Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus [3 Juni 2018] Markus 14: 12-16, 22-26
“Ambil; inilah tubuhku ”(Markus 14:22)
Tubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.
Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.
Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.
Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.
Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.
Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?
Kita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.
Kita hidup di belahan dunia dimana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.
Jika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).


