana menghadapi kedatangan-Nya yang kedua’ adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Sebab tidak ada gunanya jika kita mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi penghakiman itu. Dan, terkadang, ketika kita mengetahui waktunya, alih-alih melakukan persiapan yang panjang dan konsisten, kita malah menunda-nunda dan berharap bahwa usaha kita di menit-menit terakhir akan cukup. Oleh karena itu, Yesus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya secara konsisten mengatakan kepada kita bahwa waktunya akan tiba seperti pencuri di malam hari. Dan jika pertanyaan tentang waktu penghakiman terakhir masih mengganggu kita, kita harus mengingat perkataan Yesus, “Karena itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok akan membawa kekhawatirannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini (Mat. 6:34).”

Jadi, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya yang kedua? Santo Yohanes dari Salib meringkasnya dengan baik, “Pada akhir hidup kita, kita akan dihakimi oleh kasih.” Dari terang Injil, Gereja mengakui bahwa ‘kasih’ ini diwujudkan dalam karya belas kasih, terutama kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung. Yesus menyebutkan setidaknya enam tindakan: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi tempat tinggal kepada para tunawisma, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang yang sakit, dan mengunjungi mereka yang dipenjara. Gereja menambahkan tindakan ketujuh, yaitu menguburkan orang yang meninggal. Hal ini terinspirasi dari Yusuf Arimatea, yang mengurus penguburan Yesus dan bahkan memberikan makam baru bagi Yesus.

Gereja tidak hanya membatasi kata ‘miskin’ pada miskin secara jasmani, ekonomi, dan sosial, tetapi juga mencakup pada miskin secara rohani. Oleh karena itu, Gereja juga mengajarkan tujuh karya kerahiman rohani: menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang tidak tahu, menegur orang berdosa, menghibur orang yang bersedih hati, menanggung kesalahan dengan sabar, memaafkan kesalahan dengan sukarela, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Yang menarik, kita tidak harus meninggalkan rumah kita untuk melakukan pekerjaan belas kasih ini. Suami dan istri dapat dengan sabar menanggung kelemahan satu sama lain dan belajar untuk saling mengampuni. Orang tua dapat memberi makan bergizi kepada anak-anak mereka, membelikan mereka pakaian untuk perlindungan, dan menyediakan tempat tinggal yang baik. Orang tua juga dapat memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak mereka, mengoreksi mereka ketika mereka melakukan kesalahan, dan menghibur mereka di saat-saat kegagalan. Sementara, anak-anak dapat mendoakan orang tua mereka, terutama yang telah meninggal dunia.

Inilah Kabar Baik bagi kita. Kristus Raja kita telah memilih kasih sebagai jalan kekudusan dan menjadikan keluarga kita sebagai langkah pertama menuju surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Talenta yang Sesungguhnya

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [A]
19 November 2023
Matius 25:14-30

Talenta adalah salah satu kata dalam Alkitab yang telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari kita. Talenta memiliki konotasi sebagai kemampuan yang diberikan Tuhan atau keterampilan alamiah yang unik, dan perlu dikembangkan sepenuhnya. Dengan memanfaatkan talenta, kita dapat berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Faktanya, talenta telah menjadi komoditas yang sangat dicari dalam dunia sekarang ini. Perusahaan-perusahaan hanya mempekerjakan karyawan yang bertalenta. Sekolah-sekolah dipasarkan sebagai tempat pengembangan talenta. Acara TV seperti ‘Indonesia Got Talent’ atau program serupa lainnya membanjiri budaya kontemporer kita dan membentuk pemahaman kita tentang talenta: Menjadi sukses berarti memiliki talenta!

Sayangnya, pemahaman modern tentang talenta ini juga telah mengubah perilaku kita sebagai anggota Gereja. Sebagai umat Kristiani, kita diharapkan untuk menggunakan talenta kita untuk melayani. Kita dapat berpartisipasi dalam berbagai peran dalam liturgi, seperti sebagai anggota paduan suara, lektor, atau misdinar. Tidak hanya dalam liturgi, kita juga dapat menggunakan talenta kita untuk melayani di berbagai komunitas dan organisasi. Faktanya, pengertian talenta yang terbatas ini juga mempengaruhi bagaimana kita melihat para imam dan tokoh-tokoh rohaniawan lainnya. Para imam yang bertalenta adalah pengkhotbah yang karismatik atau pemimpin yang cakap di paroki-paroki. Lalu, apa yang akan terjadi pada kita yang tidak memiliki ‘talenta’ yang cocok untuk melayani di Gereja? Apakah kita tidak akan berhasil dalam hidup menggereja?

Untuk menjawab ini, kita harus kembali kepada pemahaman alkitabiah tentang talenta. Kata Yunani ‘τάλαντον’ (baca: talanton) adalah unit moneter Yunani (juga unit berat) dengan nilai yang sangat tinggi. Pada zaman Yesus, satu talenta perak bernilai sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar sama dengan upah harian, maka satu talenta berarti sama enam ribu hari kerja. Lalu, bagaimana kita memahami talenta dalam Injil? Kita yakin bahwa talenta adalah sesuatu yang berharga, dan jika digunakan dengan benar, talenta dapat bertumbuh dan bahkan berlipat ganda. Namun, Yesus juga mengaitkan talenta dengan keselamatan dan hukuman kekal kita. Dengan demikian, talenta seharusnya bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan alamiah yang berguna bagi kehidupan kita di dunia, tetapi juga sesuatu yang bersifat rohani dan bermanfaat bagi jiwa dan keselamatan kita.

Tidak heran, jika kita membaca para Bapa Gereja dan penulis rohani lainnya, kita akan melihat pemahaman yang berbeda tentang talenta. Santo Thomas Aquinas, dalam tafsirnya terhadap Injil Matius, melihat talenta sebagai karunia rahmat. Meskipun benar bahwa orang Kristen memiliki kapasitas yang berbeda untuk menerima karunia-karunia rohani, masing-masing dari kita memiliki rahmat yang paling mendasar yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Lebih jauh lagi, kita diharapkan untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, sang pemberi talenta rohani ini.

Sementara St. Heronimus, pujangga Gereja dari abad ke-4, mengenali talenta sebagai Injil. Setiap orang menerima intensitas yang berbeda dari pesan Injil, tergantung pada kapasitas kita masing-masing, tetapi setiap orang harus hidup dan membagikan Injil. Beberapa dari kita yang telah menerima lima talenta Injil ditugaskan untuk memberitakan Injil dengan lantang dan jelas kepada banyak orang. Beberapa dari kita yang menerima satu talenta Injil dipanggil untuk membagikannya kepada orang-orang terdekat dalam hidup kita, seperti keluarga dan teman-teman dekat.

Sungguh, ini adalah Kabar Baik. Kita bersyukur kepada Tuhan atas talenta-talenta alamiah yang kita miliki, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menerima dan membagikan talenta-talenta rohani kita untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bijaksana untuk Surga

Minggu ke-32 Waktu Biasa [A]
12 November 2023
Matius 25:1-12

Kebijaksanaan diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan hari ini, Yesus mengontraskan dua kelompok orang. Lima gadis yang bijaksana mewakili kelompok yang akan masuk surga; kelompok yang tidak akan masuk ke dalam surga diwakili oleh lima gadis yang bodoh. Meskipun Yesus menggunakan pernikahan Yahudi abad pertama di Israel sebagai latar belakang perumpamaannya, perumpamaan ini tidak berbicara tentang pernikahan biasa. Yesus mengajarkan tentang pengadilan terakhir, dan kebijaksanaan adalah salah satu karakteristik penting yang membuat kita bisa masuk ke dalam perjamuan abadi. Apa artinya menjadi bijaksana?

Kata Yunani yang digunakan Matius adalah ‘φρόνιμος’ (baca: phronimos). Kata ini dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai bijaksana atau berhikmat. Kata ini menunjukkan kejelasan tujuan seseorang, dan persiapan serta antisipasi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Kata ‘φρόνιμος’ juga menandakan kemampuan kita untuk menggunakan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapi serta untuk mencapai garis akhir. Matius juga menggunakan kata ini dalam beberapa kesempatan. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana (φρόνιμος), yang mendirikan rumahnya di atas batu karang (Mat. 7:24).” Juga, “Jadi siapakah hamba yang setia dan bijaksana (φρόνιμος), yang diangkat oleh tuannya atas seisi rumahnya, yang memberikan kepada mereka makanan pada waktunya (Mat. 24:45)?” Dua ayat ini juga berkaitan erat dengan keselamatan kita.

Sepanjang hidup kita, kita dididik untuk menjadi bijaksana dalam menghadapi dunia ini, bertahan menghadapi tantangan dalam hidup ini, bertumbuh dan berkembang sebagai manusia di tengah masyarakat. Namun, ada yang lebih penting dari sekadar kehidupan duniawi ini; dari perumpamaan ini, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi bijaksana demi kehidupan kekal. Ini berarti kita memahami bahwa kita diciptakan untuk surga (bukan hanya untuk dunia ini), dan kita harus mencapai tujuan ini dengan cara-cara yang tepat.

