Hukum yang Terutama

Minggu Biasa ke-30 [29 Oktober 2017] Matius 22: 34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37)”

greatest commandment

Apa itu cinta kasih? Jika kita bertanya kepada pasangan muda yang sedang jatuh cinta, cinta berarti lebih banyak waktu bersama dan terhubung online bahkan sampai larut malam. Bagi para imam muda, cinta kasih adalah mendengarkan pengakuan dosa dengan sabar selama berjam-jam. Bagi pasangan yang baru mendapatkan bayi mereka, cinta kasih bisa berarti siap menggantikan popok sang bayi bahkan di tengah malam. Cinta kasih adalah semangat, dedikasi dan pengorbanan.

Namun, cinta juga menjadi salah satu kata yang paling disalahgunakan dalam sejarah manusia. Atas nama cinta, seorang pemuda membawa kekasihnya kepada perbuatan yang tidak pantas. Demi cinta kepada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok etik lain dan membakar desa mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak yang mereka anggap musuh-musuh dari Tuhan mereka.

Anehnya, situasi ini tidak jauh berbeda dengan zaman Yesus. Demi cinta kepada Hukum Taurat, orang-orang Farisi mematuhi Hukum Taurat bahkan dalam segala aspek dalam kehidupan sehari-hari mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan bangsa mereka, orang-orang Zelot melawan dan bahkan membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang bekerja untuk penjajah. Demi cinta kepada Tuhan, kelompok Essen memisahkan diri dari dunia yang mereka anggap tidak lagi murni dan membangun komunitas eksklusif mereka sendiri di gurun. Demi cinta kepada Bait Suci, para imam bekerja keras untuk mempersembahkan korban setiap hari dan siap untuk mati bagi Bait Suci.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus apa hukum yang terbesar, ini bukan hanya tentang sekedar wacana teologis, tetapi ini akan mengungkapkan sikap fundamental Yesus terhadap Allah dan Hukum Yahudi. Apakah Yesus sama seperti orang Farisi yang lebih mengasihi Hukum daripada sesama, atau seperti orang Zelot yang mencintai bangsa mereka sampai mati, atau Yesus adalah lebih dari mereka? Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Pernahkah saya bertanya kepada seorang frater yang sedang belajar Hukum Kanonik atau Hukum Gereja, “apakah hukum tertinggi dalam Hukum Kanonik?” Dia segera menjawab, suprema lex, semua hukum berpedoman dan bermuara pada keselamatan jiwa-jiwa. Kode Hukum Kanonik berisi lebih dari 2 ribu ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan Gereja, dan semua ini tidak masuk akal jika bukan karena cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sekarang sebagai murid-murid Yesus, apakah cinta kita kepada Tuhan, doa dan perayaan-perayaan sakramen membawa kita lebih dekat ke sesama kita, untuk lebih berkomitmen dalam memperjuangkan keadilan, untuk lebih bertanggung jawab sebagai anggota keluarga dan masyarakat? Apakah cinta kita kepada sesama, kasih sayang bagi anak cucu kita dan teman-teman kita, semangat kita dalam pelayanan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pajak

Hari Minggu Biasa ke-29 [22 Oktober 2017] Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

ceasar coinBenjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Raja dan Citra Allah

Hari Minggu Biasa ke-28 [15 Oktober 2017] Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu!” (Mat 22:9)

king's banquetYesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rekan Kerja Allah

Minggu Biasa ke-27 [8 Oktober 2017] Matius 21: 33-43

 Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur…  (Mat 21:33)”

m20-mafaKebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.

Namun, ada cara lain untuk membaca perumpamaan ini. Selama tiga hari Minggu berturut-turut, kita mendengarkan perumpamaan yang menampilkan kebun anggur dan orang-orang yang terlibat dalam kebun anggur ini. Jika ada satu kesamaan dari ketiga perumpamaan tersebut, ini adalah hubungan yang sulit dan sering kali bermasalah antara pemilik kebun dan para pekerja.

