Hari Minggu Ketiga dalam Masa Prapaskah [4 Maret 2018] Yohanes 2: 13-23
“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. (Yoh 2:16).”

Kehadiran pedagang hewan dan penukar uang di Bait Allah Yerusalem berasal dari kebutuhan praktis. Ketika orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru Palestina datang ke Yerusalem, terutama pada hari-hari penting seperti Paskah, mereka akan memenuhi kewajiban religius mereka untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Karena tidak praktis membawa hewan kurban seperti lembu, anak domba, atau burung tekukur dari daerah asal mereka, orang-orang Yahudi lebih memilih solusi mudah dengan membelinya di sekitar Bait Allah. Ini tidak hanya menghemat usaha, tapi juga memberi jaminan bahwa binatang-binatang itu tidak bercacat seperti yang telah ditentukan oleh Hukum Musa. Oleh karena itu, banyak penjual yang memiliki otorisasi dari para tetua Bait Allah bahwa hewan mereka tidak bercacat dan siap dikorbankan. Orang-orang Yahudi juga diminta untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah dan para imam melalui “pajak Bait Allah.” Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk membayar pajak Bait Allah dengan uang Romawi karena uang ini memiliki citra Kaisar sebagai dewa, sebuah penghujatan. Dengan demikian, mereka perlu menukar uang mereka dengan mata uang yang lebih dapat diterima. Ini adalah semacam “win-win solution” bagi para peziarah, para pedagang, penukar uang dan otoritas Bait Allah. Kita bisa membayangkan bahwa dengan begitu banyak orang yang mengunjungi Bait Allah, pergerakan uang, komoditas dan usaha sangat cepat dan dalam volume besar.
Ketika Yesus datang dan mengusir mereka semua keluar dari Bait Allah, pastinya Yesus membuat tidak senang hampir semua orang. Yesus mengatakan alasan di balik tindakannya, “orang-orang Yahudi telah menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai pasar.” Fungsi inti dari Bait Allah Yerusalem adalah sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umat pilihannya, antara Allah Bapa dan anak-anak-Nya. Namun dengan begitu banyak aktivitas, perdagangan, dan kebisingan, esensi Bait Allah ini hilang. Bait Allah berarti bisnis manusia biasa. Para imam mengesahkan hewan korban untuk para pedagang, para pedagang menjualnya kepada peziarah, dan para peziarah memberi hewan itu kepada para imam untuk disembelih. Semua senang!
Yesus datang dan mematahkan lingkaran setan “normalitas” yang membuat kegiatan ibadat di Bait Allah dangkal. Yesus mengkritik struktur yang mengeksploitasi Bait Allah hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pendangkalan sebuah peribadahan kudus. Ini semua membuat rumah Allah menjadi pasar.
Di masa Prapaskah ini, kita bisa bertanya, jikalau Yesus datang ke Gereja, keuskupan, paroki, kongregasi, kelompok, dan bahkan keluarga kita, apa yang akan Yesus lakukan? Akankah Dia mengusir kita keluar seperti Dia mengusir para pedagang dari Bait Allah? Atau, apakah Dia akan membuat rumah-Nya di antara kita? Benar bahwa uang dan sumber daya lain adalah penting dalam membantu pertumbuhan Gereja kita, tetapi apakah kita menjadikan Gereja sebagai lembaga yang ‘profitabel’? Benar bahwa struktur kepemimpinan sangat penting dalam Gereja dan kelompok kita yang lebih kecil, tetapi apakah kita diberdayakan untuk melayani orang lain, atau sekedar mengeksploitasi orang lain? Apakah kita menemukan kedamaian dan sukacita dalam komunitas kita, atau apakah ini penuh dengan intrik, gosip, kompetisi yang tidak sehat? Apakah kita menjumpai Tuhan di Gereja kita, atau hanya menemukan diri kita sendiri? Kita bersyukur jika kita menemukan Tuhan, Bapa kita, di dalam Gereja dan komunitas kita, tetapi jika tidak, sebaiknya kita memanggil Yesus untuk mengusir kita dari rumah Bapa-Nya.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.
Rabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.




Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.