Pada saat yang sama, kita tidak boleh menjadi bodoh seperti kelima gadis lainnya. Sebenarnya kelima gadis ini tidak melakukan hal yang buruk. Kelima gadis itu tidak membuang-buang minyak dengan percuma atau tidak dengan sengaja melarikan diri dari tugas mereka. Mereka tentunya adalah teman baik bagi kedua mempelai, dan mereka juga tidak menyebabkan masalah besar yang dapat mengganggu acara pernikahan. Namun, sekedar duduk, menunggu dan tidak buat masalah tidaklah cukup. Mereka perlu menjaga agar cahaya tetap hidup dan menyala. Dari lima gadis ini, kita belajar bahwa tidak cukup hanya dengan menghindari dosa-dosa besar tetapi tidak melakukan apa-apa untuk menjaga cahaya kasih tetap hidup. Janganlah kita menjadi bodoh dengan berpikir bahwa masuk ke dalam Kerajaan Surga cukup dengan percaya kepada Yesus Kristus saja, tetapi tidak melakukan apa pun untuk memenuhi perintah kasih-Nya.

Bijaksana untuk surga berarti membuat pilihan-pilihan praktis sehari-hari yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus. Hal ini dapat dilakukan melalui pengorbanan sederhana setiap hari untuk anak-anak kita atau bersabar dengan kelemahan orang lain di sekitar kita. Kita juga dipanggil untuk berdoa dan merayakan Ekaristi dengan layak setiap hari Minggu. Kita juga dapat melakukan tindakan-tindakan kebaikan bahkan kepada orang asing. Sekali lagi, tujuh karya kasih baik jasmani dan rohani dapat menjadi panduan sederhana bagi kita untuk menjadi bijaksana bagi Kerajaan Allah. Selama waktu masih ada, jangan membuat pilihan-pilihan bodoh, tetapi bijaksana karena waktu Tuhan dapat datang kapan saja.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Krisis Kebapaan

Hari Minggu ke-31 Masa Biasa [A]
5 November 2023
Matius 23:1-12

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah krisis kebapaan. Di berbagai masyarakat, banyak anak yang hidup dan tumbuh tanpa figure ayah. Banyak survei dan penelitian menunjukkan bahwa kenyataan ini terutama melanda negara-negara barat. Namun, virus ini juga merambah ke negara-negara lain yang memiliki budaya keluarga yang kuat, termasuk Indonesia. Absennya seorang ayah dalam keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan tumbuh anak-anak. Mereka yang tidak memiliki ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang memiliki berbagai masalah mental dan bermasalah dengan masyarakat. Dalam Injil, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyebut seorangpun sebagai bapa di muka bumi ini…” (Matius 23:9). Dalam konteks kita, perkataan Yesus ini sangat menarik. Mengapa Yesus tidak mengizinkan kita memanggil siapa pun sebagai ‘bapa’, sementara masyarakat kita sangat membutuhkan figur bapa?

Sebelum kita mendalami perkataan Yesus, kita akan memahami terlebih dahulu pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga. Ayah memiliki banyak peran yang sangat penting dan tak tergantikan, namun jika kita harus meringkasnya, ada dua tugas yang paling mendasar. Alkitab berbicara tentang dua karakter ini dalam kitab Kejadian, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk melayani (עבד) dan menjaga (שׁמר) taman itu. (Kej 2:15)” Dari ayat ini, Tuhan menugaskan Adam dengan dua tanggung jawab penting: melayani dan menjaga taman. Karena taman adalah tempat tinggal Adam dan Hawa, maka taman melambangkan rumah dan keluarga Adam. Seperti Adam, setiap pria yang menjadi seorang ayah menerima dua tugas penting ini.

Melayani (עבד – baca: abad) dapat dipahami sebagai menyediakan hal-hal yang diperlukan agar keluarga dapat berfungsi dengan baik dan bahkan berkembang. Seorang ayah tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan material bagi anak-anaknya, tetapi juga kebutuhan emosional dan yang terpenting, kebutuhan spiritual. Banyak pria yang bekerja keras untuk keluarga mereka, tetapi ketika mereka pulang ke rumah, mereka menghabiskan waktu mereka dengan diri mereka sendiri daripada dengan anak-anak. Banyak pria yang memang menjadi pemberi nafkah yang baik, tetapi cenderung mengabaikan pertumbuhan iman anak-anak mereka. Banyak pria bahkan memiliki kesalahpahaman bahwa kebutuhan emosional dan spiritual hanyalah tugas wanita. Namun, cara mengasihi wanita dan pria itu berbeda, dan anak-anak membutuhkan keduanya untuk bertumbuh dengan sehat. Melayani berarti juga mengajarkan nilai-nilai dan moralitas yang benar, dan seringkali, hal ini paling baik diajarkan melalui teladan, bukan hanya dengan kata-kata.

Menjaga (שׁמר – baca: shamar) berarti melindungi dari bahaya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam, baik secara fisik maupun spiritual. Seringkali, mudah untuk melindungi keluarga dari kekuatan eksternal dan yang terlihat karena kita dapat dengan mudah melihat ancamannya. Namun, melindungi dari musuh yang tidak terlihat jauh lebih sulit. Bahaya yang tidak terlihat dapat datang dalam bentuk ide-ide yang salah atau ajaran moral yang tidak benar. Para ayah membutuhkan kebenaran dan kejelasan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Para ayah juga membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan ketika mereka memberikan koreksi dan disiplin. Anak-anak yang tidak menerima disiplin cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lemah dan ragu-ragu, sementara anak-anak yang dibesarkan dalam kekerasan cenderung menjadi pria dan wanita yang suka memberontak.

Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu memanggil siapa pun di bumi ini sebagai bapa, kecuali Bapa yang di sorga…” Yesus tidak melarang semua pria untuk dipanggil sebagai bapa. Sebaliknya, Yesus mengingatkan kita bahwa semua pria tidak secara otomatis menjadi seorang bapa ketika mereka memiliki anak (baik secara fisik maupun sakramental). Kecuali mereka mengikuti teladan Bapa Surgawi, mereka tidak pantas menyandang gelar ‘bapa’. Melayani dan menjaga adalah dua hal yang harus dilakukan oleh setiap bapa, dan kita memiliki Bapa di surga sebagai inspirasi dan teladan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Sejati dan Bagaimana Kita Mengetahuinya

Minggu ke-30 dalam Masa Biasa [A]

29 Oktober 2023

Matius 22:34-40

Cinta (atau Kasih) adalah salah satu kata yang paling sering digunakan, tetapi juga paling sering disalahpahami, bahkan disalahgunakan. Beberapa orang menggunakan kata ini untuk memanipulasi orang lain dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Beberapa orang dapat dengan mudah mengatakan “apakah kamu tidak mencintaiku lagi?” untuk mempertahankan pasangannya dalam relasi yang toxic dan penuh kekerasan.  Beberapa orang lainnya akan dengan mudah mengatakan, ‘ini karena kami saling mencintai,’ untuk membenarkan perilaku dosa mereka. Demi ‘cinta’ pada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok atau etnis lain. Demi ‘cinta’ kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri mereka sendiri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak. Namun, ini bukanlah cinta yang sejati, dan tentunya, bukan itu yang Yesus maksudkan ketika Dia mengajarkan perintah kasih. Jadi, apa yang Yesus maksudkan dengan kasih yang sejati?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu Injil kita hari ini.  Untuk memahaminya, kita memerlukan sedikit konteks. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perintah terbesar dalam Hukum Taurat, mereka mengharapkan Yesus memilih satu dari berbagai peraturan dan perintah dalam Hukum Musa. Tradisi Yahudi menghitung ada 613 perintah dalam Hukum Musa. Dari sekian banyak kemungkinan jawaban, Yesus memilih, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Bagi banyak dari kita, jawaban Yesus ini tampaknya revolusioner, dan bahkan meninggalkan hukum Musa. Kita sering berpikir bahwa Perjanjian Lama adalah tentang Sepuluh Perintah Allah, sedangkan Perjanjian Baru adalah tentang Hukum Kasih. Namun, ini jauh dari kebenaran.

Jawaban Yesus sejatinya diambil langsung dari inti dari Perjanjian Lama. Jawaban-Nya berasal dari Ulangan 6:4-6. Dalam tradisi Yahudi, ayat-ayat ini disebut ‘Shema’. Ayat-ayat ini sangat sakral bagi orang Israel, dan mereka akan mengucapkannya beberapa kali dalam sehari sebagai doa dasar mereka. Kita mungkin bisa menyamakan ‘Shema’ ini dengan doa Bapa Kami. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga menambahkan perintah terbesar kedua, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Sekali lagi, ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Imamat 19:18).

Hal yang revolusioner dari jawaban Yesus bukanlah mengenai sumber dari pernyataan-Nya, tetapi orientasi yang sebenarnya dari semua perintah dalam Hukum Musa. Kita melakukan segala sesuatu karena kasih kita kepada Allah. Pada saat yang sama, perintah Yesus yang paling utama ini juga menjelaskan dan memberikan orientasi yang tepat tentang bagaimana kita mengasihi orang lain. Kasih kepada sesama adalah manifestasi esensial dari kasih kepada Allah dan ini dilakukan demi kasih kepada Allah (lihat KGK 1822). Cara sederhana untuk mengetahui bahwa cinta kita bagi sesama adalah cinta sejati adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah tindakan saya berkenan kepada Allah?” Jika jawabannya tidak, tentu saja tindakan kita bukanlah sebuah kasih yang sejati.

