Minggu ketiga Pra-Paskah [24 Maret 2019] Lukas 13:1-9
“Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:8)”
Biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga tahun bagi pohon ara untuk mencapai masa dewasa dan berbuah. Jika tidak menghasilkan buah pada saat ini, kemungkinan besar pohon ara tersebut tidak akan berbuah sama sekali. Tentunya, Sang pemilik memiliki hak untuk menebang pohon tersebut dan menanam pohon baru. Tetapi, melalui upaya sang tukang kebun, pohon ara diberi kesempatan baru. Seperti pohon ara, melalui upaya Sang Tukang Kebun kita, Adam yang baru di taman Eden yang abadi, Yesus Kristus, kita diberi kesempatan baru untuk berubah dan berbuah.
Namun, hal ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dalam kenyataan sehari-hari, perubahan bukanlah sesuatu yang instan seperti halnya menghapus kesalahan pada papan tulis. Perubahan yang sangat cepat dari orang jahat menjadi orang baik, dari penjahat menjadi pahlawan sangatlah jarang. Beberapa dari kita terperangkap dalam struktur atau sistem kedosaan yang membuat kita terus melakukan dosa dan kita tidak tahu bagaimana untuk keluar dari struktur tersebut. Beberapa sebenarnya adalah korban dari lingkaran setan kekerasan dalam keluarga kita atau masyarakat kita dan membuat kita cepat atau lambat menjadi pelaku, dan kita berdaya untuk menemukan jalan keluar dari lingkaran setan tersebut. Sangat sulit bagi seorang anak yang dibesarkan sebagai korban kekerasaan dalam ‘rumah tangga’ untuk tidak melakukan kekerasan terhadap saudara atau teman yang lebih lemah.
Suatu kali, saya mengunjungi fasilitas bagi para pemuda yang bermasalah dengan Hukum di General Santos City, Mindanao, Filipina. Saya bertemu seorang remaja, Joseph, bukan nama sebenarnya. Dia ditangkap karena ia mencopet. Dia mensharingkan kepada saya ceritanya bahwa dia tidak memiliki orang tua, dan dia dibesarkan dan hidup bersama dengan gerombolan pencopet. Para tetua dalam kelompok itu mengajarinya cara mencuri dan mencopet, dan setelah beberapa latihan, mencuri menjadi kebiasaannya, tidak hanya untuk mengambil uang, tetapi juga untuk menginginkan uang dengan mudah. Dia telah berada di fasilitas itu beberapa kali, dan setiap kali dia dibebaskan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali ke jalan hidup seperti itu. Namun, karena dia tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi ke luar fasilitas, dia sekali lagi mencuri sesuatu untuk mengisi perutnya yang lapar. Dan, sekali lagi dia ditangkap.
Lalu, apa artinya bertobat, apa artinya berubah? Apakah maknanya jika kita merayakan masa Pra-Paskah setiap tahun, namun tidak ada perubahan yang tampaknya terjadi? Kita kehilangan maknanya jika kita hanya berpikir bahwa masa Pra-Paskah hanya tentang perubahan yang instan.
Kisah kita adalah kisah tentang pohon ara yang berjuang untuk berbuah tetapi menemukan dirinya dalam kenyataan pahit keputusaasaan. Ini adalah kisah tentang seorang ‘Tukang Kebun’ yang menolak untuk menyerah pada pohon aranya yang tidak berbuah, cerita tentang Allah yang tidak pernah kehilangan harapan dalam kemanusiaan kita yang lemah. Musim Pra-Paskah berarti bahwa meskipun hidup kita tidak pernah sempurna dan bahkan penuh cacat, kita menolak untuk menyerah dan menjadi putus asa. Ini berarti kita mengambil keberanian untuk melawan keputusasaan bahkan ketika buah perubahan tampaknya tidak terlihat dalam kehidupan kita. Masa Pra-Paskah berarti kita selalu berharap bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan harapan dalam diri kita.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Suatu kali, saat saya mengajar kelas Alkitab, salah satu peserta bertanya kepada saya, “bagaimana Petrus dapat mengenali Musa adalah yang berdiri di samping Yesus saat Transfigurasi?” Itu adalah pertanyaan yang valid, namun saya pribadi tidak pernah memikirkan. Saya datang dengan beberapa kemungkinan jawaban. Mungkin, Musa muncul membawa dua loh batu Taurat. Mungkin, ketika Yesus berbicara dengan Musa dan Elia, Petrus dapat mengambil nama-nama itu. Mungkin, ilham ilahi menerangi pikiran Petrus tentang identitas Musa. Akhirnya, saya harus menjawab, “Ketika Anda pergi ke surga, jangan lupa untuk bertanya kepada Petrus dan Musa!”
Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].
Tiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.
Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.
Kita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.
Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”
Yesus membandingkan diri-Nya dengan nabi-nabi besar Israel, Elia dan Elisa. Tetapi, siapakah kedua nabi ini? Bagi banyak orang Katolik, kita tidak begitu mengenal kedua tokoh terkemuka ini dalam Perjanjian Lama ini, dan karena itu, kita sering tidak menghargai mengapa Yesus dengan sengaja menyebut nama mereka.
Sinagoga adalah tempat beribadah bagi orang Yahudi. Jantung dari peribadatan di sinagoga adalah pembacaan Alkitab Ibrani (yang kita sebut Perjanjian Lama) dan penjelasan bacaan-bacaan tersebut. Dalam Injil, kita belajar bahwa Yesus berdiri sebagai pewarta. Pertama, Dia berdiri dan membaca Kitab Suci, dan bagian yang dibaca adalah dari Nabi Yesaya. Kemudian, Dia duduk, yang adalah posisi guru. Orang-orang Yahudi di sinagoga ingin sekali mendengarkan Yesus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Yesus dari para guru Yahudi lainnya. Yesus tidak hanya menguraikan bacaan dari Yesaya, atau membuat komentar pada teks. Dia tidak hanya membahas makna bacaan, atau menjelaskan konteks teks. Ia menggenapi apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:14)
Maria yang pernah menjadi seorang pengantin dan mengerti detail pernikahan Yahudi dapat segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anggur habis! Dalam konteks Yahudi, anggur adalah unsur penting dalam setiap acara yang menggembirakan, karena anggur telah dijadikan oleh Allah untuk “membuat hati manusia gembira” (Mzm 104: 15). Kekurangan anggur dapat menyebabkan konsekuensi buruk. Itu adalah sumber rasa malu, dan bahkan pertikaian antar keluarga.