Di Israel masa lalu, pemilik tanah yang besar mempekerjakan para buruh atau menyewakan tanah mereka kepada petani. Pada akhir hari, para pekerja menerima upah mereka, atau saat panen, penyewa mendapatkan bagian dari panen tersebut. Di sinilah situasi sering menjadi sangat sulit dan penuh konflik. Sang pemilik menginginkan keuntungan tertinggi dari tanah mereka, sementara para pekerja menginginkan penghasilan terbesar dari usaha mereka. sering kali, buruh tani Israel menerima upah yang kecil atau bagian yang sangat kecil dari panen. Dengan pendapatan yang sangat kecil, mereka masih harus membayar pajak yang tinggi kepada penjajah Romawi dan juga sumbangan ke Bait Allah. Apa yang tersisa hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarga mereka. Tentunya, pekerja yang tidak puas dan lapar sangat rentan terhadap aksi kekerasan terhadap sesama dan pemilik tanah. Namun, tidak semua pemilik lahan adalah buruk. Mereka yang baik akan memberi upah yang lebih dari cukup, namun mereka juga harus menghadapi masalah seperti beberapa pekerja yang cenderung malas, kasar terhadap rekan kerja, dan bahkan terlibat dalam pencurian panen.

Di zaman ini, kita tampaknya menghadapi masalah yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan pemilik modal, pekerja dan pekerjaan. Dengan jaringan dan komunikasi global, perusahaan Amerika dapat mempekerjakan tenaga kerja Filipina yang bekerja di Manila yang melayani pelanggan dari Eropa. Dengan mobilitas yang hampir tidak terbatas, jutaan pekerja dari Indonesia atau Filipina mencoba peruntungannya di negara-negara Timur Tengah. Dengan pengembangan teknologi otomasi, banyak kerja manual secara bertahap digantikan oleh robot. Semakin banyak orang lebih memilih untuk membeli barang atau layanan secara Online. Salah satu perdebatan terpanas yang sekarang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah penggunaan intelletualitas buatan (Artificial Intellegence) untuk memberi keputusan bagi kasus-kasus hak asasi manusia di Pengadilan Internasional.  Artificial Intellegence telah menjadi begitu canggih sehingga bisa memprediksi putusan hakim manusia. Kini, profesi manusia yang membutuhkan keahlian yang kompleks seperti hakim bahkan bisa digantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak profesi yang tren di masa lalu telah punah, dan banyak profesi baru pun bermunculan. Namun, terlepas dari kemajuan dan kompleksitas ini, kita tetap menghadapi masalah mendasar: apakah yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan memberikan apa yang diharapkan dan menerima  apa yang menjadi hak mereka?

Oleh karena itu, perumpamaan Yesus tidak hanya relevan untuk masa ini, tetapi juga terus menantang pemahaman mendasar tentang martabat kita sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya. Sebagai pekerja, apakah sikap kita di tempat kerja mencerminkan sikap yang baik para pengikut Yesus? Sebagai pemilik atau atasan, apakah kita mewujudkan keseimbangan antara keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya? Akhirnya, sebagai rekan kerja Tuhan, apakah kita bekerja untuk dunia yang lebih baik bagi kita dan generasi masa depan, atau kita hanya ingin mencapai kepentingan egois dan keserakahan kita?

(Catatan: hari ini adalah hari raya Bunda Maria Ratu Rosario La Naval de Manila, dan setiap pagi saya berdoa dihadapannya memohon inspirasi yang membimbing saya dalam menulis refleksi Mingguan ini. Semoga Sang Bunda terus membimbing dan menemani kita dalam perjalanan iman kita.)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Niat baik

Minggu Biasa ke-26 [1 Oktober 2017] Matius 21: 28-32

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (Mat 21:31)

working-landSt. Bernardus dari Clarivaux pernah berpendapat bahwa Jalan menuju neraka dibuat dengan niat baik. Ucapannya mungkin terdengar agak mengerikan, tapi dia berbicara sebuah kebenaran. Jika kita hanya memiliki niat baik atau rencana yang luar, tapi kita tidak pernah bergerak untuk memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa. Kita ingin fokus pada pendidikan kita, namun kita terus terganggu oleh status di Facebook, Online chat, atau menonton ribuan video di YouTube, maka kita tidak akan membuat kemajuan. Kita ingin menyelesaikan banyak pekerjaan di tempat kerja, tapi perhatian dan energi kita terkonsumsi oleh begitu banyak hal-hal lain. Maka, niat baik kita tetaplah sebuah niat.