Oleh karena itu, kita tidak dapat menggunakan kata ‘cinta’ sebagai pembenaran atas perilaku dan gaya hidup berdosa kita. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang, tetapi pada kenyataannya, kita justru menjauhkannya dari Tuhan. Juga, menyakiti orang lain, apalagi yang tidak bersalah, atas nama kasih kepada Tuhan juga merupakan tindakan yang salah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahasia Kebahagian

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [A]
15 Oktober 2023
Matius 22:1-14
Filipi 4:12-14, 19-20

Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Filipi dengan membagikan salah satu rahasia terbesarnya, “sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan…. Aku telah belajar rahasia menghadapi kelimpahan dan kelaparan, kelimpahan dan kekurangan. (Flp. 4:11-12).” Paulus membagikan rahasia menghadapi segala situasi dalam hidupnya, dan rahasia ini membawanya pada kebahagiaan. Lalu, apa rahasia kebahagiaannya?

Seringkali, kita percaya bahwa kebahagiaan berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita bahagia ketika kita mendapatkan banyak uang atau harta benda. Kita akan sangat senang jika mendapatkan smartphone terbaru atau bisa membeli mobil baru. Kita gembira ketika kita berhasil dalam pekerjaan, bisnis, atau relasi kita. Kita yang aktif terlibat di Gereja merasa senang ketika kita mengetahui bahwa pelayanan dan kerasulan kita menghasilkan buah. Namun, ini berbeda dengan apa yang dimaksud Santo Paulus dengan kebahagiaan. Kata yang ia gunakan adalah ‘αὐτάρκης’ (autarkes), dan kata ini berarti ‘puas, cukup’. Sukacita bukanlah memiliki semua yang kita inginkan, tetapi merasa puas dan cukup dengan apa yang kita miliki.

Terlebih lagi, sang rasul menulis, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan (Flp. 4:12).” Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya tahu bagaimana bertahan dan bertekun di masa-masa sulit dan cobaan, tetapi juga bagaimana menavigasi jalan kita di masa-masa kelimpahan. Pada hari Minggu sebelumnya, saya telah menulis tentang nasihat Santo Paulus di masa penderitaan, tetapi Santo Paulus juga memiliki nasihat untuk kita yang hidup dalam kelimpahan. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal duniawi dan kesuksesan, tetapi hal-hal ini juga dapat membawa kita kepada dua hal yang menghancurkan jiwa kita, yakni keserakahan dan kesombongan.

Keserakahan. Karena harta benda duniawi ini memberi kita kenyamanan dan kesenangan, mereka dapat menjebak kita ke dalam keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal yang bersifat sementara ini. Kita menjadi kecanduan pada kesenangan yang ditimbulkannya dan menginginkan kesenangan yang lebih dan lebih lagi. Kemudian, kita diperbudak karena kita menghalalkan segala cara untuk mencapai hal-hal duniawi ini. Kita menipu, mencuri, dan bahkan memanipulasi orang lain. Paulus sendiri memperingatkan kita, “Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan” (1 Tim. 6:10).

Kesombongan. Kelimpahan dapat menyebabkan sifat buruk lain yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika kita memperoleh banyak hal melalui kerja keras, kita mulai berpikir bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas pencapaian-pencapaian ini. Kita menganggap diri kita hebat dan memandang rendah orang lain. Kita lupa bahwa apa yang kita miliki adalah berkat Tuhan dan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Jadi, apa rahasia Santo Paulus untuk menghadapi dua sifat jahat ini dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati? Dia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)” Ya, Tuhan menguatkan kita untuk bertekun di masa pencobaan, tetapi kita juga harus “di dalam Kristus” di masa kelimpahan. Apa artinya? Pertama, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa kesuksesan dan harta benda kita pada dasarnya adalah berkat Tuhan. Ini adalah obat untuk melawan kesombongan. Kedua, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita selalu mempertimbangkan apakah tindakan kita akan menyenangkan hati Yesus. Apakah mencuri uang akan menyenangkan hati Yesus? Apakah belanja dan pengeluaran yang berlebihan akan menyenangkan Yesus? Ini adalah obat untuk melawan keserakahan. Singkatnya, jika kita ingin bahagia, hiduplah di dalam Kristus, jalani hidup yang kudus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP