Karunia Pentahbisan

Hari Minggu Pertama Adven [2 Desember 2018] Lukas 21: 25-28, 34-36

prostrationSaya telah berada di formasi Ordo Dominikan di Filipina selama lebih dari 12 tahun, dan jika saya menambahkan empat tahun formasi seminari kecil saya di Indonesia, totalnya sampai 16 tahun! Ini sangat panjang karena lebih dari separuh hidup saya berada di formasi. Jika kita percaya bahwa semuanya memiliki tujuan, saya bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan dari formasi yang sangat panjang ini?” Mengapa saya harus tetap berada dalam kehidupan formasi dengan suka dan dukanya? Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu dalam belajar? Mengapa saya harus bertekun dalam doa?

Jawabannya ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Ini karena saya ingin menjadi imam secara khusus seorang imam Dominikan. Namun, tidak hanya sekedar imam Dominikan, tetapi seorang imam Dominika yang kudus, setia  dan juga dewasa. Jawabannya tampak sederhana, tetapi setiap kata dalam jawaban ini membawa pemahaman dan konsekuensi yang sangat besar. Memiliki tujuan yang begitu mulia ini mungkin menjelaskan mengapa formasi saya harus sangat panjang.

Namun, setelah melewati lebih dari 16 tahun dalam formasi, berjuang menghadapi banyak ujian yang sulit, menghadiri doa dan latihan rohani yang tak terhitung jumlahnya, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, saya sekarang berdiri di depan ambang pintu yang akan merubah hidup saya selamanya, yakni pentahbisan. Melihat ke belakang, saya sadar bahwa saya telah berkembang dan bertumbuh. Namun, benar juga bahwa saya mengalami banyak kegagalan dan bahkan melakukan kebodohan yang tak terkatakan. Puji Tuhan, bahwa meskipun kekurangan ini, saya masih hidup!

Dengan jujur mengevaluasi hidup saya, saya menyadari bahwa saya tidak layak untuk pentahbisan ini. Saya dapat membanggakan beberapa pencapaian saya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Saya bisa menunjukkan diri sebagai seorang frater yang menjalani kehidupan religius dengan baik. Saya bisa membanggakan berbagai kerasulan yang saya berikan. Saya bisa membanggakan penghargaan yang saya terima di setiap kelulusan. Namun, hal-hal ini hanyalah sekedar angin yang datang dan pergi!

Namun, mengapa pentahbisan ini tetap berada dalam jangkauan saya meskipun ketidaklayakan saya? Saya sadar bahwa panggilan ke menjadi seorang daikon ataupun imam adalah sebuah karunia. Dalam Filosofi yang diuraikan oleh St. Thomas Aquinas, manusia bukanlah mahkluk yang mutlak. Keberadaan bukanlah hak manusia dan kapan saja manusia bisa kehilangan eksistensinya. Semua tergantung pada sang sumber dari segala kehidupan, Tuhan sendiri. Pada dasarnya hidup saya bukan hak atau keharusan, tapi karunia. Keberadaan saya adalah anugerah Tuhan dan begitu juga tahbisan saya. Ini bukan karunia berdasarkan sistem point, jika tidak, itu disebut upah. Ini bukan karunia yang saya bisa tuntut berdasarkan hak saya. Itu bukanlah karunia yang datang dari warisan saya atau yang dapat saya beli di Gereja. Ini adalah karunia yang sungguh cuma-cuma. Tuhan dalam misteri belas kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah memutuskan untuk memberikan saya karunia yang indah ini. Menerima karunia ini walaupun ketidaklayakan saya, saya hanya bisa bersyukur.

Karunia ini tidak hanya berbicara tentang saya, sang penerima. Akhirnya ini menunjuk pada sang pemberi. Karunia menunjukkan bagaimana sang pemberi menghargai sang penerima. Semakin berharga karunianya, semakin berharga sang penerima bagi sang pemberi. Sebuah hadiah yang sederhana melambangkan niat baik dari sang pemberi, tetapi karunia yang menuntut pengorbanan sang pemberi, tentu saja luar biasa. Karunia pentahbisan mengungkapkan siapa Allah saya. Dia adalah Tuhan yang melihat di luar kelemahan dan kekurangan saya, yang menganggap saya sebagai milik-Nya yang berharga, yang berani berbagi kehidupan dan misi-Nya dengan saya. Sungguh, saya senantiasa bersyukur memiliki Allah yang adalah kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Raja

Hari Raya Kristus Raja [25 November 2018] Yohanes 18: 33-37

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untukitulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Akumemberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaranmendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37)”

Tahun Liturgi Gereja diakhiri dengan drama dua raja: Pilatus dan Yesus. Pilatus mewakili negara adidaya pada masa itu, Kekaisaran Romawi. Ini adalah kerajaan yang begitu besar dominasi militernya dan semua kerajaan lain bertekuk lutut menghormati sang Kaisar Roma, raja dari segala raja. Di Yerusalem dan Yudea, Pilatus menjadi wajah dari kerajaan yang dilandasi oleh budaya intimidasi dan kekerasan ini. Pilatus adalah seorang pemimpin yang brutal, yang mencuri dari rakyatnya dan mengeksekusi orang bahkan tanpa pengadilan. Tentunya, dia menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dari Yerusalem dan siapa saja yang berdiri di jalannya, akan ia hancurkan.

Kita juga terus digoda untuk menjadi bagian dari kerajaan ini. Kadangkala seorang suami menolak untuk mendengarkan istrinya dan memaksakan kehendak-Nya dalam keluarga melalui kekuatan fisiknya. Atau, tidak aman dengan diri mereka sendiri, orang-orang yang lebih besar menggertak anak-anak yang lebih kecil dan lebih lemah di sekolah. Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi di hampir di mana-mana: keluarga, tempat kerja dan bahkan dunia maya. Joseph Stalin, diktator Uni Soviet menggertak Gereja dengan mengatakan, “Berapa banyak divisi tank yang Paus miliki?” Machiavelli, seorang filsuf Itali, bahkan pernah menyimpulkan bahwa ketertiban dalam masyarakat sebenarnya dibangun di atas ketakutan dan kekerasan

Namun, kita memiliki Yesus, sang Raja. Namun, raja macam apakah Yesus? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak pernah mengenakan mahkota emas, kecuali mahkota duri tertanam di kepalanya (Mat 27:29)? Jika Ia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki takhta kekaisaran kecuali palungan yang kotor di Betlehem dan kayu salib yang mengerikan (Luk 2: 7 dan Markus 15:30)? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki tentara yang tangguh? Ironisnya, Ia hanya memiliki kelompok pengikut yang naif yang akhirnya tercerai berai: salah satu dari mereka bahkan menjual-Nya seharga 30 keping perak, harga seorang budak, yang lain menyangkal Dia tiga kali dan sisanya melarikan diri menyelamatkan diri merek sendiri? Apakah Yesus benar-benar seorang raja?

Membaca Injil kita hari ini dengan seksama, Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ini berarti bahwa kerajaan-Nya tidak sesuai dengan standar dunia ini. Kerajaan-Nya tidak dibangun di atas kekuatan senjata, dominasi militer, atau kemenangan di dalam perang. Dengan demikian, Dia adalah raja tanpa mahkota emas, dan kerajaannya tidak memiliki angkatan bersenjata. Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran (Yoh 18:37), dan memang, Dia adalah Sang Kebenaran (Yoh 14:6). Dia adalah raja yang memerintah kerajaan kebenaran, dan rakyatnya adalah mereka yang mendengarkan dan menjadi saksi dari kebenaran. Nya adalah Kerajaan yang membalikkan nilai-nilai kerajaan duniawi. Kerajaan ini tidak dibangun di atas tipu daya, korupsi, atau manuver politik yang sesat, tetapi pada belas kasih, keadilan dan kejujuran. Kerajaan ini mewujudkan cinta kasih sejati bagi sesama bahkan bagi mereka yang kita anggap musuh, pelayanan bagi semua orang terutama untuk orang miskin, dan penyembahan Tuhan yang benar.

Di pengakhir tahun liturgi ini, adalah sebuah penyelenggaraan Ilahai bahwa Gereja memilih bacaan Injil ini untuk kita renungkan. Di sepanjang tahun liturgi, kita datang ke Gereja dan mendengarkan banyak pembacaan dari Kitab Suci terutama Injil. Kita mendengarkan Yesus sendiri, dan kita dihadapkan pada berbagai aspek dari Kebenaran yang berasal dari Yesus. Sekarang, dihadapan dua raja ini, adalah waktu bagi kita untuk memutuskan apakah kita menjadi bagian dari kerajaan Pilatus, atau kita mendengarkan Kebenaran dan mengikuti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan di Hari Akhir


Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [18 November 2018]

Markus 13: 24-32

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, St. Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Ahli Hukum Taurat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [11 November 2018] Markus 12: 38-44

[Para ahli Taurat] yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Markus 12:40)

jesus n scribesPada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.

Namun, Yesus tidak hanya mengkritik mereka karena sikap narsis ini, Dia dengan serius mengecam tindakan ketidakadilan mereka, terutama karena mereka “menelan rumah para janda.” Pada zaman Yesus hidup, para janda (bahasa Ibrani “almanah”) dianggap sebagai salah satu bagian masyarakat Yahudi yang paling miskin dan lemah. Mereka adalah wanita yang tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga jatuh miskin karena mereka tidak lagi  memiliki sarana penopang hidup. Mereka beruntung jika keluarga dan kerabat mereka merawat mereka, tetapi pada masa-masa sulit, mereka dibiarkan terlantar. Hukum Musa menyatakan bahwa para janda, bersama dengan anak-anak yatim dan orang asing harus dilindungi (lihat Ul. 10:18).

Karena para ahli Taurat adalah salah satu anggota masyarakat yang paling dihormati dan kaya, itu adalah pilihan logis untuk mempercayakan pelayanan kepada para janda Yahudi kepada mereka. Sayangnya, alih-alih membantu dan membela para janda, beberapa ahli Taurat menindas dan mencuri dari para janda miskin ini. Mencuri itu jahat, tetapi merampas dari orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada kita adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Namun, hal ini bukanlah yang terburuk. Setelah dengan sempurna menyembunyikan tindakan ketidakadilan mereka, beberapa ahli Taurat tanpa malu pergi ke Bait Allah dan membaca doa yang panjang. Ini adalah kemunafikan!

Ketika hari pentahbisan saya semakin dekat, beberapa frater dan teman-teman mulai memanggil saya dengan sapaan kehormatan seperti “reverend” (- yang dihormati). Harus diakui, saya tidak nyaman. Saya berharap bahwa orang-orang tetap memanggil saya sebagai frater atau “Brother”. Namun, ini telah menjadi tradisi umum bagi para awam memanggil mereka yang telah tertahbis. Saya hanya bisa berdoa dan berhasrat bahwa saya tidak akan seperti beberapa ahli Taurat “narsistik” dan gila akan pujian orang-orang dan semua kenyamanan hidup. George Weigel, seorang penulis Katolik Amerika, dalam artikel terbarunya, menelusuri akar kemarahan umat Katolik terhadap para klerus di AS. Dia menulis bahwa memang benar bahwa banyak para romo dan uskup yang baik dan kudus, tetapi umat tidak lagi tahan dengan sikap narsisisme yang diperlihatkan sejumlah oknum klerus di Amerika.

Belajar dari ahli-ahli Taurat, narsisisme adalah benih yang tertanam dalam hati mereka yang tertahbis. Jika dibiarkan benih ini tumbuh menjadi tindakan-tindakan ketidakadilan yang tersembunyi. Dan dari kejahatan ketidakadilan, kaum berjubah putih bisa hidup dalam kemunafikan. Adalah harapan saya bahwa kita terus berdoa, mendukung dan bahkan mengoreksi saudara-saudara kita yang adalah hamba Allah dan umat-Nya. Tanpa rahmat Allah, kerendahan hati dan doa serta bantuan para umat awam, para diakon, imam, dan uskup kita mungkin bisa menjadi seperti ahli Taurat yang narsis dan munafik.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Diakon

Renungan pada Hari Minggu ke-31 dalam Masa Biasa [4 November 2018] Markus 12: 28-31

“Kamu harus mengasihi Tuhan, Tuhanmu… Yang kedua adalah ini: ‘Kamu harus mencintai sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Tidak ada perintah lain yang lebih besar dari ini. “(Mrk. 12: 30-31)

ordination 4Hari-hari ini, saya sedang mempersiapkan tahbisan diakonat saya. Diakon sendiri adalah tahap transisi sebelum saya menjadi seorang imam. Terlepas dari kenyataan bahwa diakonat adalah masa transisi, seorang Diakon itu sendiri adalah masa hidup yang penting dalam kehidupan Gereja. Uskup Virgilio David, DD dari Kalookan, Metro Manila, mengingatkan 15 diakon Yesuit yang baru saja ditahbiskan Oktober lalu bahwa kita jangan melihat Diakon hanya sebagai langkah pertama menuju tingkat yang lebih tinggi, seperti imam dan uskup. Diakon adalah inti dalam lapisan lingkaran konsentris yang membentuk pelayanan tertahbis di Gereja. Diakon menjadi inti dari lingkaran pelayanan ini dan tanpa inti ini, para imam dan uskup akan runtuh. Ini adalah fondasi tempat kita membangun kepemimpinan di Gereja. Namun, mengapa Diakon harus ditempatkan sebagai inti dan menjadi fondasi?

Paus Benediktus XVI dalam surat apostoliknya “Omnium in Mentem” memperjelas lebih lanjut identitas dasar seorang Diakon. Dia menulis, “Diakon diberdayakan untuk melayani umat Allah dalam pelayanan liturgi, sabda, dan kasih.” Para diakon adalah hati dari semua pelayan Gereja baik yang ditahbiskan maupun yang tidak ditahbiskan karena diakon melakukan dan mengingatkan kita akan tugas paling dasar dari setiap pelayan Gereja: untuk melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya. Kata Diakon berasal dari kata Yunani, “diakoneo” yang berarti melayani, dan karena itu, Diakon adalah seorang pelayan. Jika kita kembali ke bab pertama Injil Markus, orang pertama yang melayani Yesus, Sang Allah yang menjadi manusia, adalah ibu mertua Petrus (Mar 1:31). Dia melayani Yesus karena dia telah dipulihkan dari sakit. Ini bukan pelayanan yang dilakukan karena takut atau kebutuhan egois semata, tetapi atas syukur dan cinta kasih. Jadi, melayani dan mengasihi berada pada inti kehidupan seorang Diakon.

Dalam Injil hari ini, Yesus bertemu dengan seorang ahli Hukum Taurat yang bertanya tentang hukum yang paling utama. Dalam Hukum Taurat Musa, selain dari Sepuluh Perintah Allah, bangsa Yahudi memiliki ratusan lebih peraturan. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Dengan mengingat hukum cinta kasih Yesus ini, kita sekarang dapat melihat mengapa peran diakon merupakan hal mendasar dalam Gereja. Diakon adalah mereka yang dipanggil dan diberdayakan untuk memenuhi hukum kasih Yesus. Diakon melayani dan mengasihi Allah dan umat-Nya, baik dalam konteks ibadah dan kehidupan sehari-hari. Meskipun benar bahwa diakon adalah salah satu pelayan yang ditahbiskan di Gereja, setiap pengikut Kristus juga dipanggil untuk menjadi “Diakon,” untuk melayani Allah dan umat-Nya berdasarkan cinta kasih. Tanpa hati seorang Diakon, yang merupakan inti dari pelayanan Gereja, setiap orang Kristiani, baik awam ataupun klerus, akan kehilangan identitas dan gagal untuk memenuhi hukum Kristus paling mendasar, hukum cinta kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan, Kasihanilah

Renungan pada Minggu ke-30 di Masa Biasa [28 Oktober 2018] Markus 10: 46-52

“Yesus, anak Daud, kasihanilah aku.” (Markus 10:47)

bartimaeus 2Saya mengucapkan kaul lebih dari delapan tahun yang lalu bersama dengan 12 frater lainnya. Salah satu momen paling menyentuh dalam ritual profesi religius ini adalah ketika Romo Provinsial bertanya kepada kami, “Apa yang kamu cari?” Dan kami semua bersujud dan berbaring di lantai, sambil berseru, “Belas kasih Tuhan dan juga komunitas!” Setelah beberapa saat, Pastor Provinsi meminta kami untuk berdiri, dan kami mulai mengucapkan kaul kami di hadapannya. Saat saya mengingat momen yang penting ini, saya merenungkan dalam hati saya, “Mengapa harus meminta belas kasih?” Mengapa kita tidak memilih keutamaan lainnya? Mengapa tidak keadilan, yang adalah salah satu keutamaan penting dalam tradisi Kristiani? Mengapa tidak cinta kasih, yang adalah keutamaan terbesar dari semua keutamaan?

Namun, profesi religious ini bukanlah satu-satunya. Jika kita mengamati perayaan Ekaristi Kudus, ritus ini penuhi dengan permohonan belas kasihan. Pada awal Misa, setelah kita mengingat dosa-dosa kita, kita berseru, “Tuhan, kasihanilah kami” tiga kali. Dalam doa Syukur Agung, kita sekali lagi memohon belas kasihan Tuhan agar kita bisa menikmati kehidupan kekal bersama para kudus. Dan, sebelum kita menerima Komuni Kudus, kita berdoa kepada Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, supaya Dia berbelas kasihan kepada kita. Tidak hanya dalam Ekaristi, tetapi permohonan belas kasih juga ditemukan dalam sakramen-sakramen lainnya. Sekali lagi, pertanyaannya adalah mengapa harus belaskasih?

Kita mungkin melihat sekilas jawaban dalam Injil kita hari ini. Yesus meninggalkan Yerikho dan melakukan perjalanan terakhirnya ke Yerusalem. Kemudian, tiba-tiba Bartimeus, seorang pengemis buta, berteriak dengan penuh daya, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Dia begitu gigih sehingga setelah ditegur oleh banyak orang, dia bahkan berteriak lebih keras. Setelah mendengar permohonan belas kasihan, Yesus yang telah menetapkan pandangannya ke Yerusalem memutuskan untuk berhenti. Yesus tidak bisa pura-pura tuli terhadap seruan Bartimeus. Dia tidak bisa mengabaikan belas kasihan. Namun, ini bukan satu-satunya episode di mana Yesus mengubah rencana awalnya dan mendengarkan permintaan belas kasihan. Dia membersihkan seorang penderita kusta karena belas kasihan (Mrk 1:41). Tergerak oleh belas kasihan, Dia memberi makan lima ribu orang (Mrk 6:30). Jika ada sesuatu yang dapat mengubah pikiran dan hati Yesus, pikiran dan hati Tuhan, ini adalah belas kasih.

Paus Fransiskus mengemakan para pendahulunya, Santo Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Benediktus XVI, mengatakan bahwa karakter pertama dan esensial dari Allah adalah belas kasih. Sesungguhnya, Tuhan yang penuh belas kasihan ditemukan di banyak tempat dalam Alkitab (lihat Kel 34: 6,7; Ul. 4:31; Mz 62:12, dll.). Itulah mengapa nama Tuhan adalah belas kasih.

Namun, apa yang membuat Bartimeus unik adalah bahwa ia adalah yang pertama dalam Injil Markus yang menyatakan secara verbal permohonan belas kasihan kepada Yesus. Mengikuti contoh Bartimeus, Gereja terus menjadi pengemis belas kasihan Allah. Seperti Bartimeus yang mengikuti Yesus, mengikuti-Nya berarti bahwa kita memiliki kesadaran bahwa Allah sangat berbelas kasih kepada kita dan kita membutuhkan kemurahan Tuhan. Seperti Bartimeus, kita mengungkapkan kebutuhan kita akan belas kasih Tuhan dalam ibadah kita, doa-doa kita, dan hidup kita. Kita memohon belas kasihan saat hidup menjadi sulit dan diluar kendali kita. Kita berseru “Tuhan, kasihanilah!” Ketika kita menghadapi pencobaan, ataupun saat kita gagal. Saya juga memiliki kebiasaan bahwa setiap malam sebelum saya beristirahat, saya berdoa “Tuhan, kasihilah aku!”, mengakui kegagalan saya pada hari ini, namun yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya. Kita memohon belas kasihan ketika mengetahui bahwa kita tidak layak, namun kita percaya bahwa Tuhan akan mengubah “pikiran-Nya” dan merangkul kita sekali lagi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kekuatan Sejati

Minggu ke-29 di Masa Biasa [21 Oktober 2018] Markus 10: 35-45

Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mk. 10:44)

washing feet 2“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berasal dari bangsawan Inggris, Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 1887. Lord Acton mengamati bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan mutlak atas orang lain cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi bawahan mereka. Ini terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus dan murid-murid-Nya sendiri menyaksikan para pemimpin korup ini pada zaman mereka dan akhirnya, menjadi korban kekuasaan yang korup tersebut.

Kita ingat bagaimana Herodes menugaskan pasukannya untuk membantai semua bayi di bawah dua tahun di Betlehem. Dia mengalami paranoia bahwa satu bayi yang lahir di kota Daud ini akan menggulingkannya dari kekuasaan suatu hari nanti. Herodes Antipas, putra Herodes, memerintahkan pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis. Ini dilakukan hanya untuk menenangkan kemarahan istrinya yang juga haus kekuasaan. Sejarawan Yahudi, Josephus, menceritakan bagaimana Pilatus, wali negara Romawi, memerintah Yudea dengan tangan besi. Dia memerintahkan penyaliban lebih dari dua ribu orang Yahudi selama masa pemerintahannya di Yerusalem. Dengan kekuatan absolut di tangan mereka, hidup manusia menjadi begitu murah. Satu-satunya hal yang penting adalah bagaimana mereka tetap berkuasa.

Ironisnya, meski menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan itu, Yakobus dan Yohanes, serta para murid lainnya tetap terobsesi dengan kekuasaan. Yakobus dan Yohanes berharap agar mereka duduk di tangan kanan dan kiri Yesus ketika kerajaan-Nya datang. Tahta adalah simbol kekuasaan. Kita akrab dengan hit box-office “Game of Thrones.” Serial TV ini adalah tentang orang-orang yang berjuang untuk duduk di Tahta Besi Tujuh Kerajaan. Berbagai karakter menggunakan berbagai strategi, termasuk tipu daya untuk memenangkan tahta ini. Teman dan musuh tidak bisa dibedakan. Musuh berubah menjadi teman, dan sekutu saling membunuh. Jika mereka tidak dapat berada di tahta itu, setidaknya, mereka dapat berada di sebelah kursi kekuasaan itu.

Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan dan kekuatan? Karena, dengan hal ini, kita memegang kendali. Ketika kita memampu mengendalikan banyak hal, kita memiliki rasa kebebasan dan kemandirian ini. Ketika otonomi ada di dalam genggaman kita, kita pun merasa senang dengan diri kita sendiri. Namun, ketika kita kehilangan kendali, kita merasa tidak nyaman. Ketidakberdayaan tidaklah menyenangkan. Dengan demikian, semakin banyak kekuatan yang kita miliki, semakin baik perasaan kita. Namun, ini hanyalah ilusi belaka. Tidak peduli seberapa kuatnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa mengendalikan semua hal. Fakta bahwa kita tidak dapat mengendalikan hasrat untuk memiliki kekuatan adalah bukti betapa tidak berdayanya diri kita.

Mengetahui dengan baik ironi kekuasaan, Yesus memberi kita solusi: jadilah hamba untuk semuanya. Seorang hamba adalah orang yang di bawah kendali orang lain. Dalam situasi normal, menjadi hamba itu tidak mengenakan. Namun, ketika kita memiliki kekuasaan, keputusan kita untuk menjadi hamba bagi orang lain dapat membebaskan diri kita. Yesus memahami bahwa kuasa bukan untuk diperebutkan, tetapi untuk dibagikan. Kekuatan adalah untuk memberdayakan dan bukan ditimbun. Namun, hal ini tidak sama dengan sekedar menyerah diri pada nasib, ketidakberdayaan, dan keputusasaan. Cukup sebaliknya, untuk melayani dan memberdayakan orang lain, kita perlu menggunakan kekuatan kita secara aktif. Lihatlah Bunda Teresa dari Calcutta. Dia hanyalah seorang suster yang berbadan kecil yang tidak melakukan apa pun selain mengabdikan hidupnya untuk orang miskin dan sakit. Dia jauh dari citra seorang pemimpin yang kuat, kaya dan berkuasa. Namun, karena ia menjadi hamba bagi semua, ia dinobatkan sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dan dikagumi di abad ke-20. Diapun berpesan pada kita semua, “Tuhan belum memanggil saya untuk menjadi sukses. Dia telah memanggil saya untuk setia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih yang Tangguh

Renungan untuk Minggu ke-28 pada Masa Biasa [14 Oktober 2018] Markus 10: 17-30

“Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya…” (Markus 10:21)

agapeKita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).

Dalam ketiga kisah ini, kasih Yesus bukan sekadar kasih sayang yang emosional. Bukan cinta yang menyebabkan meningkatnya kadar adrenalin dan jantung yang berdebar-debar. Bukan cinta yang yang datang di pagi hari tetapi lenyap di sore hari. Kasih Yesus adalah kasih yang berakar dalam kehendak bebas dan keputusan yang tegas. Kata Yunani yang digunakan untuk menggambarkan kasih ini adalah “agape.” Bukan “eros”, cinta emosional dan seksual, ataupun “philia,” kasih sayang di antara sahabat. St. Thomas Aquinas secara ringkas dan tepat menjelaskan “kasih” sebagai menghendaki yang baik bagi sesama. Ketika Yesus mengasihi mereka, Yesus dengan bebas memilih bahwa hal-hal yang baik dapat terjadi dalam kehidupan mereka meskipun ini berarti Yesus harus melupakan diri-Nya sendiri. Ini adalah cinta kasih yang kuat yang memerlukan pengorbanan diri, komitmen dan bahkan rasa sakit. Ini adalah kasih yang tumbuh subur bahkan ketika hidup semakin hambar dan pahit.

Kembali lagi ke kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana cara mewarisi kehidupan kekal, pada dasarnya dia adalah pria yang baik. Dia telah melakukan banyak perbuatan baik dan setia kepada Tuhan dan Hukum Musa. Yesus sendiri memberinya nilai sembilan. Hanya satu hal yang masih kurang. Ketika Yesus mengajak pemuda itu untuk menjual apa yang dia miliki, memberikannya kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus, sang pemuda pun meninggalkan Yesus dengan sedih. Mengapa? Penginjil memberi kita jawaban: ia memiliki banyak “ktemata,” atau properti. Pemuda ini tidak hanya kaya, tapi super kaya. Mungkin, sang pemuda itu berpikir bahwa kehidupan kekal adalah sesuatu yang dapat ditambahkan ke dalam barang-barang koleksinya, sesuatu yang bisa diperoleh dengan melakukan hal-hal baik dan menghindari kejahatan, atau sesuatu yang dapat membuatnya semakin kaya. Namun, ini bukanlah hidup yang kekal, tetapi hanya shopping di mal.

Kehidupan kekal adalah karunia dari Tuhan yang diberikan kepada mereka yang Dia kasihi. Sang pemuda ini sejatinya sungguh diberkati karena Yesus mengasihi dia. Hidup yang kekal sudah ada dalam jangkauannya. Namun, meskipun karunia itu cuma-cuma, itu tidak berarti murahan. Yesus ingin agar pemuda itu mengikuti Dia karena Dia ingin mengajarkan pria muda itu bagaimana mengasihi. Yesus ingin dia melakukan kebaikan bagi orang lain, dan ini dimulai dengan menjual properti berharganya dan membantu orang miskin. Di sinilah terletak paradoks kasih: kecuali kita memberikan diri kita untuk sesama, kita tidak pernah akan mendapatkan diri kita yang sepenuhnya. Dalam kata-kata Santo Fransiskus dari Asisi, “Karena dalam memberi yang kita menerima, dalam mengampuni, kita diampuni, dan  dalam kematian, kita dilahirkan kembalik dalam hidup yang kekal.”

Saya telah menjalani di formasi selama lebih dari 16 tahun, lebih dari separuh hidup saya! Saya sempat frustrasi karena saya telah memenuhi berbagai persyaratan dengan baik, namun tahbisan tidak kunjung datang. Namun, saya menyadari bahwa saya sebenarnya berpikir seperti orang muda yang kaya. Saya lupa bahwa panggilan, serta tahbisan, adalah karunia, bukan hak atau upah. Perspektif ini membebaskan saya dari keangkuhan dan membuat saya rendah hati dan selalu bersyukur. Yesus mengasihi saya, dan Dia mengasihi saya dengan tegar.

Yesus mengasihi kita namun, ini bukan kasih yang mudah dan memanjakan. Ini kasih yang tangguh dan tegar. Ini adalah kasih yang menantang kita untuk tumbuh; itu adalah kasih yang menantang kita untuk tetap hidup dalam kebenaran, itu adalah kasih yang mendorong kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rosario dan Keluarga

Renungan untuk Minggu ke-27 dalam Masa Biasa – Pesta Bunda Rosario [7 Oktober 2018] Markus 10: 2-16

teaching rosaryJika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasaan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rezim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.

Bagi umat Katolik di Filipina, pendarasan rosario telah menaklukkan hal-hal yang mustahil. Pada 1646, pasukan Belanda yang datang dari Hindi Belanda berusaha mengambil alih Filipina dari otoritas Spanyol yang lemah. Dengan hanya galleon [kapal dagang], pasukan gabungan Spanyol dan Filipina menghadapi  kapal-kapal perang Belanda dalam serangkaian pertempuran laut. Saksi mata menceritakan bagaimana para prajurit berdoa rosario saat pertempuran berlangsung. Mujizat pun terjadi. Ketiga galleon praktis tidak mengalami kerusakan berarti, sementara kapal-kapal musuh tenggelam atau rusak berat. Mujizat ini terjadi karena perantaraan Bunda Maria Rosario, La Naval de Manila. Rosario diyakini juga menjadikan revolusi “People Power” pada tahun 1986 sebagai peristiwa yang berhasil dan damai.

Ini adalah beberapa dari banyak peristiwa sejarah di mana pendarasan rosario telah memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa-bangsa. Namun, berdoa rosario tidak hanya mempengaruhi bangsa tetapi lebih berarti kehidupan orang biasa dan keluarga.

Injil hari ini berbicara tentang kekudusan pernikahan dan keluarga. Dalam pernikahan, suami dan istri saling berjanji memberi sesuatu yang tidak dapat mereka penuhi, yaitu kebahagiaan sempurna. Kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan terluka oleh dosa, dan di luar kemampuan alami kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Berpegang pada kekuatan kita sendiri, kita pasti gagal atau kehilangan makna. Secara emosional kita tidak stabil, kita menginginkan hal-hal untuk diri kita sendiri, dan kita saling menyakiti. Tidak heran, Uskup Fulton Sheen pernah berkata, “Pernikahan tidaklah sulit, hanya saja mustahil secara manusiawi. ”

Yesus mengingatkan kita bahwa pria dan wanita diciptakan untuk satu sama lain untuk menjadi “satu daging,” dan segera Yesus mengajarkan, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kita sering lupa bahwa yang menyatukan pria dan wanita adalah Allah Sendiri. Pernikahan dan keluarga adalah karya Allah, bukan hanya manusia. Tuhan menginginkan sukacita sejati bagi kita, dan ini dapat dicapai dengan paradoks kasih. Bukan dengan mengumpulkan hal-hal untuk diri sendiri tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesama. Pernikahan menjadi salah satu cara yang Tuhan rancang untuk mencapai pemberian diri ini. Suami memberikan dirinya sepenuhnya kepada istrinya, dan sang istri menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. Ketika mereka kehilangan diri, mereka mendapatkan segala yang tidak bisa mereka dapatkan secara manusiawi, yakni pertumbuhan yang otentik, kehidupan yang bermakna, dan kebahagiaan sejati. Dengan demikian, doa bersama menjadi cara yang sederhana namun berdaya untuk mengingatkan para suami-istri akan karya Allah ini di tengah-tengah mereka.

Romo Patrick Payton pernah berkata, “Keluarga yang berdoa bersama tetap bersama.” Doa yang dia maksudkan tidak lain adalah pendarasan rosario. Pada awalnya, kedengarannya hal ini biasa-biasa saja, tetapi saya dapat mengatakan ini memang doa yang kuat bagi keluarga. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya mengajari saya rosario, dan itu dalam konteks doa keluarga dan komunitas lingkungan. Saya percaya bahwa keluarga saya selamat dari banyak badai karena kami tidak lupa untuk berdoa bersama. Saya juga percaya banyak keluarga-keluarga, dan komunitas telah menaklukkan kesulitan dan tantangan karena mereka telah berdoa rosario dengan setia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amputasi

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [30 September 2018] Markus 9: 36-43, 45, 47-48

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah. (Mk. 9:43) ”

francis hearing confessionKetika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.

Dalam Injil hari ini, kata-kata Yesus sangat keras. Dia ingin orang yang menyebabkan orang lain berbuat dosa, dibuang ke laut. Dia ingin tangan dan kaki dipotong, dan mata tercungkil. Dia bahkan menggambarkan Gehenna dengan detail yang lebih jelas, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mk. 9:48).” Yesus kali ini tampaknya jauh berbeda dengan Yesus yang lembut dan penuh belas kasihan. Apa yang sedang terjadi? Apakah Yesus mempromosikan kekerasan? Apakah Yesus seorang penderita skizofrenia atau memiliki kepribadian ganda?

Tidak ada yang salah dengan Yesus. Namun, dia menjadi penuh semangat karena dia mengajar tentang hal yang serius dengan konsekuensi sangat berat. Ini tidak lain adalah dosa. Yesus tahu benar bahwa dosa merusak, dan seperti akar yang tumbuh, dosa merusak ke segala sisi. Dosa menghancurkan jiwa kita, sesama kita, lingkungan kita dan bahkan hubungan kudus kita dengan Tuhan. Apa yang lebih menyeramkan tentang dosa adalah dosa merusak hati nurani kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam bukunya ‘The Name of God is Mercy, Paus Fransiskus berbicara tentang efek dari korupsi dosa, “Korupsi jiwa bukanlah suatu tindakan tetapi suatu kondisi, keadaan pribadi dan sosial yang menjadi kebiasaan hidup… Orang yang korup selalu memiliki muka untuk mengatakan, ‘Bukan aku!’ … Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap Minggu tetapi tidak memiliki masalah menggunakan posisinya yang kuat untuk meminta suap … lalu dia memamerkan kepada teman-temannya tentang cara-cara liciknya tersebut.”

Seperti dalam kasus orang yang bergulat dengan diabetes dan memiliki gangren di jarinya, lebih baik baginya untuk mengamputasi jari untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dengan demikian, menyelamatkan organ lain, dan hidupnya. Demikian juga dengan dosa. Yesus memerintahkan kita untuk “mengamputasi” area-area dalam hidup kita yang dirusak oleh dosa, untuk menyelamatkan jiwa kita. Tapi, ini tidak mudah. Seperti beberapa pasien yang saya layani, mereka menolak menyerahkan bagian-bagian berharga dari tubuh mereka. Mereka menolak, marah dan frustrasi, dan mencoba tawar-menawar dengan dokter untuk menghindari amputasi. Dengan mentalitas yang sama, kita sering menyangkal bahwa kita memelihara sifat buruk kita. Kita menjadi marah ketika orang mengoreksi kita dan mengungkapkan dosa-dosa kita. Kita juga tawar-menawar dengan Tuhan untuk tetap menyimpan dosa-dosa favorit kita, dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi lebih baik dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Namun, ini tidak akan pernah berhasil. “Amputasi” radikal diperlukan untuk menyelamatkan jiwa kita yang sakit.

Namun, kabar baiknya adalah bahwa jiwa kita tidak seperti tubuh yang tidak akan mendapatkan kembali anggota badan yang hilang, jiwa kita bahkan akan tumbuh bahkan lebih kudus setelah “amputasi”. Hubungan antara orang lain akan dimurnikan, sikap kita terhadap lingkungan akan dipenuhi dengan perhatian dan belas kasihan, dan cinta kita kepada Tuhan akan diperdalam.

Apa dosa-dosa kita yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan? Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi? Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita? Apakah kita meminta rahmat Tuhan untuk mempersiapkan kita untuk sakramen pengakuan dosa?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP