Renungan pada Minggu ke-8 pada Masa Biasa [3 Maret 2019] Lukas 6: 39-45
Tiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.
Di dunia kontemporer, “hati” umumnya melambangkan sumber kasih sayang, perasaan, dan cinta. Orang Filipina sangat senang dengan permainan bola basket, dan mereka memberikan dukungan terbaik mereka setiap kali tim nasional mereka bersaing di turnamen internasional. Seruan mereka bagi tim national mereka adalah “Laban! Puso! ”Secara harfiah diterjemahkan sebagai“ Berjuang dengan sepenuh hati! ”Tentunya, hati di sini mengacu pada hasrat yang membara untuk mengatasi tantangan besar di setiap pertandingan.
Ketika seorang wanita tidak yakin harus menerima atau tidak seorang pria menjadi kekasihnya, kita sering menasihatinya untuk mengikuti kata “hati”-nya. Ketika dia memiliki kekasih baru dan sedang jatuh “hati”, dia memanggilnya sebagainya sebagai “belahan hati”. Tapi, ketika dia tiba-tiba kehilangan kekasihnya karena pengkhianatan yang tak terduga, dia menderita “patah hati” yang sangat mendalam. Karena pengalaman traumatis ini, ia menolak untuk mencintai lagi, dan sekarang ia “berhati batu.”
Namun, kata “Hati” dalam Alkitab memiliki arti yang sedikit berbeda. Hati di dalam Alkitab bukan hanya sumber kehidupan emosional kita, tetapi juga pusat kekuatan hidup, dan kepribadian manusia. Ini juga merupakan tahta hati nurani manusia, akal budi dan kebebasan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik …” ini bukan hanya berarti bahwa orang tersebut memiliki perasaan-perasaan yang mendukungnya melakukan perbuatan baik. Ini berarti seseorang memiliki orientasi mendasar, sikap stabil dan karakter permanen untuk memilih dan berbuat baik, walaupun terkadang perasaannya tidak mendukungnya berbuat baik. Bagi Yesus, hati bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan.
Dalam Kitab Suci pembentukan hati berarti pembentukan manusia secara total. Yesus memahami bahwa kecuali kita memiliki karakter pria atau wanita yang baik, kita hanya melakukan sandiwara, dan menjadi orang munafik di hadapan orang lain.
Bagaimana kita akan membentuk hati kita? Yesus memberi kita petunjuk ketika Dia berkata, “dari kepenuhan hati, mulut berbicara.” Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang memenuhi hati kita? Apakah hal-hal yang jahat, atau hal yang baik dan suci?
Saat ini saya ditugaskan di General Santos City, Mindanao, Filipina, dan salah satu hal yang paling berkesan selama saya tinggal di sini adalah ketika saya mengunjungi dan merayakan misa bersama para narapidana wanita di penjara kota ini. Pada awalnya, saya ragu-ragu dan takut untuk berinteraksi dengan mereka karena saya menganggap mereka sebagai “criminal”. Ada pemikiran bahwa mereka adalah wanita-wanita dengan “hati yang jahat”. Kalo hati mereka baik, kenapa harus masuk penjara? Tapi, saya benar-benar salah. Ketika saya berdoa bersama mereka, saya menyaksikan para wanita berdoa dengan kepenuhan iman. Sesuatu hal yang saya jarang lihat di luar penjara. Saya juga berbicara dengan seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia telah berada di penjara selama lima tahun, dan karena sistem peradilan yang tidak efektif, persidangannya masih berlangsung, dan dia tidak tahu sampai kapan. Dia adalah ibu tunggal dengan lima anak. Dia kedapatan menggunakan narkoba, dan dia mengaku menggunakan narkoba karena ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras. Dia menangis ketika dia menceritakan kisahnya. Dan, saya bertanya kepadanya apa yang membuat dia bertahan dalam situasi yang mengerikan itu. Dia hanya menjawab, “Saya memiliki Tuhan di hati saya.”
Kita hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada Maria, tetapi apakah kita memiliki Allah di dalam hati kita? Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kita mengisi hati kita dengan hal-hal yang saleh? Apakah kita membiarkan Tuhan berkuasa di hati kita?
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.
Kita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.
Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”
Yesus membandingkan diri-Nya dengan nabi-nabi besar Israel, Elia dan Elisa. Tetapi, siapakah kedua nabi ini? Bagi banyak orang Katolik, kita tidak begitu mengenal kedua tokoh terkemuka ini dalam Perjanjian Lama ini, dan karena itu, kita sering tidak menghargai mengapa Yesus dengan sengaja menyebut nama mereka.
Sinagoga adalah tempat beribadah bagi orang Yahudi. Jantung dari peribadatan di sinagoga adalah pembacaan Alkitab Ibrani (yang kita sebut Perjanjian Lama) dan penjelasan bacaan-bacaan tersebut. Dalam Injil, kita belajar bahwa Yesus berdiri sebagai pewarta. Pertama, Dia berdiri dan membaca Kitab Suci, dan bagian yang dibaca adalah dari Nabi Yesaya. Kemudian, Dia duduk, yang adalah posisi guru. Orang-orang Yahudi di sinagoga ingin sekali mendengarkan Yesus. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Yesus dari para guru Yahudi lainnya. Yesus tidak hanya menguraikan bacaan dari Yesaya, atau membuat komentar pada teks. Dia tidak hanya membahas makna bacaan, atau menjelaskan konteks teks. Ia menggenapi apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:14)
Maria yang pernah menjadi seorang pengantin dan mengerti detail pernikahan Yahudi dapat segera merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anggur habis! Dalam konteks Yahudi, anggur adalah unsur penting dalam setiap acara yang menggembirakan, karena anggur telah dijadikan oleh Allah untuk “membuat hati manusia gembira” (Mzm 104: 15). Kekurangan anggur dapat menyebabkan konsekuensi buruk. Itu adalah sumber rasa malu, dan bahkan pertikaian antar keluarga.
Salah satu sukacita terbesar menjadi seorang diakon adalah saat membaptis bayi dan anak. Kegembiraan tidak hanya hadir dari menyentuh pipi dari bayi kecil yang imut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam. Sebenarnya, pengalaman saya dengan pembaptisan tidak selalu menyenangkan. Saya ingat saat baptisan pertama saya di Paroki Sto. Domingo, Metro Manila, ketika saya mulai menuangkan air ke dahi sang bayi, sang gadis kecil itu tiba-tiba menangis dengan keras. Saya menyadari air telah menyentuh mata bayi perempuan itu. Saya terkejut dan tak bergerak karena tidak tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Untungnya, sang orang tua mampu menangani situasi dengan baik. Ketika bayi kecil itu tenang kembali, saya meminta maaf dan melanjutkan perayaannya. Sungguh membuat trauma!
Pertanyaan ketiga yang diajukan Uskup Agung Socrates Villegas kepada saya saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu takut? Sama seperti dua pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ini juga berlawanan dengan intuisi dasar. Salah satu ungkapan favorit saya dalam Alkitab adalah “Jangan takut!” Dalam banyak kesempatan dalam Kitab Suci, pernyataan ini tidak hanya menyampaikan dorongan semangat, tetapi juga sebuah misi yang mengubah hidup. Ketika Abram menjadi tua dan tidak memiliki anak, dia ragu dengan janji Tuhan yang menjanjikan keturunan seperti bintang-bintang di langit, Allah berkata, “Jangan takut!” (Kej 15) Akhirnya, Abraham menjadi bapak dari bangsa-bangsa. Ketika Allah memanggil Yeremia untuk bernubuat kepada Yehuda, ia ragu dan beralasan bahwa usianya yang masih muda, tetapi Tuhan berkata, “Jangan takut!” (Yer 1:8) Lalu, Yeremia menjadi salah satu nabi terbesar Israel. Ketika Yusuf merasa dikhianati saat dia mengetahui Maria mengandung diluar nikah, namun dalam belas kasihannya, ia berencana untuk menceraikan Maria secara rahasia, malaikat pun berkata kepadanya, “Yusuf, anak Daud, jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” (Mat 1:20) Kemudian, Yusuf menjadi ayah angkat Putra Allah. Ketika Maria menerima Kabar Baik dari malaikat Gabriel, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Gabriel pun berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk. 1:30) Lalu, dia menjadi Bunda Allah.
Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja menempatkan Hari Raya Maria, Bunda Allah pada tanggal 1 Januari, atau pada Tahun Baru. Orang mungkin berpikir bahwa Gereja ingin kita menghadiri misa pada hari pertama tahun baru ini. Bagi mereka yang ingin memiliki liburan panjang, ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi bagi sebagian dari kita yang ingin diberkati sepanjang tahun, itu adalah ide yang bagus. Namun, pasti ada sesuatu yang lebih dalam mengapa tanggal 1 Januari.