Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan [25 Maret 2018] Markus 11: 1-10; Markus 14: 1—15: 47
“walaupun dalam rupa Allah…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2: 6-7)”

Kita merayakan Minggu Palma. Hari ini adalah satu-satunya perayaan liturgis di mana dua Injil yang berbeda dibacakan. Injil pertama, biasanya dibacakan di luar Gereja, adalah tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, dan Injil kedua menceritakan tentang sengsara dan wafatnya Yesus. Merenungkan pada dua bacaan ini, kita mendengarkan dua tema yang berbeda dan bahkan bertentangan, yakni tentang kemenangan dan kekalahan. Ini adalah dua tema dasar, tidak hanya dalam kehidupan Yesus, tetapi dalam kehidupan kita juga.
Yesus yang disambut saat Ia masuk ke Yerusalem melambangkan saat-saat kesuksesan dan sukacita kita. Itu adalah ketika kita meraih sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Ini adalah saat-saat ketika kita menyelesaikan sekolah kita, ketika kita mendapatkan pekerjaan baru, atau ketika kita menyambut kelahiran anggota keluarga terbaru. Ini adalah peristiwa “pasang” kehidupan. Sementara, kisah sengsara Yesus berbicara tentang saat-saat kekalahan dan kesedihan kita. Saat inilah kita mengalami kehilangan besar dalam hidup kita. Ada saat-saat seperti ketika kita gagal dalam ujian atau proyek yang menentukan, kita kehilangan pekerjaan kita, dan kita mengalami kematian dalam keluarga. Ini adalah peristiwa “surut” kehidupan. Melewati masa-masa pasang dan surut kehidupan, Yesus mengajarkan kita pelajaran berharga. Pada masa kemenangan, kita ditantang untuk tetap rendah hati dan bersyukur, seperti Yesus yang naik keledai. Di saat-saat kekalahan, kita diajak untuk dengan sabar menanggung saat-saat ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan, seperti Yesus yang merangkul salib-Nya.
Namun, ada sesuatu yang lebih dari ini. Jika kita membaca bacaan kedua dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2: 6-11), kita mendengarkan salah satu madah yang paling indah dalam Perjanjian Baru. Madah ini menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah tidak hanya memberi kita kesuksesan atau mengizinkan kita mengalami penderitaan, tetapi di dalam Yesus, Allah mengalami sendiri apa artinya menjadi sukses dan juga gagal. Ini menjadi titik perubahan radikal dari citra Allah sebagai Tuhan yang jauh, tapi tidak tersentuh. Dia juga bukan seperti boneka teddy bear yang dapat kita peluk saat kita sedih. Dia juga bukan piala yang kita pamerkan di saat kemenangan kita. Allah kita adalah satu dengan kita dalam semua pengalaman kita, baik sukacita maupun kesedihan, baik kemenangan maupun kekalahan.
Dalam Kitab Kejadian bab 3, kita membaca kisah pertama tentang kegagalan manusia. Adam dan Hawa ditipu oleh ular dan merekapun tidak taat kepada Tuhan. Memang benar bahwa mereka gagal, dan mereka harus meninggalkan Taman Eden. Namun, Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka. Tuhan membuatkan mereka pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka dan memberi mereka perlindungan. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang keras di luar Taman. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih luar biasa. Setelah Kejadian bab 3, kita tidak akan pernah membaca lagi tentang Taman Eden dan apa yang terjadi di dalam, melainkan kisah-kisah Adam, Hawa dan keturunan mereka. Mengapa? Karena Tuhan tidak memilih untuk tinggal di Taman Eden, dan memisahkan diri dari para manusia yang lemah, tetapi Dia mengikuti Adam dan Hawa dan berjalan bersama mereka. Dia menemani mereka, bergulat bersama, menangis bersama dan berbagi kebahagiaan mereka. Sungguh, Kitab Suci adalah buku tentang Tuhan dan umat-Nya.
Sata kita memasuki Pekan Suci, semoga kita menemukan waktu untuk merefleksikan: Bagaimana Tuhan menjadi bagian dalam pasang surut kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi teman berbagi bagi saudara-saudari dalam pasang surut kehidupan mereka? Apakah kita sungguh menemani Yesus di jalan salib dan kebangkitannya?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP





Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.
Rabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