Perumpamaan pada hari Minggu ini berbicara tentang niat baik yang sama sekali tidak berguna jika tidak terwujud dalam tindakan nyata. Namun, lebih dari sekedar mencapai produktivitas, perumpamaan tersebut mengajarkan kita sebuah kebenaran yang lebih primordial. Di akhir perumpamaan ini, Yesus bertanya kepada para penatua bangsa Yahudi, Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Perumpamaan ini mengajarkan kita tentang melakukan kehendak Bapa.

Dari kedua anak tersebut, kita belajar bahwa melakukan kehendak Tuhan bisa menjadi sangat sulit dan penuh tuntutan. Saya pernah menjalani program “live-in” dengan keluarga petani di Wonosari, Yogyakarta. Saya tinggal dengan keluarga yang menggarap tanah mereka yang kecil dan terkesan tandus. Setiap pagi, mereka pergi ke ladang dan memastikan tanaman mereka masih hidup. Tugas saya adalah membantu mereka di ladang. Namun, karena terbiasa dengan kehidupan seminari, saya hanya mampu bertahan selama satu jam bekerja di bawah terik matahari, dan kemudian hanya beristirahat sambil melihat keluarga ini bekerja sangat keras. Saya membayangkan bahwa kedua anak dalam perumpamaan ini mengetahui bekerja di kebun anggur tidaklah mudah, dan mereka tidak menyukai hal ini. Anak pertama segera menolak keinginan ayahnya, sementara anak kedua mengatakan ya, namun tidak jadi berangkat.

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa anak kedua berubah pikiran. Mungkin, dia tidak punya rencana untuk bekerja di sana, dan apa yang dia katakan adalah kebohongan belaka. Namun, saya cenderung percaya bahwa sebenarnya dia memiliki niat baik untuk memenuhi tugasnya, namun dia berkecil hati setelah membayangkan kesulitan yang akan dia hadapi di kebun anggur, dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Mungkin banyak dari kita yang seperti anak kedua ini. Kita ingin membantu lebih banyak Gereja kita, namun kita selalu terlambat menghadiri misa, mengeluh tentang homili pastor, dan tidak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan atau organisasi di paroki. Kita ingin memuliakan Tuhan, namun hidup kita tidak mencerminkan kehidupan seorang Kristiani yang baik karena kita menikmati gosip, iri dengan anggota Gereja lainnya, dan  pilih-pilih dalam pelayanan kita. Tak heran bagi beberapa orang, Gereja terasa seperti neraka!

Kita ingat bahwa kedua orang ini adalah anak dari pemilik kebun anggur dan dengan demikian, kebun anggur itu sejatinya adalah milik mereka. Jika mereka menolak bekerja, mereka akan kehilangan kebun anggur mereka. Keluarga petani tempat saya tinggal beberapa waktu, bekerja sangat keras meski mengalami banyak kesulitan. Saya menyadari bahwa semua ini mereka lakukan karena tanah mereka yang kecil memberi mereka kehidupan. Melakukan kehendak Tuhan sering kali penuh kesulitan, namun pada akhirnya, semua untuk kebaikan kita. Saya percaya tidak terlambat untuk mewujud nyatakan niat baik kita, dan dari anak kedua, kita bisa berubah menjadi anak pertama. Kita bekerja di kebun anggur Tuhan karena kebun anggur itu adalah milik kita juga.

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tidak layak, namun Terpanggil

Minggu Biasa ke-25 [24 September 2017] Matius 20: 1-16a

Kata mereka kepadanya, “Karena tidak ada orang mengupah kami”. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

francis-bruised-woundedYesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.

Rasa bingung dan mungkin ketidakpuasan ini lahir karena kita dapat dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan pekerja yang datang lebih awal dan bekerja sepanjang hari, mungkin di bawah panas matahari dan membawa beban berat. Banyak dari kita adalah pekerja yang bekerja keras selama 8 jam atau lebih di tempat kerja hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Atau beberapa dari kita adalah siswa yang harus belajar berjam-jam agar bisa lulus. Atau kita kita sangat aktif selama bertahun-tahun membantu di paroki. Tentunya, kita akan marah saat mengetahui bahwa beberapa pekerja dengan jam kerja atau produktivitas rendah, menerima gaji yang lebih tinggi dari kita. Sebagai pelajar, kita akan benar-benar kecewa saat mengetahui beberapa siswa yang malas mendapatkan nilai lebih tinggi dari kita. Kita kecewa saat tidak diperhatikan sementara mereka yang baru datang dipuji oleh Romo paroki Itu melanggar rasa keadilan kita.

Namun, apakah kita benar-benar harus mengidentifikasi diri kita dengan para pekerja yang bekerja sepanjang hari? Di mata Tuhan, kita semua mungkin seperti halnya orang-orang yang menganggur sepanjang hari, mungkin karena sebenarnya kita tidak layak mendapat pekerjaan. Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa yang tidak pantas. Paus Fransiskus bekerja keras untuk Gereja. Dalam kunjungannya ke Kolombia, saat dia menyapa umat di jalanan, dia terjatuh, bagian mata kirinya membentur mobil kepausan, dan alisnya pun mengeluarkan darah. Namun, alih-alih menghentikan aktivitasnya, dia melanjutkan. Setelah menerima perawatan medis yang cepat, dia tak berhenti menyapa umatnya. Meski sakit, ia menemui umat Tuhan bahkan dengan senyuman yang lebih cerah. Paus Fransiskus tampak seperti buruh yang bekerja keras. Namun, suatu ketika dia diwawancara dan dia diminta untuk menjelaskan dirinya dalam satu kata. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang berdosa! Jika Paus yang penuh kasih dan kudus ini menganggap dirinya berdosa, siapakah kita untuk berpikir bahwa kita adalah orang paling benar?

Terlalu fokus pada diri kita sendiri, kita sering tidak melihat apa yang sebenarnya sang pemilik kebun anggur lakukan di dalam perumpamaan ini. Dia berusaha untuk mencari pekerja, bukan hanya sekali, tapi empat kali. Ini bertentangan dengan logika bisnis. Mengapa kamu mempekerjakan lebih banyak jika kamu memiliki cukup banyak pekerja untuk hari ini? Mengapa kamu menghamburkan uang bagi mereka yang bekerja hanya selama satu jam? Ini adalah resep sempurna untuk kebangkrutan usahamu! Namun, inti perumpamaan ini bukanlah tentang bisnis dan keuntungan, tapi tentang mencari dengan tekun dan merangkul mereka yang tersesat dan hilang. Ini tentang kita orang berdosa, yang tidak layak untuk Dia, namun Tuhan tetap setia dalam mencari dan memanggil kita.

Sungguh sesuatu yang membahagiakan mengetahui bahwa kita adalah “orang-orang yang menganggur di jalanan”, tetapi Tuhan tetap ingin kita menjadi bagian dari keluarga-Nya. Sekarang, tugas kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan komitmen dan kasih bagi sesama. Seperti pekerja yang datang terakhir, kita hanya memiliki “satu jam”, dan sekarang saatnya untuk membuat yang terbaik bagi Dia yang telah sangat berbelaskasihan kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keadilan Tuhan dan Pengampunan

Minggu Biasa ke-24 [17 September 2017] Matius 18: 21-35

“Bergerak dengan belas kasihan tuan hamba itu membiarkannya pergi dan memaafkannya pinjaman. (Mat 18:27) “

unforgiving_servantMengapa sulit untuk memaafkan? Salah satu alasannya adalah bahwa setelah kita disakiti, reaksi kita adalah untuk mencari keadilan. Kita ingin apa rasa sakit yang kita alami juga dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya pada kita. Kita ingin “gigi ganti gigi, mata ganti mata”. Terkadang, termakan oleh kemarahan dan kebencian, usaha kita untuk mencari keadilan dapat dengan mudah berubah menjadi keinginan membalas dendam. Jika rasa keadilan berusaha untuk menyeimbangkan skala, balas dendam berusaha untuk memberi hukuman yang lebih besar, atau bahkan untuk menghancurkan orang-orang yang telah merugikan kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang semestinya, jika mereka tidak menerima apa yang layak mereka dapatkan, tidak ada pengampunan.

Meskipun terkadang bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam, kabar baiknya adalah bahwa rasa keadilan adalah sesuatu yang tertanam dalam setiap jiwa manusia. Rasa keadilan yang kita miliki adalah apa yang kita sebut keadilan manusia. Keadilan semacam ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari karena ini mendorong kita untuk menghargai perbuatan baik dan menghukum perbuatan salah. Jika kita bekerja keras untuk perusahaan kita, kita layak mendapatkan upah yang baik, tapi jika kita tidak melakukan pekerjaan kita, perusahaan memiliki hak untuk memecat kita. Jika kita belajar dengan giat, kita mengharapkan nilai bagus, tapi jika kita malas, jangan berharap kita berhasil. Jika kita membayar pajak, kita ingin pemerintah menyediakan layanan publik yang andal. Rasa keadilan ini mengatur kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita marah jika ada pelanggaran keadilan ini. Kita marah saat mengetahui rekan kerja kita yang tidak banyak bekerja, mendapat gaji yang sama. Meskipun saya tidak ingin fokus pada nilai, saya biasanya kesal mengetahui bahwa setelah mengerahkan banyak usaha, saya mendapat nilai yang lebih rendah daripada teman sekelas yang tidak belajar. Kita akan marah jika pajak kita masuk ke saku pejabat pemerintah yang korup dan tidak kompeten.

Dengan rasa keadilan ini, tidak ada tempat untuk pengampunan. Dengan demikian, usulan Petrus untuk mengampuni tujuh kali terdengar luar biasa. Namun, Yesus mengundang kita untuk memahami rasa keadilan yang berbeda, keadilan Tuhan. Keadilan manusia dimulai dengan kita, apa yang kita layak dapatkan, tapi keadilan Tuhan dimulai dengan Tuhan. Seperti raja dalam perumpamaan hari ini, dia menuntut hambanya untuk membayar hutangnya yang sangat besar. Ini adalah keadilan manusia. Namun, sang raja tahu bahwa dia begitu kaya sehingga pembayaran hutang hambanya tidak akan menambah banyak perbendaharaannya. Jadi, saat sang hamba memohon belas kasihan, raja bisa dengan mudah memaafkannya. Toh, ia tidak kehilangan apa-apa. Hutang sang hamba sekarang berubah menjadi kekayaannya, dan dari orang yang sangat miskin karena hutangnya yang besar, dia menjadi kaya secara instan. Si hamba kemudian diharapkan bisa melakukan keadilan yang sama seperti sang raja, dan juga memaafkan sesama hamba yang berutang padanya. Sayangnya, dia tetap diperintah oleh keadilan manusia dan bahkan termakan oleh dendam. Hal ini membawa malapetaka baginya.

Kita berutang kepada Tuhan segalanya, hidup kita, semua yang kita miliki, dan bahkan penebusan kita, namun segala yang kita lakukan tak akan sanggup untuk membayar-Nya atau menambah kemuliaan-Nya karena Dia itu sempurna. Dalam rahmat dan kesempurnaan-Nya, Tuhan mengampuni kita. Utang kita yang besar kepada Tuhan telah terhapus, dan faktanya, berubah menjadi kekayaan kita. Rahmat dan pengampunan tidak hanya mungkin tapi juga ciri keadilan Tuhan. Seperti sang hamba, kita harus mengampuni saudara dan saudari kita karena kita telah menjadi kaya karena keadilan-Nya. Kita memaafkan karena kita telah dimaafkan. Kita memaafkan karena kita kaya akan rahmat-Nya. Kita memaafkan karena keadilan Tuhan menuntutnya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Proses Rekonsiliasi

Minggu Biasa ke-23 [10 September 2017] Matius 18: 15-20

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. (Mat 18:15)”

bhfraternal-correctionYesus mengerti bahwa komunitas manusia, termasuk komunitas murid-murid-Nya sendiri, atau Gereja, akan selalu dipengaruhi oleh kelemahan manusia dan dosa. Bahkan di dalam komunitas yang berorientasi pada Kristus, seperti biara, paroki, dan berbagai pelayanan dan kelompok di Gereja, tak dapat dihindari bahwa kita saling menyakiti. Dengan demikian, Yesus menguraikan sebuah prosedur rekonsiliasi untuk mengatasi kesalahpahaman, pertengkaran, dan konflik. Ini dimulai dengan dialog pribadi atau empat mata, kemudian ketika hal itu tidak berhasil, kita meminta bantuan seorang saksi atau mediator, dan masih belum berhasil, kita naik ke tingkat komunitas.

Setiap tahap itu penting, tapi langkah pertama selalu krusial. Tahap pertama membutuhkan kerendahan hati untuk menerima kelemahan kita dan juga kebijaksanaan untuk mengungkapkan pesan rekonsiliasi dengan cara yang tepat. Namun, godaannya adalah bahwa kita tidak melakukannya dengan belas kasih atau meloncati langkah awal ini. Tanpa belas kasih, pertemuan empat mata akan runtuh atau bahkan berubah menjadi kekerasan. Sering kali juga, untuk menghindari konfrontasi langsung, kita langsung terjun ke langkah berikutnya. Daripada berbicara secara pribadi kepada sesama, kita mengekspos mereka ke publik. Entah kita berbicara di belakang mereka, bahkan menciptakan gosip, atau kita mempermalukan mereka di depan umum. Saya sendiri sedang bergulat dengan proses rekonsiliasi dan koreksi ini. Saya pribadi introvert, dan saya memiliki kecenderungan menyimpan banyak hal, dan menghindari konfrontasi langsung. Hal-hal mungkin tampak tenang, tapi saya tahu saya tidak menyelesaikan masalah.

Langkah pertama adalah fundamental karena bagaimanapun juga, kita semua adalah anggota komunitas yang sama, Gereja yang sama. Kita semua adalah anak-anak Allah, dan dengan demikian, kita adalah saudara. Sebagaimana Bapa kita di surga mengasihi kita, kita juga belajar untuk mengasihi sesama. Belas kasih berarti bersedia untuk berbicara dan mencoba memahami sisi mereka yang telah menyakiti kita. Sering kali, setelah disakiti, kita segara memiliki prasangka buruk yang memicu lebih banyak kemarahan dan dendam, tapi mungkin, mereka memiliki cerita yang perlu kita dengarkan. Sekali waktu dalam masa postulansi, saya merasa tidak nyaman dengan seorang frater yang blak-blakan dan sering mengkritik saya. Frater-frater lain juga memiliki sentimen yang sama. Sampai-sampai, beberapa frater menolak untuk berbicara dengannya lagi. Sampai suatu hari, kami mengadakan ‘sharing’, dan kami mulai mengetahui bahwa dia berasal dari keluarga disfungsional. Ayahnya meninggalkan keluarga, dan sebagai anak tertua, dia harus bekerja dan bertanggung jawab atas adik-adiknya. Dia memiliki kehidupan yang sulit dan dia harus tegas juga untuk mendisiplinkan adik-adiknya. Kamipun mulai mengerti mengapa dia juga tegas dengan kami yang tanpa sadar ia anggap sebagai adik-adiknya.

Biasanya, tahap rekonsiliasi berakhir dengan konflik diselesaikan oleh komunitas atau Gereja, namun sebenarnya Yesus menawarkan satu langkah terakhir. Kita perlu berdoa. Sebelum kita memulai seluruh proses, kita perlu berdoa. Saat kita membawa sesuatu kepada Tuhan dalam doa, kita tidak lagi dikendalikan oleh emosi, kita mulai melihat kebaikan orang lain, dan kita memiliki lebih banyak ketenangan untuk memaafkan. Di akhir proses, kita berdoa bersama dengan mereka yang telah menyakiti atau kita sakiti, untuk meminta pengampunan dan penyembuhan. Kita ingat bahwa ketika dua atau tiga orang, terutama mereka yang dalam konflik, berkumpul bersama dalam doa, Yesus ada di sana.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Musuh

Minggu ke-22 di Masa Biasa. 3 September 2017 [Matius 16: 21-27]

“Pergilah, Setan!” (Mat 16:23)

get behind me satanKita mendengar sebuah pertukaran kata-kata yang paling panas dalam Injil, dan ini tidak tanggung-tanggung karena melibatkan Yesus dan Simon Petrus. Sang Rasul menegur Yesus karena telah menyatakan kepada murid-murid bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ketiga. Sebaliknya, Yesus menegur Petrus dan memanggilnya “Setan”. Mengapa pertengkaran yang hebat ini terjadi antara Yesus, yang adalah Tuhan yang maha pengasih, dan muridnya yang terpuji, Simon yang baru saja dinyatakan sebagai batu karang Gereja?

Sebenarnya apa yang Petrus lakukan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Petrus mencintai Gurunya dan dia tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada Yesus. Sebagai teman, dia siap mencegah Yesus melakukan hal-hal konyol yang akan merugikan-Nya. Sering kali, kita bertindak seperti Petrus. Kita tidak setuju dengan teman baik kita yang ingin membantu anak-anak miskin di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sebagai orang tua, kita sering menolak permintaan anak-anak kita yang ingin masuk seminari atau biara karena kita melihat masa depan yang lebih cerah bagi mereka. Seorang provinsial Dominikan tidak mengizinkan seorang anggotanya untuk bekerja di PBB karena provinsinya masih sangat membutuhkan tenaga kerja.

 Ini adalah tendensi manusiawi Petrus untuk menjaga agar Yesus tetap selamat. Namun, mengapa Yesus perlu dengan keras menegur Petrus dan memanggilnya ‘Setan’? Dalam Alkitab, kata ‘Setan’ atau ‘Satanas’ memiliki beberapa arti. Pemahaman umum yang pertama adalah bahwa Setan adalah kepala roh jahat yang berperang melawan Tuhan dan manusia. Namun, ‘Setan’ juga bisa berarti pria, wanita atau entitas yang bertindak sebagai sang musuh. ‘Setan’ juga memainkan peran sebagai sang penuduh yang ganas. Secara harfiah, Petrus mungkin jatuh di bawah godaan Setan dalam menunda rencana Allah, tapi mungkin juga berarti bahwa Yesus telah menganggap Petrus bertindak seperti ‘Setan’, sang musuh yang menghambat misi Yesus, dan seseorang yang menuduh Yesus melakukan hal bodoh. Dengan mengikuti tendensi manusiawinya, Petrus telah menjadi oposisi terhadap rencana penyelamatan Allah.

Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita mulai bertindak sebagai sang musuh dari kehendak Tuhan? Seperti Simon Petrus, kita harus bergumul untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Mungkin, mendorong teman kita untuk bekerja dengan orang miskin adalah keputusan yang tepat. Mungkin, mengizinkan anak-anak kita untuk masuk seminari adalah pilihan terbaik. Mungkin, keputusan provinsial yang akhirnya mengizinkan seorang anggotanya bekerja di PBB adalah lebih baik. Kita tidak tahu dengan pasti, namun, Yesus memberi kita sebuah petunjuk. Ketika kita terlalu banyak bergantung pada kehidupan kita sendiri, dan terobsesi untuk memperoleh dunia hanya untuk diri kita sendiri, kita harus tahu bahwa kita telah menjadi ‘Setan’ terhadap cinta kasih Allah yang menyapa setiap manusia.

Ignatius dari Loyola dan Fransiskus Xavier adalah bagian dari Yesuit pertama. Keduanya berteman dekat sejak mereka bertemu di Paris saat mereka berbagi kamar, meja dan buku yang sama. Sebagai jenderal Serikat Yesus, Ignatius memiliki wewenang untuk menugaskan teman di tempat-tempat yang tidak jauh darinya, namun hal ini berarti membatasi panggilan Fransiskus untuk mengasihi. Ignatius akhirnya mengirim Fransiskus sebagai misionaris, dan mengizinkannya menyebarkan iman dan memperluas kasihnya kepada orang-orang di Timur. Fransiskus Xavier akan selalu diingat sebagai salah satu misionaris terbesar di Gereja. Pada saat kita menyangkal diri kita sendiri, keinginan egois kita, dan membawa salib kasih, kita dapat mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya dan bukan musuh-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Cerita

Minggu Biasa ke-21 [27 Agustus 2017] Matius 16:13-20

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16)”

happy chilrenYesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”

Namun, ada juga bentuk pewahyuan yang berbeda. Ini bukan sekedar ide instan, tapi sebuah pewahyuan yang melibatkan seluruh hidup Simon Petrus dan juga partisipasi aktifnya. Simon mampu merumuskan jawabannya karena Tuhan telah menuntunnya untuk bertemu dengan Yesus, dan Simon sendiri memutuskan untuk mengikuti-Nya dan hidup sebagai murid-Nya. Wahyu datang melalui proses panjang untuk mendengarkan, menyaksikan dan memahami sang guru. Simon Petrus melihat mukjizat Yesus. Dia mendengar ajaran Yesus. Dia merasakan belas kasih Yesus bagi orang miskin dan orang-orang yang menderita. Simon secara bertahap mengenali Yesus secara pribadi dan mendalam. Pengakuan Simon terlahir dari pengenalan dan persahabatan yang mendalam. Dia tahu kisah Yesus, dan pada saat yang tepat, dia siap untuk membagikan kisahnya tentang Yesus kepada sesama.

Ini tidak jauh dari pengalaman sehari-hari kita. Ketika kita berbicara kepada orang yang kita cintai atau sahabat dekat, kita tidak hanya memanggil mereka dengan nama biasa, tapi juga nama-nama yang dijiwai oleh cerita kita yang mendalam. Ibu saya memanggil saya “Bayu”, tapi saya tahu ini sangat berbeda dari orang asing yang memanggil nama saya. Sering kali, kita juga memiliki panggilan khas yang hanya orang-orang terdekat kita yang tahu. Nama-nama ini indah karena terlahir dari sebuah cerita mendalam. Sungguh, kemanusiaan kita terlahir karena kemampuan kita untuk mengumpulkan cerita kita bersama dan untuk membagikannya dengan percaya diri.

Oleh karena itu, ini adalah sebuah pelanggaran serius terhadap kemanusiaan kita saat kita tidak memperdulikan kisah-kisah hidup sesama, dan menamai mereka dengan kata-kata yang tidak pantas. Penolakan kita untuk mengenali cerita sesama sebenarnya adalah akar dari banyak diskriminasi, seperti rasisme, seksisme, dan fundamentalisme. Yang terburuk adalah saat kita menghapus semua nama dan cerita di baliknya. Victor Frankl, penulis buku “Man’s Search for Meaning” pernah menjadi narapidana di kamp-kamp Nazi. Dia meriwayatkan bagaimana para napi kehilangan nama mereka dan angka menjadi identitas mereka, seperti tahanan 1234, dan lambat laun mereka juga kehilangan kemanusiaan mereka, karena mereka diperlakukan, disiksa dan dieksekusi sebagai angka belaka.

Perang melawan narkoba di Filipina telah menjadi salah satu yang paling berdarah dalam sejarah Filipina. Ribuan orang terbunuh, baik tersangka, aparat penegak hukum, dan bahkan warga sipil yang tidak berdosa. Namun, banyak yang tidak peduli, “Ini hanya angka dan statistik.” Sampai Kian, seorang siswa remaja, dibunuh tanpa belas kasihan oleh petugas penegak hukum, dan kejadian yang terekam di kamera CCTV membangunkan hati nurani bangsa ini. Investigasi pun diadakan oleh DPR Filipina, dan orang tua Kian bertemu para terduga pembunuh putra mereka. Dalam pertemuan ini, orang tua menceritakan kisah Kian sebagai anak laki-laki biasa dan bercita-cita menjadi polisi. Kian mulai muncul menjadi manusia dengan kisah, harapan dan impiannya, bukan hanya sekedar angka tak berwajah yang bisa dihapus kapan saja. Dan, sang ibu mengakhiri kisahnya dengan mengatakan kepada para tersangka dalam bahasa tagalog, “Ama ka rin (Anda juga seorang ayah).” Ini bukan hanya ketukan bagi hati nurani mereka, tapi juga mengingatkan kita bahwa setiap kali kita gagal mendengarkan kisah sesama, kita gagal sebagai manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP