Pasar

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Prapaskah [4 Maret 2018] Yohanes 2: 13-23

“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. (Yoh 2:16).”

vendors
foto oleh Harry Setianto SJ

Kehadiran pedagang hewan dan penukar uang di Bait Allah Yerusalem berasal dari kebutuhan praktis. Ketika orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru Palestina datang ke Yerusalem, terutama pada hari-hari penting seperti Paskah, mereka akan memenuhi kewajiban religius mereka untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Karena tidak praktis membawa hewan kurban seperti lembu, anak domba, atau burung tekukur dari daerah asal mereka, orang-orang Yahudi lebih memilih solusi mudah dengan membelinya di sekitar Bait Allah. Ini tidak hanya menghemat usaha, tapi juga memberi jaminan bahwa binatang-binatang itu tidak bercacat seperti yang telah ditentukan oleh Hukum Musa. Oleh karena itu, banyak penjual yang memiliki otorisasi dari para tetua Bait Allah bahwa hewan mereka tidak bercacat dan siap dikorbankan. Orang-orang Yahudi juga diminta untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah dan para imam melalui “pajak Bait Allah.” Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk membayar pajak Bait Allah dengan uang Romawi karena uang ini memiliki citra Kaisar sebagai dewa, sebuah penghujatan. Dengan demikian, mereka perlu menukar uang mereka dengan mata uang yang lebih dapat diterima. Ini adalah semacam “win-win solution” bagi para peziarah, para pedagang, penukar uang dan otoritas Bait Allah. Kita bisa membayangkan bahwa dengan begitu banyak orang yang mengunjungi Bait Allah, pergerakan uang, komoditas dan usaha sangat cepat dan dalam volume besar.

 

Ketika Yesus datang dan mengusir mereka semua keluar dari Bait Allah, pastinya Yesus membuat tidak senang hampir semua orang. Yesus mengatakan alasan di balik tindakannya, “orang-orang Yahudi telah menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai pasar.” Fungsi inti dari Bait Allah Yerusalem adalah sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umat pilihannya, antara Allah Bapa dan anak-anak-Nya. Namun dengan begitu banyak aktivitas, perdagangan, dan kebisingan, esensi Bait Allah ini hilang. Bait Allah berarti bisnis manusia biasa. Para imam mengesahkan hewan korban untuk para pedagang, para pedagang menjualnya kepada peziarah, dan para peziarah memberi hewan itu kepada para imam untuk disembelih. Semua senang!

Yesus datang dan mematahkan lingkaran setan “normalitas” yang membuat kegiatan ibadat di Bait Allah dangkal. Yesus mengkritik struktur yang mengeksploitasi Bait Allah hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pendangkalan sebuah peribadahan kudus. Ini semua membuat rumah Allah menjadi pasar.

Di masa Prapaskah ini, kita bisa bertanya, jikalau Yesus datang ke Gereja, keuskupan, paroki, kongregasi, kelompok, dan bahkan keluarga kita, apa yang akan Yesus lakukan? Akankah Dia mengusir kita keluar seperti Dia mengusir para pedagang dari Bait Allah? Atau, apakah Dia akan membuat rumah-Nya di antara kita? Benar bahwa uang dan sumber daya lain adalah penting dalam membantu pertumbuhan Gereja kita, tetapi apakah kita menjadikan Gereja sebagai lembaga yang ‘profitabel’? Benar bahwa struktur kepemimpinan sangat penting dalam Gereja dan kelompok kita yang lebih kecil, tetapi apakah kita diberdayakan untuk melayani orang lain, atau sekedar mengeksploitasi orang lain? Apakah kita menemukan kedamaian dan sukacita dalam komunitas kita, atau apakah ini penuh dengan intrik, gosip, kompetisi yang tidak sehat? Apakah kita menjumpai Tuhan di Gereja kita, atau hanya menemukan diri kita sendiri? Kita bersyukur jika kita menemukan Tuhan, Bapa kita, di dalam Gereja dan komunitas kita, tetapi jika tidak, sebaiknya kita memanggil Yesus untuk mengusir kita dari rumah Bapa-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus, Musa, dan Elia

Minggu Kedua Prapaskah [25 Februari 2018] Markus 9: 2-10

Lalu Elia menampakkan diri kepada mereka bersama dengan Musa, dan mereka bercakap-cakap dengan Yesus. (Mrk 9: 4)

prayer
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita memasuki hari Minggu kedua dalam masa Prapaskah, dan kita membaca dari Injil bahwa Yesus diubah rupa di hadapan ketiga murid-Nya di atas gunung. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Musim ini dikaitkan dengan suasana pertobatan dan mati raga, dan kitapun diajak untuk mengintensifkan doa, puasa, dan pantangan. Namun, kita memiliki bacaan yang menggambarkan kemuliaan Yesus di bumi, dan ini pastinya membawa pengalaman yang sangat meneguhkan bagi ketiga murid tersebut. Rasanya bacaan ini tidak begitu tepat untuk masa Prapaskah ini. Benarkah demikian?

 

Ketika Yesus berubah rupa, dua tokoh besar Israel, Musa, dan Elia datang dan berbicara dengan Yesus. Dua tokoh tersebut mewakili dua pilar dasar kehidupan religius Israel: Hukum dan Nabi. Namun, melihat dari dekat kisah orang-orang hebat ini, kita mungkin menemukan beberapa fakta menarik. Musa melihat semak duri yang terbakar di Gunung Horeb dan menerima nama suci Allah Israel (Kel 3). Dia juga berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum Taurat dari Allah di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia sendiri berpuasa ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19:8). Keduanya mendaki gunung untuk berjumpa Tuhan dan menerima misi mereka di sana. Seperti mereka, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun dan naik ke gunung untuk mendengarkan suara yang menguatkan dari Bapa-Nya.

Namun, gunung kudus tidak hanya membawa mereka ke pertemuan bahagia dengan Yang Ilahi, namun juga mengungkapkan misi yang mengubah hidup mereka. Di Horeb, Musa menerima tugas untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai akibatnya, dia harus berurusan dengan Firaun yang kejam dan keras kepala. Tidak hanya dengan Firaun, tapi Musa juga harus bersabar dengan bangsanya sendiri, Israel yang terus mengeluh dan menyalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Elia menerima tugas untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Turun ke gunung juga berarti Elia sekali lagi berurusan dengan Ahab, raja Israel, dan ratunya, Izebel yang penuh dendam dan kejam. Sewaktu Yesus meninggalkan gunung, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati di kayu salib. Dari gunung transfigurasi, Yesus memulai jalan salib-Nya yang panjang, dan berjalan menuju gunung berikutnya, Kalvari.

Dengan Injil hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa transfigurasi berhubungan erat dengan sengsara dan kebangkitan Yesus. Jadi, tidak salah jika bacaan ini di tempatkan dalam konteks Prapaskah. Seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kita juga memiliki momen-momen transfigurasi kita. Di situlah kita berjumpa Tuhan, dan kehadiran-Nya memenuhi kita dengan sukacita. Seorang sahabat menceritakan pengalamannya tentang kedamaian yang tak terduga saat dia mengunjungi Sakramen Mahakudus. Dia sering mengunjungi Kapel Adorasi, namun baru pada hari itu, dia bertemu dengan Tuhan yang sangat hidup di dalam hatinya. Itu adalah hari ketika dia kehilangan pekerjaannya, bertengkar hebat dengan istrinya, dan ayahnya sakit serius. Meskipun ia ingin bertahan selamanya dalam pengalaman damai itu, ia kemudian menyadari bahwa ia harus kembali ke kehidupannya dan bergulat dengan masalah-masalah di depannya. Dia memiliki sebuah misi, dan dia harus meneruskan jalan salibnya. Kita memiliki transfigurasi kita sendiri dan membiarkan momen berharga ini memberdayakan kita untuk membawa salib kita sehari-hari.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Puasa

Minggu Prapaskah Pertama [18 Februari 2018] Markus 1:12-15

Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya…(Mk. 1:12-13)”

500_F_138662338_rWVIfNLHprXXXdLiA005tfrq4pjBLxU3Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.

Kita menahan diri untuk mengkonsumsi makanan dan air dalam jangka waktu tertentu karena berbagai alasan dan motif. Beberapa orang berpuasa untuk menundukkan keinginan daging dan mendisiplinkan diri. Beberapa orang berpuasa karena melihatnya sebagai cara untuk mencapai kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa yang lain berpuasa untuk mencapai hidup sehat dan seimbang. Sedangkan yang lain diminta untuk berpuasa sebagai persyaratan medis atau tes kesehatan. Saya ingat seorang teman dokter mengharuskan saya untuk berpuasa selama 6 sampai 8 jam sebelum darah saya diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Kita sekali lagi memasuki masa Prapaskah, dan Gereja menginstruksikan kita untuk berpuasa, berpantang, dan mengintensifkan doa kita. Namun, dibandingkan tradisi-tradisi lainnya, puasa kita sebenarnya sangat ringan. Kita hanya diwajibkan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dua hari saja dalam setahun! Cara kita berpuasa juga tidak terlalu sulit itu. Kita berpuasa dengan hanya makan sekali kenyang dalam sehari. Namun, pernah kita bertanya, mengapa kita, orang-orang Kristiani, harus berpuasa? Mengapa Gereja ingin kita mengikatkan diri pada praktik kuno ini?

Salah satu alasannya adalah kita mengikuti teladan para nabi besar kita. Musa berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum dari Tuhan di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia berpuasa dari makanan ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19: 8). Akhirnya, Yesus sendiri pergi ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari sebelum Ia memulai misi-Nya. Mengapa para nabi besar ini dan Yesus sendiri berpuasa? Jika kita memperhatikan dengan seksama, Musa dan Elia berpuasa karena mereka mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan. Seperti mereka, puasa kita terkait secara fundamental dengan perjalanan kita menuju Tuhan. Seringkali kita sangat bangga dengan diri kita sendiri, merasa mandiri karena kita telah mencapai dan mengumpulkan banyak hal dalam hidup kita. Puasa membuat kita lapar dan lemah, dan sekali lagi kita diingatkan akan kerentanan dan kefanaan kita sebagai manusia. Ketika kita merasa tidak berdaya, inilah juga saat ketika kita diajak menyadari ketergantungan radikal kita terhadap Tuhan, yang adalah kekuatan sejati kita. Sungguh, menjadi seorang manusia yang sejati adalah menjadi manusia yang benar-benar terhubung dengan Tuhan, sumber kemanusiaan dan kehidupan kita. Puasa menjadi sarana yang baik untuk memurnikan hati kita untuk melihat Tuhan karena hanya ‘hati yang murni bisa melihat Tuhan.”

Kita juga mengamati bahwa Musa, Elia, dan Yesus berpuasa sesaat sebelum mereka memulai misi besar mereka. Musa menerima hukum Taurat dan mengajarkannya kepada bangsa Israel. Elia diutus untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Yesus akan memulai pelayanan-Nya yang akan membawa-Nya ke kayu salib, sengsara, wafat, dan juga kebangkitan-Nya. Seperti halnya mereka, puasa kita mempersiapkan kita untuk misi sejati kita sebagai orang Kristiani. Seringkali, kita sibuk dengan banyak hal, dan puasa membantu kita untuk mengarahkan dan memfokuskan kembali diri kita pada misi yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan waktu kita yang terbatas di bumi ini, apa hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita? Dengan tubuh fana kita, sudahkah kita memberi cukup waktu dan usaha untuk misi kita? Apakah puasa kita membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan misi kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Abu

Rabu Abu 2018 [14 Februari 2018] Matius 6: 1-6, 16-18

pope francis ashesRabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

Mengapa  harus abu? Apakah ini sesuai dengan Kitab Suci? Dalam Alkitab, abu (atau debu) melambangkan kemanusiaan kita yang fana dan rapuh. Kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu bumi (Kej 2:7). Dan, ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan mengingatkan kembali Adam akan kemanusiaannya yang fana, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3:19).” Karena dosa, kematian masuk ke dalam hidup manusia, dan membawa Adam dan semua keturunannya kembali ke tanah. Jadi, ketika seorang imam menandai dahi kita dengan abu, kita diingatkan tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita adalah manusia, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, terlepas dari segala kesuksesan dan keberhasilan, kita akan mati dan kembali ke bumi.

Abu juga merupakan tanda kerendahan hati dan pertobatan. Setelah Yunus bernubuat, orang-orang Niniwe kemudian bertobat, dan sebagai bentuk pertobatan, mereka memakai kain kabung dan duduk di atas abu (Yun 3: 5-6). Di bawah pimpinan Nehemia, warga Yerusalem berkumpul dan meminta pengampunan dari Tuhan. Mereka semua berkumpul “sambil berpuasa dan memakai kain kabung, kepala mereka tertutup debu (Neh 9: 1).” Hal ini menjelaskan mengapa imam mengatakan, “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” saat menandai kita dengan abu. Sama seperti bangsa Israel di masa lalu, abu ini adalah tanda dan ajakan bagi kita untuk mengubah hidup kita dan memohon belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Salib abu adalah tanda kemanusiaan kita yang terbatas. Namun, abu ini juga adalah simbol kekuatan sejati dan sukacita kita. Ketika kita menyadari dan mengakui bahwa kita hannyalah abu di tangan Tuhan, inilah juga saat kita menjadi sekali lagi benar-benar hidup. Salib abu berubah menjadi momen penciptaan kembali bagi kita. Sama halnya seperti Tuhan yang menghembuskan roh-Nya pada manusia pertama yang terbuat dari debu, Tuhan juga menghembuskan rahmat-Nya kepada kita yang mengakui bahwa kita adalah debu, bahwa kita tidak berdaya tanpa Dia. Dengan rahmat-Nya, kita menjadi benar-benar hidup karena kita sekarang mengambil bagian dalam hidup Tuhan. St. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20).” Debu menjadi sebuah paradoks kepenuhan hidup.

Terkadang, abu membawa kita pada suasana sedih dan suram karena kita mulai menyadari dosa dan kelemahan kita. Karena kita menjalankan pantang dan puasa pada hari ini, kita juga merasa lapar dan lesu. Namun, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Salib abu yang sejati harus membawa kita kepada Injil, yang adalah Kabar Baik. Saat kita bertobat, kita menghapus semua hal yang membebankan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Kita menjadi sekali lagi ringan dan energetik. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, yang adalah sumber kehidupan, kita tidak bisa tidak menjadi hidup dan penuh dengan sukacita. Ini adalah abu yang membawa kita kepada Injil, sukacita Injil. Ini adalah Kabar Baik karena kita sekarang telah diselamatkan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kusta

Minggu di Biasa ke-6 [11 Februari 2018] Markus 1: 40-45

“Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir. (Mrk 1:41)”

touch the mother
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Salah satu karunia terbesar yang dimiliki manusia adalah sebuah sentuhan. Kita diciptakan sebagai makhluk bertubuh, dan ilmu biologi mengajarkan bahwa hampir semua permukaan tubuh kita dipenuhi oleh sistem saraf untuk menerima stimulan eksternal melalui kontak sentuh, seperti kehangatan dan rasa sakit. Ini adalah langkah pertama dalam mekanisme kelangsungan hidup kita karena ini membantu kita untuk mengidentifikasi bahaya atau ancaman yang mendekat. Namun, ini juga adalah langkah pertama dalam pertumbuhan autentik kita sebagai manusia. Seorang bayi akan merasa dicintai saat dipeluk oleh orang tuanya. Seorang balita yang belajar berjalan akan merasakan bimbingan dan keamanan saat ayahnya memegang tangannya. Bahkan orang dewasa pun butuh kenyamanan dan kehangatan dari keluarganya.

 

Di dalam Kitab Suci, jika ada satu hal yang menghancurkan karunia sentuhan ini, ini adalah kusta. Kusta atau yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyebabkan kerusakan kulit dan saraf di sekitar tubuh. Cedera terbesar yang ditimbulkan penyakit ini adalah seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan stimulan eksternal seperti rasa sakit. Sebagai konsekuensinya, penderita kusta secara berangsur-angsur kehilangan anggota tubuhnya seperti jari, rambut, hidung, lengan, dan kakinya karena luka berulang yang tidak terdeteksi atau luka yang tidak diobati.

Namun, yang paling menyedihkan mengenai penyakit ini adalah stigma yang diterima orang kusta dari komunitas mereka. Pada zaman Yesus, orang kusta diusir dari komunitas mereka karena orang takut untuk tertular penyakit ini. Bahkan, orang menganggap kusta sebagai hukuman Tuhan (lihat 2 Taw 26:20). Karena itu, penderita kusta tidak hanya sakit secara biologis tapi secara ritual adalah najis, artinya dia tidak dapat beribadah dan menyembah Tuhan karena dia dilarang masuk ke rumah ibadat atau ke Bait Allah (lihat Im 13). Dia harus seru “najis, najis!” untuk mengingatkan orang-orang di dekatnya tidak menyentuhnya, jika tidak, orang tersebut mungkin menjadi najis juga. Seseorang dengan kusta tidak hanya kehilangan karunia sentuhan dari tubuhnya, tapi juga dari komunitasnya dan Tuhannya. Tak heran, kusta adalah penyakit yang paling ditakuti masyarakat Israel kuno.

Dengan latar belakang ini, kita dapat sepenuhnya menghargai apa yang Yesus lakukan terhadap orang kusta. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Yesus tidak hanya menghadapi risiko tertular penyakit ini, namun Yesus bisa menjadi najis. Namun, Yesus bersikukuh karena Dia tahu bahwa karunia sentuhan adalah apa yang paling dibutuhkan manusia. Sungguh, sentuhan Yesus membawa penyembuhan dan mengembalikan karunia sentuhan yang hilang. Penderita kusta itu sekali lagi bisa merasakan kebaikan hidup, bisa masuk kembali ke komunitasnya, dan bisa menyembah Tuhannya.

Saat kita memanggil Yesus sebagai juru penyelamat, ini berarti bahwa dengan mengorbankan diri-Nya, Yesus membangun kembali hubungan yang hilang antara kita dan diri kita sendiri, antara kita dan sesama kita, dan di antara kita dan Allah. Bagaimana Yesus melakukannya? Dengan karunia sentuhan. Allah kita adalah roh, tapi Allah kita tidaklah abstrak. Dia menjadi daging sehingga kita bisa merasakan kasih-Nya secara total, yakni sentuhan-Nya. Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih nyata Allah ini dengan memperluas sentuhan Allah ini kepada sesama. Apakah kita berani menyentuh orang-orang yang menderita kusta modern, seperti kemiskinan? Apakah kita rela memulihkan hubungan yang telah rusak dalam hidup kita? Apakah kita mau menyentuh orang-orang yang juah dari Gereja dan membawa mereka kembali kepada Tuhan? Apakah kita berani menjadi sarana kasih dan sentuhan Allah dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Sentuhan

Minggu di Biasa ke-5 [4 Februari 2018] Markus 1: 29-39

“Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. (Mrk 1:31) “

touch the sick
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kisah mukjizat penyembuhan Yesus yang pertama, dan orang pertama yang disembuhkan Yesus adalah seorang perempuan, ibu mertua Petrus. Perhatikan juga tiga tindakan Yesus terhadap wanita ini: mendekati, mengangkat tangannya, dan membangunkan dia. Ketiga tindakan ini sangat simbolis bukan hanya karena mereka membawa penyembuhan, tetapi juga melalui tindakan ini, Yesus memberdayakan perempuan tersebut untuk berdiri di atas kakinya dan melayani (Diakonia). Setelah malaikat melayani Yesus di padang gurun (Mrk 1:13), manusia pertama yang melayani Yesus adalah seorang wanita dan ibu.

Kita sebagai manusia, memiliki indra perasa sebagai yang paling mendasar bagi kita. Mata kita perlu bersentuhan dengan partikel cahaya untuk bisa melihat, telinga kita perlu menerima gelombang suara untuk mendengar, tetapi seluruh tubuh kita diselimuti oleh jaringan saraf yang berfungsi untuk mengenali informasi dasar seperti suhu, rasa sakit, dan tekanan. Ini dirancang dengan indah bagi kita bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk menjalani hidup secara sepenuhnya. Dengan demikian, sentuhan atau kontak fisik sangat mendasar bagi kehidupan dan relasi kita sebagai manusia.

Kita belajar keutamaan-keutamaan dasar pertama dan keindahan hidup melalui sentuhan. Sebagai bayi, kita dipeluk oleh orang tua kita; kitapun mulai tumbuh dalam kenyamanan, keamanan, dan cinta. Namun, sentuhan tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak, tapi juga oleh pria dan wanita dewasa. Seorang frater kami yang sedang melakukan pelayanan di salah satu rumah sakit di Manila pernah dinasihati oleh seniornya bahwa orang dewasa setidaknya membutuhkan satu pelukan berkualitas setiap hari. Dia mungkin tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi ketika ia secara fisik hadir untuk pasien, dia akan membawa harapan dan kenyamanan. Kita berjabat tangan sebagai ungkapan saling percaya dengan satu sama lain, kita memberi ciuman sebagai tanda kasih, dan bahkan dalam olahraga dan permainan yang memerlukan kontak fisik, kita menumbuhkan rasa persahabatan dan persaudaraan kita.

Sayangnya, karena dosa dan kelemahan kita, kita mengubah karunia sentuhan ini menjadi alat penghancur kemanusiaan kita. Banyak saudara dan saudari kita menjadi korban sentuhan tidak manusiawi ini. Banyak perempuan dan anak-anak menerima pelecehan fisik dan seksual bahkan di dalam rumah dan keluarga mereka sendiri. Banyak juga yang terjerat dalam prostitusi, perbudakan modern, dan pekerja anak. Anak kecil, alih-alih pergi ke sekolah dan menerima pelukan dari orang tua mereka, memegang senjata untuk membunuh anak-anak lainnya. Perempuan muda, alih-alih menyelesaikan pendidikan mereka dan menikmati masa muda, harus menjajakan tubuh mereka untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Laki-laki muda, alih-alih bekerja dan menjadi ayah yang baik, bergulat dengan kecanduan obat-obatan untuk mengatasi depresi disebabkan oleh kemiskinan.

Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuatnya sentuhan kita dan Dia mengundang kita untuk merebut kembali kekuatan ini untuk membawa penyembuhan dan pemberdayaan, terutama bagi mereka yang telah menderita karena sentuhan yang tidak manusiawi ini. Apakah sentuhan dan tindakan kita membawa kesembuhan bagi keluarga dan masyarakat kita? Apakah sentuhan kita memberdayakan orang di sekitar kita? Apakah sentuhan kita mengarahkan orang lain untuk melayani Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengajar, Mengusir Roh Jahat, dan Menyembuhkan

Minggu di Biasa ke-4 [28 Januari 2018] Markus 1: 21-28

“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. (Mk. 1:21)”

communion
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus memulai misi-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus melakukan tiga tugas dasar: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki seorang pria dan mengusir mereka. Dan dalam bacaan hari Minggu berikutnya, dia menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk 1: 29-39).

 

Tiga tugas pokok ini sangat penting bagi pelayanan Yesus, dan di hari-hari Minggu yang akan datang, kita akan mendengarkan banyak penggenapan dari tiga tugas ini. Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Yang pertama adalah penyembuhan. Ini berhubungan dengan kesehatan tubuh kita. Memang benar bahwa kita tidak memiliki karunia penyembuhan, tapi semua dipanggil untuk menghormati tubuh kita dan dengan demikian, menjalani gaya hidup sehat dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit, seperti stres yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Ini bersumber pada sebuah pengakuan bahwa tubuh kita adalah anugerah Allah dan seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan demikian, pelecehan terhadap tubuh kita berarti tidak menghargai Tuhan yang menciptakan kita, dan Roh Kudus yang memberi kita hidup. Namun, penyembuhan tidak terbatas pada tubuh kita saja, tapi juga penyembuhan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah tugas kita juga bahwa saudara-saudari kita memiliki sesuatu untuk dimakan, pakaian untuk membalut tubuh mereka dan tempat tinggal. Bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri tapi juga masyarakat kita.

Eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

Memang benar bahwa tidak semua berprofesi sebagai guru, tapi kita semua dipanggil untuk membentuk pikiran kita dan sesama. Sangat mendasar bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Kristiani, seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Penting juga untuk biasa merefleksikan karakter kita, memperbaiki kebiasaan buruk, dan mengembangkan diri. Toh, pendidikan tidak hanya sekedar transfer informasi, tapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, pemahaman diri yang benar akan mempengaruhi cara kita bertindak. Saya telah menghadiri Ekaristi sejak masa kecil saya, namun ketika saya belajar lebih banyak tentang teologi, sejarah dan fondasinya dalam Kitab Suci dan Kristus sendiri, semakin saya jatuh cinta dengan Ekaristi.

Kita adalah murid Kristus, dan inilah misi dan kehormatan kita untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristus: mengajar, mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ikutlah Aku!

Minggu di Biasa ke-3 [21 Januari 2018] Markus 1:14-20

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.(Mar 1:17)”

ordination
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Yesus memulai pelayanan publik-Nya dengan memanggil empat murid yang pertama untuk mengikuti Dia. Di Palestina zaman Yesus, untuk menjadi murid berarti mengikutinya ke mana pun sang guru pergi. Bahkan, kata-kata Yunani yang digunakan adalah “deute hopiso”, itu berarti “Ikutilah di belakangku” karena para murid benar-benar berjalan beberapa langkah di belakang Yesus, sang Guru. Tidak mengherankan, bahwa ketika empat murid pertama, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, dipanggil, mereka harus meninggalkan segala sesuatu, pekerjaan, keluarga dan kampung halaman. Jadi, untuk menjadi murid Yesus adalah sebuah komitmen radikal yang memerlukan pengorbanan besar.

Namun, jika kita mengaplikasikan kehidupan para murid pertama Yesus ke zaman kita, siapa di antara kita yang bisa mengikuti panggilan ini? Siapa di antara kita bersedia meninggalkan pekerjaan, keluarga dan tempat tinggal kita demi Kristus? Jawabannya tidak banyak. Hanya sedikit orang yang memasuki pertapaan atau biara. Bahkan, mereka yang sudah menjadi anggota kongregasi religius pun, diijinkan untuk tetap berhubungan dengan keluarga mereka. Saya sendiri sebagai seorang biarawan bisa berlibur setiap tahun dan mengunjungi keluarga saya di Bandung. Tampaknya kehidupan sebagai murid yang total tetap menjadi ideal yang jauh bagi kita.

Meskipun memang benar bahwa kehidupan seperti ini benar-benar sulit dan langka, namun kita percaya bahwa kehidupan murid sejati juga mungkin bagi kita semua. Injil mengatakan kepada kita bahwa murid pertama meninggalkan banyak hal, namun sebenarnya para murid juga membawa sesuatu bersama mereka ketika mereka memutuskan untuk berjalan dengan Yesus. Mereka sebenarnya membawa “diri mereka sendiri.” Di dalam totalitas pribadi ini ada karakter, pengetahuan, keterampilan, cita-cita, dan impian mereka. Singkatnya, mereka juga membawa serta profesi mereka, keluarga dan tanah air mereka. Inilah sebabnya mengapa Yesus tidak hanya memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk mengikut Dia, tetapi Dia juga akan menjadikan mereka “penjala manusia.” Yesus tahu bahwa orang-orang ini adalah salah satu nelayan terbaik di Galilea, dan sekarang Yesus mengundang mereka untuk mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki bagi Allah. Mengikuti Yesus tidak berarti meninggalkan segalanya, tetapi  mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.

Ketika St. Dominikus de Guzman berkhotbah menentang ajaran sesat di Prancis Selatan, dia meninggalkan kenyamanan hidupnya di gereja di Osma, Spanyol. Namun, ketika dia berkhotbah, dia membawa semua keterampilan dan pengetahuan yang dia dapat sebagai kanon di Osma, dan sebagai mahasiswa di universitas Valencia. Dia meninggalkan segalanya, tetapi dia membawa semuanya saat dia mendirikan Ordo religius pertama yang didedikasikan untuk berkhotbah di Gereja. Sungguh sebuah paradoks!

Kita mungkin tidak dapat meninggalkan keluarga, profesi dan tempat tinggal kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan keluarga dan saudara-saudari kita, namun dengan semangat yang sama, kita dapat secara radikal mengikuti Yesus. Bagaimana? dengan mempersembahkan diri kita bagi Allah dan rencana-Nya. Sebagai orang tua, apa yang kita berikan kepada Tuhan, yang bisa mendidik anak-anak kita dan membangun keluarga Kristiani yang baik? Sebagai bagian dari Gereja, apa yang kita serahkan kepada Yesus, yang dapat membantu pertumbuhan Gereja di dunia ini? Sebagai anggota masyarakat, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang dapat memberikan kontribusi pada masyarakat yang adil dan makmur?

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Datanglah dan Alamilah!

Minggu di Biasa ke-2 [14 Januari 2018] Yohanes 1:35-43

“Kata mereka kepada-Nya: ‘Rabi, di manakah Engkau tinggal?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Datang dan lihatlah.”  (Yoh 1: 38-39)

children praying - bnw
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Dalam Injil Yohanes, kita tidak akan menemukan kata “rasul” atau seseorang yang diutus untuk memberitakan Injil. Yohanes Penginjil secara konsisten memanggil orang-orang yang dengan setia mengikuti Yesus sebagai seorang murid. Kenapa demikian? Mungkin, Yohanes penginjil ingin menunjukkan kepada kita bahwa aspek terpenting dan mendasar dari menjadi pengikut Yesus adalah benar-benar menjadi seorang murid.

Apa artinya menjadi murid di zaman Yesus? Kita biasanya memahami bahwa seorang murid sebagai orang yang belajar di sekolah tertentu yang dilengkapi dengan bangunan, fasilitas dan sistem pembelajarannya. Seperti Frater Bayu adalah murid di Universitas Santo Tomas, dan setiap hari Senin sampai Jumat, dia harus menghadiri kelas di kampus Manila. Saya diharapkan untuk memahami ilmu teologi, seperti teologi St. Paulus atau menguasai keterampilan khusus seperti berkhotbah. Pada akhir semester, saya diharuskan lulus ujian untuk membuktikan bahwa saya telah menguasai ilmu atau keterampilan yang diharapkan. Jika saya gagal, saya harus mengambil ujian ulang atau mengulang kembali mata kuliah yang gagal. Tentunya, ini adalah cara sederhana untuk membayangkan sistem pembelajaran di zaman kita, tetapi jika kita ingin menjadi murid pada masa Yesus, kita harus memasuki dunia yang berbeda.

Ketika Andreas atau Petrus menjadi murid Yesus, ini tidak berarti bahwa mereka akan menghadiri kelas-kelas yang diadakan Yesus. Mereka benar-benar mengikuti Yesus ke manapun Yesus pergi. Itulah sebabnya pertanyaan pertama yang diajukan Andreas bukan berapa biaya kuliah atau pelajaran apa yang akan diberikan Yesus, melainkan “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Karena jelas di dalam benak Andreas bahwa jika dia ingin menjadi seorang murid, dia harus mengikuti Yesus secara penuh, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka akan berjalan ke tempat Yesus pergi, makan apa makanan yang Yesus makan, tidur di mana Yesus meletakkan kepala-Nya, mengalami semua yang Yesus rasakan, sukacita, kesedihan, penderitaan dan kebangkitan! Belajar kemudian bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, tapi juga tentang berbagi hidup, memberi dan menerima kehidupan.

Menarik juga untuk dicatat bahwa tanggapan Yesus terhadap Andreas adalah “come and see” atau “datang dan lihatlah”, namun jika kita kembali ke teks Yunani kuno, kata yang digunakan adalah “erkesthe kai opheste”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ini adalah “datang dan alamilah!” Untuk menjadi murid adalah mengalami kehidupan Yesus, untuk mengalami Yesus sendiri. Tentunya, ini adalah pengalaman total tentang Yesus. Dengan demikian, akhir pembelajaran bukanlah nilai, melainkan kehidupan baru dan sungguh menjadi citra Yesus, sang Guru. Ini adalah mengikuti Kristus dalam arti sebenarnya.

Namun, untuk menjadi murid semacam ini, tidaklah mudah. Untuk mengikuti dan mengalami kehidupan Yesus, kita harus menyerahkan hidup kita. Hidup untuk hidup. Kita tidak bisa menjadi murid Yesus hanya dari jam 8 pagi sampai 5 sore, tetapi setelah itu, kita bebas. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita adalah murid Yesus ketika kita berada di Gereja saja, tapi bukan murid-Nya di tempat kerja dan rumah. Kita menjadi murid Yesus pada saat-saat indah maupun masa-masa sulit. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita bersedia mengorbankan kehidupan lama kita? Apakah kita siap untuk mengikuti Yesus siang dan malam? Apakah kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Majus

Hari Raya Penampakan Tuhan [7 Januari 2018] Matius 2:1-12

“Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat 2:11)”

three magiMenurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.

Anehnya, Injil hari ini mempersembahkan ketiga orang Majus ini sebagai protagonis. Mengapa para praktisi magis ini bisa menjadi orang baik di sini? Jika kita memeriksa dengan seksama kisah Injil, kita menemukan bahwa orang-orang Majus ini dikontraskan dengan Herodes bersama dengan imam-imam kepala dan ahli-ahli Tauratnya. Berbeda dengan orang Majus yang membaca bintang untuk menemukan raja yang baru lahir, Herodes dan para pembantunya meneliti Kitab Suci untuk menemukan Mesias. Memang, Kitab Suci, sebagai Firman Allah, adalah cara yang benar untuk mencari Yesus. Sayangnya, meski memiliki metode yang benar, maksud Herodes adalah untuk memusnahkan Yesus, yang merupakan ancaman terhadap takhtanya. Herodes menjadi lambang bagi orang-orang yang menggunakan Kitab Suci untuk mencapai agendanya sendiri, untuk membingungkan orang-orang dan untuk menghancurkan Tuhan. Sementara orang Majus, terlepas dari metode yang tidak benar, dengan tulus mencari Yesus dan sungguh, Tuhan membawa mereka kepada Yesus.

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi yang nyata. Orang Majus menawarkan Yesus emas, kemenyan, dan mur. Secara tradisional, ketiga hadiah itu adalah simbol kerajaan, imamat dan penderitaan Yesus, namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ketiga hadiah itu adalah barang yang biasanya digunakan untuk mempraktekkan sihir di zaman kuno. Jadi, ketika orang Majus menawarkan tiga hadiah, ini melambangkan penyerahan profesi lama mereka. Ketika mereka melihat Raja sejati, mereka telah menemukan arti sebenarnya dari kehidupan dan kebahagiaan. Mereka menyadari bahwa profesi lama mereka walaupun memberi mereka kekuatan, tidaklah benar. Perjalanan mereka telah sampai pada puncaknya, dan inilah saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah akan bertahan dengan cara lama atau untuk menerima Kristus sepenuhnya. Dan, mereka membuat pilihan yang tepat.

Kisah orang Majus mengingatkan saya akan kisah Bartolo Longo. Tumbuh dalam masa sulit di Italia dan Gereja, Bartolo muda kehilangan kepercayaan pada Paus, dan memasuki sebuah kelompok pemuja setan, sampai pada akhirnya, dia menjadi imam dari kelompok tersebut. Namun, terlepas dari kekuatan dan kekayaan yang ia dapatkan dari setan, ia terus resah. Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kedamaian sejati. Didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan kebenaran, dan dibantu oleh seorang imam Dominikan, dia kembali ke iman yang telah ditinggalkannya. Dia menjadi seorang yang mencintai Bunda Maria dan promotor rosario yang penuh semangat. Dia memulai pemulihan gereja yang rusak di kota Pompey, dan menempatkan lukisan Maria Ratu Rosario di sana. Melalui usahanya, kini gereja tersebut telah menjadi situs peziarahan yang dihormati di Italia. Kekudusannya diakui oleh Gereja, dan dia dibeatifikasi pada tahun 1980 oleh Yohanes Paulus II.

Seperti orang Majus dan Bartolo Longo, apakah kita siap untuk mengenali Kristus sebagai kebahagiaan sejati kita? Apakah kita bersedia untuk mencari Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dan, ketika saatnya tiba, apakah kita rela melepaskan hidup kita yang lama dan untuk merangkul Yesus sepenuhnya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP